cover
Contact Name
Winarno Budyatmojo
Contact Email
recidive@mail.uns.ac.id
Phone
6281804505866
Journal Mail Official
recidive@mail.uns.ac.id
Editorial Address
Faculty of Law Universitas Sebelas Maret Building Three-Department of Criminal Law, Faculty of Law Universitas Sebelas Maret Ir. Sutami Road No.36A Kentingan,Surakarta 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan
Core Subject : Social,
This Journal aims primarily to facilitate undergraduate students paper over current developments on criminal law issues in Indonesia as well as to publish innovative legal construction of the money laudering law, corruption law,criminology, and financial crimes. It provides immediate open access to its content on the principle that making research freely available to public support a greater global exchange of knowledge.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 255 Documents
PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA NOMOR 32 TAHUN 2020 TERHADAP NARAPIDANA NARKOTIKA DITINJAU DARI ASAS PROPORSIONALITAS HUKUM PIDANA Lasnita, Fiany Alifia
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 12, No 2 (2023): AGUSTUS
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v12i2.70758

Abstract

This study aims to examine how the policy of granting assimilation for Narcotics Convicts during the Covid-19 pandemic based on the principle of proportionality in criminal law. This research is normative legal research with the type of approach used is a statutory approach. The legal materials of this research include primary, secondary, and tertiary legal materials. The data collection technique used is a literature study technique. The analytical technique used is the syllogistic reasoning method that uses deductive thinking patterns. The results of this study indicate that the condition of correctional institutions in Indonesia for narcotics convicts has a disproportionate or over-capacity prison capacity. the prison's disproportionate capacity or overcrowding. The Minister of Law and Human Rights Number 32 of 2020, including its restrictions on Article 11 paragraph (2) and Article 31 paragraph (2), does not pay attention to the health conditions of vulnerable convicts. Permenkumham Number 32 of 2020, if not supported by other legal policies granting assimilation of narcotics convicts, can be said to be in breach of narcotics prisoners' enshrined in the constitution rights to protect their lives. However, Permenkumham Number 32 of 2020 commits violations that are less severe than regular, and their implementation has been considered based on their benefits and advantages. 
PENEGAKAN HUKUM PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA YANG DILAKUKAN OKNUM ANGGOTA POLRI DI POLRES MAGELANG KOTA Fadhlurrahman, Ilyas Daffa
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 12, No 2 (2023): AGUSTUS
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v12i2.70518

Abstract

Polri sebagai aparat penegak hukum seharusnya menjadi pihak mencegah dan serta menanggulangi penyalahgunaan narkotika, namun masih ada kasus oknum anggota Polri melakukan penyalahgunaan Narkotika di Magelang Kota. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana penegakan hukum penyalahgunaan Narkotika yang dilakukan oknum anggota Polri di Polres Kota Magelang Tujuan artikel ini adalah untuk mengetahui penegakan hukum penyalahgunaan Narkotika yang dilakukan oknum anggota Polri di Polres Magelang Kota [H1] artikel hukum ini termasuk jenis penelitian hukum empiris yang bersifat deskriptif. Penegakan hukum penyalahgunaan Narkotika yang dilakukan oknum anggota Polri di Polres Magelang Kota sama dengan penegakan hukum penyalahguna Narkotika yang dilakukan oleh masyarakat umum, yang membedakan setelah menyelesaikan proses peradilan umum dan menjalani sanksi pidana. Anggota Polri menjalani penegakan hukum KEPP, karena perbuatan tindak pidana termasuk pelanggaran KEPP. Sanksi yang dapat dijatuhkan berupa rekomendasi PTDH (pemberhentian tidak dengan hormat). 
IMPLEMENTASI HAK ABORSI AMAN DAN LEGAL DI INDONESIA MERUJUK PADA PERMENKES NO.3 TAHUN 2016 Karunia, Kasih
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 12, No 2 (2023): AGUSTUS
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v12i2.71647

Abstract

Artikel ini berisi penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk memgetahui penyelenggaraan abrosi bagi korban tindak pidana perkosaan, meurut PERMENKES NO. 3 Tahun 2016 tentang Pelatihan dan Penyelenggaraan Pelayanan Aborsi Atas Indikasi Kedaruratan Medis dan Kehamilan Akibat Perkosaan. Penelitian dilakukan dengan studi kepustakaan disertai dengan wawancara para pihak – pihak terkait yang ahli dan merupakan bagian dari instansi yang bersangkutan dengan pelaksanaan aborsi bagi korban perkosaan. Sebelum masuk pada penyelenggaraannya, penelitian dimulai dari aturan yang mendasari adanya PERMENKES No. 3 Tahun 2016, baru kemudian dijelaskan prosedur pengajuan aborsi yang dapat dilakukan oleh korban tindak pidana perkosaan beserta syarat – syarat yang harus dipenuhi. Adanya persyaratan dan prosedur yang harus dilalui adalah supaya aborsi tidak disalahgunakan, namun tidak menutup kemungkinan akan timbulnya proses yang bebelit belit dan menyebabkan korban akhirnya tidak dapat mengajukan aborsi dan malah harus menanggung kehamilan yang tidak pernah diinginkan.
PROPORSI GANTI RUGI BAGI KORBAN ATAU KELUARGA KORBAN KECELAKAAN LALU LINTAS JALAN Putri, Dhanastri Retnaning
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 12, No 2 (2023): AGUSTUS
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v12i2.70401

Abstract

Transportation's role is essential as time progresses with quick mobility. It makes it possible for people to reach from one place to another. Ground transportation is one of the concise, easily found, and widely used modes.  As ground transportation traffic activity increases, it triggers an increase in traffic accidents. One of several factors that causes traffic accidents is human errors. The negligent aspect of human errors causes injury and the loss of life of other people. As a form of a sense of responsibility, the perpetrators of criminal accidents compensate the victim and family. This research uses normative juridical research methods by collecting data obtained through library research, namely by studying books, laws, regulations, websites, and other documents related to this research. The results obtained show that compensation is a form of legal protection for victims and a form of accountability for the perpetrators of criminal accidents. In addition, the amount of the proportion of compensation given to victims can be determined by several factors so that later it can be right on target and create justice for both parties.
KEJAHATAN TRANSNASIONAL PERMUFAKATAN JAHAT DALAM TINDAK PIDANA JUAL BELI NARKOTIKA GOLONGAN I Rachmawati, Ananda Noor Eliza
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 12, No 2 (2023): AGUSTUS
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v12i2.70645

Abstract

This study aims to find out and analysis the regulation of criminal conspiracy in the crime of buying and selling narcotics class I and ASEAN’s efforts to eradicate transnational crimes against narcootics crimes. This research is a normative or doctrinal legal research. This research is prescriptive and applied. The approach used by the author is the statutory approach. The technique for collecting legal material in this study used a literature study technique and the analysis technique for legal material used the deductive syllogistic method. The data in this study were obtained from primary data and secondary data. Based on the results of the research and discussion, it can be concluded that the regulation regarding the act of buying and selling narcotics class I which is carried out by conspiracy is regulated in Article 114 particle (2) of Law Number 35 of 2009 concerning narcotics. However, if the act of buying and selling narcotics class I is carried out by agreement and weighing more than 1 (one) kilogram for plant forms and weighing more than 5 (five) grams for non-plant forms. Then Article 114 particle (2) in conjuction Article 132 particle (1) of Law Number 35 of 2009 concerning narcotics. In dealing with the problem of illicit trafficking of narcotics in the Southeast Asian region, ASEAN member countries already have several forums or forums to deal with problems related to narcotics, including ASOD,AMMDM,AIFOCOM and ASEANAPOL. 
Implementasi Perampasan Aset Tersangka Tindak Pidana Korupsi Yang Melarikan Diri Ditinjau Dari Peraturan Peundang Undangan Yang Berlaku arfina apti alimah
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 14, No 3 (2025)
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v14i3.99611

Abstract

Abstrak: Tindak pidana korupsi selalu menjadi fenomena yang konsisten setiap tahunnya, Banyak kasus kasus besar yang sangat merugikan keuangan negara, seperti kasus korupsi tambang dengan kerugian negara mencapai 217 Triliyun, Untuk mengembalikan kerugian Negara salah satunya adalah melalui perampasan aset. Namun dalam praktiknya memiliki banyak kendala karena berkaitan dengan system hukum di Indonesia. DPR telah merancang undang - undang mengenai perampasan asset namun draft Rancangan Undang Undang Perampasan Aset sampai saat ini belum juga disahkan. RUU perampasan asset merupakan harapan besar bagi penegak hukum  Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana implementasi mekanisme perampasan aset saat ini dan bagaimana prospek RUU perampasan aset dalam mengatur perampasan aset bagi tersangka tindak pidana korupsi yang melarikan diri.  Maka penulis menggunakan metodologi penelitian yuridis normative, Sifat penelitian perspektif dan terapan. Menggunakan pendekatan undang- undang dan pendekatan konseptual. Kesimpulan secara spesifik perampasan aset tindak pidana korupsi diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. UU No. 20 Tahun 2001 yaitu pada Pasal 18 yang mengatur perampasan aset sebagai pidana tambahan bagi pelaku korupsi. Mekanisme perampasan aset pada tersangka yang melarikan diri dan tidak diketahui keberaadaannya dalam system hukum di Indonesia ini sebenrnya dirancang di dalam RUU Perampasan Aset yang diharapkan dapat meningkatkan efektivitas perampasan aset pelaku korupsi yang melarikan diri melalui beberapa mekanisme utama yaitu Penerapan Non-Conviction Based Asset Forfeiture (NCB).Kata Kunci: Korupsi; Perampasan AsetAbstract: Corruption crimes have consistently been a recurring phenomenon every year, with many major cases causing significant losses to state finances, such as the corruption case involving P.T Timah Tbk, with several individuals in the spotlight, namely Harvey Moeis and Helena Lin, which caused losses to the state amounting to 217 trillion rupiah. One way to recover these losses to the state is through asset forfeiture. However, in practice, there are many obstacles due to the legal system in Indonesia. The House of Representatives has drafted a law on asset forfeiture, but the draft Asset Forfeiture Bill has not yet been passed. The Asset Seizure Bill is a great hope for law enforcement. The purpose of this study is to determine how the asset seizure mechanism is currently implemented and what the prospects are for the Asset Seizure Bill in regulating the seizure of assets from suspects of corruption who have fled. Therefore, the author uses a normative legal research methodology, with a perspective and applied nature. A legal and conceptual approach was used. Specifically, the conclusion is that the confiscation of assets related to corruption is regulated in Law No. 31 of 1999 concerning Eradication of Corruption in conjunction with Law No. 20 of 2001, namely in Article 18, which regulates asset confiscation as an additional punishment for perpetrators of corruption. The mechanism for asset confiscation in the case of suspects who have fled and whose whereabouts are unknown in the system aw in Indonesia was actually drafted in the Asset Seizure Bill, which is expected to increase the effectiveness of asset seizure from corrupt individuals who have fled through several key mechanisms, namely the application of asset seizure without criminal prosecution, where the object is assets or goods (in rem), rather than criminal prosecution of individuals (in personam), or what can be referred to as Non-Conviction Based Asset Forfeiture (NCB). Keywords: Corruption; Asset Forfeiture
Perlindungan Hukum Terhadap Korban Eksploitasi Seksual Melalui Sistem Victim Trust Fund (Studi Perbandingan Hukum Negara Indonesia dan Negara Belanda) Regina Rahma Antika; Subekti -
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 13, No 2 (2024): AGUSTUS
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v13i2.86199

Abstract

Artikel ini menganalisis pendekatan hukum terhadap korban eksploitasi seksual di Indonesia dan Belanda melalui perspektif komparatif sistem Victim Trust Fund di kedua negara. Tujuan artikel ini adalah untuk mengetahui perbedaan perlindungan korban eksploitasi seksual melalui Victim Trust Fund di Indonesia dan Belanda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif yang bersifat preskriptif dengan menggunakan pendekatan hukum dan pendekatan perundang-undangan serta analisis perbandingan hukum antara sistem di kedua negara tersebut. Sumber bahan hukum yang digunakan meliputi bahan hukum primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan bahan hukum menggunakan studi kepustakaan atau studi dokumen. Temuan membuktikan bahwa perbedaan dalam pendekatan hukum terhadap korban eksploitasi seksual di Belanda dan Indonesia terlihat dalam hal perlindungan, pemulihan, dan pemberian kompensasi. Sistem Victim Trust Fund di Belanda menonjolkan perlindungan yang komprehensif dan pemberian kompensasi yang lebih baik, sementara di Indonesia masih terdapat tantangan dalam implementasi perlindungan dan pemulihan yang efektif bagi korban.
TINJAUAN YURIDIS TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK BERDASARKAN PASAL 27 AYAT 3 Maulana Akbar, Ario Mulia; Sulistyanta, ,
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 10, No 3 (2021): DESEMBER
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v10i3.58953

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji tindak pidana pencemaran nama baik pada pasal 27 ayat (3) Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan mengidentifikasi pertimbangan hukum yang dilakukan dari berbagai kasus-kasus pencemaran nama baik. Penelitian ini merupakan jenis penelitian hukum normatif yang bersifat preskriptif metode penelitian normatif dengan sumber hukum terdiri dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh bahwa penafsiran norma hukum pada pasal 27 ayat (3) Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik harus ditafsirkan dengan norma hukum pada pasal 310 dan 311 KUHP sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi No. 50/PUU-VI/2008. Pemberatan sanksi pidana pada pasal 45 ayat (1) lebih berat dari pasal 310 KUHP adalah wajar karena distribusi dan penyebaran informasi melalui media elektronik relatif lebih cepat, berjangkauan luas, dan memiliki dampak yang masif. Pertimbangan hakim pada kasus-kasus pencemaran nama baik pada pasal 27 ayat (3) telah menafsirkan dengan pasal 310 dan 311 KUHP, walaupun masih terdapat kekhilafan hakim dalam pertimbangan hukumnya.Kata Kunci: Pencemaran Nama Baik, Tindak Pidana, KUHP ABSTRACTThis legal writing aims to examine the criminal act of defamation in Article 27 paragraph (3) of Law no. 19 of 2016 concerning Amendments to Law No. 11 of 2008 concerning Information and Electronic Transactions and identify legal considerations made from various defamation cases. This research is a type of normative legal research that is prescriptive in a normative research method with legal sources consisting of primary legal materials and secondary legal materials. Based on the research conducted, it was found that the interpretation of legal norms in Article 27 paragraph (3) of Law No. 19 of 2016 Amendments to Law No. 11 of 2008 concerning Information and Electronic Transactions must be interpreted in accordance with the legal norms in articles 310 and 311 of the Criminal Code in accordance with the decision of the Constitutional Court no. 50/PUU-VI/2008. The weighting of criminal sanctions in Article 45 paragraph (1) which is heavier than Article 310 of the Criminal Code is reasonable because the distribution and dissemination of information through electronic media is relatively faster, has a wide reach, and has a massive impact. Judges' considerations in defamation cases in Article 27 paragraph (3) have interpreted them with Articles 310 and 311 of the Criminal Code, although there are still judges' mistakes in their legal considerations Keywords: Defamation, Criminal Act, Criminal Code
PENERAPAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA ILLEGAL LOGGING DI KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN PADANGAN BOJONEGORO pembayun dujaa
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 15, No 1 (2026): APRIL
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v15i1.101041

Abstract

Artikel ini membahas penerana hukum pidana dalam menanggulangi tindak pidana illegal logging di wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Padangan, Kabupaten Bojonegoro. Peneitian ini dilatarbelakangi dengan tingginya angka illegal logging yang berdampak pada kerusakan lingkungan serta menurunya fungsi hutan sebagai penyangga ekosistem. Dengan menggunakan pendekatan yuridis normative dan empiris, penelitian ini menelaah peraturan perundang-udangan yang digunakan untuk mengidentifikasi hamabatan yang dihadapi oleh KPH Padangan. Temuan menunjukan bahwa meskipun telah diterapkan berbagai pasal dalam KUHP dan Undnag-Undnag yang mengatur mengenai kehutanan, efektivitas penegakan hukum masih terhambat oleh keterbatasan kewenangan polisi hutan, rendahnya kesadaran hukum Masyarakat sekitar hutan, serat keterbatasan sumber daya manusia dan anggaran. Penelitian ini memberikan rekomendasi pelrunya sinergi lintas sekotr yang lebih baik lagi dan penguatan wewenang aparat kehutanan untuk menanggulangi masalah ini. 
Kajian Kriminologis Tindak Pidana Korupsi ( Studi Putusan PN Jakarta Pusat No 29Pid Sus.TPK2021PN Jkt.Pst) Safira Rahma Aulia
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 14, No 1 (2025): APRIL
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v14i1.96188

Abstract

Abstrak:Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis terkait faktor – faktor penyebab korupsi dana bantuan sosial covid 19 sekaligus mengetahui ratio decadency hakim dalam menjatuhkan hukuman dalam putusan perkara tindak korupsi ini. Penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif yang bersifat preskriptif dan terapan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan konseptual dan pendekatan perundang-undangan. Bahan hukum yang digunakan terdiri dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Hasil penelitian menunjukkan beberapa faktor yang sangat mempengaruhi dari diri individu untuk melakukan tindak pidana korupsi. Hal ini disebabkan kurangnya rasa kesadaran akan pentingnya tanggung jawab moral bagi mereka yang memiliki jabatan dan kekuasaan. Kemudian dalam hal putusan pemidanaan, majelis hakim sudah sesuai dalam menjatuhkan putusan pemidanaan karena hakim Hakim memiliki kebebasan untuk menentukan pemidanaan sesuai dengan petimbangan hukum dan nuraninya.Kata Kunci: Bantuan sosial, Korupsi, KriminologiAbstract: Research entitled Criminological Study of the Crime of Gratification Corruption (Central Jakarta District Court Decision Study No. 29/Pid Sus.TPK/2021/PN Jkt.Ps aims to find out and analyze the factors that cause corruption in Covid 19 social assistance funds as well as knowing the decadence ratio The judge in handing down the sentence in this corruption case. The research used is normative legal research which is descriptive and applied. The research approach used is a conceptual approach and a statutory approach The legal material collection technique used in this research is literature study. The legal material analysis technique used is the syllogism method with a deductive mindset which starts from a major premise in the form of legal rules and continues with a minor premise in the form of legal facts, then from these two premises a conclusion is drawn. Conclusion: The research results show that there are several factors that greatly influence individuals to commit criminal acts of corruption. This is due to a lack of awareness of the importance of moral responsibility for those who have positions and power. Then, in the case of a criminal decision, the panel of judges is appropriate in handing down a criminal decision because the judge has the freedom to determine the punishment in accordance with legal considerations and his conscience.Keywords: Social assistance, Corruption, Criminology