cover
Contact Name
Putu Laras Purnamasari
Contact Email
larassukanadi@gmail.com
Phone
+628990133366
Journal Mail Official
batarirupa.fkip.upmi@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Jalan Seroja, Tonja, Denpasar, Bali Email: jurnal.batarirupa@gmail.com
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Batarirupa : Jurnal Pendidikan Seni
ISSN : -     EISSN : 29639522     DOI : -
Core Subject : Education, Art,
Dinamika ilmu pendidikan seni amatlah pesat, diperlukan sebuah wadah atau sarana untuk menghimpun dan menyosialisasikan perkembangan ilmu pendidikan seni tari, drama dan musik, serta seni rupa. Wadah atau sarana ilmiah ini juga bertujuan membangun dan menjaga atmosfer akademik baik di dalam maupun di luar fakultas sehingga dapat mengedukasi masyarakat ilmiah. Berdasarkan kesadaran dan komitmen secara kolektif civitas akademika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan mewujudkan idealisme ilmiah melalui Jurnal Batarirupa : Jurnal Pendidikan Seni yang terbit dua kali setahun, yakni periode bulan April dan Oktober. Dengan demikian diharapakan para peneliti baik yang masih pemula maupun berpengalaman memiliki banyak alternatif untuk mempublikasikan artikel hasil penelitian maupun pemikiran konseptual sehingga gairahnya semakin tinggi untuk menghasilkan sebuah karya penelitian. Jurnal Batarirupa : Jurnal Pendidikan Seni yang terbit dua kali dalam setahun (April dan Oktober). Jurnal berisi tentang gagasan konseptual, hasil penelitian, kajian dan aplikasi teori pendidikan seni tari, drama dan musik, serta seni rupa.
Articles 67 Documents
ESTETIKA TATA RIAS DAN TATA BUSANA TARI BARIS KEKUPU DI BANJAR LEBAH, DESA SUMERTA KAJA, DENPASAR Kadek Ayu Juni Aryani; Ni Made Arshiniwati; Ni Luh Sustiawati
Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 2 No. 2 (2022): Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.7672810

Abstract

Tari memiliki beberapa unsur-unsur yang tiap-tiap unsur tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Salah satunya tata rias dan tata busana, dimana penggunaan tata rias dan tata busana mampu memberi ciri khas dari segi estetikanya. Penelitian ini akan menggunakan teori estetika Thomas Aquinas mengenai tiga (3) persyaratan yakni keutuhan atau kesempurnaan, perimbangan atau keserasian dan kecemerlangan atau kejelasan. Penggunaan busana baris dan gelung legong sebagai hiasan kepala serta penggunaan kampid kupu-kupu, mampu memunculkan identitas dari Tari Baris Kekupu. Lokasi penelitian berada di Banjar Lebah, Desa Sumerta Kaja, Denpasar. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dengan mengggunakan dua teknik yakni observasi (pengamatan) dan wawancara. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang estetika yang mampu menunjang kesenian Tari Baris Kekupu. Unsur tata rias dan tata busana ini mampu memberikan identitas tokoh / peranan yang dibawakan di atas panggung, serta memperkuat karakter tarian. Pada estetika tata rias, pemilihan warna sangat diperlukan guna mendukung ketegasan garis wajah para penarinya. Sehingga estetika tata busana Tari Baris Kekupu sudah memiliki ciri khas yang menonjol, dimana pada tata busana tarian ini memiliki keunikan yang memasukkan dua unsur tarian yaitu, pemakaian elemen-elemen busana Tari Baris Kekupu dan penggunaan gelungan Tari Legong pada tarian ini serta pemakaian sayap kupu-kupu yang menjadi identitas Tari Baris Kekupu. Sehingga kedua unsur tersebut mampu menjadi daya tarik para penonton sebagai suatu seni pertunjukan.
PENERAPAN METODE BLENDED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENGUASAI MATERI GERAK DASAR TARI DAERAH BALI PADA SISWA KELAS VIII A SMP TUNAS HARAPAN JAYA TAHUN PELAJARAN 2021/2022 Ni Kadek Mega Agustina Putri; Pande Wayan Bawa; Luh Putu Pancawati
Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 2 No. 2 (2022): Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.7736257

Abstract

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mencapai peningkatan kemampuan belajar materi gerak dasar tari daerah bali, serta respon atas penggunaan metode pembelajaran Blended Learning dalam mata pelajaran Seni Budaya kelas VIII A SMP Tunas Harapan Jaya Tahun Pelajaran 2021/2022. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam data siklus, dengan mengunakan metode tes dan observasi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII A SMP Tunas Harapan Jaya tahun pelajaran 2021/2022 yang berjumlah 24 orang siswa. Hasil penelitian menunjukkan sebelum menerapkan metode pembelajaran blended learning nilai rata-rata 60,3. Setelah menerapkan metode pembelajaran blended learning rata-rata mencapai 68,7 dengan ketuntasan klasikal 20,8% dan observasi respon siswa dengan hasil rata-rata 69,7 dengan ketuntasan klasikal 25% pada siklus I. Selanjutnya dilaksanakan siklus II menunjukkan rata-rata 80,6 dengan ketuntasan klasikal 83% yang menunjukkan adanya kenaikan yang signifikan dari siklus I. Hasil observasi respon siswa siklus II menunjukkan rata-rata 81,5 dengan ketuntasan klasikal 87,5% menunjukkan peningkatan yang signifikan dari siklus I. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penerapan metode pembelajaran blended learning dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai materi gerak dasar tari daerah Bali siswa kelas VIII A SMP Tunas Harapan Jaya tahun pelajaran 2021/2022.
KAJIAN KESEIMBANGAN MOTIF PUKULAN KENONG DAN KEMPUL DALAM GAMELAN KEKELENTINGAN DI PURA KAHYANGAN JAGAT LUHUR NATAR SARI DESA APUAN BATURITI TABANAN Kadek Agung Sari Wiguna; I Gede Arsa Winangun
Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 3 No. 1 (2023): Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/batarirupa.v3i1.2277

Abstract

Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan dan motif adalah seperti wujud yaitu kesatuan terkecil dalam betuk musik yang terdiri dari tiga nada atau lebih, motif yang mengandung ritme yang jelas biasa disebut “motif ritmis” dan motif yang mengandung loncatan melodi yang nyata disebut “motif melodi”. Kenong adalah instrumen berpencon Kempul merupakan instrumen berpecon atau bermoncol tergolong Gong tanpa hiasan. Motif pukulan kenong dan kempul pada gamelan kekelentingan memiliki keseimbangan. Dimana keseimbangan ini teletak pada unsur musik yang berada pada motif tersebut. Musik memiliki delapan unsur diantaranya Melodi, motif pukulan kenong dan kempul ini menghasilkan sebuah melodi, karena motif ini memiliki tinggi rendahnya bunyi atau suara ketika dipukul dan menghasilkan panjang pendeknya sebuah nada. Irama, cara untuk merasakan sebuat ritme pada pukulan kenong dan kempul adalah dengan mendengarkan motif pukulan kenong kempul tersebut secara berulang-ulang dan secara tidak langsung badan dan kepala tanpa disengaja ikut bergerak. Birama yang digunakan dalam motif pukulan ini adalah empat per empat (4/4). Tangga nada yang digunakan dalam motif pukulan instrumen kenong dan kempul adalah tangga nada pentatonik yang berlaraskan pelog panca nada (lima nada). Harmoni motif pukulan kenong dan kempul terdapat pada dua buah nada yang dipukul bersamaan (ngepat), kempul (Nding) dan kenong (Ndung). Tempo, motif menggunakan tempo cepat, karena ciri khas dari motif pukulan kenong dan kempul adalah kecepatan. Dinamika, segi visual instrumen kenong lebih kecil dari instrumen kempul, sebaliknya volume suara yang dihasilkan oleh instrumen kenong lebih nyaring dari instrumen kempul. Timbre pada motif pukualan kenong dan kempul terletak pada hasil getaran dan suara dari kedua instrumen tersebut. Dari delapan unsur musik ini secara tidak langsung menjadikan motif pukulan kenong dan kempul pada gamelan kekelentingan bisa dikatakan mempunyai keseimbangan. Balance is the ability to maintain and motifs are like form, namely the smallest unit in a musical form consisting of three or more notes, motifs containing a clear rhythm are commonly called "rhythmic motifs" and motifs containing real melodic jumps are called "melodic motifs". Kenong is an instrument with a cone. Kempul is an instrument with a peck or a snout, which is classified as an unadorned gong. The motif of kenong and kempul strokes in the kelentingan gamelan has a balance. Where this balance lies in the musical element that is in the motif. Music has eight elements including Melody, the kenong and kempul motifs produce a melody, because this motif has a high and low sound or sound when struck and produces a short length of a note. Rhythm, the way to feel a rhythm in the kenong and kempul punches is to listen to the motif of the kenong kempul beat repeatedly and indirectly the body and head move unintentionally. The bar used in this stroke motif is four quarters (4/4). The scales used in the kenong and kempul instrument stroke motifs are pentatonic scales that are aligned with the five-tone pelog. The harmony of the kenong and kempul motifs is found in two tones that are struck together (ngepat), kempul (Nding) and kenong (Ndung). Tempo, the motif uses a fast tempo, because the hallmark of the kenong and kempul motifs is speed. In dynamics, the visual aspect of the kenong instrument is smaller than that of the kempul instrument, on the other hand the volume of sound produced by the kenong instrument is louder than the kempul instrument. The timbre of the pukualan kenong and kempul motifs lies in the vibrations and sounds of the two instruments. Of the eight elements of this music indirectly make the motifs of kenong and kempul strokes in the kekelentingan gamelan can be said to have balance.
REPRESENTASI MOTIF PENDUKUNG LUKISAN KAMASAN KERTHA GOSA PADA BATIK DALAM BUSANA MODIFIKASI BALI DENGAN TEKNIK ZERO WASTE Ni Made Gadis Putri Maharani
Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 3 No. 1 (2023): Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/batarirupa.v3i1.2655

Abstract

Kertha Gosa is a courthouse inherited from the Semarapura Palace. There are three relics of the Semarapura Palace, namely, Bale Kertha Gosa, Bale Kambang, the Semarapura Museum building with a European architectural style which was previously a former Dutch school. Interestingly, in every Kertha Gosa building, there are various kinds of Kamasan paintings which are often associated with Balinese historical stories. This painting has a very prominent characteristic and each painting has a deep meaning or philosophy. The Kamasan painting found in the Kertha Gosa building is a source of ideas for batik motifs as a material for making casual clothes combined with Balinese modifications. Creation methods include methods of data collection, data analysis, work design, and work embodiment. The application of the creation method is used to strengthen the concept from observation to the realization of the work. The making of this work also uses a technique, namely Zero Waste. In the world of fashion, the Zero Waste technique is a movement to reduce or make clothing without producing textile waste in it. The entire work has a different title from the simple depiction of the Kamasan painting found in the Kertha Gosa building which has unique characteristics and meaning. This work was made with the aim that the Indonesian people know, do not easily forget and love history - history or culture that they have.
GRAFFITI SEBAGAI MEDIA EKSPRESI SENI ANAK MUDA Risa Azahro Wanis; Yulia Herlining Tiyas; Dimas Saputra Aulia
Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 3 No. 1 (2023): Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/batarirupa.v3i1.2827

Abstract

Gerakan seni jalanan atau street art sudah dikenal di Indonesia sejak penjajahan Belanda. Pada saat itu street art dijadikan sebagai alat propaganda untuk membangkitkan semangat berjuang rakyat Indonesia. Kemudian berkembang hingga sekarang di kalangan anak muda. Graffiti ini dianggap sebagai bentuk penyampaian ekspresi seni atau untuk menunjukkan eksistensi mereka dan komunitasnya. Selain itu graffiti termasuk seni yang tidak umum karena media yang digunakan adalah tembok. Sedangkan biasanya media untuk menggambar dan melukis yaitu kertas atau kanvas. Maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti apa motivasi mereka lebih memilih tembok sebagai media penyampaian ekspresi seni mereka dibandingkan dengan media konvensional liannya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa motivasi mereka dalam membuat graffiti selain sebagai media ekspresi seni yaitu sebagai bentuk eksistensi mereka. Graffiti menjadi jembatan dalam proses pembentukan identitas, dengan graffiti mereka ingin dikenal oleh masyarakat. Mereka juga berusaha untuk mengubah stigma masyarakat tentang graffiti yang dianggap kegiatan illegal, merusak, dan tidak berguna.
THE UNIQUENESS OF TELEK DANCE IN JUMPAI VILLAGE Ni Luh Putu Mirah Pratiwi; Putu Agus Permanamiarta
Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 3 No. 1 (2023): Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/batarirupa.v3i1.2933

Abstract

Telek dance inJumpai village is a guardian or sacred dance. The dance is still maintained from generation to generation, preserved and maintained. this dance is a heritage dance that must be performed by the residents of the village because local residents believe that the dance is a form of repellent to reinforcements in order to be given safety and keep Jumpai village  away from the plague, the dance is performed once every 15 days which coincides with rahinan kajeng kliwon. The Telek dance in Jumpai village is estimated to have developed around 1935 until now. the Telek dance in there was performed by 4 male and female dancers who were still classified as children (approximately 6-12 years old). The purpose of this research is to show the value of function and meaning in Telek dance in Jumpai village. The values in Telek dance include; religious values, cultural values, knowledge values, and skills values. This dance is danced with a duration of 14 minutes.
KAJIAN ESTETIKA OBJEK FLORA PADA KERAJINAN BATIK DI DESA KEDEWATAN UBUD Kadek Ditha Purnamasari; Ni Putu Laras Purnamasari; I Putu Karsana
Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 3 No. 1 (2023): Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/batarirupa.v3i1.2948

Abstract

Batik merupakan salah satu keanekaragaman budaya Indonesia beberapa refrensi menunjukan bahwa kesenian membatik berasal dari kebudayaan masyarakat Jawa. Kegiatan membatik berkembang dilingkungan keraton (kerajaan) Dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang di kerajaan-kerajaan berikutnya. Perkembangan Seni batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa setelah akhir abad ke 18. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan edukasi kembali pada masyarakat baik untuk generasi muda, masyarakat dan pemerintah terkait bahwa ada keberadaan batik di Bali, khususnya di Desa Kedewataan Ubud. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data utama yang digunakan adalah Sumber data utama didapatkan dari karya-karya Batik Flora di Desa Kedewatan Ubud. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh yaitu dari sejarah perkembangan batik di Desa Kedewatan Ubud yang pertama kali di buat adalah Batik Painting. Batik ini dibuat oleh seorang pelukis bernama Bapak Ketut Mudita. seorang pedagang kecil-kecilan yang mencoba melukis di sebuah kain bermotif seperti motif Jawa. Kalau dilihat dari segi garis, batik Mawar cenderung spontan dominan menggunakan satu garis. Estetika Batik yang berada di Mawar Art shop terdiri dari warna, bentuk, tehnik, dan garis. Teknik yang digunakan adalah Teknik Batik tulis. Garis yang digunakan cenderung spontan dan jenis garis yang digunakan hanya satu ukuran garis. Hal ini di sebabkan karena para pengrajin di Bali tidak banyak mendapatkan pendidikan seni Batik dan alat yang digunakan juga terbatas hanya menggunakan satu canting saja dan pengrajin Batik yang berada di Bali tidak menyukai hal yang rumit. Mereka hanya menggunakan satu garis dan bentuk yang bersar-besar. 
PROSES KREATIF PENGOLAHAN LIMBAH PLASTIK JENIS LOW DENSITY POLYETHYLENE OLEH I MADE ARDE WIYASA I Nyoman Sastrawan; Agus Mediana Adiputra; I Nyoman Putrayasa
Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 3 No. 1 (2023): Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/batarirupa.v3i1.2952

Abstract

Kantong plastik merupakan barang yang tak pernah lepas bagi kehidupan manusia. Kemudahan, kepraktisan dan harganya yang murah membuat kantong plastik selalu digunakan. Penggunaan kantong plastik yang begitu pesat tidak dibarengi dengan pengelolaannya, akibatnya kantong plastik banyak mencemari lingkungan. Melihat hal tersebut salah seorang seniman yang bernama I Made Arde Wiyasa berinisiatif untuk mengolah limbah kantong plastik menjadi karya seni dan produk. Dalam melakukan proses kreatif beliau melalui teknik pres menggunakan setrika, oleh sebab itu peneliti tertarik untuk meneliti proses kreatif pengolahan limbah kantong plastik yang dilakukan I Made Arde Wiyasa.Tujuan penelitian ini yaitu, (1) Untuk mengetahui proses kreatif pengolahan limbah plastik jenis low density polyethylene oleh I Made Arde Wiyasa, (2) Untuk mengetahui bentuk hasil pengolahan limbah plastik jenis low density polyethylene oleh I Made Arde Wiyasa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisi data penelitian ini menggunakan metode penyajian data, reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan.Hasil penelitian ini, yaitu (1) Plastik merupakan barang yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, namun penggunaannya yang tidak terkontrol mengakibatkan pencemaran lingkungan dimana-mana, (2) Melihat lingkungan sekitar yang tercemar oleh banyaknya limbah kantong plastik yang berserakan. I Made Arde Wiyasa memiliki inisiatif untuk mengolahnya menjadi barang yang lebih berguna dan memiliki nilai seni, (3) I Made Arde Wiyasa melakukan riset tentang pengolahan limbah plastik jenis low density polyethylene. Setelah melakukan observasi, eksplorasi, eksperimen dan inovasi, beliau mengolah limbah kantong plastik tersebut melalui teknik pres menggunakan setrika.
IDENTIFIKASI KARAKTRERISTIK SENI LUKIS TEBESAYA I Putu Fendy Puja Haryanta; I Made Sujana; I Komang Dewanta Pendit; Agus Mediana Adiputra
Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 3 No. 1 (2023): Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/batarirupa.v3i1.2953

Abstract

Seni lukis tradisional merupakan karya seni lukis yang dibuat melalui pakem-pakem atau aturan yang sudah ada yang di lakukan secara turun-temurun khususnya seni lukis daerah Tebesaya. adapun teknik seni lukis Tebesaya yaitu sketsa, nyawi, ngabur, nyelah, ngeskes, nguap, mupur nyenter, memasangkan warna ke objek, ngeskeske dua, nyelah ke dua, dan ngelem. Dalam hal penelitian ini dilakukan di Tebesaya. adapun tema-tema yang diangkat yaitu tarian Bali seperti tari barong, tari baris, tari jauk manis, dan tari Bali lainnya. Adapun tujuan penelitian yang di lakukan adalah untuk mengetahui identifikasi karakteristik seni lukis Tebesaya penelitian ini di lakukan di daerah Tebesaya. metode yang di gunakan untuk penelitian yaitu metode pengumpulan data seperti (1)observasi (2)wawancara (3)dokumentasi selanjutnya anlisis dilanjutkan dengan teknik deskriptif dan kualitatif.Hasil dari penelitian bahwa identifikasi karakteristik seni lukis Tebesaya yaitu lebih mengarah ke warna yellow ochre atau lebih ke coklat mebih mengarah ke gelap bisa di katakan warna shoft, dengan proposi anatomi yang memanjang hampir menyerupai ke bentuk pewayangan serta hampir semua objek yang di lukiskan dalam media kanvas sua tampak detail
RESPON SISWA TERHADAP MEDIA PEMBELAJARAN GOOGLE CLASSROOM DALAM MATA PELAJARAN SENI BUDAYA PADA SISWA KELAS X USAHA PERJALANAN WISATA (UPW) 1 SMK NEGERI 5 DENPASAR TAHUN PELAJARAN 2021/2022 Ni Kadek Dwi Billy Yanti Putri; I Made Gede Putra Wijaya; I Gede Gusman Adhi Gunawan
Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 3 No. 1 (2023): Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/batarirupa.v3i1.2970

Abstract

Penelitian ini membahas tentang deskripsi respon sisiwa pada aspek kognitif, afektif dan konatif terhadap media pembelajaran google classroom pada mata pelajaran Seni Budaya, dengan pendekatan deskriptif kuantitaif, penelitian ini bertujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis atau terperinci. Penelitian ini menggunakan observasi dan tes lembar angket (kuisioner) sebagai teknik pengumpulan data. Penelitian ini di laksanakan di SMK Negeri 5 Denpasar, Sumerta Kauh, Kec. Denpasar Timur. Kota Denpasar. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas X Usaha Perjalanan Wisata (UPW) 1 tahun pelajaran 2021/2022 yang berjumlah 40 siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa persentase respon siswa kelas X Usaha Perjalanan Wisata (UPW) 1 SMK Negeri 5 Denpasar tahun pelajaran 2021/2022, terhadap media pembelajaran google classroom dalam mata pelajaran Seni Budaya pada aspek kognitif indikator pemahaman isi google classroom memperoleh persentase respon iswa dengan rata-rata 88% dan indikator pemahaman menggunakan google classroom rata-rata 84% dan indikator pemahaman terhadap tampilan google classroom rata-rata 87%. Pada aspek afektif respon siswa pada indikator motivasi memperoleh persentase respon siswa rata-rata 85,5%, pada indikator kemenarikan rata-rata 86,5% dan pada indikator rasa ingin tahu dengan rata-rata 89,5%. Pada aspek konatif respon siswa pada indikator bertanya dan menanggapi pertanyaan memperoleh presentase dengan rata-rata 89%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa presentase respon siswa sangat baik.