cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 466 Documents
GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA LEMBAGA PENDIDIKAN PESANTREN: STUDI PADA PONDOK PESANTREN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA A Khumedi Ja’far
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 23 No 1 (2018): Good Coorporate Governance dan Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.115 KB)

Abstract

Abstract Good Corporate Governance is a concept or guidance in managing a good organization or institution. Although, conceptually still leaves room for debate. However, most scholars agree on the concept. In the educational institutions context, especially pesantren institutions, the implementation of GCG is an important and interesting thing to study. This study is aimed in analyzing the implementation of GCG at the Islamic University of Indonesia Islamic Boarding School (PP UII). This research is a qualitative research with case study. In the process of data collection, researcher use observation, interview and documentation. The validation process uses the data and sources triangulation. In analysis, there are several stages, such as data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of this study, it can be seen that PP UII in principle has implemented the principles in GCG such as transparency, accountability, professionalism and responsibility. In the principle of transparency, PP UII reports every learning process and activities, also financial reports to the leaders of the university and the students can also find out the results of the learning evaluation. In the principle of professionalism, for example, it can be seen from the selection of scholarship awardee, the leadership process and the selection of lecturers in accordance with the competence. Also in the aspect of accountability and responsibility is implemented properly in PP UII. Keywords : Good Corporate Governance, Education, and Boarding School Abstrak Good Corporate Governance merupakan konsep atau panduan dalam pengelolaan suatu lembaga atau organisasi yang baik. Meskipun secara konseptual masih menyisakan ruang perdebatan. Namun, sebagian besar pengkaji setuju terhadap konsep tersebut. Dalam konteks lembaga pendidikan, khususnya lembaga pesantren, pengimplementasian GCG merupakan suatu hal yang penting dan menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi GCG pada lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode yang digunakan adalah studi kasus. Dalam proses pengambilan data, peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi. Proses validasi menggunakan proses triangulasi data dan sumber data. Adapun dalam analisisnya, terdapat beberapa tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa PP UII secara prinsip telah mengimplementasikan prinsip-prinsip dalam GCG seperti transparansi, akuntabilitas, profesionalitas dan bertanggungjawab. Dalam aspek transparansi, PP UII melaporkan setiap proses pembelajaran dan kegiatan serta laporan keuangan kepada pihak pimpinan universitas dan para santri pula dapat mengetahui hasil evaluasi pembelajaran. Dalam aspek profesionalitas, misalnya dapat dilihat dari seleksi penerima beasiswa PP UII, proses kepemimpinan dan pemilihan dosen sesuai dengan bidang keilmuan dan kompetensi. Begitu juga dalam aspek akuntabilitas dan tanggungjawab diimplementasikan secara baik di PP UII. Kata Kunci : Good Corporate Governance, Pendidikan, dan Pesantren
DINAMIKA PEMIKIRAN ISLAM INDONESIA Zainal Abidin
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.376 KB)

Abstract

Perkembangan pemikiran Islam di Indonesia mengindikasikan beberapa ide-ide rekonstruksi pemikiran Islam yang memiliki beberapa implikasi. Pembentukan kesadaran Islam yang luar biasa pada diri para cendekiawan muslim, mereka membuat kategorisasi ide untuk membangun perspektif Islam dan untuk mendapatkan beberapa alternatif pemecahan masalah berdasarkan pengalaman. Untuk waktu yang lama beberapa intelektual Islam lebih independen untuk mengekspresikan pikiran mereka seperti Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid dll. Mereka memperkenalkan filsafat pada paradigma dan membuat grand metodologi studi Islam di Indonesia. Tulisan ini menunjukkan bahwa perspektif yang digunakan sangat berbeda antara para cendekiawan muslim. Jenis pemikiran dapat dibagi dalam ke empat jenis yaitu ideologi Islam sebagai paradigma fundemental, neo-modernisme yang memiliki konsep terbuka terhadap studi Islam, rasionalism dalam Islam dan percabangannya, dan Islam Liberal yang disutradarai oleh para pemikir muslim muda, lahir setelah reformasi dalam transformasi politik Indonesia. Era ini disebut sebagai era reformasi dimana beberapa aktivis muslim muda pada kesempatan ini dapat mengekspresikan pemikiran dengan semangat pembebasan, dan dalam waktu yang sama konstruksi mereka dalam berpikir harus siap mendapat tanggapan dari kctivis fundamentalisme Islam radikal atau Islam di Indonesia. The development of Islamic thought in Indonesia indicated that some ideas as the reconstruction of Islamic thinking its have several implications. The establishment of Islamic consciousness remarkable in the muslim scholars, they make categories of their ideas to build in the Islamic perspectives its available to get some alternatives of the people problems like their experiences. For a long time some intelectual moslem have been more independent to expression their thinking like Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid etc. They introduced the philosophy on the paradigm and make the grand metodology of Islamic study in Indonesia. The kind of character in several times, indicated that perspective used is very different between muslim scholars. The type of thinking may be divided in to four kinds, there Islamic Ideologi as the fundemental paradigm in their concept, neo-modernism to have the opened concept of Islamic study, rationalism in Islam and its ramification, and the last time the Islamic liberlism directed by the young muslim thinkers, was born after reformation in Indonesian politic transformation. This era called by reformation era, some young muslim activists on this occasion can be experession with liberation spirit of opened era, and in the same time their construction in thinking must be respons by the Islamic radical or Islamic fundamentalism activis in Indonesia.
TEOLOGI LINGKUNGAN RANGGAWARSITA Agus Iswanto
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.627 KB)

Abstract

AbstrakTulisan ini menyajikan pemikiran teologi lingkungan Ranggawarsita, pujangga Jawa di Keraton Sukararta. Tulisan ini berdasarkan pada studi teks-teks Zaman Edan. Teks-teks ini adalah sebuah karya terjemahan dari beberapa puisi, yang mencakup Serat Kalathida, Serat Sabda Jati, Serat Sabdatama, Serat Jaka Lodhang dan Serat Wedharage, yang diterjemahkan dan diedit oleh Ahmad Norma dalam buku yang diberi judul Zaman Edan. Studi ini memberikan kontribusi bagi wacana teologi lingkungan dari seorang pemikir budaya lokal. Pemikiran teologi lingkungan Ranggawarsita, yang ditafsirkan dari teks-teks tersebut, dapat dimasukan dalam pandangan “kekerabatan manusia dengan alam” atau yang juga disebut dengan “deep ecology.” Dalam pandangan ini, kelestarian lingkungan dan bencana akan selalu dikaitkan dengan hubungan antara manusia sebagai ‘hamba’ dan ‘khalifah’ dengan Tuhan sebagai Pencipta alam semesta. Konsep teologi lingkungan Ranggawarsita menggabungkan nilai-nilai kearifan lokal Jawa dengan ajaran-ajaran Islam. Hal ini dimungkinkan karena konteks sosial-budaya, yakni Ranggawarsita sebagai santri sekaligus juga sebagai priyayi Jawa. This article presents eco-theology thought of Ranggawarsita, the poet of Surakarta Javanese keraton (palace). This article based on the study of Zaman Edan texts. These texts is translation work from some poetry text, include Serat Kalatidha, Serat Sabda Jati, Serat Sabdatama, Serat Jaka Lodhang, dan Serat Wedharage, which translated and edited by Ahmad Norma in the book of Zaman Edan. This study gives a contribution for eco-theology discourse from local cultural thinker. Eco-theology thought of Ranggawarsita, which interpreted from Zaman Edan texts, can be included in the view of “human kinship with all creatures” or which may be called deep ecology. In this view, environmental sustainability and disasters will always be associated with the relationship between man as servant and caliph with God as the Creator and the universe. The concept of eco- theology’s Ranggawarsita combine the values of Javanese local wisdom with Islamic teachings. It is possible with socio-cultural context, ie, Ranggawarsita as a santri as well as Javanese priyayi.
REKONSTRUKSI DAN REPOSISI PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA BERBASIS PENDEKATAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL Achmad Asrori
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.804 KB)

Abstract

Tulisan ini berusaha menjelaskan keadaan nyata pendidikan Islam di Indonesia baik di Madrasah maupun di sekolah pada umumnya. Pendidikan Islam masih jauh dari harapan ideal kita. Pendidikan Islam yang terjadi di Indonesia masih belum sepenuhnya menerapkan ajaran Islam tentang menghargai perbedaan dalam bingkai pluralisme multikulturalisme. Masih banyak dijumpai sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah yang masih mengjarkan truth claim atau klaim kebenaran yang sejatinya hal tersebut tidak dibenarkan dalam ajaran agama manapun. Kiranya peneliti merasa gelisah terhadap pendidikan Islam di Indonesia yang seperti itu apalagi sekarang sedang menghadapi berbagai tantangan globalisasi baik dari sisi ekonomi, sosial, budaya, politik, pendidikan, dan hukum. Peneliti menggunakan studi pustaka dalam penelitiannya sehingga diperoleh wawasan tentang model pendidikan Islam yang cocok diterapkan di Indonesia dengan basis pendekatan pendidikan multikultural. Teori-teori yang digunakan adalah teori tentang pendidikan, pendidikan Islam, pluralisme, dan teori tentang multikulturalisme. Teori-teori tersebut digunakan untuk memberikan gambaran rekontruksi dan reposisi pendidikan Islam di Indonesia berbasis pendekatan pendidikan Multikultural This writing investigates the real condition of Islamic education in Indonesia both in Islamic school, madrasah, and in general school. Islamic education is still far from what it should be. Current practices of Islamic education in Indonesia has not yet reflected tolerance toward pluralism, and multiculturalism. Many schools and madrasa have been introducing ‘truth claim’ which it is against the spirit of any religion. This study was a literature study which focused on the multicultural-based Islamic education model appropriate for Indonesian context. Relevant theories on education, Islamic education, pluralism, and multiculturalism were used as the basis to reconstruct and reframe the position of the multicultural-based Islamic education in Indonesia.
THE ISLAMIC PERSPECTIVE OF NON-MUSLIM LEADERS IN INDONESIAN MUSLIM MAJORITY COMMUNITIES Ali Abdul Wakhid; Mohd Shahril Bin Ahmad Razimi; Moh. Mukri; Is Susanto
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 26 No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.525 KB) | DOI: 10.32332/akademika.v26i2.3753

Abstract

The leader is a key component of the government system. Referring to the Prophet Muhammad and his companions' leadership attributes as described in many literatures, a leader must be a Muslim who is istiqamah (consistent), trustworthy, honest, and fair. Another issue comes when the leader is not Muslim but has a trustworthy, honest, and fair character in carrying out his leadership responsibilities. This article tries to give answers to these issues through many sources of literature, particularly leadership for the Indonesian Muslim community, which has a Muslim population of 231.06 million (86.7 percent) (according to The Royal Islamic Strategic Studies Center/RISSC). According to the findings of this study, the leader serves as a substitute for the Prophet in world and state affairs. As a result, the legislation enabling non-Muslims to handle Muslim affairs is prohibited, because non-Muslim leaders will be unable to implement it for the Muslim community. His leadership will put his group's interests over the Muslim group's. Although scholars disagree in their opinions on non-Muslim leaders, some scholars restrict the selection of non-Muslim leaders since they share beliefs with helpers and leaders. Some other scholars agree that non-Muslim leaders can exist in Muslim-majority territories because they no longer fit the contemporary context.
PERAN BAHASA DALAM HEGEMONI POLITIK, SOSIAL, DAN BUDAYA Walfajri Walfajri
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa adalah sebuah simbol universal yang digunakan oleh manusia untuk mengekspresikan dan mengemukakan benda-benda, fenomena, fakta, pemikiran dan perasaannya.Meskipun demikian, bahasa bukanlah sistem sisbol yang bebas nilai dan tidak ada hubunganya dengan dunia di luar bahasa itu sendiri, sebagaimana anggapan kaum strukturalis. Sebaliknya, bahasa adalah dunia yang penuh makna. Makna itu sendiri dapat didefinisikan sebagai sebuah konsep, pemikiran, atau ide yang diberikan oleh penulis, pembaca atau pembicara dalam bentuk linguistik seperti kata, kalimat, atau wacana yang diciptakan oleh pengguna bahasa tersebut.Sehingga, makna kata tersebut sangat subjektif. Di samping itu, bahasa merupakan produk budaya dan kejadian social yang kompleks yang berkaitan dengan sejarah dan proses sosial dimana bahasa itu dibuat.Oleh karena itu, bahasa selalu hadir dalam seluruh dimensi kehidupan manusia: politik, social, dan budaya yang penuh dengan berbabagai ketertarikan dalam perjuangan hegemoni diantara penguasa dan menguasai. Lebih lanjut, dengan dukungan media masa, bahasa memainkan peran yang sangat penting sebagai instrumen yang efektif untuk membangun dan meemelihara hegemoni politik, social, dan budaya. The language is a universal symbol used by a human to express and present objects, phenomena, facts, his thought and feeling. Nevertheless, the language is not just a free-value (objective) system of symbol which does not relate to another world out of the language itself, as the assumption of structuralists. On the contrary, the language is a meaningful world. The meaning itself can be defined as a concept, thought or idea given by a writer, a reader, or a speaker to the linguistic forms such as words, sentences, or discourses that are created according to the language user. So, the meaning of word is very subjective. Besides, the language is a product of culture and a complex social event that relates to the history and social process where the language is produced. So, the language always presents in all dimensions of human life: politic, social, and culture that are full of interests in a struggle of hegemony between the dominant and the dominated. Furthermore, with the support of mass media, the language plays a very vital role as an effective instrument to build and maintain the political, social, and cultural hegemony.
INDOCTRINATION AND BRAINWASHING PROCESS IN THE CASE OF TERRORISM: A PSYCHOLOGICAL ANALYSIS OF SUICIDE BOMBING IN SURABAYA, EAST JAVA Mohammad Takdir
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 25 No 1 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.626 KB) | DOI: 10.32332/akademika.v25i1.1990

Abstract

This paper analyses the process of indoctrination and brainwashing in the case of terrorism. This study uses a psychological approach to uncover the suicide bombing case in Surabaya which has happened in Mei 2018. By using a case study, this research effort to understand deeply the psychological phenomenon that encourages terrorists to invite their families like suicide bombers. This research shows that the indoctrination process is done by giving video on jihad. This indoctrination process is an important stage in the cultivation of radical ideologies through pre-radicalization, self-identification, and jihadization. In this study, it was found that there are some stages of brainwashing for suicide bombers, namely the recruitment process, the indoctrination stage, and the isolation to do an attack of suicide bombing. Key Word: Brainwashing, Indoctrination, Suicide Bombing, Terrorism
KONSEP MASYARAKAT MADANI DALAM ISLAM M Ihsan Dacholfany
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.247 KB)

Abstract

Islam melahirkan konsep sempurna dengan menampilkan lima jaminan dasar yang diberikan agama kepada warga masyarakat, baik secara perorangan ataupun kelompok. Pertama, keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan fisik di luar ketentuan hukum. Kedua, keselamatan keya-kinan agama masing-masing, tanpa ada paksaan untuk berpindah agama. Ketiga, keselamatan keluarga dan keturunan. Keempat, keselamatan harta benda dan milik pribadi di luar prosedur hukum. Kelima, keselamatan profesi (intelektual). Kelima jaminan dasar tersebut menampilkan universalitas pandangan hidup atau visi transformatis sosial keagamaan yang utuh. Pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat yang berdasarkan hukum, persamaan derajat dan sikap toleransi adalah unsur-unsur utama kemanusiaan. Namun, hal itu sekedar menyajikan kerangka teoritik. Sehingga, harus diikuti dengan upaya pengorganisasian dan penerapannya di lingkungan sosial secara empiris. Islam bears perfect concept presented five elementary guarantee which given by religion to society citizen, either through individual or group. First, safety of society citizen physical of physical action out off law. Both, safety of belief of each religion, without constraint to move the other religion. Third, safety of family and descent. Fourth, safety of goods and chattel ownership outside law procedure. Fifth, safety of profession (intellectual). The fifth elementary guarantee present universal view of life or vision of transformation intact religious social. Goverment and society life which pursuant to law, equation of tolerance attitude and degree is human especial elements. But, that thing is merely presenting framework of theory. So that, it should be followed by the effort of organization applying in social environment by empiric.
KONSEP KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM Muhammad Harfin Zuhdi
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.646 KB)

Abstract

Diskursus tentang kepemimpinan dan masalah pemimpin merupakan suatu yang tidak pernah sepi dari perbincangan dari waktu ke waktu. Tidak terkecuali masa lalu, saat ini dan masa akan datang, pembicaraan mengenai pemimpin banyak dibahas dan dianalisa dari berbagai sudut pandang yang bermacam- macam. Semuanya tergantung dari sisi mana seseorang memandang dan mengulas masalah pemimpin dalam suatu obyek kajiannya. Bila pemimpin dikaji dalam perspektif politik akan melahirkan pandangan yang berbeda bila dikaji dalam perspektif ekonomi. Begitu juga bila pemimpin dibahas menggunakan kacamatan idiologi kapitalis akan sangat berbeda dengan sosialis. Artikel ini mencoba melakukan kajian pemimpin dalam perspektif Islam,dengan mengelaborasi ayat- ayat al-Qur’an secara tematik. karena ajaran Islam harus menjadi bagian sangat penting dan strategis untuk dimunculkan. Karena dari sanalah cita-cita keadilan, kemashlahatan dan kebenaran akan ditegakkan. Tentu semuanya mengacu kepada patokan syari’at agar terhindar dari kepentingan nafsu perorangan, kelompok, maupun isme-isme lainnya yang dapat membuat lemahnya komitmen seorang pemimpin dalam memperjuangan kebenaran dan keadilan dalam rangka mewujudkan kemashlahatan masyarakat yang dipimpinnya.The discourse on the issues of leadership and leader has been challenging from time to time. It was discussed in the past, and is discussing today, and will be discussed in the future from various perspectives. Different perspective results in different judgment. When it is seen from politic perspective, the result would be different from that of economy perspective. The same is true when it is examined through capitalism ideology that would be different from that of social ideology. This writing examines the issue of leadership from Islamic perspective by ellaborating the verses within the holy Koran thematically since Islamic teachings should be important and strategic for the discussion. The holy Koran is the source of goal, justice, utility, and truth. The shari’ah concept should be the standard of the leader in order for him not to be occupied by negative desires or ideologies.
PELEMBAGAAN NILAI PLURALISME AGAMA DAN POLITIK DALAM PIAGAM MADINAH DAN REFLEKSINYA DI INDONESIA Ridwan Ridwan
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.695 KB)

Abstract

Madinah adalah sebuah masyarakat yang multi-etnis dan agamais dengan identitas politik, budaya dan agama yang tidak sama. Piagam Madinah adalah sebuah manifesto kesadaran baru masyarakat dalam mengurus hubungan diantara masyarakat yang agamais secara berdampingan dan bermartabat. Tulisan ini membuktikan bahwa Piagam Madinah adalah sebuah instrumen konstitusional bagi mereka yang mencari rumusan resolusi konflik dalam islam. Substansi Piagam Madinah menjelaskan proses pelembagaan pluralisme agama dan nilai-nilai politik dengan semangat hidup berdampingan dan damai. Piagam Madinah tidak hanya diposisikan sebagai sumber agama yang tekstual, tetapi juga sebagai sebuah fakta sejarah atas kemampuan Nabi dalam memimpin masyarakat Madinah dengan nila-nilai lokal, dimana beliau mengambil peranan yang strategis dalam melakukan negosiasi dan komplromi, terutama dalam penataan hubungan sosial ditengah pluralisme agama dan politik. Medina is a multi-ethnic and religious community with political identity, cultural and religious disparate. The Medina Charter is a manifesto of a new awareness of the community in managing the relationship between religious communities for coexistence with dignity. This article proves that the Medina Charter is a constitutional instrument for those who seek a formulation of conflict resolution in Islam. The substance of the Medina Charter describes the process of institutionalization of religious pluralism and political values with the spirit of coexistence and peace. Medina Charter is not only positioned as a textual religious source, but also as a historical fact on the ability of the Prophet in managing Medina community with local values, in which he then took the strategic roles in conducting negotiations and compromises, especially in structuring social relations amid religious and political pluralism.

Page 9 of 47 | Total Record : 466