cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Academic Physiotherapy Conference Proceeding
ISSN : -     EISSN : 28097475     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Academic Physiotherapy Conferences are a series of activities that include international seminars and call papers. This activity aims to improve literacy and scientific publications of physiotherapy which specifically discuss cases related to problems of function and movement of the human body
Articles 231 Documents
Management Fisioterapi pada Kasus Post Orif Fraktur Humerus 1/3 Distal Dextra: Case Report Ramadhani, Nanda Ayu; Santoso, Totok Budi; Pradana, Nur Widya
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Fraktur adalah hilangnya kontinunitas tulang yang disebabkan karena oleh tekanan yang tiba-tiba dan berlebihan, cedera langsung maupun cedera tidak langsung. Fraktur humerus dapat diklasifikasikan menjadi proksimal, shaft dan distal. Open Reduction Internal Fixation (ORIF) dengan Plate and Screw merupakan suatu pembedahan dengan pemasangan internal fiksasi pada tulang yang mengalami fraktur berfungsi untuk mempertahankan posisi fragmen tulang saat proses penyambungan. Pemasangan plate and screw pada tindakan ORIF menimbulkan masalah seperti nyeri, spasme otot, keterbatasan gerak dan penurunan kekuatan otot. Penatalaksanaan fisioterapi yang dapat dilakukan pada kondisi tersebut adalah dengan intervensi Infrared dan terapi latihan seperti forced passive movement, free active exercise dan hold relax. Presentasi Kasus: Pasien Ny. J usia 46 tahun dengan diagnosa Post ORIF Fraktur Humerus 1/3 Distal Dextra. Keluhan pasien yaitu nyeri pada lengan atas sampai pergelangan tangan kanan serta kaku dan keterbatasan gerak pada bahu dan siku saat digunakan untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti menyisir rambut, memakai pakaian dan mengambil benda yang terletak diatas. Setelah dilakukan pemeriksaan dengan inspeksi didapatkan adanya luka bekas incisi pada lengan atas kanan dan adanya keterbatasan gerak pada bidang gerak shoulder gerakan fleksi-ekstensi, abduksi-adduksi dan internal rotasi-eksternal rotasi, sedangkan pada bidang gerak elbow terdapat keterbatasan gerak pada gerakan fleksi dan supinasi-pronasi. Manajemen Fisioterapi: Program fisioterapi yang diberikan adalah infrared dan terapi latihan berupa forced passive movement, free active exercise dan hold relax. Program fisioterapi tersebut diberikan selama lima kali pertemuan. Hasil dan Pembahasan: Setelah dilakukan terapi selama 5 kali didapatkan hasil adanya penurunan nyeri tekan pada T1:5 menjadi T5:2, nyeri gerak T1:7 menjadi T5: 4. Peningkatan kekuatan otot fleksor shoulder T1:3 menjadi T5:4, otot abduktor, adduktor, internal dan eksternal rotatator shoulder T1:4 menjadi T:5. Peningkatan kekuatan otot fleksi dan ekstensi elbow pada T1:4 menjadi T5:5. Penurunan skor SPADI pada T1:39% menjadi T5:26%. Kesimpulan: Penatalaksanaan fisioterapi dengan modalitas infrared dan terapi latihan berupa forced active exercise, free active movement dan hold relax selama lima kali pertemuan pada pasien Ny. J usia 46 tahun di RSUD Pandan Arang Boyolali didapatkan adanya penurunan nyeri, peningkatan kekuatan otot, peningkatan lingkup gerak sendi dan peningkatan kemampuan fungsional.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Wrist Stiffness Post ORIF CF Distal Radius et Ulna Sinistra Handayani, Siti; Susilo, Taufik Eko; Astuti, A
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Lengan bawah menyediakan struktur tulang dan asal muasal otot yang memungkinkan tangan beroperasi dalam berbagai orientasi. Kedua tulang lengan bawah (radius dan ulna) berfungsi untuk memungkinkan fleksi dan ekstensi pada siku serta pergelangan tangan melalui sendi diarthrodial. Radius dan ulna berada dalam keseimbangan anatomi halus yang memungkinkan pronasi dan supinasi tangan dalam gerakan lengkung 180 derajat. Fraktur tulang radius dan ulna adalah salah satu cedera ortopedi yang paling umum, Presentasi Kasus : Pasien seorang perempuan dengan usia 20 tahun yang bekerja sebagai konten kreator dan merupakan pasien dengan diagnosa Wrist Stiffness Post ORIF CF Distal Radius et Ulna Sinistra dari Rumah Sakit Ibu Fatmawati Ir. Soekarno, Kota Surakarta. Penelitian dilakukan pada bulan April 2024. Pasien mengeluhkan adanya nyeri pada bagian pergelangan tangan kiri serta mengeluhkan adanya keterbatasan gerak dan kekakuan untuk digerakan. Manajemen dan Hasil : Pada penelitian ini, modalitas fisioterapi seperti Infra Red (IR) dan beberapa latihan yaitu active exercise, hold relax dan isometric exercise digunakan untuk mengetahui apakah penatalaksanaan tersebut efektif dilakukan pada kasus Wrist Stiffness Post ORIF CF Distal Radius et Ulna Sinistra dalam proses rehabilitasi. Diskusi : Pasien melakukan program rehabilitasi yang terdiri dari Infra Red, active exercise, hold relax dan wrist pumping exercise selama 3 kali dalam 3 minggu. Program terapi yang dilakukan ini bertujuan untuk mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot serta meningkatkan Range Of Motion (ROM) pada pasien. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berupa NPRS (Numeric Pain Rate Scale) untuk mengukur tingkat nyeri, Midline untuk mengukur oedema, Goniometer untuk mengukur Range Of Motion (ROM), MMT (Manual Muscle Testing) untuk mengukur kekuatan otot pasien dan Wrist Hand Disability Index (WHDI) untuk mengevaluasi kemampuan fungsional. Kesimpulan : Pada penelitian ini, diketahui pasien seorang perempuan dengan usia 20 tahun dengan diagnosis pasien Wrist Stiffness Post ORIF CF Distal Radius et Ulna Sinistra didapati hasil adanya penuruan intensitas nyeri, peningkatan kekuatan otot, peningkatassn ROM dan kemampuan aktivitas fungsional setelah diberikannya intervensi fisioterapi.
Manfaat Deep Breathing Exercise dan Latihan Mobilisasi Sangkar Thorax terhadap Penurunan Derajat Sesak dan Peningkatan Ekspansi Thorax pada Pasien Efusi Pleura di RSUD Dungus, Madiun: Studi Kasus Ariyanti, Annisa Mutiara; Wahyuni, W; Utami, Mulatsih Nita
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Efusi pleura merupakan kondisi patologis dimana terjadi penumpukan cairan pada rongga pleura, yaitu antara pleura visceral dan pleura parietal. Pada aspek fisioterapi pada efusi pleura akan didapatkan permasalahan sesak napas, nyeri pada area dinding dada, pola napas tidak efektif, gangguan postur, penurunan ekspansi thorak, dan keterbatasan aktivitas fungsional. Terdapat juga kelemahan atau thigtness pada otot-otot bantu pernapasan seperti scaleni, sternocleidomastoid, upper trapezius, pectoralis major, dan serratus anterior yang apabila dibiarkan dapat menyebabkan sesak napas parah dan mempengaruhi diafragma. Deep breathing exercise efektif dalam meningkatkan ekspansi thorax, mengurangi kerja pernapasan dan meningkatkan efisiensi ventilasi pernapasan, pasien menarik napas dalam melalui hidung dan ditahan 3-5 detik kemudian dihembuskan napas melalui mulut secara perlahan, latihan dapat dilakukan dengan frekuensi 3 kali sehari dengan waktu 5-10 menit. Latihan mobilisasi sangkar thorax juga dapat meningkatkan mobilitas ekspansi thorax, ventilasi pernapasan, mengkontrol inspirasi dan ekspirasi. Case Presentation: Pasien inisial Ny.S berumur 65 tahun, beragama islam. Pasien didiagnosa medis di RSUD Dungus dengan Cardiomegaly dengan efusi pleura kanan, suggestive lobar pneumonia kanan. Pasien sudah pernah dirawat di RSUD Dungus dengan keluhan yang sama 4 bulan yang lalu. Pasien mengeluhkan mual dan berat saat menarik napas, dirasakan memberat 2 minggu terakhir sebelum masuk RS. Saat ini pasien tidak bisa beraktivitas turun dari kasur dikarenakan lemas dan sesak apabila beraktivitas. Management and Outcome: Pasien diberikan intervensi fisioterapi berupa nebulizer, deep breathing exercise, mobilisasi sangkar thorax dan stretching active regio neck dan shouldher sebanyak 6 kali dalam jangka waktu 4 hari berturut-turut, untuk evaluasi dilakukan penilaian ulang dari vital sign (BP,HR,RR,Spo2), pengukuran mobiltas ekspansi thorax dengan antropometri, pola napas pasien, nyeri dengan NRS, derajat sesak napas menggunakan BORG scale, dan aktivitas fungsional dengan MRC. Discussion: Intervensi yang diberikan berupa nebulizer untuk membuka jalan napas, deep breathing exercise untuk mengatur pola napas, latihan mobilisasi sangkar thorax untuk menambah ekspansi thorass dan stretching untuk mengurangi spasme pada otot accecory muscle. Deep breathing exercise dan latihan mobilisasi thorax yang diberikan sebanyak 6 kali dapat menurunkan sesak, meningkatkan eksapansi thorax. Conclusion: Setelah terapi 6 kali dengan Nebulizer, Deep Breathing dengan mobilisasi sangkar thorax dan Stretching aktif SCM didapatkan penurunan RR, peningkatan sangkar thorax, perbaikan pola napas dan penurunan spasme pada SCM kanan dan kiri, upper trapezius dan pectoralis mayor kanan dan kiri.
Manajemen Fisioterapi pada Pasien Congenital Heart Failure: Studi Kasus Nabilah, Hana Laila; Komalasari, Dwi Rosella; Pratama, I Putu Aditya
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkenalan: Congestive Heart Failure (CHF)adalah suatu keadaan dimana jantung tidak dapat memompa darah yang mencukupi untuk kebutuhan tubuh yang dapat disebabkan oleh gangguan kemampuan otot jantung berkontraksi atau meningkatnya beban kerja dari jantung. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2016, terdapat 23 juta kematian akibat gagal jantung atau Congestive Heart Failure (CHF) pada tahun 2015, atau sekitar 54% dari seluruh kematian. Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus CHF memiliki banyak variasi tergantung dengan tindakan dan kondisi pasien. Pasien dengan riwayat CHF cenderung memiliki penurunan kemampuan fungsional sehari-hari. Presentasi Kasus: Pada kasus ini pasien laki-laki usia 67 tahun pasca Coronary Artery Bypass Graft (CABG) dengan riwayat CHF. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan suka merokok. Pasien sempat menjalani rawat inap pada tahun 2022. Kemudian kambuh kembali pada tahun 2023 dan dilakukan tindakan operasi pemasangan ring. Saat ini menjalani rehabilitasi pada fase II di PJK RSUP I.G.N.G. Ngoerah Hospital Bali. Manajemen dan Hasil: Treatment yang diberikan kepada pasien terdiri dari pemanasan, inti, dan pendinginan. Pemanasan yang dilakukan yakni senam secara berkelompok selama 10-15 menit. Untuk latihan inti diberikan latihan jalan cepat maupun jogging diatas treadmill dengan kecepatan yang ditingkatkan. Sedangkan pendinginan diberikan latihan ergo arm cycle selama 10 menit. Pemberian treatment diberikan sebanyak 12 kali dan dilakukan seminggu 5 kali. Hasil evaluasi menggunakan six minute walking test (6MWT) didapatkan peningkatan jarak, kapasitas aerobic dan Heart Rate Walking Speed Index (HRWSI). Serta terdapat penurunan tingkat lelah menggunakan borg scale. Diskusi: Pemberian rehabilitasi medik dengan bentuk exercise diketahui dapat meningkatkan fungsi endotel vaskuler dan fungsi saraf otonom serta dapat menekan sistem inflamasi dan oksidative stress pada pasien CAD. Cardiac Rehabilitation (CR) pada pasien pasca-CABG dilakukan terutama untuk memfasilitasi pemulihan setelah operasi dan untuk meningkatkan kapasitas olahraga dan kualitas hidup. Pemberian terapi atau latihan sesuai dengan pedoman. Kesimpulan:Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus CHF dengan pemberian latihan pemanasan, inti, dan pendinginan selama 12 pertemuan memiliki hasil yang relatif membaik. Berdasarkan hasil yang didapatkan berdasarkan evaluasi menggunakan six minute walking test (6MWT) terdapat peningkatan jarak dan kapasitas aerobic, serta penurunan tingkat kelelahan pada pasien.
Manajemen Fisioterapi pada Post Rekonstruksi PCL Fase 1: Case Report Syafira, Khansa; Fatmarizka, Tiara; Mardianto, Halim
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Football is a sport that is prone to injuries, one of which is a torn posterior cruciate ligament (PCL). The PCL is a ligament that acts as the main barrier to posterior translation of the knee. The treatment of PCL injuries is divided into 2, namely conservative (surgery) and non-conservative, depending on the severity. In conservative treatment, it is necessary to perform early mobilization after the injury to increase ROM and stability. Case Presentation: a 15-year-old patient post PCL reconstruction with complaints of, swelling in the left knee, limited Range Of Motion (ROM) and decreased of muscle strength came to RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang to carry out rehabilitation. Management and Outcome: Rehabilitation had been done three times a week to facilitate the improvement of knee ROM and muscle strength and decreased the swelling. Rehabilitation consists of quadset, SLR, Side SLR, ankle pumping, wall slide, prone hang, and gait training. Discussion: Rehabilitation immediately following conservative treatment helps to improve muscle strength and ROM and reduce knee swelling. In addition, strengthening exercises on the quadriceps muscle will help reduce the risk of further knee injury, and controlled swelling will also speed the return of muscle function. Conclusion: The present case conclude that the physiotherapy rehabilitation program on post PCL reconstruction can have a good effect on improvement of knee ROM and muscle strength.
Intervensi Fisioterapi pada Kasus Carpal Tunnel Syndrome: A Case Report Azzahra, Farikha Syifau; Perdana, Suryo Saputra; Yunanto, Sri
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction. Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah penekanan pada saraf neuropati perifer yang mengakibatkan terjepitnya saraf medianus pada jalurnya di terowongan karpal yang terletak di pergelangan tangan. Intervensi fisioterapi berupa modalitas alat dan exercise menjadi pilihan yang tepat untuk mengurangi gejala yang muncul pada penderita CTS dan membantu mengembalikan aktivitas fungsional yang terganggu. Case Presentation: Pasien dengan diagnose medis berupa Carpal Tunnel Syndrome (CTS). Dengan keluhan nyeri, keterbatasan gerak pada pergelangan tangan, dan penurunan aktivitas fungsional yang melibatkan pergelangan dan jari-jari tangan. Management and Outcome: Pengukuran dan evaluasi yang dinilai meliputi nyeri menggunakan NRS, lingkup gerak sendi dan kemampuan fungsional menggunakan Wrist Hand Disability Index (WHDI). Discussion: Pada pasien CTS diperlukan intervensi yang dapat menurunkan nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi, dan meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional. Conclusion: Pemberian modalitas alat berupa ultrasound dan Electrical stimulation yang dikombinasikan dengan tendon gliding exercise dan active ROM exercise pada Ny. U sebanyak 3x sesi terapi didapatkan hasil berupa penurunan nyeri, peningkatan LGS, dan kemampuan aktivitas fungsional.
The Effect of Providing Infrared and Breathing Exercise: Breathing Control & Thoracic Expansion Exercise on Pulmonary Empyema Patients in dr. Ario Wirawan Lung Hospital in Salatiga Sujak, Rhama Syuhada; Widodo, Agus; Lestari, Ririt Ika
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Pulmonary empyema is defined as a collection of pus in the pleural cavity, commonly with gram positive bacteria, or changes in pleural fluid. Empyema is usually associated with pneumonia but can also occur following thoracic surgery or thoracic trauma. In America, there are around 32,000 cases per year. Empyema is associated with increased morbidity and mortality, approximately 20% to 30% of affected patients will die or require further surgery in the first year after experiencing empyema. The percentage of morbidity and mortality from empyema is so high, the author is interested in making empyema into a case report paper. Case Presentation: The research method used in this research is a case report study of three physiotherapy interventions on 21 December 2023, 22 December 2023, and December 27 2023 followed by home exercise education for the patient's family. The intervention is carried out from the first meeting until the patient returns home from the inpatient ward. With the following clinical status: patient Mr. A. A. is 54 years old and works as an entrepreneur with a diagnosis of left thoracic empyema and was asked for a referral for physiotherapy by a thoracic surgeon. The patient complained of chest pain when carrying out heavy activities, coughing and WSD incisional chest pain. After intensive treatment, on December 17 2023 the patient was referred to physiotherapy for intervention. Management and Outcome: Physiotherapy care in the inpatient ward for pulmonary empyema patients was carried out from 18 December 2023 to 27 December 2023. Then they underwent infrared intervention, breathing exercise therapy: breathing control & thoracic expansion exercise. Then it was found that there was an evaluation of lung functional improvement in terms of reducing pain and reducing shortness of breath. Discussion: From three meetings with the same three interventions, more evaluation and physiotherapy procedures are needed to minimize bias in increasing functional breathing capacity, reducing pain and reducing shortness of breath. Drug therapy needs to be given to support the patient's recovery in the form of Cefixime to prevent infection, and Ibuprofen as an anti-inflammatory to prevent reacting of bacteria. In this case, patient was given home medication Cefixime 2x100mg and Ibuprofen 2x4000mg. Conclusion: In pulmonary empyema patients, the provision of breathing exercise physiotherapy interventions: breathing control & thoracic expansion exercise was evaluated to reduce pain during inspiration and was able to reduce the scale of shortness of breath.
Flexibility Lumbal Exercise Efektif dalam Mengurangi Keluhan Low Back Pain: Systematic Review berdasarkan Randomized Control Trial Mutiara, Farrah Rizky; Dewangga, Mahendra Wahyu; Fatmarizka, Tiara
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Low back pain atau nyeri punggung bagian bawah yang sering terjadi pada individu terutama pada pekerja, Hal tersebut terjadi karena jenis pekerjaan dan faktor ergonomis saat bekerja. LBP yang terjadi dengan jangka waktu yang lama disebut dengan CLBP. Faktor ergonomi atau postur yang buruk saat bekerja yang dilakukan secara berulang serta gaya hidup seperti aktivitas fisik dan kebiasaan merokok dapat menjadi salah satu faktor terjadinya LBP pada pekerja sehingga dapat mempengaruhi tingkat fleksibilitas lumbal. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka (literature review) menggunakan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Tujuan: Kajian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam terkait intervensi untuk lumbal flexibility dalam meningkatkan kualitas hidup pada setiap individu terutama pada pekerja melalui analisis data sekunder. Hasil: Fleksibilitas lumbal memiliki banyak manfaat bagi tiap individu khususnya bagi yang mengalami keluhan LBP. Fleksibilitas dapat di maksimalkan dengan Exercise yang dilakukan secara rutin di rumah. Selain pengukuran tingkat fleksibilitas lumbal (Sit And Reach Test & Finger to Floor), beberapa komponen yang dapat diatasi dengan Exercise yaitu penurunan tingkat nyeri (Numeric Rating Scale), peningkatan fungsional tiap individu (Owestry Disability Index) dan Peningkatan Kualitas hidup tiap individu (Short Form-36 (SF-36)). Kesimpulan: Exercise menjadi salah satu pengobatan non-farmakologi dan dapat dijangkau dengan mudah dan murah tetapi memiliki efek yang banyak dalam mengatasi CLBP terutama pada pekerja.
Manajemen Fisioterapi pada Reaksi Morbus Hansen Type II "A Case Report" Billa, Azizah Shalsa; Komalasari, Dwi Rosella; Wijayanti, Christina Wahyu
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Kusta tipe II atau Eritema Nodosum Leprosum (ENL) merupakan reaksi inflamasi akut yang sering ditemukan pada pasien dengan kusta tipe multibasiler. Reaksi ini dapat menyebabkan gejala sistemik seperti nyeri hebat, nodul subkutan, anhidrosis, dan pembengkakan yang berujung pada penurunan kualitas hidup pasien. Studi kasus ini bertujuan mengevaluasi efek intervensi fisioterapi berupa active assisted exercise dan oiling terhadap nyeri, odema, dan elastisitas kulit pada pasien dengan diagnosa reaksi Morbus Hansen tipe II. Case Presentation: Desain penelitian ini dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan di RS Sumber Glagah Mojokerto pada bulan Oktober-November 2024 pada seorang laki-laki berusia 26 tahun dengan diagnosa reaksi Morbus Hansen Tipe II. Management and Outcome: Penatalaksanaan fisioterapi dalam tiga sesi intervensi aktif dengan active assisted exercise, oiling, dan breathing exercise. Pemeriksaan fisioterapi dengan palpasi untuk mengukur elastisitas kulit, lembar POD (Prevention of Disability) untuk mengukur sensitivitas saraf, penilaian nyeri dengan NRS (Numeric Rating Scale) dan pengukuran lingkar odem dengan antropometri. Conclusion: Fisioterapi berupa active assisted exercise dan oiling dapat mengurangi gejala inflamasi dan mempertahankan fungsi ekstremitas pada pasien kusta tipe 2. Penanganan berkelanjutan dibutuhkan untuk memperbaiki disfungsi saraf dan elastisitas kulit secara menyeluruh.
Manajemen Fisioterapi pada pasca Rekonstruksi ACL Sinistra (Lateral Extra-Articular Tenodesis) Amanda, Mutiara Sabta; Komalasari, Dwi Rosella; Saputro, Sigit
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Rekonstruksi anterior cruciate ligament (ACL) dengan prosedur Lateral Extra-articular Tenodesis (LET) merupakan tindakan pembedahan yang bertujuan untuk mengembalikan stabilitas lutut, terutama pada pasien dengan risiko tinggi retear. Proses rehabilitasi fisioterapi pasca operasi memiliki peran penting dalam pemulihan fungsi, pengurangan nyeri, peningkatan kekuatan otot, lingkup gerak sendi dan kemampuan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam program rehabilitasi fisioterapi pada individu dengan kasus pasca rekonstruksi ACL disertai lateral extra-articular tenodesis, serta untuk mengevaluasi efektivitas program rehabilitasi yang diberikan melalui pendekatan studi kasus. Case Presentation: Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi kasus yang dilakukan pada seorang pasien pasca rekonstruksi acl. Management and Outcome: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus terhadap seorang pria berusia 19 tahun pasca rekonstruksi ACL dengan LET. Intervensi fisioterapi yang diberikan meliputi ultrasound, muscle release, latihan penguatan (quadriceps setting, SLR, clamshell, calf raise), mobilisasi patella, latihan proprioseptif, dan core strengthening. Intervensi diberikan dalam empat kali pertemuan, yang dievaluasi pada setiap pertemuannya. Evaluasi dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), goneometer, Manual Muscle Testing (MMT), dan International Knee Documentation Committee (IKDC). Discussion: Hasil menunjukkan adanya penurunan nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi, kekuatan otot, serta perbaikan fungsi aktivitas setelah dilakukan empat kali intervensi. Dengan demikian, program fisioterapi yang terstruktur dan tepat dapat memberikan perbaikan signifikan pada pasien pasca rekonstruksi ACL dengan LET. Conclusion: Program fisioterapi yang diberikan selama empat kali pertemuan menunjukkan perbaikan pasien yang diukur menggunakan NRS (Numeric Rating Scale), goneometer, MMT dan IKDC (International Knee Documentation Committee).