cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Academic Physiotherapy Conference Proceeding
ISSN : -     EISSN : 28097475     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Academic Physiotherapy Conferences are a series of activities that include international seminars and call papers. This activity aims to improve literacy and scientific publications of physiotherapy which specifically discuss cases related to problems of function and movement of the human body
Articles 231 Documents
Penatalaksaan Fisioterapi pada Pasien dengan Kondisi Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) et Causa Emfisema di RSUD Dungus Jawa Timur: Case Report Setiawan, Rizki; Komalasari, Dwi Rosella; Utami, Mulatsih Nita
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) merupakan kondisi yang mempengaruhi paru-paru dan menghambat proses bernapas, ditandai dengan terbatasnya aliran udara yang masuk ke dalam tubuh dan bersifat progresif. Gejala utama dari COPD mencakup kesulitan bernapas, batuk yang berlangsung lama, dan keluarnya lendir. Banyak pasien merasakan suara mengi dan tekanan di dada. Terapi nebulizer dapat diterapkan kepada pasien yang menderita penyakit pernapasan obstruktif kronis, reaksi alergi, serta infeksi pada paru-paru. Pursed Lip Breathing digunakan untuk menangani isu pembersihan saluran pernapasan yang tidak optimal pada pasien COPD, Deep Breathing Exercise sangat bermanfaat dalam memperbesar volume dan kemampuan paru-paru, dan ACBT dengan efektif dapat menghilangkan dahak, meningkatkan kapasitas paru-paru serta memperbaiki fungsi pernapasan.Case Presentation: Pasien berusia 77 tahun dengan keluhan batuk, sesak disertai demam selama 3 hari, saat ini dahak belum bisa keluar. Terdapat nyeri dada bagian kiri bawah, merasa kesulitan atau ampek saat menarik napas. Nilai sesak dengan borg scale didapatkan skor 5, respiratory rate 28x/menit, saturasi oksigen 92%, mMRC dengan skor 3. Ekspansi thoraks pada axilla 2 cm, ICS 4 didapati 1 cm, processus xipoid 3 cm.Management and Outcome: Setelah pemberian terapi nebulizer, Pursed Lip Breathing, Deep Breathing Exercise dan ACBT selama 3 kali sehari dan dilakukan evaluasi 3 kali dalam sehari, didapati peningkatan saturasi oksigen dari 92% menjadi 95%, penurunan derajak sesak dari 5 menjadi 2, penurunan respiratory rate dari 28x/menit menjadi 22x/menit, dan peningkatan ekspansi sangkar thoraks pada ICS 2, ICS 4 dan prosesus xiphoideus.Conclusion: Manajemen fisioterapi untuk pasien COPD menunjukkan dampak yang baik dalam mengurangi kesulitan bernapas, meningkatkan kapasitas dada, serta fungsionalitas paru-paru, sehingga secara keseluruhan pasien merasakan perbaikan dibandingkan kondisi sebelumnya.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Bell's Palsy Sinistra: Case Study Kaidah, Muh Anugerah Dzul; Komalasari, Dwi Rosella; Sukatwo, S
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Bell's Palsy adalah kelumpuhan saraf wajah perifer yang bersifat idiopatik, biasanya terjadi secara mendadak, dan sering kali dikaitkan dengan paparan dingin yang berkepanjangan. Penatalaksanaan fisioterapi seperti penggunaan infrared, stimulasi listrik, dan pijat wajah dapat membantu mempercepat pemulihan otot wajah.Case Presentation: Seorang pria berusia 37 tahun bekerja sebagai satpam dengan paparan AC dan angin malam yang tinggi, mengalami kelumpuhan otot wajah sisi kiri. Pasien mengeluh nyeri di telinga kiri, kesulitan menutup mata, dan asimetri wajah yang nyata.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan meliputi terapi infrared, stimulasi listrik faradik, dan pijat wajah, dilakukan dua kali seminggu. Evaluasi menggunakan Manual Muscle Testing (MMT) dan Ugo Fisch Scale menunjukkan peningkatan kekuatan dan fungsi otot wajah setelah empat sesi terapi.Conclusion: Terapi fisioterapi yang terstruktur dengan kombinasi modalitas infrared, stimulasi listrik, dan facial massage terbukti efektif dalam meningkatkan fungsi dan kekuatan otot wajah pada pasien Bell's Palsy sinistra.
Eksplorasi Center of Pressure (COP) Deviasi dalam Kontrol Postur pada Gangguan Muskuloskeletal: Systematic Review Fitri, Anida Azkia; Dewannga, Mahendra Wahyu
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Gangguan muskuloskeletal merupakan penyebab utama disabilitas global dan berhubungan erat dengan penurunan kontrol postur. Deviasi Center of Pressure (COP) menjadi indikator penting dalam menilai keseimbangan tubuh pada individu dengan gangguan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi deviasi COP dalam kontrol postur pada pasien dengan gangguan muskuloskeletal berdasarkan hasil systematic review.Methods: Penelitian ini menggunakan kerangka PICO dengan pencarian artikel melalui database PubMed untuk publikasi tahun 2020-2025 menggunakan kata kunci "Center of Pressure" AND "Musculoskeletal" AND "Posture". Kriteria inklusi meliputi studi penelitian primer berbahasa Inggris, populasi dewasa usia 19-44 tahun, dan pengukuran COP sebagai variabel utama, dengan lima artikel yang memenuhi syarat.Results: Lima artikel terpilih dari 97 hasil pencarian di PubMed setelah proses seleksi inklusi dan eksklusi, kemudian dianalisis dan dinilai kualitas metodologinya menggunakan JBI Critical Appraisal Tools, dengan hasil dua studi berkualitas tinggi, satu studi baik, dan dua studi moderat. Discussion: Hasil review menunjukkan bahwa obesitas, kelelahan otot, nyeri muskuloskeletal kronis, keterbatasan rentang gerak sendi, serta kesadaran terhadap gangguan eksternal berkontribusi terhadap peningkatan deviasi COP. Deviasi ini mencerminkan penurunan stabilitas postural, terutama dalam arah mediolateral dan anteroposterior, yang meningkatkan risiko jatuh. Conclusion: Deviasi Center of Pressure (COP) berkaitan erat dengan gangguan kontrol postur pada individu dengan masalah muskuloskeletal dan mendukung penggunaannya sebagai alat evaluatif dalam perencanaan intervensi rehabilitatif yang tepat sasaran.
Efektivitas Intervensi Nonfarmakologis terhadap Low Back Pain Kronik dalam Meningkatkan Kualitas Tidur: Tinjauan Naratif Ginting, Erma Juana BR; Dewangga, Mahendra Wahyu
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Chronic Low Back Pain (CLBP) merupakan satu dari beberapa permasalahan muskuloskeletal yang sangat biasa terjadi pada orang dewasa serta kerap kali berhubungan dengan gangguan tidur, yang pada akhirnya memperburuk kualitas hidup. Keterkaitan antara nyeri dan tidur menciptakan tantangan dalam penanganan jangka panjang individu dengan nyeri punggung bawah kronis.Method: Studi ini menerapkan metode kualitatif dengan pemenggunakan pedoman Preferred Reporting Items for Naratif Literatur Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Tinjauan sistematis ini menelaah uji coba terkontrol secara acak (RCT) yang dipublikasikan antara tahun 2020 hingga 2025 dan meneliti efektivitas intervensi terhadap kualitas tidur pada orang dewasa dengan nyeri punggung bawah kronis. Artikel dikumpulkan dari database PubMed menggunakan kata kunci "chronic low back pain" dan "sleep quality". Kriteria inklusi meliputi peserta berusia ≥18 tahun dengan LBP ≥12 minggu, serta penggunaan alat ukur kualitas tidur yang tervalidasi seperti PSQI, ISI, atau PROMIS.Result: Sebanyak enam studi RCT memenuhi kriteria. Intervensi yang dianalisis mencakup mindfulness-based stress reduction (MBSR), latihan akuatik, yoga virtual, fisioterapi konvensional, stimulasi listrik (TENS), kinesio taping, dan diatermi radiofrekuensi. Mayoritas studi menunjukkan adanya peningkatan kualitas tidur, terutama pada intervensi yang menggabungkan komponen fisik dan psikologis. Mindfulness dan terapi akuatik menunjukkan hasil paling konsisten dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan kualitas tidurDiscussion: Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan multimodal yang mengintegrasikan relaksasi psikologis dan latihan fisik lebih efektif dalam meningkatkan kualitas tidur dibandingkan pendekatan tunggal yang hanya bersifat fisik. Intervensi yang fokus pada pengurangan stres dan pengaturan sistem saraf memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan teknik pasif seperti kinesio taping.Conclusion: Tinjauan ini memperkuat pemahaman bahwa kualitas tidur perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam tujuan terapi bagi pasien dengan nyeri punggung bawah kronik. Pendekatan yang menggabungkan aspek fisik dan psikologis secara bersamaan direkomendasikan karena mampu memberikan manfaat klinis yang lebih menyeluruh.
Pengaruh Cryotherapy dan Faktor Psikologis dalam Performa Atlet Bocchia Tinjauan Sistematis Sembiring, Rico Anandri; Dewangga, Mahendra Wahyu; Perdana, Suryo Saputro
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Boccia adalah olahraga yang dirancang khusus untuk atlet difabel, yang memerlukan tingkat presisi, strategi, dan koordinasi yang tinggi. Cryotherapy menjadi metode pemulihan yang efektif bagi atlet, membantu mengurangi rasa nyeri dan peradangan. Objectives: Kajian ini bertujuan untuk merangkum temuan-temuan terkini mengenai pengaruh cryotherapy terhadap pemulihan atlet serta kontribusi faktor psikologis terhadap performa atlet Boccia.Method: Jenis penelitian kajian literatur ini ndengan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian yang digunakan Quasi Eksperiment menggunakan pendekatan pre test dan post test one group. Jumlah sampel minimal yang digunakan adalah 8-12 partisipan, sesuai standar minimal studi pilot intervensi klinis. Instrumen penelitian menggunakan Ultrasonografi Muskuloskeletal (USG), Pulse oximeter atau heart rate monitor, Lembar observasi dan termometer digital.Result: Cryotherapy dan latihan berbasis Boccia terbukti efektif meningkatkan pemulihan fisik dan fungsi motorik, termasuk kekuatan dan fleksibilitas otot. Selain itu, performa atlet Boccia juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti efikasi diri dan harapan sukses, terutama pada kelas BC4.Conclusion: Berdasarkan lima artikel yang telah dianalisis, cryotherapy menunjukkan manfaat dalam pemulihan otot dan peningkatan performa fisik, sedangkan aspek psikologis seperti identitas atlet, kecemasan, dan efikasi diri berperan dalam keberhasilan kompetisi, khususnya pada atlet dengan disabilitas berat.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus post Amputation above Knee Sinistra di RSUP Prof. I.G.N.G Ngoerah: A Case Study Putra, Zulfikar Yucha; Rahayu, Umi Budi; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Amputasi merupakan sebuah prosedur pengambilan atau pemotongan bagian tubuh yang telah mengalami kerusakan jaringan atau nekrosis. Setelah menjalani amputasi seseorang akan mengalami perubahan anatomi dan fisiologi, maka diperlukan proses rehabilitasi oleh fisioterapi untuk mengoptimalkan proses pemulihan pasca amputasi.Case Presentation: Pasien Tn. I.N.A.N merupakan seorang laki-laki berusia 32 tahun datang dengan keluhan nyeri tak tertahankan dan keterbatasan gerak pada kaki kirinya akibat kecelakaan yang ia alami. Pasien didiagnosa mengalami compartement syndrome ec multiple fracture serta pasien tidak memiliki riwayat penyakit lainnya. Setelah menjalani amputasi pasien tampak lemas, mengeluhkan rasa nyeri (Phantom Pain) dan kesulitan untuk bergerak meskipun dalam keadaan di atas kasur. Pasien lalu mendapatkan rujukan untuk menjalani treatment fisioterapi dengan tujuan nyeri dapat berkurang, mampu menggerakkan anggota tubuh yang mengalami amputasi, dan pasien mampu untuk melakukan kegiatan transfer dan ambulasi.Management and Outcome: Jenis penelitian ini merupakan case report yang memiliki sampel 1 orang pasien laki-laki dengan diagnosis post amputee above knee sinistra ec compartement syndrome ec traumatic injury. Alat ukur yang digunakan yaitu Numeric Pain Rating Scale (NPRS) untuk skala nyeri, goniometer untuk lingkup gerak sendi, Manual Muscle Testing (MMT) untuk tingkat kekuatan otot, meterline untuk lingkar segmen odema, dan Amputee Mobility Predictor (AMP) untuk tingkat kemampuan fungsionalDiscussion: Setelah dilakukan pemberian intervensi oleh fisioterapi sebanyak 3 kali didapatkan hasil bahwa terjadi perubahan yang cukup meningkat pada lingkup gerak sendinya, tingkat nyeri, kekuatan otot, integritas kulit, dan kemampuan fungsionalnyaConclusion: Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi exercise serta massage dapat memberikan peningkatan kemampuan namun tidak signifikan.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Ataxic Cerebral Palsy di PNTC Colomadu: A Case Report Deistriany, Zehra Karil; Rahayu, Umi Budi; Kurniawan, Arif
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Cerebral Palsy (CP) adalah kondisi neurologis yang mempengaruhi perkembangan otak dan sistem saraf, sehingga mengganggu kemampuan motorik dan keseimbangan tubuh. Pada anak-anak, CP dapat mempengaruhi kemampuan belajar dan bergerak. Salah satu jenis CP, yaitu CP ataxia, terjadi akibat kerusakan pada bagian otak yang mengatur keseimbangan dan gerakan, sehingga menyebabkan kesulitan dalam mengontrol gerakan tubuh.Case Presentation: Pasien merupakan seorang anak perempuan yang berumur 1 tahun 11 bulan datang bersama dengan keluarganya ke PNTC. Di usia ke 6 bulan keluarga pasien merasa pertumbuhan pasien tidak seperti anak pada umumnya dan seusianya. Menurut keterangan keluarga, pasien belum mampu berguling, berlutut, posisi ongkang-ongkang, dan berdiri tegak sendiri. Pasien sudah memiliki kemampuan untuk duduk, namun posisi duduknya kurang tepat. Pasien juga masih sensitif dengan suara yang membuat ia merasa terganggu. Hingga saat usianya sekarang pasien juga belum mampu untuk berbicara dengan kata yang bermakna, hanya bisa berbicara bubbling. Pasien juga tidak memiliki riwayat penyakit, tidak terdapat permasalahan dimasa kehamilan seperti tidak pernah jatuh dan tidak ada terdiagnosa virus. Pasien lahir dalam usia kehamilan cukup bulan dan tidak ada diagnosis apapun. Pasien menerima treatment oleh fisioterapis selama 2-3 kali pertemuan setiap minggunya.Management and Outcome: Penelitian dengan metode Case Report dilakukan di Pediatric Neurodevelopmental Therapy Center pada anak berusia 1 tahun 11 bulan dengan diagnosis cerebral palsy ataxia. Anak tersebut memiliki kemampuan terbatas, yaitu hanya dapat mengangkat kepala. Penelitian ini menggunakan intervensi Neurodevelopmental Treatment (NDT), latihan kekuatan, mobilisasi sendi, dan pijat. Peningkatan diukur menggunakan beberapa alat ukur, yaitu GMFM, PFRT, PEDI, dan TCMS.Discussion: Pengukuran yang telah dilakukan pada responden cerebral palsy ataxia yang berusia 6 bulan menemukan hasil berupa GMFM, PFRT, PEDI, dan TCMS mendapatkan score yang sama dari T1-T4, yang mana GMFM dengan score 46%, PFRT dengan score <10 cm, PEDI dengan score 12,5%-25% dan TCMS dengan score total 23.Conclusion: Berdasarkan penelitian dengan menggunakan Case Report menunjukkan penatalaksanaan fisioterapi dalam jangka waktu 4 minggu sebanyak 2 kali/minggu dengan intervensi Neurodevelopmental Treatment (NDT), latihan kekuatan, mobilisasi sendi, dan pijat secara keseluruhan dari hasil evaluasi didapatkan belum ada peningkatan.
Peran Chest Physiotherapy dalam Optimalisasi Komposisi Gas Darah: Tinjauan Naratif terhadap Mekanisme Fisiologis dan Implikasi Klinis Setiawan, Galih Adhi Isak
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Pasien dengan gangguan pernapasan yang dirawat di ruang intensif sering membutuhkan ventilator mekanik. Pemantauan gas darah arteri (AGD) seperti PaO2, PaCO2, dan pH penting untuk menilai efektivitas ventilasi. Chest physiotherapy (CPT) digunakan sebagai terapi adjuvan untuk meningkatkan ventilasi dan oksigenasi, namun bukti ilmiah mengenai pengaruhnya terhadap komposisi gas darah masih bervariasi.Objective: Meninjau secara naratif efek fisioterapi dada terhadap komposisi gas darah (PaO2, PaCO2, SaO2) berdasarkan bukti ilmiah dari 20 tahun terakhir.Metode: Tinjauan naratif ini mengkaji tujuh artikel penelitian intervensional, termasuk RCT, crossover, dan review sistematis, yang mengevaluasi parameter gas darah pada pasien dewasa, anak, dan neonatus setelah intervensi CPT. Analisis menggunakan pendekatan PICO.Discussion: Teknik seperti manual hyperinflation, oscillating PEP, dan vibrasi mekanik menunjukkan peningkatan PaO2 dan penurunan PaCO2, khususnya pada pasien dewasa ventilator dan anak dengan fibrosis kistik. Namun, pada anak yang mendapat ventilator dan pasien tanpa produksi sputum, CPT tidak menunjukkan perbedaan signifikan atau bahkan menurunkan oksigenasi. Efektivitas sangat tergantung pada teknik dan kondisi pasien.Conclusion: Chest physiotherapy dapat memberikan manfaat terhadap ventilasi dan oksigenasi secara akut, namun memerlukan seleksi pasien dan teknik yang tepat agar aman dan efektif. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan desain yang kuat dan populasi homogen.
Pengaruh Intervensi Mobilization Exercises dan Scar Massage terhadap Kasus Luka Bakar Grade II AB 21,5% pada Anak: A Case Report Syinta, Ahmada Norma; Rahayu, Umi Budi; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Luka bakar (combustio) pada anak-anak merupakan kondisi yang dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan, khususnya bila tidak ditangani secara optimal. Salah satu komplikasi umum adalah terbentuknya kontraktur dan keterbatasan mobilitas, sehingga fisioterapi sejak dini sangat penting untuk mencegah disabilitas jangka panjang.Case Presentation: Seorang anak berusia 2 tahun mengalami luka bakar derajat II seluas 21,5% akibat api, dengan lokasi luka pada ekstremitas atas dan bawah. Pasien menunjukkan keterbatasan fungsi gerak, risiko tinggi kontraktur, dan nyeri pada area luka.Management and Outcome: Penanganan fisioterapi dilakukan melalui latihan range of motion (ROM) pasif dan aktif, latihan aktif-terbantu, latihan berdiri dan berjalan, latihan keseimbangan, serta massage pada jaringan parut. Evaluasi dilakukan menggunakan SWEAT untuk integritas kulit, Vancouver Scar Scale, dan WeeFIM sebelum dan setelah dua sesi intervensi. Hasil menunjukkan belum ada perubahan klinis yang signifikan, namun terdapat perbaikan berupa penurunan nyeri dari 5/10 menjadi 4/10, peningkatan fleksibilitas tungkai kiri, dan munculnya refleks meskipun masih minimal. Skor WeeFIM meningkat dari 60 menjadi 61.Conclusion: Intervensi fisioterapi awal memberikan dampak positif meskipun belum signifikan secara klinis. Lanjutan terapi secara rutin disertai program latihan di rumah sangat penting untuk mencegah kontraktur dan mendukung optimalisasi fungsi motorik pada anak dengan luka bakar.
Manajemen Fisioterapi pada Kasus Bronchiectasis et Causa post Tuberculosis Lung Disease (PTLD): Case Report Lathifani, Nabila Rizka; Komalasari, Dwi Rosella; Prayitno, P
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Bronkiektasis adalah penyakit saluran napas kronis yang ditandai dengan batuk produktif dan produksi sputum berlebihan akibat kerusakan permanen pada dinding bronkus. Dyspnea dan kelelahan juga menjadi gejala yang dapat dialami oleh penderita. Pendekatan fisioterapi diperlukan untuk manajemen gejala tersebut.Case Presentation: Penelitian ini merupakan case report dengan single subject research yang dilakukan selama dua hari pada satu pasien wanita penderita bronchiectasis. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui efek pemberian muscle release, diaphragmatic breathing, pursed lip breathing, segmental breathing, postural drainage, serta Active Cycle of Breathing Technique (ACBT). Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan parameter ekspansi thoraks, skala sesak (NRS), fungsi aktivitas (mMRC), dan auskultasi. Terdapat peningkatan ekspansi thoraks sebesar 1,3cm pada segmen axilla dan ICS IV serta 0,8cm pada segmen xyphoid process. Demikian pula suara ronchi yang menurun di area paru tertentu. Namun, tidak terjadi perubahan signifikan pada tingkat sesak (NRS) dengan nilai 2/10 dan aktivitas fungsional (mMRC) dengan grade 1.Conclusion: Intervensi fisioterapi selama dua hari menunjukkan potensi dalam memperbaiki ekspansi paru dan mengurangi suara ronchi pada pasien bronchiectasis. Pendekatan ini dapat menjadi bagian dari manajemen rehabilitasi pasien.