cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies
Core Subject : Religion, Social,
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies is an international journal published by the State Islamic Institute of Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia. It specializes in research on Islamic and social problems from a range of disciplines and interdisciplinary fields. The interdisciplinary approach in Islamic studies is used as a method to discuss and find solutions to contemporary problems and social issues. The topic covered by this journal includes fieldwork studies with different viewpoints and interdisciplinary studies in sociology, anthropology, education, politics, economics, law, history, literature, and others. The editorial team invites researchers, scholars, and Islamic and social observers to submit research articles that have never been published in the media or other journals.
Articles 216 Documents
Dynamics of Religious Behavior of Street Vendors in Narmada Terminal, West Lombok Regency: An Anthropological-Phenomenological Study Kamarudin Zaelani; Baiq Mulianah; Rubiyatna Sakaroni
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 10 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v10i1.8149

Abstract

This study examines the dynamics of religious behavior among street vendors in the Narmada District, West Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province. Religion is comprehensively understood to encompass both esoteric dimensions (belief, conviction, and spiritual experiences) and exoteric dimensions (rituals and practices). The study employs a religiosity research approach and an anthropological-phenomenological method. Out of 42 vendors, the research sample includes 10 street vendors selected through purposive sampling. Primary data is collected through in-depth interviews with street vendors and village authorities, while secondary data is gathered through observation and literature review to capture the phenomena and manifestations of religious behavior. This study found that the typology of religious behavior of street vendors in Narmada identified forms a unique pattern, characterized by conditional behaviors that mimic the priyayi style, adopt a santri-like demeanor at specific times, or embrace an abangan style. These behavioral patterns are influenced by internal factors, such as psychological conditions (hope and fear), and external factors, including pragmatic positivist elements (government policies, community dynamics, modernism, technology, and education levels). Economic conditions and the nature of the vendors' occupation also play a crucial role in shaping and attributing meaning to their religious behavior. Penelitian ini mengamati dan menguraikan dinamika perilaku keagamaan di kalangan pedagang kaki lima (PKL) di Terminal Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Pemahaman agama didefinisikan secara menyeluruh, mencakup dimensi esoterik (keyakinan, kepercayaan, dan pengalaman spiritual) dan dimensi eksoterik (ritual dan praktik). Menggunakan pendekatan penelitian religiositas dan metode antropologis-fenomenologis, data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan PKL dan aparat desa, sedangkan data sekunder diperoleh melalui observasi dan tinjauan pustaka untuk menangkap fenomena dan manifestasi perilaku keagamaan. Penelitian melibatkan 10 PKL yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Tipologi perilaku keagamaan yang muncul membentuk pola unik, meliputi perilaku bersyarat yang menyerupai gaya priyayi, bersikap santri pada waktu tertentu, atau mengikuti gaya abangan. Faktor internal, seperti kondisi psikologis (harapan dan ketakutan), dan faktor eksternal, termasuk elemen positivis pragmatis (kebijakan pemerintah, dinamika masyarakat, modernisme, teknologi, dan tingkat pendidikan), memengaruhi pola-pola perilaku ini. Kondisi ekonomi dan jenis pekerjaan juga memainkan peran penting dalam membentuk dan memberikan makna pada perilaku keagamaan PKL di Terminal Narmada, Kabupaten Lombok Barat, NTB  
Transforming the Religious Enthusiasm of Urban Muslims in the Choosing of Elementary-Level Education in Purwokerto, Indonesia Ahmad Muttaqin; Ifada Novikasari
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 10 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v10i1.8338

Abstract

This paper aims to analyze religious enthusiasm that does not continue after the primary school period is over and instead shows contrasting situations. Urban Muslims in Purwokerto, Indonesia, show high religious enthusiasm when choosing primary schools for their children. The number of public elementary school students has declined in the last five years, while Madrasah Ibtida'iyyah has increased dramatically. This research is field-type with data sources from urban Muslims who choose Madrasah Ibtida'iyyah as a primary school choice for their children. The data were analyzed qualitatively using a sociological approach. The study found that the religious enthusiasm of urban Muslims is pragmatic. Their pragmatic nature is shown by the resistance of different social groups that give rise to covert conflicts. In addition, they form new communities that actively represent them in public spaces. This finding has implications for a change in the perspective of the phenomenon of religious enthusiasm from theological awareness to a new trend of community-based urban Muslim pragmatism. Further research recommended the representation of the new identity of Muslim communities in virtual public spaces. Tulisan ini bertujuan menganalisis antusiasme keagamaan orang tua yang tidak berlanjut pada jenjang pendidikan setelah Sekolah Dasar dan justru menunjukkan situasi yang kontras. Muslim perkotaan di Purwokerto, Indonesia, menunjukkan antusiasme agama yang tinggi dalam memilih Sekolah Dasar untuk anak-anak mereka. Jumlah siswa Sekolah Dasar Negeri mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir, sebaliknya Madrasah Ibtida'iyyah meningkat secara drastis.. Penelitian ini berjenis lapangan dengan sumber data dari kelompok muslim perkotaan yang memilih Madrasah Ibtida'iyyah sebagai pilihan sekolah dasar untuk anak-anak mereka. Data dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Studi ini menemukan bahwa antusiasme keagamaan muslim perkotaan bersifat pragmatis. Sifat pragmatis mereka ditunjukkan melalui perlawanan dan menimbulkan konflik terselubung. Selain itu, mereka membentuk komunitas baru yang secara aktif merepresentasikannya di ruang publik. Temuan ini berimplikasi pada perubahan perspektif fenomena antusiasme keagamaan dari kesadaran teologis ke kecenderungan baru pragmatisme. Penelitian lebih lanjut merekomendasikan representasi identitas baru komunitas muslim di ruang publik virtual.
Puritanical Discourse in ‘Abd al-Hamīd al-Khatīb’s Nahj al-Burdah: Response to Excessive Praise of the Prophet Rosalinda; Nurdin; Andri Ilham
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 10 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v10i1.8450

Abstract

al-Madīḥ al-nabawī has traditionally been regarded as an expression of love for the Prophet Muhammad, encompassing accounts of his birth, miracles, praises, prayers, and hopes. However, recently, al-madīḥ al-nabawī has not only aimed to praise the Prophet but has also been transformed to serve the purpose of constructing specific discourses. Nahj al-Burdah by ‘Abd al-Ḥamīd, which includes praises of the Prophet, is suspected of containing the agenda of puritanism and criticism of religious practices deemed inconsistent with the Qur’an and Sunnah. This paper aims to uncover the discourse of puritanization in Nahj al-Burdah through Fairclough’s critical discourse analysis approach. The research reveals that Nahj al-Burdah contains puritanical discourse against excessive praise of the Prophet. This is demonstrated through the textual dimension containing ideological words and the discourse practice where the text is produced in the context of the Wahhabi reform movement to support what it believes as the purification of Islamic teachings and distributed by media and newspapers in Saudi Arabia to shape readers’ understanding of the importance of following the teachings of the salaf al-ṣāliḥ. Meanwhile, from a sociocultural practice perspective, Nahj al-Burdah serves as an effective tool for promoting puritanical discourse and reinforcing religious and political authority in Saudi Arabia during that period. al-Madīḥ al-nabawī selama ini hanya dianggap sebagai bentuk ekspresi kecintaan terhadap Nabi Muhammad yang memuat sejarah kelahiran, mukjizat, pujian, doa dan harapan. Namun, belakangan, al-madīḥ al-nabawī tidak saja bertujuan memuji Nabi tetapi juga ditransformasi untuk kepentingan membangun wacana tertentu. Nahj al-Burdah karya ‘Abd al-Ḥamīd yang memuat pujian kepada Nabi ditengarai memuat kepentingan wacana puritanisme dan kritik terhadap praktik keagamaan yang dianggapnya tidak sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah. Tulisan ini bertujuan mengungkap wacana puritanisasi dalam Nahj al-Burdah melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough. Penelitian ini menunjukkan bahwa Nahj al-Burdah memuat wacana puritanisme terhadap pujian yang berlebihan kepada Nabi. Ini ditunjukkan melalui dimensi teks yang memuat kata-kata ideologis, discourse practice di mana teks diproduksi dalam konteks gerakan reformasi Wahhabi untuk mendukung pemurnian ajaran Islam dengan didistribusikan oleh media-media dan surat kabar di Saudi Arabia untuk dapat membentuk pemahaman pembaca tentang pentingnya mengikuti ajaran salaf al-ṣāliḥ. Sementara dari sociocultural practice, Nahj al-Burdah menjadi alat yang efektif dalam mempromosikan wacana puritanisme dan memperkuat otoritas religius serta politik di Arab Saudi pada masa itu.
Time and Society in the Qur'an: Al-Ghazali’s Integration of Ancient Wisdom into Islamic Epistemology Mohammad Eisa Ruhullah; Thameem Ushama
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 10 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v10i1.8583

Abstract

This research paper, titled explores the conceptualization of time in the Qur'an and its integration into Islamic epistemology through Al-Ghazali’s theoretical framework. The study addresses the research problem of how Qur'anic depictions of time intersect with contemporary scientific theories, particularly focusing on their implications for understanding the nature of time and its relevance to modern scientific and philosophical discussions. Utilizing a secondary descriptive analysis methodology, the research systematically reviews and compares Qur'anic verses about time with current scientific theories such as Einstein's theory of relativity and cosmological concepts. The aim is to identify points of convergence and divergence between Qur'anic insights and scientific understandings, enriching the discourse on the interplay between religious wisdom and empirical knowledge. The findings reveal a harmonious interaction between spiritual and scientific narratives, demonstrating that the Qur'an’s portrayal of time as a complex, relative phenomenon aligns with modern scientific perspectives. This integration of the Integration of Knowledge (IOK) concept fosters a holistic understanding of time, bridging theological and scientific viewpoints and contributing to broader discussions in political and democratic domains. The study underscores the significance of interdisciplinary knowledge in addressing societal issues and highlights the potential for mutual enrichment between ancient wisdom and contemporary science. Future research should continue to explore these intersections and their implications for education and societal development. Makalah penelitian ini mengeksplorasi konseptualisasi waktu dalam Al-Qur'an dan integrasinya ke dalam epistemologi Islam melalui kerangka teori Al-Ghazali. Penelitian ini membahas masalah penelitian tentang bagaimana penggambaran waktu dalam Al-Qur'an bersinggungan dengan teori-teori ilmiah kontemporer, terutama berfokus pada implikasinya untuk memahami sifat waktu dan relevansinya dengan diskusi ilmiah dan filosofis modern. Dengan menggunakan metodologi analisis deskriptif sekunder, penelitian ini secara sistematis meninjau dan membandingkan ayat-ayat Al-Qur'an tentang waktu dengan teori-teori ilmiah saat ini seperti teori relativitas Einstein dan konsep-konsep kosmologi. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi titik-titik konvergensi dan divergensi antara wawasan Al-Qur'an dan pemahaman ilmiah, memperkaya wacana tentang interaksi antara kebijaksanaan agama dan pengetahuan empiris. Temuan-temuan tersebut mengungkapkan interaksi yang harmonis antara narasi spiritual dan ilmiah, yang menunjukkan bahwa penggambaran Al-Qur'an tentang waktu sebagai fenomena yang kompleks dan relatif selaras dengan perspektif ilmiah modern. Integrasi konsep Integrasi Ilmu Pengetahuan (IOK) ini menumbuhkan pemahaman holistik tentang waktu, menjembatani sudut pandang teologis dan ilmiah serta berkontribusi pada diskusi yang lebih luas dalam domain politik dan demokrasi. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pengetahuan interdisipliner dalam menangani masalah-masalah sosial dan menyoroti potensi untuk saling memperkaya antara kebijaksanaan kuno dan ilmu pengetahuan kontemporer. Penelitian di masa depan harus terus mengeksplorasi persimpangan ini dan implikasinya bagi pendidikan dan pembangunan masyarakat.
The Contribution of KH. Said Agil Siradj's Leadership in Fighting Radicalism: A Language Communication Strategy Hariyanto, Bambang
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 6 No. 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i2.3766

Abstract

This article aimed to describe Said Agil Siradj's communication strategy at the anniversary of Fatayat NU in 2019. Radicalism and terrorism have become a real threat to world peace and human values. In Indonesia, it has been categorised as an extraordinary crime, particularly since the Bali bombings in 2002. The act of anticipation has been issued by forming anti-terrorism regulation to prevent and crackdown of its action. Nevertheless, this effort is not sufficient to eradicate terrorism action. Collaboration with religious institutions is needed to deal with the questions of the religious doctrines. Therefore, the participation of religious leaders from the Islamic organisations such as Nahdlatul Ulama (NU) is essential.. The study employs a descriptive qualitative approach of critical discourse analysis, focusing on the illocutionary acts of speech acts theory. The data of the research was transcribed from the video of SAS’s speech on YouTube channel. The result shows that the speaker used types of illocutionary acts; representatives, directives, commisives, expressives, and declarations. These expressions are used to command, persuade, and warn the listeners. Meanwhile, the Islamic terms were used as a discursive practice to maintain a good relationship between a leader and the followers. Tulisan ini menjelaskan tentang bagaiamana Said Agil Siradj (SAS) mempengaruhi pendengarnya pada acara ulang tahun Fatayat NU ke-73 tahun 2019. Radikalisme dan terorisme telah menjadi ancaman bagi perdamaian dan nilai-nilai kemanusian. Di Indonesia, tindak terorisme telah menjadi bentuk kejahatan yang luar biasa sejak kejadian bom Bali 2002. Bentuk antisipasi telah dilakukan yakni dengan menerbitkan undang-undang anti-terorisme untuk menangkal dan mengatasi aksi terorisme. Penegakan hukum dan kebijakan regulasi telah dikeluarkan dalam rangka menangkalnya. Namun demikian, tindakan ini belum cukup memadai dalam pemberantasan terorisme. Kolaborasi dengan Lembaga-lembaga keagamaan diperlukan guna menjawab terkait doktrin-doktirn keagamaan. Oleh karena itu partisipasi para pemimpin agama dan organisasi keislaman seperti NU adalah penting. Namun demikian pelibatan organisasi keagamaan dalam kontek ini telah memicu munculnya perdebatan terutama Ketika organisasi tersebut mendominasi peran dalam ranah public.  Studi ini didesain berdasarkan deskripsi kualitatif pada pendekatan analisis wacana kritis yang berfokus pada tindak illokusi berdasarkan teori tindak tutur. Data penelitian ini diambil dari transkripsi Video SAS yang diambil dari YouTube. Selanjutnya data dianalisis menggunakan teori tindal ilokusi dan analsis wacana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembicara menggunakan tipe-tipe tindak tutur pada bentuk representasi, direktif, komisif, ekspresi dan deklarasi. Ekpresi-ekpresi tersebut digunakan untuk memerintah, membujuk dan melarang para pendengarnya.Adapun istilah-istilah keislaman digunakan sebagai praktik diskursif guna membangun hubungan social antara pemimpin dan pengikutnya.
The Criticism of the Political Model of Humanitys Twitter NU Garis Lucu Against Intolerant Groups and Government Ghozali, Imam
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 8 No. 1 (2022): June 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v8i1.5250

Abstract

This article examines the criticism of the political model of humanity, namely a critique of the political activities carried out by Twitter NU Garis Lucu against intolerant groups and the government that ignores human values. This twitter displays a style of criticizing and introducing new models of political values on social media, namely through witty sentences and humor across religions, ethnicities, and cultures. This model of politics becomes very important at a time when social sedia is filled with negative and provocative comments and narratives that endanger human values. As a result of this narrative, people are trapped in a rigid understanding, cannot accept differences, and easily judge other Muslims to be wrong when the latters opinions do not align with ones own. This attitude in turn leads to an understanding of identity politics based on religion, one that rejects the teaching and symbols of the state, which are in turn considered contrary to the teachings of the sharia. This research is a descriptive and a qualitative analysis of the many reactions against the NU Garis Lucu twitter handle. The first part relates to the Twitter critique of NU Garis Lucu towards intolerant groups[NP1] . The second relates to the critique that the NU Garis Lucu received with regards to its stance against government and politicians. The results of the study show that the humanitarian politics developed by Twitter NU Garis Lucu by criticizing textual Islamic groups that have the potential to divide the harmony of Islamic society and the birth path of radicalism groups that aspire to uphold Islamic law kaffah. His criticism are manifested in dialogical, witty sentences, with an approach to Islamic teachings that are friendly, tolerant, and accept diversity in religious understanding. He also criticized government policies that were detrimental to the community and politicians who often raised identity politics and ignored its substance in fighting for the interests of the community. Artikel ini mengkaji kritik model politik kemanusiaan yaitu suatu kritik terhadap kegiatan politik yang dilakukan oleh Twitter NU Garis Lucu terhadap kelompok-kelompok anti-toleransi dan pemerintah yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Twitter ini menampilkan gaya cara mengkritik dan memperkenalkan nilai-nilai politik model baru di Media Sosial, yaitu melalui kalimat-kalimat jenaka dan humor lintas agama, suku, etnis dan budaya. Politik model seperti ini menjadi sangat penting pada saat media sosial dipenuhi komentar dan narasi-narasi negatif dan provokatif yang membahayakan nilai-nilai kemanusiaan. Akibat dari narasi tersebut, masyarakat terjebak pada pemahaman yang kaku, tidak bisa menerima perbedaan, dan mudah memvonis orang Islam lain salah ketika tidak sesuai dengan pemahamanya, yang merembet pada pemahaman politik identitas yang berdasarkan agama yaitu suatu paham yang menolak ajaran dan simbol-simbol negara yang dianggap bertentangan dengan ajaran syariat. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif untuk untuk mengungkapkan hasil temuan. Pertama berkaitan dengan kritik twitter nu garis lucu kepada kaum intoleran. Kedua berkaitan dengan kritik Twitter NU Garis Lucu terhadap pemerintahan dan politisi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa politik kemanusiaan yang dikembangkan oleh Twitter NU Garis Lucu dengan melakukan kritikan atas kelompok Islam tekstual yang mempunyai potensi memecah belah kerukunan masyarakat Islam dan jalan lahirnya kelompok radikalisme yang bercita-cita menegakan syariat Islam secara kaffah. Kritikan-kritikanya diwujudkan dengan kalimat bersifat dialogis, jenaka, dengan pendekatan ajaran Islam yang ramah, toleran, dan menerima keberagaman dalam pemahaman agama. Ia juga mengkritik terhadap kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat dan para politikus yang sering mengangkat politik identitas dan mengabaikan subtansinya dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Revivalism and Exegetical Reception of At-Tahm in Islamic Higher Education Wahidah, Fatira; Ikhsan, Muh.; Halid, Yusrifah; Amir, Abdul Muiz
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 8 No. 1 (2022): June 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v8i1.5315

Abstract

This research aims to determine whether or not revivalism ideology exists among academics in Islamic higher education institutes in the province of Southeast Sulawesi. It is accomplished through the use of an exegetical reception approach of their understanding of the Āyāt at-Taḥkīm (Quran chapter al-Midah [5]:44-47). Data was gathered by combining survey technique development with in-depth interviews. The collected data was analyzed using a philosophical and phenomenological hermeneutic approach to assess the academic communitys understanding of Āyāt at-Taḥkīm. According to the survey results, Āyāt at-Taḥkīm is very popular among academics higher education institutes in Southeast Sulawesi. Most of the academic community’s information comes from religious studies on social media. They acknowledge and accept these verses as the foundation for the legitimacy of kaffah enforcement of Islamic law as the foundation for Indonesia’s political system. Meanwhile, the interviews show that most informants label those who disagree with the discourse with theological labels (kāfir and thāgūt). As a result, even though these characteristics have not reached an extreme level, their comprehension is included in the revivalism ideologys characteristics. Penelitian ini bertujuan untuk menakar eksistensi karakteristik ideologi revivalisme di kalangan sivitas akademika, khususnya di perguruan tinggi yang berada di wilayah provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Ini dilakukan dengan menerapkan pendekatan resepsi eksegesis atas pemahaman mereka terhadap Āyāt at-Taḥkīm (Q. al-Midah [5]:44-47). Data penelitian ini dikumpulkan melalui elaborasi antara teknik survey dan wawancara mendalam secara bersamaan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis mengggunakan pendekatan hermeneutika filosofis dan fenomenologis guna menakar pemahaman sivitas akademika terhadap Āyāt at-Taḥkīm. Hasil survey membuktikan bahwa Āyāt at-Taḥkīm cukup populer bagi kalangan sivitas akademika di Sulawesi Tenggara. Informasi tentangnya mayoritas diakses oleh sivitas akademika dari kajian-kajian keagamaan di media sosial. Mereka mengenal dan memahami ayat-ayat itu sebagai basis legitimasi wajibnya penegakan syariat Islam secara kaffah sebagai basis sistem politik pemerintahan di Indonesia. Sedangkan hasil wawancara membuktikan bahwa mayoritas informan menggunakan label-label teologis (kafir dan thagt) terhadap orang-orang yang menolak wacana tersebut. Meskipun pemahaman mereka dapat dikategorikan mengandung karakteristik ideologi revivalisme, tetapi belum termasuk level yang ekstrem, sehingga masih berpeluang bagi mereka untuk mendapatkan pembinaan.
The Digital Public Sphere and Muslim Piety in Aceh: Rethinking Habermas Conception of Communicative Action Bhakti, Sufri Eka; Dhuhri, Saifuddin
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 8 No. 1 (2022): June 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v8i1.5462

Abstract

This study offers insights into the transformation of social media platforms as an alternative to the digital public sphere for Muslim society in Aceh. The communicative action theory by Habermas is used as approach to respond to this challenge. Descriptive quantitative analyses were used to expose religious discourse about Islam amongst young Muslims in Aceh. The results show that WhatsApp has proven to be the most popular among social media platforms. WhatsApp has functioned as a new public sphere for Muslim society in Aceh and has evolved into an essential part of mediated Islamic discourse in the digital era. In this regard, WhatsApp has created a universal public sphere, available to Muslim society as dialogic communication in Aceh. This research concludes that the Muslims in Aceh are not merely users of WhatsApp. They can also be digital preachers who can build individual narratives as a part of the religious struggle to increase their piety.Kajian ini dilakukan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana transformasi platform media sosial sebagai alternatif ruang publik digital pada masyarakat Muslim di Aceh. Teori tindakan komunikatif Habermas digunakan sebagai pendekatan untuk menjawab tantangan ini. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk mengekspos diskursus keagamaan Islam di kalangan generasi muda Muslim di Aceh melalui lanskap media sosial baru yang lebih kontemporer. Hasilnya menunjukkan bahwa WhatsApp telah terbukti menjadi media yang paling populer di antara banyak platform media sosial. WhatsApp telah memberikan manfaat sebagai alternatif ruang publik baru bagi masyarakat Muslim di Aceh dan telah berkembang menjadi bagian penting dalam perkembangan diskursus keislaman di era digital. Dalam hal ini, WhatsApp telah menciptakan ruang publik yang universal, tersedia bagi Muslim sebagai satu bentuk komunikasi dialogis di Aceh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa umat Islam di Aceh bukan hanya pengguna WhatsApp saja. Namun, mereka juga menjadi penceramah digital yang dapat membangun narasi individu yang dipilih sebagai bagian dari perjuangan dakwah untuk meningkatkan ketakwaannya
Abdurrauf al-Singkilis Concept of Insan Kamil in Facing The Crisis of Modern Human Morality Ihsan, Nur Hadi; Sa’ari, Che Zarrina Binti; Hidayat, Muhammad Sofian
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 8 No. 1 (2022): June 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v8i1.5487

Abstract

This paper explores Abdurrauf al-Sinkili's (1615-1693) concept of Insan Kamil in light of contemporary moral problems. The study of Insan Kamil raises human awareness about the essence of his identity as a servant of God, is crucial. It is even more so at a time when secular values and worldviews eliminate religion and God by making utilitarianism, pragmatism, materialism, and hedonism the moral foundation of humanity. Therefore, serious efforts are needed to resolve this moral quandary. The concept of Insan Kamil of Abdurrauf al-Sinkili, a vibrant Indonesian intellectual well-known in several scholarly fields, discusses the meaning, purpose, and nature of human life and can be employed as an antidote to the present crisis. This library research drew on a wide range of authoritative sources utilizing documentary techniques to collect the data and employing content analysis methods to address the issues. This paper concludes that the concept of al-Sinkili's Insan Kamil can be an antidote to today's moral dilemma, particularly regarding human attitudes that adhere to utilitarianism, materialism, pragmatism, and hedonism way of life. This finding demonstrates that the Insan Kamil concept is a viable answer to the current moral predicament. Peneleitian ini bertujuan memaparkan konsep Insan Kamil Abdurrauf al-Sinkili dalam kaitannya dengan problematika moral kontemporer. Kajian tentang Insan Kamil yang membangun kesadaran manusia tentang hakikat jati dirinya sebagai hamba Tuhan menjadi sangat penting. Terlebih lagi jika hal ini dikaitkan dengan hegemoni nilai-nilai dan worldview sekular yang mengeliminasi agama dan Tuhan karena utilitarianisme, pragmatisme, materialisme, dan hedonisme dijadikan sebagai landasan moral kemanusiaan. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang serius untuk mengatasi dilema ini. Konsep Insan Kamil Abdurraurf al-Sinkili, seorang intelektual Indonesia yang dinamis dan kenamaan di beberapa bidang keilmuan, yang membahas tentang makna, tujuan, dan hakikat hidup manusia dapat digunakan sebagai penangkal krisis ini. Artikel ini adalah riset kepustakaan yang menggunakan teknik dokumenter untuk menghimpun data dari berbagai sumber otoritatif berupa buku, artikel, dan berbagai bahan penerbitan lainnya. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis konten. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep Insan Kamil al-Sinkili dapat dijadikan sebagai jawaban untuk mengatasi krisis moral manusia modern dewasa ini, khususnya dalam menangani sikap manusia yang menjadikan utilitarianisme, materialisme, pragmatisme, dan hedonisme sebagai pandangan hidup. Temuan ini menunjukkan bahwa konsep Insan Kamil adalah penawar unggul bagi krisis moral manusia modern saat ini.
Preaching Moderate Islam in Contemporary Indonesia Through The Concept of Islam Rahmatan Li al Alamin : A Study of Kia Hasyim Muzadis Thought Zamhari, Arif
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 9 No. 1 (2023): June 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v9i1.6239

Abstract

This article attempts to analyze how Indonesian Muslim scholars, such as Kiai Hasyim Muzadiwith his Nahdlatul Ulama background, not only profoundly understand the term of Moderate Islam but also implement this term within the Indonesian context. Data were obtained from interviews with Kiai Hasyims friends, family and documents on his unpublished textual speeches, notes, and comments on media. This study showed that moderate Islam is a term that has different meanings and has raised an intense debate among Muslim scholars. For instance, some Muslim scholars and activists in the United States even try to avoid using this term, and some use it with high caution. Unlike their colleagues in other countries, Indonesian scholars use this term as an icon of their activism and to label their respected organizations appropriated with this term. Using the Quranic term of Islam Rahmatan lil Alamin, Kiai Hasyim Muzadi introduces and promotes the moderate Islamic teachings to Indonesian Muslim and global societies. He believes that the core of Islamic teaching is in its moderate teachings and values. He argues that only with this moderate values and teaching, Islam will respond to the contextual problem faced by Muslims in the World.