cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
PERUBAHAN FONEM DALAM DIALEK MELAYU AMBON (THE PHONEME CHANGING IN MALAY AMBON DIALECT) Suharyanto Suharyanto
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2375.309 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.102

Abstract

Variasi bentuk dalam suatu bahasa timbul karena perubahan bunyi yang terjadi dalam bahasa yang bersangkutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan-perubahan internal yang telah dialami oleh dialek Melayu Ambon selama periode perjalanannya, khususnya perubahan internal yang terjadi pada aspek fonologi. Analisis data penelitian ini menggunakan teori dialektologi diakronis dengan metode kualitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa selama periode perjalanannya dialek Melayu Ambon telah mengalami beberapa perubahan fonem. Perubahan tersebut secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu korespondensi dan variasi. Perubahan yang berwujud korespondensi meliputi penggantian: PM*b/- VK# w, PM*k/#-V, PM*m/(K)V-#, PM*n/(K)V-#, PM*?/ -K#, PM* ? /#(K)-(K), PM*u/-(K)#, PM*u/#(K)-(K)o,PM*ay/-#, pelesapan: MP*h/#-V, MP*h/-vK#, MP*h/(K)V# , MP*k/(K)V, MP*?/KV,MP*t/KV-#, merger: MP*h,*k,*?,*t /KV-# , MP*m,*n/ (K)V-# ?, MP * ?,*a/ - (K)# a, MP * ?,*a/ - (K)# a, dan split MP *u/ - (K)# dan o. Perubahan yang berwujud variasi meliputi sinkope, apokope, epentesis, paragoge, asimilasi, desimilasi, metatesis, dan subtitusi.The form variation one language happens because of the sound changing in the language. This research is aimed to know the internal changing in Ambon Malay dialect on phonologic aspect during its existence. This paper uses diachronic dialectology theory in analyzing data and applying qualitative method. From the analysis, it is known that during the Ambon Malay existence there are some phonemes changing. The changing are classified into two categories: correspondence and variation change. The correspondence change includes substitution: PM*b/- VK# w, PM*k/#-V, PM*m/(K)V-#, PM*n/(K)V-#, PM*?/ -K#, PM* ? /#(K)-(K), PM*u/-(K)#, PM*u/#(K)-(K)o, PM*ay/-#, deletions: MP*h/#-V, MP*h/-VK#, MP*h/(K)V# , MP*k/(K)V, MP*?/KV,MP*t/KV-#, mergers: MP*h,*k,*?,*t /KV-# , MP*m,*n/ (K)V-# ?, MP * ?,*a/ - (K)# a, MP * ?,*a/ - (K)# a, and split MP *u/ - (K)# and o. The variation change includes syncope, apocope, epenthesis, paragoge, assimilation, dissimilation, metathesis, and substitution.
NAMA MAKANAN OLAHAN BUAH PISANG: STUDI ETNOSEMANTIS Dian Mahendra; Fatimah Azzahra; Eka Nur Ummu Khasanah
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.712 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.853

Abstract

The study aims to identify the cultural aspects inside the names of banana processed foods through an ethnosemantic approach. The discussed research includes the forms of linguistic units used as the names, the basis for naming, the modernization of traditional food names, and the classification of folk foods. Presented data were obtained through the observation method and the literature studies. The data were analyzed in a qualitative and quantitative methodology. Qualitatively, the data were analyzed by distributional method with immediate constituent technique. The quantitative analysis method was used to figure out the percentage of the use of the essential food naming in the names of bananas processed foods, the number of the traditional name food development becoming modern food, and the number of food name filling in the categories of the folk food system classification. The results showed two forms of food names, namely words and phrases. The basis for naming food is divided into eleven categories, such as the naming based on the basic ingredients, the types of essential elements, the shapes, the processing methods, the additional ingredients, the characters, the brand, the size, the taste, the manufacturer's name, and the place name. The terms of these foods have been modernization, and some are not. The names of the traditional foods such as “nagasari”, “pisang rebus”, and “tape pisang” have not undergone modernization. Meanwhile, traditional foods are undergoing modernization, such as “pisang goreng” has been developing into 24 variants, “pisang bakar” into three variants, “bongko pisang” into three variants, “kolak pisang” into three variants, “sale pisang” into four variants, “ledre pisang” into five variants, “rambak pisang” into three variants, and “keripik pisang” into six variants. In addition, the name of banana processed food is also found in a new modified form. Regarding the classification of folk food, the names of the banana processed foods are classified into five categories: the unique beginner (the type of the food), the food form (the form of the food), the generic, the specific, and the specific the varietal.Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek budaya di balik nama-nama makanan olahan buah pisang melalui pendekatan etnosemantis. Masalah yang dibahas meliputi bentuk-bentuk satuan kebahasaan yang digunakan sebagai nama, dasar penamaan, modernisasi nama makanan tradisional, dan klasifikasi folk makanan. Data yang disajikan diperoleh melalui metode observasi dan studi pustaka. Data tersebut kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif, data dianalisis dengan metode agih teknik bagi unsur langsung. Adapun analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui persentase penggunaan dasar penamaan makanan dalam nama-nama makanan olahan pisang, jumlah perkembangan nama makanan tradisional yang menjadi makanan modern, dan jumlah nama makanan yang mengisi kategori-kategori dalam sistem klasifikasi folk makanan tersebut. Hasil analisis menunjukkan dua bentuk nama makanan olahan pisang, yakni kata dan frasa. Dasar penamaannya dibedakan menjadi sebelas, yakni penamaan berdasarkan bahan pokok, jenis bahan pokok, bentuk, cara pengolahan, bahan tambahan, sifat, merek, ukuran, rasa, nama pembuat, dan nama tempat. Nama-nama makanan tersebut ada yang mengalami modernisasi dan ada yang tidak.  Nama makanan tradisional nagasari, pisang rebus, dan tape pisang tidak mengalami modernisasi. Sementara itu, makanan tradisional pisang goreng berkembang menjadi 24 varian, pisang bakar menjadi tiga varian, bongko pisang menjadi tiga varian, kolak pisang menjadi tiga varian, sale pisang menjadi empat varian, ledre pisang menjadi lima varian, rambak pisang menjadi tiga varian, dan keripik pisang menjadi enam varian. Selain itu, nama makanan olahan pisang juga ditemukan dalam bentuk modifikasi baru. Mengenai klasifikasi folk makanan, nama makanan olahan pisang dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu unique beginner (jenis makanan), food form (bentuk makanan), generik, spesifik, dan varietal.
REPRESENTASI KEKUASAAN DALAM IMBAUAN DI RUANG PUBLIK (POWER REPRESENTATION IN PUBLIC SPACE APPEAL) Sri Wahyuni
Widyaparwa Vol 44, No 1 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.823 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i1.125

Abstract

Imbauan di ruang publik merupakan suatu ajakan, imbauan, dan peringatan pada ma-syarakat untuk melaksanakan apa yang dikehendaki oleh pembuat imbauan (pengua-sa). Dengan demikian, bahasa merupakan unsur penting dalam penerapan kekuasaan. Penelitian ini mengkaji representasi kekuasaan pada imbauan di ruang publik dengan berdasarkan empat aspek kekuasaan, yaitu pandangan dominatif individu atau ke-lompok terhadap individu atau kelompok yang lain, jarak sosial, praktik dominasi, dan praktik membangun kekuasaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya representasi kekuasaan pada imbauan di ruang publik. Appeal in public space is a request, direction, and warning to public to carry out what is required by the makers of the appeal (the ruling). Thus, language is an important element in the exercise of power. This study examines the power representation on the public space appeal based on four of power aspects, namely individual or group dominative perspective to other individual or group, social distance, the practice of domination, and the practice of building power. The method used in this study is a qualitative descriptive method. The research result showed that there was a tendency of power representation.
ANALISIS REPETISI DAN METAFORA MANTRA DALAM PERGELARAN RITUAL SIRAMAN SEDUDO (KAJIAN ETNOPUITIKA) Linda Yusfita Dewi
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.365 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.528

Abstract

This study aims to describe the form of repetition and metaphors of Siraman Sedudo ritual mantra and the connection with Javanese cultural imagery. Provision of data is done through interviews, as well as observations during the Siraman Sedudo procession. In an effort to expose repetition and metaphors, this study uses repetition analysis of Jakobson's poetic approach and metaphorical analysis of Ullmann's Semantic view. The findings of this study are (1) the repetition that occurs in three layers of language namely grammatical repetition with PSP, SP, ØPO, ØPK, ØKP, SPO patterns; lexical repetition with NV, FvN, FnAdjN, FnVN patterns; and semantic repetitions in the same lexical field, namely singgah and singkir verbs. (2) four metaphorical findings namelydirect and indirect forms (categorized as anthropomorphic and animal metaphor types) that reflects (a) people's trust belief in the occult, and (b) the use of language symbols as a mean of conveying meaning.Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan bentuk repetisi dan metafora mantra ritual Siraman Sedudo, serta keterhubungannya dengan citra budaya masyarakat Jawa. Penyediaan data dilakukan melalui wawancara, serta observasi saat prosesi Siraman Sedudo. Dalam upaya mendedahkan bentuk repetisi dan metafora mantra, penelitian ini menggunakan analisis repetisi yang merujuk pada ancangan puitika Jakobson dan analisis metafora yang merujuk pada metafora dalam pandangan Semantik Ullmann. Hasil temuan penelitian ini adalah (1) bentuk repetisi yang terjadi pada tiga lapis kebahasaan yakni repetisi gramatikal dengan pola PSP, SP, ØPO, ØPK, ØKP, SPO; repetisi leksikal dengan pola NV, FvN, FnAdjN, FnVN; serta repetisi semantik pada medan leksikal yang sama, yakni verba singgah dan singkir. (2) empat temuan metafora yang merujuk pada bentuk langsung dan tidak langsung (terkategori jenis metafora antropomorfis dan binatang) yang mencerminkan (a) kepercayaan masyarakat terhadap ihwal gaib, serta (b) penggunaan simbol bahasa sebagai sarana penyampaian makna.
TEKS BASIYO PAK DENGKEK: SEBUAH GAMBARAN KELUARGA JAWA DI DALAM DAGELAN MATARAM Dhanu Priyo Probowo
Widyaparwa Vol 38, No 2 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1086.258 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i2.21

Abstract

Teks Basiyo Pak Dengkek berisi ajaran-ajaran yang bernilai kejawaan, khususnya tentang keluarga Jawa. Keluarga Jawa mengajarkan tentang kerukunan dan kehalusan. Sebagai teks, pesan itu dikemas dalam suasana lucu dan dengan latar kehidupan sehari-hari. Di samping itu, teks Basiyo Pak Dengkek menjadi sebuah sapaan halus kepada orang Jawa untuk menyadari kekurangan, kesombongan, dan kerakusannya yang sangat akrab dengan kehidupan manusia.Basiyo Pak Dengkek text consisted of Javanese value teaching, particularly of Javanese family teaching. The Javanese family taught harmonious and soft. As text, those message were compiled in funny situation with daily life background. Besides that, Basiyo Pak Dengkek text became a soft greeting io Javanese people to realize their weakness, arrogant and greedy that attached to human life.
MENERJEMAHKAN KALIMAT BERSUBJEK IT IMPERSONAL: KASUS INGGRIS - INDONESIA Tamam Ruji Harahap
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3692.115 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.58

Abstract

Penelitian kecil ini merupakan kajian penerjemahan. Penelitian memiliki tiga tujuan; yatu (a) memaparkan fakta-fakta praktik penerjemahan kalimat-kalimat bahasa Inggris bersubjek it impersonal ke dalam bahasa Indonesia dengan cara membandingkan dua teks terjemahan, (b) menguraikan kesenjangan antara teori dan praktik dalam penerjemahan teks bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, dan (c) menawarkan rumusan prosedur penerjemahan demi hasil terjemahan yang baik, terutama berkaitan dengan tata cara menerjemahkan kalimat-kalimat bahasa Inggris bersubjek itimpersonal ke dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini ialah penelitian kualitatif yang menggunakan metode perbandingan tekstual. Data penelitian bersumber dari dua buku dengan teks berpasangan, masing-masing dengan teks orisinal dan teks terjemahannya (LP dan LSP). Analisis memperlihatkan bahwa sebagian terjemahan (LP) masih tergolong sebagai terjemahan yang tidak bailg terutama karena gagal memahami jurang perbedaan struktur antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Sementara itu, sebagian terjemahan lain (LSP) tampaknya sudah menggunakan teknik transposisi, modulasi, dan ekuivalensi sehingga menghasilkan terjemahan yang baik. Selain itu, penelitian ini menyadarkan bahwa demi terjemahan yang baik, terutama dalam kasus kalimat-kalimat bersubjek itimpersonal, kegiatan penerjemahan mensyaratkan pengetahuan yang kuat atas bahasa sumber dan bahasa sasaran, yang mencakup aspek-aspek linguistik dan konteks dari teks yang diterjemahkan. This small research is a translation study. This aims at three purposes; i.e. (a) to give facts about the practice of translation of English sentence whose subject is impersonal it, into Indonesian language by means of comparing two related texts, (b) to figure out the gap between the theory and the practice of English-Indonesian translation, and (c) to propose a formulaic procedure of translation in the name of a good translation, specifically in relation with how to translate English sentence whose subject is impersonal it into Indonesian This is a qualitative research which is based on textual comparison. The data derives from two paired books, each of which are both the original and the translated versions (LP and LSP). The analysis shows that part of the translated texts falls within a not-good translation, mainly due to its failure to perceive the structural gap between English and lndonesian. Meanwhile, the other translation (LSP) process to be a good translation in that it seems to have applied the techniques of translation, such transposition, modulation, and equivalence. Finally, this research proposes that, to be a good translation, the activity of translation requires a skillful knowledge of the source and target languages, involving both linguistic and contextual aspects of the translated texts.
WACANA ANTIKORUPSI DALAM PUISI INDONESIA MODERN KAJIAN SOSIOPRAGMATIK Novi Siti Kussuji Indrastuti
Widyaparwa Vol 47, No 1 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.689 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i1.314

Abstract

This study aims to bring out the corruption problems described in the poem, express messages to the readers contained in the description of the corruption problem, and reveal how the message was conveyed to the reader through poetry. In this study qualitative methods and literature were used with the socio-pragmatic approach. Data is taken from sources that have been published in print or online. Poetry used as data is corruption-themed poetry. Poetry is reviewed by analyzing the representation of social realities related to the problem of corruption in Indonesia, then analyzing the message and how to convey it to the reader. The results of this study indicate that the problem of corrupt corruptors through satire-sarcasm style is intended as persuasion to readers to reject corruption, the issue of mild legal sanctions for Indonesian corruptors compared to other countries is used to raise readers' awareness to think critically, the problem of bribery through allegory aims to strengthen awareness of corruption, and the problem of the impact of corruption in an ironic style of humor that is intended as a means of awareness to fight corruption. Kajian ini bertujuan mengemukakan masalah korupsi yang digambarkan dalam puisi, mengungkapkan pesan kepada pembaca yang terkandung dalam penggambaran masalah korupsi tersebut, dan mengungkapkan cara pesan tersebut disampaikan kepada pembaca melalui puisi. Dalam kajian ini digunakan metode kualitatif dan kepustakaan dengan pendekatan sosiopragmatik. Data diambil dari sumber yang telah dipublikasikan secara cetak maupun daring. Puisi yang dijadikan data adalah puisi bertema korupsi. Puisi dikaji dengan menganalisis representasi realitas sosial yang terkait dengan masalah korupsi di Indonesia, selanjutnya menganalisis pesan dan cara penyampaiannya kepada pembaca. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa masalah keburukan para koruptor melalui gaya satire-sarkas ditujukan sebagai persuasi kepada pembaca untuk menolak korupsi, masalah sanksi hukum yang ringan bagi koruptor Indonesia jika dibandingkan negara lain digunakan untuk membangkitkan kesadaran pembaca agar berpikir kritis, masalah maraknya budaya suap lewat alegori bertujuan menguatkan kewaspadaan terhadap korupsi, dan masalah dampak korupsi dengan gaya humor yang ironis dimaksudkan sebagai sarana penyadaran untuk memerangi korupsi.
MITOS AIR "NYAI ANDAN SARI DAN KYAI GURU SOKA" (CERITA RAKYAT KABUPATEN GUNUNGKIDUL) Dhanu Priyo Probowo
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3527.999 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.93

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan mitos "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka". Mitos itu berasal dari Kabupaten Gungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Mitos itu mengandung makna simbol proyeksi pikiran manusia tentang air. Di dalam mitos ini ditemukan bahwa di Gunungkidul terdapat 31 sendang (mata air). Simbol air di dalam mitos memiliki makna yang tersembunyi di tengah kebudayaan masyarakat pendukungnya. Air menjadi simbol manusia (Dawung, Playen, Gunungkidul) untuk memperbaiki keadaan hidupnya supaya lepas dari himpitan kemiskinan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah strukturalisme Levi-Strauss. Teori ini didasarkan atas asumsi-asumsi bahwa mitos "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru_Soka" mengandung makna tertentu dan sebagai fenomena bermakna. Mitos "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka" baru dapat dipahami makna dan pesannya jika di dalamnya diketahui struktur dan makna berbagai elemennya. Sesuai dengan teori yang dipakai, penetitian ini mempergunakan metode struktur. This study aims to reveal the myth of "Nyai Andan Sari and Kyai Guru Soka". The myth is from Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. In this mythical it is stated that in Gunungkidul there are 31. The myth implies projection symbol meaning of the human mind on the water springs. Water symbol in the mythical symbol has hidden meaning in cultural community of supporters. The theory used in this research is Levi-Strausss structuralism. This water has become a symbol o of human (Dawung, Playen, Gunung) to improve the state of his life in order to escape the crush of poverty. The theory is based on the assumption that the myth "Andan Nyai Sari and Kyai Guru Soka" contain certain meaning, and as a meaningful phenomenon. The meaning and the messange, Andan Nyai Sari and Kyai Guru Soka" myth can only be understood if the structure and meaning of the various elements are known. In accordance with the theory in this research, this study uses structure method.
PERILAKU WANITA TERHADAP KEKERASAN DALAM NOVEL ALUN SAMUDRA RASA KAJIAN FEMINIS PSIKOANALISIS JULIET MITCHELL Tya Resta Fitriana
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.549 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.370

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perilaku wanita terhadap kekerasan di dalam novel Alun Samudra Rasa menggunakan kajian feminis psikoanalisis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode ini digunakan untuk memaparkan fakta-fakta yang ditemukan selanjutnya fakta tersebut dianalisis dengan menggunakan perspektif feminis psikoanalisis Juliet Mitchell. Penelitian ini menghasilkan dua hal yaitu; 1) wujud perilaku wanita ketika mendapatkan kekerasan dan 2) hal yang menyebabkan wanita memperlihatkan sikap tersebut. Sikap wanita ketika mengalami kekerasan ada lima jenis yaitu pengusiran, perceraian, kekerasan fisik, kekerasan psikologis dan mencintai laki-laki lain selain suaminya. Munculnya perilaku tersebut disebabkan oleh faktor pola pikir yang ada hubungannya dengan faktor ketidaksadaran dan faktor kinship system. Faktor kinship system didalam penelitian, berhubungan dengan pola asuh. Pola asuh yang berbeda akan berpengaruh terhadap perbedaan pola pikir dan perilaku seseorang.
MODEL KESANTUNAN BERBAHASA SISWA TIONGHOA DI SEKOLAH PAH TSUNG JAKARTA: KAJIAN ETNOGRAFI KOMUNIKASI Muhammad Yusuf Saputro; Wini Tarmini; Ade Hikmat
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.517 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.646

Abstract

This research is aimed to know and describe further detail about how the politeness in the language of Chinese students at Pah Tsung School Jakarta, by looking at the forms of politeness used by Chinese students in speaking. The research approach used was a qualitative approach with an ethnographic study of communication methods. The researcher collected research data using literature/documentation methods, records, interviews, direct observation, and FGD with language and language politeness experts. Then, the data were analyzed using the content analysis method equipped with analysis tables. The data of this research are in the form of students’ and teachers’ speeches both written and oral. According to that, it was discovered that ten forms of politenesses of Leech (2014) were implemented, namely generosity maxim of 5.3%, tact maxim of 12.4%, approbation maxim of 6.2%, modesty maxim of 0.9%, obligation S to O maxim of 18.6%, obligation O to S maxim of 8,8%, agreement maxim of 19,5%, opinion reticence maxim of 20,4%, sympathy maxim of 5,3%, and feeling reticence maxim of 2,7%. Based on these results, the forms of Chinese students’ politeness language at Pah Tsung School are dominated by the opinion reticence maxim, the agreement maxim, and the obligation S to O maxim. The lingual forms in speaking also have unique characteristics in each maxim.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan secara mendalam model kesantunan berbahasa siswa Tionghoa di Sekolah Pah Tsung Jakarta dengan melihat wujud-wujud kesantunan berbahasa yang dipergunakan siswa Tionghoa dalam bertutur. Pendekatan penelitian yang digunakan yakni pendekatan kualitatif dengan metode etnografi komunikasi. Peneliti mengumpulkan data penelitian dengan metode pustaka/dokumentasi, rekam, wawancara, observasi langsung, dan FGD dengan pakar bahasa dan kesantunan berbahasa. Pengolahan data menggunakan metode analisis isi yang dilengkapi dengan tabel analisis. Data penelitian ini berupa tuturan siswa dan guru, baik secara lisan maupun tulis. Pada tuturan tersebut, diperoleh hasil sebagai berikut: penerapan wujud dari sepuluh kesantunan Leech (2014), yaitu generosity maxim 5,3%, tact maxim 12,4%, approbation maxim 6,2%, modesty maxim 0,9%, obligation S to O maxim 18,6%, obligation O to S maxim 8,8%, agreement maxim 19,5%, opinion reticence maxim 20,4%, sympathy maxim 5,3%, dan  feeling reticence maxim 2,7%. Berdasarkan hasil tersebut model kesantunan berbahasa siswa Tionghoa di Sekolah Pah Tsung didominasi oleh opinion reticence maxim, agreement maxim, dan obligation S to O maxim. Penanda lingual yang digunakan dalam petuturan pun memiliki karakteristik yang khas pada setiap maksimnya.