cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 396 Documents
Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut menggunakan media poster pada siswa Sekolah Dasar Utari Zulkaidah; Rezki Dirman; Sultan Amin Yasin; Supiana Supiana
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3635

Abstract

Background: Oral health is a crucial component of general health that supports a child's growth and development. However, oral diseases particularly dental caries remain prevalent health issues among school-aged children. Purpose: To enhance students' knowledge regarding oral hygiene and the prevention of oral diseases through the use of posters. Method: The community service activity was carried out on Saturday, April 18, 2026, at Elementary School 34 Paconne, North Belopa District, Luwu Regency, South Sulawesi. The initiative aimed to impart knowledge and teach oral hygiene practices to children, involving 40 students from SD 34 Paconne as participants. Knowledge levels were assessed using questionnaires administered before (pre-test) and after (post-test) the educational session. Evaluation was carried out through direct observation and descriptive analysis, comparing pre-test and post-test scores regarding oral health. Results: A shift in students' knowledge levels was observed following the poster-based educational activity; students participated enthusiastically, engaged actively in the Q&A session, and successfully demonstrated correct tooth-brushing techniques. There was a marked improvement in the students' oral health knowledge: the proportion of students with a "good" level of knowledge rose from 20.0% prior to the activity to 75.0% afterward. Conclusion: The educational activity regarding oral hygiene and the prevention of oral diseases, utilizing posters as a medium, proved highly effective among elementary school students. The activity was successfully conducted and received a positive response from the students. Posters helped enhance the students' knowledge of oral health, while demonstrations and a mass tooth-brushing session provided hands-on practical experience. This activity is expected to foster oral hygiene habits among elementary school students from an early age. Suggestion: It is recommended that similar activities be conducted on a continuous basis and integrated with the School Dental Health Program (UKGS) in elementary schools. This approach aims to instill healthy lifestyle habits early on, ensuring long-term benefits. Keywords: Dental disease prevention; Health education; Oral health; Posters Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan umum yang berperan dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, penyakit gigi dan mulut, terutama karies gigi, masih menjadi masalah kesehatan yang banyak ditemukan pada anak usia sekolah. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan siswa mengenai pemeliharaan dan pencegahan penyakit gigi dan mulut melalui media poster. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan pada hari Sabtu, 18 April 2026 di Sekolah Dasar 34 Paconne, Kecamatan Belopa Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan dan cara menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak. Melibatkan 40 siswa SD 34 Paconne untuk menjadi responden. Penilaian tingkat pengetahuan responden menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan setelah kegiatan edukasi (post-test). Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung dan secara deskriptif dengan melihat peningkatan pengetahuan responden antara nilai pre-test terhadap nilai post-test terkait kesehatan gigi dan mulut dalam kegiatan pengabdian ini. Hasil: Adanya perubahan tingkat pengetahuan siswa sebelum dan sesudah dilakukan kegiatan edukasi menggunakan media poster, siswa mengikuti kegiatan dengan antusias, aktif dalam sesi tanya jawab, serta mampu mempraktikkan teknik menyikat gigi yang benar. Terdapat peningkatan pengetahuan responden tentang kesehatan gigi dan mulut, dimana responden yang memiliki pengetahuan dalam kategori baik sebelum kegiatan edukasi hanya sebesar 20.0% dan setelah kegiatan edukasi menjadi sebesar 75.0%. Simpulan: Kegiatan penyuluhan pemeliharaan dan pencegahan penyakit gigi dan mulut menggunakan media poster sangat efektif pada siswa Sekolah Dasar. Kegiatan terlaksana dengan baik dan mendapat respons positif dari siswa. Media poster membantu meningkatkan pengetahuan siswa mengenai kesehatan gigi dan mulut, sedangkan demonstrasi dan sikat gigi massal memberikan pengalaman praktik secara langsung. Kegiatan ini diharapkan dapat mendukung terbentuknya perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sejak dini pada siswa Sekolah Dasar. Saran: Diharapkan kegiatan serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dan diintegrasikan dengan program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) di Sekolah Dasar agar dapat menanamkan pola hidup sehat sejak dini sehingga dampaknya dapat dirasakan secara jangka panjang.
Kegiatan sekolah pranikah adaptif untuk mempersiapkan calon ibu sehat fisik dan mental dalam menghadapi transisi kehamilan Sarif Febriandi; Eka Oktavia; Elsa Adawiyah Siregar; Nasa Sintia
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3638

Abstract

Background: The transition toward pregnancy is a sensitive phase for prospective brides, requiring thorough preparation to prevent risks such as stunting, birth defects, and maternal or infant mortality. However, conditions in the field reveal a gap in understanding and low awareness among prospective brides in Karang Hamlet regarding self-screening and meeting preconception nutritional needs. Purpose: To enhance the physical and mental readiness of prospective brides for pregnancy through adaptive pre-marital education. Method: The activity was conducted in Karang Hamlet, Singosarean Village, on Saturday, November 18, 2025, at 13:00 WIB. The aim of this community service initiative was to educate prospective brides on pregnancy readiness. The activity involved 40 participants and utilized an interactive counseling approach. Education focused on mental strengthening through stress management training, building confidence in fetal care, and emphasizing the importance of emotional support from family. Questionnaires assessing preconception readiness and perceptions of the counseling session were administered before (pre-test) and after (post-test) the educational activity. Evaluation was carried out by comparing pre-test and post-test scores to provide a descriptive overview of the activity's outcomes. Results: The study showed that the mean age of respondents was 25.10 years (SD ±5.70 years), with the largest proportion (60.0%) falling within the 21–35 age range. Most respondents were unmarried (70.0%), held a high school education as their highest qualification (75.0%), and were self-employed (37.5%); the majority (55.0%) had previously received pre-marital education. Evaluation results demonstrated the intervention's success, evidenced by a significant increase in the mean preconception readiness score from 2.37 to 2.83 points. Conclusion: The Adaptive Pre-marital School program proved highly effective in enhancing the physical and mental readiness, as well as the positive clinical perceptions, of prospective mothers. Increased preconception readiness, coupled with high motivation to receive education, yielded positive outcomes and created opportunities to integrate stunting prevention and the promotion of Clean and Healthy Living Behaviors (PHBS) within the community. Suggestion: Future community service programs should implement a longitudinal monitoring scheme to ensure long-term behavioral consistency. Furthermore, educational approaches must be designed to be highly personalized to accommodate the diverse backgrounds and unique characteristics of the respondents. Keywords: Adaptive pre-marital school; Mental readiness; Preconception readiness; Pregnancy; Prospective mothers Pendahuluan: Masa transisi menuju kehamilan merupakan fase sensitif bagi calon pengantin wanita yang memerlukan persiapan matang guna mencegah risiko stunting, cacat lahir, hingga kematian ibu dan anak. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan pemahaman dan rendahnya kesadaran calon pengantin di Padukuhan Karang mengenai skrining mandiri serta pemenuhan gizi prakonsepsi. Tujuan: Untuk meningkatkan kesiapan fisik dan mental calon pengantin wanita melalui edukasi pranikah adaptif dalam menghadapi kehamilan. Metode: Kegiatan dilaksanakan di Padukuhan Karang, Kalurahan Singosarean pada hari Sabtu, 18 November 2025 pukul 13:00 WIB. Sasaran kegiatan pengabdian ini adalah memberikan edukasi kesiapan calon pengantin wanita dalam menghadapi kehamilan. Kegiatan ini melibatkan 40 orang sebagai responden yang dilakukan dengan pendekatan konseling interaktif. Edukasi berfokus pada penguatan mental melalui pelatihan manajemen stres, membangun kepercayaan diri dalam merawat janin, serta menekankan pentingnya dukungan emosional dari keluarga. Kuesioner kesiapan prakonsepsi dan persepsi terhadap kegiatan penyuluhan, diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Evaluasi dilakukan dengan melihat peningkatan nilai kuesioner antara pre-test terhadap post-test untuk menggambarkan secara deskriptif dari hasil kegiatan. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata responden adalah 25.10 tahun dengan standar deviasi ±5.70 tahun dan sebagian besar responden berada di rentang usia 21–35 tahun yaitu sebesar 60.0%. sebagian besar responden belum menikah yaitu sebesar 70.0%, mayoritas responden memiliki pendidikan terakhir SMA yaitu sebesar 75.0%, sebagian besar responden memiliki profesi sebagai wiraswasta yaitu sebesar 37.5% dan mayoritas responden pernah mendapatkan edukasi pranikah yaitu sebesar 55.0%. Hasil evaluasi menunjukkan adanya keberhasilan intervensi yang ditandai dengan peningkatan rata-rata nilai kesiapan prakonsepsi secara signifikan dari 2.37 poin menjadi 2.83 poin. Simpulan: Program Sekolah Pranikah Adaptif terbukti sangat efektif meningkatkan kesiapan fisik, mental, serta persepsi klinis positif calon ibu. Peningkatan kesiapan prakonsepsi dengan motivasi tinggi dalam menerima edukasi juga memberikan dampak positif serta membuka peluang integrasi pencegahan stunting dan penguatan PHBS di masyarakat. Saran: Pelaksanaan program pengabdian berikutnya perlu menerapkan skema pemantauan longitudinal guna memastikan konsistensi perilaku jangka panjang. Selain itu, pendekatan edukasi wajib dirancang jauh lebih personal untuk merespons tingginya variasi latar belakang serta karakteristik unik para responden
Senyum ceria tanpa karies melalui edukasi menyikat gigi yang baik dan benar pada anak Rezki Dirman; Utari Zulkaidah; Roni Roni; Lili Rahmadani
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3640

Abstract

Background: Oral health is an essential aspect of general health that often receives insufficient attention, despite its significant impact on quality of life, particularly among elementary school-aged children. Health education programs that combine practical elements with hands-on simulations can provide a deeper learning experience and enhance students' understanding and skills regarding oral hygiene. Purpose: To improve oral health knowledge through education and hands-on practical guidance. Method: This community service activity was conducted on April 17, 2026, at SDN 270 Lebani (Lebani State Elementary School 270) in Lebani Village, North Belopa District, Luwu Regency. The activity aimed to impart knowledge and provide direct guidance on maintaining oral health by demonstrating proper tooth-brushing techniques. A total of 170 students from grades I through VI participated as respondents. The educational session employed a participatory educational approach, demonstrations, and hands-on practical guidance. Measurement parameters involved subjective observations to assess respondents' knowledge regarding the correct times to brush their teeth, improvements in their brushing technique skills, and their commitment to practicing these habits at home. Evaluation of the educational and guidance activities was based on observations and is presented descriptively. Results: This activity helped students more easily understand the timing, techniques, and benefits of tooth brushing. Regarding knowledge, the activity improved understanding of what constitutes clean and healthy teeth, the causes of dental pain, and prevention methods. In terms of benefits, it fostered awareness and independence in children regarding the adoption of good habits from an early age and improved their ability to focus on learning without the distraction of dental pain. Conclusion: Educating elementary school students on proper tooth brushing is a relevant health promotion and prevention activity for improving oral health literacy and establishing habits early on. Interactive education, demonstrations, and supervised practice complemented by quizzes can help students more easily grasp the timing, techniques, and benefits of tooth brushing. Suggestion: This program is expected to be integrated into school extracurricular activities and repeated periodically with the support of teachers and parents. Keywords: Caries; Children; Health education; Healthy teeth; Tooth brushing Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut merupakan aspek esensial dari kesehatan umum yang sering kali kurang mendapat perhatian, padahal memiliki dampak signifikan terhadap kualitas hidup, terutama pada anak-anak usia sekolah dasar. Program pendidikan kesehatan yang menggabungkan elemen praktis dan simulasi langsung dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan meningkatkan pemahaman serta keterampilan siswa dalam merawat kesehatan gigi mereka. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut melalui edukasi dan pendampingan praktik langsung. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 17 April 2026 di SDN 270 Lebani Desa Lebani Kecamatan Belopa Utara Kabupaten Luwu. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan dan bimbingan langsung dalam menjaga kesehatan gigi dengan melakukan perawatan menggosok gigi yang benar. Melibatkan sebanyak 170 siswa kelas I sampai VI untuk menjadi responden. Kegiatan penyuluhan menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif, demonstrasi, dan pendampingan praktik langsung. Parameter ukur kegiatan melalui observasi subyektif untuk menilai pengetahuan responden dalam menyebutkan waktu menyikat gigi yang benar, peningkatan keterampilan responden melakukan teknik menyikat gigi, dan komitmen untuk melakukan praktik di rumah. Evaluasi berdasarkan observasi terhadap pencapaian kegiatan edukasi dan pendampingan disampaikan secara deskriptif. Hasil: Kegiatan ini membantu siswa memahami waktu, teknik, dan manfaat menyikat gigi dengan lebih mudah. Berdasarkan aspek pengetahuan adalah meningkatkan pengetahuan tentang pengertian gigi yang bersih dan sehat, penyebab sakit pada gigi, dan pencegahannya. Sedangkan berdasarkan aspek manfaat adalah membentuk kesadaran dan kemandirian anak dalam menerapkan kebiasaan baik sejak dini serta meningkatkan fokus anak saat belajar tanpa terganggu rasa sakit pada gigi. Simpulan: Edukasi menyikat gigi yang baik dan benar pada siswa sekolah dasar merupakan kegiatan promotif dan preventif yang relevan untuk meningkatkan literasi kesehatan gigi dan membentuk kebiasaan sejak dini. Edukasi interaktif, demonstrasi, dan praktik dengan pendampingan yang disertai kuis dapat membantu siswa memahami waktu, teknik, dan manfaat menyikat gigi dengan lebih mudah. Saran: Program ini diharapkan untuk diintegrasikan dalam kegiatan ekstrakulikuler sekolah dan diulang secara berkala dengan dukungan guru serta orang tua.
Kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD) sebagai upaya pencegahan anemia pada remaja Natiqotul Fatkhiyah; Yuni Fitriani; Sri Tanjung Rejeki; Sania Alfatimah; Rina Arifiani
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3648

Abstract

Background: Anemia among adolescents remains a public health issue that impacts the quality of human resources, academic achievement, productivity, and future reproductive health. One preventive measure for adolescent girls involves the distribution of blood-supplementing tablets. However, adherence rates for blood-boosting tablets consumption among adolescents remain low due to a lack of knowledge, side effects, and insufficient motivation and environmental support. Purpose: To improve knowledge and adherence regarding blood-supplementing tablets consumption among adolescents through interactive health education using leaflets and videos. Method: This community service activity was conducted in May 2026 at Vocational School Hasim Asari in Tarub District, an area served by the Tarub Community Health Center in Tegal Regency. Thirty-two adolescent girls participated as respondents. The activity aimed to provide an understanding of anemia and its prevention among adolescent girls. Assessments of the respondents' knowledge levels and adherence were based on observation and descriptive evaluation regarding their understanding of anemia and its prevention. Results: The results showed that the majority of respondents experienced an increase in knowledge, covering the definition and causes of anemia, its negative impacts, the role of blood-supplementing tablets in prevention, and the side effects associated with their use. Adherence to blood-supplementing tablets consumption improved after respondents received explanations regarding the benefits of the tablets and ways to mitigate side effects; furthermore, respondents became more motivated to consume the tablets regularly. Conclusion: Health education regarding anemia and blood-supplementing tablets is highly effective in improving knowledge and adherence to blood-supplementing tablets consumption among adolescent girls. Interactive delivery of material and the use of educational media help enhance participants' understanding and awareness regarding the importance of anemia prevention. Suggestion: Schools are encouraged to conduct periodic educational activities on anemia. Additionally, health workers and families are expected to carry out routine monitoring and provide support to adolescents to ensure regular blood-supplementing tablets consumption. Keywords: Adherence; Adolescents; Anemia; Blood-supplementing tablets; Health education; Prevention Pendahuluan: Anemia pada remaja masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia, prestasi belajar, produktivitas, serta kesehatan reproduksi di masa mendatang. Salah satu upaya pencegahan anemia pada remaja putri dilakukan melalui program pemberian tablet tambah darah (TTD). Namun, tingkat kepatuhan konsumsi TTD pada remaja masih rendah akibat kurangnya pengetahuan, efek samping, serta rendahnya motivasi dan dukungan lingkungan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan konsumsi TTD melalui edukasi kesehatan interaktif dengan menggunakan media leaflet dan video pada remaja. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Mei 2026 di SMK Hasim Asari Kec.Tarub yang merupakan wilayah kerja UPTD Puskesmas Tarub Kabupaten Tegal. Melibatkan 32 remaja putri untuk menjadi responden. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pemahaman tentang anemia dan pencegahannya pada remaja putri. Penilaian tingkat pengetahuan dan kepatuhan responden berdasarkan observasi dan evaluasi secara deskriptif terkait pemahaman responden terhadap anemia dan pencegahannya. Hasil: Menunjukkan bahwa sebagian besar responden mendapatkan peningkatan pengetahuan yang meliputi pemahaman dari pengertian tentang anemia, penyebab terjadinya anemia, dampak negatif, konsumsi TTD adalah upaya pencegahan anemia, dan efek samping konsumsi TTD. Terdapat peningkatan kepatuhan konsumsi TTD pada responden setelah mendapatkan penjelasan mengenai manfaat TTD dan cara mengurangi efek samping serta responden menjadi lebih termotivasi untuk mengonsumsi TTD secara rutin. Simpulan: Edukasi kesehatan mengenai anemia dan tablet tambah darah (TTD) sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri. Penyampaian materi secara interaktif serta dukungan media edukasi membantu meningkatkan pemahaman dan kesadaran peserta mengenai pentingnya pencegahan anemia. Saran: Diharapkan kepada pihak sekolah untuk melakukan kegiatan edukasi tentang anemia secara berkala. Diharapkan juga kepada petugas kesehatan bersama dengan keluarga untuk melakukan monitoring rutin dan memberikan dukungan kepada remaja untuk mengonsumsi TTD secara teratur.  
Pemanfaatan bahan pangan lokal melalui nugget daun kelor dan tempe untuk meningkatkan kadar hemoglobin pada ibu hamil Elly Kurnia; Dewi Yuliana; Annisa Agata
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3672

Abstract

Background: Anemia during pregnancy is a health issue that can reduce a mother's physical capacity and increase the risk of adverse pregnancy outcomes. The utilization of nutritious local foods to complement iron-folic acid supplements needs to be enhanced; therefore, providing education and local food-based nutritional support to pregnant women with mild anemia is crucial. Purpose: To increase hemoglobin levels in pregnant women through education and the provision of moringa leaf and tempeh nuggets as local food-based nutritional support. Method: This activity was a community service initiative employing an educational, interventionist, and empowerment approach, conducted in January 2026 at the Wede Arrachman Primary Care and Maternity Clinic in Way Halim District, Bandar Lampung City. The activity targeted pregnant women attending prenatal check-ups at the clinic who were identified as having mild anemia. Thirty-one pregnant women participated as respondents. The intervention involved providing supplemental food specifically 70g of nuggets daily to the respondents for seven days. Daily monitoring was conducted via a WhatsApp group and observation sheets. The measurement parameter involved assessing changes in the respondents' hemoglobin levels using a hemoglobinometer before and after the intervention. Evaluation was observational and the results were presented descriptively to assess improvements in knowledge and the intervention's impact on hemoglobin levels resulting from the consumption of the nugget supplements. Results: The study showed that the mean age of respondents was 32.21 years (SD ±3.94), with the majority (n=30; 96.8%) falling within the 20–35 age range. Most respondents were housewives (n=17; 54.8%), and the majority were multiparous (n=22; 71.0%). Participants' mean hemoglobin levels increased from 10.03 g/dL prior to the activity to 11.23 g/dL following the intervention, representing a mean increase of 1.20 g/dL. Conclusion: The community service activity which included guidance on utilizing local food sources in the form of moringa leaf and tempeh nuggets yielded positive results in enhancing the knowledge and skills of pregnant women with anemia. The intervention involving the provision of moringa leaf and tempeh nuggets proved effective in raising hemoglobin levels among these women. Suggestion: It is recommended that educational activities and the provision of moringa leaf and tempeh nuggets be implemented on a continuous basis across various settings, such as clinics, integrated health posts, prenatal classes, and pregnant women's community groups. Educational efforts should go beyond mere information delivery; they should incorporate nugget-making demonstrations, discussions, video or leaflet-based media, and guidance on consumption to help participants better understand and apply the use of local foods in preventing anemia. Keywords: Anemia; Hemoglobin levels; Moringa leaves; Pregnant women; Tempeh nuggets Pendahuluan: Anemia pada kehamilan merupakan masalah kesehatan yang dapat menurunkan kapasitas fisik ibu dan meningkatkan risiko luaran kehamilan yang tidak menguntungkan. Pemanfaatan pangan lokal bergizi sebagai pendamping tablet tambah darah masih perlu ditingkatkan sehingga edukasi dan dukungan makanan berbasis pangan lokal penting diberikan kepada ibu hamil dengan anemia ringan. Tujuan: Untuk meningkatkan kadar hemoglobin ibu hamil melalui edukasi dan pemberian nugget daun kelor dan tempe sebagai dukungan gizi berbasis pangan lokal. Metode: Kegiatan ini merupakan pengabdian kepada masyarakat dengan pendekatan edukasi-intervensi dan pemberdayaan yang dilaksanakan pada bulan Januari 2026 di Klinik Pratama dan Bersalin Wede Arrachman, Kecamatan Way Halim, Kota Bandar Lampung. Sasaran kegiatan adalah memberikan edukasi dan makanan tambahan pada ibu hamil yang memeriksakan kehamilan di klinik dan teridentifikasi mengalami anemia ringan. Kegiatan diikuti oleh 31 ibu hamil sebagai responden. Intervensi dalam kegiatan ini adalah memberikan asupan makanan tambahan pada responden berupa 70 gr nugget setiap hari selama 7 hari. Pemantauan dilakukan setiap hari melalui media whatsapp group dan lembar observasi. Parameter ukur dalam kegiatan ini adalah dengan melihat perubahan kadar hemoglobin pada responden melalui pemeriksaan hemoglobinometer yang dilakukan sebelum intervensi dan sesudah intervensi diberikan. Evaluasi melalui observasional dan disajikan secara deskriptif untuk melihat peningkatan pengetahuan dan pencapaian intervensi dari dampak asupan makanan tambahan nugget terhadap kadar hemoglobin. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata responden adalah 32.21 tahun dengan standar deviasi ±3.94 tahun dan mayoritas berada direntang usia 20-35 tahun yaitu sebanyak 30 responden (96.8%). Sebagian besar status pekerjaan responden adalah sebagai ibu rumah tangga yaitu sebanyak 17 responden (54.8%) dan status paritas responden mayoritas adalah multipara yaitu sebanyak 22 responden (71.0%).Menunjukkan peningkatan rata-rata kadar hemoglobin peserta dari 10.03 g/dL sebelum kegiatan menjadi 11.23 g/dL setelah intervensi, dengan kenaikan rata-rata sebesar 1.20 g/dL. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat dengan pendampingan tentang pendayagunaan pangan lokal berupa nugget daun kelor dan tempe menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu hamil dengan anemia. Intervensi berupa pemberian nugget daun kelor dan tempe efektif dalam meningkatkan kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan anemia. Saran: Diharapkan kegiatan edukasi dan pemberian nugget daun kelor dan tempe perlu dilaksanakan secara berkelanjutan, baik di klinik, Posyandu, kelas ibu hamil, maupun komunitas ibu hamil. Pemberian edukasi sebaiknya tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga disertai demonstrasi pembuatan nugget, diskusi, media video atau leaflet, dan pendampingan konsumsi agar peserta lebih mudah memahami serta menerapkan pemanfaatan pangan lokal dalam upaya mencegah anemia.
Implementasi audio visual hypnotherapy untuk mengurangi kecemasan pada ibu hamil Telly Katharina; Marsela Renasari Presty; Lina Astuti; Felisia Felisia; Maria Tutuatu; Nopa Nopa
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3711

Abstract

Background: Anxiety in pregnant women is a common emotional and physical response resulting from hormonal changes, concerns about fetal health, and preparations for childbirth. When accompanied by stress, anxiety can worsen medically and impact mental health, leading to severe consequences. The World Health Organization (WHO) reports that approximately 8% to 10% of pregnant women worldwide experience anxiety during pregnancy. Implementing audiovisual health education on hypnotherapy for pregnant women offers a relevant and innovative solution; it enhances knowledge and explains that anxiety can stem from the fear of potential pregnancy complications. Purpose: To provide knowledge regarding the use of hypnotherapy to reduce anxiety levels in pregnant women through audiovisual media. Method: The activity was conducted from December 2025 to January 2026, involving 33 pregnant women from the community served by Midwife Nuripah as respondents. The goal was to educate pregnant women on managing anxiety—tailored to their health status—using hypnotherapy concepts and techniques. The intervention consisted of education and hypnotherapy techniques delivered via audiovisual media. Respondents' knowledge and anxiety levels were measured using the Hamilton Anxiety Scale (HARS) questionnaire, administered before (pre-test) and after (post-test) the intervention. A descriptive evaluation was performed by analyzing changes and improvements in the accumulated questionnaire scores between the pre- and post-intervention stages. Results: The study showed that the mean age of respondents was 29.7 years, with the majority (78.8%) falling within the 21–35 age range. Most respondents (36.4%) had a high school education, and the majority (69.7%) were multiparous. A proportional shift in anxiety levels was observed: the percentage of respondents in the mild anxiety category rose from 54.5% before the intervention (pre-test) to 78.8% after the intervention (post-test). Conclusion: Educational activities regarding hypnotherapy—utilizing audiovisual aids and storytelling—are highly effective in reducing anxiety levels among pregnant women as they manage their health. Increased knowledge also positively impacts their self-confidence and motivation to maintain their health in preparation for childbirth. Suggestion: It is recommended that community health volunteers and healthcare facilities implement hypnotherapy techniques on a sustainable basis and with broader coverage, thereby contributing to public health outcomes that can be achieved through independent practice. Keywords: Anxiety; Audiovisual; Health therapy; Hypnotherapy; Pregnant women Pendahuluan: Kecemasan pada ibu hamil adalah respons emosional dan fisik yang umum terjadi akibat perubahan hormon, kekhawatiran akan kesehatan janin, dan persiapan persalinan. Kecemasan dengan stres akan menjadi kondisi semakin buruk secara medis akan mempengaruhi kesehatan mental dengan konsekuensi yang berat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar 8% hingga 10% ibu hamil di seluruh dunia mengalami kecemasan selama masa kehamilan. Implementasi pendidikan audiovisual kesehatan tentang hipnotherapi pada ibu hamil menjadi solusi yang relevan dan inovatif karena dapat menambah pengetahuan serta mampu menjelaskan kecemasan juga bisa muncul karena ketakutan terhadap kemungkinan adanya komplikasi kehamilan. Tujuan: Untuk memberikan pengetahuan tentang hipnoterapi dalam menurunkan tingkat kecemasan pada ibu hamil melalui audiovisual Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Desember 2025 sampai Januari 2026. Melibatkan 33 ibu hamil untuk menjadi responden yang merupakan masyarakat wilayah binaan di Bidan Nuripah. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan terkait kesiapan ibu hamil dalam mengelola kecemasan sesuai kondisi kesehatannya melalui hipnoterapi dan teknik hipnoterapi. Intervensi yang diberikan berupa edukasi dan teknik hipnoterapi dengan menggunakan audiovisual. Pengukuran tingkat pengetahuan dan kecemasan responden menggunakan kuesioner skala Hamilton Anxiety Scale (HARS) yang diberikan sebelum intervensi (pre-test) dan sesudah intervensi (post-test). Evaluasi secara deskriptif dilakukan dengan melihat perubahan dan peningkatan dari akumulasi nilai kuesioner antara sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Menunjukkan bahwa rata-rata usia responden adalah 29.7 tahun dan mayoritas responden berada direntang usia 21-35 tahun yaitu sebesar 78.8%. Sebagian besar tingkat pendidikan responden adalah SMA yaitu sebesar 36.4%, sedangkan riwayat kehamilan responden adalah sebagian besar multipara yaitu sebesar 69.7%. Terdapat perubahan secara porprosional tingkat kecemasan responden dari sebelum intervensi (pre-test) adalah sebesar 54.5% dalam kategori ringan menjadi sebesar 78.8% dalam kategori ringan sesudah intervensi (post-test). Simpulan: Kegiatan edukasi tentang hipnoterapi melalui audiovisual dan telling story pada ibu hamil sangat efektif dalam mengurangi tingkat kecemasan dalam mengelola kesehatannya. Peningkatan pengetahuan ibu hamil juga memberikan dampak positif terhadap peningkatan percaya diri dan motivasi ibu hamil dalam menjaga kesehatan hingga menghadapi persalinan. Saran: Diharapkan kepada kader bersama fasilitas kesehatan untuk menerapkan teknik hipnoterapi secara berkelanjutan dengan cakupan yang lebih luas, sehingga dapat memberikan kontribusi kesehatan masyarakat yang dapat dilakukan secara mandiri.
Peningkatan pengetahuan remaja putri tentang manajemen nyeri dismenore melalui terapi kompres air hangat Utari Ariyanti; Selvia Yolanda Dalimunthe
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3734

Abstract

Background: Dysmenorrhea is a form of menstrual pain frequently experienced by adolescent girls that can interfere with daily activities, academic concentration, and quality of life. Adolescents' limited knowledge regarding dysmenorrhea pain management often leads to inappropriate treatment approaches. Providing education on managing dysmenorrhea pain through warm compresses is crucial, ensuring that adolescents not only understand menstrual pain but are also capable of independently administering appropriate, practical, and safe initial care. Purpose: To improve young women's knowledge of dysmenorrhea pain management through education and a demonstration of warm water compress therapy (a non-pharmacological approach). Method: This community service activity was conducted at Universitas Wirahusada Medan in April 2026. The initiative aimed to provide young women with knowledge regarding dysmenorrhea pain management using warm water compress therapy. Thirty female students participated as respondents. Knowledge levels were assessed using questionnaires administered before (pre-test) and after (post-test) the educational session. A descriptive evaluation based on pre-test and post-test results was conducted to observe the improvement in the students' knowledge. In addition to the knowledge assessment, participants were asked to demonstrate the warm water compress therapy steps to directly evaluate their understanding. Results: The findings showed an increase in respondents' knowledge; prior to the educational activity, the majority of participants (15 individuals or 50.0%) possessed poor knowledge, while only 4 (13.3%) had good knowledge. Following the education, the number of participants with good knowledge rose to 24 (80.0%), and there were no participants with poor knowledge. Additionally, 23 participants (76.7%) were able to perform warm water compress therapy independently, while 7 participants (23.3%) could do so with guidance. Conclusion: Education and demonstration regarding warm water compress therapy are effective in improving the knowledge and skills of adolescent girls in managing dysmenorrhea pain. Suggestion: Similar activities should be conducted on an ongoing basis and reach a wider audience so that adolescent girls can manage menstrual pain independently. Keywords: Adolescent girls; Dysmenorrhea; Non-pharmacological therapy; Warm water compress Pendahuluan: Dismenore merupakan keluhan nyeri haid yang sering dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas harian, konsentrasi belajar, serta kualitas hidup. Rendahnya pengetahuan remaja mengenai manajemen nyeri dismenore menyebabkan penanganan yang dilakukan sering kurang tepat. Edukasi mengenai manajemen nyeri dismenore melalui kompres air hangat penting diberikan agar remaja tidak hanya memahami nyeri haid, tetapi juga mampu melakukan penanganan awal yang tepat, praktis, dan aman secara mandiri Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang manajemen nyeri dismenore melalui edukasi dan demonstrasi terapi nonfarmakologis kompres air hangat. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Universitas Wirahusada Medan pada bulan April 2026. Sasaran dalam kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan tentang manajemen nyeri dismenore dengan terapi nonfarmakologis kompres air hangat pada remaja putri. Kegiatan ini melibatkan sebanyak 30 mahasiswi untuk menjadi responden. Pengukuran nilai pengetahuan responden menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi kegiatan dilakukan secara deskriptif berdasarkan hasil pretest dan posttest untuk melihat peningkatan pengetahuan mahasiswi sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat. Selain evaluasi pengetahuan, peserta juga diminta mempraktikkan kembali langkah-langkah terapi kompres air hangat untuk menilai pemahaman mereka secara langsung. Hasil: Menunjukkan peningkatan pengetahuan responden yaitu sebelum kegiatan edukasi, sebagian besar peserta memiliki pengetahuan kurang sebanyak 15 orang (50.0%) dan pengetahuan baik hanya 4 orang (13.3%). Setelah edukasi, peserta dengan pengetahuan baik meningkat menjadi 24 orang (80.0%) dan tidak ada peserta dengan pengetahuan kurang. Selain itu, 23 peserta (76.7%) mampu melakukan praktik kompres air hangat secara mandiri, sedangkan 7 peserta (23.3%) mampu melakukan dengan arahan. Simpulan: Edukasi dan demonstrasi terapi kompres air hangat efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja putri dalam manajemen nyeri dismenore. Saran: Kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan sasaran yang lebih luas agar remaja putri mampu melakukan penanganan nyeri haid secara mandiri.
Edukasi peningkatan kesadaran dan pemanfaatan aplikasi mobile JKN dalam pelayanan kesehatan Sutaip Sutaip; Dewi Sulistyonigrum; Akbar Akbar; Tri Aulia Ramadhina; Ismi Nurul A’eni
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3823

Abstract

Background: The Social Security Agency on Health administers the national health insurance program, aiming to enroll all Indonesian citizens. Amidst rapid advancements in information technology, The Social Security Agency on Health has introduced digital innovations specifically the JKN mobile application to facilitate easier access to health insurance services for both current and prospective JKN-KIS members. Educating the public to effectively understand and utilize the JKN mobile application is crucial for ensuring they derive optimal benefits from health services. Purpose: To enhance public knowledge regarding the use of the JKN mobile application for BPJS Kesehatan health services. Method: The activity was conducted in May 2026 at the Jatibarang Community Health Center, involving 30 local residents from the center's service area as respondents. The initiative aimed to foster an understanding of how to utilize the JKN mobile application for The Social Security Agency on Health services. Evaluation was carried out using a "one-group pretest-posttest" approach, with questionnaire results serving as the basis for a descriptive analysis of the community service activity's outcomes. Results: The study showed that the mean age of respondents was 44.7 years (SD ±7.66 years), with the largest age group (60.0%) falling within the 41–50 year range. The majority of respondents were female (63.3%), and most (73.3%) were already enrolled in The Social Security Agency on Health’s program. Proportionally, there was a 33.4% increase in the number of respondents who understood the JKN mobile application, rising from 63.3% before the educational intervention to 96.7% afterward. Conclusion: The educational activities regarding the JKN mobile application were effective and highly beneficial in enhancing public knowledge and understanding of healthcare services provided through The Social Security Agency on Health. Increased public knowledge and awareness regarding the use of the JKN mobile app will contribute positively to the effectiveness and quality of public healthcare services. Suggestion: Relevant health institutions are encouraged to conduct periodic JKN mobile app education programs reaching a wider audience, particularly the elderly in areas with limited access to healthcare services. Future initiatives should also incorporate digital literacy training using simple, easily understandable educational materials for individuals with limited digital technology knowledge, ensuring that the benefits of accessible healthcare services reach all segments of society. Keywords: BPJS; Digital education; Healthcare services; JKN mobile application Pendahuluan: Badan penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) berfungsi sebagai penyelenggara program jaminan kesehatan dengan target seluruh warga negara Indonesia masuk menjadi peserta jaminan kesehatan. Seiring kemajuan teknologi informasi yang pesat, BPJS Kesehatan melakukan inovasi digital melalui aplikasi mobile JKN sebagai upaya mempermudah masyarakat, baik anggota maupun calon anggota JKN-KIS, dalam mengakses layanan jaminan kesehatan. Edukasi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terkait aplikasi mobile JKN secara efektif menjadi penting agar masyarakat dapat memperoleh manfaat pelayanan kesehatan yang optimal. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan aplikasi mobile JKN dalam pelayanan kesehatan BPJS Kesehatan. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Mei 2026 di Puskesmas Jatibarang. Melibatkan 30 warga masyarakat wilayah binaan Puskesmas Jatibarang untuk menjadi responden. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk memanfaatkan dan menggunakan aplikasi mobile JKN dalam pelayanan kesehatan BPJS Kesehatan. Evaluasi kegiatan dengan pendekatan one group pretest and posttest dari hasil kuesioner yang digunakan sebagai analisa deskriptif pencapaian kegiatan pengabdian masyarakat ini. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata responden adalah 44.7 tahun dengan standar deviasi ±7.66 tahun dan sebagian besar usia responden berada direntang 41-50 tahun yaitu sebesar 60.0%.  Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar 63.3% dan sebagian besar status keanggotaan responden adalah sudah menjadi anggota BPJS Kesehatan yaitu sebesar 73.3%. Secara proporsional menunjukkan bahwa adanya peningkatan 33.4% responden yang memahami aplikasi mobile JKN dari sebelum diberi edukasi sebesar 63.3% responden menjadi sebesar 96.7% responden. Simpulan: Kegiatan edukasi aplikasi mobile JKN berjalan cukup efektif dan sangat bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pada masyarakat terhadap pelayanan kesehatan melalui BPJS Kesehatan. Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam menggunakan mobile JKN akan sangat berkontribusi positif terhadap efektifitas dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Saran: Di harapkan kepada lembaga kesehatan terkait untuk melakukan kegiatan edukasi mobile JKN secara berkala dengan cakupan masyarakat yang lebih luas, terutama untuk para lansia di wilayah yang jauh dari akses pelayanan kesehatan. Diharapkan juga dalam kegiatan serupa untuk memberikan literasi digital dengan media edukasi sederhana dan mudah dipahami bagi masyarakat yang minim pengetahuan teknologi digital sehingga manfaat kemudahan layanan kesehatan dapat diterima untuk semua lapisan masyarakat.
Promosi kesehatan melalui asuhan keperawatan pada pasien stroke dengan gangguan citra tubuh Julia Tri Utami; Prima Dian Furqoni; Triyoso Triyoso
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3710

Abstract

Background: Body image disturbance is a feeling of dissatisfaction with one's body structure, shape, and function because they do not align with personal desires. This condition can affect individuals who have suffered a stroke. Data from the 2019 Basic Health Research (Riskesdas) indicate that the prevalence of stroke among the Indonesian population aged over 15 years was 7 per 1,000 people, showing an increase from the 2018 figure of 10.9 per 1,000 people. Purpose; To describe the nursing care provided for body image disturbance in stroke patients, specifically utilizing body image promotion interventions. Method: This activity involved nursing care delivered via a case study approach, conducted from May 21 to May 26, 2026, in Sukajaya Lempasing Village. The participants were two stroke patients experiencing body image disturbance. Key interventions included assessing patient responses, providing psychosocial support, and implementing appropriate, progressive rehabilitative physical exercises. Body image disturbance was assessed using the Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire (MBSRQ). Evaluation was conducted through observation, and findings are presented descriptively to illustrate the outcomes of the nursing care provided to patients with body image disturbance. Results: The findings indicate that the patient's score on the body image disturbance assessment questionnaire was 70 points prior to the intervention and rose to 112 points following the intervention. Psychological improvement was also evident, as the patient accepted their current condition and recognized positive aspects of their body after six days of nursing care. Conclusion: The nursing care provided revealed that the patient held a negative self-perception—stemming from the loss of certain bodily functions and reduced muscle strength—resulting in a body image disturbance. Nursing interventions tailored to the accurate identification of the patient's body image disturbance proved highly effective in motivating a shift in perception, thereby fostering psychological well-being. Suggestion: Family support is essential in consistently motivating the patient to maintain a positive mindset; this facilitates the patient's adjustment and adaptation to the changes they are experiencing. Future research could expand upon this study by investigating nursing care for self-concept disturbances and low self-esteem in stroke patients. Keywords: Body image disturbance; Nursing care; Self-concept; Stroke Pendahuluan: Gangguan citra tubuh adalah perasaan tidak puas terhadap struktur, bentuk dan fungsi karena tidak sesuai dengan yang di inginkan. Hal ini bisa terjadi pada seseorang yang mengalami penyakit stroke. Berdasarkan hasil Riset Data Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2019 menunjukkan prevalensi stroke di Indonesia pada penduduk usia >15 tahun sebesar 7% per 1000 penduduk dan terjadi peningkatan pada tahun 2018 menjadi 10.9% per 1000 penduduk. Tujuan: Untuk memberikan gambaran asuhan keperawatan gangguan citra tubuh pada pasien stroke dengan intervensi promosi citra tubuh. Metode: Kegiatan ini merupakan asuhan keperawatan dengan pendekatan studi kasus yang dilaksanakan pada bulan pada tanggal 21 Mei 2026 sampai 26 Mei 2026 di Desa Sukajaya Lempasing. Responden dalam kegiatan ini adalah 2 orang pasien stroke yang mengalami gangguan citra tubuh. Tindakan utamanya meliputi identifikasi respon pasien, dukungan psikososial, dan latihan fisik rehabilitatif yang sesuai secara bertahap. Penilaian gangguan citra tubuh menggunakan multidimentional body self realtions questionare (MBSRQ). Evaluasi dilakukan melalui observasi dan disajikan secara deskriptif untuk memberikan gambaran dari pencapaian asuhan keperawatan terhadap pasien dengan gangguan citra tubuh. Hasil: Menunjukkan bahwa kemampuan pasien gangguan citra tubuh sebelum intervensi mendapatkan hasil penilaian kuesioner sebesar 70 poin dan menjadi sebesar 112 poin setelah dilakukan intervensi. Peningkatan secara psikologis juga menunjukkan bahwa pasien sudah menerima kondisinya saat ini dan mengetahui aspek positif yang masih ia miliki mengenai tubuhnya setelah dilakukan 6 hari pelaksanaan asuhan keperawatan. Simpulan: Kegiatan asuhan keperawatan yang dilakukan pada pasien menemukan terjadinya persepsi negatif terhadap dirinya yang diakibatkan oleh menurunnya fungsi sebagian organ tubuh dan penurunan kekuatan otot sehingga pasien mengalami gangguan citra tubuh. Intervensi dengan asuhan keperawatan yang sesuai dengan ketepatan identifikasi masalah gangguan citra tubuh pada pasien akan sangat efektif memberikan motivasi perubahan persepsi pasien yang berdampak terhadap perbaikan mental psikologis. Saran: Diharapkan kepada dukungan keluarga untuk selalu memberikan motivasi pada pasien dengan pola pikir positif sehingga penyesuaian diri pasien dengan gangguan citra diri semakin mudah untuk melakukan adaptasi terhadap setiap adanya perubahan yang di alami. Penelitian selanjutnya dapat mengembangkan penelitian lebih lanjut mengenai asuhan keperawatan tentang gangguan konsep diri dan harga diri rendah pada pasien stroke sebagai pengembangan dari penelitian ini.
Peningkatan perilaku sosial kesehatan melalui pengetahuan tentang diabetes gestasional pada ibu hamil Nisa'i Daramita Supriyono; Santy Irene Putri; Novi Budi Ningrum; Dewi Kurnia Sari
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3745

Abstract

Background: Diabetes during pregnancy is a health issue that can increase the risk of complications for both the mother and the fetus. Limited knowledge and suboptimal health behaviors can hinder efforts to prevent diabetes during pregnancy. Therefore, health education is needed to improve pregnant women's understanding and awareness regarding gestational diabetes. Purpose: To improve the knowledge and health-related social behaviors of pregnant women through community-based health education activities focused on preventing diabetes during pregnancy. Method: This community service activity was conducted in the Tlogomas neighborhood of Malang City, targeting pregnant women residing in the area. The activity employed educational and health-promotion approaches aimed at increasing knowledge and reinforcing health-related social behaviors among the participants through health counseling on diabetes during pregnancy. Twenty pregnant women participated, actively engaging throughout the entire program. Participant knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design. Evaluation involved descriptive analysis, calculating mean scores, percentages, and the improvement in participants' knowledge scores. The results are presented in tables and narrative form to illustrate the effectiveness of the educational activity in enhancing pregnant women's knowledge about diabetes and the importance of health behaviors that support diabetes prevention during pregnancy. Results: The study showed that the mean age of respondents was 33.1 years, with the majority (70.0%) falling within the 30–39 age range. Most respondents (65.0%) had a high school education. There was a proportional improvement in respondents' knowledge levels: the "fair" category decreased from 40.0% to 30.0%, and the "poor" category dropped from 60.0% to 0%, while the "good" category rose to 70.0%. Meanwhile, the mean knowledge score increased from 61.8 points at the pre-test to 86.7 points at the post-test, representing a mean score increase of 24.8 points. Improvements were also observed in respondents' attitudes and awareness regarding the importance of a healthy lifestyle, routine prenatal check-ups, and diabetes prevention during pregnancy. Conclusion: Health education is effective in increasing knowledge and reinforcing health-related social behaviors among pregnant women regarding diabetes prevention, thereby potentially supporting improved maternal and fetal health. Suggestion: Follow-up measures such as continuous support and monitoring of behavioral changes among pregnant women are recommended. Additionally, integrating gestational diabetes prevention education into routine antenatal care services is advised to ensure the sustainability of improvements in knowledge and health behaviors. Keywords: Gestational diabetes; Health-related social behavior; Pregnant women; Prevention Pendahuluan: Diabetes pada kehamilan merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu maupun janin. Rendahnya pengetahuan dan perilaku kesehatan yang kurang optimal dapat menghambat upaya pencegahan diabetes selama kehamilan. Oleh karena itu, diperlukan edukasi kesehatan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran ibu hamil mengenai diabetes gestasional. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku sosial kesehatan ibu hamil melalui kegiatan edukasi kesehatan komunitas mengenai pencegahan diabetes di masa kehamilan. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di lingkungan Tlogomas, Kota Malang, dengan sasaran ibu hamil yang berdomisili di wilayah tersebut. Kegiatan menggunakan pendekatan edukatif dan promotif dengan sasaran meningkatkan pengetahuan dan memperkuat perilaku sosial kesehatan ibu hamil yang berdomisili di lingkungan Tlogomas melalui penyuluhan kesehatan mengenai diabetes pada masa kehamilan. Kegiatan diikuti oleh 20 ibu hamil yang hadir secara aktif selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung untuk menjadi responden. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan analisa secara deskriptif dengan menghitung nilai rata-rata, persentase, serta peningkatan skor pengetahuan responden. Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel dan narasi untuk menggambarkan efektivitas kegiatan edukasi dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai diabetes dan pentingnya perilaku kesehatan yang mendukung pencegahan diabetes selama kehamilan. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata responden adalah 33.1 tahun dan mayoritas berada direntang usia 30-39 tahun yaitu sebesar 70.0%. Sebagian besar tingkat pendidikan responden adalah Sekolah Menengah Atas yaitu sebesar 65.0%. Menunjukkan peningkatan secara proporsional tingkat pengetahuan responden dari sebesar 40.0% kategori cukup dan sebesar 60.0% kategori kurang menjadi sebesar 70.0% kategori baik dan sebesar 30.0% kategori cukup. Sedangkan rata-rata skor pengetahuan responden mengalami peningkatan dari 61.8 poin pada saat pretest menjadi 86.7 poin pada posttest dengan selisih peningkatan nilai rata-rata 24.8 poin. Terdapat juga peningkatan sikap dan kesadaran responden mengenai pentingnya pola hidup sehat, pemeriksaan kehamilan rutin, dan pencegahan diabetes selama kehamilan. Simpulan: Edukasi kesehatan efektif meningkatkan pengetahuan dan memperkuat perilaku sosial kesehatan ibu hamil terkait pencegahan diabetes, sehingga berpotensi mendukung peningkatan kesehatan ibu dan janin. Saran: Disarankan adanya tindak lanjut berupa pendampingan berkelanjutan dan monitoring perubahan perilaku ibu hamil, serta integrasi edukasi pencegahan diabetes gestasional dalam layanan antenatal care secara rutin untuk memastikan keberlanjutan peningkatan pengetahuan dan perilaku kesehatan.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue