cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies
Core Subject : Religion, Social,
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies is an international journal published by the State Islamic Institute of Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia. It specializes in research on Islamic and social problems from a range of disciplines and interdisciplinary fields. The interdisciplinary approach in Islamic studies is used as a method to discuss and find solutions to contemporary problems and social issues. The topic covered by this journal includes fieldwork studies with different viewpoints and interdisciplinary studies in sociology, anthropology, education, politics, economics, law, history, literature, and others. The editorial team invites researchers, scholars, and Islamic and social observers to submit research articles that have never been published in the media or other journals.
Articles 216 Documents
The Significance of Partnership and Collaboration During Crisis: The Case of Humanitarian Intervention in Papua Rista Herjani Dwijayani; Ali Muhammad
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 9 No. 2 (2023): December 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v9i2.6463

Abstract

Various types of conflicts and violence that occur in Papua Land, Indonesia, have attracted a lot of attention from the international community to participate in providing assistance and creating stability in conflict areas. Unfortunately, intervention from outside is often considered to use military force and violate the concept of sovereignty of a country. This study uses qualitative descriptive methods to analyze the international community’s strategy in conducting humanitarian interventions in Papua Land, Indonesia, since the region experienced an escalation in 2008. The results show that while in conflict areas, INGO such as the ICRC, as one of the organizations that is neutral and has no internal interest, collaborates with local security forces, such as POLRI and TNI, as well as local NGO, such as PMI to carry out humanitarian interventions in the form of (1) distributing water, food, clothing, medical equipment, and medicines. (2) Carry out COVID-19 vaccination programs and cataract surgery. (3) Conducting seminars related to law enforcement based on international standards and norms. (4) Joining the “Nilai Kemanusiaan” program (humanitarian value program), (5) holding a special meeting to sign the MoU regarding the implementation of the “Humanitarian Pause”.Berbagai macam konflik dan kekerasan yang terjadi di Tanah Papua, Indonesia telah menarik banyak perhatian dari komunitas internasional untuk ikut serta dalam memberikan bantuan dan menciptakan stabilitas di wilayah konflik. Namun sayangnya, intervensi dari pihak luar seringkali dianggap menggunakan kekuatan militer dan melanggar konsep kedaulatan sebuah negara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis strategi komunitas internasional dalam melakukan intervensi kemanusiaan di Tanah Papua, Indonesia sejak wilayah tersebut mengalami eskalasi pada tahun 2008. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa selama berada di wilayah konflik, INGO seperti ICRC sebagai salah satu organisasi yang bersikap netral dan tidak memiliki kepentingan internal melakukan kolaborasi dengan aparat keamanan setempat, seperti POLRI dan TNI serta NGO local, seperti PMI untuk melakukan intervensi kemanusiaan berupa: (1) mendistribusikan air bersih, makanan, pakaian, perlengakapan medis dan obat-obatan. (2) Melaksanakan program vaksinasi COVID-19 dan operasi katarak. (3) Mengadakan seminar terkait penegakan hukum berdasarkan standar dan norma internasional. (4) Bergabung dalam program “Nilai Kemanusiaan”, (5) bahkan komunitas internasional mengupayakan penandatangan MoU untuk melaksanakan “Humanitarian Pause”.
The Oath-Taking (BAIAT) Phenomenon of Sampang Shia Become Sunni from A Human Rights Perspective Ahmad Muhlis; Abd Hannan
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 9 No. 2 (2023): December 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v9i2.6775

Abstract

This study discusses the integration of Sampang Shia followers into the Sunni sect from the Human Rights perspective. There are two formulations of the problem discussed in this study: what is the reality of the religious life of Sampang Shia adherents in Madura? Does the initiation of Shia Sampang contradict the principles of freedom of religion, especially the legal principles of human rights? This study uses a type of qualitative research. There are primary and secondary sources and data in this study. By using an analysis based on the perspective of legal sociology, this study found that Sampang  Shia adherents experienced much unexpected problems such as intimidation, expulsion, and coercion to their religious life. Even though Sampang  Shia adherents have taken allegiance to become Sunnis, they  are still feeling worried and afraid. The stigma of being a former Shia adherent makes their existence and religious activities often come under scrutiny and suspicion. From the perspective of democracy in Indonesia, the series of events that have occurred in the religious life of the Shia followers of Sampang has violated the law, as contained in Article 28E paragraph (1) and Article 29 paragraph (2). Besides that, it is contrary to the principles of human rights, especially human rights principles at the personal level related to freedom of religion.Studi ini fokus membahas fenomena pembaitan pengikut syiah Sampang ke dalam aliran Sunni ditinjau dari perspektif Hak Asasi Manusia (HAM). Terdapat dua rumusan masalah yang dibahas dalam kajian ini, bagaimana realitas kehidupan beragama penganut syiah Sampang di Madura? Adakah pembaitan Syiah Sampang bertentangan dengan prinsip kebebasan beragama, terkhusus prinsip hukum Hak Asasi Manusia? Studi ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Sumber dan jenis data dalam penelitian ini terdiri dari dua, primer dan sekunder. Dengan menggunakan analisa berdasarkan perspektif sosiologi hukum, studi ini mendapati temuan bahwa realitas kehidupan beragama muslim syiah Sampang Madura mengalami banyak perlakuan negatif seperti intimidasi, pengusiran, dan pemaksaan. Bahkan meski sudah melakukan baiat diri menjadi Sunni, mereka (Syiah Sampang) masih dilanda rasa kekhawatiran dan ketakutan. Stigma sebagai eks penganut Syiah membuat keberadaan dan aktivitas beragama mereka sering kali mendapat sorotan dan kecurigaan. Dalam perspektif demokrasi di Indonesia, rangkaian pristiwa yang menimpa khidupan beragama penganut syiah Sampang bukan saja telah melanggar perundangan, sebagaimana termuat alam pasal 28E ayat (1) dan Pasal 29 Ayat (2). Lebih dari itu, juga bertentangan dengan prinsip Hak Asasi Manusia (HAM), khususnya prinsip HAM di level personal yang terkait dengan kebebasan beragama.
Nominal Group Technique Application Towards the Formation of A Orang Asli Tok Batin Muslim Spiritual Leadership Model Marlon Pontino Guleng; Halim Mokhtar; Abdul Haiy Mahmod; Zulkefli Aini; Mustafa Kamal Amat Misra
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 9 No. 2 (2023): December 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v9i2.7266

Abstract

This article discusses the Nominal Group Technique (NGT) as an alternative strategy for developing a list of elements for the spiritual leadership model of Tok Batin Muslim. This serves as an alternative to address the shortcomings and enhance the leadership structure of the current indigenous people. The technique has been applied by researchers to construct a list of key elements in the spiritual leadership model of Tok Batin Muslim during the development phase through expert consensus in identifying and accepting the content elements of the model. The study finding shows the total scores for the leadership philosophy component obtained from respondents' views through the survey questionnaire, which is 72 with a percentage value of 93.5%. The total score for the general principles component is 70 with a percentage of 90.9%. The total score for the leadership dimension of al-Qalb is 72 with a percentage of 93.5%. The total score for the leadership dimension of al-aql is 71 with a percentage of 92.2%. The total score for the leadership dimension of nafs is 71 with a percentage of 92.2%, while the total score for the leadership dimension of external behavior is 71 with a percentage of 92.2%. Furthermore, the research findings indicate that the NGT technique has assisted researchers in quickly and easily validating elements because these elements were developed through literature review, subsequent discussions, and expert consensus. The application of the NGT technique also adds diversity to research methods in Malaysia, particularly in the field of indigenous studies.Artikel ini membahas Teknik Kelompok Nominal (NGT) sebagai strategi alternatif untuk mengembangkan daftar elemen untuk model kepemimpinan spiritual Tok Batin Muslim. Ini berfungsi sebagai alternatif untuk mengatasi kekurangan dan meningkatkan struktur kepemimpinan masyarakat adat saat ini. Teknik ini telah diterapkan oleh para peneliti untuk menyusun daftar elemen kunci dalam model kepemimpinan spiritual Tok Batin Orang Asli Muslim selama fase pengembangan melalui konsensus pakar dalam mengidentifikasi dan menerima elemen-elemen kontennya. Temuan penelitian menunjukkan skor total untuk komponen filsafat kepemimpinan yang diperoleh dari pandangan responden melalui kuesioner survei adalah 72 dengan nilai persentase sebesar 93,5%. Skor total untuk komponen prinsip-prinsip umum adalah 70 dengan persentase sebesar 90,9%. Skor total untuk dimensi kepemimpinan al-Qalb adalah 72 dengan persentase sebesar 93,5%. Skor total untuk dimensi kepemimpinan al-aql adalah 71 dengan persentase sebesar 92,2%. Skor total untuk dimensi kepemimpinan nafs adalah 71 dengan persentase sebesar 92,2%, sementara skor total untuk dimensi kepemimpinan perilaku eksternal adalah 71 dengan persentase sebesar 92,2%. Selain itu, temuan penelitian menunjukkan bahwa teknik NGT telah membantu para peneliti dengan cepat dan mudah memvalidasi elemen-elemen karena elemen-elemen ini dikembangkan melalui tinjauan literatur, diskusi selanjutnya, dan konsensus pakar. Penerapan teknik NGT juga menambah keragaman dalam metode penelitian di Malaysia, khususnya dalam bidang studi pribumi.
Social Construction of Islamic Local Tradition in Malay Community, Indonesia Hasse Jubba; Bibi Suprianto; Zaenuddin Hudi Prasojo; Didi Darmadi
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 9 No. 2 (2023): December 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v9i2.7551

Abstract

Religion in the Malay community is not only seen as something related to belief but also concerns issues of identity and symbols in other community groups. This study intends to look at the social construction of Islamic local tradition in the Malay community. This study argues that it turns out that the social construction of religion builds a cultural concept in Islamic religious values as an identity through the customs of the Malay community. In response to that argument, the question arises: How is the form of social construction of religion in the Malay community? And how does the social construction of religion affect the social life of religion in the Malay community? This research uses a media approach and literature review that explains the social construction of Islamic traditions in Malay society. The results of this study indicate that the social construction of religion in the Malay community has several important conditions. (1) religion-based tradition orientation, (2) close solidarity in religious social construction, (3) the existence of religion-based legal norms in the Malay community, and (4) a proud identity that is superior to the Malay community. These findings conclude that religious social construction in Malay society shows that religious and tribal identities develop as a religious social construction.Agama dalam masyarakat Melayu tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kepercayaan, tetapi juga menyangkut persoalan identitas dan simbol pada kelompok masyarakat lainnya. Penelitian ini bermaksud untuk melihat konstruksi sosial dari tradisi lokal Islam pada masyarakat Melayu. Penelitian ini berargumen bahwa ternyata konstruksi sosial agama membangun konsep budaya dalam nilai-nilai agama Islam sebagai identitas melalui adat istiadat masyarakat Melayu. Dengan itu, penelitian ini merumuskan sebuah pertanyaan bagaimana bentuk konstruksi sosial agama pada masyarakat Melayu? Dan bagaimana pengaruh konstruksi sosial agama terhadap kehidupan sosial keagamaan pada masyarakat Melayu? Penelitian ini menggunakan media dan studi literatur yang menjelaskan tentang kehidupan sosial dan agama dalam masyarakat Melayu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konstruksi sosial agama pada masyarakat Melayu menunjukkan bahwa; (1) adanya orientasi tradisi berbasis agama; (2) adanya solidaritas dalam konstruksi sosial agama; (3) adanya norma hukum berbasis agama pada masyarakat Melayu; dan (4) adanya kebanggaan akan identitas yang lebih unggul pada masyarakat Melayu. Dengan hasil ini, disimpulkan bahwa konstruksi sosial keagamaan dalam masyarakat Melayu menunjukkan bahwa identitas agama dan kesukuan berkembang sebagai konstruksi sosial keagamaan.
Proof of Adultery: An Islamic Legal Perspective on the Dilemma Between Norms and Human Dignity Apriyanti Apriyanti
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 9 No. 2 (2023): December 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v9i2.7599

Abstract

Allegations of brutality in the Islamic penal code significantly damage the reputation of Islam globally. The imposition of one hundred lashes as a punishment for individuals who engage in adultery can only occur if there is legal evidence to substantiate the act of adultery. The purpose of this article is to demonstrate the extent to which Islamic criminal law upholds human dignity, particularly in some cases involving individuals accused of adultery. This study adopts a normative perspective, employing an Islamic legal framework. The research collected primary and secondary data from various sources, including fiqh's books, hadith’s books, books on human rights and dignity, journals, and other articles. The Bayani method will be employed to analyze all data. Research findings indicate that adultery can be proven through three methods: the testimony of four witnesses, the confession of the perpetrator, and evidence of pregnancy. Nevertheless, in practice, achieving these three forms of evidence can be exceedingly challenging, as the fundamental tenet of Islamic penal code is to refrain from imposing penalties in cases that remain doubtful (shubhat). Islam places great significance on human rights, human dignity, and human worth.Tuduhan kejam pada hukum pidana Islam secara signifikan merusak reputasi Islam secara global. Penjatuhan hukuman cambuk sebanyak seratus kali bagi pelaku zina hanya dapat terjadi apabila terdapat bukti-bukti sah yang membenarkan perbuatan zina tersebut. Artikel ini ditujukan untuk menunjukkan sejauh mana hukum pidana Islam menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, khususnya dalam kasus-kasus yang melibatkan individu yang dituduh melakukan perzinahan. Penelitian ini berbentuk normatif, dengan menggunakan kerangka hukum Islam. Penelitian ini mengumpulkan data primer dan sekunder dari berbagai sumber antara lain buku-buku fiqih, kitab-kitab hadis, buku hak asasi dan martabat manusia, jurnal, dan artikel. Metode bayani akan digunakan untuk menganalisis seluruh data. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perzinahan dapat dibuktikan melalui tiga cara: keterangan empat orang saksi, pengakuan pelaku, dan bukti kehamilan. Namun demikian, dalam praktiknya, mewujudkan ketiga bentuk bukti ini bisa jadi sangat menantang dan sulit, karena prinsip dasar pidana Islam adalah menghindari untuk menjatuhkan hukuman dalam kasus-kasus yang masih diragukan (shubhat). Islam sangat mementingkan hak asasi manusia, harkat dan martabat manusia.
Adaptation of Popular Culture in Digital Fatwa on Social Media Dony Arung Triantoro; Fathayatul Husna; Rizky Amalia Syahrani; Futri Syam; Ainal Fitri
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 9 No. 2 (2023): December 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v9i2.7607

Abstract

The development of modern information technology and mass education does not necessarily weaken traditional religious authorities such as Habib. One of Habib's efforts to survive amidst the development of contemporary information technology is to deliver fatwas with popular culture. Fatwa is the main channel for Habib to establish and strengthen his authority. This article examines the adaptation of popular culture in digital fatwas on social media. This study uses a qualitative method. The data collection technique was carried out through netnography. Then, the data was analyzed using thematic analysis. The results of this research show that there are several forms of adaptation of popular culture carried out by Habib Husein Ja'far in conveying his fatwa on social media. First, Habib Husein Ja'far adapted slang language in conveying his fatwa on social media. Second, Habib Husein Ja'far adopted Japanese culture. Third, Habib Husein Ja'far visualized his fatwa in modern comics. Based on these findings, this study concludes that the development of modern technology has provided opportunities for habib to deliver their fatwas digitally. The form of the fatwa delivered by Habib adopts the form of popular culture, thereby attracting the attention of modern young Muslims.Perkembangan teknologi informasi modern dan pendidikan massal tidak lantas melemahkan otoritas keagamaan tradisional seperti habib. Salah satu upaya yang dilakukan habib untuk bertahan di tengah perkembangan teknologi informasi modern adalah dengan mengemas fatwa melalui budaya populer. Fatwa menjadi saluran utama bagi seorang habib untuk membentuk dan menguatkan otoritasnya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji adaptasi budaya populer dalam fatwa digital di media sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan melalui netnografi. Kemudian data dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa bentuk adaptasi budaya populer yang dilakukan Habib Husein Ja’far dalam menyampaikan fatwanya di media sosial yaitu: Pertama, Habib Husein Ja’far mengadaptasi bahasa slang dalam menyampaikan fatwanya di media sosial. Kedua, Habib Husein Ja’far mengadaptasi budaya Jepang. Ketiga, Habib Husein Ja’far memvisualisasikan fatwanya ke dalam komik modern. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa perkembangan teknologi modern telah memberikan peluang kepada habib untuk menyampaikan fatwanya secara digital. Bentuk fatwa yang disampaikan oleh habib mengadopsi bentuk budaya populer, sehingga menarik perhatian anak muda Muslim modern.
The Future of Amil Professionalization in Indonesia: Exploring Student Intentions Anas Zahir Almasri; Maryam Batubara; Juliana Nasution; Muhammad Idris Nasution
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 9 No. 2 (2023): December 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v9i2.7626

Abstract

The professionalization of amil (zakat manager) become an ongoing problem in zakat organizations and has received sharp criticism. This problem has begun to be addressed, among other things, by developing the zakat and waqf management study program (MAZAWA) in universities, but do the students themselves intend to pursue a career as professional amils in the future? This research was carried out to discuss such problems related on zakat management. The study was located at UIN Sunan Ampel, Surabaya, and IAIN Langsa, with 95 respondents. The data analysis technique uses descriptive statistics and SEM-PLS using SmartPLS 4.0 software, while to see the level of their intention to pursue a career as amil, a hypothetical statistical analysis technique is used. The research results show that the variables attitude toward the behavior (ATB) (2.608>1.98), perceived behavioral control (PBC) (1.989>1.98), and subjective norms (SN) (3.922>1.98) have a significant effect on students' intentions to pursue a career as an amil. The research results also show that MAZAWA students' intentions to have a career as amils are in the high category (1522 > 1.140 + (l.5x253,3)), so it can be said to have significantly supported efforts to professionalize amil in higher education. Their high intentions need to be supported by increasing the factors that influence them. Their high intentions need to be supported by increasing the factors that influence them; The financial benefits and professionalism of amil as a career need to be considered, the reach of beneficiaries and access to volunteering needs to be expanded, and outreach about amil careers needs to be further intensified.Problem profesionalisasi amil menjadi persoalan yang belum kunjung usai di organiasasi zakat dan mendapat kritik tajam. Persoalan ini telah mulai dibenahi, antara lain dengan pengembangan pendidikan program studi manajemen zakat dan wakaf (MAZAWA) di perguruan tinggi, namun apakah para mahasiswa sendiri memiliki intensi untuk berkarir sebagai amil profesional di masa depan? Untuk melihat bagaimana gambarannya, penelitian ini pun dilakukan. Penelitian berlokasi di UIN Sunan Ampel, Surabaya, dan IAIN Langsa, dengan jumlah responden sebanyak 95 orang. Teknik analisis data menggunakan SEM-PLS dengan software SmartPLS 4.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel ATB (2.608>1.98), PBC (1.989>1.98), dan SN (3.922>1.98) berpengaruh signifikan terhadap intensi mahasiswa untuk berkarir sebagai amil zakat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa intensi mahasiswa MAZAWA untuk berkarir sebagai amil zakat termasuk kategori tinggi (1522 > 1.140 + (l.5x253,3)), sehingga dapat dikatakan telah sangat mendukung upaya profesionalisasi amil zakat di perguruan tinggi. Tingginya intensi mereka perlu didukung dengan meningkatkan faktor-faktor yang mempengaruhinya; keuntungan secara finansial dan profesionalitas amil sebagai karir perlu untuk diperhatikan, jangkauan penerima manfaat dan akses untuk menjadi relawan perlu diperluas, dan sosialisasi tentang karir amil perlu lebih digencarkan lagi.
Analysis of Sustainable Developmen Goal from the Perspective of Islam Irwandi Irwandi; Syafruddin Syafruddin; Welhendi Azwar
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 10 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v10i1.7904

Abstract

The purpose of this article is to discuss the analysis and Sustainable Development Goals from an Islamic perspective, ideology and social ethos. The basis of the debate on sustainable development is to create conditions that balance the needs of present generations with the needs of future generations. Qualitative research methods were used in preparing this article. The type of research carried out is library research using data sources related to the writings of the Ringundan philosophers. Related works include magazines, articles, e-books, etc. The research results show that sustainable development is related to the principles of sustainable development and shows that the concepts developed by experts have their own weight and specificity. Apart from that, these concepts can show a way out of the current global environmental crisis. From an identity perspective, sustainable development cannot be separated from its monotheistic foundation. Sustainable development is still a dilemma for environmental observers, and the analysis carried out shows that the emergence of the concept of sustainable development cannot be separated from modernity and all the problems associated with it. Mapping the concept, sustainable development can be categorized into a constructive postmodernist model.  Tujuan artikel ini adalah untuk membahas analisis dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dari perspektif Islam, ideologi dan etos sosial. Dasar perdebatan mengenai pembangunan berkelanjutan adalah menciptakan kondisi yang menyeimbangkan kebutuhan generasi sekarang dengan kebutuhan generasi mendatang. Metode penelitian kualitatif digunakan dalam mempersiapkan artikel ini. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan sumber data yang berkaitan dengan tulisan para filosof Ringundan. Karya-karya terkait antara lain majalah, artikel, e-book, dll. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan berkaitan dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan menunjukkan bahwa konsep-konsep yang dikembangkan oleh para ahli mempunyai bobot dan kekhususan tersendiri. Selain itu, konsep-konsep tersebut dapat menunjukkan jalan keluar dari krisis lingkungan global yang terjadi saat ini. Dari perspektif identitas, pembangunan berkelanjutan tidak dapat dipisahkan dari landasan monoteistiknya. Pembangunan berkelanjutan masih menjadi dilema bagi para pemerhati lingkungan hidup, dan analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa munculnya konsep pembangunan berkelanjutan tidak lepas dari modernitas dan segala permasalahan yang terkait dengannya. Memetakan konsepnya, pembangunan berkelanjutan dapat dikategorikan ke dalam model postmodernis yang konstruktif
Political Islam in the Old and New Orders: Actions and Reactions of Islamic Figures Versus the State (1945-1973) Imam Ibnu Hajar; M. Yunus Abu Bakar; Mochammad Nginwanun Likullil Mahamid
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 10 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v10i1.8103

Abstract

This article examines the political landscape during Soekarno's rule (referred to as the Old Order/Orde Lama) and the early years of Soeharto's regime (New Order/Orde Baru). For Islamic political activists, the period from 1945 to 1973 was particularly challenging. Both the Old and New Orders governments were wary of Islamic parties, often blacklisting and marginalizing them. Employing historical research methods, including source collection (heuristic), source criticism, interpretation, and historiography, this article is a type of qualitative research conducted through literature study. The sources used include books from various libraries and the author's personal collection, as well as journal articles and proceedings accessed online via Google Scholar. The study is further supported by theories and political approaches, this article explores the struggle of Islamic activists during the 1955 elections, which were the first in Indonesia's history. Despite their efforts, they faced defeat rather than success, particularly in their attempts to establish Islam as the state foundation. During the New Order, Islamic groups continued to struggle. The government's strict political stance viewed the continuous criticism from Islamic parties as rebellious, leading to further suppression and their restriction to a single party, the United Development Party (Partai Persatuan Pembangunan/PPP). Additionally, this article highlights the challenges faced by Islamic activists in advocating for political participation under the pressure of an authoritarian regime. Artikel ini mengkaji lanskap politik selama masa pemerintahan Soekarno (dikenal sebagai Orde Lama) dan tahun-tahun awal rezim Soeharto (Orde Baru). Bagi aktivis politik Islam, periode dari tahun 1945 hingga 1973 sangat menantang. Baik pemerintahan Orde Lama maupun Orde Baru berhati-hati terhadap partai-partai Islam, seringkali memasukkan mereka ke daftar hitam dan meminggirkan mereka. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, artikel ini merupakan jenis penelitian kualitatif melalui studi pustaka, sumber yang digunakan adalah buku-buku dari berbagai perpustakaan maupun milik penulis pribadi, serta artikel jurnal dan prosiding yang diakses secara online pada Google Scholar. Selanjutnya diperkuat teori dan pendekatan politik, artikel ini mengeksplorasi perjuangan para aktivis Islam selama pemilu 1955, yang merupakan pemilu pertama dalam sejarah Indonesia. Meskipun upaya mereka pada akhirnya harus menuai kekalahan ketimbang keberhasilan, terutama dalam upaya untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara. Selama Orde Baru, kelompok-kelompok Islam terus berjuang. Sikap politik pemerintah yang ketat menganggap kritik berkelanjutan dari partai-partai Islam sebagai pemberontakan, yang menyebabkan penindasan lebih lanjut dan pembatasan mereka pada satu partai tunggal, yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Selain itu, artikel ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi aktivis Islam dalam memperjuangkan partisipasi politik mereka di tengah tekanan rezim yang otoriter.
Changes In Muhammadiyah’s Fajr Prayer Time Criteria: The Struggle Between Science and Religion Tasnim Rahman Fitra; Umar Yusuf; Fauziyya Hanifa
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 10 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v10i1.8116

Abstract

This article explains the science-religion struggle regarding the change in Muhammadiyah's dawn prayer time criteria, where this decision appears to be inconsistent with the research results of three previously appointed institutions. This research falls into the qualitative category, utilizing literature reviews related to the changes in Muhammadiyah's Fajr time criteria. The theory of science-religion relations is employed to dissect how the science-religion struggle is manifested in this decision. In practice, other research, philological studies, and the application in other Muslim countries also contribute to the considerations. The science-religion struggle in Muhammadiyah's decision is classified as an integrative typology in Ian Barbour's theory of science-religion relations. However, as an organization, Muhammadiyah is bound by rules to achieve its goals, guided by the Manhaj Tarjih and maslahah.  Although not explicitly neglecting the scientific aspect, setting -18° as the new criterion for Fajr time indicates Muhammadiyah's inconsistency in applying the research results of its three competent internal institutions. Artikel ini menjelaskan tentang pergumulan sains-agama dalam hal perubahan kriteria waktu subuh Muhammadiyah, dimana ketetapan ini terlihat tidak sesuai dengan hasil penelitian 3 lembaga yang telah ditunjuk sebelumnya. Penelitian ini tergolong pada penelitian kualitatif dengan menggunakan kajian kepustakaan terkait dengan perubahan kriteria waktu subuh Muhammadiyah. Teori relasi sains-agama digunakan untuk membedah bagaimana pergumulan sains-agama dalam keputusan ini. Pada prakteknya, penelitian lain oleh kader Muhammadiyah, kajian Filologi, dan penerapan pada negara muslim lain. Pergulatan sains-agama dalam keputusan Muhammadiyah ini tergolong tipologi integrasi dalam teori relasi sains-agama Ian Barbour, namun sebagai sebuah organisasi Muhammadiyah memiliki keterikatan terhadap aturan dalam pencapaian tujuan, dalam hal ini berpedoman kepada manhaj Tarjih dan kemaslahatan. Walaupun tidak serta merta sebagai pengabaian terhadap aspek sains, namun penetapan angka -18° sebagai kriteria baru waktu subuh menunjukkan ketidakkonsistenan Muhammadiyah dalam menerapkan hasil penelitian 3 lembaga internalnya yang berkompeten.