cover
Contact Name
Mohamad Rosyidin
Contact Email
Mohamad.rosyidin@gmail.com
Phone
+6224-7465407
Journal Mail Official
indonesian.perspective@live.undip.ac.id
Editorial Address
Department of International Relations Faculty of Social and Political Sciences Universitas Diponegoro Jl. Prof. H. Soedarto, SH, Tembalang, Semarang, 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Perspective
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 25022067     EISSN : 25481436     DOI : https://doi.org/10.14710/ip.v1i1.10430
Core Subject : Humanities, Social,
IP (Indonesian Perspective) is a scholarly journal published by the Department of International Relations, Diponegoro University. Appears two volumes a year, the journal covers broad subject areas ranging from international politics, global security, global political economy, diplomacy and foreign policy, transnational relations, to theoretical debates concerning contemporary global challenges. The name ‘Indonesian Perspective’ implies that all article submissions must meet requirement to connect their analysis to Indonesia foreign relations, either how Indonesia perceives global politics or how global politics affects Indonesia. It is important as part of a systematic effort to develop Indonesian school of IR in the long run. The Editor welcomes manuscript submission from academics, researchers, as well as practitioners around the globe to enhance our understanding regarding how global politics matters for Indonesia and vice versa.
Articles 120 Documents
External Perceptions and Indonesia's Leadership Role in Indo-Pacific Maritime Affairs Samy, Muhammad
Indonesian Perspective Vol 9, No 1 (2024): (Januari-Juni 2024)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ip.v9i1.62464

Abstract

Bahasa Indonesia:Visi Indonesia untuk menjadi pemimpin kawasan dalam hal kemaritiman telah menjadi isu yang diperdebatkan oleh akademisi maupun politis. Beberapa akademisi berargumen bahwa Indonesia tidak dapat menjalankan peran sebagai pemimpin kawasan dalam hal kemaritiman karena lemahnya kehendak politik, kurangnya sumber daya, serta lemahnya persepsi diri sebagai pemimpin. Dengan menggunakan kerangka analisis teori peran, tulisan ini menghadirkan jawaban alternatif terhadap isu kepimpinan regional Indonesia dalam hal kemaritiman. Tulisan ini berargumen bahwa Indonesia memang memandang diri sebagai pemimpin kawasan dalam hal kemaritiman, namun masalah dalam menjalankan kepemimpinan tersebut terletak pada lemahnya persepsi eksternal atas kepemimpinan Indonesia.English:Indonesia’s aspirations of becoming a leader in regional maritime affair has become a point of contention among scholars and politicians alike. Many scholars argue that Indonesia is unable to effectively take on the role of a regional leader in maritime affairs due to weak political will, lack of resource, or lack of self-perception as both a maritime state and regional leader. Building upon the analytical framework of role theory, this paper brings forth a different answer to the question of Indonesia’s leadership in regional maritime affairs. This paper argues that Indonesia does view itself as a maritime state and regional leader, and that the issue of Indonesia’s leadership is rooted in the lack of external perception towards Indonesia’s leadership in regional maritime affairs. 
Gagasan dan Presepsi Politik Luar Negeri Indonesia terhadap Rivalitas Amerika Serikat dengan China: Sebuah Resensi Kritis Alfian, Muhammad Faizal
Indonesian Perspective Vol 8, No 2: (Juli-Desember 2023): 211-338
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ip.v8i2.60445

Abstract

“Mendajung antara dua karang” merupakan salah satu karya Bung Hatta untuk mengambarkan posisi Indonesia pada masa Perang Dingin. Secara garis besar karya ini merupakan bagian dari konsolidasi kebijakan luar negeri Indonesia dalam menghadapi perang ideologi besar antara dua negara berpengaruh Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet dan Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat. Istilah Mendayung dalam dua karang ini merupakan istilah yang dapat mengambarkan politik luar negeri bebas aktif yang berusaha untuk terhindar dari tekanan eksternal dari negara hegemoni menyebar luaskan pengaruhnya terhadap Indonesia. Persaingan Amerika Serikat dan Uni Soviet mungkin sudah tidak relevan lagi dalam konteks kontemporer sejak runtuhnya Uni Soviet, akan tetapi Daniel Novotny membawa gagasan ‘mendajung antara dua karang” untuk menjelaskan politik luar negeri Indonesia terhadap Amerika Serikat dan China dalam bukunya yang berjudul “Torn between Amerika dan China; Elite Perceptions and Indonesian Foreign Policy”. Buku Novonty merupakan suatu kajian yang memberikan pemahaman pembuat kebijakan Indonesia pasca perang dingin dengan menitik beratkan upaya Indonesia dalam menemukan jalannya ditengah persaingan dua kekuatan besar antara Amerika Serikat dan China. Selain itu, Novonty juga menyoroti bagaimana persepsi terhadap permasalahan keamanan para elit politik “pejabat” yang diambil berdasarkan pemikiran dan pandangan presiden, menteri, diplomat senior dan perwira tinggi angkatan darat Indonesia terhadap dunia luar pasca perang dingin. Pemikiran dan padangan elit politik menjadi determinan dalam proses melihat ancaman, sehingga berpengaruh pada politik luar negeri Indonesia ditengah dua persaingan kekuatan besar yaitu AS dan China.
Kebijakan Luar Negeri Indonesia: Studi Kasus Penerimaan Pengungsi Rohingya Asal Myanmar Tahun 2020-2022 Indradipradana, Ramaldy Krisna; Haridha, Frieska
Indonesian Perspective Vol 8, No 2: (Juli-Desember 2023): 211-338
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ip.v8i2.59246

Abstract

The Rohingya ethnic conflict is one of the conflicts that occurred due to instability in political life and society in Myanmar. The cause of this conflict was discrimination against the Rohingya ethnic group, which resulted in quite a few Rohingya people fleeing. In 2015, Indonesia, Malaysia, and Thailand agreed to allow Rohingya refugees into their territories. However, Thailand and Malaysia in 2020-2022 did not permit Rohingya refugees to enter their territory. The rejection of these two countries caused Indonesia to become the only country in the world that accepted Rohingya refugees even though it did not ratify the 1951 Convention and the 1967 Protocol. This qualitative research focuses on discussing the factors that prompted Indonesia to accept Rohingya refugees in 2020-2022 with internet-based research in data collection. In addition, this research uses foreign policy from Kegley and Raymond (2012). This research shows that four factors encourage Indonesia to accept Rohingya refugees: geostrategic position, economic conditions, type of government, and decisions & leadership capacity.
Peluang dan Tantangan Indonesia-Australia Comprehensive Strategic Partnership Pasca Terbentuknya Kerja Sama Pertahanan Trilateral AUKUS Saputro, Pradono Budi; Ulung, A. Kurniawan; Abdurrohim, Muhammad; Hafizh, Al
Indonesian Perspective Vol 9, No 1 (2024): (Januari-Juni 2024)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ip.v9i1.52062

Abstract

Indonesia and Australia are neighboring countries with fluctuate bilateral relations. In 2018, they formed Indonesia-Australia Comprehensive Strategic Partnership (IA-CSP) to enhance their partnerships in strategic sectors for the stability of regional security in the Indo-Pacific. However, the problem came up in 2021 when Australia established trilateral defense cooperation AUKUS with the United Kingdom and the United States. This cooperation facilitates Australia to have nuclear-powered submarines to strengthen its military power. This cooperation has raised the eyebrows of Indonesia as it is against IA-CSP’s pillars, particularly pillar on securing the two countries and the region’s shared interest, and pillar on contributing to Indo-Pacific stability and prosperity. Therefore, Indonesia regretted Australia’s participation in AUKUS because the former deemed the latter to have violated its commitment on IA-CSP. This research aims to analyze IA-CSP’s opportunities and challenges post-establishment of AUKUS. It used a qualitative method, with interviews and literature review in place to collect data. The authors used regional security complex theory and strategic partnership concept for analysis. This research found that AUKUS does not disrupt the implementation of IA-CSP because the cooperation instead provides opportunities that Indonesia can utilize for its national interest. However, AUKUS poses challenges that Indonesia needs to tackle.
The Strategy of Indonesia's Economic Diplomacy in Building Mandalika Special Economic Zone (2017-2021) MASYHURI, AULIA RAHMATIN; Elvianti, Witri
Indonesian Perspective Vol 8, No 2: (Juli-Desember 2023): 211-338
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ip.v8i2.59686

Abstract

In recent years, Indonesia has actively pursued economic diplomacy to enhance its international standing through trade, tourism, investment, and services (TTIS). This study focuses on analyzing Indonesia's economic diplomacy strategy in developing the Mandalika Special Economic Zone (SEZ) from 2017 to 2021. Employing a qualitative methodology involving data analysis and interviews, the research follows the four phases of economic diplomacy outlined by Kishan S. Rana, encompassing economic salesmanship, economic networking, image building, and regulatory management with resource mobilization. This aimed to unravel Indonesia's commitment to fostering tourism as a strategic sector, utilizing Mandalika SEZ to attract investments. Findings reveal that Indonesia has successfully navigated through the four phases, particularly emphasizing sports tourism in Mandalika and cultivating a conducive investment climate. The study underscores the academic importance by contributing insights into the intricacies of economic diplomacy, tourism development, and the role of non-state actors, exemplified by the ITDC serving as Mandalika's BUPP. This research bridges gaps in the literature, shedding light on the multifaceted nature of Indonesia's economic diplomacy and offering practical implications for policymakers and investors alike.
Implementasi Belt and Road Initiative terhadap Visi Poros Maritim Indonesia Widhiyoga, Ganjar; Wijayanti, Hasna; Wijayanti, Veronika; Ramadhan, Megah Rahmat
Indonesian Perspective Vol 9, No 1 (2024): (Januari-Juni 2024)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ip.v9i1.62158

Abstract

Visi Poros Maritim Dunia yang digagas oleh Presiden Joko Widodo untuk mengembalikan jati diri bangsa Indonesia sebagai negara maritim. Pemerintah Indonesia berfokus pada pengembangan infrastruktur dan konektivitas laut. Konektivitas laut ini kemudian mengalami persinggungan dengan program Tiongkok yaitu Belt and Road Initiative (BRI) secara garis besar proyek ini mengedepankan konektivitas dalam kerjasama ekonomi, perdagangan internasional dan pembangunan infrastruktur di wilayah-wilayah yang terhubung dengan Tiongkok. Dengan metode analisis deskriptif untuk melihat ambisi Tiongkok yang melindungi jalur-jalur perdagangannya. Artikel ini bertujuan untuk melihat bagaimana posisi geografis suatu negara akan berpengaruh pada kerjasama yang terjalin. Dalam hal ini Indonesia dan Tiongkok sama-sama melihat keuntungan dari singgungan visi ini. Sehingga Tiongkok dan Indonesia sepakat untuk melakukan kerja sama di bawah skema poros maritime dan BRI dengam mengembangkan kerja sama dalam berbagai bidang terutama pengembangan pelabuhan dan kawasan industri di wilayah-wilayah strategis seperti Selat Malaka.
Upaya Indonesia Menjaga Keamanan Pangan (Food Security) melalui Paris Agreement of Climate Change Kinanti, Alyandani Ayu; Yulianti, Dina
Indonesian Perspective Vol 8, No 2: (Juli-Desember 2023): 211-338
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ip.v8i2.53959

Abstract

Indonesia, having affected by the climate change, has a national interest to sign the Paris Agreement of Climate Change. The disruption of food security as a consequence from climate change raises Indonesia's interest on participating in the Paris Agreement. Indonesia's Nationally Determined Contributions report, which was last compiled in 2021, shows its contribution as a Party by committing to carry out mitigation and adaptation actions related to food security as a result of climate change. Analyzed through the four dimensions of food security according to the Food and Agriculture Organization (FAO), Indonesia's mitigation and adaptation action programs in the 2021's NDCs are considered to fulfill these four dimensions and will gradually maintain food security if implemented in a sustainable manner. It can be concluded that Indonesia has shown its commitment and contribution in maintaining food security as a member of the Paris Agreement.
Menguji Keamanan Siber One Channel System sebagai Upaya untuk Melindungi Data Pekerja Migran Indonesia di Malaysia Afiya, Nadien; Sudirman, Arfin; Hakiki, Falhan
Indonesian Perspective Vol 9, No 1 (2024): (Januari-Juni 2024)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ip.v9i1.60882

Abstract

Tingginya angka permasalahan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia yang terus berlanjut sedari dahulu hingga sekarang membutuhkan upaya kedua pemerintah untuk menanggulangi permasalahan tersebut. Tahun 2022 Indonesia-Malaysia menetapkan MoU yang berisikan One Channel System sebagai satu-satunya kanal penempatan dan pengawasan PMI. One Channel System merupakan sistem terintegrasi antara pemerintah Indonesia dengan Malaysia dalam seluruh proses penempatan, pemantauan, dan kepulangan PMI disana, nantinya semua data yang mencakup lokasi bekerja, identitas majikan dan latar belakang majikan akan diawasi sepenuhnya oleh kedua pemerintah. One Channel System diinisiasi sebagai sebuah solusi untuk jaminan perlindungan bagi PMI dengan transparansi data terkait PMI di Malaysia dalam sebuah sistem siber yang akan berpotensi akan mengurangi berbagai ancaman yang sebelumnya menjadi isu bagi para PMI di Malaysia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu wawancara, studi literatur, dan penelitian berbasis internet. Fokus utama penelitian ini adalah membahas mengenai One Channel System sebagai sistem keamanan siber untuk memberikan pelindungan bagi PMI melalui dua konsep kunci dalam keamanan siber, yaitu Critical Infrastructure Protection (CIP) dan Information Security. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa One Channel System tidak memiliki kementerian yang berwenang terkait keamanan siber sehingga belum memenuhi standar keamanan siber. Selain itu, pemerintah Indonesia belum menjadikan PMI prioritas dalam konteks memberikan perlindungan dalam keamanan siber karena PMI belum mendapatkan perhatian dari lembaga kementrian terkait keamanan siber itu sendiri.
Perdagangan Minyak Sawit Indonesia ke India: Analisis Ecologically Unequal Exchange Gultom, Yosua Saut Marulitua
Indonesian Perspective Vol 8, No 2: (Juli-Desember 2023): 211-338
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ip.v8i2.53035

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis perdagangan sawit Indonesia dengan india menggunakan perspektif sistem dunia. Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di dunia yang memasok lebih dari setengah kebutuhan sawit global, termasuk India. Artikel ini menemukan bahwa meskipun volume perdagangan dengan India berada pada angka yang tinggi, namun keuntungan yang didapat Indonesia cenderung menurun. Ketidakmampuan Indonesia dalam mengontrol harga sawit, salah satunya disebabkan karena masih bergantung pada permintaan global. Artikel ini berpendapat bahwa India mendorong basis produksi sawit yang murah ke negara peripheral seperti Indonesia yang berdampak terhadap kondisi ekologis masyarakat lokal, yang diperparah oleh dominasi kapitalis global terhadap penguasaan lahan sawit di Indonesia. Artikel ini membuktikan bahwa terjadi distribusi yang tidak setara antara benefit dan cost dari perdagangan sawit Indonesia dengan India, terutama pada aspek ekologis dengan Indonesia berperan sebagai negara peripheral.  
Potensi Minyak Bumi Indonesia di Laut Timor dalam Rangka Pencarian Sumber Energi Alternatif Tais, Muhammad Sultan Audi; Dyota, Demetrius; Shebahi, Fikky Itsbatul Waqiey Esh; Yulianti, Dina; Sari, Deasy Silvya
Indonesian Perspective Vol 9, No 1 (2024): (Januari-Juni 2024)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ip.v9i1.63707

Abstract

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki perairan yang sangat luas, oleh karenanya minyak dan gas yang ada di dasar laut di belum sepenuhnya dieksplorasi. Saat ini Indonesia masih banyak melakukan impor minyak bumi dari negara tetangga, dan Indonesia mengalami penurunan cadangan minyak dari tahun ke tahun. Sehingga pengelolaan minyak bumi perlu lebih ditingkatkan lagi agar selaras dengan blue economy. Blue economy memiliki tujuan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang memaksimalkan pengelolaan laut. Laut Timor menjadi wilayah yang kaya akan minyaknya namun belum dieksplorasi sepenuhnya. Eksplorasi dan pemanfaatan migas di laut dapat menjadi salah satu cara bagi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan energi yang kian meningkat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk  menjelaskan bagaimana migas di Laut Timor dapat menjadi salah satu sektor penting bagi blue economy indonesia. Penelitian ini diteliti memakai konsep keamanan energi, terutama 4A dari keamanan energi (availability, accessibility, acceptability dan affordability). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa minyak bumi Indonesia di wilayah Laut Timor belum tereksploitasi sepenuhnya, dimana melalui 4A keamanan energi, potensi minyak bumi di Laut Timor tersebut jika dapat dikelola dengan optimal dapat meningkatkan keamanan energi Indonesia dalam jangka panjang.

Page 11 of 12 | Total Record : 120