cover
Contact Name
Moh. Ashif Fuadi
Contact Email
moh.ashiffuadi@iain-surakarta.ac.id
Phone
+6285645920566
Journal Mail Official
spi.fab@iain-surakarta.ac.id
Editorial Address
Published by Fakultas Adab dan Bahasa (FAB) UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia Jln. Pandawa No. 1, Pucangan, Kartasura, Central Java, Indonesia, 57168 Website: https://uinsaid.ac.id/
Location
Kab. sukoharjo,
Jawa tengah
INDONESIA
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
ISSN : 2798186X     EISSN : 27983110     DOI : https://doi.org/10.22515/isnad.v3i1
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities aims to serve research report of various topic relating to Islamic Civilization History and Humanities. The articles published would refer not only directly to the Islamic Civilization History itself, but also to the various perspectives, in terms of social sciences and humanities. Embodies research articles including: History of Islamic Civilization and its development Humanities studies and its development Teaching of the Islamic Civilization History
Articles 74 Documents
Bangunan Harmonisasi Dakwah Sufi Indonesia: Studi Atas Syi’ir Doa Jawa KH Dalhar Kholis, Nor
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 5 No. 02 (2024): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v5i02.10242

Abstract

Abstrak: Model dakwah para ulama sufi Indonesia mampu memadukan secara harmoni antara lokalitas budaya, nilai keislaman dan kondisi sosial masyarakat, sehingga mudah diterima secara luasArtikel ini membahas harmonisasi dakwah KH Dalhar melalui media Syi’ir Doa Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika untuk memahami setiap “tanda-tanda” yang terbangun didalamnya. Hasil penelitian menunjukan ada tiga aspek bangunanan harmonisasi dakwah KH Dalhar di dalam Syi’ir Doa Jawa tersebut. Pertama, aspek lokalitas dengan mempertimbangkan tata nilai kebahasaan yang mudah dipahami oleh masyarakat. Hal ini terlihat dari penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari masyarakat setempat. Kedua, aspek ruhaniyah yang disisipkan dengan cara yang luwes dan mudah diucapkan di dalam tiap bait syi’irnya. KH Dalhar selalu menyisipkan nilai illahiyyah melalui lafadz “Allahumma” di setiap awal syi’ir doanya. Ketiga, aspek jasmaniyah dengan menghadirkan sisi nilai ekonomi sebagaimana tersirat di dalam syi’irnya. Kata-kata seperti “biso nyandang” (bisa berpakaian), “biso ngeliwet” (bisa makan) dan “sugih” (kaya) menunjukan adanya dorongan membangun etos kerja bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketiga aspek tersebut mencerminkan harmonisasi dakwah ulama Sufi Indonesia yang adaptif, kreatif, dan seimbang, sehingga mendatangkan kemaslahatan dan sesuai dengan perkembangan zaman.  Kata Kunci: Syi’ir Doa Jawa; Harmonisasi Dakwah; KH Dalhar.
Natuurschoon van Bantam: Pariwisata Kolonial dan Pembentukan Citra Alam Banten, 1920-1942 Hidayat, Angga Pusaka; Arif, Saeful
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 5 No. 02 (2024): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v5i02.10283

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara kegiatan pariwisata pada masa akhir kolonial dengan pembentukan persepsi dan identitas ekologis Banten. Kolonialisme, melalui kanonisasi pengetahuan, pengembangan infrastruktur, dan propaganda wisata, telah mengonstruksi citra ideal alam Banten sebagai wilayah yang indah dan eksotis. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan menganalisis berbagai sumber primer, seperti laporan perjalanan, panduan perjalanan, artikel media massa, dan sumber visual. Analisis ini bertujuan untuk memahami bagaimana citra alam Banten dibangun oleh struktur kolonial. Citra ini tidak hanya difungsikan sebagai daya tarik wisata bagi kalangan Eropa, tetapi juga sebagai instrumen kontrol kolonial atas masyarakat lokal. Representasi alam Banten yang dipromosikan pada masa kolonial menciptakan narasi ekologis tertentu yang mengukuhkan hegemoni kolonial. Dalam konteks ini, pariwisata menjadi salah satu alat untuk mempertahankan kekuasaan melalui produksi pengetahuan, pengaturan ruang, dan penguasaan sumber daya lokal. Kajian ini menunjukkan bahwa pembentukan citra alam oleh kolonialisme tidak hanya memengaruhi persepsi wisatawan, tetapi juga membentuk identitas ekologis wilayah Banten yang masih memiliki dampak hingga masa kini. Kata Kunci: Sejarah pariwisata; Banten; kolonialisme; citra alam; wisatawan.
SAFARI MAULID EMPAT PULUH HARI MAJELIS AL-KHOIROT: Sejarah, Dinamika dan Maknanya Fuadi, Moh Ashif; Moh Mahbub; Qisthi Faradina el-Mahanani
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 5 No. 02 (2024): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v5i02.10951

Abstract

Ekspresi perayaan kelahiran Nabi Muhammad mempunyai bentuk yang beragam salah satunya melalui kegiatan safari maulid. Penelitian ini bertujuan untuk membahas fenomena safari maulid empat puluh dari sisi kajian historis dan makna. Penelitian ini tergolong penelitian kualitatif dengan studi dokumentasi, observasi dan wawancara. Untuk memperdalam makna safari maulid empat puluh menggunakan pendekatan fenomenologis. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa, pertama, tradisi safari maulid empat puluh hari berasal dari kalangan alawiyyin untuk menyemarakkan bulan kelahiran Nabi Muhammad. Kedua, pelaksanaan safari maulid empat puluh hari mempunyai makna proses penggemblengan spiritual sebagaimana empat puluh hari merupakan jumlah bilangan tirakat pada umumnya. Ketiga, praktik perayaan kelahiran nabi di bulan maulid berdasarkan jumlah hari mempunyai model yang beragama yaitu satu hari, dua belas hari, dan tiga puluh hari di bulan kelahiran nabi. Keempat, berdasarkan simbol-simbol dalam pelaksanaan maulid, pohon uang yang dibagikan kepada para jamaah mempunyai makna bersedekah agar nikmat yang diberikah semakin bertambah dengan keberkahan bulan kelahiran nabi, sedangkan atribut gantungan makanan atau peralatan rumah tangga yang ambil para jamaah saat maḥallu al-qiyām atau setelah doa akhir maulid mempunyai makna bahwa barang-barang atau makanan yang berada dalam kegiatan maulid akan mempunyai banyak memberkahi. Berdasarkan fenomenologis, walaupun tidak semuanya memahami makna empat puluh hari, namun praktik pengamalan safari maulid nabi empat puluh hari dapat menumbuhkan kebiasaan (habituasi) baik dalam mencintai dan meneladani nabi. Kata Kunci: Historis; Makna; Safari Maulid; Empat Puluh; Al-Khoirot
Fatayat NU Sumatra Barat dalam Genggaman “Duo Beradik” Husna & Azizah Aziz (1982-1992) Nilma Yola; Mufti Ulil Amri
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 01 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i01.10697

Abstract

Artikel ini membahas tentang sejarah dan perkembangan organisasi Fatayat Nahdlatul Ulama (Fatayat NU) di Sumatra Barat, khususnya pada masa kepemimpinan Husna Aziz dan Azizah Aziz. Awalnya, Fatayat NU di wilayah ini hadir sebagai perpanjangan sayap NU dalam rangka mendukung perolehan suara menjelang Pemilu 1971. Namun, organisasi ini mengalami kevakuman selama satu dekade akibat kebijakan "monoloyalitas terhadap Partai Golkar". Fokus penelitian ini adalah untuk mengungkap: (1) bagaimana perkenalan Husna dan Azizah Aziz dengan organisasi Fatayat NU, serta (2) bagaimana keduanya memperkenalkan dan mengembangkan organisasi tersebut kepada masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Husna dan Azizah Aziz mengenal Fatayat NU melalui ayah mereka yang merupakan mustasyar PWNU Sumatra Barat pada masa itu. Upaya pengenalan organisasi dilakukan melalui kegiatan PKHA (Pendidikan Kader), pembentukan cabang-cabang di berbagai daerah di Sumatra Barat, serta kegiatan langsung kepada masyarakat seperti lailatul ijtima’, gotong royong bersama, dan pelatihan kader dasar. Kata kunci: Fatayat NU; Sumatra Barat; Husna Aziz; Azizah Aziz; sejarah lokal
Masjid Pathok Negoro: Historisitas Simbol Tapal Batas Kesultanan Yogyakarta Fathor Razi; Marsus
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 01 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i01.10705

Abstract

Tulisan ini membahas tentang sejarah pembangunan Masjid Pathok Negoro sebagai tapal batas Kesultanan Yogyakarta yang memiliki nilai strategis, religius, dan politis dalam menjaga kedaulatan wilayah nagari. Masjid Pathok Negoro merupakan sebutan bagi lima bangunan masjid Keraton Yogyakarta, yaitu: Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Masjid Pathok Negoro Mlangi, Masjid Pathok Negoro Dongkelan Kauman, Masjid Pathok Negoro Babadan, dan Masjid Pathok Negoro Wonokromo Bantul. Masjid-masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol integrasi antara kekuasaan spiritual dan pemerintahan Kesultanan. Secara metodologis, jenis penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa studi kepustakaan, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendirian Masjid Pathok Negoro merupakan inisiatif Kiai Nur Imam Mlangi untuk membingkai wilayah teritorial ibu kota Kesultanan secara spiritual dan administratif. Adapun sistem pengelolaan masjid-masjid tersebut tetap berada di bawah tanggung jawab dan pengawasan Keraton Yogyakarta hingga saat ini. Kata Kunci: Masjid Pathok Negoro; Sejarah; Tapal Batas; Sistem Pengelolaan
Transformasi Islam di Kesultanan Banjar: Tinjauan Historiografi Kehadiran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812 M) Sabirin, Muhammad; Achmad Muhibin Zuhri
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 01 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i01.10895

Abstract

Kajian ini berupaya melihat dan menemukan transformasi Islam di Kesultanan Banjar sebelum dan sesudah kehadiran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari datang. Tujuannya adalah untuk melihat dan menemukan bagaimana historiografi kontribusi al-Banjari dalam proses transformasi Islam di Kesultanan Banjar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan historiografi dan analisis data secara deskriptif analitik. Hasil kajian ditemukan bahwa sebelum kedatangan al-Banjari, Islam di Kesultanan Banjar dipengaruhi oleh kepercayaan animisme dan sinkretisme budaya lokal yang bercampur dengan ajaran Hindu dan Buddha. Namun, setelah kedatangan al-Banjari, membawa perubahan penting dalam reformasi keagamaan di Kesultanan Banjar. Dengan mendirikan Mahkamah Syariah dan memperkenalkan hukum Islam yang tegas, al-Banjari menanggulangi praktik keagamaan menyimpang dan memperkenalkan ajaran Islam yang lebih ortodoks. Melalui dakwah, tulisan kitab, dan pendirian lembaga pendidikan, ia memberikan pemahaman Islam yang mendalam kepada masyarakat. Kritiknya terhadap ritual lokal seperti manyanggar banua dan mambuang pasilih mencerminkan komitmennya untuk membersihkan masyarakat dari praktik yang menyimpang dan menjadikan Islam lebih murni di Kesultanan Banjar. Kata Kunci: Arsyad al-Banjari; Islam; Kesultanan Banjar; Transformasi
Eksistensi Mas Nganten Awal Abad Ke-XX dalam Perkembangan Industri Batik Laweyan dan Sejarah Pergerakan di Indonesia Muh. Fajar Shodiq; Martina Safitry; Irma, Irma Ayu kartika
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 01 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i01.11290

Abstract

Penelitian ini akan menyoroti eksistensi Mas Nganten  dalam industry batik sekaligus kontribusi mereka dalam sejarah pergerakan Sarikat Dagang Indonesia (SDI).Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang didukung  riset lapangan yang bersifat deskriptif-kualitatif yang bertujuan untuk menguak eksistensi Mas Nganten  dalam industri batik di Laweyan serta kontribusinya dalam sejarah pergerakan di Indonesia. Kemudian menggunakan teknik deskriptif analitik, yakni teknik yang digunakan terhadap suatu data yang telah dikumpulkan, kemudian disusun, dijelaskan dan selanjutnya dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan jika Mas Nganten  tidak sekedar membantu mengawasi proses produksi dan memimpin karyawannya bekerja, namun Mas Nganten  memiliki peran yang cukup penting dalam proses kreatif, menentukan pola ragam hias batik terbaru, agar tidak ditiru pasar sampai mengamati pergerakan motif dipasaran. Mas Nganten  yang paling menonjol saat itu adalah Samanhudi. Selain aktif dalam industry batik, Samanhudi juga aktif dalam SDI (Sarekat Dagang Islam). Sarekat Dagang Islam berubah nama menjadi Sarekat Islam dengan akte hukum organisasi baru pada tanggal 10 September 1912, dimana  Cokroaminoto yang diminta Samanhudi untuk membantu mengurusi SDI mengusulkan berubah nama menjadi Sarekat Islam agar cakupannya lebih luas, tidak hanya mengurusi masalah ekonomi, namun bisa merambah politik dan mudah menggaet massa.  Kata Kunci: Eksistensi;Mas Nganten ;Batik Laweyan; SDI
Kontekstualisasi Pemikiran Filsafat Pendidikan Imam Al-Ghazali dan Muhammad Abduh Ahmad Muzakkil Anam; Moh Irsyad Fahmi MR; Dheny Wiratmoko; Noor Alwiyah; Syamsul Kurniawan
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 01 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i01.11570

Abstract

Dewasa ini, dunia pendidikan di Indonesia mengalami anomali, dalam artian secara data menunjukkan adanya peningkatan warga negara yang terdidik, namun diikuti juga dengan peningkatan perilaku immoral yang tidak mencerminkan perilaku orang yang terdidik. Penelitian ini mencoba mengambil kembali pemikiran pendidikan dari dua tokoh intelektual Muslim yaitu imam al-Ghazali dan Muhammad Abduh. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan pemikiran antara imam al-Ghazali dan Muhammad Abduh. Imam al-Ghazali menginginkan pendidikan tidak terlalu mengedepankan akal hingga melupakan tatanan dasar dalam agama. Sementara Muhammad Abduh, menginginkan pendidikan yang progresif, yang dinamis, dan berkemajuan. Dua corak pemikiran ini dapat dikontekstualisasika berdasarkan kecenderungan pendidikan yang ada saat ini. Untuk pemikiran imam al-Ghazali bisa diterapkan di lembaga pendidikan yang lebih umum, guna memastikan peserta didik tidak tercerabut dari nilai-nilai ketuhanan. Sementara Muhammad Abduh, dengan reformasi pendidikannya bisa diimplementasikan di lembaga-lembaga pendidikan yang kurang berkembang Kata Kunci: Kontekstualisasi Pendidikan; Imam al-Ghazali; Muhammad Abduh; Filsafat Pendidikan  
Pertarungan Ideologi Petani: Studi Historis Konflik antara Sarekat Tani Islam Indonesia (STII) dan Barisan Tani Indonesia (BTI) 1945-1960 Wibowo, Eka Yudha
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 01 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i01.11674

Abstract

Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 menjadi titik awal munculnya semangat perubahan di kalangan masyarakat yang terpinggirkan, termasuk para petani yang selama ini hidup dalam bayang-bayang penindasan. Sejak masa kerajaan, penjajahan Belanda dan Jepang, hingga era setelah kemerdekaan, petani kerap diposisikan sebagai kelompok yang lemah dan berada dalam tekanan, baik dari kekuasaan kolonial maupun penguasa lokal. Mereka yang menetap di pedesaan biasanya terikat dalam sistem patronase yang berakar pada feodalisme dan kurang terorganisir. Sejarah mencatat bahwa kaum petani pernah bangkit secara besar-besaran, seperti dalam pemberontakan Banten tahun 1888. Setelah kemerdekaan Indonesia, muncul dua organisasi tani utama dengan latar ideologi yang berbeda: Sarekat Tani Islam Indonesia yang berlandaskan nilai-nilai Islam, dan Barisan Tani Indonesia yang menganut paham komunis. Kedua organisasi ini bersaing dalam merebut dukungan petani dan sama-sama berjuang melawan ketidakadilan agraria. Artikel ini membahas dinamika ketegangan antara STII dan BTI pada periode pascakemerdekaan melalui pendekatan historis dan analisis kualitatif. Fokus kajian mencakup latar belakang pendirian masing-masing organisasi, strategi mereka dalam membangun basis massa, serta konflik yang terjadi di antara keduanya. Hasil analisis menunjukkan bahwa persaingan antara STII dan BTI mencerminkan perpecahan ideologis yang lebih luas antara Islam dan komunisme dalam konstelasi politik Indonesia menjelang peristiwa 1965. Kata Kunci: STII; BTI; konflik ideologi; Islam politik; komunisme
Dinasti Umayyah di Andalusia: Perkembangan Ilmu Pengetahuan (756-1031 M) M Kautsar Thariq Syah; Nurcahya, Yan; M Zikril Oksa Putra; Zaahidah Aufaa Ahdillah; Riyan Haqi Khoerul Anwar
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 01 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i01.11762

Abstract

Dinasti Umayyah merupakan sebuah rezim pemerintahan Islam yang berada di bawah kekuasaan keluarga Umayyah yang berlangsung dari tahun  661 M-750 M. Kekhalifahan Umayyah atau Dinasti Umayyah adalah kekhalifahan Islam kedua setelah pembubaran Kekhalifahan Rasyidin di Jazirah Arab, Dinasti Umayyah di Al-Andalus adalah periode penting dalam sejarah Spanyol yang dimulai pada tahun 756 Masehi ketika Abdul ar-Rahman I melarikan diri dari Konstantinopel setelah kekalahan pasukan Umayyah di Timur Tengah. Dinasti ini berakhir pada tahun 1031 Masehi ketika keruntuhan politik dan pemberontakan membagi Al-Andalus menjadi berbagai kerajaan taifa kecil. Kota Kordoba menjadi pusat kebudayaan dan ekonomi yang penting, dengan Al-Andalus menjadi salah satu pusat intelektual dunia Islam. Langkah dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu tahap pengumpulan sumber, dan tahap penyajian hasil analisis. Pengumpulan sumber dalam penelitian ini menggunakan teknik library research (penelitian pustaka). Dinasti Umayyah di Andalusia merupakan periode emas dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya. Kebijakan toleransi dan dukungan terhadap pendidikan dan penelitian memungkinkan lahirnya inovasi-inovasi yang tidak hanya memperkaya dunia Islam, tetapi juga memiliki pengaruh yang mendalam dan bertahan lama di seluruh dunia. Kata Kunci: Dinasti Umayyah; Ilmu Pengefahuan;Perkembangan