cover
Contact Name
Octavia Dwi Wahyuni
Contact Email
octaviaw@fk.untar.ac.id
Phone
+6282122010570
Journal Mail Official
tmj@fk.untar.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Gedung J Lt. 2 Jl. Letjen S.Parman No. 1, Grogol, Jakarta Barat Kode Pos: 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Tarumanagara Medical Journal
ISSN : 26547147     EISSN : 26547155     DOI : https://doi.org/10.24912/tmj
Core Subject : Health, Science,
Tarumangara Medical Journal adalah jurnal kedokteran dan kesehatan yang dikaji oleh pakar yang ahli dalam bidangnya. Tarumangara Medical Journal berfokus meningkatkan wasasan dan pengetahuan ilmu kedokteran dasar, kedokteran klinis dan kedokteran komunitas dengan pendekatan Evidence-Based Medicine berupa artikel asli. Konten Tarumanagara Medical Journal meliputi artikel-artikel terkini dalam bidang Biologi Molekuler, Histopatologi, Alergi dan Imunologi, Studi Sel Punca, Gizi, Geriatri, Farmakologi, Herbal, Infeksi dan Penyakit Tropis, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Obstetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Bedah, Neurologi, Oftalmologi, Otolaringologi, Dermatovenerologi, Psikiatri, Radiologi, Forensik, Rehabilitasi Medik dan Kedokteran Olah Raga.
Articles 395 Documents
Prevalensi rinitis alergi berdasarkan gejala klinis pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2015 William Tanaka; Mira Amaliah
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i2.7858

Abstract

Rinitis alergi secara klinis didefinisikan sebagai gejala-gejala hipersensitivitas pada hidung yang diinduksi oleh inflamasi (IgE-dependent) setelah terpapar alergen. Gejala-gejala rinitis alergi termasuk rinore, hidung tersumbat, hidung gatal-gatal, bersin, dan postnasal drip yang reversibel. Studi ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi rinitis alergi berdasarkan gejala klinis pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2015. Studi deskriptif dengan pendekatan potong lintang dilakukan pada 89 responden. Kuesioner berdasarkan ARIA guidelines 2010 dan sampel diambil dengan judgemental sampling. Hasil studi menunjukkan responden yang diduga menderita rinitis alergi berjumlah 12 (13,5%) orang.
Perbandingan penggunaan Serum Chiaprotec 4% dan Serum Cutipure 10% dalam mengurangi tanda-tanda inflamasi kulit berjerawat Yessy Khoirunnisa Octavia; Sukmawati Tansil
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i2.7859

Abstract

Akne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun unit pilosebasea. Serum Cutipure diketahui memiliki sifat anti-inflamasi dan anti-mikroba yang kuat, sedangkan serum Chiaprotect memiliki efek menenangkan dan juga membantu mengurangi peradangan. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk membandingkan serum Chiaprotect dan Cutipure dalam mengurangi tanda inflamasi pada kulit berjerawat. Studi ini merupakan studi analitik dengan desain Quasi-experimental-Time series pada remaja dengan akne vulgaris sebanyak 27 orang. Serum Cutipure diberikan pada pipi kiri sementara serum Chiaprotect pada pipi kanan. Pengukuran tanda inflamasi jerawat dilakukan pada hari pertama sebelum penggunaan, dan kemudian pada hari ke-14 dan ke-21 penggunaan. Uji paired T-test digunakan untuk menilai signifikansi dari penurunan tanda inflamasi pada masing-masing dan juga antara kedua intervensi. Rata-rata tanda inflamasi sebelum menggunakan serum cutipure adalah 3,15 ± 1,74 yang kemudian secara signifikan berkurang pada hari ke-14 (2,56 ± 1,53, p=0,026) dan ke-21 (1,37 ± 1,49, p<0,00001) sesudah penggunaan serum cutipure. Rata-rata tanda inflamasi sebelum menggunakan serum chiaprotect adalah 3,67 ± 2,25 yang kemudian secara signifikan berkurang pada hari ke-14 (2,33 ± 1,64, p<0,00001) dan ke-21 (1,30 ± 1,63, p<0,00001) sesudah penggunaan serum chiaprotect. Serum chiaprotect menunjukkan rerata penurunan tanda inflamasi yang lebih besar daripada serum cutipure pada hari ke-14 dan -21 namun perbedaan rerata tersebut tidak bermakna (p=0,550, p=0,550). Kesimpulan dari penelitian ini adalah serum cutipure dan chiaprotec secara signifikan terbukti mengurangi tanda inflamasi. Serum chiaprotec 4% mengurangi tanda inflamasi lebih banyak daripada serum cutipure 10%, namun secara statistik perbedaan tersebut tidak signifikan.
Sumber dan cara penularan Mycobacterium leprae Hari Darmawan; Rusmawardiana Rusmawardiana
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i2.7860

Abstract

Mycobacterium leprae (M. leprae) merupakan kuman basil tahan asam penyebab penyakit kusta bersifat obligat intraseluler dan tidak dapat dibiakkan pada media buatan. M. leprae hidup di makrofag dan sel Schwann serta tumbuh pada jaringan bersuhu dingin seperti kulit, mukosa hidung, dan saraf tepi. Insidens penderita baru kusta tidak menurun, meski prevalens kusta terus menurun seiring dengan program pemberantasan kusta secara masal dengan metode multi drugs therapy (MDT) WHO. Hal ini diperkuat dengan banyak kasus baru ditemukan tanpa ada riwayat kontak. Salah satu penyebab diduga ada sumber nonmanusia dari basil kusta terus menjadi sumber infeksi seperti hewan dan lingkungan. Cara penularan penyakit kusta masih belum diketahui pasti, namun diperkirakan melalui kontak langsung dari penderita kusta tipe lepromatosa ke orang lain.
Tatalaksana syok septik dengan infeksi intraabdomen et causa perforasi gaster di ICU Dhanu Pitra Arianto; Suwarman Suwarman
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i2.7861

Abstract

Latar belakang: Syok septik didefinisikan sebagai bagian dari sepsis didasari oleh gangguan sirkulasi dan sel atau kelainan metabolik yang akan meningkatkan angka mortalitas secara bermakna.Laporan kasus: Laki-laki, 69 tahun, diagnosa syok septik dengan infeksi intrabdomen e.c. perforasi gaster dirawat di ICU setelah dilakukan operasi laparatomi eksplorasi. Pasien mendapatkan tindakan perawatan  dengan manajemen sepsis bundle segera setelah diagnosa ditegakkan, menjalani perawatan di icu selama tujuh hari. European Society of Intensive Care Medicine (ESCIM) pada tahun 2018 memperbaharui sepsis bundle dimana dari semua langkah perawatan sepsis awal yang sebelumnya harus diselesaikan dalam 3 dan 6 jam sekarang harus diterapkan dalam 1 jam (1-h bundles), segera setelah diagnosa sepsis ditegakkan. Pada kasus ini pasien dengan keluhan nyeri perut selama satu minggu sebelum masuk rumah sakit, pemeriksaan penunjang darah laktat 4,2 mmol/L, pemeriksaan rontgen abdomen terdapat pneumoperitonium, dilakukan sepsis bundle dalam 1 jam dan laparatomi emergensi. Perawatan dilanjutkan di ICU dengan antibiotik meropenem, support norepineprin dan ventilasi mekanik. Pasien berangsur pulih selama di ICU, ditandai dengan klinis, hasil penunjang laboratorium, dan rontgen yang membaik.Kesimpulan: Pada manajemen pasien sepsis, waktu sangatlah penting. Kecepatan diagnosis, pemberian antibiotik, dan menjaga kestabilan hemodinamik adalah komponen penting untuk mendapatkan luaran yang baik.  
Hubungan kebiasaan konsumsi makanan kariogenik terhadap prevalensi karies gigi pada anak SD Negeri 3 Fajar Mataram Agnes Rekawati; Frisca Frisca
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9719

Abstract

Karies gigi adalah penyakit yang terjadi pada rongga mulut dan gigi akibat demineralisasi jaringan keras gigi seperti dentin dan email. Prevalensi dental karies di Indonesia meningkat, dari 53.2% di tahun 2013 menjadi 57.6% di tahun 2018.  Karies gigi dapat disebabkan oleh satu atau beberapa faktor, salah satunya adalah mengonsumsi berlebihan makanan kariogenik.  Studi ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi karies gigi dan hubungannya dengan kebiasaan mengonsumsi makanan kariogenik.  Studi analitik observasional dengan desain potong lintang ini dilakukan pada 86 responden pelajar di Sekolah Dasar Negeri 3 Fajar Mataram. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner dan pemeriksaan gigi.  Dari total 86 responden yang mengikuti studi ini didapatkan prevalensi karies gigi sebesar 55 (64%) responden dan 59 (68,6%) sering mengonsumsi makanan kariogenik (?3x seminggu). Dari 59 responden yang sering mengonsumsi makanan karioegenik, terdapat 44 (74,6%) responden yang mengalami karies gigi. Terdapat hubungan statistik bermakna antara frekuensi mengonsumsi makanan kariogenik dan prevalensi karies gigi (P=0,002).  Dari penelitian ini disarankan pentingnya membatasi konsumsi  makanan kariogenik untuk mencegah risiko karies gigi.
Hubungan obesitas dengan gangguan tidur pada siswa SD Islam Al-Abrar Jakarta Pusat Aldi Firdaus; Melani Rakhmi Mantu
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9720

Abstract

Obesitas terjadi karena adanya ketidakseimbangan energi. Akhir-akhir ini, prevalensi obesitas semakin meningkat karena adanya perubahan gaya hidup, termasuk pada anak. Prevalensi obesitas pada anak usia sekolah dasar di Jakarta mencapai 14% pada tahun 2013. Obesitas dapat menyebabkan berbagai macam gangguan, salah satunya adalah gangguan tidur. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara obesitas dengan gangguan tidur pada siswa sekolah dasar. Desain studi yang digunakan adalah studi analitik dengan metode cross sectional (potong lintang). Responden diukur berat badan dan tinggi badan kemudian dimasukkan dalam growth chart untuk penentuan obesitas, sedangkan Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC) digunakan untuk mengetahui adanya gangguan tidur. Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan uji chi-square.  Responden berjumlah 103 anak dengan 43 (41,7%) laki-laki dan 60 (58,3%) perempuan dengan rata-rata usia 9 tahun. Sebanyak 59 (57,3%) anak memiliki gangguan tidur dan 44 (42,7%) anak tidak memiliki gangguan tidur. Indeks Massa Tubuh responden terdapat obesitas 38 (36,9%) anak dan tidak obesitas 65 (63,1%) anak. Studi ini menunjukan terdapat hubungan antara obesitas dengan gangguan tidur dengan nilai p=0,031 (p<0,05) dengan Prevalence Ratio (PR) sebesar 1,45.
Perbedaan rerata volume ekspirasi paksa satu detik pada perokok dan bukan perokok mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara Cathlin Soeyanto; Zita Atzmardina
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9721

Abstract

Rokok merupakan salah satu produk tembakau ataupun sintetisnya yang dimaksudkan untuk dibakar, dihisap ataupun dihirup asapnya. Tembakau membunuh lebih dari 7 juta manusia setiap tahunnya. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2015, prevalensi penduduk perokok dewasa setiap hari di Indonesia sebesar 34% yang menempati urutan pertama se-Asia Tenggara. Menurut RISKESDAS, proporsi penduduk umur ?15 tahun yang merokok dari tahun 2007 – 2013 meningkat sebesar 2,1%. Volume ekspirasi paksa dalam 1 detik (VEP1) merupakan tolak ukur yang dapat digunakan untuk menilai beratnya PPOK dan memantau perjalanan PPOK, dimana salah satu faktor penyebab yang paling utama untuk terjadinya PPOK adalah merokok. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rerata VEP1 pada perokok dan bukan perokok. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan desain cross-sectional, pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Subyek studi masing – masing 42 responden perokok dan bukan perokok. Pengumpulan data menggunakan kuisioner dan untuk menilai VEP1 digunakan spirometer. Hasil studi didapatkan VEP1 pada perokok rata – rata sebesar 82,11% dan VEP1 pada bukan perokok rata – rata sebesar 85,11%. Hasil analisis uji-t independen menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara VEP1 pada perokok dan bukan perokok (p=0,394) dan mean difference -3. Kesimpulan dari penelitian ini adalah VEP1 pada perokok lebih rendah daripada yang bukan perokok, namun secara statistik tidak didapatkan hubungan antara merokok dengan menurunnya VEP1.
Pengaruh YMCA Step Test terhadap kebugaran fisik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Denny Bunarsi; Susy Olivia Lontoh
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9722

Abstract

Perkembangan teknologi modern memudahkan aktivitas manusia dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari sehingga tidak perlu bersusah payah dan hanya perlu mengeluarkan sedikit energi dan usaha. Hal tersebut menyebabkan aktivitas fisik berkurang. World Health Organization (WHO) mengatakan 23% orang berusia 18 tahun ke atas di dunia tidak melakukan aktivitas fisik yang cukup. Durasi yang direkomendasikan oleh WHO untuk melakukan aktivitas fisik yaitu sekitar 150 menit perminggu. Young Men’s Christian Assosiation (YMCA) Step Test adalah test daya tahan kardiovaskuler yang menggunakan teknik naik turun bangku yang merupakan hasil modifikasi dari Harvard Step Test. Pada YMCA Step Test responden diminta untuk melakukan naik turun bangku setinggi 12 inci atau sekitar 30 cm sebanyak 24 kali per menit selama 3 menit dan dihitung frekuensi denyut jantungnya selama 1 menit. Tujuan dari studi ini adalah diketahui perubahan kebugaran fisik sesudah melakukan YMCA Step Test pada mahasiswa Falkutas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Metode yang digunakan adalah quasi experimental dengan cara pengambilan 50 sampel dengan consecutive sampling. Sampel dibagi menjadi grup uji dan grup kontrol. Hasil yang didapatkan berupa terdapat adanya perubahan yang bermakna pada tingkat kebugaran fisik setelah melakukan YMCA Step Test dengan nilai P < 0.0001.
Hubungan self efficacy dengan pencapaian akademik mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Edward Edwin; Yoanita Widjaja
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9723

Abstract

Self efficacy adalah hasil proses kognitif berupa keputusan, keyakinan, atau pengharapan seorang individu terhadap kemampuannya untuk melakukan suatu tindakan atau mencapai hasil kinerja tertentu. Self efficacy merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi pencapaian akademik mahasiswa. Belum banyak ditemukan studi tentang hal ini di Indonesia terutama di Fakultas Kedokteran. Tujuan studi ini untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dengan pencapaian akademik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Studi ini merupakan studi analitik dengan metode potong lintang pada 93 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner Academic Self Efficacy Scale yang telah tervalidasi dan di analisis dengan uji Fisher Exact. Hasil studi didapatkan tingkat self efficacy sedang pada 78 (38,9%) mahasiswa dan tinggi 15 (16,1%) mahasiswa. Pencapaian akademik (IPK) 14 dari 15 mahasiswa (93,3%) yang memiliki IPK baik dengan self efficacy tinggi, sementara 69 dari 78 (88,4%) mahasiswa dengan IPK yang baik dengan self efficacy sedang, dengan p = 0,494 (p>0,05). Kesimpulan studi ini adalah tidak terdapat hubungan bermakna antara self efficacy dengan pencapaian akademik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.
Gambaran fungsi ginjal pada lansia Panti Wreda Salam Sejahtera berdasarkan estimated glomerular filtration rate (eGFR) Felita Shella Irawan; Marina Ludong
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9724

Abstract

Jumlah polpulasi lanjut usia (lansia) di Indonesia mencapai angka tujuh persen. Lansia merupakan individu yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Lansia memiliki risiko untuk mengalami penurunan kesehatan dan mudah sakit salah satunya adalah penyakit ginjal kronis yang termasuk 10 penyakit terbanyak di lansia. Ginjal sendiri merupakan organ penting yang memiliki fungsi melakukan pembuangan produk sisa yang tidak diperlukan tubuh seperti kreatinin, ureum, dan asam urat. Pada lansia terdapat berbagai perubahan fungsional maupun struktural organ ginjal yang terjadi karena penambahan usia, salah satunya adalah dapat terjadi penurunan dari laju filtrasi glomerulus. Laju filtrasi glomerulus sendiri sering dijadikan sebagai indikator untuk melihat kondisi fungsi ginjal. Pengukuran dari fungsi ginjal sendiri dapat dihitung menggunakan berbagai rumus seperti Modification of Diet in Renal Disease (MDRD) dan Chronic Kidney Disease Epidemiology Collaboration (CKD-EPI). Studi ini bertujuan untuk melihat gambaran fungsi ginjal pada lansia yang dilakukan di Panti Wreda Salam Sejahtera Bogor. Studi ini merupakan studi deskriptif cross sectional dengan melakukan pengambilan darah pada 55 lansia oleh petugas, kemudian serum darah yang diambil dilakukan pengukuran di laboratorium dengan menggunakan alat auto analyzer kimia darah (TMS 1024i) untuk mendapatkan nilai kreatinin. Kemudian, dilakukan perhitungan laju filtrasi glomerulus dengan menggunakan kedua rumus (MDRD dan CKD-EPI). Hasil studi didapatkan bahwa 51 (92.7%) lansia dengan perhitungan rumus CKD-EPI dan 44 (80%) lansia dengan perhitungan rumus MDRD memiliki eGFR (Estimated Glomerular Filtration Rate) yang mengalami penurunan, dengan nilai kurang dari 90 mL/min/1.73m2 dan sebagian besar mengalami mild or functional kidney failure.