cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsp@unisba.ac.id
Phone
+6289691247094
Journal Mail Official
bcsp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Pharmacy
ISSN : -     EISSN : 28282116     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Bandung Conference Series: Pharmacy (BCSP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Farmasi dengan ruang lingkup Airlock system Kanker, Alcohol, Antelmintik, Antigastritis drugs, Antioksidan, Artemia franciscana, Ascaris suum, Cacing babi (Ascaris suum Goeze), Contact Bioautography TLC, Daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers), Daun kelor (Moringa oleifera Lam), Diabetes mellitus, DPPH Flavonoid, Fenilpropanolamin, Fermentasi, Flavonoid, Flavonol,Iles-iles, Isolasi, Lichen, Malassezia furfur, Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Obat antidiabetes (OAD) Propionibacterium acnes, Obat tradisional, Parkia Speciosa Antibakteri, Pektin, Propionibacterium Acnes, Pseudoefedrin, Saccharomyces Cerevisiae, Spektrofotometri uv sinar tampak, Staphylococcus epidermidis, uji aktivitas antibakteri, Uji sitotoksik, Usnea baileyi. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 412 Documents
Formulasi Minuman Kopi Cokelat Herbal Akar Wangi dan Kayu Manis sebagai Peningkat Daya Ingat pada Mencit Adisti; Gita Cahya Eka Darma; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14827

Abstract

Abstract. Antioxidants in plants can protect the brain from oxidative stress, which can lead to memory decline. This study aims to develop a herbal coffee chocolate drink formula containing vetiver root and cinnamon, with the potential to enhance memory. The research began by extracting coffee, vetiver root, and cinnamon using a stovetop method with the aid of a moka pot. The final formula selected for testing was Formula 3, consisting of a mixture of 10% coffee, vetiver root, and cinnamon extract, 0.06% stevia liquid, 10% milk, and chocolate to make up 100% of the volume. Memory testing was conducted using the Y-maze method. Test animals were divided into four groups, with three groups previously subjected to stress (except for the negative control group) by being placed in 50 mL centrifuge tubes under alternating dark and light conditions every 2 hours for 7 days. The drink was administered for 14 days, and the parameter measured was the time taken by the mice to find food. The results indicated that the drink had memory-enhancing activity, as evidenced by a significant difference in the latency time to find food between the positive control group and the group receiving the drink. Abstrak. Antioksidan dalam tumbuhan mampu melindungi otak dari stres oksidatif yang bisa mengakibatkan penurunan daya ingat. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formula minuman kopi cokelat herbal akar wangi dan kayu manis yang berpotensi meningkatkan daya ingat. Penelitian dimulai dengan mengekstraksi kopi, akar wangi, dan kayu manis menggunakan metode stove top dengan bantuan alat moka pot. Formula akhir yang dipilih untuk diuji adalah formula 3, yang terdiri dari campuran 10% ekstrak kopi akar wangi kayu manis, 0,06% cairan stevia, 10% susu dan cokelat ad 100%. Pengujian daya ingat dilakukan menggunakan labirin Y. Hewan uji dibagi menjadi empat kelompok yang sebelumnya diinduksi stres (kecuali kelompok kontrol negatif) dengan ditempatkan dalam tabung sentrifuga 50 mL dalam kondisi gelap dan terang secara bergantian setiap 2 jam selama 7 hari. Minuman diberikan selama 14 hari dan parameter yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan mencit untuk menemukan makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minuman ini memiliki aktivitas peningkat daya ingat, yang ditunjukkan oleh perbedaan signifikan dalam waktu latensi menemukan makanan antara kelompok kontrol positif dan kelompok yang diberikan minuman.
Analisis Kadar Aluminium Klorohidrat pada Produk Deodoran-Antiperspiran dengan Berbagai Metode Penelitian Fitri Anjani; Bertha Rusdi; Hilda Aprilia
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14833

Abstract

Abstract. Deodorants, which are topical products used to reduce body odor, contain aluminum chlorohydrate as an antiperspirant. High concentrations can be toxic, with BPOM setting a maximum limit of 20%. Recent research has developed various methods to analyze aluminum levels in deodorant-antiperspirants, including SSA, DIC, paper-based colorimetry, ion chromatography, ion electrodes, and Franz™ diffusion cells. Validation parameters for these methods vary: linearity (R² 0.9941-0.9999), precision (SD 0.000298-0.030), accuracy (% recovery 91-115%), LOD 0.000665-3.6 mg/L, and LOQ 0.0023-10.2 mg/L. SSA is highlighted for its comprehensive validation, while DIC excels in LOD and LOQ, making both methods optimal for analyzing aluminum chlorohydrate levels in deodorant-antiperspirants. Abstrak. Deodoran, sebagai produk topikal untuk mengurangi bau badan, mengandung aluminium klorohidrat sebagai zat antiperspiran. Penggunaan dalam konsentrasi tinggi dapat berisiko toksik, dengan batas maksimum BPOM adalah 20%. Penelitian terkini mengembangkan berbagai metode untuk menganalisis kadar aluminium dalam deodoran-antiperspiran, termasuk SSA, DIC, kolorimetri platform kertas, kromatografi ion, ion elektroda, dan sel difusi Franz™. Validasi metode menunjukkan hasil yang berbeda-beda: linearitas (R² 0,9941-0,9999), presisi (SD 0,000298-0,030), akurasi (% recovery 91-115%), LOD 0,000665-3,6 mg/L, dan LOQ 0,0023-10,2 mg/L. Metode SSA menonjol dari segi validasi lengkap, sementara metode DIC unggul dalam LOD dan LOQ, sehingga keduanya adalah pilihan terbaik untuk analisis kadar aluminium klorohidrat dalam deodoran-antiperspiran.
Kajian Pustaka Aktivitas Antioksidan Ekstrak Beberapa Kulit Pisang (Musa paradisiaca) Menggunakan Metode DPPH Renata Jilan Azzahra Sonjaya; Livia Syafnir; Kiki Mulkiya
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14834

Abstract

Abstract. Banana is one of Indonesia's native plants that can be utilized for various purposes and is often consumed by the community. Generally, people only utilize the fruit part of the banana and consider the banana peel as waste material. Banana peel which is considered as waste turns out to have potential as an antioxidant because it contains secondary metabolites such as phenols and flavonoids. In this study, a literature search was conducted to collect and analyze research results related to the antioxidant activity of several banana peel extracts using the DPPH method and the IC50 value parameter. Abstrak. Pisang merupakan salah satu tumbuhan asli negara Indonesia dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dan sering dikonsumsi oleh masyarakat. Umumnya masyarakat hanya memanfaatkan bagian buah pisang saja dan menganggap kulit pisang sebagai bahan buangan atau limbah. Kulit pisang yang dianggap sebagai limbah ternyata berpotensi sebagai antioksidan karena mengandung metabolit sekunder seperti fenol dan flavonoid. Dalam penelitian ini dilakukan penelusuran pustaka ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisis hasil-hasil penelitian terkait aktivitas antioksidan dari ekstrak beberapa kulit pisang menggunakan metode DPPH dan parameter nilai IC50.
Uji Aktivitas Penghambatan Enzim Alfa Amilase Ekstrak Daun Kelor (Moringa Oleifera) Putri Asih Mahalani; Kiki Mulkiya; Thyazen Abdo Hizam Al-Hakim
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14873

Abstract

Abstract. Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disorder resulting from loss of tolerance to carbohydrates which is influenced by genetic and clinical factors. Efforts to treat DM include inhibiting α-amylase, a digestive enzyme that breaks down starch in food. Moringa leaves have been used practically in the field of medicine. In vivo and in vitro studies on the Moringa plant show its effectiveness in treating inflammation, hyperlipidemia, and hyperglycemia. Moringa has phytochemical properties including flavonoids and felnolic acid with inflammation-related, antioxidant, and antibacterial activities. This study aims to test the inhibitory activity of the alpha amylase enzyme and determine the total flavonoid content of Moringa leaf extract. The alpha amylase enzyme inhibitory activity test on Moringa leaves was carried out in vitro using the DNS (Dinitrosalicylic acid) method at concentrations of 10 ppm, 15 ppm, 20 ppm, 25 ppm and 30 ppm. The results obtained are expressed by the IC50 value of Moringa leaf extract, which is 26.25 ppm. The results of determining the total flavonoid content had a value of 114.702%. Abstrak. Diabetes melitus (DM) gangguan metabolisme akibat hilangnya toleransi terhadap karbohidrat, dipengaruhi oleh faktor genetik dan klinis. Upaya penanganan DM termasuk penghambatan α-amilase, enzim pencernaan yang memecah pati dalam makanan. Daun kellor sudah digunakan selcara praktis dalam bidang pelngobatan,. Pada studi in vivo dan in vitro pada tanaman kellor sudah melrelkomelndasikan elfelktivitasnya dalam melngobati pelradangan, hipelrlipidelmia, dan hipelrglikelmia. Kellor mimiliki sifat fitokimia selpelrti flavonoid dan asam felnolik delngan aktivitasnya telrkait inflamels, antioksidan dan antibaktelri. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengujian aktivitas penghambatan enzim alfa amilase dan menetapkan kadar flavonoid total dari ekstrak daun kelor. Uji aktivitas penghambatan enzim alfa amilase daun kelor (Moringa oleifera) dilakukan secara in vitro dengan metode DNS (Dinitrosalicylic acid) pada konsentrasi 10 ppm, 15 ppm, 20 ppm, 25 ppm, dan 30 ppm. Hasil yang diperoleh dinyatakan sebagai nilai IC50 pada ekstrak daun kelor yaitu sebesar 26,25 ppm hasil penetapan kadar flavonoid total memiliki nilai sebesar 114,702%.
Pengujian Secara In Vitro Aktivitas Potensi Tabir Surya Ekstrak Kulit Buah Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia (Cristm.) Swingle) Lulu Mumtaz; Thyazen Abdo Hizam Alhakimi; Livia Syafnir
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14900

Abstract

Abstract. Skin is the outermost protective layer of body, so it needs to be protected. Exposure UV rays has been proven to affect the skin, where UV-A rays are cause skin aging, and UV-B is cause redness. One way to protect skin from exposure UV rays is use sunscreen. Lime peel has potential as a sunscreen because it contains flavonoids, tannins and phenols which have conjugated double bonds which can make them absorb UV rays. This research aims to test lime peel extract which has potential as a sunscreen by determining Sun Protection Factor (SPF) value, percent transmission value of erythema (%Te), and percent transmission of pigmentation (%Tp), as well as looking at the effect of different extraction methods on the SPF value, %Te, and %Tp. Based on the research results, it is known that lime peel (Citrus aurantifolia (Critsm) Swingle) has potential as a sunscreen where at a concentration of 600 ppm an SPF value of 39.76, %Te 0.020%, and %Tp 0.857% is obtained for the reflux extraction method, and SPF value was 39.71, %Te 0.021%, and %Tp 0.978% for maceration extraction method. Based on the results obtained, it is known that there are no differences in the categories of SPF values, %Te and %Tp in maceration and reflux extraction method. Abstrak. Kulit merupakan lapisan pelindung terluar pada tubuh, sehingga perlu dilindungi. Paparan sinar UV terbukti dapat mempengaruhi kulit, dimana sinar UV-A berhubungan dengan penuaan kulit, dan UV-B berhubungan dengan kemerahan kulit. Salah satu cara untuk melindungi kulit dari paparan sinar UV ini adalah dengan memakai tabir surya. Kulit buah jeruk nipis memiliki potensi sebagai tabir surya karena mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan fenol yang memiliki ikatan rangkap terkonjugasi yang dapat membuatnya menyerap sinar UV. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengujian terhadap ekstrak kulit buah jeruk nipis yang berpotensi sebagai tabir surya melalui penentuan nilai sun protection factor (SPF), nilai persen transmisi eritema (%Te), dan persen transmisi pigmentasi (%Tp), juga melihat pengaruh perbedaan metode ekstrkasi terhadap nilai SPF, %Te, dan %Tp. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia (Critsm) Swingle) memiliki potensi sebagai tabir surya dimana pada konsentrasi 600 ppm diperoleh nilai SPF 39,76, %Te 0,020%, dan %Tp 0,857% untuk metode ekstraksi refluks, dan diperoleh nilai SPF 39,71, %Te 0,021%, dan %Tp 0,978% untuk metode ekstraksi maserasi. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa tidak ada perbedaan kategori nilai SPF, %Te dan %Tp pada metode ekstraksi maserasi dan refluks.
Analisis Kadar Hidrokuinon dalam Krim Pemutih yang Beredar Bebas di Kecamatan Sukajadi Kota Bandung dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis Rizky Setiawan
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14902

Abstract

Abstract. Hydroquinone is widely used in whitening cream cosmetic products because it plays a role in the process of inhibiting melanogenesis, thereby reducing the dark color of the skin. However, hydroquinone is reported to be carcinogenic or can trigger the formation of tumor cells, if used in high levels. The purpose of this study was to analyze hydroquinone levels in whitening creams that are freely circulated in the market by UV-Vis spectrophotometric method. While identification and separation using KLT and KLTP methods. The identification test results showed that 2 out of 3 samples contained hydroquinone compounds. Based on the validation results of the analysis method on the accuracy parameter, the %recovery was 99.53% and 99.94%. In the precision parameter of 0.45% and 1.30% by intraday. While 0.025% and 0.032% by way of interday. In the specificity parameter. In the linearity parameter, the regression value (r) is 0.9991. So that result for limit of detection and limit of quantification is 1,927 ppm and 3,9758 ppm. The measurement results of hydroquinone levels in the each sample are 0.198% and 0.166%. Therefore, the hydroquinone content in the whitening cream samples that are freely circulated in the market violates the BPOM rules. Abstrak. Hidrokuinon banyak digunakan pada produk kosmetik krim pemutih karena berperan dalam proses penghambatan melanogenesis sehingga mengurangi warna gelap pada kulit. Namun, hidrokuinon dilaporkan bersifat karsinogenik atau dapat memicu pembentukan sel tumor, jika digunakan dalam kadar tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan memisahkan hidrokuinon dalam krim pemutih menggunakan metode KLT dan KLTP. Kemudian menganalisis kadar hidrokuinon pada krim pemutih yang beredar bebas di pasaran dengan metode Spektrofotometri UV-Vis. Hasil uji identifikasi menunjukan 2 dari 3 sampel mengandung senyawa hidrokuinon. Berdasarkan hasil validasi metode analisis pada parameter akurasi didapatkan %recovery sebesar 99,53% dan 99,94%. Pada parameter presisi sebesar 0,45% dan 1,30% dengan cara intraday. Sedangkan 0,025% dan 0,032% dengan cara interday. Pada parameter linearitas didapatkan hasil nilai regresi (r) 0,9991. Sehingga menghasilkan nilai batas deteksi dan kuantifikasi secara berturut-turut adalah 1,927 ppm dan 3,9758 ppm. Hasil pengukuran kadar hidrokuinon pada masing-masing sampel yaitu sebesar 0,198% dan 0,166%. Oleh karena itu kandungan hidrokuinon pada sampel krim pemutih yang beredar bebas di pasaran melanggar aturan BPOM.
Karakterisasi Simplisia Daun Tembakau (Nicotiana tabacum L.) Varietas Vorstenlanden Dhea Khairunnisa Az-zahra; Vinda Maharani Patricia; Farendina Suarantika
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14911

Abstract

Abstract. Tobacco (Nicotiana tabacum L.) is one of the plants with high commercial value in the industrial sector. This research aims to characterize the Vorstenlanden variety of tobacco leaves to identify the distinctive features of this variety and compare them with the standards outlined in SNI-01-0612-1989 concerning tobacco quality. The methodology used includes organoleptic observations, determination of moisture content, total ash content and acid-insoluble ash, water-soluble and ethanol-soluble extractives, and drying loss. The research results indicate that characterization parameters such as moisture content and ash content do not comply with SNI-01-0612-1989 standards for tobacco quality. The moisture content obtained was 6.00%, while the standard for tobacco leaf moisture content is in the range of 13-20%. The total ash content obtained was 19.52%, whereas the standard for total ash content in tobacco leaves is not more than 16%. Abstrak. Tembakau (Nicotiana tabacum L.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki nilai jual yang tinggi di aspek industri. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan proses karakterisasi daun tembakau varietas Vorstenlanden untuk mengetahui ciri khas varietas tersebut, serta membandingkan dengan standar yang tertera pada SNI-01-0612-1989 tentang mutu tembakau. Metodologi yang digunakan meliputi pengamatan organoleptis, penetapan kadar air, kadar abu total dan tidak larut asam, kadar sari larut air dan larut etanol, serta susut pengeringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter karakterisasi seperti kadar air dan kadar abu tidak sesuai dengan SNI-01-0612-1989 tentang mutu tembakau. Nilai kadar air yang didapatkan adalah sebesar 6,00%, sementara itu standar untuk kadar air daun tembakau berada pada rentang 13-20%. Nilai kadar abu total yang di dapatkan adalah sebesar19,52%, sementara itu standar untuk kadar abu total daun tembakau adalah tidak lebih dari 16%.
Pengembangan Eksipien tablet dari Pati Termodifikasi Feni Muhaimin Febriyanti; Ratih Aryani; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14913

Abstract

Abstract. Starch is a primary metabolite, namely polysaccharides derived from plants found in plant parts such as roots, stems, seeds, and fruits, this starch is composed of two molecular components, namely amylose and amylopectin. Modified starch is natural starch that has undergone advanced stages as an effort to change physical and chemical properties in a controlled manner so as to change one or more properties of the starch, so as to support the use of starch as an excipient in the pharmaceutical industry. This study was conducted to determine the potential of modified starch that can be used as an excipient in tablet preparations. The research conducted was a literature study using research articles available online. Based on the studies that have been carried out, modified starch has the potential as an excipient material in tablet making by covering fillers, crushers, and binders which is proven that modified starch can be selected as an excipient in the manufacture of tablet pharmaceutical preparations because modified starch has physicochemical properties that are more supportive than natural starch which has disadvantages if used as an excipient material in tablet preparation when used in its natural form. Abstrak. Pati merupakan metabolit primer yaitu polisakarida yang berasal dari tumbuhan yang terdapat pada bagian tumbuhan seperti pada akar, batang, biji, dan buah, pati ini tersusun dari dua komponen molekul yaitu amilosa dan amilopektin. Pati modifikasi adalah pati alami yang telah mengalami tahap lanjutan sebagai upaya perubahan sifat fisika dan kimia secara terkendali sehingga dapat merubah satu atau lebih sifat dari pati tersebut, sehingga dapat menunjang penggunaan pati sebagai bahan eksipien pada industri farmasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi pati termodifikasi yang dapat digunakan sebagai bahan eksipien pada sediaan tablet. Penelitian yang dilakukan adalah studi literatur dengan menggunakan artikel penelitian yang tersedia secara online. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, pati termodifikasi mempunyai potensi sebagai bahan eksipien pada pembuatan tablet dengan meliputi pengisi, penghancur, dan pengikat yang dibuktikan bahwa pati termodifikasi dapat dipilih sebagai eksipien dalam pembuatan sediaan farmasi tablet karena pati termodifikasi memiliki sifat fisikokimia yang lebih menunjang dibandingkan dengan pati alami yang memiliki kekurangan jika dijadikan sebagai bahan eksipien pada pembuatan sediaan tablet apabila dipakai dalam bentuk alaminya.
Penetapan Parameter Standar dan Skrining Fitokimia Simplisia Batang Sereh (Cymbopogon citratus) Lailatul Taqbi Rahmatya; Umi Yuniarni; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14926

Abstract

Abstract. Lemongrass is a plant that has many uses in traditional medicine in addition to kitchen spices, kitchen lemongrass is also useful as a remedy for headaches, body warming, cough, stomach pain, diarrhea, heat reduction, and mosquito repellent. The purpose of this study is to obtain standard values of parameters and phytochemical screening of kitchen lemongrass stems (Cymbopogon citratus). This study uses laboratory experimental research methods by testing specific parameters in the form of water-soluble and ethanol-soluble juice levels, non-specific parameters in the form of drying shrinkage, moisture content, and specific weight, as well as phytochyma screening referring to the Pharmacopoeia Indonesia Herbal. The results of the standard parameters of lemongrass stem water soluble juice content were 30.61%, ethanol soluble juice content was obtained 26.44%, drying shrinkage of lemongrass stem was 6.91%, moisture content was 9.19%, 9.85% and specific weight was obtained of 0.85 g/mL. The results of phytochemical screening screening of lemongrass stem simplicia contain a group of alkaloid compounds, flavonoids, polyphenolates, saponins, tannins, monoterpenoids and sesquiterpenoids. Abstrak. Sereh merupakan tanaman yang memiliki banyak digunakan dalam pengobatan tradisional selain untuk bumbu dapur sereh dapur juga bermanfaat sebagai obat untuk sakit kepala, penghangat badan, batuk, nyeri lambung, diare, penurun panas, dan pengusir nyamuk. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh nilai-nilai standar parameter dan skrining fitokimia batang sereh dapur (Cymbopogon citratus). Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental laboratorium dengan menguji parameter spesfik berupa kadar sari larut air dan larut etanol, parameter non spesifik berupa susut pengeringan, kadar air, dan bobot jenis, serta skrining fitokima yang merujuk pada Farmakope Herbal Indonesia. Hasil parameter standar batang sereh kadar sari larut air sebesar 30,61%, kadar sari larut etanol diperoleh 26,44%, susut pengeringan batang sereh sebesar 6,91%, kadar air sebesar 9,19%, 9,85% dan bobot jenis diperoleh sebesar 0,85 g/mL. Hasil penapisan skrining fitokimia simplisia batang sereh mengandung golongan senyawa alkaloid, flavonoid, polifenolat, saponin, tanin, monoterpenoid dan sesquiterpenoid.
Glimepiride sebagai Antidiabetika Oral pada Diabetes Melitus Tipe 2 Dwi Oktariani; Fitrianti Darusman; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14952

Abstract

Abstract. Diabetes mellitus is a non-infectious disease with a high prevalence in the world. It has become a growing global problem. The International Diabetes Federation estimates the holistic prevalence of diabetes mellitus to be 540 million in 2021, increasing to 783 million in 2045. So far there is currently no cure for diabetes, but pharmacological therapy may be required to maintain blood glucose levels as close to normal as possible and to delay the development of diabetes-related health problems. Glimepiride is used as an oral antihyperglycemic agent, which is effective and well tolerated in the treatment of type 2 diabetes. This study aims to determine the physicochemical properties and mechanism of glimepiride in reducing blood glucose levels and to determine the advantages of glimepiride from other antidiabes. Glimepirid is an active pharmaceutical substance with the characteristics of a white to almost white powder that is practically insoluble in water, has two polymorphic forms, namely forms I and II. Glimepiride lowers blood sugar levels by binding to sulfonylurea receptors (SUR) ATP-sensitive potassium channels on pancreatic β-cells. Glimepiride lowers blood sugar levels well at low doses, has a fast onset of action, and the side effect of hypoglycemia is lower than other insulin secretagogues. Abstrak. Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan pravelensi yang tinggi di dunia. Penyakit ini telah menjadi masalah global yang terus berkembang. Federasi Diabetes Internasional memperkirakan prevalensi diabetes melitus secara holistik merupakan 540 juta di tahun 2021, dan meningkat menjadi 783 juta di tahun 2045. Sejauh ini belum ada obat untuk diabetes, tetapi terapi farmakologis mungkin diperlukan untuk mempertahankan kadar glukosa darah sedekat mungkin dengan normal dan untuk menunda perkembangan masalah kesehatan terkait diabetes. Glimepiride digunakan sebagai agen antihiperglikemik oral, yang efektif dan dapat ditoleransi dengan baik dalam pengobatan diabetes tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui sifat fisikokimia dan mekanisme glimepirid dalam menurunkan kadar glukosa darah serta mengetahui kelebihan glimepirid dari antidiabes lainnya. Glimepirid merupakan zat aktif farmasi dengan pemerian serbuk putih sampai hampir putih yang praktis tidak larut dalam air, memiliki dua bentuk polimorf, yaitu bentuk I dan II. Glimepirid menurunkan kadar gula darah dengan berikatan dengan reseptor sulfonilurea (SUR) saluran kalium sensitif ATP pada sel β pankreas. Glimepirid menurunkan kadar gula darah dengan baik pada dosis rendah, memiliki onset kerja yang cepat, serta efek samping hipoglikemia yang lebih rendah dari secretagog insulin lainnya.