cover
Contact Name
Hari Susanto
Contact Email
p3m.banten@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
p3m@poltekpel-banten.ac.id
Editorial Address
JL. Raya No.1, Karang Serang, Kec. Sukadiri, Tangerang, Banten 15330
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Marine Inside
ISSN : 27162656     EISSN : 29859638     DOI : 10.62391/ejmi
Core Subject : Engineering,
Jurnal Marine Inside adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan dan dikelola oleh Politeknik Pelayaran Banten. Jurnal ini merupakan media sarana publikasi berbagai macam penelitian dan pengembangannya di bidang Nautika, Permesinan Kapal, dan Manajemen Transportasi laut.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 1 (2025)" : 15 Documents clear
Evaluasi proses kepabeanan ekspor: Studi pengaruh kebijakan INSW terhadap efisiensi dan transparansi Prihandono, Boedi; Tumanggor, Arief Hidayat; Asnawi; Magdalena, Susiarni; Fadhillah, Muhammad Dhika Rizqi; Faiq, Dzaki Muzhaffar; Aisyah, Rif’at Zulian
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i1.125

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak implementasi kebijakan Indonesia National Single Window (INSW) terhadap efisiensi dan transparansi proses kepabeanan ekspor di Indonesia. Menggunakan pendekatan campuran (mixed-method), studi ini mengombinasikan analisis kuantitatif terhadap data waktu clearance dan biaya administrasi, serta pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pelaku usaha dan otoritas terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi INSW mampu menurunkan rata-rata waktu penyelesaian kepabeanan dari 48 jam menjadi 36 jam, serta mengurangi biaya administrasi hingga 28%. Selain itu, peningkatan transparansi tercermin dari skor kepuasan pengguna terhadap akses informasi yang mencapai rata-rata 4,2 dari 5, meskipun masih terdapat kendala dalam kejelasan prosedur. Tantangan utama yang diidentifikasi meliputi kesiapan infrastruktur digital dan rendahnya tingkat pemahaman pelaku usaha terhadap sistem. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan peningkatan infrastruktur teknologi, penguatan literasi digital, dan penyederhanaan prosedur sebagai langkah strategis untuk mengoptimalkan penerapan INSW secara berkelanjutan.   This study aims to evaluate the impact of the implementation of the Indonesia National Single Window (INSW) policy on the efficiency and transparency of export customs processes in Indonesia. Utilizing a mixed-method approach, the research combines quantitative analysis of clearance time and administrative costs with qualitative insights gathered through interviews with business actors and relevant authorities. The findings reveal that the implementation of INSW successfully reduced the average customs clearance time from 48 hours to 36 hours and lowered administrative costs by up to 28%. Additionally, the system enhanced information accessibility, reflected in an average user satisfaction score of 4.2 out of 5, although some issues remain regarding procedural clarity. The main challenges identified include limited digital infrastructure readiness and low user understanding of the system. Accordingly, this study recommends strengthening technological infrastructure, improving digital literacy, and simplifying procedures to optimize the long-term implementation of the INSW policy.
Identifikasi kerusakan kontainer pada saat pengiriman menggunakan Kapal MV Ifama Mas Rikardo, Dapid; Octavitri, Yollanda; Fajrin, Mohammad Navy Afrian
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i1.128

Abstract

Penelitian ini mengkaji penyebab kerusakan kontainer pada MV Ifama Mas di Pelabuhan Belawan serta merumuskan langkah pencegahan operasional. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan studi kasus melalui observasi lapangan, wawancara kru/tenaga bongkar muat, dan telaah dokumen prosedur. Analisis deskriptif dilakukan untuk mengidentifikasi pola kerusakan dan faktor pemicunya. Hasil menunjukkan sebagian besar kerusakan telah terjadi pra-pemuatan—terutama sejak tahap gate-in/handling di pelabuhan asal (Tanjung Priok)—akibat pengganjalan (chocking) yang keliru, minim inspeksi awal, dan proses bongkar muat yang tergesa-gesa. Jenis kerusakan yang dominan meliputi penyok, lubang akibat korosi, dan kelemahan struktural pada panel/ujung kontainer. Di sisi lain, penerapan standar IMO serta kriteria IICL untuk inspeksi dan lashing belum optimal sehingga memperbesar risiko kerusakan saat penanganan dan penumpukan. Rekomendasi yang diusulkan meliputi pemeriksaan awal yang lebih ketat (gate-in checklist dan pre-lift survey), optimalisasi rencana penumpukan/stowage, pelatihan operator crane dan checker, serta pengawasan lashing yang disiplin sesuai standar internasional. Implementasi langkah-langkah tersebut diharapkan menurunkan insiden kerusakan, meningkatkan keselamatan kargo, dan memperbaiki efisiensi bongkar muat.   This study examines the causes of container damage on MV Ifama Mas at Belawan Port and proposes operational prevention measures. A qualitative case-study approach was used, combining field observations, crew/stevedore interviews, and a review of handling procedures. Descriptive analysis identified damage patterns and causal factors. Findings show that most damage occurred pre-loading—notably from the gate-in/handling stage at the origin port (Tanjung Priok)—due to incorrect chocking/blocking, insufficient pre-inspection, and rushed handling. Predominant damage types include dents, corrosion holes, and structural weaknesses on panels and end frames. Moreover, IMO standards and IICL criteria for inspection and lashing were not applied optimally, elevating risk during handling and stacking. Recommended actions include stricter pre-entry and pre-lift inspections (gate-in checklists and surveys), optimized stowage/yard stacking plans, targeted training for crane operators and checkers, and disciplined lashing oversight aligned with international standards. Implementing these measures is expected to reduce damage incidents, improve cargo safety, and enhance handling efficiency.
Strategi pencegahan overpressure di jalur manifold melalui pengelolaan cargo heater di VLGC Rubra Kismantoro, Tri; Atlantic, Fikri Bahri
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i1.132

Abstract

Peningkatan kebutuhan energi global telah menjadikan liquefied petroleum gas (LPG) sebagai salah satu komoditas utama dalam sektor transportasi maritim. Namun, proses pengangkutan LPG memiliki tantangan tersendiri karena sifatnya yang mudah terbakar dan tekanan tinggi yang dapat membahayakan keselamatan operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan Standard Operating Procedure (SOP) pada sistem cargo heater selama kegiatan ship-to-ship transfer di kapal Very Large Gas Carrier (VLGC) Rubra, khususnya dalam mencegah lonjakan tekanan pada jalur manifold. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi selama pelaksanaan praktik laut. Analisis dilakukan menggunakan diagram sebab-akibat (fishbone diagram) untuk mengidentifikasi akar masalah yang meliputi kerusakan pada komponen flow tube cargo heater serta kurangnya pemahaman kru terhadap prosedur pembongkaran LPG. Temuan penelitian menunjukkan bahwa korosi dan keterbatasan perawatan rutin menjadi penyebab utama kerusakan sistem, sedangkan kurangnya pelatihan teknis menyebabkan kesalahan dalam pengoperasian cargo heater. Penelitian merekomendasikan penerapan SOP secara lebih disiplin dan penyusunan program pelatihan terstruktur bagi kru kapal untuk meningkatkan kompetensi teknis dan keselamatan kerja. Kesimpulannya, penerapan SOP yang tepat pada sistem cargo heater terbukti efektif dalam mencegah peningkatan tekanan pada jalur manifold, meningkatkan keselamatan operasional, serta mendukung kelancaran proses bongkar muat LPG secara keseluruhan.   The increasing global demand for energy has positioned liquefied petroleum gas (LPG) as a key commodity in the maritime transportation sector. However, the transportation of LPG presents specific challenges due to its flammable nature and the high pressure involved, which can pose serious safety risks. This study aims to evaluate the implementation of the Standard Operating Procedure (SOP) for the cargo heater system during ship-to-ship transfer operations on the Very Large Gas Carrier (VLGC) Rubra, with a particular focus on preventing pressure surges in the manifold line. A qualitative approach was employed, utilizing direct observation, in-depth interviews, and documentation during sea practice activities. Data were analyzed using a fishbone diagram to identify the root causes of problems, including damage to the cargo heater flow tube and insufficient crew understanding of LPG unloading procedures. The findings reveal that corrosion and inadequate maintenance are the primary causes of equipment failure, while a lack of technical training contributes to operational errors. The study recommends stricter SOP implementation and the development of structured training programs to enhance crew competence and operational safety. In conclusion, proper application of SOPs for cargo heaters is proven to be effective in preventing pressure increases in the manifold line, enhancing operational safety, and ensuring the smooth execution of LPG unloading operations.
Analisis SWOT dalam pengoperasian AIS dan protocol TCP/IP pada VTS Kasim Marine Terminal Satria, Budi; Simanjuntak, Marihot; Malau, April Gunawan; Fahcruddin, Imam
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i1.133

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi kinerja sistem Vessel Traffic Service (VTS) di Kasim Marine Terminal, sebuah terminal lepas pantai strategis yang berlokasi di Selat Sele dan dikelola oleh Petrogas (Basin) Ltd. VTS ini didukung oleh teknologi AIS, protokol TCP/IP, serta pemantauan cuaca terintegrasi untuk mendukung keselamatan dan kelancaran navigasi. Pendekatan kuantitatif digunakan dalam studi ini, dengan metode analisis SWOT yang didasarkan pada data dari 56 responden, terdiri atas operator VTS dan pengelola terminal. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Hasil penelitian mengidentifikasi kekuatan utama pada posisi geografis yang strategis, kompetensi personel, dan pemanfaatan teknologi yang memadai. Di sisi lain, tantangan yang dihadapi mencakup belum tersusunnya standar operasional prosedur (SOP), keterbatasan infrastruktur, dan minimnya pemahaman publik terhadap keberadaan VTS. Pemetaan posisi strategi menunjukkan bahwa sistem VTS berada pada kuadran Strengths–Opportunities (SO), yang mendorong pengembangan strategi pertumbuhan melalui pemanfaatan keunggulan internal dan peluang eksternal. Studi ini merekomendasikan penyusunan SOP, peningkatan dukungan regulasi, serta perbaikan teknis berkelanjutan guna mengoptimalkan fungsi VTS dan meningkatkan keselamatan pelayaran di wilayah operasional yang terpencil.   This study evaluates the operational effectiveness of the Vessel Traffic Service (VTS) implemented at Kasim Marine Terminal, a strategic offshore facility located in the Sele Strait and operated by Petrogas (Basin) Ltd. The VTS system incorporates AIS technology, TCP/IP protocols, and integrated weather monitoring to enhance maritime safety and navigation efficiency. A quantitative approach was employed using SWOT analysis, supported by data from 56 respondents consisting of VTS operators and terminal managers. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and document analysis. The findings highlight key strengths such as strategic location, competent personnel, and adequate technological integration. However, challenges remain, including the absence of formal standard operating procedures (SOPs), limited infrastructure, and low public awareness of the VTS system. The SWOT mapping places the system in the Strengths–Opportunities (SO) quadrant, suggesting a growth strategy by leveraging internal strengths and external opportunities. The study recommends developing operational standards, enhancing policy support, and investing in ongoing technical improvements to optimize the role of VTS in ensuring navigational safety at remote terminals.
Inovasi kapal bertenaga panel surya sebagai implementasi energi baru terbarukan dalam transportasi laut Palembangan, Semuel; Nursyamsu, Nursyamsu; Irwansyah, Rudi Harun; Peramutya, Alvian Demaz; Santoso, Rahmat; Amirullah, Amirullah; Hidayatuloh, Ade Taopik; Ischak, Rabbani
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i1.137

Abstract

Ketergantungan sektor maritim pada bahan bakar fosil telah berkontribusi signifikan terhadap peningkatan emisi karbon, pencemaran lingkungan laut, dan tingginya biaya operasional kapal. Tantangan ini menuntut inovasi energi alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengimplementasikan prototipe kapal wisata bertenaga surya sebagai sumber energi utama penggerak. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) yang meliputi tahap analisis kebutuhan, perancangan, perakitan, pengujian, dan evaluasi kinerja. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kapal berbobot 1,3 ton dapat beroperasi dengan kecepatan rata-rata 3,5–4 knot menggunakan enam panel surya berkapasitas 100 WP dan empat baterai 200 Ah, dengan waktu pengisian penuh sekitar 12 jam pada kondisi penyinaran optimal. Temuan ini mengindikasikan bahwa kapal bertenaga surya berpotensi menjadi alternatif transportasi laut yang efisien, ramah lingkungan, serta mendukung penerapan energi terbarukan di sektor maritim.   The maritime sector's reliance on fossil fuels has significantly contributed to increased carbon emissions, marine environmental pollution, and high vessel operational costs. These challenges necessitate the development of environmentally friendly and sustainable alternative energy solutions. This study aims to design and implement a solar-powered tourist boat prototype as the primary propulsion energy source. The research employed a Research and Development (R&D) approach, encompassing needs analysis, design, assembly, testing, and performance evaluation stages. The test results indicate that a 1.3-ton vessel can operate at an average speed of 3.5–4 knots using six 100 WP solar panels and four 200 Ah batteries, with a full charging time of approximately 12 hours under optimal sunlight conditions. These findings suggest that solar-powered boats have the potential to serve as an efficient and environmentally friendly alternative for maritime transportation while promoting the adoption of renewable energy in the maritime sector.

Page 2 of 2 | Total Record : 15