cover
Contact Name
Moh. Ashif Fuadi
Contact Email
moh.ashiffuadi@staff.uinsaid.ac.id
Phone
+6285645920566
Journal Mail Official
prodi.spi@uinsaid.ac.id
Editorial Address
Published by Fakultas Adab dan Bahasa (FAB) UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia Jln. Pandawa No. 1, Pucangan, Kartasura, Central Java, Indonesia, 57168 Website: https://uinsaid.ac.id/
Location
Kab. sukoharjo,
Jawa tengah
INDONESIA
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
ISSN : 2798186X     EISSN : 27983110     DOI : https://doi.org/10.22515/isnad.v3i1
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities aims to serve research report of various topic relating to Islamic Civilization History and Humanities. The articles published would refer not only directly to the Islamic Civilization History itself, but also to the various perspectives, in terms of social sciences and humanities. Embodies research articles including: History of Islamic Civilization and its development Humanities studies and its development Teaching of the Islamic Civilization History
Articles 93 Documents
Kemunduran Kesultanan Mataram Islam: Analisis Dinamika Kekuasaan Perspektif Ibnu Khaldun Umam, Fuadul; Wulanah, Konah; Humayroh, Siti; Nur Amanda, Siti; Dewa Alfaquin Faturangga
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 01 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i01.11939

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor penyebab kemunduran Kesultanan Mataram Islam dengan menggunakan perspektif teori siklus kekuasaan Ibnu Khaldun. Fokus utama kajian ini adalah dinamika politik, sosial, dan ekonomi yang memengaruhi stabilitas kekuasaan Mataram pada masa transisi dan pasca kejayaan. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan pendekatan historis dan analisis kritis terhadap sumber primer dan sekunder, termasuk kronik, babad, dan catatan kolonial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemunduran Mataram tidak semata disebabkan oleh faktor eksternal seperti tekanan VOC, tetapi juga akibat melemahnya solidaritas kelompok penguasa (asabiyah), konflik internal dinasti, serta hilangnya legitimasi politik dan spiritual pemimpin. Temuan ini sejalan dengan pola teoritis Ibnu Khaldun bahwa setiap kekuasaan memiliki siklus naik dan turun seiring perubahan moralitas dan solidaritas sosial. Simpulan dari penelitian ini menegaskan pentingnya memahami dinamika kekuasaan melalui pendekatan multidisipliner untuk menjelaskan kejatuhan suatu peradaban. Kata Kunci: Asabiyah; Kemunduran; Ibnu Khaldun; Mataram Islam; Kekuasaan.
Sultanah Aceh: Narasi Ulang Kepemimpinan Perempuan Dalam Historiografi Islam Nusantara Muzayanah, Fitrotul; Faris Bahrul Ulum; Rifki Hamzah Kamil; Baiq Madinatul Munawarah
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 01 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i01.11951

Abstract

Penelitian ini bertujuan merekonstruksi narasi kepemimpinan perempuan dalam historiografi Islam Nusantara melalui kajian mendalam terhadap fenomena unik empat Sultanah di Kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke-17. Di tengah dominasi sistem patriarkal, kemunculan pemimpin perempuan tertinggi ini memicu respons internal dan eksternal yang signifikan. Dengan pendekatan historis-kritis dan analisis historiografi, serta ditopang oleh teori kepemimpinan untuk menelaah dinamika kekuasaan, penelitian ini mengkaji bagaimana para Sultanah menavigasi kompleksitas politik dan agama berdasarkan sumber-sumber primer naskah klasik, catatan perjalanan dan kajian akademik. Hasilnya menunjukkan bahwa pengesahan keagamaan oleh ulama terkemuka mencerminkan adaptasi hukum Islam terhadap situasi politik, dan bahwa kualitas kepemimpinan para Sultanah tidak bergantung pada gender, melainkan pada kapasitas intelektual dan manajerial. Para Sultanah berhasil menjaga stabilitas, memajukan ilmu pengetahuan, dan mengimplementasikan sistem pemerintahan khas Aceh. Kajian ini menyimpulkan bahwa warisan kepemimpinan Sultanah Aceh memberikan legitimasi historis bagi keterlibatan perempuan dalam ranah publik masa kini, sekaligus menawarkan fleksibilitas penafsiran syariat sebagai kerangka metodologis untuk wacana kepemimpinan perempuan dalam Islam modern Kata kunci: Sultanah Aceh; Kepemimpinan Perempuan; Historiografi Islam; Patriarki; Teori Kepemimpinan.
”GEJOLAK SINGGASANA SANG ADIPATI” Dinamika Suksesi Mangkunegara IX Tahun 1987-1993 Aryadito Fathurrohman; Latif Kusairi; Aly Mashar; Moh. Ashif Fuadi
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 01 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i01.12196

Abstract

Penelitian ini membahas dinamika suksesi di Pura Mangkunegaran, khususnya dalam pergantian kepemimpinan dari K.G.P.A.A. Mangkunegara VIII ke K.G.P.A.A. Mangkunegara IX pada periode 1987-1993. Pura Mangkunegaran memiliki sistem suksesi yang unik karena berada dalam struktur politik tradisional yang tetap bertahan di era modern. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui tahapan heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Sumber utama diperoleh dari dokumen arsip, literatur akademik, dan sumber primer terkait Pura Mangkunegaran, Monumen Pers Nasional Surakarta, dan Perpustakaan Reksa Pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suksesi Mangkunegara IX tidak berlangsung secara sederhana, melainkan melibatkan berbagai dinamika politik dan sosial yang berakar dari sejarah panjang Pura Mangkunegaran. Konflik internal dan perbedaan pandangan di antara anggota keluarga kerajaan menjadi faktor utama yang mempengaruhi jalannya transisi kepemimpinan. Selain itu, beberapa kebijakan yang diterapkan oleh Mangkunegara IX dianggap kontroversial oleh sebagian pihak sehingga menimbulkan ketegangan dalam lingkup internal keraton. Penelitian ini memberikan wawasan baru mengenai kompleksitas sistem suksesi di Pura Mangkunegaran serta bagaimana tradisi kerajaan tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Studi ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi kajian sejarah, khususnya dalam memahami mekanisme suksesi dalam lingkungan politik tradisional di Indonesia. Kata Kunci: Suksesi; Pura Mangkunegaran; Mangkunegara IX.
Pemikiran Dialog Antar Agama di Pesantren Al Muayyad Windan Solo (1998-2006) Muhammad Ishom; Zaid Munawar
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 02 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i02.11170

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas Pesantren Al Muayyad Windan (PMW) berperan penting dalam dinamika masyarakat majemuk di Solo. Sejak 1998, PMW terlibat dalam aktivitas dialog antar agama di Solo. Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan antar agama di Solo pada akhir Orde Baru dan latar belakang pemikiran yang mendasari PMW melakukan dialog antar agama di Solo. Kajian ini menggunakan pendekatan teologis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa era akhir Orde Baru, toleransi beragama di Solo cenderung pasif sehingga potensi konflik antar agama marak terjadi. Hal ini disebabkan oleh formalisasi agama dan kebijakan pemerintah yang terlalu ketat mengatur hubungan antar umat beragama serta tindakan sejumlah masyarakat yang membenarkan tindakannya atas nama agama. Ada tiga alasan PMW dalam aktivitas dialog antar agama di Solo, yaitu 1) alasan teologis: didasarkan pada QS. Al-Ankabut: 46, QS. ‘Ali Imran: 84, dan QS. Al-Hujuraat: 13; 2) alasan sosiologis: pluralisme agama, keinginan untuk berkomunikasi dan saling menghargai serta kerja sama dalam masyarakat; dan 3) komitmen pribadi pengurus PMW, Kiai Dian Nafi’, untuk mewujudkan perdamaian antar umat beragama di Solo. Komitmen tersebut dilandasi oleh pandangan pribadi bahwa hidup ini sesungguhnya adalah perjalanan agung yang ditempuh setiap orang dengan jalanya masing-masing menuju Tuhan Yang Maha Esa. Kata Kunci: Pemikiran; Dialog Antar Agama; Pesantren Al Muayyad Windan.
Islamisasi Simbolik dalam Narasi Wayang pada Masa Konflik Politik Kartasura 1703-1719 Fatma Mia Afifah; Irma Ayu Kartika Dewi
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 02 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i02.12058

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis proses Islamisasi simbolik dalam pertunjukan wayang pada masa konflik Kartasura 1703-1719 yang di mana pada masa tersebut ketidakstabilan kekuasaan dan dominasi VOC menciptakan disorientasi sosial keagamaan di tengah masyarakat Kartasura. Dalam kondisi tersebut, wayang berfungsi sebagai medium budaya yang memungkinkan masyarakat menegaskan kembali nilai moral dan spiritualnya. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis studi pustaka, penelitian ini menelaah bagaimana reinterpretasi tokoh Punakawan digunakan untuk menyampaikan ajaran tauhid dan etika sosial Islam. Tokoh Semar direposisikan oleh para dalang sebagai penjaga moral yang menegaskan bahwa sumber kekuasaan sejati adalah Tuhan, bukan penguasa penguasa yang kehilangan legitimasi akibat intrik politik. Sementara itu, Gareng, Petruk, dan Bagong mengartikulasikan nilai amar ma’ruf nahi munkar, kritik sosial, dan serta aspirasi masyarakat kecil melalui humor dan satire yang diarahkan kepada penyalahgunaan kekuasaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islamisasi dalam konteks Kartasura tidak berlangsung melalui dakwah formal, tetapi melalui simbol budaya yang sudah melekat dengan masyarakat, sehingga nilai ketauhidan, keadilan, dan integritas dapat diterima secara halus dan efektif. Kajian ini menegaskan bahwa pada masa krisis politik, kesenian tradisional menjadi ruang penting untuk mempertahankan identitas keagamaan sekaligus menjadi bentuk resistensi kultural masyarakat Jawa. Kata Kunci: Akulturasi budaya; Islamisasi; Kartasura; Wayang
Mbok Mase dan Peran Perempuan Priyayi dalam Industri Batik Laweyan Surakarta Pada Masa Kolonial, 1900-1970 Arianingrum, Nabila; Ahmad Dzaky Benson Irani; Dewa Alfaquin Faturangga
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 02 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i02.12158

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran "Mbok Mase" atau perempuan bangsawan/priyayi dalam memimpin dan mengembangkan industri batik di sentra Laweyan, Surakarta, selama era kolonial (1900-1970). Berbeda dengan narasi umum yang sering menonjolkan peran pengusaha laki-laki, studi ini berfokus pada dinamika kepemimpinan perempuan dalam ranah ekonomi, khususnya di tengah tekanan pasar global. Melalui pendekatan historis-analitis, ditemukan bahwa perempuan priyayi tidak hanya berperan sebagai pengelola keuangan atau pewaris, tetapi juga sebagai inovator desain, pengambil keputusan strategis dalam produksi dan pemasaran, serta penjaga kualitas dan tradisi motif batik. Posisi sosial mereka, yang terintegrasi dengan jaringan kekuasaan keraton, memberikan keuntungan unik dalam mengakses modal, bahan baku, dan pasar elit, menjadikannya kunci sukses. Masa kolonial, dengan segala tantangan perubahan sosial dan ekonomi, termasuk masuknya batik cap dan persaingan impor, justru menempatkan Mbok Mase sebagai figur sentral yang menjembatani tradisi dan modernitas. Mereka sukses mempertahankan keberlangsungan usaha keluarga (Batik Kompeni/Saudagar) melalui manajemen yang adaptif, sekaligus menegaskan otonomi dan kekuatan ekonomi perempuan dalam masyarakat Jawa, memberikan sumbangsih penting bagi perekonomian lokal. Kata Kunci: Mbok Mase; Perempuan Priyayi; Batik Laweyan; Surakarta; Masa Kolonial
Nuruddin Ar-Raniri dalam Konteks Kerajaan Aceh: Model Ulama Negara dan Relevansinya terhadap Dinamika Politik Islam di Indonesia Masa Kini Ahiel Ahdi Besari
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 02 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i02.12345

Abstract

Nuruddin Ar-Raniri sebagai simbol ulama negara dalam konteks Kerajaan Aceh di abad ke-17 dan menjelajahi keterkaitan pemikiran serta peran politiknya dengan dinamika politik Islam di Indonesia saat ini. Sebagai ulama di istana di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Tsani, Ar-Raniri tidak hanya berkontribusi dalam memperkuat ortodoksi, tetapi juga dalam merumuskan kebijakan negara yang mengacu pada syariat Islam. Melalui pendekatan historis-analisis dan kajian literatur, artikel ini mengaitkan gaya kepemimpinan keulamaan yang digagas oleh Ar-Raniri dengan dinamika politik Islam modern di Indonesia, seperti peran Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau organisasi keagamaan lainnya dalam memandu kebijakan publik yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Penelitian ini menggarisbawahi bahwa warisan pemikiran dan praktik politik Ar-Raniri tetap relevan sebagai acuan dalam memahami posisi strategis ulama dalam negara demokrasi yang juga religius. Dalam konteks Indonesia saat ini, di mana hubungan antara agama dan negara masih menjadi topik hangat, konsep ulama negara ala Ar-Raniri menyuguhkan refleksi signifikan tentang posisi strategis ulama dalam wacana politik Islam, termasuk peran mereka dalam mempertahankan moderasi beragama, integrasi sosial, dan legitimasi kebijakan publik yang berbasis nilai-nilai Islam. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada penguatan pemahaman historis dan konseptual terhadap peran ulama dalam arena politik yang terus berkembang. Kata Kunci: Nuruddin Ar-Raniri; Kerajaan Aceh; Ulama Negara; Politik Islam; Indonesia Kontemporer
Tradisi Menulis Ulama Indonesia Abad 19-21: Buya Hamka dan Muh Natsir Sugianto, Alip; Nanang Cendriono
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 02 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i02.12467

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi menulis ulama Indonesia pada abad ke-19 hingga abad ke-21 dengan menyoroti akar doktrinal aktivitas kepenulisan dalam Islam, dinamika pasang surut tradisi literasi ulama, serta faktor-faktor yang mendukung berkembangnya khazanah intelektual di Nusantara. Kajian ini menggunakan metode penelitian studi pustaka dan analisis deskriptif untuk memetakan perkembangan pemikiran, corak tulisan, serta kontribusi intelektual para ulama. Penelitian ini juga berfokus pada dua tokoh penting Muhammadiyah dan bangsa, yakni Buya Hamka dan Mohammad Natsir, yang dikenal memiliki produktivitas tinggi dalam bidang agama, sastra, dan politik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun keduanya hidup dalam situasi sosial-politik yang penuh tantangan, terutama pada masa perjuangan kemerdekaan dan pembentukan negara Indonesia, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat mereka untuk berkarya. Sebaliknya, keterbatasan justru memperkuat komitmen mereka dalam menghasilkan karya tulis yang bermutu dan berpengaruh luas. Karya-karya mereka tidak hanya mencerminkan kedalaman intelektual, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan peradaban bangsa dan pendidikan umat. Hingga kini, tulisan-tulisan Hamka dan Natsir tetap relevan dan menjadi rujukan penting dalam studi keislaman, kebudayaan, dan politik Indonesia. Kata Kunci: Tradisi; Menulis; Hamka; Natsir
Satu Suro dan Songkran: Makna Simbolik dan Religius Tahun Baru dalam Perspektif Budaya Jawa dan Thailand Sari, Indah Puspita
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 02 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i02.12487

Abstract

Penelitian ini bertujuan membandingkan tahun baru pada satu Suro di masyarakat Jawa dan tahun baru Songkran pada masyarakat Thailand. Bagi masyarakat Jawa satu Suro merupakan tahun baru di kalender Jawa yang diterbitkan Sultan Agung sedangkan Songkran merupakan tahun baru bagi masyarakat Thailand yang berlangsung pada 13 – 15 April. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka. Teori yang digunakan adalah teori religi dan teori simbol. Hasilnya, satu Suro bagi masyarakat Jawa bukan hanya sebagai pergantian tahun melainkan sebagai momen untuk intropeksi diri, melakukan doa bersama, dan menyajikan nasi tumpeng. Songkran yang merupakan pergantian tahun bagi masyarakat Thailand dilaksanakan dengan khidmat seperti meminta ampun dan restu kepada orang tua, menyiram air ke patung Buddha, melepaskan burung atau ikan, dan perang air. Berdasarkan teori religi, kedua perayaan ini memiliki dimensi keagamaan yang kuat: satu Suro bersumber dari akulturasi Islam dan budaya Jawa, sedangkan Songkran berakar pada ajaran Buddha Theravada. Sementara itu, dari teori simbol, satu Suro menonjolkan simbol nasi tumpeng sebagai representasi doa dan kebersamaan, sedangkan Songkran menggunakan air sebagai simbol penyucian dan kebahagiaan. Kedua tradisi memperlihatkan bahwa ritual tahun baru tidak sekadar pergantian waktu, melainkan sarana pembaruan spiritual dan sosial yang memperkuat kohesi masyarakat. Kata Kunci: Satu Suro; Songkran; Tahun Baru; Jawa; Thailand
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA DI INDONESIA Irawan Tri Aminudin; Suryo Ediyono
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 02 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i02.12522

Abstract

toleransi dan harmoni antarumat beragama di Indonesia. Latar belakang penelitian ini adalah keragaman agama, budaya, dan suku bangsa yang menjadi karakteristik utama bangsa Indonesia, namun masih menghadapi tantangan berupa intoleransi dan konflik bernuansa keagamaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, yang memanfaatkan berbagai sumber literatur seperti buku, jurnal, dokumen kebijakan, dan data empiris yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan multikultural yang diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat membentuk pemahaman yang lebih luas terhadap perbedaan serta menumbuhkan nilai-nilai saling menghargai, keadilan, dan empati. Selain itu, integrasi nilai-nilai multikultural dalam kurikulum pendidikan nasional berperan penting dalam memperkuat identitas kebangsaan sekaligus menjaga kohesi sosial. Simpulan dari artikel ini menekankan bahwa pendidikan multikultural merupakan sarana strategis dalam mewujudkan kehidupan beragama yang damai dan berkeadaban di tengah masyarakat Indonesia yang pluralistik. Kata Kunci: Pendidikan Multikultural, Toleransi, Kehidupan Beragama, Indonesia, Pluralisme

Page 8 of 10 | Total Record : 93