cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
KISAH NABI KHIDIR DALAM SASTRA SULUK: RESEPSI DAN TRANSFORMASI (THE STORY OF PHRPOHET KHIDIR IN SULUK LITERATURE; RECEPTION AND TRANSFORMATION) Sri Haryatmo
Widyaparwa Vol 43, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.276 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i2.116

Abstract

Penelitian ini mengangkat cerita Nabi Khidir di dalam sastra Jawa, khususnya sastra suluk. Kajian ini bertujuan ingin mengetahui kreatifitas pengarang sastra suluk dalam meresepsi dan mentransformasikan kisah Nabi Khidir di dalam sastra Jawa (suluk). Teori yang digunakan adalah teori resepsi dan transformasi. Dalam teori resepsi dijelaskan bahwa setiap pembaca mempunyai resepsi sendiri-sendiri terhadap karya yang dibacanya. Dalam hal ini pengarang meresepsi kisah Nabi Khidir dalam Alquran (melalui kitab Qishasul Anbiya Kisah para Nabi) lalu menulis kembali (mentransformasikan) ke dalam Serat Suluk Walisana. Hasilnya adalah bahwa tokoh Nabi Musa (dalam Alquran) diganti dengan tokoh Syekh Malaya (dalam sastra suluk), inti ajaran ilmu laduni yang dimiliki oleh Nabi Khidir ditransformasikan dalam inti ajaran kejawen manunggaling kawulaGusti. Kepopuleran Nabi Khidir di Jawa dimanfaatkan untuk melegitimasi inti ajaran manunggaling kawula-Gusti dalam sastra suluk. Oleh karena itu, dalam suluk, ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Nabi Khidir terhadap Syekh Malaya seluruhnya dapat diterima dengan sempurna. This study raised the story of the Prophet Khidr in Javanese literature, particularly suluk literature. The aim of this study is to find out suluk literary author's creativity in receiving and transforming Javanese suluk of prophet Khidir story. The theory employed in this study is the theory of reception and transformation. In reception theory it is explained that every reader has his/her own reception on the works he/she reads. In this case the author receives story of Prophet Khidr in the Qur'an (through book of Qishasul Anbiya 'Story of the Prophets') and then rewrites (transforms) into Serat Suluk Walisana. The result is the figure of Moses (in the Qur'an) is replaced with the figure of Sheikh Malaya (in suluk literature), teachings core of Laduni knowledge possessed by Prophet Khidr is transformed into the teachings core of kejawen manunggaling-Gusti. The popularity of Prophet Khidr in Java is used to legitimize teachings core of manunggaling-Gusti in suluk literature. Therefore, in suluk, the teachings delivered by Prophet Khidr toward Sheikh Malaya are entirely received perfectly.
INDEKS PENULIS 49 NFN Mulyanto
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.241 KB)

Abstract

POLA TINDAK TUTUR KOMISIF BERJANJI BAHASA JAWA Paina Partana
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.363 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.12

Abstract

Ekspresi dalam wujud tindakan berbicara atau mengeluarkan ujaran (kalimat, frasa, klausa, atau kata) dianggap sebagai tindakan bertutur. Istilah yang lazim dipakai untuk mengacu tindakan itu ialah tindak tutur. Dengan kata lain, tindak tutur adalah tindakan yang diwujudkan dalam bentuk ujaran atau tuturan. Salah satu bentuk tindak tutur itu ialah tindak tutur komisif. Tindak tutur komisif selalu didasarkan pada subjek, verba, dan isi tuturan yang berupa janji dengan pola yang ajek. Tindak tutur komisif selalu menyiratkan nilai keuntungan atau kerugian pada partisipan tertentu. Pada bahasa Jawa, tindak tutur komisif berjanji juga tidak meninggalkan prinsip santun berbahasa. Expression in form of speaking or expelling a statement (sentence, phrase, clause, or word) is considered as an action to speak. The common term refers to this action is speech act. ln other word, speech act is an action, which is realized in form statement or utterance. One of speech acts is commissive speech act. The commissive speech act is always based on subject, verb, and content of the speech in form of promising by using constant pattern. Commissive speech act always implies advantage or disadvantage value for certain participants. ln Javanese language, commissive speech act also regards politeness principle.Key words: speech act, commissiae speech nct, promising, politeness principle
MAKNA DALAM TUTURAN DI AKUN INSTAGRAM JOKOWI: PENDEKATAN BEHAVIORISME Eko Purnomo; Miftakhul Huda
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.998 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.960

Abstract

Meaningful utterance if it has implications for speech partners. This study aims to describe behaviorism meaning in Jokowi’s utterances on Instagram. This study is descriptive qualitative. Data sources are captions on Jokowi’s Instagram, national news sites, and government websites. Data are Jokowi's utterances in the form of captions on Jokowi's Instagram, news, and the government's official website which contain the meaning of behaviorism and people's behavior. Data collection techniques in this study use reading, documentation, and continued note-taking. Data analysis techniques use pragmatic identity method then followed by intertextuality analysis. The results of this study indicate that Jokowi's utterances contain Behaviourism meanings are (1) asking, (2) hoping, (3) optimistic, and (4) reminding. It is possible that Jokowi’s utterances as a president in Indonesia is still being listened to by his subordinates or his people because Jokowi’s utterances are implied and implemented by the intended speech partners.
DURASI VOKAL BAHASA INDONESIA: /i, e, u/ SUKU AKHIR TERTUTUP PENUTUR KELOMPOK ETNIS BETAWI Tri Saptarini
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2277.725 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.48

Abstract

Vokal /i/ dan /e/ adalah dua vokal dalam bahasa Indonesia yang terletak di bagian depan sehingga disebut vokal depan, sedangkan vokal /u/ dan /o/ adalah dua vokal bahasa Indonesia yang terletak di bagian belakang dan disebut vokal belakang. Vokal-vokal tersebut mempunyai ucapan yang bermacam-macam bergantung siapa yang mengucapkannya. Dalam penelitian ini dipilih masyarakat Betawi yang mengucapkannya dengan alasan bahwa masyarakat Betawi yang multietnis ini, akan mengucapkan kata pada suku akhir akan bervariasi. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan durasi vokal /i,e,u/ pada suku akhir tertutup. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini, yaitu metode deskriptif dengan teknik pengpmpulan data melalui perekaman. Hasil rekaman dipindahkan dalam komputer dengan menggunakan program PRAAT versi 3.9.2.2. Penerapan PRAAT dipilih untuk memastikan kecermatan segmentasi. Hasilnya berupa penghitungan durasi. Vowel /i/ and /e/ are two vowels, in Indonesian, which occurs to the initial part. Therefore they are called initial vowels, while vowels /u/ and /o/ are two vowels, in lndonesian language, which occurs to the coda. Therefore, they are called coda vowel. Those vowels have various sounds, depends on speakers. This research was conducted to understand Betawi society, in daily speaking. The society is identified as multiethnic, so that their ways of speaking, particularly in the cod syllable, are varied. The aim of the research was to describe vowel duration /i,e,u/ at the final coda syllable. Descriptive method was used as technique in collecting and recording data. The recording was transferred into computer using PRAAT version 3.9.2.2program. The program was chosen to define segmentation exactness. The result was duration extrapolation.
INTERFERENSI KOSAKATA BAHASA CINA KE DALAM BAHASA MELAYU BANGKA DALAM PERSEPSI PEMBENTUKAN KATA Rahmat Muhidin
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2825.779 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.83

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan pengaruh interferensi kosakata bahasi Cina ke dalam bahasa Melayu Bangka di bidang pertambangan. Penelitian ini merupakan peneltian deskriptif. Dalam pengumpulan data digunakan teknik simak dan dalam analisis data digunakan metode deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembentukan kata dipilah ke dalam kategori (1) kata dasar yang berhubungan dengan istilah pertambangan, (2) kata majemuk (3) istilah umum dan sarana tambang; (4) peralatan tambang (5) istilah yang berhubungan dengan makanan dan minuman (6) istilah budaya dan tradisi Cina, (7) istilah perdagangan, dan (8) istilah transportasi. This paper aims to describe the influence of interference vocabulary of Chinese language into Bangka Malay language in mine workings. In this paper, the writer used descriptive method. In collecting the data, the writer used listening method and the data was analyzed by using descriptive method. From this research, the write concludes, the interference vocabulary of Chinese language into Bangka Malay language in mine workings can be categorized into (1) roots in mine workings, (2) compounds words, (3) terms and mining tools, (4) mining equipment, (5) terms of food and drink, (6) terms of culture and Chinese tradition, (7) terms of trading, and (8) terms of transportation.
NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN NOVEL SAWITRI DAN TUJUH POHON KELAHIRAN KARYA MASHDAR ZAINAL Afry Adi Chandra; Herman J. Waluyo; Nugraheni Eko Wardani
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.536 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.304

Abstract

This study aims to discuss environmental care character education contained in the novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran by Mashdar Zainal. Attitude to protect the environment is part of the manifestation of human gratitude to God. It is also a reflection of the value of character education. This research is descriptive qualitative research. The main data source in this study, namely the quoted text contained in the novel of Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran relating to character education care about the environment. The data validity technique uses the triangulation of methods and data sources. Content analysis techniques are used as a means of collecting data. The low concern of students for environmental sustainability is one of the factors threatening the survival of living things in the future. Internalization of the value of character education about the environment is important to instill in students. Based on the research conducted, it is known that the novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran by Mashdar Zainal contain tangible environmental character education, (1) compassion towards the environment; (2) equality of women's rights in managing the environment; and (3) educating the importance of protecting the environment.Penelitian ini bertujuan untuk membahas pendidikan karakter peduli lingkungan yang terdapat di novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran karya Mashdar Zainal. Sikap menjaga lingkungan adalah bagian dari wujud rasa syukur manusia kepada Tuhan. Hal tersebut juga merupakan cerminan dari nilai pendidikan karakter. Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data utama dalam penelitian ini, yaitu kutipan teks yang terdapat di novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran yang berkaitan dengan pendidikan karakter peduli lingkungan. Teknik validitas data menggunakan triangulasi metode dan sumber data. Teknik analisis konten (content analysis)digunakan sebagai sarana dalam pengumpulan data. Rendahnya kepedulian peserta didik terhadap kelestarian lingkungan, menjadi salah satu faktor terancamnya keberlangsungan hidup makhluk hidup di masa mendatang. Internalisasi nilai pendidikan karakter peduli lingkungan menjadi hal penting untuk ditanamkan kepada para siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran memuat pendidikan karakter peduli lingkungan yang berwujud, (1) sikap kasih sayang terhadap lingkungan; (2) kesetaraan hak perempuan dalam mengelola lingkungan; dan (3) mengedukasi pentingnya menjaga lingkungan.
EUFEMISME PADA MAKIAN SURABAYAAN Moulidvi Rizki Permita
Widyaparwa Vol 48, No 1 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.561 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i1.296

Abstract

People of Surabaya experience stereotype towards their utterances, especially they are in Yogyakarta-Surakarta areas. Even more, there is an article assumed that Javanese language with Surabaya dialect is not appropriate to be spoken in Surakarta. This research aims to change the stereotype by exposing swear words in Javanese language that went through euphemism. Collecting data process has done by two methods, directly involved in the utterances and observed to instans message of Surabayanese. Data collection were about swear words that keeps spoken by Surabayanese with the range age of 20-30 years old and minimum of the bachelor degree holder. The data obtained were then analyzed using phonetic theory and code switching. The result of this research shows that Surabayanese have done euphemism in swear words by: 1) disguising the sound, such as changing and replacing few sounds like vocals or consonants, 2) switching to bahasa Indonesia and English is presumed to be prestige and superior. Euphemism is used because Surabayanese want to show identity and solidarity, but still want to appreciate the interlocutor.Masyarakat Surabaya terkenal dengan ujaran yang kasar, bahkan terdapat penelitian yang mengungkapkan bahwa bahasa Jawa dialek Surabaya merupakan bahasa yang tidak layak dan kurang baik dituturkan di Surakarta (Solo). Penelitian ini hadir sebagai usaha menolak pandangan tersebut dengan memaparkan beberapa kosa-kata makian dalam bahasa Jawa dialek Surabaya yang mengalami proses kebahasaan eufemisme. Data diperoleh dengan metode simak libat cakap dan wawancara terhadap penutur asli. Dari hasil analisis ditemukan bahwa beberapa makian mengalami perubahan bunyi ke arah bunyi-bunyi bahasa Jawa dialek Solo-Yogyakarta dan campur kode ke bahasa yang lebih superior, yakni bahasa Indonesia. Eufemisme yang terjadi pada makian bahasa Jawa dialek Surabaya lebih banyak diujarkan dalam bentuk sapaan. Hal ini dilakukan karena masyakarat Surabaya ingin menjunjung tinggi karakteristik kesolidaritasan dalam bahasanya namun tetap menghargai mitra tutur.  
HUMOR BAHASA JAWA DIALEK TEGAL DALAM KANAL YOUTUBE “GUYONAN NGAPAK TEGAL” Dahlia Nurul Amalah; NFN Mulyana
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.489 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.793

Abstract

This study aims to describe humor in the Javanese Tegal dialect in the Guyonan Ngapak Tegal youtube channel. This research is a qualitative descriptive study with a content analysis method. The data in this study are words, phrases, sentences, and clauses that source of humor discourses in the GNT youtube channel. The data collection used by listening and note technique. The validity of the data in this study was semantic and referential validity. The result in this research that the humor of Javanese Tegal dialect in the GNT youtube channel was formed linguistic aspects, namely 1) phonological aspects, in the form of substitution and permutation; 2) morphological aspects, in the form of reduplication and compound words; and 3) semantic aspects, in the form of homonyms, antonyms, language style, idioms, and ambiguity. Based on the research results, the most dominant means of humor making is ambiguity.Tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan bentuk humor bahasa Jawa dialek Tegal dalam kanal youtube Guyonan Ngapak Tegal. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi. Data dalam penelitian ini berupa kata, frasa, kalimat, maupun klausa yang bersumber pada wacana humor dalam kanal youtube GNT. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak dan catat. Validitas data dalam penelitian ini yaitu validitas semantik dan validitas referensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk humor bahasa Jawa dialek Tegal dalam kanal youtube GNT terbentuk melalui aspek linguistik, yaitu 1) aspek fonologi, berupa subtitusi dan permutasi; 2) aspek morfologi, berupa reduplikasi dan kata majemuk; dan 3) aspek semantik, berupa homonim, antonim, gaya bahasa, idiom, dan ambiguitas. Berdasarkan hasil penelitian, sarana pembentukan humor yang paling dominan ialah ambiguitas.
SUNDANESE LEXICAL VARIATION ON TRADITIONAL FOODS NAMING IN KUNINGAN REGION Eva Utami Durahman; Zenab Badriah
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.627 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.874

Abstract

Sundanese has many dialects actively spoken all around Priangan. These dialects, to some extent, causes confusion and misunderstanding among the speaker itself. The phenomena attract variationists to dig deeper through their researches. Due to this mater, the study intended to describe Sundanese lexical variation on traditional foods naming in Kuningan region. The location was chosen due to the diversity of its citizen and geographical aspect of it. The qualitative method was utilized to get more detail of the problem. The data were collected in two steps (1) through questionnaires in google form and publicly distributed to Kuningan residents at reach and (2) online interview by using whatsapp application to those who filled up the google forms. The two steps data collecting techniques were done to enhance the validity of data considering the movement restriction on the pandemic period. The data gained were analized through two classification steps (1) based on which region the data came up and (2) based on variation in each data set. The result shown that the variation also exists in traditional foods naming on certain Kuningan region. The variations are spread across linguistic features from sounds to meaning. In the level of sounds, the variation appeared on both vowel and consonant sounds with the shift or addition or omission process. In the word level, the observable variations are (1) change in one element of the compound word, (2) morphophonemic phenomena in the form of repetition, omission, addition of certain syllable on the word, (3) addition of one morpheme to form compound, and (4) acronym. While other variations are observed in semantic aspect were semantic shift from hyponyms to hypernyms and complete lexical differences. The result amplified the fact that Sundanese lexical variation also existed in traditional foods naming.Bahasa Sunda memiliki banyak dialek yang digunakan secara aktif di seluruh wilayah Priangan. Dialek tersebut terkadang menimbulkan kebingungan dan kesalahpahaman antarpenutur bahasa Sunda sendiri. Fenomena tersebut menarik pehatian para peneliti bahasa, khususnya yang meneliti keragaman bahasa. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan variasi leksikal bahasa Sunda  dalam penamaan makanan tradisional di wilayah Kuningan. Wilayah ini dijadikan lokasi penelitian karena keberagaman masyarakatnya serta letak geografisnya. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan informasi terperinci yang berkaitan dengan fenomena tersebut. Data diambil dengan dua cara  penyebaran kuesioner secara daring menggunakan google form kepada penduduk Kuningan dan  wawancara langsung secara daring dengan menggunakan aplikasi whatsaap kepada partisipan penelitian yang mengisi kuesioner. Kedua cara tersebut dilakukan untuk meningkatkan validitas data selain dari  terbatasnya pergerakan penelitian karena pandemi Covid-19. Data  dianalisis melalui dua tahap klasifikasi  berdasarkan: wilayah ditemukannya data dan (2)  ada tidaknya variasi leksikal dalam setiap grup data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi leksikal bahasa Sunda juga terjadi pada penamaan makanan tradisional di beberapa wilayah Kuningan. Variasi leksikal ini tersebar pada beberapa fitur linguistik dari mulai bunyi sampai makna. Pada tataran bunyi, variasi leksikal terlihat pada bunyi vokal dan konsonan dengan proses peralihan, penambahan, dan penghilangan bunyi. Pada tataran kata, variasi yang terdeteksi adalah (1) perubahan pada satu elemen dalam kata majemuk, (2) fenomena morfofonemik dengan bentuk pengulangan, penghilangan, dan penambangan silabel tertentu dalam kata, (3) penambahan satu elemen kata untuk membentuk kata majemuk, dan (4) akronim. Variasi leksikal lainnya terjadi pada tataran semantik, khususnya pada pergesearan dari hiponim ke hipernim dan sebaliknya serta perbedaan leksikal yang merujuk pada benda yang sama. Hal ini memperkuat bukti bahwa variasi leksikal bahasa Sunda juga terjadi pada penamaan makanan.