cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 396 Documents
Optimalisasi pengetahuan keluarga melalui pendidikan kesehatan sebagai upaya pencegahan pada pasien risiko jatuh Nida Nafisah; Dewi Kusumaningsih; M. Ricko Gunawan
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3833

Abstract

Background: Falls are a common patient safety incident in hospitals that can lead to injury, prolonged hospital stays, and even death. A lack of family knowledge regarding fall prevention measures can increase the incidence of falls during the course of care. Health education using leaflets is one strategy to improve family knowledge on preventing falls. Purpose: To provide education to families in order to optimize their knowledge regarding nursing care for fall prevention. Method: The activity was conducted from May 22–24, 2026, in the Nuwo Wawai Internal Medicine Ward (4th Floor) at General Hospital (RSUD) Jenderal Ahmad Yani Metro. The study population consisted of 212 family members accompanying patients at risk of falling. Using a non-probability sampling technique, 30 respondents family members actively involved in patient care were selected. Respondents' knowledge and understanding were measured using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational activity. Evaluation involved statistical data analysis and descriptive reporting to illustrate the distribution of knowledge levels before and after the health education session on fall prevention measures. Results: The study showed that the mean age of respondents was 32.9 years, with the majority (17 respondents; 56.7%) falling within the 26–35 age range. Regarding gender, 14 respondents (46.7%) were male and 16 (53.3%) were female. The most common level of education was high school (10 respondents; 33.3%), and the majority of respondents were manual laborers (16 respondents; 53.3%). The mean family knowledge score was 7.27 ± 1.865 points prior to health education and increased to 9.73 ± 1.982 points afterward. The paired sample t-test yielded a p-value of <0.000 (<0.05). Conclusion: This activity demonstrates that health education using leaflets effectively increases family knowledge regarding fall prevention for at-risk patients. This improvement indicates that leaflet-based health education is a viable strategy for enhancing family involvement in ensuring patient safety and preventing falls during hospitalization. Suggestion: Hospitals are encouraged to implement structured and continuous health education for patients' families regarding fall prevention. Education should commence upon admission, utilizing easily understood materials such as leaflets, posters, or audiovisual media to enable families to play an active role in maintaining patient safety throughout the course of treatment. Keywords: Fall risk; Family support; Patient safety; Prevention Pendahuluan: Risiko jatuh merupakan salah satu insiden keselamatan pasien yang sering terjadi di Rumah Sakit dan dapat menyebabkan cedera, peningkatan lama rawat, bahkan kematian. Kurangnya pengetahuan keluarga mengenai upaya pencegahan pasien risiko jatuh dapat meningkatkan kejadian jatuh selama proses perawatan. Pendidikan kesehatan menggunakan media leaflet menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan keluarga dalam mencegah risiko jatuh. Tujuan: Untuk memberikan edukasi pada keluarga sebagai upaya optimalisasi pengetahuan asuhan keperawatan pencegahan pasien risiko jatuh. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 22–24 Mei 2026 di Ruang Penyakit Dalam Nuwo Wawai Lantai 4 RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh keluarga pasien yang mendampingi pasien risiko jatuh sebanyak 212 orang. Dengan menggunakan teknik non-probability sampling mendapatkan 30 responden yang merupakan keluarga yang sedang melakukan asuhan keperawatan pasien. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi dilakukan dengan menganalisis data dengan statistik dan disampaikan secara deskriptif untuk menggambarkan distribusi tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah kegiatan pendidikan kesehatan mengenai upaya pencegahan pasien risiko jatuh. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata responden adalah 32.9 tahun dan mayoritas berada direntang usia 26-35 tahun yaitu sebanyak 17 responden (56.7%). Untuk jenis kelamin responden sebanyak 14 responden (46.7%) adalah laki-laki dan sebanyak 16 responden (53.3%) adalah perempuan. Sebagian besar tingkat pendidikan responden adalah Sekolah Menengah Atas yaitu sebanyak 10 responden (33.3%), sedangkan status pekerjaan responden adalah sebagian besar sebagai buruh yaitu sebanyak 16 responden (53.3%). Rata-rata pengetahuan keluarga sebelum diberikan pendidikan kesehatan adalah 7.27±1.865 poin dan meningkat menjadi 9.73±1.982 poin setelah diberikan pendidikan kesehatan. Hasil paired sample t-test menunjukkan nilai p-value<0.000 (<0.05). Simpulan: Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan menggunakan media leaflet berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan keluarga mengenai upaya pencegahan pasien risiko jatuh. Peningkatan pengetahuan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan melalui media leaflet dapat menjadi salah satu strategi edukasi yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan keluarga dalam menjaga keselamatan pasien dan mencegah terjadinya insiden pasien jatuh selama menjalani perawatan di Rumah Sakit. Saran: Kepada pihak Rumah Sakit diharapkan dapat meningkatkan pelaksanaan pendidikan kesehatan secara terstruktur dan berkelanjutan kepada keluarga pasien mengenai upaya pencegahan pasien risiko jatuh. Edukasi dapat dilakukan sejak awal pasien masuk ruang perawatan dengan memanfaatkan media edukasi yang mudah dipahami, seperti leaflet, poster, maupun media audiovisual, sehingga keluarga dapat berperan aktif dalam menjaga keselamatan pasien selama menjalani perawatan.
Edukasi peran fisioterapi dalam pencegahan diabetes mellitus melalui latihan fisik Maulana Ahsan Fadhail; Akmil Angfasa Ridho; Anwaar Isnaenuddin
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3866

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a non-communicable disease with a steadily rising prevalence; Indonesia ranks fifth globally, with an estimated 20.4 million people living with DM in 2024. Bandar Lampung City is recorded as having one of the highest burdens of DM cases in Lampung Province; however, public knowledge regarding DM prevention and management specifically concerning the roles of physiotherapy and physical exercise remains low. Purpose: To enhance public knowledge regarding the role of physiotherapy in DM prevention and management through education on physical exercise. Method: This community service activity was conducted at the At-Taubah Mosque (Perum BKP Block S, LK III, Bandar Lampung City) on June 12, 2026. The initiative aimed to inform the community about DM and the role of physiotherapy in its management and prevention. Thirty women from a local religious study group participated in the activity. Respondent knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Data were analyzed descriptively and tested using simple statistics (paired t-test) to determine the significance of changes in knowledge scores and to illustrate the distribution of knowledge levels before and after the activity. An observational evaluation was also conducted to assess the activity's outcomes, involving guidance provided to participants during practical simulations of physiotherapy techniques. Results: The mean age of participants was 45.8 years, with the majority (n=22; 73.3%) falling within the 40–50 age range. Most participants had a high school education (n=19; 63.3%), and the majority were housewives (n=24; 80.0%). Regarding knowledge levels prior to the educational activity, 3 participants (10.0%) were in the "sufficient" category and 27 (90.0%) were in the "poor" category; following the activity, there was a proportional improvement, with 21 participants (70.0%) reaching the "good" category and 9 (30.0%) the "sufficient" category. The mean knowledge score increased from 45.67 points at the pre-test to 81.50 points at the post-test (p<0.000). Conclusion: The community service activity educating participants on the role of physiotherapy in the prevention and management of diabetes mellitus through physical exercise was successfully conducted and had a significant impact on increasing participants' knowledge. This achievement demonstrates that a health education approach combining theoretical instruction with live physical exercise demonstrations is an effective strategy for improving public health literacy, particularly regarding the role of physiotherapy in diabetes management. Suggestion: Participants are encouraged to apply the knowledge gained in their daily lives specifically by making a habit of engaging in at least 150 minutes of physical activity per week, practicing diabetic foot exercises independently at home, and promptly consulting a physiotherapist if they experience symptoms related to nerve or circulatory disorders in their feet. Keywords: Diabetes mellitus; Health education; Healthy lifestyle; Physiotherapy; Physical exercise Pendahuluan: Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat, di mana Indonesia menempati peringkat kelima dunia dengan estimasi 20.4 juta penyandang DM pada tahun 2024. Kota Bandar Lampung tercatat sebagai salah satu wilayah dengan beban kasus DM tertinggi di Provinsi Lampung, namun tingkat pengetahuan masyarakat tentang pencegahan dan penanganan DM, khususnya melalui peran fisioterapi dan latihan fisik, masih tergolong rendah. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai peran fisioterapi dalam pencegahan dan penanganan DM melalui edukasi latihan fisik. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Masjid At-Taubah, Perum BKP Blok S, LK III, Kota Bandar Lampung, pada tanggal 12 Juni 2026. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan dan peran fisioterapi dalam penanganan serta pencegahan DM pada masyarakat. Kegiatan diikuti oleh 30 ibu-ibu kelompok pengajian yang merupakan warga masyarakat sekitar untuk menjadi partisipan. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Data dianalisis secara deskriptif dan diuji menggunakan statistik sederhana (paired t-test) untuk melihat signifikansi perubahan skor pengetahuan dan menggambarkan distribusi tingkat pengetahuan responden antara sebelum dan sesudah kegiatan edukasi. Evaluasi berdasarkan observasi juga dilakukan sebagai penilaian akhir dari pencapaian kegiatan dengan pendampingan kepada partisipan ketika melakukan praktik simulasi penerapan fisioterapi. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata partisipan adalah 45.8 tahun dan mayoritas berada direntang usia 40-50 tahun yaitu sebanyak 22 partisipan (73.3%). Sebagian besar tingkat pendidikan partisipan adalah Sekolah Menengah Atas yaitu sebanyak 19 partisipan (63.3%) dan mayoritas status pekerjaan partisipan adalah sebagai ibu rumah tangga yaitu sebanyak 24 partisipan (80.0%). Tingkat pengetahuan partisipan sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 3 partisipan (10.0%) kategori cukup, dan sebanyak 27 partisipan (90.0%) kategori kurang, sedangkan setelah kegiatan edukasi mengalami peningkatan secara proporsional menjadi sebanyak 21 partisipan (70.0%) kategori baik, dan sebanyak 9 partisipan (30.0%) kategori cukup. Sedangkan rata-rata skor pengetahuan partisipan mengalami peningkatan dari 45.67 poin pada saat pretest menjadi 81.50 poin pada posttest, dan mendapatkan p-value<0.000. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi peran fisioterapi dalam pencegahan dan penanganan diabetes mellitus melalui latihan fisik berjalan dengan baik dan memberikan dampak yang bermakna terhadap peningkatan pengetahuan peserta. Pencapaian ini menunjukkan bahwa pendekatan edukasi kesehatan yang memadukan penyampaian materi secara teoritis dengan demonstrasi latihan fisik secara langsung merupakan strategi yang efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, khususnya terkait peran fisioterapi dalam pencegahan dan penanganan DM. Saran: Bagi masyarakat sasaran, diharapkan untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dengan membiasakan diri melakukan aktivitas fisik secara rutin minimal 150 menit per minggu, mempraktikkan senam kaki diabetik secara mandiri di rumah, serta segera berkonsultasi dengan tenaga fisioterapi apabila mengalami gejala yang berhubungan dengan gangguan saraf atau sirkulasi pada kaki.
Edukasi gizi dan pengukuran status gizi (LILA) pada remaja putri sebagai upaya deteksi dini risiko kekurangan energi kronis A. Fatimah Jamir; Ayu Irawati; Arifah Usman; Wati Wati
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3884

Abstract

Background: Adolescence is a period of rapid growth and development characterized by increased requirements for energy, protein, vitamins, and minerals. Chronic Energy Deficiency (CED) among adolescent girls is a nutritional issue requiring early detection, as it can impact growth, health, academic concentration, and future reproductive readiness. Purpose: To provide knowledge regarding healthy eating patterns and balanced nutrition, and to detect CED risk early through Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) measurements among adolescents in a school setting. Method: This community service activity was conducted on June 7, 2026, at SMA Makassar Mulia. The activity employed participatory, promotive, preventive, and empowerment approaches, involving the school in nutritional status monitoring and peer education. Fifteen adolescent girls participated as respondents, with the school facilitating the process. Respondent knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Evaluation involved analyzing the aggregated questionnaire results and descriptively reporting on achievements and improvements in respondents' knowledge regarding balanced nutrition and MUAC measurement as a means of early CED risk detection. Results: The activity proceeded successfully and received a positive response from participants and the school. Demographic data showed that the majority of respondents (60.0%) were 17 years old. MUAC measurements revealed that 8 respondents (53.3%) were at risk of CED, while 7 respondents (46.7%) were not. Regarding knowledge scores, the mean score was 65 points prior to the educational activity and increased to 95 points following the session. Conclusion: Nutritional status screening via mid-upper arm circumference (MUAC) measurement and nutrition education for adolescent girls offers benefits by enabling the early detection of the risk of Chronic Energy Deficiency (CED) and enhancing participants' knowledge regarding balanced nutrition, anemia, healthy eating habits, and the consumption of blood-supplementing tablets. These results indicate that integrating screening with nutrition education is an effective approach to raising awareness and supporting efforts to prevent nutritional issues among adolescent girls. Suggestion: It is recommended that schools through peer empowerment conduct periodic activities such as nutritional status monitoring every three to six months, ongoing nutrition education, and support for participants identified as being at risk of CED, as part of school-based adolescent health programs. Keywords: Adolescent girls; CED; Early detection; Mid-upper arm circumference; Nutrition education Pendahuluan: Masa remaja merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang berlangsung secara cepat serta ditandai dengan meningkatnya kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral. Kekurangan energi kronis (KEK) pada remaja putri merupakan masalah gizi yang perlu dideteksi sejak dini karena dapat memengaruhi pertumbuhan, kesehatan, konsentrasi belajar, serta kesiapan reproduksi pada masa mendatang. Tujuan: Untuk memberikan pengetahuan mengenai pola makan sehat, dan gizi seimbang serta mendeteksi risiko KEK sejak dini melalui pengukuran lingkar lengan atas (LILA) pada remaja di lingkungan sekolah. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 7 Juni 2026 di SMA Makassar Mulia. Kegiatan dilakukan dengan pendekatan partisipatif, promotif, preventif, dan pemberdayaan yang melibatkan pihak sekolah dalam pemantauan status gizi dan edukasi teman sebaya. Kegiatan diikuti 15 remaja putri untuk menjadi responden dan dimediasi oleh pihak sekolah. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi kegiatan dilakukan dengan menganalisa hasil akumulasi kuesioner dan disampaikan secara deskriptif terkait pencapaian dan peningkatan pengetahuan responden tentang gizi seimbang dan pengukuran LILA sebagai upaya deteksi dini risiko KEK pada remaja. Hasil:  Kegiatan berlangsung dengan baik serta memperoleh respons positif dari peserta dan pihak sekolah yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 17 tahun yaitu sebesar 60.0%, sedangkan berdasarkan hasil pengukuran LILA mendapatkan sebanyak 8 responden (53.3%) berisiko mengalami KEK dan sebanyak 7 responden (46.7%) tidak berisiko mengalami KEK. Sedangkan rata-rata skor pengetahuan responden sebelum kegiatan edukasi mendapatkan nilai mean 65 poin dan mengalami peningkatan setelah kegiatan edukasi mendapatkan nilai mean 95 poin.   Simpulan: Kegiatan skrining status gizi melalui pengukuran lingkar lengan atas (LILA) dan edukasi gizi pada remaja putri memberikan manfaat dalam mendeteksi secara dini risiko kekurangan energi kronis (KEK) serta meningkatkan pengetahuan peserta mengenai gizi seimbang, anemia, pola makan sehat, dan konsumsi tablet tambah darah. Hasil tersebut menunjukkan bahwa integrasi skrining dan edukasi gizi merupakan pendekatan yang efektif dalam meningkatkan kesadaran serta mendukung upaya pencegahan masalah gizi pada remaja putri. Saran: Diharapkan pihak sekolah melalui pemberdayaan teman sebaya untuk melakukan kegiatan secara berkala melalui pemantauan status gizi setiap tiga hingga enam bulan, edukasi gizi berkelanjutan, serta pendampingan bagi peserta yang teridentifikasi berisiko KEK sebagai bagian kegiatan kesehatan remaja di sekolah.
Pemberdayaan remaja putri dengan edukasi nutrisi pencegahan anemia melalui media e-leaflet Sri Kurnia Dewi; M. Dodik Prasetyo; Dini Justian; Dhinny Novriyanti; M. Radi Pratama
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3921

Abstract

Background: Anemia is a condition in which the red blood cell count or the concentration of hemoglobin (Hb) the oxygen-carrying component of blood is insufficient to meet the body's physiological needs. Empowering adolescents through nutrition education aimed at anemia prevention plays a crucial role in reducing the incidence of anemia among adolescent girls. Implementation can be achieved through various methods, including direct health promotion, social media, e-leaflets, and other media. Purpose: To improve adolescent girls' understanding and knowledge regarding nutrition for anemia prevention using e-leaflets. Method: This community service activity consisted of interactive education on nutrition and anemia for adolescent girls. The activity took place on Monday, July 20, 2026, at the MTs Manarulhuda Cianjur Hall, involving 147 female students as respondents and four students from STIKes Permata Nusantara. The educational session was conducted through lectures and interactive discussions supported by e-leaflets. Respondent knowledge and understanding were measured using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational activity. Evaluation involved data analysis and descriptive reporting to illustrate the distribution of respondents' knowledge levels before and after the health education session. An observational evaluation also served as a final assessment of the activity's achievements, alongside providing guidance to the school on delivering initial interventions to prevent anemia and its consequences. Results: The majority of respondents were 13 years old (n=83; 56.5%). Regarding knowledge levels concerning nutrition and anemia, there was a proportional increase in the "good" knowledge category, rising from 14.3% to 67.3%. Conclusion: Nutrition education aimed at anemia prevention, delivered via e-leaflets, proved effective in enhancing adolescent girls' knowledge regarding nutrition for anemia prevention. This increase in knowledge is expected to raise awareness and foster anemia-prevention behaviors, thereby contributing to efforts to reduce the risk of stunting in future generations. Suggestion: It is recommended that this activity be continued sustainably through collaboration with various stakeholders, such as school organizations, Community Health Centers (Puskesmas), and relevant health agencies. Periodic education is expected to maintain and further improve the knowledge, attitudes, and behaviors of adolescent girls regarding anemia prevention, ensuring the program's benefits are sustained over the long term. Keywords: Adolescent girls; Anemia; E-leaflet; Health education; Nutrition Pendahuluan: Anemia merupakan suatu keadaan ketika jumlah sel darah merah atau konsentrasi pengangkut oksigen dalam darah hemoglobin (Hb) tidak mencukupi untuk kebutuhan fisiologis tubuh. Pemberdayaan remaja terkait edukasi nutrisi pencegahan anemia, merupakan salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam mengurangi kejadian anemia di kalangan remaja putri. Dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dengan berbagai metode, diantaranya dengan promosi kesehatan secara langsung, penggunaan media sosial penggunaan media e-leaflet dan media yang lainnya Tujuan: Untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan remaja putri tentang nutrisi dalam pencegahan anemia dengan media e-leaflet. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah edukasi interaktif mengenai nutrisi dan anemia pada remaja putri. Kegiatan dilaksanakan pada hari senin 20 Juli 2026 di Aula MTS Manarulhuda Cianjur. Melibatkan 147 siswi untuk menjadi responden dan 4 mahasiswa dari STIKes Permata Nusantara. Penyuluhan dilakukan melalui ceramah dan diskusi interaktif yang didukung dengan media e-leaflet. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi dilakukan dengan menganalisis data dan disampaikan secara deskriptif untuk menggambarkan distribusi tingkat pengetahuan responden antara sebelum dan sesudah kegiatan pendidikan kesehatan. Evaluasi berdasarkan observasi juga dilakukan sebagai penilaian akhir dari pencapaian kegiatan dengan pendampingan terhadap pihak sekolah untuk dapat memberikan penanganan awal dalam mencegah terjadinya anemia dan dampaknya. Hasil: Menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 13 tahun yaitu 83 responden (56.5%). Sedangkan untuk tingkat pengetahuan responden tentang nutrisi dan anemia menunjukkan adanya peningkatan secara proporsional pengetahuan kategori baik dari sebesar 14.3% menjadi sebesar 67.3%. Simpulan: Kegiatan edukasi nutrisi pencegahan anemia yang disampaikan melalui media e-leaflet terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang nutrisi pencegahan anemia. Peningkatan pengetahuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan prilaku pencegahan anemia dan memberikan kontribusi dalam upaya penurunan risiko terjadinya stunting pada generasi mendatang. Saran: Agar kegiatan ini terus ditindak lanjuti secara berkesinambungan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan seperti organisasi sekolah, Puskesmas dan instansi kesehatan terkait. Edukasi yang dilakukan secara berkala diharapkan mampu mempertahankan serta meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku remaja putri dalam mencegah anemia sehingga manfaat program dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Edukasi kesehatan tentang alat kontrasepsi dalam rahim (KB AKDR) pada wanita usia subur Wedharing Sekar Asmarani; Gunarmi Gunarmi; Zesika Intan Navelia
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3949

Abstract

Background: The Intrauterine Device (IUD) is the most effective long-acting reversible contraceptive (LARC) method; however, its uptake remains low—including within the service area of ​​the Cisoka Community Health Center due to a lack of knowledge among women of reproductive age. Proper understanding is essential for these women to select and decide on the appropriate contraceptive method. A solid understanding helps increase knowledge, foster positive attitudes, and correct misconceptions regarding family planning methods. Purpose: To increase knowledge about IUD contraception among women of reproductive age as an effort to boost the number of family planning acceptors. Method: The activity was conducted on April 28, 2026, in the service area of ​​the Cisoka Community Health Center, Tangerang Regency, involving 30 respondents (women of reproductive age). A direct, participatory educational approach was employed, utilizing lectures supported by leaflets. Levels of knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, with questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Evaluation involved analyzing the aggregated questionnaire data and descriptively reporting the respondents' level of understanding regarding IUD contraception. Results: The results showed that the respondents' mean age was 34.03 years, with the majority (73.3%) falling within the 30–39 age range. Most respondents (63.3%) had a high school education, and the majority (73.3%) were housewives. Questionnaire analysis revealed an improvement in respondents' knowledge regarding IUD contraception: the proportion of respondents in the "sufficient" knowledge category shifted from 70.0% before the educational activity to 80.0% in the "good" category after the activity. Conclusion: Educational activities utilizing a participatory approach and leaflets were highly effective in increasing the knowledge of women of reproductive age regarding the benefits of IUD contraception. Enhanced understanding of health aspects associated with IUD use motivated these women and encouraged community uptake of the method; this benefits family health by effectively preventing long-term pregnancy, reducing maternal mortality rates, and averting future health complications for the family. Suggestion: Health facilities are encouraged to collaborate with community health volunteers to provide periodic, sustained education that reaches a wider audience, thereby boosting the number of IUD users. Additionally, Community Health Centers should provide consultation services regarding contraceptive use and address misconceptions prevalent in the community. Keywords: Contraceptive acceptors; IUD contraception; Leaflets; Women of reproductive age Pendahuluan: Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) merupakan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) yang paling efektif, namun cakupan penggunanya masih rendah, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Cisoka, akibat kurangnya pengetahuan wanita usia subur (WUS). Pemahaman bagi wanita usia subur (WUS) sangat diperlukan dalam pemilihan dan menentukan alat kontrasepsi yang tepat. Pemahaman yang baik membantu meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap positif, dan meluruskan persepsi keliru tentang metode KB. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang KB AKDR kepada wanita usia subur (WUS) sebagai upaya peningkatan akseptor KB. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada 28 April 2026 di wilayah kerja Puskesmas Cisoka Kabupaten Tangerang. Melibatkan 30 responden yang merupakan wanita usia subur. Kegiatan menggunakan pendekatan edukatif partisipatif langsung yang disampaikan melalui ceramah dan dibantu media leaflet. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi kegiatan dilakukan dengan menganalisa hasil akumulasi kuesioner dan disampaikan secara deskriptif terkait tingkat pemahaman responden tentang KB AKDR. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata responden adalah 34.03 tahun dan mayoritas berada direntang usia 30-39 tahun sebesar 73.3%. Sebagian besar tingkat pendidikan responden adalah Sekolah Menengah Atas yaitu sebesar 63.3% dan mayoritas status pekerjaan responden adalah ibu rumah tangga yaitu sebesar 73.3%. Sedangkan analisa kuesioner menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan responden tentang KB AKDR dari sebelum kegiatan edukasi adalah sebesar 70.0% kategori cukup menjadi sebesar 80.0% kategori baik setelah kegiatan edukasi. Simpulan: Kegiatan penyuluhan melalui pendekatan partisipatif dengan berbasis leaflet sangat efektif meningkatkan pengetahuan WUS tentang manfaat KB AKDR. Peningkatan pemahaman tentang kesehatan melalui penggunaan AKDR juga memberikan motivasi WUS dan mendorong masyarakat sebagai akseptor AKDR yang bermanfaat bagi kesehatan keluarga karena efektif mencegah kehamilan jangka panjang, menekan angka kematian ibu, dan mencegah komplikasi masalah kesehatan keluarga di masa datang. Saran: Diharapkan kepada fasilitas kesehatan dengan melibatkan kader untuk memberikan edukasi secara berkala dan berkelanjutan dengan jangkauan masyarakat yang lebih luas sehingga dapat mendorong peningkatan jumlah akseptor AKDR. Diharapkan juga pada Puskesmas untuk menyediakan tempat konsultasi kepada masyarakat terkait penggunaan alat kontrasepsi dan memberikan solusi dari permasalahan miskonsepsi yang terjadi di masyarakat.
Edukasi pencegahan hipertensi dan management stress melalui latihan relaksasi otot progresif pada lansia di Panti Jompo Sari Narulita; M. Arsyad Subu; Lazuardy Alief; Luthfi Handayani; Aulia Raihana Putri; Salwa Salsabila Dewi Syah Putri; Septiani Septiani
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3973

Abstract

Background: Population aging has become one of the most significant global demographic transitions, accompanied by rising multimorbidity and an increased demand for preventive healthcare. The proportion of individuals aged 60 and older is rising rapidly, resulting in a greater burden of chronic non-communicable diseases. Hypertension is among the most common chronic conditions affecting older adults and remains a key preventable risk factor. The growing number of older adults necessitates comprehensive health promotion strategies that focus on early detection and preventive intervention services. Purpose: To provide knowledge regarding hypertension and guidance on stress management through progressive muscle relaxation for elderly residents of a nursing home. Method: The activity was conducted on May 22, 2026, at the Sasana Tresna Werdha Dukuh 5 Nursing Home in East Jakarta. This community service program employed a community-based health promotion approach utilizing a preventive intervention model. Participants included 35 elderly residents, alongside nursing faculty and students from Binawan University. Evaluation was based on observation and descriptive analysis, assessing the participants' knowledge levels regarding hypertension and their ability to independently manage stress using progressive muscle relaxation. Results: The results showed that the largest proportion of participants (40.0%) fell into the Obesity Class I category based on Body Mass Index (BMI); 80.0% were not taking antihypertensive medication; and the majority (34.3%) had blood pressure readings classified as Stage 2 hypertension. Health screening data indicated a mean systolic blood pressure of 131.5 ± 22.8 mmHg (range: 94–187 mmHg) and a mean diastolic blood pressure of 75.8 ± 12.7 mmHg (range: 56–102 mmHg). Conclusion: This community service program demonstrates that integrating health screenings with hypertension education and progressive muscle relaxation (PMR) training is a feasible and practical strategy for enhancing hypertension prevention among elderly residents of nursing homes. Combining PMR with education motivates participants through simple, safe, and low-cost behavioral techniques that can be practiced independently to support psychological well-being and cardiovascular health. Suggestion: Future community service programs are encouraged to incorporate regular blood pressure monitoring, structured follow-up education, and consistent progressive muscle relaxation practice as part of routine health promotion activities in nursing homes. Keywords: Elderly; Hypertension; Progressive muscle relaxation; Stress management Pendahuluan: Penuaan populasi telah menjadi salah satu transisi demografis paling signifikan di seluruh dunia, disertai dengan peningkatan multimorbiditas dan peningkatan permintaan akan kesehatan preventif. Proporsi individu berusia 60 tahun ke atas terus meningkat pesat, mengakibatkan beban penyakit kronis tidak menular yang lebih besar. Hipertensi termasuk di antara penyakit kronis yang paling umum menyerang orang dewasa yang lebih tua dan tetap menjadi salah satu faktor risiko yang dapat dicegah. Meningkatnya jumlah orang dewasa yang lebih tua membutuhkan strategi promosi kesehatan komprehensif yang berfokus deteksi dini dan layanan intervensi pencegahan. Tujuan: Untuk memberikan pengetahuan tentang hipertensi dan pendampingan dalam pengelolaan stress melalui relaksasi otot progresif pada lansia yang tinggal di panti jompo. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 2026 di Sasana Tresna Werdha Panti Jompo Dukuh 5, Jakarta Timur. Program pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan promosi kesehatan berbasis komunitas dengan model intervensi pencegahan. Kegiatan ini melibatkan 35 lansia untuk menjadi partisipan dan dosen serta mahasiswa keperawatan dari Universitas Binawan. Evaluasi dilakukan berdasarkan observasi dan disampaikan secara deskriptif dalam menggambarkan hasil pencapaian tingkat pengetahuan partisipan tentang hipertensi dan kemampuan dalam melakukan manajemen stress melalui relaksasi otot progresif secara mandiri. Hasil: Menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan memiliki indeks massa tubuh dalam kategori obesitas-I yaitu sebesar 40.0%, sebagian besar partisipan tidak menggunakan obat antihipertensi yaitu sebesar 80.0%, dan mayoritas tekanan darah partisipan termasuk dalam kategori hipertensi tahap-2 yaitu sebesar 34.3%. Sedangkan hasil data pemeriksaan kesehatan partisipan menunjukkan bahwa rata-rata tekanan darah sistolik adalah 131.5±22.8 mmHg dalam rentang 94-187 mmHg dan rata-rata tekanan darah diastolik adalah 75.8±12.7 mmHg dalam rentang 56-102 mmHg. Simpulan: Program pelayanan masyarakat ini menunjukkan bahwa mengintegrasikan pemeriksaan kesehatan dengan edukasi hipertensi dan pelatihan relaksasi otot progresif (PMR) merupakan strategi yang layak dan praktis untuk meningkatkan pencegahan hipertensi di kalangan lansia yang tinggal di panti jompo. Penggabungan PMR dengan edukasi memberikan motivasi kepada peserta melalui teknik perilaku yang sederhana, aman, dan berbiaya rendah yang dapat dipraktikkan secara mandiri untuk mendukung kesejahteraan psikologis dan kesehatan kardiovaskular. Saran: Program pelayanan masyarakat di masa mendatang didorong untuk memasukkan pemantauan tekanan darah secara berkala, pendidikan tindak lanjut terstruktur, dan praktik relaksasi otot progresif secara teratur sebagai bagian dari kegiatan promosi kesehatan rutin di panti jompo.
Edukasi kesehatan kepada orangtua melalui asuhan keperawatan keluarga dalam pencegahan stunting pada balita Dava Arya Putra; Rudi Winarno; Eka Trismiyana
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3641

Abstract

Background: Stunting is a chronic nutritional issue that impacts child growth and development. According to the WHO (2023), 148 million children under five worldwide suffer from stunting. In Indonesia, the stunting prevalence was 21.6% in 2022; in Lampung Province, it was 15.9% in 2024; and in Bandar Lampung City, it was 14.8%, with 27 cases recorded in the Panjang Community Health Center area. Health education for parents serves as a stunting prevention strategy by improving knowledge and behaviors regarding the fulfillment of children's nutritional needs. Therefore, nursing care focused on stunting prevention for children under five delivered through health education for parents was implemented at the Panjang Community Health Center in Bandar Lampung City in 2026. Purpose: To provide direct education through nursing care to parents regarding stunting prevention. Method: This activity involved nursing care using a case study approach, conducted from January to February 2026 at the Panjang Community Health Center, Bandar Lampung City. The population consisted of 14 families with children under five showing indications of stunting. Through purposive sampling, two families with children diagnosed with stunting and for whom the nursing diagnosis was "deficient knowledge" were selected. The educational content covered measurements of weight, height, and head circumference (compared against age-based standards); the frequency of breastfeeding and complementary feeding; the child's daily diet; and the parents' level of understanding regarding balanced nutrition and growth and development stimulation. Evaluation was conducted by assessing questionnaire scores obtained before (pre-test) and after the educational activity. Results: An improvement in understanding regarding child growth and development was observed, evidenced by the monitoring of weight and height relative to age, an understanding of necessary nutritional intake and portion sizes, and health consultations with healthcare facilities regarding stunting. Respondent 1’s knowledge score (percentage of correct answers) was 20% prior to the educational activity and rose to 80% afterward. Meanwhile, Respondent 2’s knowledge score was 40% before the activity and increased to 90% after the activity. Conclusion: Direct educational activities combined with nursing care for families affected by stunting are highly effective in enhancing family knowledge and understanding regarding the management of stunting. Increased parental understanding of stunting also fosters greater awareness of adopting healthy lifestyle behaviors, thereby aiding in the recovery of affected children and the prevention of stunting. Keywords: Balanced nutrition; Health education; Nursing care; Stunting Pendahuluan: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Menurut WHO tahun 2023, sebanyak 148 juta balita di dunia mengalami stunting. Di Indonesia, prevalensi stunting tahun 2022 sebesar 21.6%, sedangkan di Provinsi Lampung tahun 2024 sebesar 15.9% dan di Kota Bandar Lampung sebesar 14.8%, dengan 27 kasus di wilayah Puskesmas Panjang. Pendidikan kesehatan kepada orang tua menjadi salah satu upaya pencegahan stunting karena dapat meningkatkan pengetahuan dan perilaku dalam pemenuhan gizi anak. Oleh karena itu, dilakukan asuhan keperawatan kepada orang tua dalam pencegahan stunting pada balita melalui pendidikan kesehatan di Puskesmas Panjang Kota Bandar Lampung tahun 2026. Tujuan: Untuk memberikan edukasi langsung dengan melakukan asuhan keperawatan kepada orangtua dalam pencegahan stunting. Metode: Kegiatan ini merupakan asuhan keperawatan dengan pendekatan studi kasus yang dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2026 di Puskesmas Panjang Kota Bandar Lampung. Populasi dalam kegiatan ini adalah 14 keluarga dengan balita yang terindikasi stunting. Dengan teknik purposive sampling mendapatkan 2 keluarga pasien stunting dengan diagnosis keperawatan defisit pengetahuan. Materi penyuluhan meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala untuk bandingkan dengan standar usia, frekuensi pemberian ASI/MPASI, dan jenis makanan harian anak serta tingkat pemahaman orang tua mengenai gizi seimbang dan stimulasi tumbuh kembang. Evaluasi dilakukan dengan melakukan pengkajian skor kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi. Hasil: Menunjukkan peningkatan pemahaman tentang tumbuh kembang anak dengan memonitor berat badan dan tinggi badan sesuai usianya, memahami kebutuhan asupan gizi dan porsi makan yang harus dipenuhi, dan melakukan konsultasi kesehatan terkait stunting kepada fasilitas kesehatan. Tingkat pengetahuan responden 1 mendapatkan jawaban benar sebelum kegiatan edukasi sebanyak 20% dan meningkat setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 80%. Sedangkan pengetahuan responden 2 mendapatkan jawaban benar sebelum kegiatan edukasi sebanyak 40% dan meningkat setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 90%. Simpulan: Kegiatan edukasi langsung dengan asuhan keperawatan pada keluarga dengan stunting sangat efektif meningkatkan pengetahuan dan pemahaman keluarga untuk mengatasi masalah kejadian stunting. Meningkatnya pemahaman orang tua terhadap kejadian stunting juga memberikan dampak pada kesadaran dalam menerapkan perilaku hidup sehat dalam membantu pemulihan dan pencegahan anak dengan masalah stunting.
Pendidikan kesehatan tentang pemanfaatan rebusan jahe merah-kayu manis dalam penanganan dismenore pada remaja putri Shella Indrasmawati; Resa Livia Nica; Riska Oktalina
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3700

Abstract

Background: Dysmenorrhea is menstrual pain frequently experienced by adolescent girls that can interfere with daily activities, school attendance, and academic concentration. Providing health education accompanied by a demonstration on preparing a red ginger and cinnamon decoction is important so that adolescents understand menstrual pain and are able to apply complementary treatment options that are practical, measurable, and safe. Purpose: To provide health education, practical guidance, and the use of a red ginger and cinnamon decoction to reduce menstrual pain intensity among adolescent girls. Method: The activity was conducted at MTs Tri Bhakti Alhusna, Purbolinggo District, East Lampung Regency, over two days on February 13–14, 2025. The population consisted of 35 female students; purposive sampling was used to select 26 students as respondents. Health education was delivered through concise and practical lectures. The intervention involved administering 250 ml of a herbal decoction made from red ginger and cinnamon, consumed twice daily in the morning (07:00) and the afternoon (16:00). A numeric rating scale (NRS 0–10) was used to measure pain intensity levels before and after the intervention. Evaluation was carried out using a one-group pretest-posttest approach, and data were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test to determine the significance of the difference in pain intensity before and after the intervention. Results: The study showed that the respondents' pain intensity prior to the intervention had a mean score of 7.88 (SD ±1.243) within a range of 5–9 points, whereas after a two-day intervention, the mean score was 3.46 (SD ±1.655) within a range of 1–6 points. The Wilcoxon signed-rank test revealed a significant difference between the pre-test and post-test results (Z = -4.488, p < 0.001). Conclusion: The community service activity regarding health education and the use of a red ginger and cinnamon decoction yielded positive results. This decoction serves as a simple, affordable, accessible, and relatively safe non-pharmacological alternative for alleviating menstrual pain. Suggestion: It is recommended that educational activities on managing dysmenorrhea through the use of red ginger and cinnamon decoctions be conducted sustainably among adolescent girls, reaching a wider audience. These educational sessions should incorporate demonstrations, discussions, instructional materials, and hands-on practice to ensure participants clearly understand preparation methods, serving sizes, consumption schedules, safety considerations, and warning signs requiring medical attention. Keywords: Adolescent girls; Cinnamon; Dysmenorrhea; Health education; Red ginger Pendahuluan: Dismenore merupakan nyeri haid yang sering dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, kehadiran di sekolah, serta konsentrasi belajar. Pendidikan kesehatan yang disertai demonstrasi rebusan jahe merah-kayu manis penting diberikan agar remaja memahami nyeri haid dan mampu menerapkan pilihan perawatan komplementer yang praktis, terukur, dan aman. Tujuan: Memberikan pendidikan kesehatan, pendampingan praktik, dan penggunaan rebusan jahe merah-kayu manis untuk menurunkan intensitas nyeri haid pada remaja putri. Metode: Kegiatan dilaksanakan di MTs Tri Bhakti Alhusna, Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur selama dua hari yaitu pada tanggal 13-14 Februari 2025. Populasi dalam kegiatan ini adalah 35 siswi dan dengan teknik purposive sampling mendapatkan 26 siswi untuk menjadi responden. Penyuluhan kesehatan diberikan melalui ceramah secara ringkas dan aplikatif. Intervensi yang diberikan adalah pemberian 250 ml minuman herbal rebusan jahe merah dan kayu manis yang di minum 2 kali sehari setiap pagi (jam 07.00) dan sore hari (jam 16.00). Instrumen yang digunakan dalam kegiatan ini adalah numeric rating scale (NRS 0-10) untuk mengukur tingkat intensitas nyeri sebelum dan sesudah intervensi. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest dan data dianalisa menggunakan uji wilcoxon signed-rank untuk melihat signifikansi perbedaan intensitas nyeri antara sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Menunjukkan bahwa intensitas nyeri responden sebelum intervensi mendapatkan nilai mean sebesar 7.88 poin dengan nilai standar deviasi sebesar ±1.243 poin dari rentang nilai 5-9 poin, sedangkan setelah intervensi selama 2 hari mendapatkan nilai mean sebesar 3.46 poin dengan nilai standar deviasi sebesar ±1.655 poin dari rentang nilai 1-6 poin. Berdasarkan uji wilcoxon signed-rank, perbedaan antara pretest dan posttest mendapatkan nilai Z= -4.488 dan p-value<0.001. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat mengenai pendidikan kesehatan dan pendayagunaan rebusan jahe merah-kayu manis menunjukkan hasil yang positif. Rebusan jahe merah dan kayu manis dapat digunakan sebagai alternatif nonfarmakologis yang sederhana, murah, mudah diperoleh, dan relatif aman untuk membantu mengurangi nyeri haid. Saran: Diharapkan kegiatan edukasi mengenai penanganan dismenore melalui pendayagunaan rebusan jahe merah-kayu manis perlu dilaksanakan secara berkelanjutan komunitas remaja putri dengan sasaran yang lebih luas. Edukasi sebaiknya disertai demonstrasi, diskusi, media panduan, dan praktik langsung agar peserta lebih mudah memahami cara pembuatan, porsi, jadwal konsumsi, keamanan penggunaan, serta tanda bahaya yang memerlukan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Sosialisasi sehat tanpa hipertensi (SEHATI) pada ibu kader PKK sebagai upaya pencegahan hipertensi Azizah Puspaningtyas; Ayik Mirayanti Mandagi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3741

Abstract

Background: Hypertension is a public health issue with a high prevalence, particularly among women of reproductive age. Limited early detection and knowledge regarding hypertension prevention at the community level necessitate educational interventions. The "SEHATI" (Healthy Without Hypertension) outreach program was designed to increase knowledge and facilitate the early detection of hypertension among family welfare empowerment (FWE) cadres in Banjar Village, Licin District, Banyuwangi. Purpose: To evaluate the effectiveness of the "SEHATI" program in increasing knowledge about hypertension and assessing blood pressure status among FWE cadres as a hypertension prevention measure. Method: The activity was conducted on Saturday, May 31, 2025, at the Banjar Village Hall, Licin District, Banyuwangi. A one-group pretest-posttest design was employed, utilizing purposive sampling to select 20 FWE cadres as respondents. The intervention consisted of educational sessions including lectures, participatory discussions, and educational games alongside anti-hypertension exercises and blood pressure screenings. Knowledge improvement was measured using pretest and posttest questionnaires. Descriptive data analysis was used to describe respondent characteristics and blood pressure screening results, while inferential analysis using a paired t-test was employed to measure the improvement in knowledge among the FWE cadres of Banjar Village. Results: The study showed that the mean age of respondents was 40.2 years (SD ±5.47 years), with the majority (n=10; 50.0%) falling within the 30–40 age range. Blood pressure assessments revealed that most respondents (n=10; 50.0%) fell into the Stage 1 hypertension category. Meanwhile, a paired-samples t-test comparing pre-test and post-test knowledge scores yielded a Sig. (2-tailed) value of 0.0001623. Conclusion: The "Sehat Tanpa Hipertensi" (SEHATI) program demonstrated a significant positive impact on increasing the knowledge of FWE cadre members regarding hypertension risks. A combination of education, games, and physical activity (anti-hypertension exercises) contributed positively to improving the participants' knowledge. Early detection through blood pressure checks demonstrated that community-based screening is effective in preventing fatal complications, thereby enabling rapid intervention based on required health services. Suggestion: It is recommended that the SEHATI program be continued and expanded to the entire community of Banjar Village. Continuous education regarding healthy diets, physical activity, and early hypertension detection should be strengthened to translate knowledge into behavioral change. Regular blood pressure monitoring should be conducted particularly for pre-hypertensive and hypertensive groups with support from the Community Health Center and the Integrated Health Post . Keywords: FWE cadre members; Health education; Hypertension; Prevention Pendahuluan: Hipertensi menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi tinggi, khususnya pada perempuan usia produktif. Keterbatasan deteksi dini dan pengetahuan mengenai pencegahan hipertensi di tingkat komunitas memerlukan intervensi edukatif. Program sosialisasi "SEHATI" (Sehat Tanpa Hipertensi) dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan mendeteksi hipertensi dini pada ibu kader PKK Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Tujuan: Menilai efektivitas sosialisasi “SEHATI” dalam meningkatkan pengetahuan tentang hipertensi dan mendeteksi status tekanan darah pada ibu kader PKK sebagai upaya pencegahan hipertensi. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 31 Mei 2025 di Balai Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Kegiatan ini menggunakan pendekatan one group pretest and posttest design dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling mendapatkan 20 ibu kader PKK untuk menjadi responden. Intervensi diberikan berupa edukasi melalui ceramah, diskusi partisipatif, games edukatif, senam anti hipertensi, dan pemeriksaan tekanan darah. Peningkatan pengetahuan diukur menggunakan instrumen kuesioner pretest dan posttest. Analisis data deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik dan hasil pemeriksaan tekanan darah responden dan analisis inferensial menggunakan paired t-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan ibu kader PKK Desa Banjar. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata responden adalah 40.2 tahun dengan standar deviasi ±5.47 tahun dan mayoritas responden berada direntang usia 30-40 tahun yaitu sebanyak 10 responden (50.0%). Sedangkan untuk pemeriksaan tekanan darah responden menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam kategori hipertensi tingkat-1 yaitu sebanyak 10 responden (50.0%). Sementara itu uji paired samples test antara nilai pengetahuan pretest dan posttest mendapatkan nilai sig. (2-Tailed) sebesar 0.0001623. Simpulan: Program sehat tanpa hipertensi (SEHATI) terbukti memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan ibu kader terkait risiko hipertensi. Kombinasi edukasi, games, dan aktivitas fisik (senam anti hipertensi) berkontribusi positif terhadap peningkatan pengetahuan sasaran. Deteksi dini pengecekan tekanan darah juga menunjukkan bahwa skrining komunitas efektif dalam mencegah komplikasi fatal sehingga dapat mengambil langkah intervensi cepat berdasarkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan. Saran: Disarankan program SEHATI dilanjutkan dan diperluas ke seluruh masyarakat Desa Banjar. Perkuat edukasi berkelanjutan tentang pola makan sehat, aktivitas fisik, dan deteksi dini hipertensi agar pengetahuan berubah menjadi perilaku. Lakukan pemantauan rutin tekanan darah, terutama pada kelompok pra-hipertensi dan hipertensi, dengan dukungan Puskesmas dan Posyandu.
Peningkatan pengetahuan dan sikap pasangan pranikah melalui edukasi PMOS Lailatul Maghfiroh; Ayik Mirayanti Mandagi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3746

Abstract

Background: Polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) is a serious multi system hormonal disorder affecting women's reproductive health; however, public awareness particularly among pre-marital couples remains low. Purpose: To increase knowledge regarding reproductive health and PMOS among pre-marital couples. Method: This educational activity on PMOS for pre-marital couples was conducted on December 13 and 27, 2023, at the Office of Religious Affairs (KUA) in Banyuwangi City District, Banyuwangi Regency, East Java. The activity aimed to provide an understanding of PMOS to couples attending pre-marital classes at the KUA prior to their marriage solemnization. Twenty women from pre-marital couples participated as respondents. Knowledge levels were assessed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Evaluation involved analyzing the aggregated questionnaire results and descriptively reporting the respondents' knowledge gains regarding PMOS. Results: All participants (100%) attended the activity, with an active questioning rate of 25%. Following the educational session, respondents demonstrated increased knowledge in the following areas: the definition of PMOS (25% increase), the causes of PMOS (15% increase), and the long-term effects of PMOS (35% increase). Meanwhile, understanding regarding the partner's role in PMOS prevention was already at 100% prior to the educational activity. Conclusion: Reproductive health education regarding polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) significantly influences the knowledge and attitudes of pre-marital couples. Targeted education effectively enhances awareness and understanding of PMOS, thereby contributing to the prevention of reproductive health complications within the community. Suggestion: It is recommended that the Banyuwangi City Office of Religious Affairs (KUA) permanently integrate PMOS education into the pre-marital class curriculum and optimize the use of visual aids such as posters and leaflets in service areas through ongoing collaboration with the local Community Health Center Additionally, the Community Health Center is encouraged to facilitate early screening for the risk of this endocrine-metabolic disorder using simple questionnaires during the mandatory pre-marital health examinations for prospective couples. Keywords: Attitudes; Health education; Knowledge; PMOS; Pre-marital couples Pendahuluan: Polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) merupakan gangguan hormonal multi sistem serius yang memengaruhi kesehatan reproduksi wanita, namun kesadaran masyarakat khususnya pasangan pranikah mengenai kondisi ini masih tergolong rendah. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi mengenai PMOS pada pasangan pranikah. Metode: Kegiatan edukasi PMOS kepada pasangan pranikah ini dilaksanakan pada tanggal 13 dan 27 Desember 2023 di Kantor Urusan Agama atau KUA Banyuwangi Kota Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pemahaman tentang PMOS kepada pasangan pranikah yang menjalani kelas pranikah di KUA sebelum pelaksanaan akad nikah. Melibatkan 20 perempuan pasangan pranikah menjadi responden. Pengukuran tingkat pengetahuan dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi kegiatan dilakukan dengan mengkaji hasil akumulasi kuesioner dan disampaikan secara deskriptif terkait pencapaian dan peningkatan pengetahuan responden tentang PMOS. Hasil: Menunjukkan seluruh peserta (100%) hadir mengikuti kegiatan dengan tingkat keaktifan bertanya sebesar 25%. Terdapat peningkatan pengetahuan responden setelah kegiatan edukasi mengenai pengertian PMOS sebesar 25%, penyebab PMOS sebesar 15%, dan efek jangka panjang PMOS sebesar 35%. Sementara itu, pemahaman mengenai peran pasangan dalam pencegahan PMOS sebelum kegiatan edukasi sudah mencapai 100%. Simpulan: Kegiatan edukasi kesehatan reproduksi tentang polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap pasangan pranikah. Meningkatnya pengetahuan melalui edukasi yang terarah terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang PMOS, sekaligus memberikan kontribusi terhadap pencegahan komplikasi kesehatan reproduksi di masyarakat. Saran: Diharapkan kepada KUA Banyuwangi Kota untuk secara permanen mengintegrasikan edukasi PMOS ke dalam kurikulum kelas pranikah serta mengoptimalkan penggunaan media visual seperti poster dan leaflet di ruang pelayanan melalui sinergi berkelanjutan bersama Puskesmas setempat. Kepada pihak Puskesmas juga diharapkan dapat memfasilitasi screening dini risiko gangguan endokrin-metabolik ini melalui kuesioner sederhana saat pemeriksaan kesehatan prasyarat nikah calon pengantin.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue