cover
Contact Name
Zaenal Arifin
Contact Email
arifin1169@gmail.com
Phone
+6282214483006
Journal Mail Official
journalproficiency@gmail.com
Editorial Address
Blok Salasa RT 004/RW 005 Ds. Trajaya Kec. Palasah, Kab. Majalengka, Jawa Barat
Location
Kab. majalengka,
Jawa barat
INDONESIA
Progressive of Cognitive and Ability
Published by Edupedia Publisher
ISSN : -     EISSN : 29621631     DOI : 10.56855
Core Subject : Education,
This journal is a publication that contains research results, development of innovative and relevant research and related conceptual studies and/or developments in the field of Education. This journal has a focus and scope that includes: 1. Educational learning and services. 2. Evaluation of education in general, including educational processes and outcomes. 3. Utilization of information and communication technology in education. 4. Development and implementation of educational curricula. 5. Education policy and management.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 168 Documents
Pengaruh Model Pembelajaran Role Playing terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar Kelaudia Pratama Manik; Melvin Melanton Simanjuntak; Eva Saryati Panggabean
Progressive of Cognitive and Ability Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/jpr.v5i3.2096

Abstract

Tujuan – Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh model pembelajaran role playing terhadap hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila di SD Negeri 091281 Batu IV. Metode – Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental tipe one-group pretest–posttest. Sampel berjumlah 23 siswa yang ditentukan melalui total sampling. Data dikumpulkan menggunakan tes pilihan ganda sebanyak 30 soal pada tahap pretest dan posttest, kemudian dianalisis dengan uji normalitas Shapiro–Wilk, uji N-Gain, dan uji t. Hasil – Rata-rata nilai siswa meningkat dari 54,30 pada pretest menjadi 88,52 pada posttest. Nilai N-Gain sebesar 0,7749 termasuk kategori tinggi. Hasil uji t menunjukkan nilai thitung = 21,515 lebih besar daripada ttabel = 1,717 (p < 0,05), sehingga model role playing berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa. Kebaruan – Penelitian ini menyajikan bukti empiris mengenai efektivitas model role playing dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar melalui aktivitas bermain peran yang mendorong partisipasi aktif siswa. Signifikansi – Temuan penelitian memberikan alternatif model pembelajaran yang interaktif untuk meningkatkan hasil belajar, keaktifan, dan motivasi siswa serta menjadi referensi bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran Pendidikan Pancasila.
Misi BOTAK (Bola, Tabung dan Kerucut): Menuntaskan Pembelajaran Matematika Materi Bangun Ruang Sisi Lengkung dengan Metode Kooperatif Abdul Gofur
Progressive of Cognitive and Ability Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/jpr.v5i3.2116

Abstract

Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan program “Misi BOTAK” (Bola, Tabung, dan Kerucut) melalui metode pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan pemahaman konsep, partisipasi aktif, dan hasil belajar peserta didik pada materi bangun ruang sisi lengkung di kelas IX MTs Negeri 14 Jakarta Timur. Latar belakang penelitian didasarkan pada rendahnya kemampuan visualisasi geometri siswa serta minimnya keterlibatan aktif dalam pembelajaran matematika. Metodologi – Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan penerapan pembelajaran kooperatif berbasis misi. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas IX MTs Negeri 14 Jakarta Timur yang dibagi ke dalam kelompok heterogen beranggotakan 4–5 siswa. Prosedur penelitian meliputi tahap persiapan, pembentukan kelompok, pemberian misi, eksplorasi dan diskusi, presentasi, refleksi, serta evaluasi. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi, tes hasil belajar, dan dokumentasi aktivitas siswa. Data dianalisis secara deskriptif untuk melihat perubahan keterlibatan dan pemahaman konsep siswa. Temuan – Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan “Misi BOTAK” mampu meningkatkan partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran matematika. Siswa menjadi lebih mudah memahami konsep bangun ruang sisi lengkung melalui aktivitas kolaboratif, proyek pembuatan model tiga dimensi, dan penyelesaian soal HOTS kontekstual. Selain itu, suasana belajar menjadi lebih interaktif, menyenangkan, dan bermakna sehingga berdampak positif terhadap hasil belajar siswa. Kebaruan – Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi metode pembelajaran kooperatif dengan pendekatan berbasis misi (“Misi BOTAK”) untuk materi bangun ruang sisi lengkung yang dikemas secara kontekstual dan berbasis pengalaman langsung siswa. Signifikansi – Penelitian ini bermanfaat bagi guru matematika, sekolah, dan praktisi pendidikan sebagai alternatif strategi pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran geometri di tingkat SMP/MTs
Comparative Analysis of Classroom Management Instruments and Student Learning Motivation Using the Likert Scale Helmiyatun Helmiyatun; Ahmad Ahmad
Progressive of Cognitive and Ability Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/jpr.v5i3.2132

Abstract

Purpose – Classroom management and learning motivation are essential components that influence students’ engagement and academic success. Although these constructs are closely interconnected, limited studies have comparatively examined students’ perceptions of both aspects within the same educational setting. This study aimed to analyze and compare students’ perceptions of classroom management and learning motivation in three senior secondary schools in Tempos Village, West Lombok. Methodology – This study employed a quantitative descriptive comparative design. A total of 227 students from MA Fathul Akbar NW Tempos, MA Nurul Huda Tempos, and SMK Hizbunnajah NW Tempos participated in the study. Data were collected using two Likert-scale questionnaires measuring classroom management and learning motivation. Descriptive statistics were used to summarize the data, while the Shapiro–Wilk test examined data normality and Levene’s test assessed the homogeneity of variances. All statistical analyses were conducted using R Studio. Findings – The findings showed that students perceived both classroom management and learning motivation positively. The mean classroom management score was 25.59, whereas the mean learning motivation score was 26.59. Learning motivation demonstrated greater variability than classroom management, indicating more diverse student perceptions. The Shapiro–Wilk test revealed that both variables were not normally distributed (p < 0.05), while Levene’s test indicated homogeneous variances (p > 0.05). These findings suggest that effective classroom management should be complemented by strategies that foster students’ learning motivation, particularly in educational settings characterized by diverse socio-cultural backgrounds. Novelty – This study provides a comparative analysis of classroom management and learning motivation using the same measurement framework and statistical assumptions, offering empirical evidence of the relationship between classroom climate and students’ motivational perceptions. Significance – The findings provide practical insights for teachers, school administrators, and educational policymakers in designing learning environments that effectively integrate classroom management practices with strategies to enhance students’ motivation and engagement.
Analisis Kemampuan Berbahasa Siswa dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Rakyat Menengah Atas 27 Takalar Sahriani Sahril
Progressive of Cognitive and Ability Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/jpr.v4i4.2483

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan berbahasa Indonesia siswa serta mengidentifikasi implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 27 Takalar. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi kebahasaan siswa yang sebagian besar merupakan masyarakat asli Takalar dan terbiasa menggunakan bahasa Makassar dalam komunikasi sehari-hari, sementara bahasa Indonesia digunakan secara lebih intensif dalam lingkungan sekolah dan pembelajaran formal. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi pembelajaran, tugas berbahasa, wawancara dengan siswa dan guru, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan memfokuskan kajian pada keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa Indonesia siswa bervariasi pada keempat keterampilan tersebut. Keterampilan menyimak dan membaca secara umum telah berkembang pada kemampuan dasar, sedangkan keterampilan berbicara dan menulis memerlukan penguatan lebih lanjut. Pada keterampilan berbicara, sebagian siswa mampu berkomunikasi secara aktif dalam lingkungan sehari-hari, tetapi masih menunjukkan keraguan, keterbatasan kosakata, dan kurang percaya diri ketika menggunakan bahasa Indonesia dalam situasi akademik seperti diskusi dan presentasi. Pada keterampilan menulis, ditemukan kesulitan dalam mengembangkan gagasan, menyusun kalimat secara efektif, serta menggunakan ejaan dan tanda baca secara konsisten. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Makassar dalam kehidupan sehari-hari merupakan bagian dari pengalaman linguistik dan sosial-budaya siswa, sedangkan perbedaan konteks penggunaan bahasa menyebabkan siswa memerlukan pembiasaan dalam menggunakan bahasa Indonesia secara aktif dan formal. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia perlu dirancang secara kontekstual, komunikatif, bertahap, dan responsif terhadap latar belakang kebahasaan siswa. Pembelajaran juga perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi siswa untuk berlatih berbicara, berdiskusi, membaca, dan menulis dalam berbagai konteks akademik tanpa mengabaikan keberadaan bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya siswa.
Cooperative Learning Models as an Innovative Strategy in Biology Lesson Planning: A Literature Review Irda Wahidah Nasution; Nurul Hidayah Nasution; Muhammad Sajjad
Progressive of Cognitive and Ability Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/jpr.v5i1.2465

Abstract

Education has been widely recognized as a key instrument in improving the welfare of people around the world. This aligns with UNESCO's (2020) view, which emphasizes that education is not only a human right but also an investment that generates economic and social benefits. Public perceptions can vary depending on various factors, such as knowledge, educational background, experience, institutional conditions, and government policies. This study employed a qualitative approach. This qualitative literature study approach was used because obtaining facts or social realities in research requires a more in-depth approach, and the researcher believes that truth or social reality is constructed by individual consciousness. To test the validity of the data in this study, source triangulation and theory triangulation techniques were used. Meanwhile, data analysis was carried out in several stages: data collection, data reduction, data presentation, and verification/drawing conclusions. The results of the literature review indicate that education plays a crucial role in improving community welfare through several mechanisms, such as increasing employment opportunities, reducing poverty, and increasing social mobility. The Sambirejo village community recognizes the importance of education, as everyone no longer relies solely on wealth or material assets to survive, but rather on knowledge as the most fundamental asset. Through quality and inclusive education, communities can be better prepared to face social challenges and play an active role in creating positive change for the common good.
Preliminary Study on the Implementation of the Predict–Observe–Explain Model Assisted by Smartphone Sensors to Improve Critical Thinking Skills on Sound Wave Material Muhammad Minan Chusni; Achdan Hamdi
Progressive of Cognitive and Ability Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/jpr.v4i4.2468

Abstract

This preliminary study aimed to determine the initial condition of students’ critical thinking skills in sound wave material as a basis for implementing the Predict–Observe–Explain (POE) learning model assisted by smartphone sensors. Methodology – The study employed a descriptive qualitative-quantitative approach involving one physics teacher and 10 Grade XI science students at SMA Bina Negara 1 Baleendah. Data were collected through semi-structured teacher interviews, a 23-item student questionnaire, and a diagnostic pretest consisting of six contextual essay questions. Data were analyzed descriptively using thematic analysis, mean scores, and percentage achievement by critical-thinking indicators. Findings – Students’ critical thinking skills were categorized as low, with an average pretest score of 48.5 out of 100, and all students had not reached the minimum competency criterion of 70. The learning process remained dominated by teacher-centered instruction, while smartphone sensors and the POE model had not been optimally implemented. Novelty – The study provides an empirical baseline for integrating POE learning with smartphone sensor technology, particularly for sound wave concepts. Significance – The findings may support physics teachers and researchers in designing more interactive, contextual, and data-based learning to foster students’ critical thinking skills.
Playing to Speak: Using Communicative Games to Improve Students’ English Speaking Ability Dhea Fitria Destin; Nunung Nurhayati; Wahyu; Iyan Hayani; Raman Kumar
Progressive of Cognitive and Ability Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/jpr.v5i1.2469

Abstract

Purpose – This study aims to investigate the implementation of communicative games to improve junior high school students’ English speaking ability. The study was motivated by students’ difficulties in speaking English, including low confidence, limited participation, and difficulties in constructing sentences and using appropriate vocabulary. Methodology – This study employed Classroom Action Research (CAR).The participants were students of junior high school students in, Lebak, Banten. The research was conducted in two cycles, with each cycle consisting of two meetings. The intervention involved interactive speaking activities, including individual role-play in Cycle 1 and the group-based Taboo Talks game in Cycle 2. Data were collected through speaking quizzes and student self-assessment forms. The data were analyzed quantitatively using descriptive statistics and compared across cycles based on predetermined criteria of success. Findings – The findings showed improvement in both students’ speaking ability and participation. The proportion of students who were able to produce five spoken sentences increased from 60% in Cycle 1 to 90% in Cycle 2, while active participation increased from 40% to 90%. The findings indicate that communicative games can provide students with opportunities to practice speaking in an engaging, collaborative, and supportive environment. Novelty – This study contributes evidence on the use of simple, low-technology communicative games within a CAR framework to address speaking difficulties in a junior high school context. Significance – The findings provide practical guidance for English teachers seeking accessible and engaging strategies to improve students’ speaking ability and classroom participation.
Analysis of Junior High School Students’ Creative Thinking Processes in Solving HOTS Problems on Systems of Linear Equations in Two Variables Asifaul Ulum; Hairus Saleh; Hasan Basri
Progressive of Cognitive and Ability Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/jpr.v4i4.2473

Abstract

Memasuki abad ke-21, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat pesat sehingga menuntut dunia pendidikan untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki keterampilan abad ke-21, salah satunya adalah kemampuan berpikir kreatif. Dalam pembelajaran matematika, kemampuan berpikir kreatif dapat dikembangkan melalui penyelesaian masalah Higher Order Thinking Skills (HOTS), khususnya pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Oleh karena itu, penting untuk mengkaji proses berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan masalah HOTS agar dapat diketahui tahapan berpikir yang dilakukan siswa selama proses pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan masalah Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) berdasarkan kategori kemampuan kreatif tinggi, sedang, dan rendah. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek tiga siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Pamekasan yang dipilih secara purposive untuk mewakili setiap kategori kemampuan kreatif. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan berpikir kreatif dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan indikator proses berpikir kreatif yang meliputi mensintesis ide, membangun ide, merencanakan penerapan ide, dan menerapkan ide. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan kreatif tinggi mampu memenuhi seluruh indikator proses berpikir kreatif secara sistematis, menghasilkan lebih dari satu strategi penyelesaian, serta memverifikasi hasil yang diperoleh. Siswa dengan kemampuan kreatif sedang juga memenuhi keempat indikator, tetapi masih bergantung pada strategi yang telah dipelajari dan belum mampu mengembangkan alternatif penyelesaian yang beragam. Sementara itu, siswa dengan kemampuan kreatif rendah hanya mampu memenuhi sebagian indikator karena mengalami kesulitan dalam menerapkan ide hingga memperoleh penyelesaian dan memverifikasi hasil.