cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsms@unisba.ac.id
Phone
+6282321980947
Journal Mail Official
bcsms@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series : Medical Science
ISSN : -     EISSN : 28282205     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsms.v2i2
Core Subject : Humanities, Health,
Bandung Conference Series: Medical Science (BCSMS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Kedokteran dengan ruang lingkup Age, ASI, BPJS Kesehatan, CGT, Dokter layanan primer, Fungsi diastolic, Gender, Hepatitis A dan B, Interval Anak Balita, ISPA, JKN, Nyeri leher, Origin, Paritas, Pasien, Denyut Nadi, Imunisasi, Perawat, Phlebitis, PHBS, pneumonia Abortus Spontan, Pola Menstruasi, rumah sakit Pendidikan, Sektor Informal Pengetahuan, Shift kerja malam, sindrom koroner akut, Status Gizi Mahasiswa kedokteran, status sosio ekonomi, Tekanan Darah, Tingkat Stres, Troponin T , Type of occupation, ventrikel kiri, dan Wanita Premenopause. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 494 Documents
Hubungan Antara Karakteristik Pasien dengan Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis (TB) Paru di UPTD Puskesmas Caringin Tahun 2020 – 2022 Ahmad Ihsan Nurgiansyah; Muflihah, Heni; Ekowati, Retno
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10475

Abstract

Abstract. This literature study gathered previous studies to show the relationship between patient characteristics and the successfull of pulmonary TB treatment. The results of this study show a relationship between adult age characteristics and the successfull of pulmonary TB treatment. Previous studies have revealed a mechanism between adult characteristics and successfull treatment of pulmonary TB. That is, the elderly are more often subjected to unsuccessfull treatment due to decreased immunity that cannot fight infections effectively and medical complications. There needs to be assistance in the elderly to increase the successfull of TB treatment. Abstrak. Studi literatur ini mengumpulkan berbagai studi sebelumnya untuk menunjukan mengenai hubungan antara karakteristik pasien dengan keberhasilan pengobatan TB paru. hasil studi ini menunjukkan adanya hubungan antara karakteristik usia dewasa dengan keberhasilan pengobatan TB paru. Penelitian-penelitian sebelumnya mengungkapkan mekanisme antara karakteristik usia dewasa dengan keberhasilan pengobatan TB paru. Artinya, usia lansia lebih sering mengalami pengobatan tidak berhasil karena kekebalan tubuh menurun yang tidak dapat melawan infeksi secara efektif dan komplikasi medis. Perlu adanya pendampingan pada usia lansia untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan TB.
Gambaran Burnout pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun Akademik 2022-2023 Levie Rachmah Zannati; Eka Nurhayati; Tryando Bhatara
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10481

Abstract

Abstract. Burnout is a long-term response to chronic emotional and interpersonal stress. Burnout had three dimensions including exhaustion, cynicism, and decreased academic performance. Several study in Indonesia shown that medical students experience burnout more than 50% which could cause decrease their performance index. Research about burnout is still rarely conducted to medical students in West Java. The purpose of this research is to determine the description of burnout in first to third year student Faculty of Medicine at Bandung Islamic University for the 2022/2023 academic year. The research was descriptive study with using simple random sampling for 113 respondents from each grade. The data shows that the highest number of burnout are female among all respondents and the highest prevalence of burnout is in the moderate burnout category at 89.2% for first year, 95% for second year, and 88.9% for third year students. This happens because daily life is complex, there is a lot of competition, more time study, frequent tensions in the lecture environment, and lack of free time and rest. Abstrak. Burnout merupakan respons jangka panjang terhadap stres emosional dan interpersonal yang kronis. Burnout memiliki tiga dimensi diantaranya exhaustion, sinisme, dan penurunan pencapaian prestasi akademik. Penelitian di Indonesia mencatat bahwa mahasiswa Fakultas Kedokteran mengalami burnout lebih dari 50% yang dapat menyebabkan penurunan indeks prestasi. Penelitian tentang Burnout masih jarang dilakukan pada mahasiswa kedokteran di Jawa Barat. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui gambaran burnout pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun akademik 2022/2023. Penelitian yang digunakan merupakan penelitian deskriptif. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan simple random sampling yaitu peneliti mengambil 113 responden secara acak dari masing-masing angkatan. Data yang diperoleh menunjukkan jumlah burnout terbanyak pada perempuan dari seluruh total responden dan prevalensi burnout tertinggi pada kategori burnout sedang sebanyak 89,2% untuk mahasiswa tingkat satu, 95% pada mahasiswa tingkat dua dan 88,9% pada mahasiswa tingkat tiga. Hal tersebut terjadi karena kehidupan sehari – hari yang komplek, banyaknya persaingan, waktu pembelajaran lebih banyak, sering mengalami ketegangan di lingkungan perkuliahan, serta kurangnya waktu luang dan istirahat.
Usia Ibu, Paritas, dan Interval Kehamilan Sebagai Risiko Terjadinya Persalinan Preterm pada Ibu Hamil dengan Preeklampsia di RSUD Al-Ihsan Bandung Tahun 2021 Aricka Pratiwi Koesdinar; Jusuf Effendi; Ajeng Kartika Sari
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10491

Abstract

Abstract. Preeclampsia is the most common cause of death in pregnant women with a mortality rate of 58.1% of the total 585,000 maternal deaths each year. Preeclampsia can occur due to several factors such as the pregnant woman's age, parity, obesity and diabetes. Pregnant women aged < 20 years or > 35 years, with increasing numbers of parities and pregnancy intervals < 6 months are at risk of experiencing preeclampsia. This study aims to analyze the relationship between maternal age, parity, and pregnancy interval with the occurrence of preterm labor in preeclampsia sufferers at Al-Ihsan Regional Hospital. This research is a cross sectional study conducted at Al-Ihsan Regional Hospital. The research sample came from secondary medical record data in the form of age characteristics, pregnancy interval, parity and delivery. Data were analyzed using univariate and bivariate tests and carried out the ChiSquare statistical test. Characteristics of pregnant women who experienced preterm, the majority were aged < 35 years (80%), pregnancy interval ≥ 2 years (63.9%), parity 2-≥5 (70%) and the majority experienced term delivery (79.2%) The results of the analysis of the relationship between maternal age, parity, and pregnancy interval with the occurrence of preterm labor in preeclampsia sufferers showed p values of 0,21, 0,61, 0,67 (> 0.05) which indicated that there was no significant relationship between maternal age, parity, and pregnancy interval with the occurrence of preterm labor in preeclampsia sufferers at Al-Ihsan Regional Hospital. Early diagnosis and appropriate treatment can prevent preterm labor in preeclampsia patients. Abstrak. Preeklampsia merupakan penyebab tersering kematian pada ibu hamil dengan angka kematian 58,1% dari total 585.000 kematian ibu setiap tahunnya. Preeklampsia dapat terjadi karna beberapa faktor seperti usia ibu hamil, paritas, obesitas, dan diabetes. Ibu hamil yang berusia < 20 tahun atau > 35 tahun, jumlah paritas yang semakin banyak dan interval kehamilan yang <6 bulan berisiko mengalami preeklampsi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara usia ibu, paritas, dan interval kehamilan dengan terjadinya persalinan preterm pada penderita preeklampsia di RSUD Al-Ihsan. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional yang dilakukan di RSUD Al-Ihsan. Sampel penelitian berasal dari data sekunder rekam medik berupa karakteristik usia, interval kehamilan, paritas, dan persalinan Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat serta dilakukan uji statistik ChiSquare. Karakteristik responden ibu hamil yang mengalami preterm mayoritas berusia < 35 tahun (80%), interval kehamilan ≥ 2 tahun (63,9%), jumlah paritas 2-≥5 (70%) dan mayoritas mengalami persalinan aterm (79,2%) Hasil analisis hubungan antara usia ibu, paritas, dan interval kehamilan dengan terjadinya persalinan preterm pada penderita preeklampsia didapatkan nilai p sebesar 0,21, 0,61, 0,67 (> 0.05) yang menunjukan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu, paritas, dan interval kehamilan dengan terjadinya persalinan preterm pada penderita preeklampsia di RSUD Al-Ihsan. Diagnosis dini dan tatalaksana yang tepat dapat mencegah terjadinya persalinan preterm pada pasien preeklampsia.
Hubungan Kecenderungan Adiksi Smartphone dengan Nyeri Pergelangan Tangan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba Tingkat 4 Tahun 2023/2024 Zaki Tashdiq Imani; Miranti Kania Dewi; Yani Triyani
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10506

Abstract

Abstract. Smartphones have become an integral part of our lives, influencing communication dynamics and impacting personal well-being, potentially leading to smartphone addiction. This compulsive and intense smartphone usage poses risks, including musculoskeletal disorders such as wrist pain. This study aims to explore the correlation between smartphone addiction and wrist pain among students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung. This study is conducted using a quantitative analytic observational method with a cross-sectional design. The research subjects were medical students who met the inclusion criteria with a total sample of 82 students. Data were collected using the Smartphone Addiction Scale Short Version (SAS-SV) to assess the tendency of smartphone addiction and QuickDASH to measure wrist pain. The results showed majority of the respondents had low smartphone addiction tendencies (56%) and did not experience wrist pain (44%). Notably, 29.3% of students with low smartphone addiction tendencies did not experience wrist pain, while 15.9% of those with high smartphone addiction tendencies reported moderate wrist pain. The study concludes that there is a relationship between the tendency of smartphone addiction and wrist pain in students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung (p < 0,05). Abstrak. Smartphone merupakan bagian yang integral dalam kehidupan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir, mengubah cara orang berkomunikasi dan cara orang tersebut menjalani hidupnya. Hal tersebut secara tidak langsung dapat menyebabkan risiko terjadinya ketergantungan/adiksi terhadap smartphone. Adiksi smartphone didefinisikan sebagai penggunaan smartphone dengan intensitas tinggi. Penggunaan smartphone dengan intensitas tinggi lebih lanjut dapat menyebabkan gangguan fungsional dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah gangguan musculoskeletal seperti nyeri pergelangan tangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecenderungan adiksi smartphone dengan nyeri pergelangan tangan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung. Dengan menggunakan metoda observasional analitik kuantitatif dan desain cross sectional, penelitian ini meneliti 82 mahasiswa yang memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner Smartphone Addiction Scale Short Version (SAS-SV) untuk menilai kecenderungan adiksi smartphone dan QuickDASH untuk mengukur skala nyeri pada pergelangan tangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki kecenderungan adiksi smartphone yang rendah (56%) dan tidak mengalami (44%). Sebagian besar mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung dengan kecenderungan adiksi smartphone yang rendah tidak mengalami nyeri pada pergelangan tangannya yaitu sebanyak 24 orang (29,3%) sedangkan sebagian besar mahasiswa dengan kecenderungan adiksi smartphone tinggi mengalami nyeri sedang pada pergelangan tangannya yaitu sebanyak 13 orang (15,9%). Kesimpulan penelitian ini adalah ditemukan adanya hubungan antara kecenderungan adiksi smartphone dengan nyeri pergelangan tangan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (p < 0,05).
Perbedaan Tanda dan Gejala antara Infeksi Dengue Primer dengan Sekunder Salsabila Adinda Rahman; Wida Purbaningsih; Listya Hanum Siswanti
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10515

Abstract

Abstract. Dengue fever infection is caused by the dengue virus flavivirus (DENV). The dengue fever virus can cause primary infection and secondary infection. Primary infection is the first infection by DENV, while secondary infection is the second infection by DENV which can be determined based on serological examination (IgM and IgG). A literature study was conducted to find out the differences in signs and symptoms between primary and secondary dengue fever infections. Researchers used analytical observational methods with a quantitative approach. The population of this study was 1262 dengue fever infection patients in the inpatient unit at Al-Islam Hospital Bandung City in 2022 and 104 data were taken using a simple random sampling technique. Research sampling used secondary data from medical record data. From the research that has been carried out, it was found that patients with secondary infections had more manifestations of bleeding and hepatomegaly than primary infections. The results show that primary dengue infection is milder than secondary infection. In most cases, primary infection shows symptomatic or mild dengue fever, while secondary infection with a different serotype increases the risk of severe dengue fever (Dengue Hemorrhagic Fever, Dengue Shock Syndrome). Abstrak. Infeksi dengue disebabkan oleh flavivirus dengue virus (DENV). Virus dengue bisa menyebabkan infeksi primer dan infeksi sekunder. Infeksi primer adalah infeksi pertama kali oleh DENV, sedangkan infeksi sekunder adalah infeksi kedua oleh DENV yang dapat ditentukan berdasarkan pemeriksaan serologis (IgM dan IgG). Studi literatur dilaksanakan untuk mencari tentang perbedaan tanda dan gejala antara infeksi dengue primer dengan sekunder. Peneliti menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah pasien infeksi dengue unit rawat inap di RS Al-Islam Kota Bandung tahun 2022 yang berjumlah 1262 dan diambil 104 data dengan teknik sampel acak sederhana. Pengambilan sampel penelitian menggunakan data sekunder dari data rekam medis. Dari studi yang telah dilakukan, didapatkan pada pasien infeksi sekunder dengan manifestasi pendarahan dan hepatomegali lebih banyak dibanding infeksi primer. Hasil menunjukkan bahwa infeksi dengue primer lebih ringan dibanding infeksi sekunder. Pada kebanyakan kasus, infeksi primer menunjukan simptomatik atau demam dengue ringan, sedangkan infeksi sekunder dengan serotipe yang berbeda meningkatkan risiko penyakit dengue berat (Demam Berdarah Dengue, Sindrom Syok Dengue).
Gambaran Tingkat Kecemasan pada Korban Pasca Bencana Tanah Longsor Berulang di Desa Sawangan Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah Febriana Faridatu Amalia; Siska Nia Irasanti; Ariko Rahmat Putra
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10520

Abstract

Abstract. Anxiety is a type of mental disorder that often occurs. Landslide disasters can be a stressor and have an influence on the level of anxiety in the victims. Banjarnegara Regency is one of the districts in Central Java that often experiences landslides. This research was conducted with the aim of determining the level of anxiety experienced by victims of repeated disasters in Sawangan Village. This research is a descriptive study with a cross sectional approach. The sampling technique was consecutive sampling and involved 115 research subjects who were victims of repeated landslides in RW 02 Sawangan Village. Data collection was carried out by asking questions and answers to research subjects and using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). The research results showed anxiety with the majority having a severe level of anxiety, 37 people (37%). Subjects experienced the most anxiety in late adulthood (36-45 years), were female, had low education, did not work, and had a low income, namely less than the same as RP. 2,500,000.00 and lived in Sawangan Village for more than 2 years. Victims of repeated landslides are vulnerable to experiencing anxiety due to repeated stressors. Abstrak. Kecemasan merupakan salah satu jenis gangguan mental yang sering terjadi. Bencana tanah longsor dapat menjadi stresor dan mempunyai pengaruh terhadap tingkat kecemasan pada korban bencana. Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang sering mengalami bencana longsor. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan yang dialami oleh korban bencana berulang di Desa Sawangan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel secara consecutive sampling dan melibatkan 115 subjek penelitian korban bencana longsor berulang di RW 02 Desa Sawangan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara tanya jawab kepada subjek penelitian dan menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Hasil penelitian menunjukkan kecemasan dengan mayoritas memiliki tingkat kecemasan berat yaitu 37 orang (37%). Subjek paling banyak mengalami kecemasan pada usia dewasa akhir (36-45 tahun), berjenis kelamin perempuan, berpendidikan rendah, tidak bekerja, dan berpenghasilan rendah yaitu kurang dari sama dengan Rp. 2.500.000,00 dan tinggal di Desa Sawangan selama lebih dari 2 tahun. Korban bencana tanah longsor yang berulang rentan mengalami kecemasan akibat stresor yang berulang.
Kejadian Transmisi Vertikal Covid-19 Berdasarkan Jenis Persalinan Shinta Mourinda Rachmani; Maya Tejasari; Winni Maharani Mauliani
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10526

Abstract

Abstract. The incidence of COVID-19 has been increasing since its emergence at the end of 2019 in the city of Wuhan, China, eventually developing into a pandemic. Pregnant women are a susceptible group to COVID-19. Pregnant women diagnosed with COVID-19 can transmit the virus to their unborn babies through vertical transmission, which can occur through three mechanisms: antepartum, intrapartum, and postpartum. This study aims to investigate the comparison of vertical transmission of COVID-19 between groups of mothers delivering spontaneously and through cesarean section at Al Ihsan Regional General Hospital in West Java Province. The observational study employs a population-based study design with medical record with a total of 122 pregnant women diagnosed with COVID-19 who gave birth at Al Ihsan Regional General Hospital in West Java Province. Data analysis is conducted using the Chi-Square test. The results indicate that there is no significant difference in vertical transmission of COVID-19 between the group of mothers delivering spontaneously and through cesarean section (p-value> 0.05). The low incidence of vertical transmission in six babies born spontaneously and seven babies born through cesarean section suggests that the placenta acts as a barrier effectively, and the low number of ACE receptors in reproductive organs causes vertical transmission not to occur always. Abstrak. Angka kejadian COVID-19 semakin meningkat sejak kemunculannya pada akhir 2019 di kota Wuhan, China, dan akhirnya berkembang menjadi pandemik. Ibu hamil merupakan kelompok yang rentan terhadap COVID-19. Ibu hamil yang didiagnosis COVID-19 dapat menularkan virus tersebut kepada bayi yang dikandungnya melalui transmisi vertikal, yang dapat terjadi melalui tiga mekanisme: antepartum, intrapartum, dan postpartum. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki perbandingan transmisi vertikal COVID-19 antara kelompok ibu yang melahirkan secara spontan dan melalui operasi caesarea di RSUD Al Ihsan Provinsi Jawa Barat tahun 2020-2021. Penelitian observasional ini menggunakan desain studi berbasis populasi data diambil dari rekam medis dengan total 122 ibu hamil yang didiagnosis COVID-19 yang melahirkan di RSUD Al Ihsan Provinsi Jawa Barat. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam transmisi vertikal COVID-19 antara kelompok ibu yang melahirkan secara spontan dan melalui operasi caesarea (p-value > 0,05). Rendahnya kejadian transmisi vertikal pada enam bayi yang lahir secara spontan dan tujuh bayi yang lahir melalui operasi caesarea menunjukkan bahwa plasenta berfungsi sebagai penghalang dengan efektif, dan jumlah reseptor ACE yang rendah pada organ reproduksi menyebabkan transmisi vertikal tidak selalu terjadi.
Studi Literatur: Hubungan Indeks Massa Tubuh dan Lingkar Pinggang terhadap Akne Vulgaris Adinda Nur Wulandari Dwi Putri; Mirasari Putri; Mia Yasmina
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10539

Abstract

Abstract. A literature study was carried out to find and compile appropriate data regarding the role of body mass index and waist circumference on acne vulgaris. The method applied was to combine previous research to determine the role of body mass index on acne vulgaris. From the studies that have been conducted, it was found that there is a role of body mass index in acne vulgaris. Another result obtained is the role of waist support in acne vulgaris. From this it can be concluded that body mass index and waist circumference contribute to the occurrence of acne vulgaris with the contribution of fat which can synthesize androgen hormones. Androgen hormones can influence acne formation by increasing follicular epidermal hyperproliferation. Abstrak. Studi literatur dilaksanakan untuk mencari dan menyatukan data yang sesuai tentang peranan indeks massa tubuh dan lingkar pinggang terhadap akne vulgaris. Metode yang diaplikasikan adalah dengan menggabungkan penelitian sebelumnya untuk mendapatkan peranan indeks massa tubuh terhadap akne vulgaris. Dari studi yang telah dilakukan, didapatkan adanya peran indeks massa tubuh terhadap akne vulgaris. Hasil lain yang didapaktan adalah adanya peran lingkar pinggang terhadap akne vulgaris. Dari hal tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa indeks massa tubuh dan lingkar pinggang mempunyai andil terhadap kejaidan akne vulgaris dengan kontribusi lemak yang dapat mensintesis hormon androgen. Hormon androgen dapat memengaruhi pembentukan akne dengan meningkatkan hiperproliferasi epidermis folikel.
Hubungan Antara Karakteristik Pasien dan Keberhasilan Pengobatan pada Pasien TB Paru dengan DM Tipe 2 di RSP Dr. H. A. Rotinsulu Tegar Aria Yuda; Heni Muflihah; Miranti Kania Dewi
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10545

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis (MTB). One factor that complicates treatment is the presence of comorbidities in pulmonary TB patients, including diabetes mellitus (DM). TB patients with diabetes mellitus comorbidities (TB-DM) are known to often experience treatment failure. This study aims to analyze the relationship between patient characteristics and treatment success in DM-TB patients. This study was a cross-sectional study. The study subjects were type 2 DM-TB patients at RSP Dr. H.A. Rotinsulu for the period 2022-2023. The data used is in the form of secondary data taken from the medical record of DM-TB patients at RSP Dr.H.A. Rotinsulu. The study sample was taken using purposive sampling totaling 130 people. Characteristics include age, gender, and ownership of the National Health Insurance (JKN). The final result of treatment after 6 months cured or complete is categorized as successful. The relationship of patient characteristics with treatment success was analyzed using the chi-square test. The results showed that most of the type 2 TB-DM patients at RSP Dr. H.A Rotinsulu were adults (19-60 years) as many as 84 people (71.8%), male as many as 72 people (61.5%), had JKN as many as 100 people (85.5%), and succeeded in treatment as many as 70 people (59.9%). There was a significant association between age and treatment success (p < 0.05), but no significant association between sex and JKN ownership and treatment success (p > 0.05). The conclusion of this study is that adulthood is associated with the success of DM-TB treatment. Productive age tends to have high motivation and healing spirit that can increase the success of treatment. Abstrak. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis (MTB). Salah satu faktor yang menyulitkan pengobatan adalah adanya penyakit penyerta pada pasien TB paru, diantaranya diabetes mellitus (DM). Pasien TB dengan penyakit penyerta diabetes mellitus (TB-DM) diketahui sering mengalami kegagalan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik pasien dengan keberhasilan pengobatan pada pasien TB-DM. Penelitian ini merupakan studi cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien TB-DM tipe 2 di RSP Dr. H.A. Rotinsulu periode 2022-2023. Data yang digunakan berupa data sekunder yang diambil dari rekam medik pasien TB-DM di RSP Dr.H.A. Rotinsulu.Sampel penelitian diambil menggunakan purposive sampling berjumlah 130 orang. Karakteristik meliputi usia, jenis kelamin, dan kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hasil akhir pengobatan setelah 6 bulan sembuh atau lengkap dikategorikan berhasil. Hubungan karakteristik pasien dengan keberhasilan pengobatan dianalisis menggunakan chi-square test. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasien TB-DM tipe 2 di RSP Dr. H.A Rotinsulu berusia dewasa (19 – 60 tahun) sebanyak 84 orang (71.8%), berjenis kelamin laki-laki sebanyak 72 orang (61.5%), memiliki JKN sebanyak 100 orang (85.5%), dan berhasil dalam pengobatan sebanyak 70 orang (59.9%). Terdapat hubungan bermakna antara usia dan keberhasilan pengobatan (p < 0,05), namun tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin dan kepemilikan JKN dengan keberhasilan pengobatan (p > 0,05). Simpulan penelitian ini adalah usia dewasa berhubungan dengan keberhasilan pengobatan TB-DM. Usia produktif cenderung memiliki motivasi dan semangat penyembuhan yang tinggi yang dapat meningkatkan keberhasilan pengobatan.
Analisis Vasektomi Sebagai Faktor Risiko Kejadian Kanker Prostat Audia Hajera Bachtiar; Ajeng Kartika Sari; Eka Nurhayati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10555

Abstract

Abstract. Vasectomy or vas ligation is a method of contraception in men by cutting and tying the right and left of vas deferens with the aim of preventing spermatozoa from coming out during ejaculation. Vasectomy cannot be separated from long-term health risks, one of which is that men who undergo vasectomies have a 15% higher risk of developing prostate cancer overall. Prostate cancer is a type of cancer that develops from gland cells that produce prostate fluid combined with semen. The aim of this study is to provide information to readers regarding the relationship between vasectomy as a risk factor for prostate cancer. This research uses a scoping review study to identify and report several articles through Pubmed, ScienceDirect, SpringerLink, Taylor and Francis. The PRISMA diagram method was used in this research and resulted in nineteen articles that met the inclusion and eligibilty criteria. Based on results of the analysis, there are ten articles that can conclude that vasectomy could increase the risk of prostate cancer and nine articles concluded that vasectomy could not increase the risk of prostate cancer. Abstrak. Vasektomi atau vas ligation merupakan salah satu metode kontrasepsi pada pria dengan prosedur pemotongan dan pengikatan pada vas deferens kanan dan kiri dengan tujuan untuk mencegah spermatozoa keluar saat ejakulasi. Vasektomi tidak lepas dari dampak risiko kesehatan yang panjang, salah satunya yaitu pria yang menjalani vasektomi memiliki risiko 15% lebih tinggi terkena kanker prostat secara keseluruhan. Kanker prostat merupakan jenis kanker yang berkembang dari sel kelenjar yang menghasilkan cairan prostat yang tergabung dengan semen. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai hubungan vasektomi sebagai faktor risiko kejadian kanker prostat. Penelitian ini menggunakan studi scoping review untuk mengidentifikasi dan melaporkan beberapa artikel melalui sumber PubMed, ScienceDirect, SpringerLink, dan Taylor and Francis. Metode diagram PRISMA digunakan dalam penelitian ini dan menghasilkan sembilan belas artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan kelayakan. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dari uraian artikel penelitian yang ditinjau, sepuluh artikel menyimpulkan bahwa vasektomi dapat meningkatkan risiko kejadian kanker prostat dan sembilan artikel menyimpulkan bahwa vasektomi tidak dapat meningkatkan risiko kejadian kanker prostat.