cover
Contact Name
ABDUL KHER
Contact Email
abdulkher@radenfatah.ac.id
Phone
+6281271310210
Journal Mail Official
abdulkher@radenfatah.ac.id
Editorial Address
Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
ISSN : 28096401     EISSN : 28090500     DOI : https://doi.org/10.19109/jsq
Jurnal Semiotika Q Kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir is a biannual and peer reviewed journal dedicated to publishing the scholarly study of Qur’an from many different perspectives.
Articles 111 Documents
Aktualisasi Nilai Rekonsiliasi Perspektif Kitab Al-Tibyan Karya KH. Hasyim Asy’ari Ahmad Misbakhul Amin; Ahmad Saddad
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i1.21862

Abstract

Artikel ini dilatarbelakangi adanya degradasi moral yang disebabkan adanya banyak perbedaan yang justru tidak menjadi media persatuan namun menjadi celah adanya Iftiraq. Perpecahan ini secara urgen dan mendesak perlu untuk segera diatasi dengan metode dan cara yang sudah teruji untuk kemudian dapat diaktualisasikan di kehidupan. KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Al-Tibyan menawarkan usaha rekonsiliasi Nasional yang dalam penelitian ini dipaparkan kandungan dan nilai yang tersimpan. Penulis menggunakan metode Library Research dengan memanfaatkan beberapa sumber pustaka yang valid. Dalam penelitian ini penulis setidaknya menemukan tiga hasil temuan. Pertama, terdapat nilai persaudaraan yang kuat menjadi tonggak rekonsiliasi Nasional dalam kitab Al-Tibyan. Kedua, dalam kitab Al-Tibyan nilai persatuan dan perdamaian menjadi orientasi pokok terhadap usaha rekonsiliasi Nasional KH. Hasyim Asy’ari. Ketiga, aktualisasi nilai persaudaraan dan persatuan serta perdamaian secara aktif dan dinamis dapat diimplementasikan dengan pendekatan zaman kekinian salah satunya memanfaatkan dunia digitalisasi. Ketiga nilai rekonsiliasi dalam kitab ini dapat diaktualisasikan artinya kitab ini masih relevan dengan zaman dan problematika kekinian.
Munasabah Al-Qur’an Surah Juz ‘Amma: Relasi antara Kandungan Makna dengan Nama Eko Zulfikar; Abdul Kher; Kusnadi Kusnadi
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i1.21870

Abstract

Artikel ini bertujuan menjelaskan relasi antara kandungan makna al-Qur’an dengan nama-nama surah, khususnya dalam juz ‘Amma. Agar penjelasan tidak terlalu meluas, penulis hanya memfokuskan pada empat surah yaitu al-Naba’, al-Takwir, al-Insyirah dan al-Nashr. Dengan menggunakan jenis penelitian kepustakaan murni secara content analysis, hasil kajian menunjukkan bahwa munasabah al-Qur’an dalam kajian ‘Ulum al-Qur’an merupakan sebuah ilmu yang membahas keterkaitan antara ayat satu dengan ayat lainnya, atau ayat satu dalam suatu surah dengan ayat lainnya dalam surah yang berbeda. Keterkaitan ini tidak lain untuk saling melengkapi sebuah pemahaman kandungan makna sehingga rahasia cakrawala al-Qur’an dapat tersingkap, dan hal-hal yang dimaksudkan oleh Allah dapat terungkap. Sementara relasi antara kandungan makna dengan nama surah yang ada dalam Juz ‘Amma, dapat diketahi dari penjelasan nama-nama surah secara bahasa yang mengandung korelasi kuat dengan penjelasan ayat-ayat berikutnya. Meskipun nama-nama surah Juz ‘Amma sering diambil dari ayat pertama, tetapi ketika dipahami kandungan maknanya secara keseluruhan, tampak adanya keserasian (munasabah) antar keduanya. Dengan demikian, penulis berasumsi bahwa adanya keterkaitan antara kandungan makna dengan nama-nama surah Juz ‘Amma ini, dapat menambah khazanah macam-macam munasabah al-Qur’an berupa munasabah antara nama surah dengan kandungan makna kelompok surah pertama.
Moral Character of Society in the Qur’an on the Story of Ashab Al-Sabti Febriansyah Febriansyah; Septiawadi Kari Mukmin; Beko Hendro
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i1.21996

Abstract

This research is motivated by the existence of moral degradation caused by films, stories, and news in society that encompass various aspects of moral decline, such as issues of collusion, corruption, and nepotism (KKN), the deviation of virtuous values, and the lack of empathy and social responsibility. If films, stories, and news can shape a person's character, then the Qur'an can certainly improve one's behavior. The story of Ashab Al-Sabti was chosen for this study because it contains three groups: the pious advisors, those who remain passive in the face of wrongdoing, and those who transgress and are disobedient. This research aims to examine the moral characteristics of these three groups. Through the approach of exegesis and sociology, the characters within this story can be analyzed. Therefore, this research uses a qualitative method with library research and descriptive analysis as the data analysis technique. The results of the study show that the character analysis of these three groups is divided into two categories: positive characteristics, which include social concern, obedience, loyalty, and perseverance, and negative characteristics, which include despair and rebellion. Efforts to contextualize the moral character in the phenomenon of KKN conclude that emphasizing the role of the passive group in society's structure can potentially lead to moral decay and social disorder. This occurs because individuals remain silent in the face of falsehood, causing the truth to become less dominant. This serves as a lesson for society that in order to form a civil society, there needs to be action and socialization in conveying the truth.
Criticism of Audiovisual Interpretation: Ad-Dakhîl Fit-Tafsîr in the Interpretation of Husain Basyaiban Sulistiana Suyatmi Anjeli; Muhammad Irsad; Eka Prasetiawati
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i1.22143

Abstract

أنجيلي، سوليستيانا سوياتمي. "نقد التفسير السمعي البصري: الدخيل صالح التفسير في تفسير حسين باصيبان." مجلة جامعة معارف لامبونج (UMALA) مترو لامبونج، 2024. من الواضح أن دراسة الإسلام على وسائل التواصل الاجتماعي ليست جديدة وتعتبر غير عقلانية في الحياة اليومية. ويتجلى ذلك من خلال القنوات العديدة التي تستخدم الصور ومقاطع الفيديو لتوصيل الدعوة الإسلامية لمستخدمي الإنترنت. إحدى قنوات اليوتيوب التي تبث غالبًا الدين هي قناة اليوتيوب التي تحمل اسم المستخدم kadamsidik. يركز هذا البحث على قناة كادامصديق على اليوتيوب التي تناقش تفسير سورة الكهف [18]: 83-98، وخاصة قصة ذو القرنين. يهدف هذا البحث إلى شرح ونقد تفسير حسين باصيبان لسورة الكهفي [18]: 83-98 على اليوتيوب كدامصديق استنادا إلى النظرية النقدية في الدخيل في التفسير. هذا البحث هو نوع من الأبحاث المكتبية مع المصدر الأساسي لقناة Kadamsidik. أما المصادر الثانوية فهي كتاب منهج الدخيل النقدي لأولينوها، وتفسير الخازن، وتفسير الألوسي، بالإضافة إلى مقالات متعلقة بالدخيل. يتناول هذا البحث تفسير الحسين لقصة ذو القرنين في الكهف [١٨]: ٨٣-٩٨، ويركز على قيمة الدخيل المستخرجة من تفسير الحسين. ويخلص هذا البحث إلى أنه من بين المراحل الثلاثة التي فسرها حسين بصيبان من سورة الكهف [18]: 83-98، حدد المؤلف اثنين منها، وهما الدخيل على شكل تفسير مع نوع التاريخ الذي يدان على أنه تاريخ الإسرائيليات موقوف . أحدهما تاريخ صحيح، والآخر تفصيل المجامل. خاتمة.
The Contextuality of Tafsir Ma'ālim al-Tanzīl by al-Baghawī (Revisiting Tradition and Embracing Modern Values) Riki Noviandi; Muhammad Naufal Hakim; Masruchan Masruchan; Mokh. Fatkhur Rokhman
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i1.22261

Abstract

This research is conducted based on two facts: (1) the bias of modern-period commentators who tend to stigmatize classical exegesis as being subjective to schools of thought and scholarship, leading to the emergence of the concept of the Qur'an as guidance; (2) it is found that the concept of the Quran as guidance has been mentioned by classical commentators, as articulated by al-Baghawī in the introduction to his exegesis. Therefore, this research aims to offer a counter-narrative to the “negative stigma” against classical exegesis, perceived as non-contextual, by focusing on al-Baghawī’s Ma‘ālim al-Tanzīl as the subject matter. Employing a philosophical approach, the characteristic theory of Fahd al-Rūmī’s exegesis, and a critical-analytical method, this research concludes that Ma‘ālim al-Tanzīl exhibits characteristics through the use of the ma’thūr exegesis method, firmly rooted in the tradition of early interpretation, namely interpreting the Quran with the Quran, with Hadith, with the sayings of the Companions (Ṣaḥabī), and with the sayings of the Successors (Tābi‘īn). In addition to being based on narration, this exegesis also draws interpretations from the various recitations of the Quran and analyses of Arabic sciences. Although adhering to tradition, the contextual relevance of Ma‘ālim al-Tanzīl exegesis does not lie in directly addressing contemporary issues but rather in the revelation of morally universal values that remain pertinent to the current context.
Konsep Harta Dalam Al-Qur’an: Analisis Konteks Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyah Redo Saputra; Muhajirin Muhajirin; Eko Zulfikar
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i1.22594

Abstract

Artikel ini bertujuan mengulas konsep harta dalam al-Qur’an dengan analisis berdasarkan konteks Makkiyah-Madaniyah. Dengan menggunakan metode kualitatif secara deskriptif-analitis, dapat disimpulkan bahwa konteks sejarah kenabian di Makkah maupun di Madinah sangat berbeda. Pada ayat-ayat Makkiyah tentang harta dijelaskan sebagai bentuk pengajaran kepada Nabi agar lebih dekat dan peduli kepada masyarakat lemah yang tertindas dan miskin. Nabi selama di Mekah belum diperintahkan untuk membebaskan para pemeluk Islam dari penindasan dan gangguan kaum kafir dengan cara pengerahan kekuatan fisik. Sebab kondisi objektif Nabi dan para pengikutnya belum memungkinkan untuk melakukan perlawanan bersenjata. Sedangkan pada konteks ayat-ayat Madinah, Nabi berupaya membangun masyarakat yang ideal dengan salah satunya kuat dalam perekonomian. Ayat-ayat Madaniyah tentang harta telah membahas mengenai pengelolahan harta dan fungsi harta yang sesuai syariat. Pada fase Madinah ini juga kekuatan Nabi dan kaum muslimin sudah dapat diandalkan untuk melakukan perlawanan, maka Allah memerintahkan untuk melakukan agresi militer kepada kaum kafir. Upaya yang dilakukan Nabi dalam melawan penindasan dan keangkuhan kaum kafir bukan lagi bersabar atau menghindar seperti pada konteks Makkah, melainkan sudah dapat melawan dengan mengerahkan kekuatan bersenjata.
Maintaining Children's Character in the Perspective of QS. al-Ankabut Verse 45 Muhammad Khikman Faqih; Jaka Ghianovan; Ida Kurnia Shofa
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i1.22615

Abstract

يشكل التقدم في التكنولوجيا والمعلومات تهديدا لشخصية جيل الأمة. وتوضح بيانات لجنة حماية الطفل الإندونيسية أن عدد الأطفال ضحايا الجرائم الجنسية يبلغ 314 طفلا، في حين يبلغ عدد الأطفال ضحايا العنف الجسدي والنفسي 130 حالة. إحدى أشكال العبادة التي يمكن أن تؤثر على أخلاق الشخص هي الصلاة، وهذا موضح في سورة الأنجبوت الآية 45. الهدف من هذا البحث هو وصف دراسة تفسير سورة الأنجبوت الآية 45 من وجهات نظر مختلفة في الحفاظ على الأطفال. شخصية. يستخدم هذا البحث أساليب البحث المكتبي التي تم جمعها من خلال الكتب والموسوعات والقواميس والمجلات والوثائق والمجلات وما إلى ذلك. وفي هذا البحث يتبين أن الصلاة على الوجه الصحيح تمنع مرتكبها من الوقوع في المعاصي والمنكرات، وذلك لظهور نور في القلب يمنعه من الاقتراب من المعصية ويوجهه إلى أعمال الرب. في مواجهة تحديات اليوم، يمكن الحفاظ على شخصية الأطفال من خلال توفير التنوير حول الصلاة، والتعلم عن الصلاة وممارستها بشكل جيد.
Rereading QS. Al-A’rāf Ayat 26 sebagai Fenomena Pakaian Syar’i di Indonesia: Tinjauan Tafsir Maqāṣidī Abdul Mustaqim Ikhda Mar’atul Khusna; Rivki Lutfiya Farhan
Jurnal Semiotika Quran Vol 3 No 2 (2023): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v3i2.22616

Abstract

Fashion atau pakaian muslim yang terus berinovasi sedemikian rupa kerap kali memperhatikan pesan yang terkandung dalam al-Qur’an, sebagaimana trend pakaian syar’i yang berkembang belakangan ini. Penelitian ini berjtujuan untuk mencari relevansi trend pakaian syar’i  dengan al-Qur’an surah al-‘Arāf ayat 26. Melalui pendekatan tafsir maqāṣidī yang digagas oleh Abdul Mustaqim dengan metode library reseach penelitian ini menegaskan bahwa; Dalam al-Qur’an surah al-‘Arāf ayat 26 dijumpai  maqāṣid dzāhir dan bāṭin. Maqāṣid dzāhir meliputi hifdz al-dīn; menutup aurat, dan hifz al-nafs; pakaian bertujuan melindungi kulit dari cuaca. Sedangkan maqāṣid bāṭin meliputi nilai al-insāniyyah; pakaain sebagai sarana bergaul dengan etika yang baik sesama manusia, dan nilai al-ḥurriyah ma’a mas’ūliyyah; spirit menjalankan aturan agama dengan baik. Keempat maqāṣid tersebut selaras dengan trend pakaian syar’i  yang berkembang saat ini.
Textual Preferences for the Interpretation of Verses on Social Equality: Study of Wahbah al-Zuhaili's Interpretation in Tafsir al-Munir Ahmad Bastari
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i1.22622

Abstract

This article aims to find out Wahbah al-Zuhaili’s interpretation of the verses on social equality. This is motivated by the fact that al-Zuhaili, who lives in contemporary times, who should interpret contextually, has analyzed the verses on social equality textually. By using qualitative methods and descriptive-analytical data analysis, this article concludes that al-Zuhaili’s interpretation of verses relating to social equality tends to use a textual approach to verses. This can be found in the three examples of al-Zuhaili’s interpretation regarding the verses on social equality, namely equality between the people and leaders (referring to QS. al-Maidah [5]: 42), equality between the rich and poor (referring to QS. al-Nisa' [4]: ​​135), and equality between men and women (referring to QS. al-Hujurat [49]: 13). In interpreting these three main themes, al-Zuhaili reviews the verses textually in a coherent manner and does not discuss the importance of being fair, equal, moderate and not comparing people in the current context. Al-Zuhaili’s interpretation shows that even though he lived in contemporary times, in interpreting the Qur'an he did not adapt it to the social conditions that surrounded his life.
Dialektika Ideologi Islam Tradisionalis dan Reformis: Analisis Pemahaman Bisri Musthafa dan Hasbi Ash-Shiddieqy Deddy Ilyas; Rahmat Hidayat; Thoriqul Aziz; Abdul Kher
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i1.22678

Abstract

Tidak dapat dipungkiri bahwa ideologi yang dianut oleh setiap mufasir tidak dapat dilepaskan dari dalam dirinya etika menafsirkan sebuah ayat al-Qur’an. Studi ini mengkaji tentang dialektika antara ideologi Islam tradisionalis dan reformis yang terdapat dalam tafsir al-Ibriz karya Bisri Musthafa dan tafsir an-Nur karya Hasbi ash-Shiddieqy. Dalam kajian ini, penulis menggunakan studi pustaka (library research) murni dengan menggunakan teori sosiologi pengetahuan dari Karl Mannheim secara deskriptif-komparatif. Dengan demikian, kajian ini menghasilkan bentuk-bentuk dialektika di antara kedua tafsir yang meliputi seputar masalah taqlid, tawassul, dan bid’ah. Dari berbagai masalah tersebut, kedua mufasir memiliki pedapat yang saling bertolak belakang. Bisri sebagai pembela muslim Tradisionalis menerima praktik-praktik tersebut. Sementara Hasbi sebagai pembela Muslim reformis dengan tegas menolaknya.  Dialektika tersebut berdampak pada perkembangan ilmu pengetahuan, pola pikir generasi setelah mufasir tersebut, dan memiliki kontribusi terhadap perkembangan khazanah tafsir al-Qur’an di Indonesia.

Page 5 of 12 | Total Record : 111