cover
Contact Name
Mutia Azizah Nuriana
Contact Email
mutia.azizah08@gmail.com
Phone
+6281329515000
Journal Mail Official
albasirahstaimas@gmail.com
Editorial Address
Jl. Cempaka VI Pokoh, Wonoboyo, Wonogiri, Jawa Tengah , Kab. Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah
Location
Kab. wonogiri,
Jawa tengah
INDONESIA
Al Basirah
ISSN : 27764702     EISSN : 27985946     DOI : https://doi.org/10.58326/jab
Jurnal Al Basirah adalah jurnal akademik yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAIMAS Wonogiri. Jurnal Al Basirah bertujuan untuk menerbitkan artikel di pengabdian masyarakat, tidak terbatas pada hasil penelitian, tetapi studi ilmiah dan kasus-kasus lapangan. Jurnal Al Basirah diterbitkan dua kali setahun untuk volume yang sama. Ini memiliki tujuan untuk menyediakan media bagi akademisi, peneliti, pakar dan pengamat untuk berkomunikasi dalam kerangka pengembangan ilmiah di bidang pengabdian masyarakat. Jurnal Al Basirah mengembangkan isu baru yang berhubungan dengan Focus dan Scope pada bidang pendidikan, Hukum, Ekonomi, Humaniora, Teknik, Pertanian, Komunikasi, Kesehatan, dan Rekayasa.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 115 Documents
Edukasi Anti Perundungan sebagai Bentuk Pengabdian Masyarakat di SD Negeri 2 Desa Jendi, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri: Edukasi Anti Perundungan sebagai Bentuk Pengabdian Masyarakat di SD Negeri 2 Desa Jendi, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri Rochmawati Sukemi; Sulistyowati Sulistyowati; Ahmad Wildan; Aziz Musthofa; Agnes Aktavia Nurjanah
Jurnal Al Basirah Vol. 6 No. 1 (2026): Al Basirah
Publisher : LPPM STAIMAS WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58326/jab.v6i1.545

Abstract

Perilaku perundungan (bullying) merupakan permasalahan sosial yang dapat berdampak serius terhadap perkembangan emosional, mental dan sosial individu terutama pada usia anak dan remaja. Fenomena ini tidak hanya ditemukan di lingkungan perkotaan, tetapi juga berpotensi terjadi di wilayah perdesaan termasuk Desa Jendi Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan sebagai upaya preventif melalui pemberian edukasi dan sosialisasi kepada siswa SD Negeri 2 Jendi kelas 5 dan 6 mengenai perundungan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan metode pemaparan materi, diskusi partisipatif serta penanaman nilai-nilai sosial keagamaan yang telah ada di masyarakat setempat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai bentuk-bentuk perundungan dan pentingnya membangun lingkungan sosial yang aman dan beretika.
Penguatan Kearifan Lokal dan Nilai Keagamaan pada Anak Usia Dini sebagai Upaya Membangun Desa Berkelanjutan Annafi Nurul Ilmi Azizah; Edy Muslimin; Sugiyat Sugiyat; Waridsin Saiful Amri; Ismail Ismail
Jurnal Al Basirah Vol. 6 No. 1 (2026): Al Basirah
Publisher : LPPM STAIMAS WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58326/jab.v6i1.546

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengenalkan kearifan lokal dan nilai religius pada anak kelas TK B sebagai upaya membangun karakter sejak usia dini dan mendukung pembangunan desa berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan di TK Pertiwi Keloran dengan sasaran anak usia 5–6 tahun. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif-edukatif melalui kegiatan bermain sambil belajar yang mengintegrasikan nilai kearifan lokal dan nilai religius. Program pengabdian dilaksanakan selama enam hari, meliputi pengenalan lingkungan dan nilai religius, permainan tradisional bernilai karakter, pengenalan alam sebagai ciptaan Allah, kreasi seni budaya lokal bernuansa Islami, dongeng Islami berbasis kearifan lokal, serta praktik ibadah dan pembiasaan akhlak anak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan perilaku positif anak yang ditunjukkan melalui kategori perkembangan, yaitu: (1) kepedulian lingkungan berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) sebesar ±75% anak, (2) kemampuan bekerja sama pada kategori BSH sebesar ±70%, (3) sikap sportif pada kategori Mulai Berkembang (MB) menuju BSH sebesar ±68%, dan (4) pembiasaan perilaku religius pada kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) sebesar ±80% anak. Selain itu, anak menunjukkan keterlibatan aktif dan antusias dalam seluruh rangkaian kegiatan. Kegiatan ini berkontribusi pada penguatan pendidikan karakter anak usia dini berbasis kearifan lokal dan nilai religius yang relevan dengan konteks desa serta berpotensi mendukung pembangunan desa berkelanjutan.
Pelatihan Keterampilan Penanganan Kekerasan Seksual Dan Perundungan (Bullying) Bagi Masyarakat Desa Gemolong, Sragen Fadilah Qotimatun Puji Rahayu; Novan Wahyu Primadi; Windari Windari; Fatmah Fatmah
Jurnal Al Basirah Vol. 6 No. 1 (2026): Al Basirah
Publisher : LPPM STAIMAS WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58326/jab.v6i1.570

Abstract

Kekerasan seksual dan Perundungan (Bullying) pada remaja adalah tindakan ancaman yang sangat serius. Kekerasan seksual dan Perundungan (Bullying) pada remaja memiliki dampak negatif pada pelaku dan korban. Kekerasan seksual dan Perundungan (Bullying) pada remaja dapat merusak pertumbuhan dan perkembangan remaja. Selain itu remaja yang kerap menjadi korban Kekerasan seksual dan Perundungan (Bullying) berpotensi menjadi pelaku Kekerasan seksual dan Perundungan (Bullying) berikutnya. Oleh karena itu, sejak sekarang harus dilakukan pencegahan Kekerasan seksual dan Perundungan (Bullying) kepada remaja. Pencegahan Kekerasan seksual dan Perundungan (Bullying) pada remaja dapat dilakukan antara lain dengan memberikan pendidikan seksual sejak sekarang pada remaja, komunikasi intens dengan remaja, menanamkan keberanian dan kemandirian pada remaja, meningkatkan pengawasan pada remaja, serta memberikan pemahaman tentang dampak Kekerasan seksual dan Perundungan (Bullying) pada remaja. Pentingnya memberikan pendidikan seksual sejak dini pada remaja tidak bisa diabaikan. Misalnya, dengan mengajarkan remaja-remaja mengenai batasan-batasan tubuh dan memberi tahu mereka bahwa tidak ada yang boleh menyentuh tubuh mereka tanpa izin. Komunikasi intens antara orang tua dan anak juga sangat penting. Orang tua perlu menciptakan lingkungan di mana anak merasa nyaman untuk berbicara tentang segala hal, termasuk masalah seksual. Dengan begitu, anak akan lebih mudah untuk melaporkan jika ada yang mencoba melakukan Kekerasan seksual dan Perundungan (Bullying) pada mereka.Menanamkan keberanian dan kemandirian pada remaja juga merupakan hal yang esensial. Contohnya, dengan mengajari remaja-remaja untuk mengatakan "tidak" dan meminta bantuan jika mereka merasa tidak nyaman dengan situasi tertentu. Meningkatkan pengawasan terhadap anak juga merupakan langkah yang sangat penting. Orang tua perlu memastikan bahwa anak selalu dalam pengawasan yang baik, terutama di lingkungan yang berisiko. Selain itu, memberikan pemahaman yang jelas tentang dampak Kekerasan seksual dan Perundungan (Bullying) pada remaja dapat membantu mereka memahami pentingnya melindungi diri mereka sendiri. Dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat, Kekerasan seksual dan Perundungan (Bullying) pada remaja dapat diminimalkan dan remaja-remaja dapat tumbuh dan berkembang dengan aman dan sehat.
Peran Kegiatan Pembiasaan Pagi dalam Pengembangan Karakter Disiplin Siswa di Era Digital Sekolah Dasar: Pembiasaan Pagi, Karakter Disiplin, Sekolah Dasar, Pendidikan Karakter, Era Digital Lulu Nur Fauzyah; Hayati Mida Rongan; Murfiah Dewi Wulandari; Darsinah Darsinah
Jurnal Al Basirah Vol. 6 No. 1 (2026): Al Basirah
Publisher : LPPM STAIMAS WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58326/jab.v6i1.581

Abstract

Era digital membawa perubahan signifikan terhadap perilaku siswa sekolah dasar, termasuk menurunnya tingkat kedisiplinan akibat distraksi teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kegiatan pembiasaan pagi dalam mengembangkan karakter disiplin siswa sekolah dasar di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pembiasaan pagi seperti do’a bersama, literasi pagi, senam, serta pengecekan kerapian mampu meningkatkan kedisiplinan siswa secara bertahap. Kegiatan tersebut membentuk sikap tepat waktu, kepatuhan terhadap aturan, serta tanggung jawab siswa. Keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh konsistensi pelaksanaan, keteladanan guru, serta dukungan lingkungan sekolah dan keluarga. Dengan demikian, pembiasaan pagi merupakan strategi efektif dalam penguatan pendidikan karakter untuk menghadapi tantangan.
Edukasi Konservasi pada Praktik Wisata Penyu Berkelanjutan: Program Pengabdian kepada Wisatawan dan Pengemudi perahu di Pulau Redang, Malaysia Devina Melinawati; Ruslina Dwi Wahyuni; Sugiyanto Sugiyanto
Jurnal Al Basirah Vol. 6 No. 1 (2026): Al Basirah
Publisher : LPPM STAIMAS WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58326/jab.v6i1.582

Abstract

Pariwisata laut dengan mengamati penyu di habitat aslinya secara langsung dapat mendatangkan manfaat ekonomi kepada warga setempat sekaligus berdampak pada tekanan ekologis terhadap ekosistem apabila interaksi antara wisatawan dengan penyu tidak diperhatikan. Oleh karena itu, pariwisata ini harus diatur agar sesuai dengan prinsip keberlanjutan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan edukasi demi memperkuat pariwisata penyu yang berkelanjutan. Para pengemudi perahu diberdayakan sebagai duta konservasi di Pulau Redang, Malaysia, demi menumbuhkan kepedulian wisatawan terhadap penyu. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah pendekatan partisipatif insidental. Tim pengabdian terlibat langsung dalam aktivitas wisata sekaligus menyampaikan edukasi konservasi melalui tiga upaya yaitu sosialisasi dengan pengemudi perahu, penyuluhan kepada wisatawan, dan pendampingan selama kegiatan berlangsung. Pengabdian ini menunjukkan hasil yaitu pemahaman para wisatawan dan pengemudi perahu. Hal ini dibuktikan dari wisatawan yang tidak menyentuh penyu laut meskipun ini menjadi menjadi aturan yang tidak tertulis. Pengemudi perahu yang awalnya cenderung pasif kini turut aktif dalam memberi edukasi karena mereka adalah orang yang dianggap memiliki otoritas di daerah tersebut. kegiatan ini tetap memberikan dampak positif yaitu edukasi secara insidental tidak memerlukan biaya yang besar karena hanya melibatkan partisipasi warga lokal tapi dapat mendorong pariwisata penyu yang berkelanjutan. Kegiatan pengabdian ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG 14:Life Below Water) dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth).

Page 12 of 12 | Total Record : 115