cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsp@unisba.ac.id
Phone
+6289691247094
Journal Mail Official
bcsp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Pharmacy
ISSN : -     EISSN : 28282116     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Bandung Conference Series: Pharmacy (BCSP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Farmasi dengan ruang lingkup Airlock system Kanker, Alcohol, Antelmintik, Antigastritis drugs, Antioksidan, Artemia franciscana, Ascaris suum, Cacing babi (Ascaris suum Goeze), Contact Bioautography TLC, Daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers), Daun kelor (Moringa oleifera Lam), Diabetes mellitus, DPPH Flavonoid, Fenilpropanolamin, Fermentasi, Flavonoid, Flavonol,Iles-iles, Isolasi, Lichen, Malassezia furfur, Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Obat antidiabetes (OAD) Propionibacterium acnes, Obat tradisional, Parkia Speciosa Antibakteri, Pektin, Propionibacterium Acnes, Pseudoefedrin, Saccharomyces Cerevisiae, Spektrofotometri uv sinar tampak, Staphylococcus epidermidis, uji aktivitas antibakteri, Uji sitotoksik, Usnea baileyi. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 412 Documents
Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak dan Fraksi Daun Saga (Abrus precatorius L) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis Salma Sayyidatunnisa; Kiki Mulkiya; Livia Syafnir
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14962

Abstract

Abstract. Saga (Abrus precatorius L) possess antibacterial effects. S.epidermidis is a normal flora present on the skin, respiratory tract, and digestive tract of humans. This study aims to evaluate the antibacterial activity of saga leaf extracts and fractions against S.epidermidis. Extraction was performed using the maceration method with 96% ethanol. Antibacterial activity was tested using the agar diffusion method at concentrations of 1%, 5%, 10%, and 15% for each sample of saga leaf extract and fractions. The results indicate that saga leaf extracts and fractions possess antibacterial activity against S.epidermidis, as evidenced by the formation of inhibition zones. Inhibition zones for the extract and n-hexane fraction were first observed at a concentration of 10%, with inhibition zone diameters of 7.96 mm and 17.2 mm, respectively, and at 15% concentration with diameters of 8.23 mm and 18.1 mm, respectively. The ethyl acetate fraction showed inhibition zones at all tested concentrations 1%, 5%, 10%, and 15% with inhibition zone diameters of 10,76, 19,76, 20.63 , and 28,06 mm, respectively. In contrast, the aqaudest fraction did not show any inhibition zones at all concentrations. Abstrak. Daun saga (Abrus precatorius L) memiliki efek antibakteri. Bakteri S.epidermidis adalah flora normal pada kulit, saluran napas, dan saluran cerna manusia. Tujuan penelitian ini adalah melakukan pengujian aktivitas antibakteri ekstrak dan fraksi daun saga terhadap S.epidermidis. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar pada konsentrasi 1%, 5%, 10%, dan 15% untuk setiap sampel ekstrak dan fraksi daun saga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi daun saga memiliki aktivitas antibakteri terhadap S.epidermidis dengan terbentuknya zona hambat. Zona hambat yang terbentuk pada ekstrak dan fraksi n-heksana mulai pada konsentrasi 10% dengan diameter hambat dari ekstrak daun saga dan fraksi n-heksana berturut-turut sebesar 7,96 mm dan 17,2 mm dan pada konsentrasi 15% dengan diamater hambat 8,23 mm dan 18,1 mm. Pengujian pada fraksi etil asetat memiliki zona hambat pada setiap konsentrasi uji 1%, 5%, 10% dan 15% memiliki daya hambat terhadap S.epidermidis dengan zona hambat berturut-turut sebesar 10,76 , 19,76 , 20,63, dan 28,06 mm. Sedangkan pada fraksi air di semua konsentrasi tidak memiliki zona hambat.
Uji Toksisitas Secara In Silico pada Senyawa Hasil Docking terhadap Β-Hydroxy Β Methylglutaryl-Coa (HMG-CoA) Reductase dari (Database Coconut Herbal) Hilal Faturohman; Taufik Muhammad Fakih; Tegar Achsendo Yuniarta
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14963

Abstract

Abstract. Hypercholesterolemia is a medical condition characterized by high levels of cholesterol in the blood. HMG-CoA reductase is an enzyme in the cholesterol biosynthesis pathway that converts HMG-CoA into mevalonate, which then acts as a cholesterol precursor. Statins are a class of drugs that specifically inhibit HMG-CoA reductase. This study aims to determine compounds from docking results that function as HMG-CoA reductase with low toxicity. The research was conducted in silico using Protox II website based on Globally Harmonized System (GHS) and LD50 (Lethal Dose50) value. Compounds with ligand codes CNP0202071 and CNP0187364.1 which show low toxicity and do not cause toxicity to organs. Abstrak. Hiperkolesterolemia merupakan kondisi medis yang ditandai oleh tingginya kadar kolesterol dalam darah. HMG-CoA reduktase adalah enzim dalam jalur biosintesis kolesterol yang mengubah HMG-CoA menjadi mevalonat, yang kemudian berperan sebagai prekursor kolesterol. Statin adalah kelas obat yang secara spesifik menghambat HMG-CoA reduktase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa dari hasil docking yang berfungsi sebagai HMG-CoA reduktase dengan memiliki toksisitas rendah. Penelitian dilakukan secara in silico menggunakan Website Protox II berdasarkan Globally Harmonized System (GHS) dan nilai LD50 (Lethal Dose50). Senyawa dengan kode ligan CNP0202071 dan CNP0187364.1 yang menunjukan memiliki toksisitas yang rendah dan tidak menyebabkan toksik pada organ.
Analisis Kandungan L-3,4-dihydroxyphenylalanine (L-DOPA) pada Sistem Penghantaran Obat Sediaan Patch Transdermal Aulia Nurul Rahim; Diar Herawati Effendi; Andrieanto N
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14965

Abstract

Abstract. Preparations with the transdermal route are preparations that are applied through the skin by sticking or applying. The transdermal route was chosen because of the active substances that have low bioavailability when used orally. One of them is vitamin B1 which is needed by the body to increase resistance to bacteria. So it needs to be made in a transdermal dosage form. One of the dosage forms by the transdermal route is the patch. Transdermal patches are preparations that are applied by sticking which have the main components of active substances, polymers or adhesives. Polymers have an important role in patch preparations that can help the drug release process. L-DOPA or L-3,4-dihydroxyphenylalanine is a polymer produced from shellfish. In the shellfish there is a sea scallop leg protein that produces byssus. Byssus can help stick to the surface and is proven to have good adhesion properties. This research is a follow-up research, where previously L-DOPA was successfully combined using HPMC with different concentrations in each formula, which became a preparation that had a poor penetration rate in the highest concentration formula of HPMC. For this reason, this test needs to be carried out with the aim of knowing that L-DOPA produces preparations that meet the aspects of inert, safe and quality. So as to provide therapeutic effectiveness in accordance with the requirements. The test showed that the L-DOPA polymer meets the aspects of safety, quality and produces preparations at an economical price. This was proven through organoleptic, hedonic, pH, thickness and weight uniformity, folding resistance, moisture absorption and drug penetration tests. Abstrak. Sediaan dengan rute transdermal merupakan sediaan yang diaplikasikan melalui kulit dengan cara ditempelkan atau dioleskan. Rute transdermal bisa dipilih salah satunya karena zat aktif yang memiliki bioavaibilitas rendah apabila digunakan secara oral. Vitamin B1 merupakan salah satu zat aktif yang memiliki biovaibilitas rendah untuk dikonsumsi secara oral. Vitamin B1 ini dibutuhkan oleh tubuh untuk meningkatkan ketahanan terhadap bakteri. Dan vitamin B1 ini perlu dibuat dalam bentuk sediaan transdermal. Salah satu dari bentuk sediaan dengan rute transdermal adalah patch. Patch transdermal merupakan sediaan yang diaplikasikan dengan cara ditempelkan yang memiliki komponen utama zat aktif, polimer atau perekat. Polimer memiliki peran penting dalam sediaan patch yang dapat membantu proses pelepasan obat. L-DOPA atau L-3,4-dihydroxyphenylalanine merupakan polimer yang dihasilkan dari kerang. Dalam kerang terdapat protein kaki kerang laut yang menghasilkan byssus. Byssus dapat membantu menempel pada permukaan dan dibuktikan memiliki sifat adhesi yang baik. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan, dimana sebelumnya L-DOPA berhasil dikombinasikan dengan menggunakan HPMC dengan konsentrasi yang berbeda pada setiap formula, yang menjadi sediaan yang memiliki tingkat penetrasi yang kurang baik pada formula konsentrasi tertinggi dari HPMC. Untuk itu, pengujian ini perlu dilakukan bertujuan untuk mengetahui L-DOPA menghasilkan sediaan yang memenuhi aspek yaitu inert, aman dan berkualitas. Sehingga memberikan efektivitas terapetik yang sesuai dengan persyaratan. Pada pengujian menunjukkan bahwa polimer L-DOPA memenuhi aspek aman, berkualitas serta menghasilkan sediaan dengan harga yang ekonomis. Hal ini dibuktikan melalui pengujian organoleptik, hedonik, pH, keseragaman ketebalan serta bobot, ketahanan lipat, daya serap lembab dan penetrasi obat.
Metode Analisis Penetapan Kadar Asam Traneksamat dalam Kosmetik Tiara Az-zahra Choerunisa; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14990

Abstract

Abstract. Tranexamic acid (TA) is an important active substance in pharmaceutical formulations as a fibrinolytic agent. Some researchers have found that tranexamic acid is a relatively new therapeutic agent for melasma. Topical agents containing tranexamic acid are considered safer because there is no systemic absorption. This research is a literature study or systematic literature review. This research uses a systematic literature review approach regarding the analysis of determining levels of tranexamic acid in cosmetics published in journals using various analytical methods such as HPLC, HPLC-UV and HPLC-SM/SM. Based on the results of the review of these 6 journals, the linearity parameter range is 0.993-0.9993%; precision parameters, namely 0.71-104.85%; accuracy parameters, namely 99.789-101.8%; RSD value 0.24-11.35%; LOD parameters are 1.87 µg/mL and 30.225 µg/mL; LOQ parameters are 6.25 µg/mL and 100.85 µg/mL; and RE values ​​lower than 2.62% and 4.96%. The most appropriate, fast, efficient and accurate method according to the objectives is to use the HPLC method. Absrak. Asam traneksamat (TA) merupakan zat aktif penting dalam formulasi sediaan farmasi sebagai agen fibrinolitik. Beberapa peneliti menemukan bahwa asam traneksamat merupakan agen terapi yang relatif baru untuk melasma. Agen topikal yang mengandung asam traneksamat dianggap lebih aman karena tidak terdapat penyerapan sistemik. Penelitian ini adalah penelitian studi kepustakaan atau systematic literature review. Penelitian ini menggunakan pendekatan systematic literature review mengenai analisis penetapan kadar asam traneksamat dalam kosmetik yang dipublikasikan dalam jurnal dengan menggunakan berbagai macam metode analisis seperti KCKT, KCKT-UV dan KCKT-SM/SM. Berdasarkan hasil dari review 6 jurnal tersebut, rentang parameter linearitas yaitu 0,993-0,9993%; parameter presisi yaitu 0,71-104,85%; parameter akurasi yaitu 99,789-101,8%; nilai RSD 0,24-11,35%; parameter LOD yaitu 1,87 μg/mL dan 30,225 µg/mL; parameter LOQ yaitu 6,25 μg/mL dan 100,85 µg/mL; serta nilai RE lebih rendah dari 2,62% dan 4,96%. Metode yang paling tepat, cepat, efisien dan akurat sesuai dengan tujuan adalah dengan menggunakan metode KCKT.
Potensi Beberapa Bahan Alam yang Memiliki Aktivitas Prebiotik serta Aplikasinya dalam Kesehatan Qori Nabilla; Ratih Aryani; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14996

Abstract

Abstract. Prebiotics are food substances that cannot be digested by the body, but prebiotics can be utilized by the gut microbiota so as to increase the growth of these bacteria. The beneficial bacteria will ferment the indigestible food substances or prebiotics into short-chain fatty acids (SCFA). These fermented SCFAs from prebiotics have favorable effects on health. Various sources of prebiotics have been tested to determine their function as prebiotics. Natural ingredients that have high carbohydrate content may have potential as prebiotics. This study aims to determine the prebiotic potential of several natural ingredients on probiotic bacteria in vitro. This study was conducted using the Systematic Literature Review (SLR) method. The results showed that there are natural ingredients containing oligosaccharide compounds, water-soluble polysaccharides, cellobiose, β-glucan, inulin, pectin, and fructooligosaccharide (FOS) that have the potential to have prebiotic activity. Tests were conducted in vitro against probiotic bacteria of the genus Lactobacillus and Bifidobacterium based on prebiotic score and prebiotic index parameters. The results showed that the best natural ingredient with prebiotic potential was green radish (Raphanus sativus L.) with a prebiotic score of 1,89. Abstrak. Prebiotik adalah zat makanan yang tidak dapat dicerna oleh tubuh namun prebiotik dapat dimanfaatkan oleh mikrobiota usus sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri tersebut. Bakteri yang menguntungkan tersebut akan memfermentasi zat-zat makanan yang tidak dapat dicerna atau prebiotik menjadi asam lemak rantai pendek (SCFA). SCFA hasil fermentasi dari prebiotik ini memiliki efek yang baik bagi kesehatan. Berbagai sumber prebiotik telah diuji untuk menentukan fungsinya sebagai prebiotik. Bahan alam yang memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi dapat berpotensi sebagai prebiotik. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui potensi prebiotik dari beberapa bahan alam pada bakteri probiotik secara in vitro. Kajian ini dilakukan dengan metode Systematic Literature Review (SLR). Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat bahan alam yang mengandung senyawa oligosakarida, polisakarida larut air, selobiosa, β-glukan, inulin, pectin, dan fruktooligosakarida (FOS) yang berpotensi memilliki aktivitas prebiotik. Pengujian dilakukan secara in vitro terhadap bakteri probiotik genus Lactobacillus dan Bifidobacterium berdasarkan parameter nilai skor prebiotik dan indeks prebiotik. Hasil menunjukkan bahwa bahan alam yang paling baik berpotensi sebagai prebiotik adalah Lobak hijau (Raphanus sativus L.) dengan nilai skor prebiotik sebesar 1,89.
Uji Aktivitas Prebiotik Daun Salam Koja (Bergera koenigii (Linn) Spreng) terhadap Bakteri Lactobacillus acidophilus dan Escherichia coli secara In Vitro Puri Salsabila Arsyi; Bertha rusdi; Umi yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14997

Abstract

Abstract. Prebiotics are compounds that cannot be digested by human intestinal digestive enzymes, but can be fermented by beneficial bacteria in the colon. So that prebiotics in the large intestine will support the growth of beneficial bacteria (probiotics). koja bay leaves are reported to contain phenol prebiotic compounds but have not been studied for their prebiotic effects, so this study aims to evaluate the prebiotic activity of koja bay leaf extract (Bergera koenigii (Linn) Spreng) against the growth of Lactobacillus acidophilus and Escherichia coli bacteria in vitro. The prebiotic activity test was conducted using the turbidimetric method, which calculates the number of bacteria based on the absorption at a wavelength of 600 nm (OD600). OD600 value was measured at hour 0 and hour 24. In addition, total phenol content and total carbohydrate content were also calculated. Phenol content was carried out using spectrophotometric method using Folin-Ciocalteu reagent, while the determination of carbohydrate content was carried out using spectrophotometric method using phenol-sulfuric acid. The results of the determination of total phenol content obtained total phenol content of 77.150 mg GAE / g extract, and total carbohydrate content obtained by 13.57%. The results of prebiotic activity showed that koja bay leaves (Bergera koenigii (Linn) Spreng) can suppress the growth of e.coli but do not have a prebiotic effect. Abstrak. Prebiotik merupakan senyawa yang tidak dapat dicerna oleh enzim – enzim pencernaan usus manusia, tetapi dapat difermentasi oleh bakteri menguntungkan dalam usus besar. Sehingga prebiotik di dalam usus besar akan mendukung pertumbuhan bakteri menguntungkan (probiotik). daun salam koja dilaporkan mengandung senyawa prebiotik fenol namun belum diteliti efek prebiotiknya maka,penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas prebiotik ekstrak daun salam koja (Bergera koenigii (Linn) Spreng) terhadap pertumbuhan bakteri Lactobacillus acidophilus dan Escherichia coli secara in vitro. Uji aktivitas prebiotik dilakukan dengan metode turbidimetri, yaitu menghitung jumlah bakteri berdasarkan serapan pada panjang gelombang 600 nm (OD600). Nilai OD 600 diukur pada jam ke-0 dan jam ke-24. Selain itu dilakukan pula perhitungan kadar fenol total dan kadar karbohidrat total. Kadar fenol dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri menggunakan pereaksi Folin-Ciocalteu, sedangkan untuk penentuan kadar karbohidrat dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri menggunakan fenol-asam sulfat. Hasil penentuan kadar fenol total didapatkan kadar fenol total sebesar 77,150 mg GAE/ g ekstrak, dan kadar karbohidrat total didapat sebesar 13,57 %. Hasil aktivitas prebiotik menunjukan daun salam koja (Bergera koenigii (Linn) Spreng) dapat menekan pertumbuhan e.coli tetapi tidak memiliki efek prebiotik.
Penapisan Fitokimia dan Penetapan Kadar Polifenol Total Ekstrak Etanol 70% Teh Putih (Camellia sinensis L.) Nurul Siti Aisyah; Sani Ega Priani; Gita Cahya Eka Darma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15000

Abstract

Abstract. White tea contains many secondary metabolites with the highest secondary metabolite compound being polyphenols. Phytochemical screening was done on alkaloid, flavonoid, polyphenol, tannin, saponin, steroid & triterpenoid, monoterpenoid & sesquiterpenoid, and anthraquinone compounds. Extraction of white tea was carried out by reflux method using 70% ethanol. The total polyphenol content contained in 70% ethanol extract of white tea was measured using the Folin-Ciocalteu method. The results showed that 70% ethanol extract of white tea contained secondary metabolites of alkaloid compounds, flavonoids, polyphenols, tannins, saponins, steroids & triterpenoids, and monoterpenoids & sesquiterpenoids. And has a total polyphenol content of 330,920 ± 4,98 mgGAE/gram or 33,092%. Abstrak. Teh putih diketahui mengandung banyak metabolit sekunder dengan senyawa metabolit sekunder paling tinggi yaitu polifenol. Penapisan fitokimia dilakukan terhadap golongan senyawa alkaloid, flavonoid, polifenol, tannin, saponin, steroid & triterpenoid, monoterpenoid & seskuiterpenoid, dan antrakuinon. Ekstraksi teh putih dilakukan dengan metode refluks menggunakan etanol 70%. Kemudian kadar polifenol total yang terkandung dalam ekstrak 70% etanol teh putih diukur menggunakan metode Folin-Ciocalteu. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol 70% teh putih mengandung metabolit sekunder senyawa alkaloid, flavonoid, polifenol, tannin, saponin, steroid & triterpenoid, dan monoterpenoid & seskuiterpenoid. Serta memiliki kadar polifenol total sebesar 330,920 ± 4,98 mgGAE/gram atau sebesar 33,092%.
Optimasi Formula SNEDDS (Self Nanoemulsifying Drug Delivery System) Minyak Atsiri Bawang Putih Linda Nur'Aini; Sani Ega Priani; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15013

Abstract

Abstract. Garlic essential oil is known to contain compounds that can play a role in reducing cholesterol in the body. SNEDDS (Self Nanoemulsifying Drug Delivery System) is a delivery system development for drugs with poor solubility. The SNEDDS component consists of a mixture of oil, surfactant and co-surfactant which will form an O/W nanoemulsion (oil in water) spontaneously when mixed with water accompanied by light stirring. The aim of this research is to obtain a formulation for SNEDDS for garlic essential oil. SNEDDS is formulated using garlic essential oil as the oil phase, tween 20 as the surfactant, and propylene glycol as the co-surfactant. Abstrak. Minyak atsiri bawang putih diketahui mengandung senyawa yang dapat berperan dalam penurunan kolesterol pada tubuh. SNEDDS (Self Nanoemulsifying Drug Delivery System) adalah salah satu pengembangan sistem penghantaran untuk obat dengan kelarutan yang kurang baik. Komponen SNEDDS terdiri dari campuran minyak, surfaktan, dan ko-surfaktan yang akan membentuk nanoemulsi M/A (minyak dalam air) secara spontan ketika bercampur dengan air disertai dengan pengadukan yang ringan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk untuk memperoleh formulasi SNEDDS minyak atsiri bawang putih. SNEDDS diformulasikan menggunakan minyak atsiri bawang putih sebagai fase minyak, tween 20 sebagai surfaktan, dan propilenglikol sebagai ko-surfaktan.
Formulasi dan Karakterisasi Nanoemulgel yang Berpotensi sebagai Antijerawat Pedriantini Iqlima Subekti; Hanifa Rahma; Sani Ega Priani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15017

Abstract

Abstract. Acne is a chronic inflammatory skin disease of the pilosebaceous unit that occurs due to sebum accumulation and hyperkeratinization of the pilosebaceous ducts, resulting in the accumulation of acne-causing bacteria that cause inflammation. Acne-causing bacteria include Cutibacterium acnes, Staphylococcus aureus, and Staphylococcus epidermidis. Nanoemulgel can be a carrier for active ingredients with limited penetration into the skin because of its small size, making it easier to penetrate the skin barrier. This literature review aims to provide information about nanoemulgel formulations that have good properties and to determine the antibacterial activity against acne-causing bacteria based on in vitro tests. The method used is a systematic literature review (SLR) using Scopus-indexed international journals and Sinta-indexed national journals. Based on the results of the study, the optimum nanoemulgel formula uses surfactant tween 80, cosurfactant using short-chain alcohol type (PEG 400, propyleneglycol, span 80, and sorbitol), while the gelling agent that is often used is carbopol-940. Increasing the concentration of active ingredients and the variation of excipients can increase the antibacterial activity of nanoemulgel preparations. Abstrak. Jerawat merupakan penyakit kulit peradangan kronis pada unit pilosebasea yang terjadi akibat penumpukan sebum dan hiperkeratinisasi saluran pilosebasea sehingga terjadi akumulasi bakteri penyebab jerawat yang akan menyebabkan inflamasi. Bakteri penyebab jerawat diantaranya adalah Cutibacterium acnes, Staphylococcus aureus, dan Staphylococcus epidermidis. Nanoemulgel dapat menjadi pembawa bahan aktif yang memiliki keterbatasan untuk dapat berpenetrasi kedalam kulit karena memiliki ukuran yang kecil sehingga lebih mudah untuk menembus barrier kulit. Kajian Pustaka ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang formulasi nanoemulgel yang memiliki karakteristik yang baik, serta untuk mengetahui aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat berdasarkan uji in vitro. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) menggunakan jurnal internasional terindeks Scopus dan jurnal nasional terindeks Sinta. Berdasarkan hasil kajian menunjukkan bahwa formula nanoemulgel yang optimum menggunakan surfaktan tween 80, kosurfaktan menggunakan tipe alkohol rantai pendek (PEG 400, propilenglikol, span 80, dan sorbitol), sedangkan gelling agent yang sering digunakan adalah carbopol-940. Peningkatan konsentrasi bahan aktif dan variasi eksipien dapat meningkatkan aktivitas antibakteri sediaan nanoemulgel.
Gambaran Peresepan Tanaman Obat Antidiabetes di Rumah Riset Jamu (RRJ) Hortus Medicus Tawangmangu Dita Afriantika; Kiki Mulkiya Yuliawati; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15021

Abstract

Abstract. Diabetes Mellitus is a metabolic disorder caused by pancreatic beta cells which cannot produce enough insulin or cannot use the insulin produced effectively, resulting in increased blood sugar levels or hyperglycemia. Treatment carried out to treat diabetes mellitus uses traditional herbal medicine. Some of the plants used include bitter (Andrograhphis paniculata), cinnamon (Cinnamomum burmanii), and ginger (Curcuma xanthorriza). This study aims to determine the prescribing pattern and effectiveness of prescribing a combination of simplicia for diabetes mellitus patients at the Hortus Medicus Tawangmangu Jamu Research House (RRJ) in the period January – June 2023. The research method used is the descriptive method with retrospective data collection. From the results of this research, data was obtained that the description of the prescription of medicinal plants to reduce the condition of diabetes mellitus, the main ones are bitter, cinnamon, bay leaves, and ginger. Then other medicinal plants were also added such as Javanese chilies, ginger for complaints of fatigue, gotu kola and black cumin for complaints of tingling, secang and miana for complaints of blurred vision, meniran, turmeric, and ginger for complaints of sore feet and soles, sedge grass, lemongrass, and bittersweet for complaints of body itching, then ginger to overcome weight loss Abstrak. Diabetes Melitus merupakan gangguan metabolik yang diakibatkan oleh sel beta pankreas yang tidak dapat memproduksi cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif sehingga terjadi peningkatan kadar gula di dalam darah atau hiperglikemia. Pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi diabetes mellitus dengan memanfaatkan obat herbal tradisional. Beberapa tanaman yang digunakan antara lain sambiloto (Andrograhphis paniculata), kayu manis (Cinnamomum burmanii), dan temulawak (Curcuma xanthorriza). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran peresepan dan efektivitas pemberian resep kombinasi simplisia untuk pasien diabetes mellitus di Rumah Riset Jamu (RRJ) Hortus Medicus Tawangmangu pada periode Januari – Juni 2023. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif. Dari hasil penelitian ini, diperoleh data bahwa gambaran peresepan tanaman obat untuk mengurangi kondisi diabetes mellitus yang utama adalah sambiloto, kayu manis, daun salam, dan temulawak. Kemudian ditambahkan juga tanaman obat lain seperti cabe jawa, jahe untuk keluhan mudah lelah, pegagan dan jinten hitam untuk keluhan kesemutan, secang dan miana untuk keluhan penglihatan kabur, meniran, kunyit, dan temulawak untuk keluhan luka di kaki dan telapak sakit, rumput teki, sereh, dan sambiloto untuk keluhan badan gatal, kemudian temulawak untuk mengatasi berat badan turun.