cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsp@unisba.ac.id
Phone
+6289691247094
Journal Mail Official
bcsp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Pharmacy
ISSN : -     EISSN : 28282116     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Bandung Conference Series: Pharmacy (BCSP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Farmasi dengan ruang lingkup Airlock system Kanker, Alcohol, Antelmintik, Antigastritis drugs, Antioksidan, Artemia franciscana, Ascaris suum, Cacing babi (Ascaris suum Goeze), Contact Bioautography TLC, Daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers), Daun kelor (Moringa oleifera Lam), Diabetes mellitus, DPPH Flavonoid, Fenilpropanolamin, Fermentasi, Flavonoid, Flavonol,Iles-iles, Isolasi, Lichen, Malassezia furfur, Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Obat antidiabetes (OAD) Propionibacterium acnes, Obat tradisional, Parkia Speciosa Antibakteri, Pektin, Propionibacterium Acnes, Pseudoefedrin, Saccharomyces Cerevisiae, Spektrofotometri uv sinar tampak, Staphylococcus epidermidis, uji aktivitas antibakteri, Uji sitotoksik, Usnea baileyi. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 412 Documents
Penetapan Kadar Flavonoid Total Sari Rimpang Temu Mangga (Curcuma mangga Valeton & Zijp) Segar dan Terfermentasi Ghina Hanifah Nur Azizah; Siti Hazar; Fetri Lestari
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15029

Abstract

Abstract. The rhizome of temu mango (Curcuma mango Valeton & Zijp), is a plant from the zingiberaceae family that has a variety of secondary metabolites that are responsible for various pharmacological activities including antioxidants, antipyretics, and antitoxins. One of the secondary metabolites found in the rhizome of the temu mango is the group of flavonoid compounds which are included in phenolic compounds. Efforts that can be made to increase the levels of this group of compounds are through the fermentation process. Fermentation is a method of bioprocessing processed food that is reported to increase the bio-conversion of phenolic compounds from conjugated form to their free form, so that it is expected to increase their bioactivity in the body. This study was conducted to see the effect of fermentation on the total flavonoid content of fresh and fermented temu mango rhizomes, where fermentation was carried out using Lactobacillus bulgaricus starter with a fermentation period of 18 and 24 hours. The determination of the total flavonoid content of the test sample was carried out using the AlCl3 reagent with quercetin as the standard compound and then measured using UV-Vis spectrophotometry. Based on the results of the study, through the fermentation process, there has been an increase in the total flavonoid content of fermented temu mango rhizome juice for 18 and 24 hours compared to the fresh juice with a p < value of 0.05. The total flavonoid content of fresh, fermented mango rhizome juice for 18 hours and 24 hours, respectively, were 66,364±4,212; 80,685±5,155; and 92,846±2,953 mgQE/100 grams of Fresh Rhizomes. Abstrak. Rimpang temu mangga (Curcuma mangga Valeton & Zijp), merupakan tanaman dari famili zingiberaceae yang memiliki beragam metabolit sekunder yang bertanggung jawab atas berbagai macam aktivitas farmakologi diantaranya sebagai antioksidan, antipiretik, dan antitoksin. Salah satu metabolit sekunder yang terdapat pada rimpang temu mangga yaitu golongan senyawa flavonoid yang termasuk kedalam senyawa fenolik. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kadar golongan senyawa ini adalah melalui proses fermentasi. Fermentasi merupakan metode bioproses olahan pangan yang dilaporkan dapat meningkatkan bio-konversi senyawa fenolik dari bentuk terkonjugasi ke bentuk bebasnya, sehingga dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan bioaktivitasnya didalam tubuh. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh fermentasi terhadap kadar flavonoid total sari rimpang temu mangga segar dan terfermentasi, dimana fermentasi dilakukan menggunakan starter Lactobacillus bulgaricus dengan lama fermentasi selama 18 dan 24 jam. Penetapan kadar flavonoid total sampel uji dilakukan dengan menggunakan reagen AlCl3 dengan kuersetin sebagai senyawa standarnya lalu diukur menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Berdasarkan hasil penelitian, melalui proses fermentasi telah terjadi peningkatan kadar flavonoid total sari rimpang temu mangga terfermentasi 18 dan 24 jam dibandingkan dengan sari segarnya dengan nilai p < 0.05. Kadar flavonoid total sari rimpang temu mangga segar, difermentasi 18 jam, dan 24 jam, berturut-turut adalah 66,364±4,212; 80,685±5,155; dan 92,846±2,953 mgQE/100 gram Rimpang Segar.
Potensi Antijerawat Tujuh Jenis Tumbuhan yang Ada di Suku Baduy, Kabupaten Lebak, Banten, Indonesia Mila Apriyani; Esti Rachmawati Sadiyah; Vinda Maharani Patricia
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15032

Abstract

Abstract. The Baduy tribe utilizes a variety of local plants for traditional medicine, including seven species used to treat acne, namely Jamaica cherry, bilimbi, gotu kola, purple nutsedge, Red ginger, Bengal ginger, and tamarind. The purpose of this study was to examine the parts of the plant that are used as anti-acne, examine what groups of compounds contained in plants that have anti-acne activity, and examine the mechanism of action as anti-acne. The method used in this research was Systematic Literature Review (SLR) method. Journal articles used in this study were collected from PubMed, Google Scholar, Wiley and Sciencedirect databases. The result showed that the plant parts that are utilized as anti-acne by the Baduy community include roots, fruits, leaves, and rhizomes. The compound groups identified in tamarind, kersen and teki grass were flavonoids, bangle and red galangal was terpenoids, belimbing wuluh was phenolics, and gotu kola was triterpenoids. The mechanism of action was protein denaturation, affect the integrity of peptidoglycan in the cell wall and disrupt plasma membrane permeability. The seven plants showed good potency as antiacne against acne-causing bacteria such as Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus and Staphylococcus epidermidis. Abstrak. Suku Baduy memanfaatkan beragam tanaman lokal untuk pengobatan tradisional, termasuk tujuh spesies yang digunakan untuk mengobati jerawat yaitu kersen, belimbing wuluh, pegagan, rumput teki, lengkuas merah, bangle, dan asam jawa. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji bagian tanaman yang dijadikan sebagai antijerawat, mengkaji golongan senyawa apa saja yang terdapat pada tanaman yang memiliki aktivitas antijerawat, dan mengkaji mekanisme kerjanya sebagai antijerawat. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Systematic Literatur Review (SLR). Artikel jurnal yang digunakan pada penelitian ini diperoleh dari database PubMed, Google Scholar, wiley dan Sciencedirect. Hasil menunjukkan bahwa bagian tanaman yang dimanfaatkan sebagai antijerawat oleh masyarakat Suku Baduy antara lain akar, buah, daun, dan rimpang. Golongan senyawa yang teridentifikasi pada asam jawa, kersen dan rumput teki yaitu flavonoid, bangle dan lengkuas merah yaitu terpenoid, belimbing wuluh yaitu fenolat, dan pegagan yaitu triterpenoid. Mekanisme kerjanya yaitu mendenaturasi protein, mempengaruhi integritas peptidoglikan pada dinding sel dan mengganggu permeabilitas membran plasma. Ketujuh tanaman tersebut menunjukkan potensi sebagai antijerawat yang cukup baik terhadap bakteri penyebab jerawat seperti Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis.
Uji Aktivitas Antijamur Ekstrak Etanol Daun Dadap Serep (Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr) terhadap Trichophyton mentagrophytes dan Malassezia furfur Revi Eluvia Zahra; Lanny Mulqie; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15037

Abstract

Abstract. The efficacy of dadap serep (Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr) leaves is shown by the presence of secondary metabolite compounds that are very potential so that they can be used as natural antifungals. The results of phytochemical screening of ethanol extracts of dadap serep leaves showed the presence of alkaloid compounds, flavonoids, saponins and tannins that have antimicrobial activity. The purpose of this study was to determine the antifungal activity of dadap leaf extract against Trichophyton mentagrophytes and Malassezia furfur. This study used agar diffusion method with variation of concentration of ethanol extract of dadap serep leaves 50%; 25%; 20%; 15%; 10% and 5%. Comparator used ketoconazole and DMSO solvent control. Antifungal activity test parameters are indicated by the presence of inhibition zone characterized by the presence of clear zone around the punctures. The diameter of the inhibition zone formed against the fungus Trichophyton mentagrophytes with a concentration variation of 50%; 25%; 20%; 15%; 10% and 5% was 5.50 mm; 5.37 mm; 5.33 mm; 3.81 mm; 2.47 mm; 1.94 mm. While the diameter of the inhibition zone formed against Malassezia furfur fungus was 5.68 mm; 4.45 mm; 4.01 mm; 3.91 mm; 2.89 mm; 1.77 mm. Abstrak. Khasiat daun dadap serep (Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr) ditunjukan dengan adanya senyawa metabolit sekunder yang sangat potensial sehingga dapat digunakan sebagai antijamur alami. Hasil skrining fitokimia dari ekstrak etanol daun dadap serep menunjukkan adanya kandungan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin yang memiliki aktivitas antimikroba. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak daun dadap serep terhadap jamur Trichophyton mentagrophytes dan Malassezia furfur. Penelitian ini dengan metode difusi agar cara sumuran dengan variasi konsentrasi ekstrak etanol daun dadap serep 50%; 25%; 20%; 15%; 10% dan 5%. Pembanding yang digunakan ketokonazol dan kontrol pelarut DMSO. Parameter pengujian aktivitas antijamur ditunjukan dengan adanya zona hambat yang ditandai dengan adanya zona bening disekitar sumuran. Diameter zona hambat yang terbentuk terhadap jamur Trichophyton mentagrophytes dengan variasi kosentrasi 50%; 25%; 20%; 15%; 10% dan 5% sebesar 5,50 mm; 5,37 mm; 5,33 mm; 3,81 mm; 2,47 mm; 1,94 mm. Sedangkan diameter zona hambat yang terbentuk terhadap jamur Malassezia furfur sebesar 5,68 mm; 4,45 mm; 4,01 mm; 3,91 mm; 2,89 mm; 1,77 mm.
Kajian Pola Peresepan Obat Pasien Penyakit Jantung Koroner di Ruang Rawat Inap Jantung Rumah Sakit Umum Daerah Kota Banjar Tahun 2023 Danisa Fadila Fauziah; Suwendar; Fetri Lestari
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15041

Abstract

Abstract. The correct use of drugs is something that needs to be observed in the health service system in order to improve the quality of life of patients. Coronary heart disease (CHD) is a condition that arises due to blockages in the coronary arteries (vessels that function to provide blood supply to the heart muscle). As a result, the blood supply to the heart muscle will be reduced or the worst can stop. This study aims to determine the Pattern of Drug Prescribing for Coronary Heart Patients (CHD) in the cardiac inpatient room of the Banjar City Regional General Hospital for the January-June 2023 period based on WHO prescribing indicators and the 2023 Perki drug therapy guidline. Data collection carried out retrospectively using a cross-sectional design of this study is descriptive, observational using prescription inclusion criteria for patients with Coronary Heart Disease (CHD) who are hospitalized at the Banjar City Regional General Hospital in 2023. The medical record data used is in the form of patient identity which includes the patient's name, age, gender, diagnosis, and type of medication used during the treatment period. From this study, the results of the evaluation of the characteristics of coronary heart disease (CHD) patients experienced by 62 male patients (65%) and 34 female patients (35%), with the largest age range of 65 years and above as many as 47 people (49%). The most CHD patients at the Banjar City Hospital are with the code (I20.0) Unstable Angina with a total of 57 people (59%). The most widely used main type of drug is Acetylsalicylic Acid (Acetosal) with 67 cases (18.93%) and drugs with the most combinations with 4 drug combinations, namely Acetylsalicylic Acid (Acetosal) + Clopidogrel + Bisoprolol + Spironolaktone 7 cases (7.29%). In this study, the WHO parameter that meets the range is at the third point, namely the percentage of antibiotic drug prescription 10,41% in the WHO range (<22.70%). Abstrak. Penggunaan obat yang benar merupakan hal yang perlu diamati pada sistem pelayanan kesehatan agar dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. PJK merupakan suatu kondisi yang timbul akibat adanya penyumbatan pada pembuluh darah coroner. Akibatnya, suplai darah menuju otot jantung akan berkurang atau yang paling parah bisa berhenti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pola Peresepan Obat Pasien Jantung Koroner (PJK) di ruang rawat inap jantung RSUD Kota Banjar Periode Januari-Juni 2023 berdasarkan indikator peresepan WHO dan guidline terapi obat Perki 2023. Pengumpulan data yang dilakukan secara retrospektif menggunakan rancangan cross-sectional penelitian ini bersifat deskriptif observasional menggunakan kriteria inklusi resep pasien Penyakit Jantung Koroner (PJK) yang di rawat inap di RSUD Kota Banjar Tahun 2023. Data rekam medik yang digunakan berupa identitas pasien yang meliputi nama pasien, usia, jenis kelamin, diagnosa, dan jenis obat yang digunakan selama masa pengobatan. Dari penelitian ini didapatkan hasil evaluasi karakteristik pasien penyakit jantung koroner (PJK) yang dialami oleh Pasien Laki-laki 62 orang (65%) dan Perempuan 34 orang (35%), dengan rentang usia yang paling banyak dari 65 tahun keatas sebanyak 47 orang (49%). Pasien PJK di RSUD Kota Banjar yang paling banyak yaitu dengan kode (I20.0) Unstable Angina dengan jumlah 57 orang (59%). Jenis obat utama yang paling banyak digunakan yaitu Asam Asetilsalisilat (Asetosal) 67 kasus (18,93%) dan obat dengan kombinasi terbanyak dengan 4 kombinasi obat yaitu Asam Asetilsalisilat (Asetosal)+Clopidogrel+Bisoprolol+ Spironolakton 7 kasus (7,29%). Dalam penelitian ini parameter WHO yang memenuhi rentang berada pada poin ketiga yaitu persentase peresepan obat antibiotik 10,41% dalam rentang WHO (<22,70%).
Analisis Senyawa Vitamin C pada Produk Kosmetik Thias Najminuri; Farendina Suarantika; Taufik Muhammad Fakih
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15048

Abstract

Abstract. Vitamin C is a white, crystalline compound with no noticeable color or odor, and it melts at temperatures between 190-192℃. It has an acidic taste and is a strong reducing agent highly soluble in polar substances. Vitamin C is a potent antioxidant that can enhance skin brightness. It is bioactive in stimulating collagen production, as well as having skin-brightening effects, protecting the skin from ultraviolet rays, and exhibiting anti-aging properties by reducing wrinkles and preventing dark spots on the face. This research employs the Systematic Literature Review (SLR) method, which is a descriptive non-experimental approach. The study aims to gather and evaluate relevant research to analyze the presence of Vitamin C in cosmetic products. Cosmetics are products designed for application on the external parts of the body, teeth, and mouth, with the purpose of cleansing, enhancing appearance, altering appearance, providing protection, and reducing body odor. However, cosmetics are not intended to treat or cure diseases. Among the literature reviewed, the most commonly used method for analyzing Vitamin C is UV-Vis spectrophotometry, particularly in face cream products. Abstrak. Vitamin C adalah senyawa bewarna putih, berbentuk kristal, tidak memiliki warna mencolok, tidak berbau dan meleleh pada suhu 190-192℃. Vitamin C juga memiliki rasa asam dan merupakan senyawa pereduksi kuat yang sangat larut dalam senyawa polar. Vitamin C merupakan antioksidan kuat yang dapat meningkatkan kecerahan kulit. Vitamin C bersifat bioaktif dalam merangsang produksi kolagen, juga memiliki efek mencerahkan kulit, melindungi kulit dari sinar ultraviolet, dan anti penuaan (penuaan dini), mengurangi kerutan dan mencegah flek hitam pada kulit wajah. Penelitian ini meggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) yang merupakan pendekatan deskriptif non-eksperimental. Penelitian ini berfungsi untuk mengumpulkan dan mengevaluasi penelitian yang relevan untuk menganalisis senyawa vitamin C dalam produk kosmetik. Kosmetik adalah produk yang dirancang untuk diaplikasikan pada bagian luar tubuh, gigi, dan mulut, dengan tujuan untuk membersihkan, meningkatkan penampilan, mengubah penampilan, memberikan perlindungan, serta mengurangi bau badan. Namun, kosmetika tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan penyakit. Pada beberapa literature yang diteliti metode paling banyak digunakan untuk menganalisis vitamin C adalah metode spektrofotometri UV-Vis dengan produk sediaan krim wajah.
Aktivitas Prebiotik Pati Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L. Lam) dan Kulit Pisang Ambon (Musa acuminata AAA) terhadap Lactobacillus acidophilus dan Escherichia coli Secara In Vitro Irene Yuliani Trinita; Bertha Rusdi; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15050

Abstract

Abstract. Prebiotics are compounds that cannot be digested and are beneficial to the health of the host. One of the prebiotic compounds is starch. Starch is a complex carbohydrate that is insoluble in water consisting of amylose and amylopectin. Starch sources are found in purple sweet potatoes (Ipomoea batatas L. Lam) and Ambon banana peels (Musa acuminata AAA). This study aims to evaluate the prebiotic activity of purple sweet potato starch (Ipomoea batatas L. Lam) and Ambon banana peels (Musa acuminata AAA) on the growth of Lactobacillus acidophilus and Escherichia coli in vitro. Prebiotic activity was carried out using the turbidimetry method and absorbance was measured using a UV-Visible spectrophotometer at a wavelength of 600 nm (OD600). The results showed that purple sweet potato starch and Ambon banana peels have prebiotic activity, characterized by increasing the growth of L. acidophilus and decreasing the growth of E. coli. The prebiotic activity produced between purple sweet potato starch and Ambon banana peel in vitro can be seen from the Prebiotic Index (PI) value, namely for purple sweet potato it is 0.04 and Ambon banana peel is 1.03. Abstrak. Prebiotik merupakan senyawa yang tidak dapat dicerna dan menguntungkan kesehatan inang. Salah satu senyawa prebiotik adalah pati. Pati merupakan karbohidrat kompleks tidak larut air yang terdiri dari amilosa dan amilopektin. Sumber pati terdapat pada ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L. Lam) dan kulit pisang Ambon (Musa acuminata AAA). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas prebiotik dari pati ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L. Lam) dan kulit pisang Ambon (Musa acuminata AAA) terhadap pertumbuhan Lactobacillus acidophilus dan Escherichia coli secara in vitro. Aktivitas prebiotik dilakukan dengan metode turbidimetri dan di ukur absorbansi dengan alat spektrofotometri UV-Visible pada panjang gelombang 600 nm (OD600). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pati ubi jalar ungu dan kulit pisang ambon memiliki aktivitas prebiotik, ditandai dengan meningkatkan pertumbuhan L.acidophilus dan menurunkan E.coli. Aktivitas prebiotik yang dihasilkan antara pati ubi jalar ungu dan kulit pisang Ambon secara in vitro dapat dilihat dari nilai Prebiotik Indeks (PI) yaitu untuk ubi jalar ungu sebesar 0,04 dan kulit pisang Ambon sebesar 1,03.
Karakterisasi Larutan Eco-Enzyme dari Kulit Kentang (Solanum tuberosum L.) dan Kulit Terong Ungu (Solanum melongena L.) Ghania Putri Visthiany; Dina Mulyanti; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15051

Abstract

Abstract. Waste is a major problem in environmental problems, which is dominated by organic waste. Eco-enzyme product is one of the organic waste management that is very useful in the environment. Eco-enzyme is a fermented liquid made from vegetable and fruit waste produced through a simple fermentation process with the addition of sugar. The purpose of this research is to make eco-enzyme solution from potato peel, purple eggplant peel and combination and to do the Characterization. This research was conducted in two stages: making eco-enzyme solution from potato peel and purple eggplant peel and measuring the characteristics based on organoleptic with five senses and pH using pH meter. The results showed that the eco-enzyme solution from potato skin and purple eggplant skin had an acidic pH (3-4). Abstrak. Sampah merupakan masalah utama dalam permasalahan lingkungan yang didominasi oleh sampah organik. Produk eco-enzyme merupakan salah satu pengelolaan sampah organik yang sangat bermanfaat dalam lingkungan. Eco-enzyme adalah cairan fermentasi yang terbuat dari limbah sayuran dan buah-buahan yang dihasilkan melalui proses fermentasi sederhana dengan penambahan gula. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat larutan eco-enzyme dari kulit kentang, kulit terong ungu dan kombinasi serta melakukan Karakteristik. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap: pembuatan larutan eco-enzyme dari kulit kentang dan kulit terong ungu dan pengukuran Karakteristik berdasarkan organoleptis dengan panca indra dan pH menggunakan pH meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan eco-enzyme dari kulit kentang dan kulit terong ungu memiliki pH asam (3-4).
Pengujian Potensi Antibakteri Ekstrak Etanol 96% dan Fraksi Daun Pecut Kuda (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Siti Khoirunnisa; Esti Rachmawati Sadiyah; Kiki Mulkiya Yuliawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15061

Abstract

Abstract. Staphylococcus aureus is a bacterium that causes infections characterized by tissue damage. Infections that occur range from mild infections to serious infections and even cause death. Horse whip leaves (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) are known to have potential as antibacterials that are often used empirically. The study aims to test the antibacterial activity of extracts and fractions of horse whip leaves (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) against Staphylococcus aureus bacteria, determine its KHM value, and to analyze the content of compounds in extracts and fractions. The method of determining specific and nonspecific parameters, extraction by maceration method using 96% ethanol solvent, fractionation by Liquid-Liquid Extract method using solvents with increasing polarity, phytochemical screening, and testing antibacterial activity using agar diffusion method with wells. The ethanol extract of horse whip leaves has stronger antibacterial activity than the fraction based on the inhibition diameter obtained at concentrations of 30%, 35%, and 40%. The KHM value of ethanol extract is 15%. It can be concluded that the ethanol extract has stronger antibacterial activity with a KHM value of 15%, presumably related to the content of flavonoids, tannins, saponins, and steroid compounds that are antibacterial in the extract. Abstrak. Staphylococcus aureus adalah bakteri penyebab infeksi yang ditandai dengan adanya kerusakan jaringan. Infeksi yang terjadi mulai dari infeksi ringan sampai infeksi yang serius bahkan hingga menyebabkan kematian. Daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) diketahui memiliki potensi sebagai antibakteri yang seringkali dimanfaatkan secara empiris. Penelitian bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri dari ekstrak dan fraksi daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) terhadap bakteri Staphylococcus aureus, menentukan nilai KHM-nya, dan untuk menganalisis kandungan senyawa dalam ekstrak dan fraksi. Metode penetapan parameter spesifik dan nonspesik, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, fraksinasi dengan metode Ekstrak Cair-Cair menggunakan pelarut dengan kepolaran yang semakin meningkat, penapisan fitokimia, dan pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar dengan cara sumuran. Ekstrak etanol daun pecut kuda memiliki aktivitas antibakteri lebih kuat dari fraksi berdasarkan diameter hambat yang diperoleh pada konsentrasi 30%, 35%, dan 40%. Nilai KHM ekstrak etanol yaitu 15%. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol memiliki aktivitas antibakteri lebih kuat dengan nilai KHM sebesar 15%, diduga berkaitan dengan kandungan senyawa flavonoid, tanin, saponin, dan steroid yang bersifat sebagai antibakteri di dalam ekstrak.
Pengujian Aktivitas Antibakteri dan Antioksidan serta Kadar Fenol Total Ekstrak Buah dan Kulit Buah Apel Hijau (Malus sylvestris (L.) Mill) Amelia Ersa Renatha; Citra Mufidah; Vinda Maharani Patricia; Yani Lukmayani; Kiki Mulkiya
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15064

Abstract

Abstract. Tropical fruits have the potential to be a natural source of antioxidants. Natural antioxidants are generally considered safer for consumption and can improve overall health compared to synthetic antioxidants. One plant that exhibits promising antioxidant properties is the green apple (Malus sylvestris (L.) Mill), which is rich in vitamin A, vitamin B, vitamin C, minerals, fiber, and phenolic compounds. This study aimed to evaluate the antibacterial activity against Propionibacterium acnes and Pseudomonas aeruginosa, antioxidant activity using the DPPH (2,2-diphenyl-1- picrylhydrazyl) method, and total phenolic content of both the fruit and peel of green apples that were ground in water at a ratio of (1:10). The results showed that the fruit juice and peel extracts of green apples exhibited a moderate zone of inhibition against Propionibacterium acnes and Pseudomonas aeruginosa, falling within the 5-10 mm range. However, the peel juice extract demonstrated a larger zone of inhibition against both bacteria compared to the fruit juice extract. The antioxidant activity of both the fruit and peel extracts was categorized as weak. The green apple fruit extract exhibited an IC50 value of 597.4853 ppm and a total phenolic content of 8.4762 mgGAE/g, while the peel extract demonstrated an IC50 value of 583.0589 ppm and a total phenolic content of 13.315 mgGAE/g. Abstrak. Buah-buahan tropis berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Antioksidan alami umumnya lebih aman untuk dikonsumsi dan dapat meningkatkan derajat kesehatan tubuh jika dibandingkan dengan antioksidan sintetik. Salah satu tanaman yang berpotensi memiliki khasiat sebagai antioksidan adalah tanaman apel hijau (Malus sylvestris (L.) Mill) yang banyak mengandung vitamin A, vitamin B, vitamin C, mineral, serat serta senyawa fenol. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa, pengujian aktivtias antioksidan terhadap DPPH (2,2-diphenyl-1- picrylhydrazyl) serta menghitung kadar fenol total dari buah dan kulit buah apel hijau yang dihaluskan menggunakan air dengan perbandingan (1:10). Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak jus buah dan kulit buah apel hijau terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa memiliki respon zona hambat sedang karena berada di rentang nilai 5-10 mm, sedangkan hasil dari ekstrak jus kulit buah apel memiliki diameter zona hambat lebih besar terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa dibandingkan dengan ekstrak jus buah apel hijau. Pengujian aktivitas antioksidan ekstrak buah dan kulit buah apel hijau masing-masing termasuk ke dalam kategori lemah. Ekstrak buah apel hijau memberikan nilai IC50 sebesar 597,4853 ppm dengan nilai kadar fenol total sebesar 8,4762 mgGAE/g, sedangkan untuk ekstrak kulit buah apel hijau memberikan nilai IC50 sebesar 583,0589 ppm dengan nilai kadar fenol total sebesar 13,315 mgGAE/g.
Tingkat Kepatuhan Minum Obat dan Tingkat Kesembuhan Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Sindangkerta Cianjur Sherly Nasya Aprilia; Suwendar; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15065

Abstract

Abstract. 10.6 million people fall ill with tuberculosis (TB) worldwide, including 5.8 million men, 3.5 million women, and 1.3 million children. The level of compliance with the use of pulmonary tuberculosis drugs is very important, because if it is not regular in its treatment and not on time it will cause drug resistance. This study aims to determine the relationship between the level of compliance and the recovery rate of pulmonary tuberculosis patients at the Sindangkerta Health Center, using the pill count adherence equation. This study was conducted with a descriptive observational design using a retrospective cohort study method by looking at the correlation between compliance and recovery. The population was 166 and the sample was taken by purposive sampling method by looking at the sample that entered the inclusion criteria of 119. Abstrak. 10,6 juta orang jatuh sakit terkena penyakit Tuberkulosis (TBC) diseluruh dunia. termasuk 5,8 juta pria, 3,5 juta wanita, dan 1,3 juta anak-anak. Tingkat kepatuhan penggunaan obat Tuberkulosis paru sangat peting, karena jika tidak teratur dalam pengobatannya dan tidak tepat waktu maka akan menyebabkan terjadinya resistensi Obat. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui hubungan Tingkat kepatuhan dan tingkat kesembuhan pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Sindangkerta, dengan menggunakan persamaan pill count adherence. Penelitian ini dilakukan dengan desain observasional deskriptif menggunakan metode studi Kohort secara retrospektif dengan melihat korelasi antara kepatuhan dan kesembuhan. Populasi sebanyak 166 dan sampel diambil dengan metode purposive sampling dengan melihat sampel yang memasuki kriteria inklusi sebanyak 119.