cover
Contact Name
Octavia Dwi Wahyuni
Contact Email
octaviaw@fk.untar.ac.id
Phone
+6282122010570
Journal Mail Official
tmj@fk.untar.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Gedung J Lt. 2 Jl. Letjen S.Parman No. 1, Grogol, Jakarta Barat Kode Pos: 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Tarumanagara Medical Journal
ISSN : 26547147     EISSN : 26547155     DOI : https://doi.org/10.24912/tmj
Core Subject : Health, Science,
Tarumangara Medical Journal adalah jurnal kedokteran dan kesehatan yang dikaji oleh pakar yang ahli dalam bidangnya. Tarumangara Medical Journal berfokus meningkatkan wasasan dan pengetahuan ilmu kedokteran dasar, kedokteran klinis dan kedokteran komunitas dengan pendekatan Evidence-Based Medicine berupa artikel asli. Konten Tarumanagara Medical Journal meliputi artikel-artikel terkini dalam bidang Biologi Molekuler, Histopatologi, Alergi dan Imunologi, Studi Sel Punca, Gizi, Geriatri, Farmakologi, Herbal, Infeksi dan Penyakit Tropis, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Obstetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Bedah, Neurologi, Oftalmologi, Otolaringologi, Dermatovenerologi, Psikiatri, Radiologi, Forensik, Rehabilitasi Medik dan Kedokteran Olah Raga.
Articles 395 Documents
Pengetahuan dan sikap tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Feraz Zaki Azzubaidi; Sony Sugiharto
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9725

Abstract

Kanker payudara merupakan jenis kanker terbanyak yang terjadi pada wanita. Perlu dilakukan upaya untuk pencegahan kanker payudara melalui deteksi dini kanker payudara. Salah satu cara mendeteksi dini kanker payudara yaitu dengan melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Studi ini adalah studi analitik eksperimental dengan cara quasi-experimental.  Responden studi ini adalah 68 mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2017 yang bersedia mengikuti studi ini. Responden diberikan kuesioner sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap responden. Hasil studi ini didapatkan peningkatan pengetahuan menjadi lebih baik dari 19 (27,9%) responden sebelum penyuluhan menjadi 55 (80,9%) responden setelah penyuluhan. Peningkatan sikap menjadi lebih baik juga terjadi yaitu dari 22 (32,4%) responden sebelum penyuluhan menjadi 58 (85,3%) responden setelah penyuluhan. Analisis statistik pengetahuan dan sikap tentang SADARI sebelum dan sesudah penyuluhan didapatkan nilai signifikan p-value 0.0001 yang artinya terdapat perubahan pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan mengenai SADARI.
Pengaruh hipoksia sistemik kronik terhadap aktivitas spesifik enzim katalase pada darah dan paru tikus Sprague dawley setelah diberi daun ara Ferdian Ferdian; David Limanan; Frans Ferdinal; Eny Yulianti
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9726

Abstract

Hipoksia merupakan keadaan kekurangan oksigen yang dapat menyebabkan stres oksidatif apabila terjadi ketidakseimbangan prooksidan dan antioksidan. Dalam menyeimbangkan hipoksia, tubuh membutuhkan antioksidan yaitu katalase sebagai antioksidan endogen dan daun ara sebagai antioksidan eksogen. Studi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh hipoksia sistemik kronik terhadap aktivitas spesifik katalase darah dan organ paru tikus setelah diberi daun ara.  Studi ini merupakan studi eksperimental in vitro terhadap aktivitas spesifik katalase tikus yang dihipoksia sistemik kronik setelah pemberian ekstrak daun ara. Ekstrak daun ara didapatkan dengan metode maserasi dengan pelarut etanol. Tikus Sprague dawley dibagi menjadi 8 kelompok dengan setiap kelompok berisi 4 ekor tikus yang dibagi menjadi 2 kelompok dosis ekstrak daun ara yaitu dosis kental (300 mg/KgBB/hari) dan dosis encer (150 mg/KgBB/hari). Tiap kelompok dosis dibagi lagi menjadi kelompok tidak dihipoksia, kelompok hipoksia (8%O2, 96% N2) 1, 3 dan 7 hari. Aktivitas spesifik katalase diukur dengan metode Mates. Hasil studi ini didapatkan peningkatan aktivitas spesifik katalase paru dan darah pada hari pertama yang disebabkan oleh hipoksia dan penurunan aktivitas spesifik katalase setelah diberikan ekstrak daun ara. Terdapat korelasi antara aktivitas spesifik katalase paru dan darah pada kelompok kental, namun tidak pada kelompok encer. Studi ini menyimpulkan bahwa hipoksia akan menyebabkan stres oksidatif, yang akan direduksi oleh antioksidan endogen maupun eksogen.
Gambaran alasan penolakan maupun persetujuan dan tingkat pengetahuan terhadap otopsi forensik pada masyarakat Kecamatan Bangko dan Bangko Barat Fitria Ramadhana Handayani; Norbert Tanto Harjadi
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9727

Abstract

Otopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat yang meliputi pemeriksaan bagian tubuh luar dan bagian tubuh dalam. Otopsi dapat mengetahui penyebab kematian pada kasus-kasus yang tidak jelas atau dicurigai mengandung unsur pidana. Namun, pada sebuah kasus disebutkan keluarga korban menolak untuk dilakukan otopsi forensik sehingga tidak dilakukannya otopsi ini menjadi salah satu penyebab kasus sulit diungkap. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui alasan penolakan maupun persetujuan dan tingkat pengetahuan terhadap otopsi forensik pada masyarakat Kecamatan Bangko & Bangko Barat. Studi deskriptif dilakukan pada bulan Januari 2019. Data diperoleh dari pengisian kuesioner pada masyarakat usia ? 21 tahun terdiri atas 3 soal mengenai alasan persetujuan maupun penolakan otopsi forensik dan 9 soal mengenai tingkat pengetahuan otopsi forensik. Hasil studi didapatkan sebagian besar alasan persetujuan otopsi forensik adalah untuk mengetahui motif/penyebab kematian pada korban pembunuhan (32,2%), korban bunuh diri (22,7%), dan korban kecelakaan (22%), alasan penolakan otopsi forensik adalah tidak sesuai/larangan agama dan berdosa pada korban pembunuhan (12,7%), korban bunuh diri (12,9%), dan korban kecelakaan (14%), dengan sebagian besar masyarakat mempunyai tingkat pengetahuan yang kurang (58,9%).
Hubungan kebiasaan menyikat gigi dengan karies pada siswa SD X di Jakarta Barat tahun 2019 Giovanno Sebastian Yogie; Ernawati Ernawati
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9728

Abstract

Karies gigi adalah sebuah penyakit infeksi yang merusak struktur gigi sehingga menyebabkan gigi berlubang. Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menimbulkan rasa nyeri, penanggalan gigi, infeksi, bahkan sampai kematian. Berdasarkan studi Global Burden of Disease tahun 2015, karies gigi merupakan penyebab utama kerusakan gigi permanen pada 2,3 miliar orang dan juga penyebab kerusakan gigi sulung pada 560 juta anak. Peningkatan prevalensi karies banyak dipengaruhi dari perubahan pola makan, seperti banyak mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung karbohidrat. Menyikat gigi adalah suatu kegiatan membersihkan gigi dan mulut dari sisa makanan, plak dan mikroorganisme yang merugikan. Menurut Riskesdas 2018, proporsi perilaku menyikat gigi dengan benar penduduk Indonesia berusia >3 tahun terbilang rendah, yaitu 2,8%. Tujuan studi ini untuk melihat hubungan antara kebiasaan menyikat gigi dengan kejadian karies pada siswa SD X di Jakarta Barat. Studi ini adalah studi analitik dengan desain potong lintang. Sampel studi adalah 116 siswa yang diambil dengan teknik consecutive sampling. Uji statistik menggunakan uji Chi-square. Proporsi karies gigi didapatkan sebanyak 65 (40,4%) siswa dan proporsi kebiasaan menyikat gigi buruk didapatkan sebanyak 57 (35,4%) siswa. Secara statistik, tidak didapatkan hubungan kebiasaan menyikat gigi dengan kejadian karies dengan p-value = 0,870, tetapi secara epidemiologi didapatkan risiko karies gigi lebih tinggi pada siswa yang memiliki kebiasaan sikat gigi buruk (PR = 1,068). Kebiasaan menyikat gigi yang buruk termasuk salah satu faktor yang berperan terhadap kejadian karies gigi.
Hubungan antara tingkat intensitas latihan fisik dengan prevalensi rhinitis pada mahasiswa Universitas Tarumanagara berusia 18-24 tahun Graciela Aprilia Djohan; Sari Mariyati Dewi
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9729

Abstract

Rhinitis merupakan salah satu gejala gangguan saluran pernafasan yang sering terjadi pada orang dewasa muda.  Latihan fisik adalah aktivitas fisik yang dilakukan secara terencana, terstruktur, dan berulang-ulang dengan tujuan mengembangkan atau mempertahankan kesehatan. Beberapa studi terdahulu mengindikasikan bahwa olahraga dengan intensitas sedang yang dilakukan secara teratur dapat menurunkan terjadinya gangguan saluran pernafasan. Studi cross-sectional ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat intensitas latihan fisik terhadap prevalensi rhinitis pada mahasiswa Universitas Tarumanagara. Subyek studi berjumlah 192 responden dengan rentang usia 18-24 tahun yang direkrut secara konsekutif dan data subyek dikumpulkan dengan menggunakan Google form.  Studi ini mendapatkan pada kelompok yang tidak melakukan latihan fisik rutin risiko rhinitis sebesar 1,61 kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang melakukan latihan fisik rutin; namun hubungan antara latihan fisik dan prevalensi rhinitis tersebut tidak bermakna secara statistik (PR=1,61; P=0,14).  Latihan fisik rutin kemungkinan berkontribusi untuk menurunkan kejadian rhinitis.
Gambaran pengaruh hipertensi pada kehamilan terhadap ibu dan janin serta faktor-faktor yang memengaruhinya di RSUD Ciawi Ignasius Hans; David Dwi Ariwibowo
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9730

Abstract

Hipertensi pada kehamilan dapat menimbulkan komplikasi terhadap ibu berupa trombositopenia, infark miokard, edema paru, kematian maternal dan penurunan fungsi ginjal. Dampak yang ditimbulkan juga dapat berakibat terhadap janin, berupa kematian janin dan berat badan lahir rendah (BBLR). Hipertensi pada kehamilan dipengaruhi oleh usia, status gizi, riwayat hipertensi dan paritas ibu mengandung. Studi ini untuk mengetahui gambaran pengaruh hipertensi pada kehamilan terhadap ibu dan janin, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kejadiannya di RSUD Ciawi. Studi deskriptif dengan menggunakan judgemental non - random sampling terhadap 88 ibu hamil di RSUD Ciawi. Data diperoleh menggunakan rekam medis. Berdasarkan usia, didapatkan 33 (37,5%) subyek berusia ? 20 tahun atau ? 35 tahun dan 55 (62,5%) subyek berusia 21-34 tahun. Berdasarkan status gizi, 47 (53,41%) subyek memiliki IMT normal dan 41 (46,59%) subyek memiliki IMT obesitas. Dari faktor riwayat hipertensi ditemukan 21 (23,86%) subyek memiliki riwayat hipertensi sebelumnya dan 67 (76,13%) subyek tidak memiliki Riwayat hipertensi sebelumnya. Dari faktor paritas, 25 (28,41%) subyek adalah primigravida dan 63 (71,59%) subyek multigravida. Berdasarkan komplikasi, ibu hamil dengan hipertensi yang memiliki komplikasi trombositopenia sebanyak 3 (3,41%) subyek, penurunan fungsi ginjal sebanyak 2 (2,27%) subyek serta tidak ditemukan komplikasi edema paru dan kematian maternal. Komplikasi yang terjadi pada janin berupa BBLR sebanyak 25 (28,41%) subyek dan kematian janin  sebanyak 4 (4,55%) subyek.
Hubungan derajat sesak napas dengan kualitas hidup pada pasien penyakit paru obstruktif kronik stabil di Poliklinik Paru RSUP Persahabatan Indah Monica; Hari Sutanto
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9731

Abstract

Keluhan utama pasien penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah sesak napas yang bersifat persisten dan progresif sehingga mengakibatkan pasien menghindari aktivitas. Hal ini berdampak penurunan pada kualitas hidup pasien. Studi ini dilakukan untuk mengetahui hubungan derajat sesak napas dengan kualitas hidup pasien PPOK stabil di Poliklinik RSUP Persahabatan. Studi analitik dengan desain cross-sectional ini memiliki 56 subjek PPOK dipilih secara konsekutif. Derajat obstruksi dinilai dengan spirometry, pengukuran derajat sesak napas dinilai dengan kuesioner modified British medical research council (mMRC) scale dan kualitas hidup dinilai dengan kuesioner St. George’s respiratory questionnaire - COPD specific (SGRQ-C). Rerata usia subyek PPOK 62.7 tahun dengan mayoritas subyek adalah laki-laki sebanyak 50 (89,3%) subyek. Hasil studi didapatkan 37 (66.2%) subyek dengan derajat obstruktif sedang (60%>VEP1/KVP>30%), 34 (60.7%) subyek dengan derajat sesak napas ringan-sedang (mMRC scale 1-2) dan 41 (73,2%) subyek memiliki kialitas hidup baik. Hasil uji Spearman menunjukkan terdapat hubungan bermakna derajat sesak napas PPOK dengan kualitas hidup (p value 0.000) dengan kekuatan korelasi sedang (-0.531). Hasil negatif menunjukkan semakin rendah derajat obstruksi maka kualitas hidup makin tinggi. Kesimpulan pada studi ini terdapat hubungan antara derajat sesak napas dengan kualitas hidup pasien PPOK Stabil di Poliklinik RSUP Persahabatan.
Gambaran indeks massa tubuh pasien osteoarthritis lutut di RS Royal Taruma tahun 2011-2018 Jason Arvin; Frans Pangalila
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9732

Abstract

Osteoarthritis lutut sering disertai dengan kormoboditas seperti obesitas atau kelebihan berat badan (90%), hipertensi (40%), depresi (30%), dan diabetes (15%). Berat badan yang sangat berlebih berperan penting dalam stres sendi karena memberikan tekanan, terutama sendi yang menahan beban tubuh seperti lutut dan pinggul. Studi deskriptif ini untuk mengetahui gambaran IMT dengan tingkat terjadinya osteoarthritis pada RS Royal Taruma. Studi ini menggunakan pendekatan studi kasus terhadap 100 rekam medik. Hasil studi didapatkan mayoritas penderita OA lutut memiliki IMT dengan kategori obesitas 45% pasien, kategori gemuk 38% pasien, dan kategori normal sebanyak 17% pasien. Tidak terdapat pasien OA lutut yang berusia kurang dari 40 tahun, sedangkan pada kategori usia 40-60 tahun terdapat 33% pasien, dan pada kategori usia diatas 60 tahun terdapat 67% pasien. Mayoritas penderita osteoarthritis lutut baik bilateral maupun unilateral memiliki indeks massa tubuh obesitas dan gemuk.
Hubungan antara HbA1c dengan laju filtrasi glomerulus pada pasien diabetes melitus tipe 2 di rumah sakit swasta Jakarta Barat Jennefer Jennefer; Paskalis Andrew Gunawan
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9733

Abstract

Diabetes melitus (DM) adalah suatu penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia. Prevalensi DM diperkirakan akan meningkat hingga 592 juta orang di tahun 2035. DM tipe 2 merupakan bentuk paling umum dari penyakit ini, sekitar 90% dari kasus merupakan DM tipe 2. Menurut Sample Registration Survey (SRS) 2014, penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia adalah DM dengan komplikasi. Nefropati merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi pada DM tipe 2. Nefropati ditandai dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG). LFG dapat diukur dari kadar serum kreatinin dengan menggunakan formula Chronic Kidney Disease Epidemiology Collaboration (CKD-EPI). Studi ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara HbA1c dengan LFG pada pasien DM tipe 2. Studi bersifat analitik dengan desain cross-sectional. Studi dilakukan di salah satu rumah sakit swasta Jakarta Barat dengan menggunakan 108 responden dari rekam medis pasien DM tipe 2. Data yang diambil yaitu hasil pemeriksaan kadar HbA1c dan serum kreatinin. Data dilakukan analisis bivariat dengan uji statistik Spearman untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara HbA1c dengan LFG pada pasien DM tipe 2. Hasil studi tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara HbA1c dengan LFG (p value = 0,217), tetapi dari hasil tersebut ditemukan juga responden dengan kadar HbA1c yang tinggi lebih berisiko 1,04 kali mengalami penurunan LFG (PR = 1,04).
Pengaruh pemberian ekstrak daun Berenuk (Crescentia cujete) terhadap aktivitas spesifik katalase darah dan hati tikus Sprague dawley yang diinduksi hipoksia Jessica Englo; Oentarini Tjandra
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9734

Abstract

Berenuk (Crescentia cujete) merupakan tanaman yang tumbuh di Indonesia dan telah digunakan sebagai obat sakit kepala, diuretik, serta menyembukan luka. Hal ini mungkin karena efek antioksidannya sebagai penangkal pengaruh buruk radikal bebas yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Tujuan studi ini untuk mengetahui kandungan dan kadar antioksidan ekstrak etanol daun berenuk serta pengaruhnya terhadap aktivitas spesifik enzim katalase darah dan hati tikus Sprague dawley yang diinduksi hipoksia. Studi ini merupakan studi eksperimental dengan uji in vitro dan in vivo. Studi dilakukan dalam 2 kelompok (cekok dan kontrol), dengan 4 perlakuan yaitu normoksia, hipoksia 3 hari, 7 hari dan 14 hari. Parameter yang diukur adalah aktivitas spesifik katalase hati dan darah tikus. Data diolah dengan GraphPad Prism v7.01, uji Mann-Whitney dan uji korelasi Pearson. Hasil didapatkan aktivitas spesifik katalase hati dan darah semakin menurun seiring dengan lamanya hipoksia dan berkorelasi sangat kuat (cekok r= 0.9939; kontrol r=0.9918) baik pada tikus cekok maupun kontrol. Aktivitas spesifik katalase darah dan hati kelompok tikus cekok lebih tinggi dibandingkan kontrol.