cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
RANAH PESAN PADA PAPAN PETUNJUK DI OBJEK WISATA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Wening Handri Purnami
Widyaparwa Vol 46, No 2 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.78 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i2.205

Abstract

This study discusses the use of language on sign boardin tourist object of  DIY.The language on the sign board is interesting to study based on the message domain because it shows peculiarities in language usage. The study aims to describe the form of the message and the realization of speech acts. The method used in this study is a qualitative descriptive method. The approach is socio-pragmatic, namely registers and pragmatics. The results of the study produce three messages, namely (1) form of'prohibition', (2) form of invitation, and (3) form of suggestion. The three forms of the message have unique vocabularies. Realizations of speech acti imply direct messages and indirect messages.Kajian ini membahas penggunaan bahasa pada papan petunjuk di objek wisata DIY. Bahasa pada papan petunjuk menarik untuk dikaji berdasarkan ranah pesan karena memperlihatkan kekhasan dalam pemakaian bahasa. Kajian bertujuan mendeskripsikan bentuk ranah pesan dan wujud tindak tutur.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Pendekatan bersifat sosiopragmatik, yaitu register dan pragmatik. Hasil dari kajian menghasilkantiga pesan, yaitu (1) bentuk ‘melarang’, (2) bentuk ajakan,dan (3) bentuk menyarankan. Ketiga bentuk pesan tersebut memiliki kekhasan kosakata. Wujud tindak tutur menyiratkan pesan langsung dan pesan tidak langsung.
PARAGRAF HORTATORI DALAM BAHASA JAWA: KAJIAN UNSUR-UNSUR PEMBENTUK DAN PENANDANYA Titik lndiyastini
Widyaparwa Vol 41, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3870.919 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i2.78

Abstract

Paragraf hortatori dalam bahasa Jawa merupakan salah satu jenis paragraf yang berisi nasihat. Paragraf ini, dalam wujudnya, merupakan sebuah struktur yang dibentuk oleh unsur-unsur yang berupa kalimat-kalimat, baik kalimat topik yang berisi gagasan pokok, maupun kalimat pengembang yang berupa kalimat penjelas dan kalimat penegas. Susunan unsur itu membentuk struktur yang bervariasi. Untuk menganalisis paragraf itu digunakan teori struktural dengan metode dan teknik menurut Sudaryanto (2004). Pada pembahasan ditemukan struktur paragraf hortatori yang terdiri atas kalimat topik- kalimat penjelas; kalimat topik- kalimat penjelas- kalimat penegasi transisikalimattopik-kalimatpenjelas; transisi-kalimat topik kalimat penjelas- kalimat penegas; kalimat penjelas- kalimat penegas- kalimat topik. Dilihat dari satuan-satuan lingual tertentu yang mengisi kalimat-kalimatnya dapat diketahui berbagai ciri paragraf hortatori. Hortatory paragraph in Javanese is one of paragraph types containing advice. This paragraph, in its manifestation, is a structure formed by sentence element, as well as topic sentence. The element composition makes various structures. To analyze the paragraph structural theory along with method and technique proposed by Sudaryanto (2004) are employed. The data analysis shows that the structure of hortatory paragraph which comprises of: topic sentence-explanation sentence; topic sentence-explanation sentence-confirmation sentence; transition-topic sentence-explanation sentence; transition-topic sentence-explanation sentence confirmation sentence; explanation sentence-confirmation sentence-topic sentence. Viewed from certain lingual units that fill their sentences, features of hortatory paragraph can be found out.
TOPONIMI KECAMATAN DI KABUPATEN JEMBER Wardatul Jannah; Nina Sulistyowati; Arum Jayanti
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.001 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.774

Abstract

This research discusses the linguistic forms, meanings, and socio-cultural aspects of sub-district toponymy in Jember. The study is qualitative research. The data were the subdistrict names in Jember taken from the official website of Jember Regency. The data were classified based on their lingual units. Furthermore, the sub-district names in Jember were analyzed with semantic analysis. The last analysis was the identification of the socio-cultural aspects behind the sub-district names. There are 3 results of sub-district names analysis in Jember: (1) the form of linguistic units of the sub-district names in Jember are monomorphemic words, polymorphemic words (affixation, compound words, and affixed compound words), and a lexeme consisting of two morphemes, (2) the meanings and categorizations of the sub-district names in Jember are based on the manifestation aspects in the form of water, the appearance of the earth, flora, and fauna, (3) the socio-cultural aspects behind subdistrict naming in Jember are cultural and habitual patterns, prayers and hopes, and folklore. Penelitian ini membahas bentuk kebahasaan, makna, dan kategori toponimi kecamatan di Kabupaten Jember. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data pada penelitian ini adalah nama-nama kecamatan di Kabupaten Jember yang bersumber dari laman resmi Kabupaten Jember. Data berupa nama-nama kecamatan kemudian diklasifikasikan berdasarkan satuan lingualnya. Selanjutnya, dilakukan analisis semantis pada nama-nama kecamatan di Kabupaten Jember. Analisis yang terakhir adalah pengategorian toponimi berdasarkan aspek-aspek yang melatarbelakangi penamaan kecamatan tersebut. Dari data nama kecamatan di Kabupaten Jember ditemukan dua hal: (1) bentuk satuan kebahasaan nama kecamatan di Kabupaten Jember, yaitu berupa kata monomorfemis, kata polimorfemis (afiksasi, kata majemuk, kata majemuk berafiks) dan leksem yang terdiri dari dua morfem), (2) makna dan kategorisasi nama kecamatan di Kabupaten Jember yang didasarkan pada aspek-aspeknya, yaitu aspek perwujudan berupa wujud air, rupa bumi, flora, fauna dan aspek sosial budaya yaitu, pola budaya dan kebiasaan, doa dan harapan, serta cerita masyarakat.
TEKNIK DAN STRATEGI PENCIPTAAN HUMOR KOMEDIAN JAWA DALAM “BASIYO-NARTOSABDHO BESANAN” Sony Wibisono
Widyaparwa Vol 48, No 1 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.293 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i1.509

Abstract

        AbstractBasiyo, as a traditional comedian with a Javanese cultural background, greatly influenced the development of comedy in Indonesia. The humorous model of Basiyo and his friends through Dhagelan Matarampresents the monologue technique, which influenced Srimulat's jokes to the trend of single comedians in the contemporary era. The object of this research is one of his works, the auditive comedy "Basiyo -Nartosabdho Besanan" 1983 production. The study was conducted with a descriptive qualitative method using content analysis theory and Berger's verbal humor technique to get a description of humor characteristics through words and dialogue. The characteristics of humor found are interpreted by theories about Javanese life vision. Humor analysis found the highest usage of irony 6 times, and not using bombast, sexual allusion, outwitting. The application of techniques and Javanese moral principles in the creation of humor occurs through two things. First, satire and repartee techniques in narratives that describe the suitability and harmony of Javanese life. Second, ridicule, irony which depicts deviations, resistance to established Javanese culture.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan teknik humor verbal Basiyo dan kawan-kawan dalam “Basiyo-Nartosabdho Besanan”. Untuk membuat lelucon, dilakukan dengan strategi penciptaan humor komedian berlatar belakang budaya Jawa. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data ialah rekaman recovery digital audio drama komedi “Basiyo–Nartosabdho Besanan”. Pengumpulan data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode simak  dengan teknik sadap dan catat. Analisis data menggunakan model analisis interaktif. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa (1) drama komedi “Basiyo-Nartosabdho Besanan” secara umum menggunakan delapan teknik dari kategori humor language (humor verbal), (2) teknik humor primer yang digunakan ialah teknik irony, yaitu berupa sindiran yang berisi penyampaian sesuatu yang maknanya berlainan dengan yang dikatakan, (3) strategi penciptaan humor komedian dilakukan dengan mengolah materi nilai-nilai dasar etika Jawa, yakni prinsip hormat dan prinsip kerukunan, dan (4) permainan humor komedian terhadap prinsip budaya Jawa mengindikasikan kritik dan autokritik, baik bagi orang Jawa maupun orang yang tidak mengenal prinsip-prinsip tersebut. Prinsip hormat dan kerukunan diolah dengan strategi kepatuhan dan penyimpangan yang diungkapkan dengan teknik irony, satire, ridicule, dan repartee.
KREOLISASI BAHASA DAN MAKNA DALAM PUISI BUDAYA LAYAR JAKARTA BREAKING POETRY (CREOLIZATION OF LANGUAGE AND MEANING IN SCREEN CULTURE POETRY OF JAKARTA BREAKING POETRY) Joko Santoso
Widyaparwa Vol 43, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.346 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i2.111

Abstract

Makalah ini bertujuan membahas mitos keperawanan di dalam cerita pendek berjudul Jemari Kiri karya Djenar Maesa Ayu dalam kaitannya dengan upaya perlawanan perempuan terhadap dominasi patriarki. Di dalam penelitian ini digunakan teori mitos, feminisme yang disandingkan dengan teori resistensi untuk melakukan perlawanan terhadap patriarki. Hasilnya adalah keperawanan masih tetap menjadi mitos yang sangat menghantui kaum perempuan; upaya perlawanan untuk mendapat kesetaraan masih sangat sulit dilakukan; diam dan perlawanan di alam bawah sadar hanyalah upaya terakhir yang bisa dilakukan. This paper is aimed at discussing the myth of virginity in the short story entitled Jemari Kiri by Djenar Maesa Ayu in the relation to the effort of woman resistance towards the domination of patriarchy. In this study is used the theory of myth, feminism juxtaposed with theory of resistance to make resistance towards patriarchy. The result is that the virginity still remains the myth that haunts the women badly; the resistance effort for gaining equality is very hard to manifest; silent and subcinscious resistance are the only last thing to do.
INTERTEKSTUALITAS SAJAK “KAMPUNG” DAN CERPEN “DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI” DALAM PERSPEKTIF POSMODERNISME Suyono Suyatno; Dina Amalia Susamto
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.753 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.429

Abstract

This study aims to discover the intertextuality of the poem "Kampung" by Subagio Sastrowardojo and the short story "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" by Seno Gumira Ajidarma. The problem discussed is the realization of the short story text of "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" as a postmodernist work seen in its aesthetic tool. The theoretical framework applied in this paper is intertextuality and postmodernism, while the method used is a qualitative method with a hermeneutic approach. The result of this study shows that "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" in fact substantially confirms the hypnogram,  the problem of the individual conflict with the social environment. However, in a postmodernist style "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" demonstrates resistance to the former aesthetics or its hypogram and utilizes intertextuality by means of pastiche, kitsch, schizophrenia, and parody to express the poetic. In addition, the short story has also shifted the perspective differently than its hypogram by displaying the female protagonist as a victim of gender bias thus, it  has a feminist atmosphere, while the hypogram represents lyrical characters identical to men. The last point is appropriate with the postmodernist obsession to voice the minorities and oppressed, including those who are marginalized.Penelitian ini bertujuan mengungkap intertekstualitas sajak “Kampung” karya Subagio Sastrowardojo dan cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” karya Seno Gumira Ajidarma. Masalah yang dibahas ialah bagaimana cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” sebagai cerpen posmodernis merealisasikan intertekstualitas sebagai puitika/sarana estetika posmodernis? Teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah teori intertekstualitas dan posmodernisme. Metode yang digunakan ialah metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”, dari sisi substansi mengukuhkan hipogramnya, yakni masalah konflik individu dengan lingkungan sosialnya. Namun, sebagai cerpen posmodernis, “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” melakukan “perlawanan” terhadap estetika hipogramnya dan memanfaatkan intertekstualitas dengan sarana pastiche, kitsch, skizofrenia, dan parodi untuk mewujudkan puitikanya. Selain itu, cerpen tersebut juga telah melakukan pergeseran perspektif terhadap hipogramnya dengan menampilkan protagonis perempuan sebagai seorang korban bias gender sehingga cerpen ini beratmosfer feminis, sementara hipogramnya merepresentasikan tokoh lirik yang identik dengan laki-laki.  Hal terakhir ini sejalan dengan obsesi kaum posmodernis untuk menyuarakan pembelaan terhadap kaum minoritas dan tertindas, termasuk mereka yang tersisih secara gender.
BENTUK KRAMA DESA DALAM BAHASA JAWA (FORM OF KRAMA DESA IN THE JAVANESE LANGUAGE) Mulyanto Mulyanto
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.686 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.134

Abstract

Selama ini ragam krama desa dalam bahasa Jawa dianggap sebagai bentuk olok-olok atau sebagai bahasa orang yang tidak mengerti bahasa ragam halus. Penelitian ini bertujuan untuk menaturalisasi anggapan itu dan menjelaskan secara deskriptif krama desa sebagai bahasa yang hidup. Hasilnya, pembentukan kosakata krama desa merupakan sebuah paradigma yang memiliki sistem. Walaupun dianggap sebagai bentukan yang salah dan dengan jumlah kosakata yang terbatas, krama desamemiliki sistem yang ber-sifat teratur sebagaimana pembentukan bentuk kromo atau krama inggil dari ragam ngoko. Keteraturan sistem itu berupa analogi yang kuat adanya proses pembentukan kosakata ragam kromo menjadi kromo yang lain, yang searti. During this diversity the manner of krama desa in the Javanese language is considered as a form of moc-kery or as a language of people who do not understand a subtle language diversity. This study aims to natur-ralize the assumption and explain descriptively of the krama desa as a living language. As a result, the forming of krama desa vocabulary as a form of paradigm which has a system. Although considered as a wrong formation with limited numbers of vocabulary, krama desa has a regular system as a forming pesta-blishment of kromo or krama inggil from ngoko. The regularity of the system in the form of a strong ana-logy ing kromo vocabularly forming pricess become another kromo synonymous.
JENIS PERNYATAAN KALA ABSOLUT DALAM BAHASA JAWA NGOKO NFN Sumadi
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.732 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.1010

Abstract

The statement of absolute tense is one of the elements of language that has an important role because its existence tells the time of the occurrence of certain actions, events, or circumstances. This study discusses the types of absolute tense statements in ngoko Javanese with a structural linguistic approach that to the author's knowledge has never been studied. This study uses structural linguistic theory in describing the elements and structures of absolute tense statements in ngoko Javanese. The method used descriptive qualitative method, which seeks to explain the object of research as it is and it does not consider the frequency of one type of data. The data of this research are sentences containing absolute tense statements in Javanese which are collected from Javanese printed media, magazines, and data created by the author as a Javanese native speaker whose grammar has been tested with other speakers. Based on its meaning, absolute tense statements in ngoko Javanese can be divided into present tense statements marked with the word saiki 'now'; the past tense is marked by the words mau 'earlier', wingi 'yesterday', wingine 'two days before yesterday ', mbiyen 'a long time ago'; and the future is marked by the words mengko 'later', sesuk 'tomorrow', sesuke 'the day after tomorrow', and mbesuk 'in the future'. Phrases which are statements of absolute tenses are formed from the words, a word, or a group of words as attributes or core elements. Pernyataan kala absolut adalah satu di antara unsur bahasa yang mempunyai peranan penting sebab keberadaannya memberitahukan waktu terjadinya tindakan, peristiwa, atau keadaan tertentu. Penelitian ini membicarakan jenis pernyataan kala absolut dalam bahasa Jawa ngoko dengan pendekatan linguistik struktural  yang sepengetahuan penulis belum pernah diteliti. Penelitian ini menggunakan teori linguistik struktural dalam mendeskripsikan unsur dan struktur jenis prnyataan kala absolut dalam bahasa Jawa ngoko. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatif, yakni berupaya menjelaskan objek penelitian sebagaimana adanya dan tidak mempertimbangkan kefrekuentatifan satu jenis data.  Data penelitian ini berwujud kalimat berunsur pernyataan kala absolut dalam bahasa Jawa yang bersumber dari media cetak berbahasa Jawa berwujud majalah dan data hasil kreasi penulis sebagai penutur asli bahasa Jawa  yang kegramatikalannya telah diuji dengan penutur-penutur lain. Berdasarkan maknanya,  pernyataan kala absolut pada bahasa Jawa ngoko bisa dipilah atas pernyataan kala kini ditandai kata saiki ‘sekarang’; kala lampau ditandai kata mau ‘tadi’, wingi ‘kemarin’, wingine ‘kemarin dulu’, mbiyen ‘dulu’;  dan kala mendatang  ditandai kata mengko ‘nanti’, sesuk ‘besuk’, sesuke ‘lusa’, dan mbesuk ‘kelak’. Frasa yang merupakan pernyataan kala absolut terbentuk dari kata-kata itu dan kata atau kelompok kata sebagai atribut atau unsur inti. 
KONSEP KE-PRIYAYI-AN YANG TEREFLEKSI DALAM NOVEL PARA PRIYAYI KARYA UMAR KAYAM DAN GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER David Setiadi; Yati Aksa; M. Adji
Widyaparwa Vol 41, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3008.491 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i1.67

Abstract

Novel Para Priyayi karya Umar Kayarn dan Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer merefleksikan gejala sosial ketika kedua novel diterbitkan. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra dan konsep priyayi dalam tinjauan historis, penelitian ini mengunggkapkan cermin sosial yang muncul dalam kedua novel tersebut. Konsep ke-priyayi-an: status ke-priyayi-an, jenis priyayi, pola kepercayaan, kritik terhadap ke-priyayi-an merupakan upaya kedua pengarang untuk memberikan konsep nilai ke-priyayi-an sebagai bagian dari penuangan gagasan sosio-kultural dalam wacana sastra. Research on the novel Para Priyayi by Umar Kayam and Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer is an analysis of social phenomena are created when the second novel. By using the sociological approach and the concept of literary aristocracy in the historical review. This study reveals social mirror that appears in the second novel. Based on the results of the study, which appears aristocracy concept include; aristocracy status, type of aristocracy, the pattern of beliefs, criticism of aristocracy, a second attempt to give the concept the author aristocracy value as part of the socio-cultural casting ideas in literary discourse.
PRODUKSI BAHASA TULIS PENUTUR ASING: STUDI KASUS MELATI Ilham Hidayah; Pratomo Widodo
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.2 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.313

Abstract

The success of obtaining a second language and subsequent languages is influenced by many factors, both those involving from within individuals and those from the environment. Thus, research should not only focus on assessing the success of an individual in obtaining language but must also relate how the individual's language learning background is related to the achievement of language acquisition. This article will focus on the discussion of written language production with the subject of jasmine, which is a native speaker of Mandarin. By reviewing the background of the subject's bilingualism, it is expected to be able to provide an overview and answer the question "how is the achievement of someone who learns a foreign language if he learns a second language after passing a critical period, then takes education to obtain language (nurture), and a coordinate billingualism, if measured after study the language for five years and four months? "the results of the research show that Melati has the following language skills (1) in terms of readability, able to write with the appropriate complexity for college level students (2) able to build relationships between words, sentences, and paragraphs but at the word level there are still some problems (3) which tend to produce difficult sentences to understand when writing more complex sentences.Keberhasilan pemerolehan bahasa kedua dan bahasa berikutnya dipengaruhi banyak faktor, baik yang menyangkut dari dalam diri individu maupun yang berasal lingkungan. Penelitian mengenai bahasa kedua seharusnya tidak hanya berfokus pada menilai keberhasilan dari seorang individu dalam memeperoleh bahasa tetapi juga harus menghubungkan bagaimana latar belakang belajar bahasa individu dalam kaitannya dengan pencapaian pemerolehan berbahasanya. Artikel ini akan fokus pada pembahasan produksi bahasa tulis dengan subjek melati, yaitu seorang penutur asli bahasa Mandarin. Dengan meninjau latar belakang bilingualisme subjek diharapkan dapat memberikan gambaran dan menjawab pertanyaan “seberapa pencapaian seseorang yang belajar bahasa asing bila ia belajar bahasa kedua setelah melewati critical period, kemudian menempuh pendidikan untuk memperoleh bahasa (nurture), dan seorang yang coordinate billingualism, bila diukur setelah mempelajari bahasa selama lima tahun empat bulan?” hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Melati memiliki kemampuan bahasa sebagai berikut (1) secara keterbacaan, mampu menulis dengan kerumitan yang sesuai untuk pelajar tingkat perguruan tinggi (2) mampu membangun hubungan antar kata, kalimat, dan paragraf namun pada tataran kata masih ditemukan beberapa masalah (3) cenderung menghasilkan kalimat sulit dipahami saat menulis kalimat yang lebih kompleks.