cover
Contact Name
Budi Hartoyo
Contact Email
budi-hartoyo@untagsmg.ac.id
Phone
+6285385059811
Journal Mail Official
agrifoodtech@untagsmg.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Agrifoodtech
ISSN : 29637422     EISSN : 29637414     DOI : -
Jurnal Agrifoodtech is a peer-reviewed and open-access journal that aims to expose the scientific discoveries or innovations that focus on food and agricultural technology, i.e., food quality and safety, food biotechnology, food biochemistry, food processing technology and agricultural products, food nutrition and functional food, agroindustry management, and non-food agricultural product processing technology (essential oil, bio-energy, etc.). Focus and Scope: Food Quality and Safety Food Biotechnology Food Biochemistry Food and Agricultural Products Processing Technology Agro-industry Management Postharvest of Agricultural Products Food Nutrition and Functional Food Non-food Agricultural Product Processing Technology (bio-energy, essential oil, etc.)
Articles 91 Documents
Karakteristik Fisik dan Kimia Buah Musiman di Indonesia Lestari, Fatma Puji; Nurlaili, Enny Purwati
Jurnal Agrifoodtech Vol. 3 No. 1 (2024): Juni : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/agrifoodtech.v3i1.1870

Abstract

Buah rambutan, salak, duku dan manggis termasuk ke dalam jenis buah musiman yang mencerminkan keanekaragaman hayati di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik fisik dan kimia pada beberapa buah musiman lokal. Metode yang digunakan melibatkan pengamatan langsung terhadap parameter fisik seperti warna, rasa, berat, kekerasan, dan persentase bagian yang dapat dimakan. Parameter kimia yang diamati meliputi nilai pH, kadar padatan terlarut, dan total asam titrasi. Hasil pengamatan menunjukkan variasi yang signifikan terhadap keempat buah musiman yang diamati. Setiap buah memiliki keunikan secara tampilan fisik dan kandungan kimia yang khas. Studi ini penting dilakukan untuk memahami perbedaan terhadap citra rasa, kualitas, dan nilai gizi sebagai alternatif buah konsumsi dengan harga yang terjangkau. Oleh karena itu, pemanfaatan dan konsumsi buah musiman lokal perlu terus didorong untuk mendukung kesehatan masyarakat dan keberlanjutan agrikultur lokal.
Citarasa Kopi Robusta Dari Berbagai Ketinggian Tempat Penanaman Hartoyo, Budi; Dewanti, Justisia Iriani; Nurlaili, Enny Purwati; Kartikawati, Diah
Jurnal Agrifoodtech Vol. 3 No. 1 (2024): Juni : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/agrifoodtech.v3i1.1888

Abstract

Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan subsektor perkebunan di Indonesia yang dapat bersaing kualitasnya secara global, sehingga kopi memiliki peran cukup strategis dalam perekonomian nasional. Hingga saat ini kebutuhan kopi menunjukkan kecenderungan positif, tidak saja kebutuhan domestik akan tetapi juga kebutuhan dunia yang meningkat dengan laju peningkatan konsumsi kopi 14% setiap tahunnya. Jenis kopi yang banyak diusahakan di Indonesia adalah kopi Robusta dengan luasan hampir 77%. Kopi merupakan produk pertanian yang mengandalkan aspek mutu dan cita rasa. Mutu dan cita rasa kopi dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satu faktor yang berpengaruh adalah ketinggian tempat tanam. Ketinggian tempat tanam yang tepat akan berpengaruh terhadap mutu dan cita rasa kopi, untuk itu dilakukan uji citarasa Kopi Robusta berdasarkan ketinggian tempat penanaman. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat (4) perlakuan berdasarkan ketinggian lokasi penanaman kopi Robusta : Ketinggian lokasi penanaman 650; 750; 379; dan 545 m dpl. Metode pengujian yang digunakan adalah cupping test yang mengikuti kaidah SCA (Specialty Coffee Association) dengan melibatkan 20 orang panelis, terdiri dari 3 orang panelis terlatih seperti barista dan roaster serta 17 orang panelis semi terlatih. Hasil pengujian citarasa seduhan memperlihatkan bahwa total skor untuk kopi Robusta asal ketinggian lokasi penanaman 650 m dpl (K1) menunjukkan nilai tertinggi yaitu sebesar 78,86; disusul kopi Robusta asal ketinggian lokasi penanaman 545 m dpl (K4) mendapatkan nilai skor 77,37, Kopi Robusta asal ketinggian lokasi penanaman 379 m dpl (K3) dengan total skor 76,95 dan nilai terendah pada kopi Robusta asal ketinggian lokasi penanaman 750 m dpl (K2) dengan total skor sebesar 71,38. Kopi Robusta yang dipanen dari berbagai ketinggian tempat penanaman masih belum termasuk kriteria kopi spesialti.
Pemanfaatan Kembali Limbah Roti dalam Proses Produksi Makanan Reuse Of Bread Waste In Food Production Process Nurtekto; Ni Komang Ayu Artiningsih
Jurnal Agrifoodtech Vol. 3 No. 1 (2024): Juni : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/agrifoodtech.v3i1.1969

Abstract

The World Food and Agriculture Organization (FAO) said that one third of the food produced each year, amounting to 1.3 billion tonnes, is food waste. Food waste is food that is fit to be eaten before or after it has expired. Food waste is classified into two: food losse and food waste. food waste based on probability is probably avoidable waste, avoidable food waste, unavoidable food waste. Sampel for probably avoidable waste is breadcrump. But sampel for unavoidable food waste is solid tofu waste. The problem of food waste that has a negative impact on health and the environment can be reduced by utilizing it through the right processing process so that. Reusing food waste will also provide economic value. One of the wastes that can be consumed again but must use a different processing process is probably avoidable waste is the edge of bread that can be made into breadcrumbs, which is flour made from mashed dry bread and waste with the Unavoidable food waste category, for example, is tofu dregs that are reprocessed into tofu dregs flour.
Karakteristik Snack Bar Kombinasi Tepung Jawawut (Setaria italica L. P. Beauv.) dan Tepung Garut (Maranta Arundinacae L.) Qonitah Setiajulihana; Diah Kartikawati; Bambang Hermanu
Jurnal Agrifoodtech Vol. 3 No. 1 (2024): Juni : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/agrifoodtech.v3i1.1970

Abstract

Snack bar is a stick-shaped snack made from flour, seeds and nuts. This research aims to determine snack bar products made from a mixture of millet flour ad arrowroot flour with the addition of walnuts, including physical properties (L*a*b* color values), chemical properties (water, ash, fat, protein and crude fiber contents), and sensory properties based on hedonic test. This study was experimental using Complete Randomized Design (CRD) with the percentage ratio treatments of millet flour and arrowroot flour consisting of formula S1 ((20%:80%); S2(30%:70%); S3(40%:60%); and S4(50%:50%). The data obtained were processed using the Variance Analysis with a confidence level of 95% (α=0,05), and Duncan’s follow-up test. Snack bars have color values L* 41,660-52,580; color a* 6,6317-9,0667; color b* 19,9017-23,9667. The results of proximate analysis showed that snack bars contains 13,7176-17,8433 of water; 0,8459-1,4455% of ash; 5,8175-7,3264% of protein; 20,5320-24,2649% of fat; 48,7558-50,1120%; and 3,6339-5,1826% of crude fiber. Millet flour increases ash and protein content, but fat and crude fiber content decrease. Based on the hedonic test, it is known that panelists liked the taste and texture of S4 snack bar with an average score 3,94 and 3,68; while for the aroma in the treatment of S3 snack bar with an average score of 3,97 and the color in the treatment of S2 snack bar with an average score of 3,97 (hedonic test scale 1=very dislike, 2=dislike, 3=neutral, 4=like, 5=very like). Snack bars combination 30% millet flour:70% arrowroot flour have the best chemical characteristics (value 1,167) and the best sensory characteristics on snack bars from combination of 50% millet four:50% arrowroot flour (value 0,745) based on the DeGarmo effectiveness index test.
INOVASI GINGERBREAD BERBAHAN DASAR KENTANG DENGAN PERLAKUAN YANG BERBEDA Avelia, Variska; Anggarini, Dola Mareta; Nurazizah, Desi; Maolana, Fedo Alta; Annajah, Abdillah Fathan Generus; Muflihati, Iffah; Affandi, Arief Rakhman
Jurnal Agrifoodtech Vol. 4 No. 2 (2025): Desember : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sc2sfj28

Abstract

Gingerbread merupakan kue kering yang terbuat dengan bahan dasar tepung terigu dengan campuran jahe dan bubuk kayu manis. Ketergantungan penggunaan tepung terigu pada pembuatan produk pangan sampai saat ini masih sangat tinggi, salah satu upaya untuk mengurangi penggunaan tepung terigu adalah dengan memanfaatkan tepung kentang sebagai pengganti tepung terigu. Jahe memiliki beragam jenis dan karakteristik yang berbeda, penggunaan jahe yang biasanya yang digunakan dalam pembuatan gingerbread yang sering dijumpai dipasaran berupa jenis jahe merah, jahe gajah dan jahe emprit. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh jenis dan bentuk jahe terhadap kualitas gingerbread cookies. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 perlakuan jenis jahe yaitu jahe gajah dan jahe merah, dan dalam bentuk bubuk dan cair. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan jenis jahe berupa bubuk dan cair menunjukkan pengaruh signifikan terhadap parameter fisik dan organoleptik produk. Penggunaan jahe bubuk cenderung meningkatkan kekerasan, serat kasar, dan daya kembang, serta menghasilkan warna yang lebih gelap dan tekstur yang lebih padat. Sebaliknya, jahe cair menghasilkan gingerbread yang lebih lembut, berwarna lebih cerah, dan tekstur lebih rapuh. Analisis sensoris menunjukkan preferensi konsumen terhadap gingerbread dengan perlakuan jahe cair dari segi warna dan aroma lebih disukai, sementara dari aspek tekstur dan kekerasan, jahe bubuk lebih disukai.  
FILLING OTOMATIS SOLUSI PENGEMASAN KECAP UMKM MASA KINI Ilham Holik, Dido; Pertiwi, Winda; Azizah; Suseno, Rahayu
Jurnal Agrifoodtech Vol. 4 No. 2 (2025): Desember : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/e02jce60

Abstract

Kecap merupakan produk fermentasi kedelai yang berperan penting sebagai bumbu penyedap dalam masakan. Berdasarkan rasa dan kekentalannya, kecap dibedakan menjadi kecap manis dan kecap asin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan teknologi filling otomatis sebagai solusi dalam meningkatkan efisiensi proses pengemasan botol kecap pada skala UMKM. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Permintaan pasar yang tinggi terhadap kecap manis mendorong tumbuhnya industri kecil. Namun, UMKM ini menghadapi kendala dalam hal kapasitas produksi dan konsistensi mutu produk. Salah satu proses yang memerlukan waktu lama dan tidak efisien adalah pengemasan manual. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diterapkan solusi teknologi berupa filling machine semi otomatis. Teknologi ini mempercepat proses pengisian botol, mengurangi kehilangan produk akibat tumpahan, serta meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga kerja. Meskipun memerlukan investasi awal yang cukup besar dan ketergantungan pada listrik, penggunaan filling machine semi otomatis terbukti efektif dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi kecap di skala UMKM.
PENGARUH PENAMBAHAN KEJU DANGKE TERHADAP HASIL JADI KASTANGEL DITINJAU DARI UJI ORGANOLEPTIK DAN DAYA TERIMA MASYARAKAT Annisa Nurul Ramadhani; Yunus Karyanto
Jurnal Agrifoodtech Vol. 4 No. 2 (2025): Desember : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/45ew6526

Abstract

Salah satu jenis kuliner yang banyak digemari masyarakat adalah kue kering. Kastengel, sebagai salah satu jenis kue kering warisan Belanda. Kastengel adalah salah satu jenis kue kering yang populer di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan keju dangke terhadap hasil jadi produk kastangel ditinjau dari uji organoleptic meliputi warna, aroma, tekstur dan rasa, serta daya terima masyarakat terhadap olahan produk kastangel dengan tambahan keju dangke. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan tiga perlakuan konsentrasi keju dangke, yaitu 50%, 100%, dan 150% dari jumlah keju yang digunakan dalam resep standar.Data diperoleh melalui uji organoleptik oleh panelis terhadap lima parameter: rasa, aroma, tekstur luar,tekstur dalam dan warna. Selain itu, dilakukan uji daya terima untuk mengetahui tingkat kesukaan terhadap produk. Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap masing-masing parameter yang diuji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1). Penambahan keju dangke memberikan pengaruh yang signifikan (p < 0,05) terhadap parameter rasa dan aroma, namun tidak signifikan terhadap tekstur dan warna. 2). Perlakuan dengan penambahan keju dangke 100% merupakan yang paling disukai berdasarkan hasil uji daya terima masyarakat, dengan skor rata-rata tertinggi pada semua parameter.
PENGARUH SUBTITUSI TEPUNG PATI GANYONG TERHADAP RASA DAN TEKSTUR KUE BROWNIES Alifiyah Malika Sabina Putri; Yunus Karyanto
Jurnal Agrifoodtech Vol. 4 No. 2 (2025): Desember : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/wa54hp47

Abstract

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, termasuk berbagai jenis umbi-umbian yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif, salah satunya adalah umbi ganyong. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung pati ganyong terhadap rasa dan tekstur brownies, serta tingkat kesukaan konsumen terhadap brownies. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Perlakuan yang diberikan berupa substitusi tepung pati ganyong dengan konsentrasi 0%, 25%, 50%, dan 75% terhadap total tepung dalam adonan brownies. Data dikumpulkan melalui uji organoleptik oleh 73 panelis tidak terlatih yang menilai dari aspek rasa, tekstur, tingkat kesukaan. Analisis data dilakukan dengan uji normalitas, homogenitas, ANOVA satu arah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh signifikan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subtitusi tepung pati ganyong memberikan pengaruh signifikan terhadap atribut rasa brownies pada konsentrasi penambahan tepung ganyong sebanyak 25%,  atribut tekstur brownies pada konsentrasi penambahan tepung ganyong sebanyak 75%. Tingkat kesukaan konsumen terhadap brownies tertinggi pada konsentrasi penambahan tepung ganyong sebanyak 50%. Penelitian ini menunjukkan bahwa tepung pati ganyong berpotensi menjadi bahan baku alternatif dalam pembuatan brownies sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya pangan lokal yang lebih luas.
ANALISIS MUTU KIMIA PRODUK KUPANG KRISPI DI UD. BUNDA FOODS Udin, Dwi Alfin; Ikerismawati, Senja
Jurnal Agrifoodtech Vol. 4 No. 2 (2025): Desember : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/txqt7358

Abstract

Mutu dalam pengolahan pangan menjadi hal penting untuk menjamin produk yang aman, higienis, dan berkualitas. Suatu produk dikatakan bermutu apabila mampu memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan oleh pihak terkait dalam hal ini adalah Standar Nasional Indonesia (SNI). Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kualitas kimia dari produk kupang krispi yang dihasilkan oleh UD. Bunda Foods, dengan menitikberatkan pada tiga parameter utama yaitu kadar air, kadar abu, dan kadar protein. Kupang krispi dipilih sebagai bahan uji karena merupakan inovasi olahan hasil laut yang memiliki nilai gizi tinggi serta daya simpan yang baik, sehingga potensial dijadikan produk camilan unggulan. Metodologi penelitian mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 8272:2016 tentang kerupuk ikan, mengingat belum tersedia standar khusus untuk kupang krispi. Pengujian kadar air menggunakan metode gravimetri, analisis kadar abu dilakukan melalui proses pembakaran pada suhu 550°C, dan pengukuran kadar protein menggunakan metode Kjeldahl. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kadar air berada pada rata-rata 6,75%, kadar protein mencapai 19,20%, dan kadar abu sebesar 2,5%. Jika dibandingkan dengan ketentuan dalam SNI, kadar air dan protein telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan, namun kadar abu jauh melebihi batas maksimal yang diperbolehkan sebesar 0,2%. Kupang krispi memiliki mutu kimia yang baik dari sisi nutrisi dan ketahanan produk, namun masih diperlukan perbaikan terutama dalam mengendalikan kadar abu yang tinggi. Oleh karena itu, peningkatan sanitasi dalam proses produksi dan pemilihan bahan baku yang lebih bersih menjadi penting agar produk dapat memenuhi standar nasional secara menyeluruh dan mampu bersaing secara optimal di pasar.
ANALISIS KINERJA EKSPOR OLAHAN KAKAO INDONESIA DI PASAR GLOBAL Hariri, Rif'an
Jurnal Agrifoodtech Vol. 4 No. 2 (2025): Desember : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/dheah575

Abstract

Cocoa fruit is one of the crops with a long history in Indonesia. Cocoa powder and chocolate are among the export commodities processed from cocoa fruit. Currently, cocoa product exports fluctuate annually. The challenges faced in cocoa product exports are diverse. This study aims to analyze the performance of cocoa product exports in the global market. The data used in this study was obtained from UN Comtrade and the Central Statistics Agency (BPS) from 2006 to 2024. The methods used in this study include Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA) and Export Competitiveness Index (ECI). The results show that the export performance of cocoa powder is relatively good, while that of chocolate is not so good. This is based on the RSCA and ECI values of cocoa powder, which are better than those of chocolate. The average RSCA value of cocoa powder is 0.62, while the average RSCA value of chocolate is -0.93. The average ECI value for cocoa powder is 0.95 and the average ECI value for chocolate is 0.97. One of the factors contributing to the good export performance of cocoa powder is that the export value of cocoa powder is higher than that of chocolate. Strict safety standards in export destination countries also pose a barrier to chocolate exports

Page 9 of 10 | Total Record : 91