cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Gedung Induk Siti Walidah lt.5, Jl. A. Yani Pabelan, Kartasura Sukoharjo
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
ISSN : 2527533X     EISSN : 26858770     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek (SNPBS) adalah Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Articles 687 Documents
Pemanfaatan Ekstrak Daun Tembelekan dengan Penambahan Ekstrak Daun Kemangi Sebagai Insektisida Nabati Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk dengan Berbagai Konsentrasi Hidayati, Umi Muslikah Nur; Asngad, Aminah
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2020: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.795 KB)

Abstract

Nyamuk merupakan serangga yang memiliki peran sebagai vektor dari agen penyakit baik pada hewan maupun manusia. Termasuk salah satu serangga berbahaya bagi manusia karena dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, misalnya penyakit malaria dan demam berdarah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh larutan insektisida daun tembelekan dengan penambahan daun kemangi terhadap mortalitas larva nyamuk dengan berbagai konsentrasi. Jenis penelitian yang digunakan yaitu eksperimen dengan rancangan acak lengkap. Ekstrak daun tembelekan dengan ekstrak daun kemangi di maserasi dengan etanol 70% dan etanol 96% dan di destilasi yang kemudian masing masing konsentrasi dan perlakuan diaplikasikan pada nyamuk. Parameter yang diamati adalah mortalitas nyamuk terhadap variasi ekstrak. Data hasil pengamatan mortalitas dianalisis dengan Two Way Anova atau statistik non parametrik Uji Krusskal Wallis dan dilanjutkan dengan uji LSD (Least Significant Defferences) menggunakan aplikasi SPSS for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi antara ekstrak daun tembelekan dan ekstrak daun kemangi mampu membasmi larva nyamuk selama 120 menit dengan menunjukkan hasilkematian larva lebih dari 50%, sehingga dapat menjadi alternatif insektisida nabati pembasmi larva nyamuk yang ramah lingkungan.
Komparasi Keberadaan Famili Chironomidae pada Coban Watu Ondo dan Aliran Air Panas Cangar Affandi, Moch.; Maharani, Hayu Kinanthi Sekar; Firdausa, Fajar Sena; Arini, Fitri Citra; Nurhayati, Putri Afin
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2019: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.786 KB)

Abstract

Penelitian ini diarahkan untuk mengetahui perbedaan keberadaan famili Chironomidae pada Coban Watu Ondo dan aliran air panas Cangar. Coban Watu Ondo dan aliran air panas Cangar termasuk dalam kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo, Kabupaten Batu, Provinsi Jawa Timur. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode Surber Net pada 2 lokasi. Lokasi pertama adalah aliran air panas Cangar sedangkan lokasi kedua adalah Coban Watu Ondo. Pada setiap lokasi, diambil 2 titik sampling yang mewakili setiap kondisi aliran air. Analisis data didasarkan pada indeks dominansi Shannon & Wiener. Keberadaan famili Chironomidae dapat digunakan sebagai bioindikator kualitas perairan. Hasil sampling menunjukkan keberadaan famili Chironomidae dominan pada lokasi pertama dengan total kelimpahan 29 individu dan nilai dominansi 51.786%. Sedangkan hanya ditemukan 1 individu di lokasi kedua dengan nilai dominansi 1.7857%.
Deteksi Dini di Lingkungan Rumah yang Tidak Terawat Sebagai Reservoir Aedes spp. di Perumahan Kota Banjarbaru Muhamat, M; Soesilohadi, RC. Hidayat; Hadisusanto, Suwarno; Umniyati, Sitti Rahmah
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2020: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.372 KB)

Abstract

Pembangunan perumahan di perkotaan saat ini tumbuh sangat cepat termasuk di Kota Banjarbaru Ibukota provinsi Kalimantan Selatan. Namun demikian diperumahan tersebut ada beberapa rumah yang tidak dihuni dan tidak dirawat yang berpotensi menjadi habitat nyamuk Aedes spp. Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan lingkungan kebun dan rumah yang tidak terawat sebagai habitat nyamuk Aedes spp. di musim penghujan. Metode penelitian dengan metode purposive random sampling dengan mempertimbangkan perumahan yang ada rumah kosong yang tidak terawat dan diperumahan tersebut pernah terjadi kasus Demam Berdarah Dengue. Lokasi yang terpilih sebagai tempat pengambilan sampel adalah :-3.461389, 114.8503, -3.458056, 114.8456; -3.443056, 114.8586, -3.463611, 114.7731 dan -3.449167, 114.7814. Metode pengambilan sampel dengan memasang ovitrap yang diisi air rendaman jerami 10%. Ovitrap ditaruh stik kayu sebagai tempat bertelurnya nyamuk. Ovitrap ditaruh di bawah kanopi pohon yang terlindung hujan. Ovitrap diamati setiap 2 hari sekali. Hasil penelitian diperoleh telur sebanyak 207 butir. Setiap lokasi juga dilakukan inventarisasi vegetasi (luas kanopi, jumlah tumbuhan, tumbuhan penghasil senyawa repellen nyamuk, tumbuhan bercelah, dan tumbuhan berbunga) dan pengukuran suhu, kelembapan udara, dan pH air. Hasil identifikasi spesies, semua telur berasal dari nyamuk Aedes albopictus. Analisis ANOVA menunjukkan bahwa lokasi -3.461389, 114.8503 dan -3.443056, 114.8586 diperoleh telur yang lebih banyak dibandingkan tiga lokasi yang lainnya. Analisis korelasi antara faktor lingkungan dengan jumlah telur yang diperoleh menunjukkan bahwa faktor luas kanopi tumbuhan mempunyai hubungan yang kuat dan pH air, sedangkan tumbuhan penghasil senyawa repellen nyamuk dan tumbuhan berbunga berkorelasi sedang. Kesimpulan dari penelitian adalah rumah kosong yang tidak terawat dan ditumbuhi tumbuhan dengan kanopi yang lebar di lingkungan perumahan dapat menjadi reservoir nyamuk Aedes spp. terutama Ae. albopictus.
Analisis Vegetasi Penutup Lantai (Lower Crop Community - LCC) di Kawasan Sabuk Hijau Waduk Serbaguna Wonogiri Solikhatun, Imah; Maridi, M; Budiastuti, Sri
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2019: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.137 KB)

Abstract

Kawasan sabuk hijau Waduk Serbaguna Wonogiri merupakan kawasan pelindung waduk dan pembatas perkembangan penggunaan lahan di sekitar waduk. Kondisi kawasan sabuk hijau saat ini tidak lepas dari kegiatan peramban dan konversi menjadi lahan pertanian yang menyebabkan rusaknya fungsi utama dari sabuk hijau. Lahan sabuk hijau Waduk Serbaguna Wonogiri dikelola oleh Perum Jasa Tirta dan terletak pada elevasi 138,2 m – 140 m. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan struktur vegetasi penutup lantai (Lower Crop Community – LCC) di kawasan sabuk hijau Waduk Serbaguna Wonogiri. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuadran garis berarah secara purposive sampling di lokasi penelitian dengan pengambilan 15 plot setiap stasiun. Kawasan sabuk hijau Waduk Serbaguna Wonogiri terdapat di 5 kecamatan dan setiap kecamatan di ambil 2-3 stasiun sehingga total plot adalah 180. Parameter yang diukur meliputi kepadatan, frekuensi, dominansi, Indeks Nilai Penting (INP), dan Indeks Keragaman (H '). Penelitian dilaksanakan di Kawasan sabuk hijau Waduk Serbaguna Wonogiri pada bulan Februari-Maret 2019. Penelitian dilaksanakan dalam beberapa tahap antara lain : 1.) Survai (penelitian pendahulian), 2.) penentuan area kajian, 3.) Pengambilan data lapangan, serta 4.) analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vegetasi penutup lantai (LCC) ditemukan 56 spesies. Cacah individu terbanyak adalah Oplismenus burmanii sebanyak 6580 individu per 720 m2. Kontribusi spesies penutup lantai terbesar ditunjukkan oleh Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi adalah 21,5947. Indeks diversitas/ keanekaragaman vegetasi penutup lantai adalah 0,07329 (rendah).
Pembangunan Plot Konservasi Ex-Situ Jenis-Jenis Tanaman Hutan di Tahura Bunder Hakim, Lukman
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2019: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.432 KB)

Abstract

Salah satu upaya penyelamatan jenis-jenis tanaman hutan adalah dengan kegiatan konservasi yang meliputi konservasi in-situ dan konservasi ex-situ. Pembangunan plot konservasi ex-situ suatu jenis target dilakukan di luar habitat alam jenis target tersebut. Tujuan dari pembangunan plot konservasi ex-situ beberapa jenis tanaman hutan ini adalah merupakan upaya untuk menyelamatkan dari kepunahan. Lokasi pembangunan plot konservasi ex-situ berada di kawasan Taman Hutan Raya Bunder, Gunungkidul, DIY pada bulan Januari 2019. Jumlah jenis target ada 17 jenis dengan design plot konservasi ex-situ masing-masing jenis sebanyak 36 bibit yang ditanam dalam dua jalur. Sebelum ditanam, bibit diukur dengan tiga parameter, yaitu tinggi, diameter dan kekokohan bibit. Hasil pengukuran bibit sebelum ditanam menunjukan rata-rata diameter sebesar 6,61 mm, rata-rata tinggi 47,08 cm, dan rata-rata kekokohan bibit 7,35. Diharapkan pembangunan plot konservasi ex-situ ini selain dapat mengamankan jenis-jenis tanaman hutan target dari ancaman kepunahan juga merupakan sumber benih bagi masyarakat untuk pembuatan bibit untuk ditanam di lahannya di masa depan.
Keragaman Tumbuhan Sebagai Sumber Pakan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis Raffles) di Kawasan Wisata Cikakak Wangon Nasution, Erie Kolya; Rukayah, Siti
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2020: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.257 KB)

Abstract

Monyet ekor panjang merupakan salah satu jenis primata yang sifatnya omnivora yaitu pemakan segala yang dapat ditemukan di hutan dan menyukai buah-buahan , pucuk daun, kulit batang dan insect. Penelitian ini dilaksanakan bulan Oktober sampai Desember 2018.dengan metode survei. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragamaman tumbuhan sebagai sumber pakan dan aktivitas harian monyet ekor panjang di kawasan Wisata Cikakak Wangon.Pengamatan jenis tumbuhan digunakan metode jalur yaitu penjelajahan kawasan hutan kemudian dicatat jenis tumbuhan sebagai sumber pakan, bagian yang dimakan dan aktivitas harian monyet ekor panjang.Dari hasil penelitian diperoleh 45 jenis tumbuhan yang termasuk pohon,perdu, dan herba yang dapat dimanfaatkan monyet ekor panjang sebagai sumber pakan dan aktivitas harian monyet ekor panjangJenis tumbuhan yang dominan adalah Syzigium polyanthum dan Ficus sp. Ficus benjamina , Syzigium polyanthum, Barringtonia spicata dan Schima wallichii, jenis ini dijadikan sebagai tempat tidur dan berlindung karena mempunyai tajuk cukup tebal, cabang banyak dan tumbuhan ini sering digunakan sebagai sumber pakan.
Karakteristik Habitat Bertelur Penyu di Pantai Taman Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan, Jawa Timur Septiana, Nieko Octavi; Sugiyarto, S; Budiharjo, Agung
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2019: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.939 KB)

Abstract

Penyu memiliki perilaku unik yaitu bertelur di pantai yang sama dengan tempatnya menetas. Penyu sebagai hewan yang dilindungi terus mengalami penurunan populasi yang disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya yaitu degradasi habitat peneluran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi habitat Pantai Taman sebagai habitat bertelur penyu. Penelitian dilakukan selama bulan September-November 2016 dengan metode survei dengan mengukur parameter habitat Pantai Taman yang meliputi suhu pasir, suhu udara, kelembaban udara, lebar pantai, kemiringan pantai, jenis vegetasi, dan eksistensi predator. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif. Rata-rata suhu udara 28,06oC, rata-rata suhu pasir pada kedalaman 50 cm yaitu 29,95oC, rata-rata kelembaban udara yaitu 71,53%, rata-rata lebar pantai di yaitu 35,84 m, dan rata-rata kemiringan pantai yaitu 7,02o yang menunjukkan kategori pantai landai. Jenis vegetasi yang tumbuh di sepanjang pesisir pantai yaitu biduri (Calotropis gigantea), bintaro (Cerbera manghas), nyamplung (Calophyllum inophyllum), ketapang (Terminalia catappa), cemara laut (Casuarina equisetifolia), tapak kuda (Ipomoea pes-caprae), kelapa (Cocos nucifera), pandan laut (Pandanus tectorius), rumput angin (Spinifex littoreus), rumput grinting (Thuarea involuta), dan cikumpai cikarao (Lepturus repens). Sedangkan untuk keberadaan predator yang teridentifikasi selama pengamatan yaitu kepiting hantu (Ocypode cursor).
Variasi Kelembaban Vertikal Sampai Ketinggian 10 km di Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, dari Data Observasi (23/8/2019) Subiakto, Toni; Risdianto, Dian Yudha
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2020: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.405 KB)

Abstract

Observasi meteo vertikal pada tanggal : 23 Agustus 2019 di LAPAN Garut, di Desa Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat berada pada lokasi : -7⁰ 38’ 29’’ S / 107⁰ 43’ 60’’ E ketinggian 10 meter diatas permukaan laut (dpl) peralatan observasi terdiri dari bagian transmitter (radiosonde) dan bagian receiver (antenna, radio transceiver dan computer) yang dapat menghasilkan parameter data meteo seperti suhu, tekanan dan kelembaban mulai dari permukaan sampai ketinggian maksimum balon. Untuk analisa data ini mengambil data kelembaban mulai dari permukaan sampai ketinggian 10 Km. dengan membagi ketinggian menjadi beberapa lapisan setiap 1 Km. Nilai rerata kelembaban ((RHum) = (∑Hum/N)) yang menghasilkan rerata kelembaban sebagai berikut Lapisan A : 63,97 Lapisan B : 45,14 Lapisan C : 15,81 lapisan D : 23,38 Lapisan E : 27,27 Lapisan F : 34,85 Lapisan G : 27,05 Lapisan H : 11,27 Lapisan I : 7,1 Lapisan J : 18,8 dari ke 5 urutan teratas kondisi rerata lapisan sebagai berikut Lapisan A, Lapisan B, Lapisan F, Lapisan E dan Lapisan G.
Kelimpahan dan Kesamaan Jenis Aves Serta Status Konservasi di Taman Hutan Raya Raden Soerjo, Jawa Timur 2019 Fadilah, Risky Lailatul Ayu; Mawardha, Fahrun Sahara; Marviella, Sephia Tiara; Amin, Muhammad Himan Fu'adil
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2019: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.333 KB)

Abstract

Taman Hutan Raya Raden Soerjo merupakan salah satu kawasan konservasi yang menyimpan banyak sumber daya alam hayati berupa flora dan fauna, salah satunya adalah burung. Burung merupakan salah satu satwa yang dipergunakan sebagai penyeimbang ekosistem dan dapat dijadikan sebagai indikator kualitas hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan kesamaan serta status konservasi jenis burung di jalur jogging track dan jalur setapak menuju Gua Jepang Taman Hutan Raya Raden Soerjo, Jawa Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 4-7 Februari 2019 dengan menggunakan metode Indices Ponctuel d’Abondance (IPA). Kelimpahan jenis burung ditentukan dengan menghitung Indeks Kelimpahan menggunakan rumus Van Balen (1984) dan menentukan indeks kesamaan menggunakan Indeks Kesamaan Sorensen. Status konservasi jenis burung ditentukan berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dan mengacu pada International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Hasil penelitian ditemukan sebanyak 215 individu dari 33 spesies dengan sebanyak 110 individu dari 17 spesies pada jalur menuju Gua Jepang dan sebanyak 105 individu dari 16 spesies pada jalur jogging track. Nilai indeks kelimpahan tertinggi pada jalur menuju Gua Jepang dan jogging track ditemukan pada spesies Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) dengan nilai berturut-turut sebesar 29% dan 27% dengan kategori dominan. Status konservasi jenis burung pada jalur Gua Jepang dan jalur Jogging Track terdapat 2 spesies dilindungi dengan status rentan adalah Luntur Harimau (Harpactes oreskios) dan Ciung-mungkal jawa (Chocoa azurea), 1 spesies tidak dilindungi dengan status hampir terancam adalah Takur tulung-tumpuk (Psilopogon javensis), dan 30 spesies tidak dilindungi dengan status berisiko kurang. Dari kedua jalur didapatkan indeks kesamaan sebesar 55% yang termasuk dalam kategori sedang.
Mengkaji Cara Kerja Penakar Curah Hujan Digital pada Alat Automatic Weather Station (AWS) di Lapan Pasuruan Subiakto, Toni; Ninoi, Noer Abdillah Sahri Noto Soepeno
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2020: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.609 KB)

Abstract

Terdapat 2 bagian terpenting pada transduser (sensor) pengukur curah hujan sistem digital, yaitu bagian penampung volume air hujan (cawan berjungkit) dan bagian saklar pulsa (clock switch) jumlah curah hujan yang diukur dan diproses berawal dari bagian transduser. Beberapa unit blok pada alat penakar curah hujan digital menghasilkan nilai besaran untuk proses hasil curah hujan (CH) adapun beberapa blok terkait tersebut adalah : curah hujan (CH), kapasitas tampungan air (KTA) dan jumlah pulsa (∑ PLS). Untuk mengukur curah hujan dapat dihitung (CH) = (KTA) x (∑ PLS) secara mekanik kalibrasi alat tersebut dapat dilakukan dengan memutar pengatur kapasitas tampungan air sampai pada kapasitas tampung yang disesuaikan. Sistem penghitung clock/pulsa menggunakan up counter dari JK flip-flop yang memiliki 3 masukan yaitu : J, K, Clock dengan keluaran inverting Q (sebagai contoh menggunakan komponen IC 74LS73) hasil pengukuran alat penakar hujan digital AWS davis 6.0.3 di LAPAN Pasuruan dengan memasukkan air sebanyak : 100 ml dapat menghasilkan jumlah pulsa (PLS) : 18 sehingga kapasitas tampungan air KTA dapat dihitung sebanyak = 5,5 ml hasil kajian logika kerja pengukur curah hujan (CH) digital pada alat AWS Davis 6.0.3 di LAPAN Pasuruan didapatkan gerbang logika AND atau PERKALIAN.