cover
Contact Name
Parwadi Moengin
Contact Email
parwadi@trisakti.ac.id
Phone
+628128210951
Journal Mail Official
jurnalti@trisakti.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teknik Industri FTI Universitas Trisakti Gedung Heri Hartanto Lantai 5 JL. Kyai Tapa no 1, Grogol, Jakarta Barat-11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEKNIK INDUSTRI
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 14116340     EISSN : 26225131     DOI : https://doi.org/10.25105/jti
Jurnal Teknik Industri (JTI) mainly focuses on industrial engineering scientific essays in the form of research results, surveys and literature review that are closely related to the Field of Industrial Engineering
Articles 385 Documents
Analisis Penentuan Faktor Pendorong dalam Penerapan Green Manufacturing di PT. Aneka Adhilogam Karya dengan Metode Fuzzy Topsis Desty Fara Auliya; Novi Marlyana; Wiwiek Fatmawati
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 11 No. 2 (2021): VOLUME 11 NO 2 JULI 2021
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.732 KB) | DOI: 10.25105/jti.v11i2.9708

Abstract

Intisari -- PT. Aneka Adhilogam Karya (AAK) adalah perusahaan pengecoran yang memproduksi berbagai perlengkapan sambungan pipa air minum di Kabupaten Klaten. Pada proses produksinya menghasilkan limbah pasir yang belum ditangani secara optimal, terdapat pula gas buang yang mengganggu karena para pekerja belum menggunakan alat pelindung diri (APD). Hal ini akan menjadi pencemaran lingkungan yang serius dan berdampak pada kondisi ekonomi dan sosial. Penelitian ini mengidentifikasi dan menganalisis konsep beserta faktor-faktor pada perusahaan yang mendorong upaya peningkatan kesehatan lingkungan perusahaan. Green manufacturing merupakan konsep yang dapat diterapkan di PT. AAK karena membahas tentang limbah hasil produksi dan kesehatan lingkungan. Faktor yang telah diidentifikasi kemudian dihitung menggunakan metode Fuzzy TOPSIS. Hasil penelitian menunjukkan bobot yang secara berurutan oleh Standarisasi kerja terhadap penggunaan APD (0,6699), Peningkatan teknologi ramah lingkungan (0,669), Penggunaan sumber air alternatif sebagai penghematan biaya (0,654), Edukasi pekerja mengenai kesehatan lingkungan (0,634), Budaya merawat dan menjaga kebersihan lingkungan (0,634). Komitmen pemilik usaha terhadap kesehatan lingkungan (0,601), regulasi kesehatan lingkungan di masa depan (0,568). Dari penelitian ini, hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah melakukan sosialisasi tentang konsep green manufacturing kepada pekerja, menertibkan standarisasi penggunaan APD, menerapkan konsep 5R (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin) dan memanfaatkan limbah pasir sebagai bahan konstruksi. Abstract -- PT. Aneka Adhilogam Karya (AAK) is a foundry company that produces various drinking water pipe connection equipment in Klaten Regency. In the production process it produces waste sand that has not been handled optimally, there is also vapor that will disturb the employee’s health that have not used personal protective equipment (PPE). This will be a serious environmental pollution and have an impact on economic and social conditions. This study analyzes the concepts and factors in companies that drives efforts to improve the company's environmental health. Green manufacturing is a concept that can be applied at PT. AAK because it discusses production waste and environmental health. The results of the study indicate that the rankings or weights are sequentially occupied by standardization of work on the use of PPE (0.6699), improvement of environmentally friendly technology (0.669), use of alternative water sources as cost savings (0.654), Education of workers about environmental health (0.634), Culture of caring for and maintaining environmental cleanliness (0.634). The commitment of business owners to environmental health (0.601), future environmental health regulation (0.568). From this research PT.AAK should socialize the importance green manufacturing concept to all employees, discipline the standardization of the use of PPE, apply the 5S concept (Short, set, shine, standardize, sweeping) and utilize sand waste as a construction material.
Perancangan Strategi Mitigasi Risiko Supply Chain PT. XYZ Gabriella Mistissy; Dadan Umar Daihani; Pudji Astuti
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 11 No. 2 (2021): VOLUME 11 NO 2 JULI 2021
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.454 KB) | DOI: 10.25105/jti.v11i2.9779

Abstract

Intisari---Guna menjadi partner dari customer dengan permintaan yang beragam, diperlukan output produk yang bermutu, delivery yang tepat waktu, tepat guna, serta penawaran harga yang bersaing. Banyak aspek yang dapat menyebabkan perusahaan tidak dapat mencapai kepuasan pelanggan, beberapa diantaranya disebabkan oleh delay atau kesalahan dari salah satu proses bisnis perusahaan seperti contoh yang terjadi pada PT. XYZ. Perusahaan tersebut merupakan pemasok komponen otomotif yaitu fasteners untuk keperluan perusahaan multinasional domestik maupun internasional. Untuk mengatasi kemungkinan timbulnya kesalahan berulang maka diperlukan strategi meminimalisir penyebab timbulnya risiko kesalahan ketika berlangsung proses bisnis berkaitan dalam rantai pasok utama, serta mencegah terulangnya kembali risiko kerugian. Tujuan penelitian ini untuk menyusun identifikasi risiko dengan memberikan tindakan pencegahan pada agen risiko, menyusun strategi mitigasi untuk agen risiko terpilih berdasarkan rasio total efektivitas, mengatasi tingkat kesulitan dan tindakan mitigasi mana yang dapat mereduksi banyak agen risiko dengan nilai yang tinggi.Metode penulisan yang digunakan adalah House Of Risk, dengan penilaian risiko yang terdiri dari 2 tahap yaitu House of Risk 1 dan House of Risk 2. Terdapat 9 tindakan pencegah risiko yang dapat digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan munculnya agen risiko yang didapatkan dari studi literatur dan diskusi dengan stakeholder. Dari 19 kejadian risiko, agen risiko yang paling mempengaruhi kejadian risiko berjumlah 21. Dari hasil pemetaan house of risk fase 2, didapatkan 9 rancangan strategi mitigasi risiko yang didapatkan dari studi literatur dan diskusi dengan stakeholder. Diantaranya adalah perusahaan perlu membuat sistem manajemen informasi produk, pemberian penanda lokasi, penugasan kepala regu untuk aktivitas pemantauan, update skill matrix, pemberian standarisasi kode dalam input data kode produk, pemetaan waktu dan lokasi pengiriman, penggunaan sistem dashboard monitoring, pemberian training ulang pada karyawan sesuai dengan lingkup pekerjaan, integrasi antar fungsi dalam perusahaan ditingkatkan. Abstract---To become a partner of customers with various demands, it requires quality product output, timely, efficient delivery, and competitive prices. There are many aspects that can cause the company to be unable to achieve customer satisfaction, some of which are caused by delays or errors in one of the company's business processes such as what happened at PT. XYZ. The company is a supplier of fasteners automotive components for domestic and international multinational companies. To overcome the possibility of recurring errors, a strategy is needed to minimize the causes of the risk of errors when a business process takes place in the main supply chain, as well as to prevent the risk of loss from recurring. The purpose of this study was to compiling risk identification by providing preventive measures to risk agents, develop a mitigation strategy for selected risk agents based on the ratio of total effectiveness, overcoming difficulty levels and which mitigation measures can reduce many risk agents with high scores.The writing method used is House of Risk, with a risk assessment consisting of 2 stages, namely House of Risk 1 and House of Risk 2. There are 9 risk prevention measures that can be used, to reduce or eliminate the emergence of risk agents obtained from literature studies and discussions with stakeholders. From the results of phase 2 house of risk mapping, 9 risk mitigation strategy designs were obtained from literature studies and discussions with stakeholders. Among them are companies need to create a product information management system, provide location markers, assign team heads for monitoring activities, update skill matrixes, provide code standardization in product code data input, map delivery times and locations, use dashboard monitoring systems, provide retraining to employees. According to the scope of work, the integration between functions within the company is improved.
Sistem Informasi untuk Perbaikan Kinerja dalam Manajemen Keselamatan Transportasi Kereta Api (Studi Kasus di PT. Kereta Api Indonesia) Parwadi Moengin; Alifia Syachrany; Debbie Kemalasari; Fani Puspitasari
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 11 No. 2 (2021): VOLUME 11 NO 2 JULI 2021
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.88 KB) | DOI: 10.25105/jti.v11i2.9852

Abstract

Intisari -- Kereta api merupakan salah satu sarana transportasi yang terdapat dalam sistem transportasi nasional yang pada saat ini sudah banyak digunakan oleh para pengguna sarana transportasi umum di Indonesia. Kereta api dapat menjadi solusi penghematan waktu dan biaya untuk pengiriman barang dalam jumlah besar, serta bepergian jarak jauh dengan waktu tempuh lebih cepat. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) merupakan badan usaha milik negara (BUMN) penyedia jasa perkeretaapian utama di Indonesia, baik untuk pengangkutan orang maupun barang yang ditujukan untuk penggunaan secara massal dan kontinyu. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) memiliki kewajiban untuk memberikan jaminan keselamatan kepada para pengguna layanan jasa kereta api. Namun pada kenyataannya masih sering kali terjadi kecelakaan. Dalam penelitian ini dilakukan pengukuran kinerja sistem manajemen keselamatan transportasi dan merancang sistem informasi untuk menilai kinerja sistem tersebut. Dalam melakukan pengukuran kinerja sistem digunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) sedangkan dalam merancang sistem informasi digunakan pendekatan terstruktur (pendekatan proses). Hasil dari pengukuran kinerja dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yaitu pada tahun 2017adalah sebesar 3.28 dan masuk dalam kategori kinerja sesuai dengan standar, kemudian pada tahun 2018 adalah sebesar 3.42 dan masuk dalam kategori kinerja tinggi, terakhir untuk tahun 2019 adalah sebesar 3.65 dan masuk dalam kategori kinerja tinggi. Usulan perbaikan ditujukan pada kriteria yang memiliki nilai total terendah yaitu kriteria penumpang, dan usulan perbaikannya adalah melakukan sosialisasi mengenai pentingnya kesadaran keselamatan penumpang, melakukan penjadwalan pemeliharaan kereta api dan jalur kereta api serta menambah fasilitas penunjang keselamatan yang berkaitan dengan moda transportasi kereta api, memperbarui propaganda yang berkaitan dengan keselamatan bagi penumpang pengguna jasa transportasi kereta api melalui media-media yang tepat sasaran dan sesuai pada masa kini seperti penggunaan sosial media internet terbaru. Abstract -- The train is one of the means of transportation contained in the national transportation system which is currently widely used by users of public transportation facilities in Indonesia. Trains can be a time and cost saving solution for shipping large quantities of goods, as well as traveling long distances with faster travel times. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) is a state-owned enterprise (BUMN) that provides the main railway services in Indonesia, both for the transportation of people and goods intended for mass and continuous use. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) has an obligation to provide safety guarantees to users of train services. However, in reality there are still frequent accidents. In this study, the measurement of the performance of the transportation safety management system was conducted and designed an information system to assess the performance of the system. In measuring system performance, the Analytical Hierarchy Process (AHP) method is used, while in designing the information system a structured approach (process approach) is used. The results of the performance measurement using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method, namely that in 2017 it was 3.28 and it was included in the performance category according to standards, then in 2018 it was 3.42 and included in the high performance category, most recently for 2019 it was 3.65 and entered in the high performance category. Proposed improvements are aimed at the criteria that have the lowest total value, namely the passenger criteria, and the proposed improvements are to socialize the importance of passenger safety awareness, schedule maintenance of trains and railways and add safety supporting facilities related to railroad transportation modes, update propaganda relating to the safety of passengers using railroad transportation services through media that are right on target and appropriate today, such as the use of the latest internet social media.
Rancangan Strategi Kupa Ngupi dengan Pendekatan Blue Ocean Strategy Safwan Fadjri; Dadan Umar Daihani; Imam Kisowo
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 11 No. 3 (2021): VOLUME 11 NO 3 NOVEMBER 2021
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.239 KB) | DOI: 10.25105/jti.v11i3.13056

Abstract

Intisari: Kupa Ngupi adalah salah satu kedai kopi yang berada di Bekasi. Pada saat ini, kondisi penjualan Kupa Ngupi sedang mengalami penurunan. Salah satu usaha yang perlu dilakukan adalah perubahan strategi yang mendasar. Pendekatan yang digunakan untuk mengevaluasi strategi dan merumuskan strategi baru adalah dengan Blue Ocean Strategy. Langkah pertama dipetakan posisi perusahaan di pasar melalui pembuatan matriks IFAS dan EFAS. Melalui matriks ini dapat diketahui kondisi internal dan eksternal perusahaan. Faktor internal adalah seluruh faktor yang dapat dikendalikan sedangkan faktor eksternal merupakan pengaruh yang datang dari luar dan tidak bisa dikendalikan secara langsung. Strength dan weakness merupakan faktor internal perusahaan, opportunity dan threat merupakan faktor eksternal perusahaan. Berdasarkan matriks IFAS dan EFAS, total skor kekuatan adalah 1,08 dan kelamahan 1,32, selisihnya -0,24 (dipetakan pada sumbu x). Sedangkan total skor peluang 1,833 dan skor ancaman 0,875, selisihnya adalah 0,958 (dipetakan pada sumbu y). Dari hasilperhitunga inu terlihat bahwa perusahaan berada pada Kuadran III. Pada kuadran ini, perusahaan menghadapi peluang besar, namun ada kendala kelemahan internal sehingga perlu dilakukan perubahan strategi untuk keluar dari ruang pasar yang sudah ada. Melalui Kanvas Strategi awal terpetakan bahwa Kupa Ngupi terlihat masih berada di bawah pesaing. Untuk itu perlu dilakukan perubahan dengan mempergunakan Kerangka Kerja Empat Langkah sehingga dpat digambarkan kanvas strategi kearah penciptaan Kupa Ngupi yang unggul. Setelah dilakukan analisis ditemukan bahwa faktor yang harus dihapuskan berkaitan dengan pola penataan ruangan yang tidak berkonsep. Faktor yang perlu dikurangi adalah tingkat ketidak teraturan penataan peralatan dan perlengkapan pembuat kopi. Hal yang perlu ditingkatkan adalah varian dan inovasi produk dan menambah menu ‘bundling package’. Terkahir hal yang perlu dicitptakan adalah berkaitan dengan penciptaan situasi kenyamanan yang direpresentasikan dalam bentuk interior minimalis namun modern. Hal ini sesuai dengan nilai yang dihasilkan yaitu 3,65, kopi ready to go bernilai 3,64, dan speciality kopi bernilai 3,75. Nilai rata-rata usulan faktor diciptakan tersebut di atas 2,9 yang berarti faktor tersebut penting untuk diciptakan. Kanvas strategi akhir menunjukkan adanya kenaikan faktor internal perusahaan dibanding pesaing, ditambah dengan adanya faktor baru yang diciptakan. Usulan lain yang diberikan adalah motto baru “Kopi nikmat, harga gak bikin penat”. Abstract: Kupa Ngupi is one of Bekasi's coffee cafes. At the meantime, Kupa Ngupi sales conditions are decreasing. A fundamental shift in strategy is one effort that must be made. The Blue Ocean Strategy is a method for evaluating existing strategies and developing new ones. The first step is creating IFAS and EFAS matrices to map the company's market position. The internal and external characteristics of the firm may be examined using this matrix. Internal factors are those that can be managed, whereas external factors are those that originate from outside and cannot be directly controlled. The company's internal factors are its strengths and weaknesses, while its external elements are its opportunities and threats. According to the IFAS and EFAS matrices, the total strength score is 1.08 and the weakness score is 1.32, with a -0.24 difference (mapped on the x-axis). While the overall opportunity score is 1.833 and the threat score is 0.875, the difference is 0.958. (mapped on the y-axis).The results of this analysis show that the firm is in Quadrant III. The firm confronts enormous potential in this quadrant, but there are internal weaknesses restrictions, therefore the strategy must be changed to exit the present market area. The first Strategy Canvas revealed that Kupa Ngupi was still lagging behind competitors. As a result, modifications must be made utilizing the Four-Step Framework so that a strategy canvas may be created toward the development of improved Kupa Ngupi. Following the research, it was discovered that the elements that had to be deleted were connected to a pattern of room layout for which there was no conceptualization. The amount of inconsistency in the placement of coffee manufacturing equipment and supplies should be minimized. Product variations and innovations, as well as the addition of a 'bundling package' menu, need to be enhanced. The final element that has to be developed is a relaxed atmosphere, which is represented by a minimalist yet modern interior design. This is aligned with the resultant value of 3.65, ready-to-drink coffee is worth 3.64, and speciality coffee is worth 3.75. The average value of the proposed factor generated is more than 2.9, indicating that the factor is relevant enough to be established. The final strategy canvas indicates an increase in the company's internal factors as compared to competitors, as well as the creation of new features. Another suggestion was for a new motto “Kopi nikmat, harga gak bikin penat".
Peramalan Permintaan Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan dan Perencanaan Produksi Menggunakan Linear Programming pada Perusahaan Aluminium Rahmi Khairunisa; Iveline Anne Marie; Parwadi Moengin; Nue Jihan Widayanti; Nilla Nilla
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 11 No. 3 (2021): VOLUME 11 NO 3 NOVEMBER 2021
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.523 KB) | DOI: 10.25105/jti.v11i3.13060

Abstract

Intisari— PT ABC menghasilkan berbagai macam produk aluminium ingot sekunder yang kemudian didistribusikan pada produsen otomotif roda dua dan roda empat di Indonesia dengan standar kualitas yang tinggi. Bahan baku utama pada produksi aluminium ingot sekunder adalah basemetal, scrap yang diperoleh dari pengepul barang rongsok serta bahan addictive seperti silikon dan tembaga. Saat ini perusahaan kurang optimal dalam menerapkan perencanaan produksi yang menyebabkan tidak maksimumnya pemanfaatan fasilitas produksi serta pemanfaatan penggunaan energi bahan bakar gas yang menyebabkan tingginya biaya produksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan hasil peramalan permintaan dan perencanaan produksi yang dapat menurunkan biaya produksi. Pada penelitian dilakukan perancangan model peramalan permintaan menggunakan metode Jaringan Syaraf Tiruan untuk mendapatkan proyeksi permintaan selama 3 periode mendatang. Selanjutnya dilakukan perencanaan produksi dengan menggunakan pendekatan Linier Programming yang telah mempertimbangkan ketersediaan sumber daya produksi sehingga dapat meningkatkan utilisasi fasilitas produksi dengan biaya produksi yang minimum. Berdasarkan rencana produksi dapat dilakukan perhitungan kebutuhan persediaan bahan baku pembentuk produk. Hasil peramalan dengan menggunakan metode Jaringan Syaraf Tiruan memberikan hasil peramalan permintaan dengan nilai error yang kecil. Hasil proyeksi permintaan untuk periode 1 adalah sebanyak 804.645 kg, periode 2 sebanyak 529.307 kg, dan periode 3 sebanyak 788.669 kg. Berikutnya, dengan menggunakan output hasil peramalan permintaan menggunakan JST, dilakukan perencanaan produksi yang memberikan solusi jumlah produksi yang optimal, yaitu untuk produk AC2C, ADC12 dan HD2 yang menghasilkan biaya produksi minimum. Berdasarkan hasil perhitungan perencanaan produksi dapat ditentukan kebutuhan bahan baku basemetal, skrap dan addictive untuk mendukung operasional produksi pada perusahaan aluminium. Abstract— PT ABC produces a wide range of secondary aluminum ingot products which are then distributed to two-wheel and four-wheel automotive manufacturers in Indonesia with high quality standards. The main raw materials for the production of secondary aluminum ingots are base metal, scrap obtained from junk collectors and addictive materials such as silicon and copper. Currently the company is less than optimal in implementing production planning which causes the utilization of production facilities not to be maximized and the use of gas fuel energy which causes high production costs. The purpose of this research is to obtain the results of demand forecasting and production planning that can reduce production costs. In this research, the demand forecasting model is designed using the Artificial Neural Network method to obtain demand projections for the next 3 periods. Furthermore, production planning is carried out using a Linear Programming approach which has taken into account the availability of production resources so as to increase the utilization of production facilities with minimum production costs. Based on the production plan, it is possible to calculate the inventory requirements for raw materials forming the product. Forecasting results using the Artificial Neural Network method provide demand forecasting results with a small error value. The results of requests for period 1 were 804,645 kg, period 2 were 529,307 kg, and period 3 were 788,669 kg. Next, by using the output of demand forecasting using ANN, a production plan is carried out that provides the optimal production quantity solution, namely for AC2C, ADC12 and HD2 products that produce minimum production costs. Based on the calculation results of production planning, it can be determined the need for base metal, scrap and addictive raw materials to support production operations in aluminum companies.
Pengendalian Waktu Proyek Menggunakan Metode Critical Chain Project Management (CCPM) Studi Kasus Pembangunan Proyek Irigasi Tahap II Kabupaten Aceh Barat Arie Saputra; Gaustama Putra; Fani Aguslita
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 11 No. 3 (2021): VOLUME 11 NO 3 NOVEMBER 2021
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (970.712 KB) | DOI: 10.25105/jti.v11i3.13063

Abstract

Intisari - Perencanaan dan pengendalian waktu proyek merupakan bagian dari manajemen proyek konstruksi secara keseluruhan dimana usaha yang sistematis untuk menentukan standar yang sesuai dengan sasaran perencanaan, merancang sistem informasi, membandingkan pelaksanaan dengan standar menganalisis kemungkinan adanya penyimpangan. PT Wirataco Mitra Mulya merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi infrastruktur pengaspalan, pembangunan jalan dan jembatan yang bertempat di Kabupaten Aceh Barat. Masalah yang sering dihadapi dalam proyek pembangunan irigasi tahap II adalah terjadinya waste pada proyek seperti menunggu material yang diakibatkan karena keterlambatan pengiriman dari pemasok, menunggu turunnya dana karena pengajuan dana belum disetujui, metode kerja yang tidak baik sehingga menyebabkan material yang menumpuk, peralatan tidak memadai dikarenakan peralatan tidak berfungsi maksimal yang disebabkan kurangnya perawatan dan jadwal perawatan diabaikan, kualitas pekerjaan kurang baik disebabkan karena cuaca tidak mendukung pelaksanaan pekerjaan. Tujuan penelitian ini yaitu menentukan jalur kritis pada jaringan kerja pengerjaan proyek pembanguan irigasi Lhok Guci tahap II, menentukan indikator pengawasan konsumsi buffer akibat potensi timbulnya waste dan menentukan perbandingan waktu dan biaya perencanaan penjadwalan sebelum dan sesudah penerapan metode Critical Chain Project Management. Hasil penelitian menunjukan bahwa kegiatan kritis pada proyek pembangunan Irigasi Lhok Guci tahap II yaitu pekerjaan Mob/Demob Dump Truck, Mob/Demob Vibro Roller, Mob/Demob Bulldozer, Mob/Demob Sheet Foot Roller, Pembersihan Lapangan/Clearing and Grubbing, Galian Tanah (MP), Galian Tanah (ALB), Timbunan Tanah Didatangkan, diratakan, dipadatkan (ALB), Pengadaan dan Peasangan Geotextile-Geogrid Komposit dan Urungan Sirtu. Indikator pengawasan konsumsi buffer akibat potensi timbulnya waste akan berujung pada penggunaan durasi project buffer. Indikator zona pemakaian buffer yang diperoleh. Pihak pelaksana harus melakukan perencanaan tindakan pencegahan jika buffer yang terkonsumsi pada kurun waktu 15-28 hari dan segera melakukan tindakan jika buffer yang terkonsumsi pada kurun waktu 29-42 hari dan menjadikan akar permasalahan akibat potensi timbulnya waste sebagai pertimbangan dalam penentuan tindakan pencegahan terhadap konsumsi buffer dan berdasarkan penerapan critical chain project management diperoleh project buffer berdurasi 42 hari dengan kurun waktu penjadwalan proyek Irigasi Lhok Guci tahap II yaitu 409 hari menjadi 367 hari tanpa konsumsi buffer dengan pendanaan proyek sebesar Rp. 23,405,029,699belum termasuk PPN10% dan penghematan biaya tenaga kerja sebesar Rp. 124.223.914.72 tanpa konsumsi buffer. Abstract - Planning and controlling project time is part of the overall construction project management where a systematic effort to determine standards in accordance with planning objectives, designing information systems, comparing implementation with standards analyze possible deviations. PT Wirataco Mitra Mulya is a company engaged in the construction of asphalting infrastructure, road and bridge construction located in West Aceh Regency. Problems that are often faced in Phase II irrigation development projects are the occurrence of waste in projects such as waiting for materials caused by late delivery from suppliers, waiting for funds to decrease because the submission of funds has not been approved, poor working methods that cause material to accumulate, equipment is inadequate due to equipment is not functioning optimally due to lack of maintenance and neglected maintenance schedules, poor quality of work due to weather does not support the implementation of work. The purpose of this research is to determine the critical path in the work network for the second phase of the Lhok Guci irrigation development project, to determine indicators of monitoring buffer consumption due to the potential for waste generation and to determine the ratio of time and costs of scheduling planning before and after the application of the Critical Chain Project Management method. The results showed that the critical activities in the second phase of the Lhok Guci irrigation development project were the work of the Mob/Demob Dump Truck, Mob/Demob Vibro Roller, Mob/Demob Bulldozer, Mob/Demob Sheet Foot Roller, Field Cleaning/Clearing and Grubbing, Soil Excavation ( MP), Soil Excavation (ALB), Landfill Imported, leveled, compacted (ALB), Procurement and Installation of Composite Geotextile-Geogrids and Sirtu Storage. The indicator for monitoring buffer consumption due to the potential for waste will lead to the use of project buffer duration. Obtained buffer usage zone indicator. The implementer must plan preventive actions if the buffers are consumed within 15-28 days and immediately take action if the buffers are consumed within the period of 29-42 days and make the root of the problem due to the potential for waste as a consideration in determining preventive measures against buffer consumption and based on the application of critical chain project management, a project buffer of 42 days is obtained with a period of scheduling the Lhok Guci Phase Two Irrigation project, namely 409 days to 367 days without buffer consumption with project funding of Rp. 23,405,029,699 excluding 10% VAT and labor cost savings of Rp. 124,223,914.72 without buffer consumption.
Analisis Risiko dan Penentuan Strategi Mitigasi Berdasarkan Metode FMEA dan AHP (Studi Kasus: CV. Kurir Kuriran Samarinda) Muhammad Rahmat Subhan; Ninda Nur Sabila; Tasya Meidita; Andi Deny; Anggriani Profita; Deasy Kartika; Rahayu Kuncoro
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 11 No. 3 (2021): VOLUME 11 NO 3 NOVEMBER 2021
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.479 KB) | DOI: 10.25105/jti.v11i3.13064

Abstract

Intisari— Layanan jasa kurir sudah banyak tersedia di Kota Samarinda, salah satunya adalah Kurir Kuriran. CV. Kurir Kuriran Samarinda merupakan perusahaan jasa kurir online antar, jemput, dan beli barang maupun makanan, dalam Kurir Kuriran memiliki beberapa risiko yang pernah terjadi dalam proses operasional. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi risiko-risiko yang ada dengan memberi bobot di tiap risiko yang menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dengan cara menentukan bobot berdasarkan nilai RPN yang didapatkan berdasarkan nilai severity, occurance, dan detection serta meminimalisir risiko-risiko tersebut dengan mitigasi risiko menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dengan aplikasi Expert Choice V11 untuk mengetahui alternatif-alternatif yang bisa digunakan untuk mengurangi risiko. Hasil yang didapatkan dari penilaian dan pemeringkatan risiko dengan metode FMEA yang menjadi peringkat pertama adalah sulitnya pencarian kurir saat cuaca hujan (355,2), kendala pengantaran pada saat hujan atau banjir (219), dan Rider (kurir) pernah keliru dalam melaporkan hasil pendapatan (250). Hasil dari penentuan strategi mitigasi adalah pada prioritas mitigasi faktor kriteria yang menjadi peringkat tertinggi adalah proses penerimaan dan pemberian orderan (admin server) dan proses pengambilan dan pengantaran barang (rider) (0,455). Strategi mitigasi dari proses penerimaan dan pemberian orderan yang terpilih yaitu memiliki kartu kuota pribadi lebih dari satu provider (0,751) untuk risiko jaringan mengalami gangguan. Strategi mitigasi yang terpilih dari proses pengambilan dan pengantaran barang yaitu memiliki kartu kuota pribadi lebih dari satu provider (0,731) untuk risiko kendala pada jaringan, mengganti kurir dengan lapor ke admin server (0,674) untuk risiko kendala pada motor misalnya motor mati atau ban bocor, mengganti kurir dengan lapor ke admin server (0,528) untuk risiko kurangnya uang talangan atau jumlah talangan tidak sesuai. Strategi mitigasi yang terpilih dari proses pengelolaan keuangan dan setoran yaitu memberikan sanksi ke kurir yang bersangkutan berupa banned (0,635) untuk risiko rider lupa dalam memberikan laporan hasil pendapatan, admin setoran dengan teliti menghitung kembali laporan (0,731) untuk risiko rider pernah keliru dalam melaporkan hasil pendapatan. Abstract— Courier services are widely available in Samarinda City, one of which is Kurir Kuriran. CV. Kurir Kuriran Samarinda is an online courier service company deliver, pick up, and buy goods and food, in Kurir Kuriran has several risks that have occurred in the operational process. Therefore, conducted research to identify the risks that exist by giving weight in each risk using Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) method by determining the weight based on RPN value obtained based on value of severity, occurance, and detection and minimize these risks by mitigating risks using Analytic Hierarchy Process (AHP) methods with Expert Choice V11 Software to find out alternatifs that can be used to reduce risk. The results obtained from the assessment and rating of risk with FMEA method that became the first rank is the difficulty of searching a courier in rainy weather (355.2), constraints on delivery during rain or flood (219), and Riders (couriers) have been wrong in reporting income results (250). The result of determining the mitigation strategy is the priority of the mitigation factor, the highest ranking criteria are the process of receiving and giving orders (server admin) and the process of taking and delivering goods (riders) (0.455). The mitigation strategy of the process of receiving and giving orders is to have a personal quota internet card more than one provider (0.751) for the risk of unstable network. The mitigation strategy who chosen from the process of taking and delivering goods is have a personal quota internet card more than one provider (0.731) for the risk of problems on the network, replacing the courier by reporting to the admin server (0.674) for the risk of problems on the motorcycle, for example the motorcycle dies or the tire leaks, replace the courier by reporting to the admin server (0.528) to reduce the lack of bailout money or the amount of bailout is not appropriate. The mitigation strategy who chosen from the financial and deposit management process is to give a penalty to driver of being banned (0.635) for the risk of the driver forgetting to provide an income report, the deposit admin carefully recalculates the report (0.731) for the risk that the driver has ever mistakenly reported the results income.
Optimasi Lokasi Distribution Center UKM Mina Indo Sejahtera dengan Model Matematis Haversin dan Centre of Gravity Adjusting Pramudi Arsiwi; Dewa Kusuma Wijaya; Prajanto Wahyu Adi
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 11 No. 3 (2021): VOLUME 11 NO 3 NOVEMBER 2021
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.193 KB) | DOI: 10.25105/jti.v11i3.13070

Abstract

Intisari— Biaya distribusi produk yang masih cukup tinggi dan juga lokasi konsumen yang tersebar di berbagai wilayah Pulau Jawa menjadi sebuah tantangan yang cukup kompleks bagi UKM Mina Indo Sejahtera, agar dapat selalu memenuhi mayoritas bahkan seluruh demand dari konsumen potensialnya dengan biaya yang seefisien mungkin. Oleh karena itu, diperlukan sebuah desain jaringan supply chain yang optimal bagi UKM Mina Indo Sejahtera, agar seluruh konsumen dapat tetap terlayani dengan total biaya distribusi yang tetap efisien. Metode yang digunakan yaitu dengan menggunakan formulasi model matematis haversin dan juga Center of Gravity (COG) Adjusting. Koordinat lokasi yang dihasilkan terbukti mampu meminimalkan total jarak tempuh dan juga total biaya yang harus dikeluarkan UKM Mina Indo Sejahtera untuk mendistribusikan produknya ke seluruh market khususnya di Pulau Jawa. Hasil penurunan total jarak tempuh dan total biaya distribusi bulanan yang didapatkan melalui formula haversin dan metode COG Adjusting yaitu sebesar 22% dan 24%. Sehingga, apabila UKM Mina Indo Sejahtera memusatkan distribusinya pada lokasi baru tersebut, total jarak yang ditempuh ke seluruh pasar di Pulau Jawa dapat diminimalkan menjadi sejauh 1.720, 4 kilometer, dengan total biaya distribusi bulanan yang dikeluarkan hanya sebesar Rp Rp 11.736.455,-.. Abstract— The cost of product distribution is still quite high and also the location of consumers spread across various regions of Java Island is a fairly complex challenge for Mina Indo Sejahtera SMEs, in order to always meet the majority and even all demands from potential consumers at the most efficient cost possible. Therefore, an optimal supply chain network design is needed for Mina Indo Sejahtera SMEs, so that all consumers can still be served with efficient total distribution costs. The method used is by using a haversin mathematical model formulation and also Center of Gravity (COG) Adjusting. The resulting location coordinates are proven to be able to minimize the total distance traveled and also the total costs that must be incurred by Mina Indo Sejahtera SMEs to distribute their products to all markets, especially in Java. The results of the reduction in total mileage and total monthly distribution costs obtained through the haversin formula and the COG Adjusting method are 22% and 24%, respectively. Thus, if Mina Indo Sejahtera SMEs concentrated their distribution in the new location, the total distance traveled to all markets on Java Island could be minimized to 1,720, 4 kilometers, with a total monthly distribution cost of only Rp. 11,736,455,-.
Analisis Pengendalian Persediaan Komoditas Sayur Organik Untuk Efisiensi Biaya Persediaan Dengan Menggunakan Wagner-Within Algorithm Dan Heuristic Silver-Meal Method Pada PT Masada Organik Indonesia Fitri Fitri; Ririn Regiana Dwi Satya; Zeny Fatimah Hunusalela
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 11 No. 3 (2021): VOLUME 11 NO 3 NOVEMBER 2021
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (864.207 KB) | DOI: 10.25105/jti.v11i3.13074

Abstract

Intisari—Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki peluang dalam mengembangkan pertanian organik. Beberapa tahun terakhir ini, perhatian masyarakat terhadap pertanian organik semakin meningkat. Salah satu komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia adalah sayur-sayuran. PT Masada Organik Indonesia merupakan salah satu perusahaan agribisnis di Jawa Barat yang bergerak dibidang pertanian organik. Masalah yang dihadapi PT Masada Organik Indonesia adalah tidak terkontrolnya pengendalian persediaan yang disebabkan oleh permintaan pelanggan yang tidak menentu (dinamis) dan fluktuatif. Manajemen persediaan bertujuan untuk menentukan perencanaan pengendalian komoditas sayur organik di PT Masada Organik Indonesia dalam rangka efisiensi dan meminimalkan biaya persediaan yang dikeluarkan oleh perusahaan. Metode Algoritma Wagner-Within dan metode Heuristik Silver Meal memiliki tujuan yang sama yaitu menghasilkan kuantitas pesan yang optimum dengan biaya yang rendah. Dari hasil pengolahan data didapatkan metode usulan yang terbaik adalah biaya persediaan menggunakan metode Heuristik Silver Meal karena dapat menghasilkan biaya yang paling rendah dibandingkan dengan metode Algoritma Wagner-Within yaitu dengan penghematan sebesar Rp. 64.000.000,- dan efisiensi 26% dari metode yang diterapkan oleh perusahaan dengan total biaya persediaan yaitu Rp. 178.235.754,- Abstract—Indonesia is an agricultural country that has the opportunity to develop organic agriculture. In recent years, the public's attention to organic farming has increased. One of the prospective commodities that can be developed using an organic farming system in Indonesia is vegetables. PT Masada Organik Indonesia is an agribusiness company in West Java which is engaged in organic agriculture. The problem faced by PT Masada Organik Indonesia is uncontrolled inventory control caused by erratic (dynamic) and fluctuating customer demand. Inventory management aims to determine the planning of organic vegetable commodity control at PT Masada Organik Indonesia in the context of efficiency and minimizing inventory costs incurred by the company. The Wagner-Within Algorithm method and the Heuristic Silver Meal method have the same goal, namely to produce an optimum message quantity at a low cost. From the results of data processing, it is found that the best proposed method is the inventory cost using the Heuristic Silver Meal method because it can produce the lowest cost compared to the Wagner-Within Algorithm method with a savings of Rp. 64,000,000, - and 26% efficiency from the method applied by the company with a total inventory cost of Rp. 178,235,754, -.
Pemodelan Systems Dynamics pada Penanganan Sampah di Desa Penambangan Kabupaten Sidoarjo Dini Retnowati; Ahmad Fatih Fudhla; Ahmad Yani
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 11 No. 3 (2021): VOLUME 11 NO 3 NOVEMBER 2021
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.141 KB) | DOI: 10.25105/jti.v11i3.13076

Abstract

Intisari— Emisi karbon terbesar berasal dari residu yang ditinggalkan dari aktivitas manusia. Pada volume besar dan tak terkendali, emisi ini menjadi penyebab utama pemanasan global. Sumbangsih emisi gas buang juga bersumber dari aktivitas sehari-hari masyarakat. Di negara Indonesia, yang termasuk dalam kategori negara berkembang, aktivitas masyarakat lebih banyak terakumulasi di tingkat desa. Desa Penambangan merupakan desa yang terletak di kabupaten Sidoarjo provinsi Jawa timur yang memiliki luas wilayah kurang lebih 150 Ha dengan jumlah penduduk 5.816 jiwa. Pada penelitian ini dilakukan kajian dengan pendekatan system dynamics bagaimana penanganan sampah di desa tersebut. Model system dynamics yang dihasilkan bisa digunakan untuk bahan pertimbangan pemerintah desa Penambangan dalam menangani sampah. Berdasarkan simulasi model, seiring berjalannya waktu, total tingkat emisi karbon dari sampah desa meningkat rata-rata 10.8% tiap bulan. Dengan melakukan penanganan sampah organing yang lebih komprehensif, emisi karbon berkurang hingga 90.4% dibandingkan kondisi awal di level model. Abstract— The largest carbon emissions come from residues of human activities. In large and uncontrolled volumes, these cause global warming. As an accumulation, The emissions also come from the daily activities of the community. In developing countries such as Indonesia, community activities are mostly accumulated at the village level. “Penambangan” is one of villages located in Sidoarjo, East Java, which has an area of approximately 150 hectares with a population of 5,816 people. In this study, a system dynamics approach was carried out on how to handle waste in the village. The resulting model can be used by local government for consideration in handling them. Based on the model simulation, the total level of carbon emissions of the community increased by an average of 10.8% per month. By carrying out more comprehensive handling of waste, carbon emissions are reduced by 90.4% compared to the initial conditions at the model level.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 15 No. 2 (2025): July 2025 Vol. 15 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 14 No. 3 (2024): November 2024 Vol. 14 No. 2 (2024): July 2024 Vol. 14 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 3 (2023): VOLUME 13 NO 3 NOVEMBER 2023 Vol. 13 No. 2 (2023): VOLUME 13 NO 2 JULI 2023 Vol. 13 No. 1 (2023): VOLUME 13 NO 1 MARET 2023 Vol. 12 No. 3 (2022): VOLUME 12 NO 3 NOVEMBER 2022 Vol. 12 No. 2 (2022): VOLUME 12 NO 2 JULI 2022 Vol. 12 No. 1 (2022): VOLUME 12 NO 1 MARET 2022 Vol. 11 No. 3 (2021): VOLUME 11 NO 3 NOVEMBER 2021 Vol. 11 No. 2 (2021): VOLUME 11 NO 2 JULI 2021 Vol. 11 No. 1 (2021): VOLUME 11 NO 1 MARET 2021 Vol. 10 No. 3 (2020): Volume 10 No 3 November 2020 Vol. 10 No. 2 (2020): Volume 10 No 2 Juli 2020 Vol. 10 No. 1 (2020): VOLUME 10 NO 1 MARET 2020 Vol. 9 No. 3 (2019): Volume 9 No 3 November 2019 Vol. 9 No. 2 (2019): VOLUME 9 NO 2 JULI 2019 Vol. 9 No. 1 (2019): Volume 9 No 1 Maret 2019 Vol. 8 No. 2 (2018): Volume 8 N0 2 Juli 2018 Vol. 8 No. 3 (2018): Volume 8 No 3 November 2018 Vol. 8 No. 1 (2018): Volume 8 No 1 Maret 2018 Vol. 7 No. 3 (2017): Volume 7 No 3 November 2017 Vol. 7 No. 2 (2017): Volume 7 Nomor 2 Juli 2017 Vol. 7 No. 1 (2017): Volume 7 Nomor 1 Maret 2017 Vol. 6 No. 3 (2016): Volume 6 No 3 November 2016 Vol. 6 No. 2 (2016): Volume 6 No 2 Juli 2016 Vol. 6 No. 1 (2016): Volume 6 No 1 Maret 2016 Vol. 5 No. 3 (2015): Volume 5 No 3 Novemberi 2015 Vol. 4 No. 3 (2014): Volume 4 No. 3 November 2014 Vol. 4 No. 2 (2014): Volume 4 No 2 Juli 2014 Vol. 4 No. 1 (2014): Volume 4 No 1 Maret 2014 Vol. 3 No. 3 (2013): Volume 3 No 3 November 2013 Vol. 3 No. 2 (2013): Volume 3 No 2 Juli 2013 Vol. 3 No. 1 (2013): Volume 3 No 1 Maret 2013 Vol. 2 No. 3 (2012): Volume 2 No 3 November 2012 Vol. 2 No. 2 (2012): Volume 2 No 2 Juli 2012 Vol. 2 No. 1 (2012): Volume 2 No 1 Maret 2012 Vol. 1 No. 2 (2011): Volume 1 No 2 Juli 2011 Vol. 1 No. 1 (2011): Volume 1 No 1 Maret 2011 More Issue