cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Academic Physiotherapy Conference Proceeding
ISSN : -     EISSN : 28097475     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Academic Physiotherapy Conferences are a series of activities that include international seminars and call papers. This activity aims to improve literacy and scientific publications of physiotherapy which specifically discuss cases related to problems of function and movement of the human body
Articles 260 Documents
Management Fisioterapi pada Kasus Tennis Elbow di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Apriyanto, Gusti Dwi; Wijianto, W; Setiawan, Galih Adhi Isak
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Degenerasi tendon yang paling sering terjadi pada siku adalah tennis elbow. Kelainan ini menyebabkan nyeri pada sisi lateral siku. Nyeri ini terutama terjadi pada epicondylus lateralis dan otot ekstensor pergelangan tangan. Kelainan ini terutama terjadi pada pemain tenis lapangan atau pada orang-orang yang sering menggunakan lengan bawah dalam posisi pronasi, seperti ibu rumah tangga, tukang, pemahat, montir, dan orang lain yang sering menggunakan pergelangan tangan dalam posisi ekstensi jari.Case Presentation: Desain penelitian ini dengan menggunakan metode studi kasus bertujuan untuk mengetahui manajemen fisioterapi pada kasus tennis elbow. Penelitian di lakukan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada seorang laki-laki berinisial Tn. NK berusia 31 tahun, merupakan seorang content creator dan beralamatkan Gunung Kidul, Yogyakarta, Jawa Tengah. Pasien masuk ke RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dengan keluhan nyeri pada area siku pada saat di gerakan.Management and Outcome: Pasien diberikan ultrasound, Tens dan myofascial release selama 4 minggu 4x pertemuan dengan dosis dosis 3 kali dalam 2 minggu setiap sesinya 10-15 menit. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan Range Of Motion (ROM), Manual Muscle Testing, Numeric Rating Scale dan kemampuan fungsional.Conclusion: Setelah diberikan intervensi berupa TENS, ultrasound dan myofascial release sebanyak 4x pertemuan didapatkan hasil perubahan yang cukup signifikan.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Gangguan Aktifitas Fungsional Akibat Kelemahan Otot dan Penurunan Sensibilitas pada Ekstremitas Bawah et Causa Spinal Cord Injury setelah Tindakan Meningioma dan Posterior Stabilization Fusion VTH 6-11 (on Treatment) Saputra, Hendi; Supriadi, Arin; Sukatwo, S; Komalasari, Dwi Rosella
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Spinal cord injury (SCI) adalah cedera pada medula spinalis yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk hilangnya fungsi motorik dan sensorik, serta gangguan pada organ di sekitar area cedera. SCI yang terjadi setelah berbagai tindakan medis memiliki risiko menurunnya aktivitas fungsional. Tujuan laporan kasus ini untuk mengetahui pengaruh fisioterapi multimodal terhadap nyeri dan aktivitas fungsional pada pasien pasca tindakan meningioma dan posterior stabilization fusion pada VTH 6-11 akibat spinal cord injury.Case Presentation: Penelitian ini mengidentifikasi pasien berjenis kelamin perempuan berusia 22 tahun dengan diagnosa medis spinal cord injury non traumatik akibat tumor, pasien sudah dilakukan tindakan meningioma dan juga posterior stabilization fusion pada vertebra thoracal 6 sampai 11. Neurological level of injury pasien berada pada T12Management and Outcome: Pasien menjalani intervensi fisioterapi multimodal sebanyak tiga kali, meliputi electrical stimulation, PNF joint approximation, mobilisasi pasif, penguatan tungkai bawah, serta penataan posisi. Penilaian nyeri dilakukan menggunakan Numerical Pain Rating Scale (NPRS), evaluasi tingkat neurologis dengan ASIA Scale, serta penilaian aktivitas fungsional dengan Barthel Index. Terdapat penurunan dari derajat nyeri dengan NPRS, dimana nyeri tekan area ankle 5/10 ke 4/10 dan nyeri gerak pasif dari 5/10 ke 4/10. Terdapat peningkatan motor scoring dengan ASIA Scale. Tidak ada perubahan nilai aktivitas fungsional dari sebelum dan sesudah 3 kali terapi.Discussion: Pasien dengan SCI incomplete, seperti pada kasus dengan level T12 ini, umumnya memiliki prognosis fungsional yang lebih baik dibandingkan dengan SCI complete, meskipun hasil akhir sangat bergantung pada penanganan dini yang tepat. Imobilisasi yang berkepanjangan meningkatkan risiko komplikasi seperti atrofi otot, kontraktur sendi, luka tekan, dan penurunan propriosepsi, sehingga mobilisasi dini, penataan posisi yang baik, serta latihan penguatan otot menjadi sangat penting. Kombinasi intervensi seperti electrical stimulation dengan fisioterapi standar dapat membantu mempertahankan kekuatan otot dan mendukung pemulihan neuromuskular. Namun, perbaikan fungsi yang bermakna umumnya memerlukan rehabilitasi intensif jangka panjang, sekitar 3–6 bulan, sehingga pendekatan multidisipliner yang tepat waktu sangat penting untuk memaksimalkan pemulihan dan mencegah komplikasi jangka panjang.Conclusion: Setelah menjalani tiga sesi fisioterapi multimodal, pasien menunjukkan perbaikan fungsi motorik dan penurunan tingkat nyeri. Namun, belum didapatkan peningkatan pada aktivitas fungsional.
Manajemen Fisioterapi pada Kasus Stroke Intracerebral Hemorage di RS Syaiful Anwar Malang Jawa Timur: Case Report Raihani, Ferrarista Nadja; Wijianto, W; Belinda, Melur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Stroke atau biasa dikenal sebagai cerebrovascular accident merupakan suatu penyakit pada sistem saraf pusat yang dapat menyebabkan defisit neurologis akibat dari adanya permasalahan suplai darah di otak baik berupa sumbatan/iskemik maupun pecahnya pembuluh darah/hemoragik. Menurut WHO stroke menduduki peringkat ke tiga penyebab kecacatan di dunia dengan presentase 42%. Gangguan disabilitas pada stroke dapat berupa penurunan kekuatan otot, gangguan kognitif, gangguan motorik, gangguan sensorik, gangguan komunikasi, gangguan menelan, gangguan keseimbangan dan mobilitas. Tujuan artikel ini untuk memberikan gambaran rehabilitasi fisioterapi pada pasien pasca stroke.Case Presentation: Tn. DM usia 42 tahun dengan diagnosa cerebro vascullar accident intracerebral hemorage sejak bulan Oktober 2024. Pasien mengalami gejala kelemahan separuh badan sisi kanan yang diikuti dengan adanya gangguan sensasi.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan berupa PNF, MRP, Gait training, Strengthening exercise dan NMES. Evaluasi dilakukan dengan mengukur kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing (MMT), Range of Motion (ROM) dengan Gonio Isom, dan kemampuan fungsional menggunakan Index Barthel.Discussion: Hasil intervesi fisioterapi yang diberikan sudah menunjukan adanya perbaikan meskipun masih belum signifikan. Hal ini menjadi bukti positif adanya manfaat dari intervensi yang telah diberikan dan sejalan dengan penelitian-penelitian terdahulu pada kasus serupa.Conclusion: Intervensi fisioterapi yang diberikan memberikan efek positif terhadap kondisi pasien meskipun belum signifikan. Intervensi fisioterapi yang dilakukan secara rutin dan diikuti dengan evaluasi yang terstruktur akan mendorong tercapainya hasil yang optimal.
Strengthening dan Balance Training pada Kasus Hemiparase Sinistra et Causa Stroke Hemoragik: Case Report Hanifah, Zahrani Bakhita; Komalasari, Dwi Rosella; Viola, Christine
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Stroke hemoragik sering menyebabkan hemiparase, yaitu kelemahan pada satu sisi tubuh, yang berdampak pada penurunan kekuatan otot, keseimbangan, serta aktivitas fungsional pasien. Intervensi fisioterapi yang tepat diperlukan untuk mendukung proses pemulihan. Tujuan studi kasus ini untuk mengevaluasi efek intervensi fisioterapi berupa strengthening exercise dan balance training pada pasien hemiparase pasca stroke hemoragik.Case Presentation: Seorang pria usia 60 tahun dengan hemiparase sinistra akibat stroke hemoragik, mengalami kelemahan pada ekstremitas kiri dan kesulitan berjalan. Pemeriksaan awal menunjukkan penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan (Berg Balance Scale = 24), dan ketergantungan sedang dalam aktivitas harian (Barthel Index = 70).Managmenet and outcome: Pasien menjalani fisioterapi sebanyak empat sesi dalam dua minggu yang mencakup stimulasi listrik, latihan penguatan (active-resisted, sit-to-stand, static cycle), dan latihan keseimbangan (sitting/standing balance, jalan di tempat, tandem walking). Setelah intervensi, terjadi peningkatan kekuatan otot, skor Berg Balance Scale meningkat menjadi 31, dan Barthel Index menjadi 85.Discussion: Hasil menunjukkan bahwa kombinasi strengthening exercise dan balance training efektif dalam memperbaiki kekuatan otot, stabilitas postural, serta kemandirian fungsional. Intervensi ini mendukung pemulihan motorik dan mengurangi risiko jatuh pada pasien stroke dengan hemiparase.Conclusion: Pendekatan fisioterapi terstruktur yang menggabungkan strengthening exercise dan balance training terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan fungsional pasien hemiparase pasca stroke hemoragik. Terapi ini dapat menjadi bagian penting dari program rehabilitasi pasien stroke.
Manajemen Fisioterapi pada Kasus Joint Instability et Causa Rupture Posterior Cruciate Ligament: Studi Kasus Triasari, Ana; Komalasari, Dwi Rosella; Kingkinarti, K
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Posterior Cruciate Ligament (PCL) merupakan salah satu ligamen penting dalam menjaga stabilitas lutut. Rupture PCL dapat menyebabkan ketidakstabilan sendi, nyeri, keterbatasan gerak, dan kelemahan otot, yang memerlukan intervensi fisioterapi.Purpose: Melaporkan intervensi fisioterapi pada pasien dengan joint instability akibat rupture PCL dan mengevaluasi efektivitas terapi yang diberikan.Case Presentation: Pasien laki-laki usia 57 tahun dengan keluhan nyeri dan keterbatasan gerak lutut kiri setelah bekerja dalam posisi jongkok lama.Methods Outcome: Intervensi fisioterapi dilakukan dua kali seminggu, terdiri dari Ultrasound, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), stretching, dan latihan penguatan otot (strengthening). Evaluasi dilakukan melalui pengukuran skala nyeri (NRS), kekuatan otot (MMT), lingkup gerak sendi (ROM), lingkar segmen, dan Barthel Index. Terdapat penurunan nyeri gerak dari NRS 5 menjadi 2. ROM lutut meningkat, menunjukkan perbaikan mobilitas serta pengurangan bengkak. Namun, peningkatan kekuatan otot dan kemampuan fungsional belum meningkat secara signifikan.Conclusion: Intervensi fisioterapi dengan kombinasi modalitas dan latihan terapeutik dapat membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan ROM serta mengurangi edema pada pasien dengan joint instability akibat rupture PCL. Namun, diperlukan waktu lebih lama untuk perbaikan kekuatan otot dan fungsi secara keseluruhan.
Interval Walking Training for Functional Optimization and Health in The Elderly: A Narrative Review Ishad, Muhammad Raihan; Rahman, Farid
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: The global rise in the older adult population presents challenges in maintaining their functional capacity and health. Aging is associated with declines in physical function, cardiovascular fitness, and metabolism, affecting quality of life. Interval Walking Training offers an adaptive, affordable, and safe exercise option to address these issues.Aim of the Study: This review aims to identify the benefits of Interval Walking Training in optimizing physical function and health in older adults and evaluate protocol variations and their effects.Methods: This narrative review includes seven studies published in the last ten years (2015–2025) and evaluates the effects of Interval Walking Training on various aspects of elderly health. Literature sources were obtained from PubMed, Cochrane, and Google Scholar using the keywords "Interval Walking Training," "Elderly," "Health," and "Functional Mobility."Results: Interval Walking Training consistently shows improvements in VO2max, walking speed, flexibility, and blood pressure and blood glucose control. Several studies also report improvements in quality of life. Although the effects on cognitive function are inconsistent, Interval Walking Training is considered safe, flexible, and reasonably compliant.Conclusion: IWT is a promising exercise alternative for older adults in the community and clinical settings. In the future, long-term studies with more homogeneous designs are still needed to strengthen the evidence and develop optimal protocols.
Efek Pemberian ROM Exercise pada Contracture Axilla Dextra post Burn pada Anak Usia 8 Tahun Arianeputri, Gemma Nurulfatiha; Dewangga, Mahendra Wahyu; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Cedera luka bakar menjadi penyebab utama kecacatan dari tahun ke tahun. Kontraktur akibat luka bakar menjadi salah satu komplikasi umum terjadi yang menyebabkan keterbatasan gerak dan memengaruhi area fleksibilatas seperti sendi.Case Presentation: Seorang pasien anak perempuan usia 8 tahun dengan kontraktur axilla post burn. Pasien mengeluhkan kekakuan dan keterbatasn ROM pada gerak shoulder dextra akibat kontraktur pada axilla.Management and Outcome: Pasien diberikan program latihan berupa latihan ROM aktif-pasif, mobilisasi glenohumeral joint, massage axilla, gentle stretching dan strengthening exercise dan finger walking exercise. Evaluasi nyeri, dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing (MMT), lingkup gerak sendi (ROM) menggunakan Goniometer, skala gatal menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dan kemampuan fungsional menggunakan Shoulder Pain and Disability Index (SPADI). Terdapat penurunan nyeri dan rasa gatal pada T1-T4. Pada ROM dan aktivitas fungsional SPADI dijumpai peningkatan pada T1-T4.Discusion: Pendekatan fisioterapi yang intensif seperti stretching exercise dapat meningkatkan ROM dan mencegah kekakuan lebih lanjut. Selain itu, pemberian latihan secara signifikan dapat meningkatkan kualitas hidup pada anak-anak dengan cedera post burn.Kesimpulan: Hasil dari pemberian exercise selama 4 minggu didapati hasil peningkatan ROM dan aktivitas fungsional pada pasien.
Manajemen Fisioterapi pada Kasus Frozen Shoulder Sinistra Komorbiditas Diabetes Mellitus: A Case Study Ningsih, Fitriya; Wijianto, W; Yanuar, Reza Arshad
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Frozen shoulder adalah gangguan muskuloskeletal yang ditandai dengan nyeri dan keterbatasan mobilitas sendi bahu. Salah satu faktor primer pemicu frozen shoulder adalah diabetes melitus. Prevalensi frozen shoulder pada populasi umum sekitar 0,75%, namun prevalensi frozen shoulder pada penderita diabetes melitus lebih tinggi yaitu sekitar 13,4%.Case Presentation: Seorang pasien laki-laki berusia 44 tahun yang didiagnosis menderita frozen shoulder kiri dan memiliki riwayat diabetes melitus menjalani fisioterapi selama tiga sesi. Pemeriksaan menunjukkan pasien terdapat nyeri, penurunan kekuatan otot, keterbatasan lingkup gerak sendi, dan penurunan aktivitas fungsional.Management and Outcome: Intervensi yang diberikan adalah terapi inframerah (13 menit), US (5 menit), dan terapi latihan (15–30 menit). Penilaian dilakukan dengan NRS, MMT, Goniometer, dan SPADI. Skor nyeri berkurang dari 3 menjadi 2, sementara nyeri akibat gerakan berkurang dari 4 menjadi 3. Rentang gerak sendi membaik dalam fleksi (+5°), ekstensi (+4°), abduksi (+6°), dan rotasi eksternal (+4°). Penilaian disabilitas SPADI turun dari 36,9% menjadi 33,8%.Discussion: Terapi kombinasi yang diberikan berupa terapi inframerah, ultrasound, dan terapi latihan bertujuan untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi sendi bahu pada kasus frozen shoulder sinistra.Conclusion: Terapi kombinasi inframerah, ultrasound, dan terapi latihan efektif meredakan nyeri, menjaga stabilisasi kekuatan otot, meningkatkan lingkup gerak sendi, dan kemampuan fungsional pasien frozen shoulder sinistra komorbiditas diabetes melitus.
Physiotherapy Approach in Early Elderly Patients with Neck Pain Due to Cervical Spondyloarthrosis and Cervical Hernia Nucleus Pulposus: A Case Report Apriliyani, Yuyun; Rahayu, Umi Budi; Kingkinnarti, K
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Cervical spondyloarthrosis adalah kondisi degeneratif yang menyerang vertebra cervical, termasuk sendi facet, diskus intervertebralis, dan ligamen pendukung. Cervical Herniated Nucleus Pulposus (CHNP) adalah kondisi nucleus pulposus menonjol melalui robekan annulus fibrosus yang dapat menekan saraf di sekitarnyaCase Presentation: Penelitian ini menggunakan desain case report yang dilakukan di RSUD Dr. Harjono Kabupaten Ponororgo, Jawa Timur pada tanggal 4 hingga 21 Februari 2025 pada pasien cervical spondyloarthrosis dan cervical hernia nucleus pulposus berdasarkan hasil rontgen dan MRI.Management and Outcome: Penelitian dilakukan secara langsung kepada pasien dengan kondisi cervical spondyloarthrosis dan CHNP dengan pemberian intervensi sebanyak tiga kali. Program rehabilitasi fisioterapi berupa SWD (Short Wave Diathermy), TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation), cervical traction, stretching neck, neck calliet exercise. Pengukuran yang digunakan yaitu pengukuran nyeri dengan Numerical Rating Scale (NRS), pengukuran kekuatan otot dengan Manual Muscle Testing (MMT), pengukuran Lingkup Gerak Sendi (LGS) dengan goniometer, dan pengukuran kemampuan fungsional dengan Neck Disability Index (NDI). Setelah pemberian program rehabilitasi fisioterapi selama tiga sesi didapatkan hasil adanya terjadi penurunan nyeri pada nyeri gerak dan tekan. Terjadi- peningkatan LGS pada semua bidang gerak leher. Terjadi peningkatan kekuatan otot penggerak lateral fleksi dextra dan rotasi dextra. Selain itu, terjadi penurunan disabilitas yang dibuktikan dengan menurunnya skor NDI dari 38% pre-intervensi menjadi 26% pasca-intervensi.Conclusion: Pemberian program rehabilitasi fisioterapi telah terbukti dapat menurunkan intensitas nyeri dan spasme, meningkatkan LGS, meningkatkan kekuatan otot, serta meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Carpal Tunnel Syndrome Bilateral di RSUD Panembahan Senopati Bantul: A Case Report Ardana, Shafira Dilla Setya; Perdana, Suryo Saputro; Widodo, Warih Sri
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Carpal Tunnel Syndrome adalah salah satu gangguan pada muskuloskeletal yang sering sekali terjadi akibat kompresi atau penekanan pada saraf medianus di dalam terowongan karpal pada pergelangan tangan. CTS disebabkan oleh gerakan repetitif dan posisi yang menetap pada jangka waktu yang lama yang dapat mempengaruhi saraf, suplai darah ke tangan dan pergelangan tangan.Case Presentation: Ny.S berusia 60 tahun dengan diagnosa medis CTS. ini pasien masih mengeluhkan kebas pada jari-jari tangan dan kesemutan terutama saat beraktivitas.Management and Outcome: Sesi terapi diberikan sebanyak 3 sesi terapi dengan intervensi yang sama dan dosis yang sama setiap sesi. Intervensi berupa Infra Red, TENS, Hold Relax Stretching dan Tendon and Gliding Exercise. Terdapat perubahan pada Intensitas Nyeri, Lingkup Gerak Sendi, dan Kemampuan Aktivitas Fungsional. Kombinasi pemberian modalitas Infra Red, TENS dengan terapi latihan berupa Hold Relax Stretching dan Tendon and Gliding Exercise memberikan peningkatan yang signifikan.Conclusion: Selama terapi yang dilakukan rutin selama 3 sesi di dapatkan hasil yang cukup signifikan. Pada pasien CTS terjadi penurunan nyeri, mempertahankan kekuatan otot, meningkatkan LGS, dan meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional.