cover
Contact Name
Novi Rosita Rahmawati
Contact Email
jurnaledudeena@iainkediri.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaledudeena@iainkediri.ac.id
Editorial Address
Sunan Ampel St. No.7, Kediri, East Java, Indonesia, 64127
Location
Kota kediri,
Jawa timur
INDONESIA
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education
ISSN : -     EISSN : 25809989     DOI : 10.30762
Core Subject : Education,
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education publishes articles on textual and fieldwork studies with various perspectives of: Islamic Studies Instructional Media of Islamic Studies Instructional Strategy of Islamic Studies Development Curriculum of Islamic Studies Management of Islamic Studies
Articles 165 Documents
PENGEMBANGAN KURIKULUM AHMADIYAH DI SMA PIRI YOGYAKARTA Takrip, Muhamad
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/ed.v2i1.478

Abstract

Abstract: The Ahmadiyya movement born in the 19th century with the background of the decline of Muslim India in the field of religious, political, economic, social and other areas of life. The Ahmadiyya movement has a controversy among Muslims in Indonesia from various walks of life with the advent of the Ahmadiyya in Indonesia education need for qualitative scientific research that could explain that the Ahmadiyya in high school education PIRI Yogyakarta with Ahmadiyya islam education learning more emphasis towards the understanding of contextual and good nature substance through belief in God as well as the attitude towards fellow humanbeings. In Indonesia has many tribal differences, religion, race and the education of Ahmadiyya appreciate differences is an attempt religious teachers in multicultural education in high school imparts PIRI. Abstrak: Gerakan Ahmadiyah lahir pada abad ke 19 dengan latar belakang kemunduran umat islam India dibidang agama, politik, ekonomi, sosial dan bidang kehidupan lainya. Gerakan Ahmadiyah memiliki kontroversi di kalangan umat islam Indonesia dari berbagai kalangan dengan munculnya pendidikan Ahmadiyah di Indonesia perlu adanya penelitian ilmiah secara kualitatif yang bisa menjelaskan bahwa pendidikan Ahmadiyah di SMA PIRI Yogyakarta dengan pembelajaran pendidikan agama islam Ahmadiyah lebih mengedepankan terhadap pemahaman kontekstual dan subtansi baik sifatnya keyakinan kepada Allah maupun sikap terhadap sesama manusia. Di Indonesia memilki banyak perbedaan suku, agama, Ras dan antargolongan pendidikan Ahmadiyah menghargai perbedaan merupakan upaya guru agama dalam menanamkan penddikan mutikultural di SMA PIRI Yogyakarta.
INSTRUMEN PENILAIAN SIKAP SOSIAL (Studi Penilaian Sikap Sosial pada mata pelajaran Fikih di Jurusan Tehnik dan Bisnis Sepeda Motor SMK Muhammadiyah 1 Patuk) Baidhowi, Muhammad Rizal
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/ed.v2i1.518

Abstract

Abstract: Sisdiknas 20/2003, law No. 20 of 2003 describes the purpose of national education is to the development of potential learners in order to become a man of faith and piety to God Almighty, precious, healthy, have learned, accomplished, creative, independently, and become citizens of a democratic and accountable. Expressed that the national education goals is achieved through a number of competencies in order to be human Indonesia expected. These goals are also very comprehensive summed up into the competency-specific competency. In the curriculum, there is 2013 KI KI 1 and 2 containing the competence of attitude, which is divided into an attitude of spiritual and social attitudes. Presence of KI KI 1 and 2 are expected to realize the goal of the comprehensive education to understand KI 1 and KI2 2013 in the curriculum of course we will look at different ideas with KTSP 2006. Another thing is also found in his system. With the goal of a comprehensive, certainly in the assessment also requires a comprehensive assessment as well as authentic. Abstrak: Sisdiknas 20/2003, UU No. 20 Tahun 2003 tentang menjelaskan tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tersurat bahwa tujuan pendidikan nasional tersebut dicapai melalui sejumlah kompetensi agar menjadi manusia Indonesia yang diharapkan. Tujuan tersebut juga sangat komprehensif yang disimpulkan ke dalam kompetensi-kompetensi tertentu. Dalam kurikulum 2013 terdapat KI 1 dan KI 2 yang berisi kompetensi sikap, yang terbagi atas sikap spiritual dan sikap sosial. Hadirnya KI 1 dan KI 2 diharapkan mampu mewujudkan tujuan pendidikan yang komprehensif tersebut Memahami KI 1 dan KI2 pada Kurikulum 2013 tentu kita akan melihat pemikiran yang berbeda dengan KTSP 2006. Hal lain juga ditemui dalam sistem penilaiannya. Dengan tujuan yang komprehensif, tentu dalam penilaian juga membutuhkan penilaian yang komprehensif serta aoutentik.
STRATEGI PENGEMBANGAN SOAL HOTS PADA KURIKULUM 2013 Fanani, Moh. Zainal
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/ed.v2i1.582

Abstract

Abstract: This article aims to provide knowledge and understanding to teachers about the concepts and characteristics of Higher Order Thinking Skills (HOTS) assessments in depth and to improve the skills of teachers in developing HOTS assessments. To achieve these goals, this article is supported by various literatures sourced from research journals, reference books, modules, the internet, and other sources relevant to the topic of developing the HOTS assessment. From the data that has been collected from various references, the following picture can be obtained: 1) HOTS assessments are questions that generally measure abilities in the realm of analyzing (analyzing-C4), evaluating (evaluating-C5), and creating (creating-C6) . The characteristics of HOTS are: measuring high-level thinking skills, based on contextual problems, not routine (not familiar), and using various forms of questions; 2) the steps for writing HOTS item items are: a) analyzing KD that can be made HOTS items, b) compiling a grid of questions, c) choosing an interesting and contextual stimulus, d) writing questions according to the grid, e) create scoring guidelines (rubrics) or answer keys; 3) The advantage of the HOTS assessment is that it increases students' learning motivation and increases the achievement of learning outcomes; 4) While the strategy for preparing HOTS questions is carried out by involving all components of stakeholders in the education sector from the central to the regional levels, in accordance with their respective main tasks and authorities. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada guru tentang konsep dan karakteristik penilaian Higher Order Thinking Skills (HOTS) secara mendalam dan untuk meningkatkan keterampilan para guru dalam mengembangkan penilaian HOTS. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, artikel ini ditunjang dengan berbagai literatur yang bersumber dari jurnal penelitian, buku referensi, modul, internet, dan sumber lainnya yang relevan dengan topik pengembangan penilaian HOTS. Dari data yang berhasil dihimpun dari berbagai referensi dapat diperoleh gambaran sebagai berikut: 1) penilaian HOTS adalah Soal-soal yang pada umumnya mengukur kemampuan pada ranah menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi (creating-C6). Karakteristik HOTS yaitu: mengukur kemampuan berfikir tingkat tinggi, berbasis permasalahan kontekstual, tidak rutin (tidak akrab), dan menggunakan bentuk soal yang beragam; 2) langkah menulis item soal HOTS adalah: a) menganalisis KD yang dapat dibuat item HOTS, b) menyusun kisi-kisi soal, c) memilih stimulus yang menarik dan kontekstual, d) menulis butir pertanyaan yang sesuai dengan kisi-kisi, e) membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban; 3) Keuntungan dari penilaian HOTS adalah meningkat motivasi belajar siawa dan meningkatkan pencapaian hasil belajar; 4) Sedangkan strategi penyusunan soal-soal HOTS dilakukan dengan melibatkan seluruh komponen stakeholder di bidang pendidikan mulai dari tingkat pusat sampai ke daerah, sesuai dengan tugas pokok dan kewenangan masing-masing.
PENINGKATAN FLUENCY DAN ELABORATION DENGAN MODIFIED FREE INQUIRY Surur, Agus Miftakus
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/ed.v1i1.444

Abstract

Abstract: Researchers chose a modified free inquiry model to help improve students’ fluency and elaboration. The purpose of this research is to know the application of modified free inquiry which can improve the student’s fluency and elaboration of students’ thinking on trigonometric material. Research method in this research is qualitative research method and research type is research of class action. The data in this study were obtained from the results of validation, test results, observation of teacher and student activity, and interview result, then apply data triangulation and theory to check the validity of data. The results showed an increase in fluency and elaboration in students. This means that a modified free inquiry model can help improve students’ fluency and elaboration in trigonometric learning. The results are supported by the observation of teacher and student activity that is in accordance with the lesson plan and also the result of the interview which get positive response from the students. Abstrak: Peneliti memilih model pembelajaran modified free inquiry untuk membantu meningkatkan fluency dan elaboration siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan modified free inquiry yang dapat meningkatkan fluency dan elaboration berpikir siswa pada materi trigonometri. Metode penelitian pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas. Data pada penelitian ini diperoleh dari hasil validasi, hasil tes, hasil observasi aktivitas guru dan siswa, dan hasil wawancara, kemudian menerapkan triangulasi data dan teori untuk pengecekan keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan fluency dan elaboration pada siswa. Hal ini berarti model pembelajaran modified free inquiry dapat membantu meningkatkan fluency dan elaboration siswa dalam belajar trigonometri. Hasil tersebut didukung dengan hasil observasi aktivitas guru dan siswa yang sudah sesuai dengan rencana pembelajaran dan juga hasil wawancara yang memperoleh respon positif dari siswa.
PENGEMBANGAN MEDIA TUTORIAL PEMBELAJARAN MATA KULIAH MEDIA FOTOGRAFI PEMBELAJARAN Pradana, Mochamad Desta
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/ed.v2i1.581

Abstract

Abstract: One of the efforts to solve learning problems is by developing instructional resources. One of them is instructional tutorial. Based on the field observation, subject of photo media for Instruction (photography) in graduate program PBA of STAIN Kediri still employes instructional media (utilization). Thus, there is a need to develop media of instructional tutorial (by desaign) in order to overcome errors in delivering instructional messages. The aim of this study is to produce instructional media of subject of photo media for Instruction (photography) in the form of tutorial, lecturer guidance and students' guidance which is expected to be able to help students gain knowledge of facts, concepts, and proper shooting procedures. The tutorial media is developed in terms of the study of the instructional technology which is based on the ADDIE model. The ADDIE model is a systematic instructional design model consisting of five phases: (1) analysis, (2) design, (3) development, (4) implementation, and (5) evaluation. Furthermore, the product of the development of the instructional interactive multimedia will be evaluated. There are six steps in the evaluation phase: (1) judgement of the matter expert/ the material expert, (2) judgement of the design expert, (3) judgement of the media expert, (4) individual trials, (5) small group trials, (6) large group trials/ field trials. The result of expert validation for this instructional media tutorial indicates that it is properly designed, 73%. The result of media expert validation shows that it is very properly designed, 83%. The result of design expert validation shows that it is very properly designed, 82%. Personal validation is on the proper category, 70%. Result of small group validation is on proper category, 70%. Moreover, the result for big group test or field test is on the very proper category, 95%. Suggestion proposed related with the use and developing of media tutorial is (1) lecturers should be more creative and innovative in delivering instructional messages contained in this tutorial in order to make learning to be more attractive, fun, and creative, (2) there is a need to develop instructional media for subject of photo media instruction (photography) or other subjects, (3) the use of designed in media tutorial should be more interesting to make learning more interactive and interesting. Abstrak: Salah satu upaya untuk memecahkan masalah pembelajaran adalah dengan mengembangkan sumber daya pembelajaran. Salah satunya adalah tutorial pembelajaran. Berdasarkan observasi lapangan, subjek media foto untuk Pembelajaran (fotografi) pada program pascasarjana PBA STAIN Kediri masih menggunakan media pembelajaran (pemanfaatan). Oleh karena itu, perlu dikembangkan media pembelajaran (by desaign) untuk mengatasi kesalahan penyampaian pesan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran mata pelajaran media foto untuk Pembelajaran (fotografi) berupa tutorial, bimbingan dosen dan bimbingan mahasiswa yang diharapkan dapat membantu mahasiswa memperoleh pengetahuan tentang fakta, konsep, dan pemahaman yang benar. prosedur pemotretan. Saran yang diajukan terkait pemanfaatan dan pengembangan media tutorial adalah (1) dosen harus lebih kreatif dan inovatif dalam menyampaikan pesan-pesan pembelajaran yang terkandung dalam tutorial ini agar pembelajaran menjadi lebih menarik, menyenangkan, dan kreatif, (2) ada perlunya pengembangan media pembelajaran untuk mata pelajaran media foto (fotografi) atau mata pelajaran lainnya, (3) penggunaan media pembelajaran yang dirancang harus lebih menarik agar pembelajaran lebih interaktif dan menarik.
TRADISI MEMAOS SEBAGAI MEDIA EDUKATIF UNTUK MEMBANGUN JIWA RELIGIUS GENERASI MUDA Kariadi, Dodik; Suprapto, Wasis
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/ed.v2i1.560

Abstract

Abstract: Every tradition in Indonesia has values, especially the religious value. Similarly, the Sasak their known as people who ethnically diverse have variety traditions which can be used for educational purposes it will be very useful to preserve and transferring good things and religious values to the younger generations. For example, the tradition of Memaos or read the manuscript of such palm leaves can be done by several people in Lombok. See that Sasak is the majority of Moslem, Memaos tradition or palm leaves reading is done on certain occasions, usually in the great days of Moslem. This paper aims to describe how the historical background of Memaos tradition in Lombok Sasak ethnic. How are the aspects of religious education in the Memaos tradition in Lombok Sasak ethnic, especially when it is used as a tool to pass on religious values to the younger generation? Those are some of the problems outlined in this paper. And the results show that Memaos appeared with the arrival of the Moslemic religion Lombok island and Memaos is able to be an instrumental in beguethed religious values as the actualization media of appreciation the values of Moslem Abstrak: Keragaman budaya yang dimiliki Indonesia menjadikan sebuah daya tarik tersendiri yang membedakannya dengan negara lain. Hal ini merupakan warisan turun temurun dari para leluhur yang memiliki begitu banyak nilai-nilai di dalamnya. Keragaman budaya yang ada di Indonesia telah melahirkan pula keragaman wujud-wujud kebudayaan. Diantaranya adalah adat istiadat, upacara-upacara adat dan juga tradisi yang masih tetap dilestarikan oleh etnik-etnik di Indonesia. Setiap tradisi di Indonesia memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, terutama nilai religius. Demikian pula dengan masyarakat sasak yang dikenal sebagai masyarakat yang dari segi etnis yang cukup beragam memiliki beraneka ragam tradisi yang bila dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan maka akan sangat berguna untuk dijadikan sebagai alat untuk melestarikan serta mentransper hal-hal baik maupun nilai religius kepada generasi muda. Sebagai contoh yakni tradisi memaos atau membaca naskah lontar yang bisa dilakukan oleh beberapa orang pada suku sasak Lombok. Mengingat suku sasak mayoritas beragama Islam maka tradisi Memaos atau membaca lontar ini dilakukan pada acara-acara tertentu, biasanya pada hari-hari besar Islam. Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana sejarah latar belakang munculnya tradisi Memaos pada suku Sasak Lombok? Bagaimana aspek pendidikan religius pada tradisi Memaos pada masyarakat suku Sasak Lombok, terutama ketika ia digunakan sebagai alat untuk mewariskan nilai religius bagi generasi muda? Itulah beberapa persoalan yang coba diuraikan dalam tulisan ini. Dan hasilnya menunjukkan bahwa memaos muncul seiring dengan masuknya agama Islam di pulau Lombok dan Memaos mampu menjadi instrument dalam mewariskan nilai-nilai religius serta sebagai media aktualisasi penghayatan nilai-nilai keislaman.
PENDIDIKAN NON FORMAL DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN ANAK JALANAN Hidayat, M. Arif; Anwar, Ali; Hidayah, Noer
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/ed.v1i1.445

Abstract

Abstract: The background of the non-formal education is the improvement of informal education, the complement of formal education. Sanggar itself is a place of art activities, as an effort to improve the skills of the students built studio. To do that research on non-formal education as an effort to improve the skills of street children who become guided in the studio. The type of research used in this study is field research, using a qualitative approach. Data analysis used in this research is descriptive done by data reduction and data exposure. The result of this research is that the Bodol studio provides skills that match the interests and talents possessed by the sanggar children. The skills possessed by the assisted children of the studio are the skills of playing music. Efforts made by the studio to improve skills: provide assistance, have books that can support, the availability of supporting tools and the support of interests and talents owned by the child who became the guard studio. Abstrak: Latar belakng diselenggarakannya pendidikan non formal ini adalah sebagai peningkatan pendidikan informal, pelengkap pendidikan formal. Sanggar sendiri adalah tempat kegiatan seni, sebagai upaya peningkatan keterampilan anak binaan sanggar. Untuk itu melakukan penelitian tentang pendidikan non formal sebagai upaya peningkatan keterampilan anak jalanan yang menjadi binaan di sanggar. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif yang dilakukan dengan cara reduksi data dan paparan data. Hasil dari penelitian ini adalah sanggar sang Bodol memberikan keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki oleh anak binaan sanggar. Keterampilan yang dimiliki oleh anak binaan sanggar adalah keterampilan bermain musik. Upaya yang dilakukan sanggar untuk meningkatkan keterampilan: memberikan pendampingan, memiliki buku-buku yang dapat menunjang, tersedianya alat-alat penunjang dan pemberian dukungan minat dan bakat yang dimiliki oleh anak yang menjadi binaan sanggar
PENDIDIKAN KARAKTER PERSPEKTIF ISLAM: STRATEGI DERADIKALISASI DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA DI PESANTREN SALAF Prasetya, Budi
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/ed.v2i2.614

Abstract

Abstract: Lately rampant cases of radical in the name of religion. One of the highlights is the government especially who takes care of education. In the prevention of radical understanding, the government continues to promote character education. Character education has basic guidelines from the 1945 Constitution, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, and NKRI, and on the basis of Religion. One of the institutions that characterize character education as a deradicalization effort is Ponpes Hidayatul Mubtadi’in Salatiga. There are taught various character education through teaching, role model, and practice. With a strong character education then alumni of education at salaf pesantren will be far from radical understanding Abstrak: Akhir-akhir ini marak kasus-kasus radikal yang mengatasnamakan agama. Salah satu yang menjadi sorotan adalah pemerintah terutama yang mengurusi pendidikan. Dalam pencegahan paham radikal, pemerintah terus menggalakkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter mempunyai dasar pedoman dari UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI, serta dengan dasar dari Agama. Salah satu instansi yang mengedapankan pendidikan karakter sebagai upaya deradikalisasi adalah Ponpes Hidayatul Mubtadiin Salatiga. Disana diajarkan berbagai macam pendidikan karakter melalui pengajaran, suri tauladan, dan praktik yang dilakukan. Dengan adanya pendidikan karakter yang kuat maka alumni pendidikan di pesantren salaf akan jauh dari paham radikal.
UPAYA KIAI DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA KITAB KUNING Jabbar, Moh. Tasi’ul; Wahidul Anam; Anis Humaidi
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/ed.v1i1.446

Abstract

Abstract: Kiai is essentially a title given to someone who has knowledge in the field of religion in this case Islam. For that researchers focused research on: 1) How kiai efforts in improving the ability to read the book yellow santri? 2) What are the factors that support and inhibit the improvement of reading ability of yellow book students ?. Type of research in this thesis is using qualitative approach with case study research design. All data obtained from observation, interview and documentation. Data analysis is done by examining all existing data, data reduction, checking data validity, observation persistence and triangulation. From the research that has been conducted, the research results are 1) Efforts in improving the reading ability of yellow book students, 2) Supporting factors and obstacles are The management of boarding school and Madrasah Diniyah boarding schools are very helpful in the learning process. Abstrak: Kiai pada hakikatnya adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang mempunyai ilmu dibidang agama dalam hal ini agama Islam. Untuk itu peneliti menfokuskan penelitian pada: 1) Bagaimana upaya kiai dalam meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning santri? 2) Apa saja faktor yang mendukung dan menghambat dalam peningkatan kemampuan membaca kitab kuning santri?. Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Seluruh data diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara menelaah seluruh data yang ada, reduksi data, pengecekan keabsahan data, ketekunan pengamatan dan triangulasi. Dari penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh hasil penelitian yaitu, 1) Upaya dalam peningkatan kemampuan membaca kitab kuning santri, 2) Faktor pendukung dan penghambatnya adalah Adanya kepengurusan pondok pesantren dan kepengurusan Madrasah Diniyah yang sangat membantu dalam proses pembelajaran
Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Versus Pembelajaran Langsung Mashudi
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/ed.v2i2.724

Abstract

Abstract: Learning method or technique and learning strategy need to be notice in learning activities. This study aim to discusses cooperative strategy. Cooperative strategy has some elements; (1) Positif depending to each other (2)face to face meeting (3) individual responsibility (4) group and interpersonal skill (5) effective group process. Some of the cooperative learning basic theories are Behaviourism theory and constructivism theory that have differ point of view. Benefit of cooperative learning could be divided into four aspects (1) improving positive attitudes toward learning activities (2) Increasing student interaction to each other (3) improving student learning achievement ,(4) authentic assessment. Then, Jigsaw in cooperative learning is a product of social constructivism. Slavid stated technique that use appropriate approach based on social cohesive are Jigsaw, Group Investigation and learning Together (LT).   Abstrak: Salah satu masalah yang memerlukan perhatian dalam kegiatan pembelajaran adalah metode teknik, dan strategi pembelajaran (learning metbod &technique). Strategi pembelajaran kooperatif memiliki beberapa elemen antara lain; (1) Saling ketergantungan positif, (2) Tatap muka, (3) Tanggung jawab individu, (4) Keterampilan kelompok dan interpersonal, dan (5) Keefektifan proses kelompok. Teori yang mendasari pembelajaran kooperatif dengan mengikuti perspektif yang berbeda. Di antaranya adalah teori behavioristik dan teori konstruktivisme. Manfaat pembelajaran kooperatif dilihat dari empat aspek tersebut; (1)Meningkatkan sikap positif terhadap kegiatan pembelajaran, (2)Menggiatkan interaksi antarsiswa, (3)Meningkatkan prestasi belajar, dan (4)Penilaian otentik. Berikutnya Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah produk dari perspektif konstruktivisme sosial. Sebagaimana Slavin menyebutkan teknik yang menggunakan pendekatan yang sesuai dengan pandangan kohesif sosial adalah Jigsaw, Group Investigation, dan Learning Together (LT).