cover
Contact Name
Erna Meiliana
Contact Email
ernameiliana@trisakti.ac.id
Phone
+6287840093703
Journal Mail Official
senirekarancang@trisakti.ac.id
Editorial Address
Magister Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain Unversitas Trisakti Jln. Kyai Tapa No.1,Grogol Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Seni dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 26566346     EISSN : 26544725     DOI : https://doi.org/10.25105/jsrr
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Seni dan Reka Rancang Jurnal Ilmiah Magister Desain Produk Universitas Trisakti terbit pertama terbit bulan Nopember 2018. Jurnal ini akan diterbitkan 2 (dua) kali dalam setahun yaitu bulan April dan Nopember oleh Pusat Studi Reka Rancang Visual dan Lingkungan Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti. Jurnal ini berisi artikel memuat artukel ilmiah bidang pengetahuan, kajian pendapat, dan gagasan intelektual yang berkaitan dengan bidang studi: Desain Komunikasi Visual, Desain Interior, Desain Produk, Fotografi dan ilmu-ilmu terkait.
Articles 179 Documents
GAYA VISUAL INFOGRAFIK SEBAGAI IDENTITAS HARIAN KOMPAS DI ERA DIGITAL Pandu Lazuardy Patriari; Elda Franzia Jasjfi; Agung Eko Budiwaspada
Jurnal Seni dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain Vol. 4 No. 2 (2022): Jurnal Seni dan Reka Rancang : Jurnal Ilmiah Magister Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (881.111 KB)

Abstract

Abstract The mass media, especially newspapers, are starting and adapt to enter digital platforms as a result of industrial revolution 4.0. People change how to reading and that makes the mass media must be able to provide information briefly but clearly, one of which is through visual journalism, represented by infographics. The Kompas Daily Infographic has its own visual style that distinguishes it from others. This visual style become an identity that represents the Kompas Daily brand. This study explores how the visual style of infographics becomes the identity of Kompas Daily in terms of text, production, consumption, to socio-culture. The goal is to understand how visual style becomes identity. The methodology uses Norman Fairclough's critical discourse analysis which dissects a phenomenon with three dimensions. The results of this study show that the visual style of Kompas Daily infographic can be an identity that distinguishes it from other media. Infographic visual style is produced to align its ideology, policies, and consumption. Identity is manifested from a pattern that takes place in a continuous time and is formed by various factors, both directly and indirectly influencing it. Keywords: Mass Media, Infographic, Visual Style, Identity Abstrak Media massa khususnya surat kabar mulai beradaptasi dengan era revolusi industri 4.0 untuk masuk ke dalam platform digital. Pola baca yang ikut berubah menjadikan media massa harus mampu memberikan informasi dengan singkat namun jelas, salah satunya melalui jurnalisme visual yang diwakili salah satunya dengan infografik. Infografik Harian Kompas memiliki gaya visual sendiri yang membedakan dengan infografik media lain. Gaya visual tersebut dapat menjadi identitas yang mewakili brand Harian Kompas. Penelitian ini mengangkat bagaimana gaya visual infografik menjadi identitas Harian Kompas dilihat dari teks, produksi, konsumsi, hingga sosial budaya. Tujuannya untuk memahami bagaimana gaya visual menjadi identitas. Metodologi menggunakan analisis wacana kritis Norman Fairclough yang membedah suatu fenomena dengan tiga dimensi. Hasil penelitian ini menunjukkan gaya visual infografik Harian Kompas dapat menjadi identitas yang membedakan dengan media lain. Gaya visual infografik diproduksi untuk menyelaraskan ideologi, kebijakan, dan konsumsinya. Identitas terwujud dari pola yang berlangsung dalam waktu yang kontinyu dan terbentuk oleh dari berbagai macam faktor baik yang memengaruhi langsung maupun tidak secara langsung. Kata kunci: Media Massa, Infografik, Gaya Visual, Identitas
SEMIOTIKA PADA MICROLIBRARY BIMA BANDUNG R Aj. Dewi Sekar Noorzanah; Sangayu Ketut Laksemi; Krishna Hutama
Jurnal Seni dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain Vol. 4 No. 2 (2022): Jurnal Seni dan Reka Rancang : Jurnal Ilmiah Magister Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1441.053 KB)

Abstract

Abstract Semiotics at the Bima Bandung Microlibrary. The study of semiotics in building has not been done much. Therefore, I conduct a study of the message behind architectural design in the context of semiotic theory by taking the case of the Bima Bandung microlibrary. The purpose of this study is to understand the denotative and connotative messages in the Bima microlibrary. The study refers to the case study method of qualitative research. In the microlibrary Bima conveys a message of 1)war against low literacy levels, 2) is an example of improving public spaces, 3) giving messages of environmentally conscious design, 4)the use of used plastic buckets is arranged to form the word "Books are the Window of the World". The denotative meanings of Bima's microlibrary are: location in a densely populated residential area, the building is in the form of a box, supported by a steel structure, the color of the building is black for the structure, the walls and windows are white. The connotative meaning is that the presence of the building does not interfere with existing open space facilities. The shape of the building becomes a symbol of progressive, inviting people to advance through reading books. The window material creates a dramatic effect, giving the impression that the building cares about environmental issues. Keywords: microlibray, semiotics, building, denotative, connotative. Abstrak Semiotika pada Microlibrary Bima Bandung. Kajian semiotika pada bangunan masih belum banyak dilakukan. Oleh karena itu kami melakukan kajian tentang pesan dibalik karya bangunan dalam konteks teori semiotika dengan mengambil kasus microlibrary Bima Bandung. Tujuan penelitian ini adalah mencoba memahami pesan denotatif dan konotatif pada microlibrary Bima. Tulisan mengacu pada metode studi kasus penelitian kualitatif. Pada microlibrary Bima menyampaikan pesan tentang 1) perang terhadap rendahnya tingkat literasi, 2) merupakan contoh memperbaiki ruang publik, 3) memberi pesan rancangan yang sadar terhadap lingkungan, 4)penggunaan material bekas ember plastik ditata membentuk kata “Buku adalah Jendela Dunia”. Makna denotatif microlibrary Bima yaitu: lokasi di kawasan pemukiman padat, bangunan berbentuk balok, yang ditopang struktur baja, warna bangunan hitam untuk struktur, dinding dan jendela berwarna putih. Makna konotatif yaitu kehadiran bangunan tidak mengganggu fasilitas ruang terbuka yang ada sebelumnya. Bentuk bangunan menjadi simbol kemajuan, mengajak masyarakat maju melalui membaca buku. Material jendela menimbulkan efek dramatis, memberi kesan bahwa bangunan peduli terhadap isu lingkungan. Kata kunci: microlibray, semiotika, bangunan, denotatif, konotatif.
EFIKASI DIRI PADA GENERASI Z DI SURABAYA DALAM PERSPEKTIF FOTOGRAFI TERAPEUTIK Junaidi Wirawan; Acep Iwan Saidi; Astrid Kusumowidagdo
Jurnal Seni dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Seni dan Reka Rancang : Jurnal Ilmiah Magister Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.277 KB) | DOI: 10.25105/jsrr.v5i1.15273

Abstract

AbstractThis study discusses self-efficacy in Generation Z in Surabaya in the perspective of therapeutic photography. Aims to find out the phenomenon of Generation Z decreased self-efficacy in Surabaya and how this problem can be seen through therapeutic photography. The method used is qualitative with a phenomenological approach. The results of the study were that the majority of six respondents experienced mild symptoms of depression as well as decreased self-efficacy and therapeutic photography could be a supplement to increase self-efficacy. Further research needs to be done with the design of therapeutic photography to find out more clearly about healing and increasing self-efficacy.Keywords: depression, self efficacy, terapeutik photography   AbstrakPenelitian ini membahas tentang efikasi diri pada generasi Z di Surabaya dalam perspektif fotografi terapeutik. Bertujuan untuk mengetahui fenomena menurunnya efikasi diri pada generasi Z di Surabaya dan bagaimana masalah tersebut dapat dipahami melalui perspektif fotografi terapeutik. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian adalah dari enam responden mayoritas mengalami gejala depresi ringan (mild) serta penurunan efikasi diri dan fotografi terapeutik dapat menjadi suplemen untuk meningkatkan efikasi diri. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan dengan perancangan fotografi terapeutik untuk mengetahui lebih jelas efek healing dan peningkatan efikasi diri.Kata kunci: depresi, efikasi diri, fotografi terapeutik
GAYA ANDROGINI DALAM POP CULTURE Ciawita Atmadiratna Lautama; Krishna Hutama; Acep Iwan Saidi
Jurnal Seni dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Seni dan Reka Rancang : Jurnal Ilmiah Magister Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5670.705 KB) | DOI: 10.25105/jsrr.v5i1.15274

Abstract

Abstract As a style that combines masculine and feminine elements in one look, androgyny style has become an important trend in the fashion world since the last few decades. The emergence of people who refuse to be dictated by gender stereotypes, and the dominance of pop culture which has succeeded in mastering human life’s aspects have made androgyny style an important part of the popular culture and fashion trends development globally. This study uncovers the origin of androgyny style, and the role of pop culture related to its development in the fashion world. This research will reveal the journey of androgyny style from its inception and to explore the pop culture’s role in the development of androgyny style. This research is a descriptive qualitative research using netnographic method. It can be concluded that the development of androgyny style is inseparable from the influence of pop culture because it has dominated aspects of human life for the past few decades and the culture’s existence will continue to influence the fashion world in the future.Keywords: fashion, androgyny style, pop culture Abstrak Gaya androgini sebagai gaya berbusana yang memadukan unsur maskulin dan feminin dalam satu tampilan telah menjadi tren penting di dunia fashion sejak beberapa dekade belakangan. Maraknya kemunculan orang-orang yang menolak untuk didikte oleh stereotip gender, serta dominasi pop culture yang berhasil menguasai aspek-aspek kehidupan manusia menjadikan gaya androgini sebagai bagian penting dalam perkembangan budaya populer serta tren fashion secara global. Penelitian ini mengungkap asal muasal kemunculan gaya androgini, dan peran pop culture terkait dengan perkembangan gaya androgini di dunia fashion. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap perjalanan gaya androgini dari awal kemunculannya dan mengeksplorasi peran pop culture dalam perkembangan gaya androgini di dunia fashion. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode netnografi. Dapat disimpulkan bahwa perkembangan gaya androgini tidak terlepas dari pengaruh pop culture karena budaya tersebut telah mendominasi aspek kehidupan manusia sejak beberapa dekade belakangan dan keberadaan pop culture akan terus mempengaruhi dunia fashion di masa depan. Kata kunci: fashion, gaya androgini, pop culture
DAMPAK PSYCHO-CULTURAL DAN PERILAKU SOSIAL PENGUNJUNG STREET ART MURAL DI TEROWONGAN KENDAL Raja Fajar Thalib; Sangayu Ketut Laksemi Nilotama; Ahadiat Joedawinata
Jurnal Seni dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Seni dan Reka Rancang : Jurnal Ilmiah Magister Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2912.298 KB) | DOI: 10.25105/jsrr.v5i1.15275

Abstract

Abstract Street art is a visual art that develops in line with the development of urban cities. Street art is often considered vandalism for most people. One of the public spaces that has street art in it is the Kendal Tunnel. The purpose of this study was to determine the impact of Psycho-Cultural and the impact of social behavior on visitors to the presence of street in the Kendal tunnel, and how the elements of design, and principal of desing affect it . The methodology used in this study is a mixed method with data triagulation, namely interviews, questionnaire distribution and literature study. The results of this study prove that the presence of Street Art works in the Kendal tunnel makes visitors feel happy, comfortable and safe so that it support Kendal tunnel to become recreational place because it provides entertaintment that visitors need.Keywords: street art, mural, kendal tunel, psycho-cultural, social behaviour   AbstrakStreet art adalah seni visual yang berkembang sejalan dengan perkembangan kota urban. Street art sering dianggap vandalisme di ruang publik bagi kebanyakan masyarakat dikarenakan keberadaan street art tidak pada tempatnya. Salah satu ruang publik yang mengijinkan keberadaan street art di dalamnya adalah terowongan kendal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak Psycho-Cultural serta dampak perilaku sosial terhadap pengunjung atas keberadaan street art di terowongan kendal dan bagaimana elemen dan prinsip desain mempengaruhinya. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah mixed method dengan triagulasi data yaitu wawancara, pembagian kuesioner dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa dengan keberadaan karya street art di terowongan Kendal membuat pengunjung merasa senang, nyaman juga aman sehingga mendukung terowongan kendal menjadi wahana rekreasi karena menyediakan hiburan yang dibutuhkan bagi pengunjung.Kata kunci: street art, mural, terowongan kendal, psycho-cultural, perilaku sosial
IMERSI DAN NOSTALGIA DALAM GAME A SPACE FOR THE UNBOUND Pandu Rukmi Utomo; Krishna Hutama; Yan Yan Sunarya
Jurnal Seni dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Seni dan Reka Rancang : Jurnal Ilmiah Magister Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.524 KB) | DOI: 10.25105/jsrr.v5i1.15276

Abstract

AbstractIs a research with goals to understand the relationship between immersion and nostalgia in Indonesian culture based game A Game For The Unbound. Research methodology used in this research is the aesthetic transformation method. This methodology is part of qualitative research in which the design object is reviewed by design critics and design discourse. The attention in details and understanding to the culture used trough aesthetic elements of video game is the most important factors to determine the success of A Game For The Unbound in creating immersion and nostalgia,Keywords: video game, culture, immersion, nostalgia AbstrakMerupakan sebuah penelitian yang bertujuan untuk menggali hubungan antara imersi dan nostalgia pada game Indonesia bermuatan budaya dengan judul A Game For The Unbound. Metode penelitian yang digunakan adalah transformasi estetik yang merupakan penelitian kualitatif dengan cara mengkaji sebuah objek desain melalui kritik desain dan wacana desain. Perhatian terhadap detail dan pemahaman terhadap budaya yang diangkat dalam elemen estetik video game merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan A Space For The Unbound dalam menciptakan imersi dan nostalgia.Kata kunci: video game, kebudayaan, imersi, nostalgia
BERALIH DARI MEBEL KAYU SOLID KE MEBEL BERBASIS ROTARY VENEER (BENTWOOD) Susi Hartanto
Jurnal Seni dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Seni dan Reka Rancang : Jurnal Ilmiah Magister Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1552.243 KB) | DOI: 10.25105/jsrr.v5i1.15277

Abstract

AbstractWith spindleless rotary peeling technology, small diameter wood (such as rubber wood, acacia, or coconut) became possible to be processed into rotary veneers, compared to previous technologies that only allowed for large diameter wood, which is now increasingly rare. The purpose of this article is to provide insight, especially for furniture designers to utilize raw materials that are more environmentally friendly and efficient, but still have the beauty of wood. This article was compiled using a descriptive analysis method, direct study through the manufacture of various wooden furniture made from solid wood on a mass production scale and prototype-scale veneer (bentwood) furniture, surveys to factories that produce solid wood furniture, and surveys to factories that produce rotary veneers and bentwood. Rotary veneers converted to bentwood furniture is a more environmentally friendly, sustainable, efficient option in the use of materials, parts, and hardware.Keywords: rotary veneer, bentwood, furniture   AbstrakDengan teknologi rotary peeling spindleless, kayu berdiameter kecil (seperti kayu karet, akasia, dan kelapa) menjadi mungkin untuk diproses menjadi rotary veneer, dibandingkan teknologi sebelumnya yang hanya memungkinkan untuk kayu berdiameter besar, yang saat ini sudah semakin langka. Tujuan dari artikel ini adalah memberikan wawasan, terutama bagi desainer mebel untuk lebih memanfaatkan bahan baku yang lebih ramah lingkungan dan efisien, namun tetap memiliki keindahan kayu. Artikel ini disusun dengan metode analisis deskriptif, studi langsung melalui pembuatan berbagai mebel kayu berbahan kayu solid skala produksi masal dan mebel berbahan veneer (bentwood) skala prototipe, survei ke pabrik yang memproduksi mebel kayu solid, dan survei di pabrik yang memproduksi rotary veneer dan bentwood. Rotary veneer yang dikonversi menjadi mebel bentwood adalah pilihan yang lebih ramah lingkungan, berkelanjutan, efisien dalam penggunaan material, part, dan hardware. Kata kunci: rotary veneer, bentwood, mebel
PEMBUATAN DATASET ANIMASI BAHASA ISYARAT UNTUK APLIKASI UMKM DIGITAL BAGI MASYARAKAT TUNA RUNGU WICARA Fransiska Sisilia Mukti; Nicholaus Wayong Kabelen
Jurnal Seni dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Seni dan Reka Rancang : Jurnal Ilmiah Magister Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (926.989 KB) | DOI: 10.25105/jsrr.v5i1.15278

Abstract

Abstract Sign language is the primary tool for people with speech impairment in communicating with the surrounding environment. However, the existence of sign language itself is not fully understood by the wider community, so the space for movement of people with hearing impairments is often limited. It takes a companion such as a sign language expert to be able to translate the surrounding information. Innovations are needed to make it easier for the deaf to communicate with their environment, especially in technology. This research explicitly presents the concept of making a sign language animation video that translates the body movements of experts into a 3D animation which will later be combined as one of the features of artificial intelligence in digital MSME applications using speech-to-text and text-to-animation technology. The process of making animation is carried out in four major stages: data collection (recording of sign language movements from experts), analysis, animation design (through pre-production, production and post-production stages), and evaluation of the results of making videos for users. A series of processes have been carried out, starting from character sketching, modeling, texturing, rigging, script conversion, and motion animation creation to the rendering process; the results obtained are animated characters that are adapted to the personal character of one of the experts and accurate sign language movements. Based on the evaluation results through the distribution of questionnaires to 40 user respondents, it was found that the animated video that had been made had a correctness quality factor value of 94%, a usability quality factor of 97.25%, and a flexibility quality factor of 95.75%. The evaluation results show that creating a sign language movement animation dataset has the appropriate function and purpose for feature development in digital MSME applications.Keywords: animation, sign language, speech deaf, MSME, AI dataset   Abstrak Bahasa isyarat menjadi alat bantu utama bagi para penyandang disabilitas tuna rungu wicara dalam berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Namun, keberadaan bahasa isyarat sendiri tidak sepenuhnya dipahami oleh masyarakat luas, sehingga seringkali ruang gerak para penyandang tuna rungu wicara menjadi terbatas. Dibutuhkan adanya pendamping seperti tenaga ahli bahasa isyarat untuk dapat mentranslasikan informasi di sekitarnya. Inovasi baru dibutuhkan untuk menciptakan kemudahan bagi kalangan tuna rungu wicara dalam berkomunikasi dengan lingkungannya, khususnya dalam bidang teknologi. Penelitian ini secara khusus menghadirkan konsep pembuatan video animasi bahasa isyarat yang mentranslasikan gerakan tubuh para tenaga ahli menjadi sebuah animasi 3D yang nantinya akan digabungkan sebagai salah satu fitur kecerdasan buatan pada aplikasi UMKM digital dengan menggunakan teknologi speech-to-text and text-to-animation. Proses pembuatan animasi dikerjakan dalam empat tahapan besar yang meliputi pengumpulan data (perekaman gerakan bahasa isyarat dari tenaga ahli), analisis, perancangan animasi (melalui tahap pra produksi, produksi dan pasca produksi), serta evaluasi hasil pembuatan video kepada pengguna. Serangkaian proses telah dilakukan mulai dari pembuatan sketsa karakter, modelling, texturing, rigging, konversi naskah, pembuatan animasi gerakan hingga proses rendering, didapatkan hasil karakter animasi yang disesuaikan dengan personal karakter dari salah satu tenaga ahli dan gerakan bahasa isyarat yang sesungguhnya. Berdasarkan hasil evaluasi melalui penyebaran kuesioner terhadap 40 responden pengguna, didapatkan hasil bahwa video animasi yang telah dibuat memiliki nilai faktor kualitas correctness sebesar 94%, faktor kualitas usability sebesar 97,25% dan faktor kualitas flexibility sebesar 95,75%. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pembuatan dataset animasi gerakan bahasa isyarat memiliki kesesuaian fungsi dan tujuannya untuk pengembangan fitur pada aplikasi UMKM digital.Kata kunci: animasi, bahasa isyarat, rungu wicara, UMKM, dataset AI 
PERANCANGAN ANIMASI PENDEK BISINDO UNTUK ANAK TULI DESIGN OF BISINDO LEARNING SHORT ANIMATION FOR DEAF CHILDREN Arie Arfandi Andjar; Elda Franzia; Achmad Syarief
Jurnal Seni dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Seni dan Reka Rancang : Jurnal Ilmiah Magister Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1107.622 KB) | DOI: 10.25105/jsrr.v5i1.15280

Abstract

Abstract Animation that can function as informal learning media have been widely available in the internet, however animations containing BISINDO learning, where the animated characters perform sign language are still very rare. Like normal children, deaf children also have the right to get animate shows that can be used as informal learning medium. This research aims to produce an animation that contain BISINDO learning elements in it. In conducting the research, an exploratory sequential mixed method approach was used which went through three stages. The first stage is data collection which result in identification of visual content an teaching concepts of BISINDO. The second stage is making the animation process, in which the animation result are shown to deaf children to be evaluated how the comprehension and interest of deaf children towards the animation. From the evaluation, it can be concluded that deaf children are interested in the animation’s visual and understand the sign language conveyed in it.Keywords: deaf, BISINDO, animation, informal learning medium Abstrak Animasi yang dapat berfungsi sebagai media pembelajaran informal telah banyak beredar dijejaring, akan tetapi animasi yang membuat pembelajaran BISINDO dimana karakter dari animasi tersebut melakukan gerakan bahasa isyarat masih jarang. Sebagaimana anak dengar, anak Tuli juga berhak untuk mendapatkan tontonan animasi yang bisa menjadi media pembelajaran informal. Penelitian bertujuan untuk menghasilkan animasi yang terdapat unsur pembelajaran BISINDO di dalamnya. Dalam melakukan penelitian digunakan metode penelitian sekuensial campuran yang melalui tiga tahapan. Tahap pertama adalah pengumpulan data yang menghasilkan identifikasi konten visual dan konsep pengajaran BISINDO. Tahap kedua adalah pembuatan animasi, yang mana hasil animasi diperlihatkan pada anak Tuli untuk dievaluasi pemahaman dan ketertarikan terhadap animasi. Dari evaluasi terlihat bahwa anak tuli tertarik dengan visual animasi dan paham akan konten bahasa isyarat yang disampaikan. Kata kunci: tuli, BISINDO, animasi, media pembelajaran informal
MOTOR RETRO STYLE DALAM PERSPEKTIF KAJIAN BUDAYA (STUDY KASUS KOMUNITAS MOTOR RETRO DI JAKARTA) Ivan Setiawan; Cama Juli Rianingrum; Acep Iwan Saidi
Jurnal Seni dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Seni dan Reka Rancang : Jurnal Ilmiah Magister Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.183 KB) | DOI: 10.25105/jsrr.v5i1.15281

Abstract

AbstractMotorcycles with retrospective style in the contemporary era have become popular in urban communities, especially in Jakarta. This is marked by the many emerging and individual communities of retro motorcycle enthusiasts of various types and becoming a trend among them. The author uses a cultural studies approach and an interdisciplinary approach to analyze this phenomenon. Retrospective style motorcycle design concept seeks to re-present the forms of the past. Redesigning the motorcycle by displaying hybridity, namely embedding several cultural elements in different eras into a new whole. Elements on retro motorbikes contain semiotic signs so that their iconic, symbolic and indexity meanings can be known. Based on interviews with informants, factors such as attachment to the past (nostalgia), interest in certain retro types of motorbikes, lifestyle and hobbies are the reasons for retrospective motorbikes to become popular, especially in urban Jakarta communities.Keywords: retrospective style, semiotics, popular culture. AbstrakMotor dengan gaya retrospektif di era kontemporer menjadi populer di tengah masyarakat urban khususnya di Jakarta. Hal ini ditandai dengan banyak bermunculan komunitas maupun individu penggemar motor retro dari berbagai tipe dan menjadi tren di kalangan mereka. Penulis menggunakan pendekatan cultural studies dan metode interdisciplinary approach untuk menganalisa fenomena tersebut. Konsep desain motor gaya retrospektif berusaha menampilkan kembali bentuk-bentuk masa lalu. Mendesain ulang motor dengan menampilkan hibriditas yaitu menyematkan beberapa unsur budaya pada era yang berbeda menjadi satu kesatuan yang baru. Elemen-elemen pada motor retro mengandung tanda semiotika sehingga dapat di ketahui makna ikonik, simbolis dan indeksitasnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber, faktor-faktor seperti keterikatan dengan masa lalu (nostalgia), ketertarikan terhadap motor retro tipe tertentu, lifestyle dan hobi menjadi penyebab motor retrospektif menjadi populer khususnya di masyarakat urban Jakarta.Kata kunci: gaya retrospektif, semiotika, budaya populer.

Page 8 of 18 | Total Record : 179