Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Manajemen Merit Sistem Di Indonesia (Studi Kasus Penerapan Merit Sistem Pada ASN Di Daerah 3T dan Maju) Muhammad Hasan Syaifur Rizal; Ernestus Holivil
Jurnal ADMINISTRATOR Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Pembangunan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.784 KB) | DOI: 10.55100/administrator.v5i2.72

Abstract

Permasalahan penerapan merit sistem di Indonesia yang hingga saat ini masih banyak diperdebatkan di kalangan akademisi dan pegawai negeri sipil. Dalam pembahasan ini akan diberikan dua studi kasus dalam penerapan merit sistem yaitu pada daerah tertinggal dan pada daerah maju. Untuk menganalisis permasalahan tersebut digunakan metode literature review dan pengambilan data pada daerah tertinggal dan daerah maju untuk membandingkan data tersebut. Hasil dari penelitian ini bahwa masih banyak daerah yang belum mampu mengikuti merit sistem jika diterapkan didaerahnya, karena masih kentalnya budaya dan adat didaerah tersebut. Dengan begitu masih banyak PR bagi pemerintah untuk dapat masuk dan bersosialisasi dengan baik kepada masyarakat 3T, atau dengan membuat aturan merit sistem dengan lebih elastis yang mampu diterima oleh masyarakat pedalaman dan tertinggal. Dengan begitu maka akan lebih baik penerapan merit sistem yang dibuat pemerintah untuk masa depan negara ini agar lebih baik dan mengalami perubahan.
Politics and Technology Jehalut, Ferdinandus; Holivil, Ernestus
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi Vol 15 No 2 (2024): LUMEN VERITATIS: Jurnal Filsafat dan Teologi| OKTOBER 2024
Publisher : Program Studi Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/lumenveritatis.v15i2.3615

Abstract

This study aims to explain the relationship between politics and technology by specifically discussing how the Internet supports and hinders democracy. This conceptual elaboration was prompted by recent controversies about the democratic power of the Internet. The controversy is framed in three perspectives, namely the perspective of utopia, dystopia, and syntopia. By using a qualitative approach and constructivist paradigm as well as literature studies, this paper argues that the three perspectives are reductionist and simplistic. Based on their technological determinism approach, they ignore subject agency and socio-cultural context in framing the relationship between the Internet and democracy. This paper offers holistic reading that the success and failure of technology adoption in democratic practice is a product of the organic interaction between technology and subject agency as well as social, political, and cultural contexts.
Strengthening Rural Economies: Governance of Village-Owned Enterprises (BUMDes) for Agricultural Sustainability in Sikka Regency, Indonesia Andayana, Made Ngurah Demi; Holivil, Ernestus; Rene, Mariayani Oktafiana; Kholikin, Rafi Akhsanul; Konslaus, Karolus
Jurnal ADMINISTRATOR Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Pembangunan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55100/administrator.v6i2.86

Abstract

This study evaluates the governance practices of Village-Owned Enterprises (BUMDes) in Riit Village, Sikka Regency, focusing on their impact on agricultural productivity and rural development. Adopting a qualitative case study approach, the research highlights how participatory and cooperative governance principles foster community engagement and improve access to agricultural inputs, training, and markets. The findings reveal significant improvements in crop yields and community welfare, especially for cacao and kemiri. However, challenges such as transportation barriers, crop diseases, and limited technological integration hinder the full realization of governance benefits. Bridging these gaps requires capacity-building, infrastructure improvements, and partnerships with external organizations. Drawing from global governance models, this study provides actionable recommendations for enhancing the sustainability and impact of BUMDes operations. These findings contribute to the discourse on rural governance and its role in achieving the Sustainable Development Goals.
Defending the Shore, Voicing the Right: Communication Strategies of the Save Pede Beach Movement: Frederik Masri Gasa; Chininta Rizka Angelia; Ernestus Holivil; Everd S. R. Daniel
Mediakita Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Mediakita : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : Fakultas Usluhuddin dan Dakwah UIN Syekh Wasil Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/mediakita.v9i2.2938

Abstract

This study aims to examine the social movement of the Labuan Bajo community, which is part of the Save Pantai Pede Movement, as a form of resistance to the privatization of public space by the provincial government and private investors. The primary issue in this study is the power imbalance in the management of public space, which contributes to the marginalization of local communities. This study employs a critical approach, utilizing Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis and Pierre Bourdieu's theories of habitus, capital, and social field as analytical tools. Data were obtained through documentation studies, observations, and in-depth interviews, which were analyzed at three levels: textual, discourse practice, and sociocultural practice. The study's results show that the community, particularly young people and local artists, produces a discourse of resistance through art and public symbols that affirm public space as a shared right. This movement has succeeded in transforming the commercialization project into a broader public debate on spatial justice and community political participation. These findings confirm that community-based social movement can be an effective tool for political negotiation in addressing structural and capitalist domination of public space.  
Postmodernism and the Crisis of Trust in Government: An Analysis of Michel Foucault's Thought Holivil, Ernestus; Wulakada, Hamza H.; Gasa, Frederik Masri; Long, Belandina Liliana
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 35, No 2 (2025): (Article in Press)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.105203

Abstract

This study aims to analyze the causes of the crisis of trust in government from a postmodernist perspective, referring to Michel Foucault's concepts of governmentality and biopolitics. The central research question explores how power, as expressed through public policy discourse, can impact government legitimacy, particularly during global crises. A qualitative approach is used, employing critical philosophical analysis of Foucault's texts, with case studies on pandemic policies and the use of surveillance technology. The findings reveal that the decline in public trust is not only due to administrative failures but also due to the way governments manage policy discourse in ways that are opaque and manipulative. Based on these findings, the study suggests that governments should adopt more transparent and participatory policy approaches, increasing public involvement in decision-making processes to strengthen the legitimacy of the government, which has been undermined. 
IMPLEMENTASI PERATURAN PKPU RI NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN DAN PELAYANAN INFORMASI PUBLIK DI LINGKUNGAN KPU KABUPATEN CIAMIS Kholikin, Rafi Akhsanul; Holivil, Ernestus
Jurnal Administrasi Publik dan Kebijaka (JAPK) Vol 4, No 2 (2024): Jurnal Administrasi Publik dan Kebijakan (JAPK)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/japk.v4i2.21664

Abstract

Artikel ini bertujuan mengetahui implementasiPKPU Nomor 1 Tahun 2015 di lingkungan KPU Kabupaten Ciamis. Penelitian yang ditinjau melalui teori dari Merille S. Grindle (1980) yang meliputi dua faktor yaitu, substansi kebijakan dan konteks implementasi memiliki resultan bahwa proses Implementasi PKPU Nomor 1 Tahun 2015 TentangPengelolaan dan Pelayanaan InformasiPublik di Lingkungan KPU Kabupaten Ciamis secara umum telah terlaksana dengan baik, namun masih terdapat beberapa kendala yang menghambat proses implementasi seperti ego sektoral masing-masing divisi, terbatasnya sumberdaya manusia, minimnya infrastruktur penunjang. Selain itu, terdapat beberapa parameter dalam teori Merille S. Grindle(Grindle, 2017), yaitu kepentingan kelompok sasaran, jenis manfaat, tingkat perubahan yang diharapkan, lokasi pengambilan keputusan, pelaksanaan program, sumberdayayang terlibat, kekuasaan kepentingan dan strategi aktor yang terlibat, karakteristiklembaga dan penguasa, serta kepatuhan dan daya tangkap. Dengan metode kualitatif deskriptif, Hasil yang didapat bahwa KPU Kabupaten Ciamis berusaha mewujudkan terjaminnya akses informasipublik di lingkungan KPU, meningkatnya partisipasi dan peran aktif masyarakat dalam Pemilu. Bentuk pelayanan informasi dapat secara langsung datang ke desk pelayanan PPID KPU Kabupaten Ciamis maupun secara tidak langsung melalui surat elektronik dan website KPU Kabupaten Ciamis.
PEMBERDAYAAN LEMBAGA ADAT DESA MELALUI PENYULUHAN DAN RENCANA AKSI KOMUNITAS DI MALAKA BARAT Ajis Salim Adang Djaha; Syukur Muhaymin Adang Djaha; Ernestus Holivil
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 4 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i4.33152

Abstract

Abstrak: Lembaga adat di wilayah perbatasan menghadapi tantangan serius akibat modernisasi, lemahnya pengakuan formal, dan minimnya kaderisasi. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam penguatan lembaga adat di Desa Lasaen, Kecamatan Malaka Barat, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan dilaksanakan melalui metode penyuluhan, diskusi kelompok, dan penyusunan rencana aksi berbasis komunitas, dengan melibatkan 30 peserta yang terdiri dari tokoh adat, perangkat desa, pemuda, dan masyarakat umum. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, serta survei kepuasan peserta. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman: pemahaman eksistensi masyarakat hukum adat naik dari 60% menjadi 83%, kesadaran terhadap ancaman meningkat dari 70% ke 87%, partisipasi aktif naik dari 71% menjadi 93%, dan kemampuan menyusun rencana aksi meningkat dari 72% ke 94%. Survei kepuasan juga menunjukkan bahwa 100% peserta puas terhadap pelatihan, terutama dari aspek metode pengajaran dan relevansi materi.Abstract: Customary institutions in border areas face serious challenges due to modernization, weak formal recognition, and lack of regeneration. This community service aimed to enhance public understanding and participation in strengthening customary institutions in Lasaen Village, Malaka Barat District, East Nusa Tenggara. Activities included counseling, group discussions, and community-based action planning, involving 30 participants comprising traditional leaders, village officials, youth, and local residents. Evaluation was conducted using pre- and post-tests as well as participant satisfaction surveys. Results indicated significant improvement: understanding of customary law communities increased from 60% to 83%, awareness of threats rose from 70% to 87%, active participation improved from 71% to 93%, and action plan formulation skills increased from 72% to 94%. Satisfaction surveys revealed that 100% of participants were satisfied with the training, particularly regarding teaching methods and content relevance.
PELATIHAN LITERASI DIGITAL DAN APLIKASI AUGMENTED REALITY UNTUK PEMBELAJARAN KREATIF Ernestus Holivil; Betharia Pane; Nur Hijriah Zubaedah Narang; Risal Mantofani Arpin; Rafi Akhsanul Kholikin; Abdi Kurniawan Radja; Muhammad Alwan Habibi Mushlih
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 2 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i2.29712

Abstract

Abstrak: Di era digital, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan menjadi penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu teknologi yang berpotensi besar dalam mendukung pembelajaran interaktif adalah Augmented Reality (AR). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi digital dan pemanfaatan teknologi Augmented Reality (AR) dalam pembelajaran di SMA Tiga Putra. Masalah utama yang dihadapi adalah keterbatasan integrasi teknologi dalam pembelajaran akibat kurangnya pemahaman siswa dan guru tentang literasi digital serta pemanfaatan AR sebagai media interaktif. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, pelatihan, dan workshop berbasis praktik langsung dengan pendekatan pendampingan. Kegiatan ini melibatkan 50 peserta, terdiri dari 25 siswa dan 25 guru. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test serta kuisioner kepuasan peserta. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman literasi digital sebesar 42%, peningkatan keterampilan penggunaan AR sebesar 56%, serta peningkatan motivasi belajar siswa sebesar 48%. Sebanyak 97,6% peserta menyatakan bahwa AR memiliki manfaat signifikan dalam pembelajaran. Hasil ini mengindikasikan perlunya pelatihan lanjutan dan dukungan infrastruktur agar implementasi AR dapat lebih optimal dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran.Abtract: This activity aims to improve digital literacy and the use of Augmented Reality (AR) technology in learning at SMA Tiga Putra. The main problem faced is the limited integration of technology in learning due to the lack of understanding of students and teachers about digital literacy and the use of AR as an interactive media. The methods used include socialization, training, and workshops based on direct practice with a mentoring approach. This activity involved 50 participants, consisting of 25 students and 25 teachers. Evaluation was carried out through pre-tests and post-tests as well as participant satisfaction questionnaires. The results showed an increase in understanding of digital literacy by 42%, an increase in AR usage skills by 56%, and an increase in student learning motivation by 48%. As many as 97.6% of participants stated that AR has significant benefits in learning. These results indicate the need for further training and infrastructure support so that AR implementation can be more optimal in increasing learning effectiveness.
Implementasi Kebijakan Kuota 30% Perempuan Dalam Pemilu 2024 (Studi Kasus Di Kabupaten Sumba Barat Daya) Maria Skolastika Karina Bata; David B. W. Pandie; Alfred o. Ena Mau; Ernestus Holivil
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7681

Abstract

Penelitian ini membahas Implementasi Kebijakan Kuota 30% Perempuan dalam Pemilihan Umum 2024 dengan studi kasus di Kabupaten Sumba Barat Daya. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan juga data sekunder, yang kemudian dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi dengan menggunakan teori implementasi kebijakan Merilee S. Grindle yang dimana teori ini menekankan dua aspek penting yaitu isi kebijakan (content of policy) dan konteks implementasi (context of implementation). Kebijakan afirmatif ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 yang menekankan keterwakilan perempuan dalam politik, baik dalam pencalonan legislatif maupun keanggotaan lembaga penyelenggara pemilu. Namun, meskipun regulasi telah tegas, tingkat keterwakilan perempuan di Kabupaten Sumba Barat Daya masih jauh dari target. Data hasil pemilu menunjukkan bahwa sejak 2009 hingga 2024, keterwakilan perempuan di DPRD Kabupaten Sumba Barat Daya tidak pernah mencapai 15%, bahkan hanya berkisar 7–12%, sehingga belum memenuhi kuota ideal 30%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan kuota 30% perempuan belum berjalan optimal akibat berbagai faktor, seperti budaya patriarki. Budaya patriarki masih menjadi salah satu faktor utama yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap perempuan dalam dunia politik, termasuk legislatif. Dalam masyarakat yang berpegang kuat pada nilai-nilai patriarkis, perempuan kerap dianggap kurang layak menempati posisi pengambil keputusan karena stereotip yang melekat, seperti dianggap emosional, tidak tegas, atau lebih pantas mengurus rumah tangga. Pandangan ini membuat perempuan sulit memperoleh kepercayaan politik, baik dari masyarakat pemilih maupun dari partai politik yang masih dominan dipimpin laki-laki, serta terbatasnya sumber daya pendukung di tingkat penyelenggara pemilu. Selain itu, strategi aktor, kepentingan politik, dan karakteristik lembaga penyelenggara turut mempengaruhi efektivitas implementasi kebijakan ini. Dampak implementasi yang belum optimal mengakibatkan perempuan masih memiliki suara politik yang lemah dan belum mampu mencapai critical mass dalam lembaga legislatif daerah.
Penerapan Strategi Manajemen Konflik dalam Sengketa Pasca Pemilu: Studi Kasus Desa Lamaksenulu, Indonesia Made Ngurah Demi Andayana; Ernestus Holivil; Adriana Rodina Fallo
Jurnal Bina Praja Vol 16 No 3 (2024)
Publisher : Research and Development Agency Ministry of Home Affairs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21787/jbp.16.2024.599-613

Abstract

Post-election conflicts in Lamaksenulu Village, Indonesia, reflect public dissatisfaction with election results and underlying socio-political tensions. This study examines conflict management strategies in the context of Thomas and Kilmann’s conflict management theory within a rural Indonesian setting. Adopting a descriptive qualitative approach, the study examines how collaboration, compromise, and accommodation—mediated by traditional leadership and hybrid governance—were used to address disputes. Although reconciliation was pursued through deliberation and dialogue, structural dissatisfaction remains, posing risks of recurring tensions. This research contributes to the literature by localizing a widely used Western conflict management model, offering a culturally grounded perspective on post-election conflict resolution. It demonstrates how combining formal institutions with indigenous practices enhances understanding of conflict dynamics in rural democracies. Key recommendations include improving electoral transparency, strengthening traditional leadership in dispute mediation, and developing inclusive reconciliation programs to foster lasting socio-political stability.