cover
Contact Name
Muhammad Arif Syihabuddin
Contact Email
arifmuhammad599@gmail.com
Phone
+6287752724043
Journal Mail Official
miyah.inkafa@gmail.com
Editorial Address
LPPM Institut Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA) Jl. KH. Syafi'i No. 07 Suci Manyar Gresik
Location
Kab. gresik,
Jawa timur
INDONESIA
MIYAH: Jurnal Studi Islam
ISSN : 25497804     EISSN : 25498622     DOI : https://doi.org/10.33754/miyah
Islamic Studies that including Islamic education, language education, Islamic law, interpretation of the Quran and Islamic communication
Articles 216 Documents
IMPEACHMENT PRESIDEN ABDURRAHMAN WAHID DALAM TINJAUAN MAQASID AL SHARI’AH Miftakur Rohman
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 12 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.837 KB) | DOI: 10.33754/miyah.v12i2.155

Abstract

Abstrak: Impeachment merupakan instrumen untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya penyalahgunaan kekuasaan dari pemegangnya, Impeachment didesain sebagai instrumen untuk “menegur” perbuatan menyimpang, penyalahgunaan dan pelanggaran terhadap kepercayaan publik dari orang yang mempunyai jabatan publik. Dalam proses pemberhentian Gus Dur terdapat sejumlah problematika hukum yang sangat mengganjal, yang mengakibatkan kepada konstitusionalitas pemberhentiannya mulai dari pembentukan Pansus Bulog yang cacat hukum, memorandum yang kurang fakta hukum, hingga Sidang Istimewa yang cacat hukum. Dalam prinsipnya Maqa@s}id al syari@’ah, membenarkan pemberhentian presiden dalam masa jabatan (impeachment) sebagaimana maksud dan tujuanya. MPR sebagai lembaga Negara tertinggi mempunyai wewenang memilih dan memberhentikan presiden. Dalam memberhentikan presiden sebaiknya MPR menimbang, mengkaji suatu persoalan yang mendasarinya dengan timbangan maslahah. Maslahah yang dikehendaki adalah maslahah yang bersifat universal serta tidak bertentangan dengan nash (undang undang).Kata Kunci : Impeachment, Presiden, MAQA@S}I
TINJAUAN HUKUM TERHADAP TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (ISTILAH, KONSEP, RUANG LINGKUP SERTA IMPLIKASI HUKUMNYA) Muhammad Rutabuz Zaman
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 12 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.742 KB) | DOI: 10.33754/miyah.v12i2.156

Abstract

Abstrak: Di berbagai negara yang industrinya maju, Tanggungjawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility) atau  disingkat CSR, bukanlah merupakan suatu kewajiban hukum, melainkan suatu tindakan yang berdimensi etis dan moral sehingga pelaksanaanya bersifat sukarela (Voluntery). Di Indonesia, Tanggungjawab perusahaan dijadikan sebagai sebuah kewajiban hukum yang harus dipatuhi oleh perusahaan. Pasal 74 ayat (1) Undang Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang  Perseroan Terbatas menyatakan, “Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. Pasal yang mewajibkan Perusahaan melaksanakan Tanggungjawab Sosial Perusahaan ini, pernah dimohonkan hak uji materil terhadap UUD 1945 di Mahkamah Konstitusi oleh para asosiasi pengusaha, dengan dasar bahwa Pasal tersebut bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1), Pasal 28I ayat (2), dan Pasal 33 ayat (4) UUD 1945, yaitu pada prinsipnya Tanggung jawab perusahaan bersifat sukarela (voluntery). Atas permohonan tersebut Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan uji materiil dan menyatakan bahwa Pasal 74 UU PT tidak bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) jo Pasal 28I ayat (2) jo Pasal 33 ayat (4) UUD 1945. Tanggungjawab Sosial Perusahaan sebagai Kewajiban hukum (legal mandatory) menjadi sebuah ambiguitas di saat tidak didukung dengan kejelasan istilah, konsep, ruang lingkup, mekanisme penerapan yang jelas dan lengkap serta keberadaan sanksi yang tegas yang bersifat imperatif.  Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach), pendekatan argumentasi hukum (legal reasoning) dan membandingkan berbagai peraturan perundang-undangan (comparative approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, tidak adanya ketentuan jelas yang mengatur tentang istilah, konsep, ruang lingkup, mekanisme penerapan yang jelas dan lengkap serta keberadaan sanksi yang tegas yang bersifat imperatif.Kata kunci: Tinjauan hukum, tanggung jawab sosial perusahaan, implikasi hukum
HASANAH AMALIYAH AHLUSSUNNAH WALJAMAAH DALAM MEMBINGKAI KEHARMONISAN SOSIAL BUDAYA DAN MASYARAKAT NUSANTARA Muhammad Shohib Rifa’i
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 12 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.842 KB) | DOI: 10.33754/miyah.v12i2.157

Abstract

Abstrak: Jauh sebelum Islam masuk ke Nusantara, telah disabdakan oleh Rasulullah bahwa umatnya “Islam” akan mengalami perpecahan. Sabda ini menjadi diktum dan sekaligus sebagai petanda bahwa menyebaranya agama Islam sebagai agama besar dunia akan diikuti pula rintangan yang akan menghimpitnya, hal itu ditandai dengan perpecahan tersebut menjadi 73 golongan. Dari 73 golongan itu, akan ada satu yang terselamatkan, hal ini disebutkan oleh rasululllah sebagai golongan ahlisunnah waljamaah. Dalam tulisan ini, akan membahasa tentang hasanah amaliyah ahlisunnah waljamaah dalam membingkai keharmonisan masyarakat. Khususna pada amaliyah istighosah, tawasul tahlilan dan lain sebaginya. Karena masih banyak orang-orang  keliru dalam memahami hakikat Tawassul, Istighasah, Tahil dan Selametan, Oleh Karena itu kami akan sedikit mengupas  hakikat Tawassul, Istighasah, Tahil dan Selametan yang selama ini menjadi corak budaya islam khususnya islam jawa yang berkembang dan terus dijaga dan dilestarikan secara turun temurun hingga saat ini.Kata Kunci: Amaliah, Ahslisunnah waljamaah
KOMUNIKASI INTERPERSONAL PEKERJAAN SOSIAL TERHADAP LANSIA Noviana Aini
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 12 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.527 KB) | DOI: 10.33754/miyah.v12i2.158

Abstract

Abstract: This paper seeks to analyze how social work can utilize communication aspect as a skill for social work practices and how social worker practice their communication with elderly people. Every people who live with elderly have a stigma if communicate with elderly is troublesome. So, to answer that, this paper deals particularly with the four issues as follows: (1) the problem between social work and elderly people; (2) the concept skill of social work interpersonal communication toward social work practices with elderly; (3) elderly people, and their need in live; (4) the connection between social work and communication; (5) the verbal and non verbal in interpersonal communication that should be done by social worker to serve elderly people. The paper focuses its analysis on the interpersonal social work communcation and its connected in communication. The basic argument developed throughout this paper is that social worker can utilize communication aspect for their practices during intervention and assessment process. My paper also use some Koran’s verses to view how is a social worker should’ve be a good proffesional worker. Keywords: Social work, Interpersonal communication, Elderly people.
LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH DAN ANALISIS DEWAN SYARIAH NASIONAL Achmad Lubabul Chadziq
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 15 No. 01 (2019)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.638 KB) | DOI: 10.33754/miyah.v15i01.160

Abstract

Abstrak: Artikel ini menjelaskan tentang Lembaga Keuangan Syariah dan Analisis Dewan Syariah Nasional dimana untuk menampung aspirasi dan kebutuhan yang berkembang di masyarakat, masyarakat diberi kesem-patan seluas-luasnya untuk mendirikan bank berdasarkan prinsip syariah. Termasuk juga meng-konversi dari bank umum yang kegiatan usahanya berdasarkan pada pola konvensional menjadi pola syariah artikel ini akan membahas beberapa akad yang diaplikasikan dalam Lembaga Keuangan Syariah yang nanti akan dianalisis dengan menggunakan fatwa Dewan Syariah Nasional.Kata Kunci : Dewan Syariah Nasional dan keuangan Syari’ah
MISTISISME PESANTREN DALAM REALITAS SOSIAL (EPISTEMOLOGI IRFANI DALAM KISAH MISTIS DI PONDOK PESANTREN MAMBAUS SHOLIHIN) Ali Sodikin
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 15 No. 01 (2019)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.821 KB) | DOI: 10.33754/miyah.v15i01.161

Abstract

Abstrak: Artikel ini menjeleaskan tentang mistis pesantren dimana pesantren seringkali mengundang rasa penasaran bagi para pengamat dalam dan luar negeri untuk melihat serta menganalisis sisi keunikan tersebut. Karenanya pesantren memiliki pesonanya sendiri karena kearifan lokal yang selalu dijaga dan dirawatnya. Sisi unik itulah barangkali yang menjadikan pesantren itu beda dengan lembaga pendidikan lain yang non pesantren. Nilai-nilai kearifan lokalnya yang senantiasa dipegang teguh dan dilestarikan itu menjadi kekuatan tersendiri bagi pesantren di tengah derasnya gempuran arus modernisasi tersebut. Mambaus Sholihin adalah contoh pesantren yang masih kental dengan nilai-nilai kearifan lokalnya. Merujuk pada sejarah awal pendirian, pesantren ini menyisakan pengalaman-pengalaman yang tergolong mistis bagi pelaku sejarahnya. Sehingga kejadian-kejadian unik tersebut bisa kita katakan sebagai peristiwa yang bersifat transenden dan suprarasional. Untuk alasan inilah penulis mencoba mengkaji lebih dalam sisi-sisi keunikan pesantren Mambaus Sholihin, khususnya hal-hal yang bersifat mistis yang mengiringi proses sejarah berdirinya pesantren tersebut. Kiranya menjadi menarik manakala kita melihat sisi-sisi unik tersebut dari sudut pandang epistemologi irfani yang belum begitu banyak diperbincangkan oleh para peneliti.Keyword : Mistik, epistemologi irfani, metafisika
METODE DAKWAH NABI SULAIMAN DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN Afrizal El Adzim Syahputra
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 15 No. 01 (2019)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.311 KB) | DOI: 10.33754/miyah.v15i01.162

Abstract

Abstract: Dakwah is an appeal or invitation to conversion, or an attempt to changethe situation into a better and perfect situation, both for the person and society. Da'wah is one of the teachings of Islam that is obligated of its followers. Success and unsuccess in dakwah is determined by the ability of preachers to use the right methodes. Therefore, the Qur'an contains several methods of da'wah used by people and the previous prophets to invite their followers to become part of the religion of Allah. One of them, prophet Sulaiman methods, when he received information on the where abouts of Queen Balqis and his elders who worshiped the sun, he wanted to invite them to worship Allah SWT. In dakwah, prophet Sulaiman used several methods, including: using the preaching of correspondence, revealing the power and ability of prophet Sulaiman to them, firmly against the target of da'wah, not insulting / taunting the worshipers of the missionary objectives and using the demonstration method. By using that several methods, prophet Suliaman with the permission of Allah can draw the sympathy of Queen Balqis. In the end, she submits and declares her Islam in front of prophet Sulaiman.Key Words: Method, Dakwah, Prophet Sulaiman
HIJRAH DALAM PERSPEKTIF TAFSIR SYA’RAWI: SEBUAH KAJIAN TAFSIR TEMATIK Arif Budiono
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 15 No. 01 (2019)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.087 KB) | DOI: 10.33754/miyah.v15i01.163

Abstract

Abstrak: Artikel ini menjelaskan tentang kajian tafsir tematik yang difokuslan pada peristiwa hijrah. Kita pastinya telah tahu bahwa hijrah merupakan kebangkitan dakwah Rasulullah Saw dalam mengemban misi risalah, dan awal peristiwa keberhasilan Nabi menegakkan kebenaran. Hijrah dilakukan dengan segala kesungguhan dan mujahadah. Menurut Sha’rawi, proses transfomasi muhajadah melalui tiga langkah, perenungan, transformasi diri kedalam sifat Allah dan memandang aktifitas keseharian sebagai dzikir konkret kepada Allah Swt. Pada perkembangannya, makna hijrah tidak hanya meninggalkan suatu tempat saja (hijrah makaniyyah), namun hijrah pun bisa difahami dalam konteks yang lebih luas, yakni hijrah fikriyyah, hijrah shu’ūriyyah, hijrah sulukiyyah dan hijrah i’tiqādiyyah.  Agar amal ibadah seorang muslim berkua-litas dihadapan Allah Swt., 5 hal berikut tidak boleh terpisahkan dalam diri seorang muslim, yakni  Islam, Iman, Ihsan, semangat hijrah (melakukan perubahan agar lebih baik) dan berjihad (melakukan dengan penuh kesungguhan)Kata kunci: Hijrah, Perubahan, Sayyid Sya’rawi
TEKSTUALITAS AL-QUR’AN NAṢR ḤĀMID ABŪ ZAYD (Model Pembacaan dan Implikasinya) Ahmad Shofi Muhyiddin
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 15 No. 01 (2019)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.636 KB) | DOI: 10.33754/miyah.v15i01.165

Abstract

Artikel ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan tentang pemikiran tekstualitas Al-Qur'an Naṣr Ḥāmid, khususnya model pembacaan dan implikasinya terhadap pembacaan produktif Al-Qur'an. Data dari kajian ini diperoleh melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara deskritif-kualitatif. Hasil kajian menemukan bahwa menurut Naṣr Ḥāmid, al-Qur'an bisa dipahami dalam defenisi “etika teologis” dan “etika linguistik”. Al-Qur’an dalam definisi “etika teologis” dipahami sebagai wahyu Tuhan yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. melalui malaikat Jibril. Sedangkan menurut definisi “etika linguistik”, al-Qur'an dipahami sebagai sebuah teks yang terdiri dari kata, kalimat, paragraf dan tanda-tanda baca yang sarat makna. Karenanya dilihat dari aspek ini ia setara dan dapat didekati sebagaimana teks-teks yang lain. “Konsep teks” difokuskan kepada aspek-aspek yang terkait dengan kebudayaan dan tradisi; lebih tepatnya pada masalah historisitas teks, otoritas teks, dan pembacaan kontekstualnya (manhaj al-qirā’ah as-siyāqiyyah) dalam sebuah teks. Kata Kunci: Tekstualitas Al-Qur’an, Model Pembacaan Naṣr Ḥāmid Abū Zayd, dan Implikasi dalam Penafsiran
PENENTUAN JUMLAH GERHANA MATAHARI DENGAN ARGUMEN LINTANG BULAN DAN TEORI ARITMATIKA Ehsan Hidayat
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 15 No. 01 (2019)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (938.482 KB) | DOI: 10.33754/miyah.v15i01.166

Abstract

Abstrak: Gerhana Matahari merupakan salah satu fenomena alam yang terjadi setiap tahun, meski dengan jumlah yang berbeda-beda. Secara teritorial, gerhana bisa terjadi dan teramati sebanyak 1 kali atau dua kali dan secara global, gerhana Matahari bisa terjadi dalam jumlah 2, 3, 4 atau 5. Angka-angka tersebut dengan pasti membentuk suatu pola tersendri, baik teratur maupun tidak teratur. Namun, realitanya belum ada literasi yang menjelaskan proses angka-angka tersebut dengan detail. Algoritma penentuan waktu gerhana Matahari memang dikenal dengan perhitungan yang rumit dan membosankan. Banyaknya alur yang harus dihitung membuat kajian gerhana lebih sedikit diangkat dalam penelitian. Teori aritmatika yang sejatinya menggunakan konsep keteraturan pola dari barisan angka-angka dalam praktiknya belum digunakan sebagai bagian dari algoritma gerhana. Terutama jika dihubungkan dengan argument lintang bulan (F) yang menjadi sarat awal prediksi adanya gerhana Matahari. Artikel ini mengajak anda untuk memahami jumlah gerhana Matahari melalui argument lintang bulan dan teori aritmatika.Keyword: Gerhana Matahari, Aritmatika

Page 7 of 22 | Total Record : 216