cover
Contact Name
Octavia Dwi Wahyuni
Contact Email
octaviaw@fk.untar.ac.id
Phone
+6282122010570
Journal Mail Official
tmj@fk.untar.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Gedung J Lt. 2 Jl. Letjen S.Parman No. 1, Grogol, Jakarta Barat Kode Pos: 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Tarumanagara Medical Journal
ISSN : 26547147     EISSN : 26547155     DOI : https://doi.org/10.24912/tmj
Core Subject : Health, Science,
Tarumangara Medical Journal adalah jurnal kedokteran dan kesehatan yang dikaji oleh pakar yang ahli dalam bidangnya. Tarumangara Medical Journal berfokus meningkatkan wasasan dan pengetahuan ilmu kedokteran dasar, kedokteran klinis dan kedokteran komunitas dengan pendekatan Evidence-Based Medicine berupa artikel asli. Konten Tarumanagara Medical Journal meliputi artikel-artikel terkini dalam bidang Biologi Molekuler, Histopatologi, Alergi dan Imunologi, Studi Sel Punca, Gizi, Geriatri, Farmakologi, Herbal, Infeksi dan Penyakit Tropis, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Obstetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Bedah, Neurologi, Oftalmologi, Otolaringologi, Dermatovenerologi, Psikiatri, Radiologi, Forensik, Rehabilitasi Medik dan Kedokteran Olah Raga.
Articles 395 Documents
Hubungan status gizi dengan prevalensi ISPA pada anak usia 6 – 24 bulan di Puskesmas Wilayah Kota Administratif Jakarta Barat periode Januari – April 2017 Yunita Halim; Wiyarni Pambudi
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i2.3846

Abstract

ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) merupakan penyakit bermanifestasi ringan sampai berat penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada segala usia terutama anak. Status gizi anak diukur melalui antropometri. Semakin baik status gizi anak maka semakin rendah prevalensi ISPA pada anak. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara status gizi dengan prevalensi ISPA pada anak usia 6-24 bulan di Puskesmas Wilayah Kota Administratif Jakarta Barat periode Januari-April 2017. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan responden terdiri anak usia 6-24 bulan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, kurva WHO dan wawancara dari kuesioner. Dari 76 responden didapatkan 50 anak (65,79%) memiliki status gizi baik dibandingkan anak memiliki status gizi kurang baik sebanyak 26 anak (34,21%). Sebanyak 46 anak (60,53%) mengalami ISPA jarang dan 30 anak (39,47%) mengalami ISPA sering. Berdasarkan uji chi-square didapatkan hasil p = 0,072 menunjukkan hubungan tidak bermakna antara status gizi dengan prevalensi ISPA pada anak. Sedangkan anak yang memiliki status gizi kurang lebih berisiko 1,113 kali terhadap prevalensi ISPA. Dari penelitian ini diharapkan agar masyarakat untuk ikut meningkatkan status gizi baik dalam mencegah penularan ISPA sehingga menurunkan angka prevalensi ISPA.
Hubungan kehamilan usia remaja dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR) di RSUD Ciawi-Kabupaten Bogor periode 2016-2017 Elisa Hadiwijaya; Andriana Kumala
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i2.3850

Abstract

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan suatu kelahiran dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. BBLR banyak terjadi di negara berkembang dibandingkan dengan negara maju. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya BBLR adalah faktor ibu yaitu usia ibu yang kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, penyakit ibu, paritas, dan faktor-faktor lainnya. Bayi dengan berat lahir rendah memiliki risiko kematian yang jauh lebih besar dibandingkan dengan bayi normal.Peneliti melakukan penelitian di RSUD Ciawi, Kabupaten Bogor dengan tujuan untuk mengetahui prevalensi kejadian BBLR, mengetahui hubungan faktor-faktor risiko terutama usia ibu, dan diharapkan dengan hasil penelitian ini dapat dilakukan upaya untuk menurunkan angka kejadian BBLR. Penelitian dilakukan dengan metode penelitian cross sectional dengan teknik pengambilan sampel consecutive sampling, sampel diambil dengan cara observasi data rekam medik ibu hamil dan bersalin pada periode tahun 2016-2017. Sebanyak 86 sampel, terdiri dari 43 ibu hamil dan bersalin usia remaja dan 43 ibu hamil dan bersalin usia 20-35 tahun. Dari hasil penelitian terdapat 21 (24,4%) bayi yang lahir dengan berat lahir rendah, sedangkan 65 (75,6%) bayi lainnya lahir dengan berat bayi yang normal. Dari ibu usia remaja, terdapat 14 (32,6%) bayi yang lahir dengan berat lahir rendah, dan dari ibu usia 20-35 tahun, bayi yang lahir dengan berat lahir rendah cenderung lebih sedikit yaitu sebanyak tujuh (16,3%) bayi. Secara statistik dinyatakan tidak terdapat hubungan bermakna antara kehamilan usia remaja dengan kejadian BBLR (p=0,079).
Prevalensi dan karakteristik hipertensi pada usia dewasa muda di Indonesia Silviana Tirtasari; Nasrin Kodim
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i2.3851

Abstract

Hipertensi masih merupakan masalah yang cukup besar di Indonesia, sebesar 25.8% penduduk usia ?18 tahun menderita hipertensi. Perlahan mulai terjadi pergeseran ke usia yang lebih muda (18-45 tahun) pada penderita hipertensi. Namun, penelitian tentang hipertensi pada usia dewasa muda masih jarang. Sehingga peneliti ingin mengetahui berapa besar prevalensi hipertensi pada usia muda di Indonesia serta karakteristiknya. Penelitian ini merupakan studi deskriptive, yang mengambil data dari Indonesia Family Life Survey (IFLS) 5. Sampel yang diambil adalah penduduk usia 18-45 tahun yang memiliki data yang lengkap pada variabel yang ingin diteliti, yaitu: tekanan darah, usia, jenis kelamin, imt, merokok dan aktifitas fisik. Sehingga didapatkan total sampel sebesar 10.310 responden. Dari hasil penelitian didapatkan prevalensi hipertensi pada usia dewasa muda adalah sebesar 13.59%. Dengan pembagian kelompok usia, pada kelompok usia 18-24 tahun (7.35%), 25-34 tahun (10.41%), 35-44 tahun (21.35%). Sehingga nampak jelas bahwa seiring dengan bertambahnya usia, risiko hipertensi akan meningkat sehingga pada kelompok usia 35-44 tahun memiliki risiko 2.91 kali terkena hipertensi dibandingkan kelompok usia 18-24 tahun PR: 2.91, 95% CI (2.48-3.40). Sedangkan berdasarkan jenis kelamin penderita hipertensi pada laki-laki (14.79%) dan perempuan (12.51%). Laki-laki memiliki risiko 1.18 kali lebih sering terkena hipertensi dibandingkan perempuan PR:1.18, 95% CI (1.07-1.30). Hipertensi pada usia muda tidak dapat dipandang sebelah mata karena prevalensinya yang terus meningkat, sehingga perlu dilakukan tindakan pencegahan sejak dini.
Korelasi status glikemik dengan profil lipid pada penderita Diabetes Melitus tipe 2 di Rumah Sakit Sumber Waras dan Rumah Sakit Hermina Kemayoran tahun 2015-2017 Heiddy Chandra Sumampouw; Samuel Halim
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i2.3852

Abstract

Resistensi insulin pada penderita diabetes menyebabkan peningkatan dari asam lemak bebas yang dapat dilihat dari hasil pemeriksaan laboratorium profil lipid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status glikemik dengan profil lipid pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit Sumber Waras dan Rumah Sakit Hermina Kemayoran tahun 2015-2017 dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel yang didaptkan sebanyak 109 pasien yang berobat di Rumah Sakit Sumber Waras dan Rumah Sakit Hermina Kemayoran tahun 2015-2017. Hubungan kadar status glikemik dengan kadar profi lipid diuji dengan menggunakan uji korelasi pearson dan spearman. Pada uji korelasi yang dilakukan menunjukkan korelasi antara HbA1c dengan HDL r = -0,08 dan P = 0,22, HbA1c dengan Trigliserida r = 0,26 dan P = 0,004, HbA1c dengan LDL r = 0,03 dan P = 0,37, Hba1c dengan kolesterol r = 0,04 dan P = 0,34, GDP dengan LDL r = 0,02 dan P = 0,42, GDP dengan HDL r = -0,02 dan P = 0,42, GDP dengan trigliserida r = 0,21 dan P = 0,01, GDP dengan kolesterol r = 0,19 dan P = 0,02 dan antara GD2PP dengan kolesterol r = 0,16 dan P = 0,05. Dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang positif antara kadar HbA1c dengan trigliserida dan antara GDP dengan trigliserida dan kolesterol.
Hubungan antara kebiasaan merokok terhadap kejadian hipertensi essensial pada laki-laki usia di atas 18 tahun di RW 06, Kelurahan Medan Satria, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi Susi Susi; David Dwi Ariwibowo
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i2.3854

Abstract

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah yang melebihi batas normal yaitu tekanan darah sistolik ?140 mmHg dan tekanan darah diastolik ?90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit. Merokok merupakan salah satu faktor risiko meningkatnya tekanan darah. Oleh sebab itu, dilakukan penelitian untuk melihat hubungan antara merokok terhadap kejadian hipertensi yang meliputi kebiasaan merokok, lama merokok dan jumlah rokok yang dihisap terhadap hipertensi. Penelitian ini dilakukan di RW 06, Kelurahan Medan Satria, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi dengan jumlah sampel 102 responden adalah laki-laki usia diatas 18 tahun. Penelitian ini bersifat observasional analitik menggunakan metode cross sectional. Hasil penelitian didapatkan 17 responden (16.7%) menderita hipertensi. Dari penelitian ini didapatkan tidak terdapat hubungan bermakna antara kebiasaan merokok (Pvalue = 0.092), lama merokok (Pvalue = 0.670), jumlah rokok dihisap per hari (Pvalue = 0.702) terhadap kejadian hipertensi, tetapi secara epidemiologi didapatkan hubungan antara kebiasaan merokok (PR = 2.496), lama merokok (PR = 2.384), jumlah rokok dihisap perhari (PR = 1.613)   terhadap kejadian hipertensi essensial memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami hipertensi. Tidak didapatkan hubungan bermakna antara kebiasaan, lama dan jumlah merokok terhadap kejadian hipertensi essensial.
Dampak stres terhadap tekanan darah Mahasiswa Kedokteran Universitas Tarumanagara sebelum ujian Keterampilan Klinis Dasar Blok Sistem Muskuloskeletal Bepri Agnesia Kawi; Alya Dwiana
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i2.3855

Abstract

World Health Organization menyatakan pada tahun 2014 didapatkan hampir seperempat populasi di Indonesia mengalami peningkatan tekanan darah. Menurut Departemen Kesehatan Indonesia, hipertensi menduduki peringkat kedua setelah stroke sebagai penyebab kematian terbanyak. Stres merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan hipertensi primer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stres terhadap tekanan darah pada mahasiswa kedokteran sebelum menjalani ujian keterampilan klinis. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan desain cross sectional. Total responden yang mengikuti penelitian ini adalah 40 mahasiswa yang berdasarkan kuesioner Depression, Anxiety, and Stress Scale (DASS) terdiri dari 21 orang yang tidak stres dan 19 orang yang stres ketika akan menghadapi ujian keterampilan klinis. Hasil pengukuran dianalisis menggunakan t-test tidak berpasangan. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna antara stres dengan tekanan darah mahasiswa kedokteran yang akan menjalani ujian keterampilan klinis (p>0,05).
Pustulosis Eksantema Generalisata Akut Hari Darmawan; Sarah Diba
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i2.3856

Abstract

Pustulosis eksantema generalisata akut (PEGA) adalah salah satu erupsi obat alergi berat ditandai pembentukan pustul steril nonfolikular cepat dengan dasar eritem, umum disebabkan penggunaan obat-obatan terutama antibiotik. Pasien mengalami demam mendadak disertai pustulosis dan leukositosis dalam 48 jam setelah konsumsi obat kemudian resolusi spontan dalam 2 minggu dengan gambaran histopatologik khas. Insiden PEGA menurut EuroSCAR sebesar 1-5 kasus persatu juta individu setiap tahun dan dapat terjadi pada semua umur. Diagnosis ditegakkan berdasar skor EuroSCAR. Prognosis PEGA baik karena bersifat self limiting disease dengan menghentikan penggunaan obat pencetus.  
Tatalaksana anestesi pada operasi Clipping Aneurisma pasien geriatri Nency Martin
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i2.3857

Abstract

Pasien geriatri memiliki tingkat kematian dan morbiditas tertinggi pada populasi operasi dewasa. Hal ini diakibatkan perubahan anatomis dan fisiologis tubuh sejalan dengan usia. Aneurisma sebagai salah satu penyakit serebrovaskular merupakan penyebab kelima kematian pada geriatri. Operasi clipping merupakan tindakan definitif terapeutik untuk aneurisma, dimana dibutuhkan relaksasi otak, memberikan tantangan bagi anestesi berkaitan dengan pencegahan hipotensi yang mengakibatkan iskemia otak. Tatalaksana anestesi meliputi sebelum operasi, selama operasi dan setelah operasi. Prinsip dasar neuroanestesi digunakan untuk mencegah terjadinya cedera otak sekunder dan ruptur aneurisma berulang. Penggunaan Total Intra Venous Anesthesia(TIVA) merupakan pilihan utama berkaitan dengan farmakologi obat beserta pengaruhnya pada neuron dan geriatrik. Evaluasi pra operasi yang dilakukan dengan hati-hati, manajemen anestesi yang tepat, operasi cepat dan atraumatik akan membantu mengurangi komplikasi perioperatif pada pasien geriatrik. Usia bukan dan tidak mengakibatkan kekurangan pada pasien bedah saraf geriatrik, yang faktor risikonya dikelola dengan tepat. Pasien geriatrik mendapatkan manfaat dari bedah saraf sama seperti pasien muda
Perbandingan hasil prestasi akademis mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara berdasarkan hasil skrining risiko disleksia Anak Agung Ayu Gotri Paramitha; Wiyarni Pambudi
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i1.5830

Abstract

Kesulitan belajar merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan penurunan prestasi dalam pencapaian akademis. Salah satu kesulitan belajar spesifik adalah disleksia. Angka kejadian disleksia sekitar 10% dari seluruh total populasi dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara risiko disleksia dengan prestasi akademis mahasiswa. Dalam penelitian ini menggunakan metode analitik cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli- Desember 2017 dengan melibatkan 745 responden mahasiswa Fakutas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2014-2017. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling, Pengumpulan data diperoleh dari hasil pengisian kuesioner skrining risiko disleksia. Indikator prestasi belajar adalah jumlah kelulusan blok yang telah dilalui mahasiswa sesuai dengan angkatannya. Pada penelitian ini didapatkan sebaran prestasi akademis Mahasiswa Fakultas Kedoteran Universitas Tarumanagara berdasarkan hasil skrining berisiko disleksia didapatkan jumlah kelulusan blok pada mahasiswa berisiko disleksia sebanyak 98 (40,7%) responden sesuai dengan angkatannya sedangkan sisanya 143 (59,3%) responden tidak sesuai dengan angkatannya. Mahasiswa dengan hasil skrining berisiko disleksia memiliki risiko 1,5 kali lebih berisiko menjalani blok tidak sesuai dengan angkatannya.
Gambaran jumlah CD4+ pasien HIV yang melakukan terapi cART di RSPI Prof. Sulianti Saroso periode Januari 2014 – Desember 2016 Andrew Soerijadi; Sari Mariyati Dewi
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i1.5833

Abstract

HIV/AIDS adalah salah satu penyakit yang kejadiannya terus bertambah di dunia, khususnya di Indonesia. Penyebabnya adalah Human Immunodeficiency Virus dan target virus ini adalah sel CD4+ yang merupakan bagian dari sistim imun. Sel CD4+ memproduksi sitokin yang dapat meningkatkan respon imun dalam melawan patogen, sehingga terinfeksinya individu dengan virus tersebut menyebabkan terganggunya respon imun tubuh. Terapi dari penyakit ini menggunakan antiretrovirus yang bertujuan menekan replikasi virus HIV dan meningkatkan jumlah sel CD4+. Antiretrovirus diberikan dengan cara kombinasi (cART) untuk mencegah terjadinya resistensi obat dan meningkatkan efektivitas terapi. Studi deskriptif cross sectional bertujuan mengetahui gambaran jumlah CD4+ pasien HIV yang melakukan terapi cART di RSPI Prof. Sulianti Saroso periode Januari 2014 – Desember 2016. Didapatkan peningkatan jumlah hitung sel CD4+ pada tiap kelompok cART setelah 36 bulan terapi.

Page 7 of 40 | Total Record : 395