cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
REPRESENTAS! DAN IDEOLOGI KOTA YOGYAKARTA DALAM NOVEL YOGYAKARTA KARYA DAMIEN DEMATRA S.E. Peni Adji
Widyaparwa Vol 39, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1079.101 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i2.35

Abstract

Catatan awal pengarang dalam novel Yogyakarta mengungkapkan tujuan dari proyek pembuatan novel. Tujuan itu berkaitan dengan representasi kota Yogyakarta yang dihadirkan melalui novel. Tulisan ini menkaji representasi dan ideologi novel Yogyakarta karya Damien Dematra. Teori representasi (Barker) dan ideologi (Storey dan Barthes) yang dipakai dalam kajian ini diterapkan menggunakan metode analisis isi. Kajian ini menghasilkan kesimpulan bahwa novel Yogyakarta sangat kuat menghadirkan representasi Yogyakarta sebagai (1) kota yang pluralis dan nyaman, (2) kota yang maju dengan tetap mempertahankan nilai tradisional, dan (3) kota pendidikan. Representasi tersebut dilakukan dengan mengingkari beberapa makna denototatif dari yang direpresentasikan. Tujuan dari representasi ini untuk mengukuhkan identitas, yang ujungnya demi pengukuhan ideologi kapitalisme dan legimitasi kekuasaan. Menurut Barthes pembacaan yang lebih seksama terhadap sebuah ideologi tidak akan mengurangi atau menambah kekuatan dari ideologi tersebut. Oleh karena itu, ideologi mengenai kapitalisme dan legitimasi kekuasaan dalam novel Yogyakarta tetaplah kuat. Dari segi pengoptimalan potensi bahasa (sastra) untuk menciptakan komunikasi yang baik, novel ini dipandang sebagai bentuk tuturan -- untuk menciptakan citra (representasi, konotasi) positif mengenai Yogyakarta -- dari pengarang (yang didukung penguasa) kepada masyarakat.First record of author in novel Yogyakarta disclose the aim of the novel making project. It dealt with the representation of Yogyakarta city. This paper reviewed the representation and ideology of Yogyakarta, a novel by Damien Dematra. Representation theory (Barker) and ideology theory (Storey and Barthes) were used and be applied with content analysis method. This review concluded that novel Yogyakarta really presented Yogyakarta as (1) plural and comfortable place, (2) advanced city which preserved traditional values and (3) education city. The representation was performed by ignoring some denotative meanings. The goal of the representation was to establish identity for establishing capitalism ideology for further and legitimate authority. According to Barthes, the sophisticated reading about ideology would never reduce or add the strength of the ideology, Therefore, the ideology of capitalism and power legitimating in novel Yogyakarta was still strong. To optimize language potency (literature) in order to create good communication, this novel was overviewed as a narration to create positive image (representation, connotation) about Yogyakarta from author (in support by the ruler) to society.
EKRANISASI NOVEL KE FILM SURGA YANG TAK DIRINDUKAN 2 DENGAN KAJIAN INTERTEKS Siti Fadilla; Sulaiman Juned; Nursyirwan Nursyirwan
Widyaparwa Vol 46, No 2 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.637 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i2.172

Abstract

This research to describe and discuss the changes and processes intertext fundamental ekranisasi of the novel to film Surga Yang Tak Dirindukan 2. The adaptation of the novel to the film raises some significant changes. The results of the author's interpretation of the novel with Director resulted in a difference in the way the different point of view. The process of ekranisasi the novel to film Surga Yang Tak Dirindukan 2 seen aspect of penciutan, additions, and changes. With plots, characters, and the setting in the novel to the film. The method of this research is qualitative deskriprif. The research in the form of the novel and film Surga Yang Tak Dirindukan 2. The results of this study indicate that the change of character, plot, and background covering shrinkage, addition and change varies. The process of change is the result of the novel accranation to the movie Surga Yang Tak Dirindukan 2.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan membahas perubahan interteks yang mendasar dari novel ke film Surga Yang Tak Dirindukan 2. Adaptasi  novel ke film menimbulkan beberapa perubahan yang signifikan. Hasil interpretasi penulis novel dengan sutradara mengakibatkan perbedaan cara pandang yang berbeda. Proses ekranisasi novel ke film Surga Yang Tak Dirindukan 2 dilihat dari aspek penciutan, penambahan, serta perubahan bervariasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menganalisis melalui studi kepustakaan. Data Penelitian ini berupa novel dan film Surga Yang Tak Dirindukan 2. Teknik analisis data dilakukan dengan mengindentifikasi dan menemukan data yang meliputi unsur intrinsik pada novel dan film. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa adanya perubahan tokoh, alur, dan latar yang meliputi penciutan, penambahan serta perubahan bervariasi. Proses perubahan tersebut akibat dari ekranisasi novel ke film Surga Yang Tak Dirindukan 2.
PEMBENTUKAN VERBA POTENSIAL DALAM KATIMAT BAHASA INDONESIA DAN BAHASA JEPANG (SUATU KAJIAN MORFOLOGIS) Ira Natasha Naomi Purba; Yuyu Yohana Risagarniwa; Puspa Mirani Kadir
Widyaparwa Vol 41, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2399.386 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i2.73

Abstract

Peningkatan minat pembelajar bahasa dari Indonesia terhadap bahasa Jepang berdampak pada semakin banyaknya penelitian yang dilakukan untuk memudahkan pemahaman tata bahasa Jepang dengan baik dan benar. Salah satu tema yang menarik untuk diteliti adalah ungkapan potensial atau dalam bahasa jepang disebut kanou hyougen. Ungkapan potensial ini merupakan bentuk kebahasaan yang menunjukkan makna kesanggupan atau potensi, biasanya ditunjukkan melalui verba potensial yang dibentuk baik secara morfologis maupun sintaktis. Penelitian ini akan membahas tentang pembentukan verba potensial secara morfologis pada bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Kajian untuk mencari persamaan dan perbedaannya. Hal ini dilakukan agar pembelajar bahasa Jepang di Indonesia semakin mudah memahami tata bahasa Jepang khususnya yang menyangkut tema kanou hyougen. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan struktural kontrastif. Dari penelitian ini diperoleh simpulan bahwa pembentukan verba potensial secara morfologis dalam bahasa Indonesia melibatkan proses afiksasi, sedangkan dalambahasa ]epang melibatkan proses konjugasi yangmengubah makna verba dasar menjadi verba turunan yang bermakna potensial. The increasing interest on Japanese language among learners in Indonesia brings impact on the increasing of Japanese language studies to facilitate the understanding of proper Japanese grammar. One of the interesting themes to study is the potential expression or in Japanese it is called as Kanou Hyougen. This potential expression is one form of language which shows ability or potential meaning, and it is commonly indicated by potential verb which is formed both morphologically and syntactically. This research will explore the morphologically forming of potential verbs in lndonesian and Japanese language then seek for their differences and similarities. This is done in order to ease the understanding of Japanese grammar especially in Kanou Hyougen theme. This study is carried out by using qualitative descriptive method and structural and constrastive theory. Conclusions obtained from this research show that the morphologically formation of potential verbs in lndonesian involves affixation process whereas in Japanese involves conjugation process that changes the meaning of the basic verb into a derivation verb which contains potential meaning.
VITALITAS BAHASA, DIGLOSIA, DAN KETIRISANNYA: PEMERTAHANAN BAHASA MANDURO DI DESA MANDURO, KECAMATAN KABUH, KABUPATEN JOMBANG, JAWA TIMUR Eti Setiawati; Dany Ardhian; Wahyu Widodo; NFN Warsiman
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.214 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.293

Abstract

A minority language will be very difficult to survive if the language is surrounded by a majority language, moreover, this region is very dependent on the surrounding area, both in terms of economy, government, education, and health. However, some regions can survive and are not affected by the surrounding languages. This study seeks to describe the language vitality, diglossia, and language leakage.The study sites were taken in four hamlets (Dander, Goa, Matokan, and Gesing) Manduro Village, Kabuh, Jombang, East Java. Manduro village was chosen because its inhabitants speak Madurese, but are surrounded by Javanese residents and are separated from their mother tongue (Madurese). Data sources were taken from one hundred respondents in four groups (children, teenagers, adults, and old).Data collection uses source triangulation techniques: observation (note-taking), questionnaire (adapted from Bahasa Kita Atmajaya questioner), and in-depth interviews. The results of the study showed that language vitality index was 0.69; category IV; stable, but potentially threatened. Diglossia is in family domain, kinship, neighbors, and friendship. The language leakage occured of friendship domain.Suatu bahasa minoritas akan sangat sulit bertahan jika bahasa itu dikepung oleh bahasa mayoritas, apalagi wilayah ini sangat bergantung pada wilayah sekitarnya, baik dari sisi ekonomi, pemerintahan, pendidikan, dan kesehatan. Akan tetapi, beberapa daerah seperti itu justru mampu bertahan dan tidak terpengaruh dengan bahasa-bahasa di sekitarnya.Kajian ini berusaha mendeskripsikan vitalitas bahasa, diglosia, dan ketirisan bahasa (language leakage).Lokasi penelitian diambil di empat dusun (Dander, Goa, Matokan, dan Gesing) Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Desa Manduro dipilih karena  penduduknya berbahasa Madura, tetapi dikelilingi oleh penduduk berbahasa Jawa serta terpisah dengan bahasa induknya (bahasa Madura). Sumber data diambil dari seratus responden dalam empat kelompok (anak, remaja, dewasa, dan manula). Pengumpulan data menggunakan teknik triangulasi sumber: pengamatan (simak-catat), angket (diadopsi dari questioner Bahasa Sehar-hari Universitas Katolik Indonesia Atmajaya, dan wawancara mendalam. Hasil kajian memperlihatkan indeks vitalitas bahasa adalah 0,69, kategori IV, dengan situasi bahasa stabil-mantap, tetapi berpotensi terancam. Diglosia terdapat pada ranah keluarga, kerabat, pertetanggaan, dan pertemanan. Ketirisan diglosia terjadi pada ranah pertemanan.  
KOSAKATA BUDAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN ADAT PERKAWINAN MELAYU BANGKA DI KOTA PANGKALPINANG (CULTURAL VOCABULARY ASSOCIATED WITH BANGKA MALAY MARRIAGE TRADITION IN PANGKALPINANG) Rahmat Muhidin
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2785.243 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.107

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kosakata budaya yang berhubungan dengan adat perkawinan Melayu Bangka di Kota Pangkalpinang. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan tokoh masyarakat Melayu di Kota Pangkalpinang. Kosakata yang diperoleh di lapangan dianalisis secara ensiklopedis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kosakata berkaitan adat pernikahan merupakan register pernikahan, beberapa kosakata dapat memperkaya kosakata bahasa Indonesia, dan kosakata ini memiliki makna melekat yang kaya akan nilai budaya.This research is aimed to describe cultural vocabularies related to marriage custom of Bangka Malay in Pangkalpinang Regency. Data were collected through interview to Malay society figures in Pangkalpinang Regency. The vocabularies were analyzed in an encyclopedic way. The result of this research shows that some vocabularies relate to marriage custom as register of marriage, some vocabularies can enrich lndonesian vocabularies, and these vocabularies have attached meaning which is rich of cultural value.
PERILAKU SATUAN LINGUAL -(N)ING DALAM BAHASA JAWA (LINGUAL UNIT BEHAVIOR -(N)ING IN JAVANESE LANGUANGE) Sri Nardiati
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.2 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.130

Abstract

Penelitian ini berjudul Perilaku Satuan Lingual (n)ing dalam Bahasa Jawa. Teori yang digunakan dalam kajian ini ialah kategori kata dan analisis konstituen. Pengumpulan data menggunakan metode simak. Analisis menggunakan metode agih dengan teknik bagi unsur langsung. Data yang terkumpul menunjukkan bahwa kehadiran satuan lingual (n)ing berfungsi sebagai penentu bagi unsur yang berposisi di sebelah kanannya. Satuan lingual tersebut dapat bervalensi dengan prakategorial, kata tugas, adjektiva, verba, dan nomina. Kehadiran (n)ing frekuentatif dalam bentuk frasa, antara lain frasa adjektival, frasa nominal, frasa verbal, dan frasa preposisional. Selain itu, satuan -(n)ing dapat hadir dalam bentuk kalimat meski dengan frekuensi yang sangat rendah. Satuan lingual tersebut dapat bervariasi dengan -e/ne dalam tingkat ngoko dan ipun/-nipun dalam tingkat kromo. Satuan lingual tersebut menandai hubungan makna pemilikan, pelaku, partitif, dan tujuan. The title of this study is Lingual Unit Behavior -(N)ing in Javanese Language". The theory is word category and constituent analysis. The data collection is recording. The analysis method is distributable method with direct element division technique. The collected data shows that the existence of lingual unit form -(n)ing functions as a determinant for elements positioned on the right. The (n)ing lingual unit form can be valence with pre-categorical, preposition, adjective, verb, and noun. Frequentative presence of (n)ing form in phrases, such as adjectival phrase, noun phrase, verbal phrase and prepositional phrase. In addition, -(n)ing lingual unit can be present in the form of a sentence even in the lowest frequency. The lingual unit form can be vary with -e/-ne in ngoko level and -ipun/-nipunin kromo level. This lingual unit marks semantic relations comprising possessive, agentive, portative, and goal.
PEMBERIAN ADOK MASYARAKAT KOMERING DI OKU TIMUR (KAJIAN TRADISI LISAN) Ratu Wardarita; Achmad Wahidy; Yessi Fitriani
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.308 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.921

Abstract

This study describes meaning, function, cultural, religious and social values in the giving of adok in Komering community in East Ogan Komering Ulu (OKU) Regency, South Sumatra which is considered as a real manifestation of local wisdom. This study uses a qualitative descriptive method in which data collection techniques of observation, interviews, recording, note taking, and translation are integrated. The results of the study describe that giving adok contains elements of pisaan, adok, and warahan which has the meaning of prayer, hopes and ideals of greatness and glory must be carried out by the Adok holder. In addition, the elements of Pisaan, Adok and Warahan in giving Adok can also be utilized as controls in behaving in social status, and also as moral value and transmitter from the ancestors to their generators in order to be maintained and preserved. Cultural values in the adok tradition include cultural values in human relations with God in the form of faith and obedience to the Creator; cultural values in human relations with other humans such as: kind, not forgetting parents; cultural values in human relations with oneself, such as: be patient and always grateful, and not sitting idle; Cultural values in human relations with nature are like betel leaf and thick leaves for medicine. Religious and social values in the adok process describe the behavior of human life which must reflect deep holistic and aesthetics and be implemented in every aspect of life of the Adok holder.Penelitian ini mendeskripsikan makna, fungsi, nilai budaya, nilai agama dan nilai sosial adok pada masyarakat Komering di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan sebagai wujud nyata kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, perekaman, pencatatan, dan penerjemahan. Hasil penelitian mendeskripsikan bahwa pemberian adok mengandung unsur pisaan, adok, dan warahan yang memiliki makna doa, harapan, cita-cita, kebesaran, dan kemuliaan yang harus dilaksanakan oleh pemegang adok (gelar). Selain itu, unsur pisaan, adok dan warahan dalam pemberian adok berfungsi juga sebagai kontrol dalam bertindak dan penanda kedudukan sosial dalam masyarakat serta penyampai pesan moral para leluhur kepada penerusnya agar dapat terus dijaga dan dilestarikan. Nilai budaya pada tradisi adok meliputi nilai budaya dalam hubungan manusia dengan Tuhan berupa keimanan dan ketaatan kepada sang Pencipta; nilai budaya dalam hubungan manusia dengan manusia lain, misalnya baik hati, tidak melupakan orang tua; nilai budaya dalam hubungan manusia dengan diri sendiri, misalnya sabar, selalu syukur, serta tidak berpangku tangan; nilai budaya dalam hubungan manusia dengan alam, misalnya daun sirih dan daun lebat untuk obat. Nilai agama dan nilai sosial dalam proses adok mendeksripsikan perilaku kehidupan manusia yang harus mencerminkan etika dan estika secara mendalam dan dapat diimplementasikan dalam setiap sendi kehidupan pemegang adok.
POTRET BAHASA KORAN-KORAN LOKAL DI YOGYAKARTA: ARAH TRANSFORMASI YANG DITAWARKAN, DAN IMPLIKASINYA P Ari Subagyo
Widyaparwa Vol 39, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1449.87 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i1.26

Abstract

Di Yogyakarta ada delapan koran lokal, yaitu Kedaulatan Rakyat, Bernas Jogja, Harian Jogja, Radar Jogja, Meteor Jogja, Kompas Yogyakarta, Koran Merapi, dan Express Jogja. Bahasa dalam delapan koran lokal itu (tengah) bertransformasi (berubah) menuju pada sosok bahasa berdaya ungkap nasional (Indonesia), sedangkan daya ungkap lokal digeser oleh daya ungkap global. Jadi, bahasa Indonesia dan bahasa asing (khususnya bahasa Inggris) semakin banyak digunakan, tetapi bahasa Jawa justru semakin ditinggalkan. Arah transformasi itu perlu disadari, dikritisi, dan diluruskan sebab koran-koran lokal seyogianya secara sadar mengambil peran dalam pelestarian dan pengembangan budaya lokal. Peran itu dapat dilakukan dengan menggunakan (kembali) unsur-unsur bahasa Jawa, terutama kata-kata afektif, idiom, dan ungkapan-ungkapan yang memuat kearifan lokal, di samping dengan rubrikasi. Wacana dalam koran-koran lokal di Yogyakarta dapat dijadikan bahan ajar mata pelajaran/kuliah Bahasa Indonesia. Namun, para guru/dosen Bahasa Indonesia harus selektif dan seyogianya memiliki pengetahuan yang cukup tentang ragam jurnalistik serta sejarah dan dinamika penggunaan bahasa dalam persuratkabaran di Indonesia.Yogyakarta produces eight local newspapers, i.e. Kedaulatan Rakyat, Bernas Jogja, Harian Jogja, Radar Jogja, Meteor Jogja, Kompas Yogyakarta, Koran Merapi, and Express Jogja. The language use of those local nawspapers (are now) undergo(-ing) a transfomation (to be changing) into the frame of language with national expressing ability (National Language) on the one hand, and language with local expressing ability which are now being replaced by a language with global expression, on the other hand. Thus, while lndonesian and foreign (particularly English) languages are more intensively used, the local (Javanese) are to be true, more abandoned. This course of transformation, however, is necessary to be aware to, to criticize, and to correct in the consideration that the local newspapers should consciously have participated in the preservation and development of local cultures. These roles can be achieved by (re-)using the elements of Javanese language, especially those affective words, idioms, and any other kinds of expressions of local genius contents, along with any rubricating effort. The discourse of the local newspapers in Yogyakarta can be implemented for Indonesian language program as the school curriculum. Even more, the lecturers/teachers ought to be selective and had better been knowledgeable in journalism and the history and dynamics of language usages in the world of lndonesian newspapers.
Strategi dan Fungsi Tindak Tutur Direktif dalam Poster Pendidikan Nanik Sumarsih
Widyaparwa Vol 46, No 1 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.195 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i1.163

Abstract

This study discusses a directive speech act in educational posters. The purpose of this study is to know strategy and function of the directive speech act in educational poster. The data in this study are words, terms, phrases, sentences, and discourses containing directive speech act. The source of data is taken from educational posters found on educational websites. Data collection in this study uses a scrutiny method refer to technique of record. Data analysis uses pair method. The result shows that based on speech mode, the directive speech strategy used includes direct and indirect strategies. Six functions of speech act are found in education posters, namely (1) prohibiting function, (2) inviting function, (3) command function, (4) counseling function, (5) satire / criticizing function, and (6) ) request/appeal function. Kajian ini membahas tindak tutur direktif dalam poster pendidikan. Kajian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui strategi dan fungsi tindak tutur direktif dalam poster pendidi- kan. Data dalam penelitian ini berupa data yang berwujud kata, istilah, ungkapan, kalimat, wacana yang mengandung tindak tutur direktif. Adapun sumber data diambil dari poster pendidikan yang ditemukan dalam situs-situs pendidikan. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak dengan teknik catat. Analisis data menggunakan metode padan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasar modus tuturannya, strategi tindak tutur direktif yang digunakan meliputi strategi langsung dan strategi tidak langsung. Ditemukan enam fungsi tindak tutur direktif yang terdapat dalam poster pendidikan, yaitu (1) fungsi melarang, (2)  fungsi mengajak, (3) fungsi menyuruh/memerintah, (4) fungsi menasihati, (5) fungsi menyindir/mengkritik, dan (6) fungsi meminta/mengimbau.
KAIIAN INTERTEKSTUAL TIGA PUISI TENTANG NABI IUTH BERSAMA KAUM SODOM DAN GOMORA Puji Santosa; Djamari Djamari
Widyaparwa Vol 41, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4208.317 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i1.63

Abstract

Penelitian ini mengkaji secara intertekstual tiga puisi modern Indonesia yang berisi kisah tentang Nabi Luth bersama Kaum Sodom dan Gomora, yaitu puisi "Sodom dan Gomora" Subagio Sastrowardojo, "Balada Nabi Luth AS" Taufiq Ismail, dan "Apakah Kristus Pernah?" Darmanto Jatman. Berdasarkan prinsip intertekstual, ketiga puisi modern Indonesia tersebut dikaji dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan teks hasil transformasi dengan teks lain yang diacunya, yakni kisah Nabi Luth bersama Kaum Sodom dan Gomora yang termuat dalam Alkitab: Kitab Kejadian dan Alquran. Hasil kajian membuktikan bahwa ketiga teks puisi modern Indonesia itu merupakan mosaik, kutipan-kutipan, penyerapan dan transformasi teks-teks kisah Nabi Luth bersama Kaum Sodom dan Gomora yang terdapat dalam Alkitab, Alquran, Cerita-cerita Alkitab Perjanjian Lama, dan Qishashul Anbiya. Dengan metode membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan diperoleh makna bahwa ketiga penyair sastra modern Indonesia tersebut secara kreatif estetis mentransformasikan kisah Nabi Luth bersama Kaum Sodom dan Gomora ke dalam puisi mereka yang benilai sebagai teladan kesabaran, ketabahan, ketawakalan, dan kerelaan ketika menghadapi berbagai cobaan hidup yang dideritanya, termasuk masalah penyimpangan seksual kaum Sodom dan Gomora sehinggi mendapatkan azab dari Tuhan: hujan belerang dan api serta bumi dijungkir-balikan. This study examines the intertextual three modern Indanesian poetry which contains the story of Prophet Luth with The Sodom and Gommorah the poem "Sodom and Gommorah" Subagio Sastro Wardojo, "Ballad of Prophet Luth AS" Taufiq Ismail, and "Did Christ Ever?" Darmanto Jatman. Based on the principle of intertextual, three modern lndonesian poetry is studied by comparing, aligning, and contrast the results of the transformation of the text with other texts to which it refers, namely the story of Prophet Luth with the Sodom and Gommorah is contained in the Bible: the Book of Genesis and the Quran. Result of the study prove that the three texts of modern lndonesian poetry was a mosaic, quotations, absorption, and transformation of texts with the story of Prophet Luth's tribe contained Sodom and Gommorah in the Bible, the Quran, the Bible stories of the Old Testament, and Qishalul Anbiya. .With the method of comparing, aligning, and contrast is obtained meaaning that three poets of modern Indonesian literature is aesthetically creatively transform the story of Prophet Luth with The Sodom and Goommorah into their poetry as a valuable example of patience, fortitude, resignation, and compliance when faced with various trials of life he sufferer, including the issue of sexual deviance Sodom and Gomorrah so get Wrath of the Lord rained brimstone and fire and earth turned upside-reversal.