cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 396 Documents
Optimalisasi neuroplasticity dan ketangkasan fisik balita melalui latihan brain-gym (Cukat Trengginas) Santri Raminda; Hikmatul Laili Nur`aini; Fatimah Wahab Aliyun; Zahne Putri Asifa Ramadhani; Andina Risky
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3391

Abstract

Background: Toddlerhood (ages 1–5) is a golden age in child development. During this phase, a child's brain experiences rapid development and is sensitive to environmental stimulation. However, challenges in the modern era indicate a tendency for delays in gross and fine motor development in toddlers. One non-invasive and enjoyable intervention considered effective in bridging this stimulation gap is brain-gym. Purpose: To increase parents' knowledge of optimizing neuroplasticity and physical agility through brain-gym exercises. Method: Physiotherapy activities were conducted on Tuesday, May 12, 2026, from 9:00–11:00 a.m. WIB in Tondomulyo Village, Pati, Central Java. The physiotherapy intervention method used was brain-gym. The activities were conducted using a brain-gym intervention approach. Evaluation was conducted by analyzing pre-test and post-test results, calculating the difference in respondents' average knowledge scores and presenting them descriptively to assess changes in respondents' knowledge levels after the brain-gym intervention was given to parents. Results: The level of knowledge of respondents before the educational activity was 20.0% in the sufficient category and 80.0% in the poor category. Meanwhile, the level of knowledge of respondents after the educational activity was 93.3% in the good category and 6.7% in the sufficient category. Conclusion: This educational activity has proven effective in increasing parents' knowledge and skills regarding Brain-Gym physiotherapy. This activity also has a positive impact on the community, including improved theoretical understanding, practical skills, and behavioral changes for the better. Suggestion: Optimizing neuroplasticity and physical agility in toddlers through Brain-Gym exercises needs to be implemented routinely and continuously, accompanied by periodic evaluations to monitor knowledge and prevent developmental problems in toddlers in the community. Keywords: Brain-Gym; Neuroplasticity; Physiotherapy; Physical agility Pendahuluan: Masa balita (usia 1–5 tahun) merupakan periode golden age atau masa keemasan dalam tumbuh kembang anak. Pada fase ini, otak anak mengalami perkembangan yang sangat masif dan sensitif terhadap stimulasi lingkungan. Namun, tantangan di era modern saat ini menunjukkan adanya kecenderungan keterlambatan perkembangan motorik kasar dan halus pada balita. Salah satu intervensi non-invasif dan menyenangkan yang dinilai efektif untuk menjembatani stimulasi ini adalah brain-gym (senam otak). Tujuan: Meningkatkan pengetahuan orang tua balita terhadap Optimalisasi neuroplasticity dan ketangkasan fisik balita melalui latihan brain-gym. Metode: Kegiatan fisioterapi dilaksanakan pada hari selasa, 12 Mei 2026 pada pukul 09.00-11.00 WIB berlokasi di Desa Tondomulyo, Pati, Jawa Tengah. Menggunakan metode intervensi fisioterapi dengan brain-gym. Kegiatan dilakukan dengan pendekatan intervensi brain-gym. Evaluasi dilakukan dengan menganalisa hasil pre-test dan post-test yaitu menghitung selisih nilai rata-rata pengetahuan responden dan disampaikan secara deskriptif untuk melihat perubahan tingkat pengetahuan responden setelah diberikan intervensi brain-gym kepada orang tua. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 20.0% dalam kategori cukup dan sebanyak 80.0% dalam kategori kurang. Sedangkan tingkat pengetahuan responden setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 93.3% dalam kategori baik dan sebanyak 6.7% dalam kategori cukup. Simpulan: Kegiatan edukasi ini terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan kemampuan orang tua tentang brain-gym fisioterapi. Kegiatan ini juga memberikan dampak positif pada masyarakat yang meliputi perbaikan pemahaman teori, kemampuan praktik, hingga perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Saran: Optimalisasi neuroplasticity dan ketangkasan fisik balita melalui latihan brain-gym perlu dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan disertai evaluasi berkala guna memantau pengetahuan dan mencegah permasalahan tumbuh kembang balita di masyarakat.      
Kegiatan demonstrasi masak sehat sebagai media edukasi gizi dalam pencegahan gastritis di masyarakat Dwi Yulia Maritasari; Annisa Agata; Sujiah Sujiah; Ari Sukmanela; Dinda Monika; Miranda Oktamevia
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3413

Abstract

Background: Gastritis remains a common health issue in the community, closely linked to unhealthy dietary habits, irregular meal schedules, and limited knowledge regarding the selection and preparation of stomach-friendly foods. A Community Self-Assessment Survey in Hamlet 5 revealed a significant number of residents suffering from gastritis symptoms, alongside habits of consuming fatty, spicy, and irritating foods. These conditions highlight the need for practical, easily applicable health promotion and prevention efforts in daily life. Purpose: To enhance community knowledge and skills regarding gastritis prevention through health education and live healthy cooking demonstrations. Method: This community service activity was conducted in December 2025 in Hamlet 5, Purworejo Village, Pesawaran Regency. The target audience consisted of Hamlet 5 residents selected based on the Community Self-Assessment Survey results. The methods employed included health education on gastritis, healthy cooking demonstrations using stomach-friendly ingredients, interactive discussions, and the distribution of healthy recipe leaflets. Evaluation was conducted descriptively by observing community participation and understanding throughout the activity. Results: The activity proceeded successfully and received a positive response from the community. Participants demonstrated high enthusiasm and an improved understanding of gastritis risk factors, the selection of stomach-friendly foods, and healthy food preparation methods. The community also grasped the importance of adopting a healthy diet to prevent gastritis recurrence. Conclusion: Healthy cooking demonstrations combined with health education are effective promotional and preventive measures for increasing community knowledge and awareness regarding gastritis prevention. Active community participation was a key factor in the success of this activity. Suggestion: It is hoped that similar activities will be conducted on an ongoing basis with the support of health professionals and community volunteers to reinforce healthy lifestyle changes and reduce the incidence of gastritis. Keywords: Gastritis prevention; Healthy cooking demonstration; Health education; Healthy lifestyle Pendahuluan: Gastritis masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering ditemukan di masyarakat dan berkaitan erat dengan pola makan yang tidak sehat, jadwal makan tidak teratur, serta rendahnya pengetahuan tentang pemilihan dan pengolahan makanan yang aman bagi lambung. Hasil Survei Mawas Diri (SMD) di Dusun 5 menunjukkan adanya proporsi masyarakat yang mengalami keluhan gastritis, disertai kebiasaan konsumsi makanan berlemak, pedas, dan iritatif. Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya promotif dan preventif yang bersifat praktis dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam upaya pencegahan gastritis melalui edukasi kesehatan dan demonstrasi memasak sehat secara langsung. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025 di Dusun 5, Desa Purworejo, Kabupaten Pesawaran. Sasaran kegiatan adalah masyarakat Dusun 5 yang dipilih berdasarkan hasil Survei Mawas Diri. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan tentang gastritis, demonstrasi memasak sehat dengan bahan makanan yang ramah lambung, diskusi interaktif, serta pembagian leaflet resep sehat. Evaluasi dilakukan secara deskriptif melalui pengamatan partisipasi dan pemahaman masyarakat selama kegiatan berlangsung. Hasil: Kegiatan berjalan dengan baik dan mendapat respons positif dari masyarakat. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi serta peningkatan pemahaman mengenai faktor risiko gastritis, pemilihan bahan makanan yang aman bagi lambung, dan cara pengolahan makanan sehat. Masyarakat juga mampu memahami pentingnya penerapan pola makan sehat sebagai upaya pencegahan kekambuhan gastritis. Simpulan: Demonstrasi memasak sehat yang disertai edukasi kesehatan efektif sebagai upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan gastritis. Keterlibatan aktif masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan kegiatan ini. Saran: Kegiatan serupa diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan dukungan tenaga kesehatan dan kader masyarakat guna memperkuat perubahan perilaku hidup sehat serta menurunkan angka kejadian gastritis.
Peningkatan kompetensi motorik mahasiswa dengan pelatihan hands-on simulation dalam evakuasi pasien Abil Rudi; Kafi Pangki Suwito
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3479

Abstract

Background: Patient evacuation is a critical mobilization procedure in disaster management or medical emergencies. Proficiency in patient evacuation is a fundamental competency that health students must master to minimize the risk of further injury during emergency situations. Purpose: To enhance students' motor skills in performing safe and effective patient evacuation through the application of a hands-on simulation method. Method: This activity was conducted on Tuesday, May 12, 2026, from 13:00 to 16:00 WIB at the Emergency Nursing Laboratory, involving 16 health students as participants. The procedure prioritized a hands-on simulation approach featuring interactive dialogue and active group participation, covering essential evacuation topics such as patient safety principles, manual mechanical transfer techniques, and the operation of assistive devices like stretchers. Participants' motor skill competencies were measured using an observation instrument—specifically a procedural assessment checklist—evaluated before (pre-test) and after (post-test) the training, with results presented descriptively. Results: The findings indicate that prior to the training intervention (pre-test), 12 participants (75.0%) fell into the "sufficient" category, while 4 participants (25.0%) were in the "good" category. Following the training intervention (post-test), the distribution shifted to 2 participants (12.5%) in the "sufficient" category and 14 participants (87.5%) in the "good" category. Regarding knowledge levels and understanding of evacuation safety information, the majority of participants (13 individuals or 81.3%) fell into the "good" category. Conclusion: Training on patient evacuation techniques for health science students using a hands-on simulation method proved highly effective in strengthening motor and psychomotor competencies. Reinforcing collective understanding of emergency management—combined with direct simulation of tactical actions—contributed significantly to enhancing individual autonomy, precision, confidence, and psychological readiness in managing safety risks during evacuation. The synergy between sound theoretical knowledge and proficiency in preventive actions will have a broad impact on strengthening community emergency response systems. Suggestion: Participants are encouraged to consistently hone their tactical skills through independent practice and active participation in clinical group discussions to maintain the sharpness of their motor reflexes during evacuations. Educational institutions and the academic community are also urged to actively provide motivation and support by facilitating, encouraging, and guiding students in periodic, structured disaster training activities to prevent the risk of secondary injury to patients. Keywords: Hands-on simulation; Motor competence; Patient evacuation; Training Pendahuluan: Evakuasi pasien merupakan tindakan mobilisasi kritis dalam manajemen bencana atau kondisi darurat medis. Keterampilan evakuasi pasien tersebut merupakan kompetensi mendasar yang harus dikuasai oleh mahasiswa kesehatan guna meminimalkan risiko cedera tambahan saat situasi kejadian darurat. Tujuan: Untuk meningkatkan kompetensi motorik mahasiswa dalam melakukan evakuasi pasien secara aman dan efektif melalui penerapan metode hands-on simulation. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 12 Mei 2026 pukul 13:00-16:00 WIB bertempat di Laboratorium Keperawatan Gawat Darurat, dengan melibatkan sebanyak 16 mahasiswa kesehatan sebagai peserta. Prosedur pelaksanaan mengedepankan metode hands-on simulation melalui dialog interaktif dan partisipasi aktif kelompok yang mencakup materi esensial evakuasi, meliputi prinsip keselamatan pasien (patient safety), teknik pemindahan mekanis secara manual, serta pengoperasian alat bantu seperti tandu (stretcher). Parameter kompetensi motorik peserta diukur menggunakan instrumen lembar observasi berupa checklist penilaian tindakan yang dievaluasi sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) pelatihan, lalu disajikan secara deskriptif. Hasil: Menunjukkan bahwa kemampuan motorik partisipan sebelum intervensi pelatihan (pre-test) yaitu sebanyak 12 partisipan (75.0%) dalam kategori cukup dan sebanyak 4 partisipan (25.0%) dalam kategori baik. Sedangkan kemampuan motorik partisipan sesudah intervensi pelatihan (post-test) menjadi sebanyak 2 partisipan (12.5%) dalam kategori cukup dan sebanyak 14 partisipan (87.5%) dalam kategori baik. Sedangkan tingkat pengetahuan dan aspek pemahaman terhadap informasi keselamatan evakuasi partisipan, sebagian besar dalam kategori baik yaitu sebanyak 13 partisipan (81.3%). Simpulan: Kegiatan pelatihan teknik evakuasi pasien pada mahasiswa kesehatan dengan metode hands-on simulation terbukti memiliki efektivitas yang sangat tinggi dalam memperkuat kompetensi motorik dan psikomotorik. Penguatan pemahaman kolektif mengenai tata laksana kegawatdaruratan serta simulasi tindakan taktis secara langsung ini memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kemandirian, ketepatan, kepercayaan diri, dan kesiapan psikologis individu dalam mengelola risiko keselamatan saat evakuasi. Sinergi antara pengetahuan teoritis yang baik dan kemampuan dalam tindakan preventif akan berdampak luas pada penguatan sistem penanggulangan kedaruratan di masyarakat. Saran: Diharapkan kepada seluruh peserta kegiatan untuk selalu membiasakan diri dan konsisten mengasah keterampilan taktis melalui latihan mandiri dan aktif berpartisipasi dalam diskusi kelompok klinis agar dapat menjaga ketajaman refleks motorik saat evakuasi. Diharapkan juga kepada institusi pendidikan dan civitas akademika untuk aktif berpartisipasi memberikan motivasi dan dukungan dengan memfasilitasi, mengajak, serta membimbing mahasiswa dalam kegiatan pelatihan kebencanaan terstruktur secara berkala demi mencegah risiko cedera sekunder pada pasien.
Pemberdayaan kader kesehatan tentang latihan gerak range of motion (ROM) Andri Yulianto; Reni Tri Subekti; Tiara Tiara
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3483

Abstract

Background: Shoulder joint disorders in the elderly such as frozen shoulder, stiffness, pain, and reduced range of motion can hinder daily activities, diminish independence, and impact quality of life. Limited access to rehabilitation services in rural Thailand necessitates strengthening promotive and preventive services delivered by village health volunteers, who play a strategic role within the community. Purpose: To empower health volunteers to understand, practice, and educate the community on safe range-of-motion (ROM) exercises for the elderly. Method: This international community service activity was conducted over three days in the partner village in Thailand. Twenty-four individuals comprising village health volunteers and community representatives involved in basic community health services participated in the program. The activity aimed to build participant capacity, enabling them to understand, practice, and disseminate education regarding ROM exercises for the elderly. Participant knowledge was assessed using a questionnaire, while skills were evaluated through direct observation during ROM practice simulations. The activity was evaluated based on four key indicators: increased knowledge through health education, improved skills through ROM training, the participants' ability to perform ROM exercises independently, and their ability to educate the community on ROM exercises. Data are presented descriptively using frequencies, percentages, and mean scores. Results: The proportion of participants in the "good" knowledge category increased from 25.0% to 87.5%, and the average knowledge score rose from 60.0 to 86.0. Regarding ROM practice skills, 91.7% fell into the "good/very good" category; 91.7% demonstrated the ability to perform the practice independently or with minimal assistance; and 83.3% achieved a "good/very good" rating for ROM education skills. Conclusion: An international community service program utilizing integrated cadre empowerment proved highly effective in enhancing knowledge and independent skills, as well as improving the cadres' capacity and readiness to provide further education to the community. Empowering cadres through outreach, demonstrations, and hands-on practice proved relevant for strengthening community-based health services. Suggestion: Village health cadres are encouraged to apply their ROM knowledge and skills consistently and to practice independently to ensure movements are precise, safe, and performed with confidence when assisting the elderly. It is also recommended that local partners or BCNs facilitate program sustainability by monitoring cadre activities post-training, thereby supporting the implementation of ROM exercises for the elderly or their families. Keywords: Cadre empowerment; Elderly; Health education; Range of motion; Thai partner village Pendahuluan: Gangguan sendi bahu pada lansia, seperti frozen shoulder, kekakuan, nyeri, dan penurunan rentang gerak, dapat menghambat aktivitas harian, menurunkan kemandirian, serta memengaruhi kualitas hidup. Keterbatasan akses layanan rehabilitasi di wilayah pedesaan Thailand menuntut adanya penguatan layanan promotif-preventif berbasis kader kesehatan desa yang memilki peran strategis di tengah masyarakat. Tujuan: Untuk memberdayakan kader kesehatan agar mampu memahami, mempraktikkan, dan mengedukasi masyarakat mengenai latihan gerak range of motion (ROM) yang aman bagi lansia. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat internasional ini dilaksanakan selama 3 hari di Desa binaan Thailand. Melibatkan 24 peserta yang terdiri atas kader kesehatan desa dan perwakilan masyarakat yang berperan dalam pelayanan kesehatan dasar komunitas untuk menjadi partisipan. Sasaran kegiatan adalah peningkatan kapasitas peserta agar mampu memahami, mempraktikkan, dan menyebarluaskan edukasi latihan ROM kepada lansia. Instrumen pengukuran pengetahuan partisipan menggunakan kuesioner dan untuk penilaian ketrampilan partisipan dengan melakukan observasi langsung terhadap partisipan dalam melaksanakan simulasi praktik ROM. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui empat indikator utama: peningkatan pengetahuan melalui penyuluhan kesehatan, peningkatan keterampilan melalui pelatihan ROM, kemampuan peserta melakukan latihan ROM secara mandiri, dan kemampuan peserta melakukan edukasi ROM kepada masyarakat. Data disajikan secara deskriptif dalam bentuk frekuensi, persentase, dan rata-rata skor. Hasil: Menunjukkan secara proporsional partisipan dalam kategori pengetahuan "baik" meningkat dari 25.0% menjadi 87.5%, dan rata-rata skor pengetahuan naik dari 60.0 menjadi 86.0. Terkait keterampilan praktik ROM, 91.7% termasuk dalam kategori "baik/sangat baik"; 91.7% menunjukkan kemampuan praktik secara mandiri atau hampir mandiri; dan 83.3% mencapai peringkat "baik/sangat baik" untuk keterampilan edukasi ROM. Simpulan: Program pengabdian masyarakat internasional melalui pemberdayaan terintegrasi pada kader sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mandiri serta meningkatkan kemampuan dan kesiapan kader dalam memberikan edukasi lanjutan kepada masyarakat. Pemberdayaan kader melalui kegiatan penyuluhan, demonstrasi, dan praktik langsung terbukti relevan untuk memperkuat pelayanan kesehatan berbasis komunitas. Saran: Kader kesehatan desa diharapkan menerapkan pengetahuan dan keterampilan ROM secara berkelanjutan dan melakukan pengulangan praktik secara mandiri agar gerakan semakin tepat, aman, dan percaya diri saat mendampingi lansia. Diharapkan juga kepada mitra lokal atau BCN untuk memfasilitasi keberlanjutan program melalui pemantauan kegiatan kader setelah pelatihan sebagai dukungan penerapan latihan ROM kepada lansia atau keluarga.
Gambaran manifestasi klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan pada pasien dengan demam tifoid Arti Febriyani Huyasuhut; Salwa Fadhilah; Salwa Putri Oktaviani; Sela Sela; Sely Diki Oktiyanda; Shabina Adinia Yonny
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3486

Abstract

Background: Typhoid fever is an acute systemic infectious disease caused by *salmonella enterica* serovar typhi and remains a significant health issue in developing countries, including Indonesia. The disease is generally transmitted through contaminated food and water and is closely linked to poor sanitation and hygiene. Accurate diagnosis and appropriate management are crucial to prevent complications. Purpose: To describe the clinical manifestations, diagnosis, and management of typhoid fever in a patient. Method: This activity involved nursing care using a qualitative descriptive approach based on a case report, conducted on November 18, 2025. It describes the clinical course, diagnostic process, and management of typhoid fever in a single patient. The subject was an outpatient presenting with a three-day history of intermittent fever, accompanied by dizziness, generalized weakness, nausea, and reduced appetite. The activity was conducted in accordance with the CARE guidelines for case reports. Data were collected through medical history taking, physical examination, and ancillary tests. Data were analyzed using a descriptive-narrative approach by comparing the patient's clinical findings against the diagnostic criteria for typhoid fever. Results: Physical examination revealed the patient was fully conscious (*compos mentis*) with stable vital signs. Laboratory findings showed a leukocyte count of 4,900/mm³. The Widal test indicated *Salmonella typhi* O and H titers of 1/320. The patient was diagnosed with typhoid fever and treated with thiamphenicol, paracetamol, omeprazole, domperidone, and vitamin B complex. Following treatment, the patient's clinical condition improved, and no complications occurred during the treatment period. Conclusion: A diagnosis of typhoid fever can be established based on clinical manifestations supported by laboratory findings. Appropriate antibiotic administration and supportive therapy yield favorable clinical outcomes and help prevent complications. Suggestion: Education regarding personal hygiene, environmental sanitation, and the rational use of antibiotics needs to be enhanced to reduce the incidence and complications of typhoid fever. Keywords: Case study; Systemic infection; Salmonella typhi; Typhoid fever; Widal test Pendahuluan: Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan oleh salmonella enterica serovar typhi dan masih menjadi masalah kesehatan di negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit ini umumnya ditularkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi serta berkaitan erat dengan sanitasi dan higiene yang kurang baik. Penegakan diagnosis dan tata laksana yang tepat penting dilakukan untuk mencegah komplikasi. Tujuan: Untuk menggambarkan manifestasi klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan demam tifoid pada pasien. Metode: Kegiatan merupakan asuhan keperawatan dengan pendekatan deskriptif kualitatif berbasis studi kasus (case report) yang dilaksanakan pada tanggal 18 November 2025. Kegiatan ini mendeskripsikan perjalanan klinis, penegakan diagnosis, dan tata laksana demam tifoid pada satu pasien. Subjek dalam kegiatan ini adalah pasien yang sedang rawat jalan dengan keluhan demam sejak tiga hari sebelum masuk rumah sakit, bersifat hilang timbul, disertai pusing, badan lemas, mual, dan penurunan nafsu makan. Pelaksanaan kegiatan mengacu pada panduan case report guidelines (CARE). Data dikumpulkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Data dianalisis secara deskriptif-naratif dengan membandingkan temuan klinis pasien terhadap kriteria diagnosis demam tifoid. Hasil: Pemeriksaan fisik menunjukkan kesadaran compos mentis dengan tanda vital stabil. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukosit 4.900/mm³. Pemeriksaan tes Widal menunjukkan titer salmonella typhi O sebesar 1/320 dan H sebesar 1/320. Pasien didiagnosis demam tifoid dan mendapatkan terapi berupa thiamfenicol, paracetamol, omeprazole, domperidone, dan vitamin B kompleks. Setelah mendapatkan terapi, kondisi klinis pasien membaik tanpa ditemukan komplikasi selama masa pengobatan. Simpulan: Diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis yang didukung pemeriksaan laboratorium. Pemberian antibiotik dan terapi suportif yang tepat memberikan luaran klinis yang baik serta dapat mencegah komplikasi. Saran: Edukasi mengenai kebersihan diri, sanitasi lingkungan, serta penggunaan antibiotik yang rasional perlu ditingkatkan untuk menurunkan angka kejadian dan komplikasi demam tifoid.
Optimalisasi pemberdayaan kader lansia dalam deteksi dini dan perawatan demensia melalui aplikasi digital Gunawan Irianto; Fuadah Fahrudiana; Prilian Ayu Minarni
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3590

Abstract

Background: Old age (the elderly phase) is a stage in the human life cycle characterized by biological, psychological, and social aging processes. As they age, the elderly are susceptible to various declines in physiological organ function including the central nervous system which impact cognitive function. There has been a sharp rise in the prevalence of degenerative health issues, particularly cognitive impairment and dementia. Addressing this phenomenon requires the vital and strategic role of elderly care volunteers (*kader*). Current health promotion trends position these volunteers not merely as data recorders, but as key facilitators and frontline agents through task shifting in preventive efforts, early detection, and providing support to the families of the elderly within the community. Purpose: To empower volunteers by enhancing their knowledge and technical skills utilizing digital applications regarding early detection and dementia care. Method: The activity was conducted in Kuto Arjo Village, Pesawaran Regency, in collaboration with the KENARI Elderly Family Development Group partner. It involved 10 health volunteers designated for elderly care from the partner organization. The initiative employed an applied and participatory community empowerment approach. The goal was to transfer knowledge and train volunteers in technical skills, specifically the use of digital application-based early detection tools and gamified cognitive training. Volunteers' knowledge levels were measured using pre- and post-educational activity questionnaires. Descriptive assessment was carried out through direct observation as volunteers simulated the use of the application and demonstrated their ability to guide elderly participants through the simulations. Program evaluation involved comparing pretest and posttest scores to assess improvements in the volunteers' knowledge and skills (psychomotor), as well as their achievements throughout the activity. Results: The findings showed an increase in the cadres' average knowledge score from 82.5 points at the pretest to 97.8 points at the posttest. Furthermore, the cadres demonstrated the ability to independently use the early detection application and correctly administer cognitive stimulation across four key domains: visual memory, daily problem-solving, spatial-motor skills, and language. Conclusion: There was a significant improvement in the understanding and knowledge of Integrated Service Post for the Elderly cadres regarding concepts of elderly cognitive health, the distinction between normal aging and pathological dementia, and the importance of early screening and detection starting at the mild cognitive impairment stage. This community service initiative also resulted in tangible improvements in technical skills, enabling cadres to independently demonstrate and operate the digital application for early dementia detection. Suggestion: It is recommended that local community health centers and village authorities sustainably integrate this digital cognitive screening and stimulation program into the routine monthly services of the Integrated Service Post for the Elderly. Keywords: Dementia; Digital application; Early detection; Elderly care cadres; Gamification Pendahuluan: Lanjut usia (lansia) adalah fase perkembangan siklus kehidupan manusia yang ditandai dengan proses penuaan biologis, psikologis, dan sosial. Seiring bertambahnya usia, lansia rentan mengalami berbagai kemunduran fungsi organ fisiologis, termasuk sistem saraf pusat yang berdampak pada penurunan fungsi kognitif . Prevalensi masalah kesehatan degeneratif, khususnya gangguan kognitif dan demensia, mengalami peningkatan tajam. Dalam upaya mengatasi fenomena ini, peran kader lansia menjadi sangat vital dan strategis. Tren promosi kesehatan terkini menempatkan kader tidak hanya sebagai pencatat data, melainkan sebagai fasilitator utama dan ujung tombak (task shifting) dalam upaya preventif, pendeteksian dini, serta pendampingan keluarga lansia di masyarakat Tujuan: Upaya pemberdayaan kader dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis berbasis aplikasi digital dalam deteksi dini dan perawatan demensia. Metode: Kegiatan dilaksanakan di Desa Kuto Arjo, Kabupaten Pesawaran bersama mitra Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) KENARI. Melibatkan 10 kader kesehatan yang merupakan kader lansia dari mitra. Kegiatan dilakukan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat (community empowerment) yang bersifat aplikatif dan partisipatif. Sasaran dalam kegiatan ini adalah memberikan transfer pengetahuan, melatih keterampilan teknis kader dalam menggunakan instrumen deteksi dini berbasis aplikasi digital dan cognitive training gamifikasi. Pengukuran parameter tingkat pengetahuan kader menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Penilaian deskriptif melalui observasi langsung saat kader mensimulasikan penggunaan aplikasi dan kemampuannya mendampingi simulasi lansia. Evaluasi pelaksanaan program dilakukan dengan membandingkan hasil skor pretest dan posttest untuk melihat peningkatan pengetahuan dan keterampilan (psikomotorik) kader serta hasil pencapaian selama mengikuti kegiatan. Hasil: Menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai pengetahuan kader dari 82.5 poin pada saat pretest menjadi 97.8 poin pada saat posttest. Selain itu, kader terbukti mampu mendemonstrasikan secara mandiri penggunaan aplikasi deteksi dini dan melakukan stimulasi kognitif secara tepat pada empat aspek utama, yaitu memori visual, pemecahan masalah harian, spasial-motorik, dan bahasa. Simpulan: Terdapat peningkatan pemahaman dan pengetahuan yang signifikan pada kader Posyandu Lansia mengenai konsep kesehatan kognitif lansia, perbedaan antara penuaan normal dan demensia patologis, serta pentingnya melakukan skrining/deteksi dini sejak fase gangguan kognitif ringan (mild cognitive impairment). Kegiatan pengabdian ini juga memberikan peningkatan keterampilan teknis yang nyata, di mana kader mampu mendemonstrasikan dan mengoperasikan aplikasi digital untuk pendeteksian dini demensia secara mandiri. Saran: Diharapkan puskesmas dan perangkat desa setempat dapat secara berkelanjutan mengintegrasikan program skrining dan stimulasi kognitif digital ini ke dalam layanan rutin bulanan Posyandu Lansia.
Penyuluhan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan penyakit menular seksual (PMS) Siti Solihat Holida; Kunkun Mohamad Yusfar
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3591

Abstract

Background: Adolescents are a group vulnerable to various reproductive health issues, including sexually transmitted infections (STIs), due to limited knowledge and exposure to inaccurate information. Health education serves as a promotive and preventive measure to enhance adolescents' understanding of STI prevention. Purpose: To provide effective health education aimed at increasing adolescents' knowledge and awareness regarding STI prevention. Method: This community service activity was conducted at KP Vocational high school Baleendah, Bandung Regency, West Java, on February 11, 2026. The activity aimed to impart knowledge and understanding regarding STIs and their prevention among adolescents. Thirty-three students participated as respondents. Knowledge levels were measured using a Google Forms questionnaire administered before (pre-test) and after (post-test) the educational session. The questionnaire covered the definition of STIs, types of STIs, modes of transmission, signs and symptoms, impacts on reproductive health, and prevention strategies. Evaluation involved analyzing questionnaire scores using a one-group pre-test and post-test design to measure changes in respondents' knowledge levels before and after the intervention. Results: The results showed that the mean age of respondents was 15.9 years (standard deviation ±0.63 years), with the majority (20 respondents or 60.36%) being 16 years old. Regarding gender, there were 12 male respondents (36.4%) and 21 female respondents (63.6%). Knowledge scores prior to the educational activity yielded a mean of 11.03 points (standard deviation ±2.81 points) within a range of 5–15 points, whereas scores following the activity showed a mean of 13.48 points (standard deviation ±1.02 points) within a range of 9–15 points. Conclusion: The community service activity, consisting of health education on the prevention of sexually transmitted diseases (STDs), successfully increased adolescents' knowledge regarding reproductive health and STD prevention measures. This increased knowledge fostered self-motivation and encouraged the adoption of healthier, more responsible behaviors concerning reproductive health. Suggestion: Schools are encouraged to integrate reproductive health education into their regular student development programs. Furthermore, future community service initiatives could employ more interactive methods—such as peer education, the establishment of adolescent health cadres, or the use of digital media—to strengthen the sustainability of reproductive health education programs. Keywords: Adolescents; Healthy behavior; Health education; Prevention; Sexually transmitted diseases Pendahuluan: Remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap berbagai masalah kesehatan reproduksi, termasuk penyakit menular seksual (PMS), akibat keterbatasan pengetahuan dan paparan informasi yang kurang tepat. Penyuluhan kesehatan merupakan salah satu upaya promotif dan preventif yang dapat meningkatkan pemahaman remaja mengenai pencegahan PMS. Tujuan: Untuk memberikan penyuluhan kesehatan yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja tentang pencegahan PMS. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMK KP Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada tanggal 11 Februari 2026. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai penyakit menular seksual dan pencegahannya pada remaja. Kegiatan ini melibatkan 33 siswa untuk menjadi responden. Instrumen pengukuran tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner google forms yang diberikan sebelum (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Deskripsi dalam kuesioner meliputi pengertian penyakit menular seksual (PMS), jenis-jenis PMS, cara penularan, tanda dan gejala, dampak terhadap kesehatan reproduksi, serta upaya pencegahannya. Evaluasi dilakukan dengan menganalisa nilai kuesioner menggunakan desain one-group pre-test and post-test untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan responden antara sebelum dan setelah intervensi. Hasil: Menunjukkan bahwa rata-rata usia responden adalah 15.9 tahun dengan standar deviasi ±0.63 tahun dan mayoritas responden berusia 16 tahun yaitu sebanyak 20 responden (60.36%). Sedangkan untuk jenis kelamin responden yaitu laki-laki sebanyak 12 responden (36.4%) dan perempuan sebanyak 21 responden (63.6%). Sedangkan untuk skor tingkat pengetahuan responden sebelum kegiatan edukasi mendapatkan nilai mean=11.03 poin dengan standar deviasi ±2.81 poin dalam rentang nilai 5-15 poin, sedangkan skor tingkat pengetahuan responden sesudah kegiatan edukasi mendapatkan nilai mean=13.48 poin dengan standar deviasi ±1.02 poin dalam rentang nilai 9-15 poin. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa penyuluhan kesehatan tentang pencegahan penyakit menular seksual (PMS) telah berhasil meningkatkan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi dan upaya pencegahan PMS. Peningkatan pengetahuan tentang PMS pada remaja telah memberikan manfaat berupa motivasi diri dan mendorong terbentuknya perilaku yang lebih sehat serta bertanggung jawab dalam menjaga kesehatan reproduksi. Saran: Sekolah diharapkan dapat mengintegrasikan edukasi kesehatan reproduksi ke dalam program pembinaan siswa secara berkala. Selain itu, kegiatan pengabdian selanjutnya dapat dikembangkan dengan metode yang lebih interaktif, seperti peer educator, pembentukan kader kesehatan remaja, atau pemanfaatan media digital untuk memperkuat keberlanjutan program edukasi kesehatan reproduksi
Edukasi anemia pada remaja dan tata laksana pemberian tablet tambah darah Deddy Utomo; Tinah Purwaningsih; Ta'adi Ta'adi; Fatchurrozak Himawan
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3609

Abstract

Background: Anemia remains a major health issue among adolescents in Indonesia, particularly among adolescent girls. Anemia can lead to reduced learning concentration, productivity, and immune function, while also posing risks to future reproductive health. Health education and the provision of iron-folic acid (IFA) tablets are crucial strategies for preventing and managing anemia among adolescents. Purpose: To improve adolescent knowledge regarding anemia and the administration of iron-folic acid tablets through health education activities. Method: This community service activity was conducted in Debongkulon Urban Village on Monday, June 15, 2026, with 20 adolescents participating as respondents. The activity focused on empowering adolescents through education and health screening. The procedure prioritized interactive dialogue and active group participation to enhance health literacy regarding anemia prevention. All field observation data were compiled descriptively to provide a comprehensive evaluation of the program's implementation. Results: The majority of respondents had hemoglobin (Hb) levels within the normal range (75.0%) and Body Mass Index (BMI) values ​​in the normal category (50.0%); regarding knowledge, the majority demonstrated a good level of understanding (70.0%). Improvements in knowledge covered the definition of anemia, recognition of signs and symptoms, associated risks and negative impacts, and understanding of prevention strategies. Conclusion: Health education regarding anemia and iron (Fe) supplementation protocols effectively increased adolescents' knowledge and can serve as a promotive-preventive strategy to prevent anemia in this age group. Suggestion: Schools are encouraged to conduct periodic anemia education, while parental support and regular monitoring by health workers are needed to ensure consistent consumption of iron supplements (TTD) among adolescents. Keywords: Adolescents; Anemia; Iron supplements; Treatment management Pendahuluan: Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama pada remaja di Indonesia, terutama remaja putri. Anemia dapat menyebabkan penurunan konsentrasi belajar, produktivitas, daya tahan tubuh, serta berisiko memengaruhi kesehatan reproduksi di masa mendatang. Edukasi kesehatan dan pemberian tablet tambah darah (TTD) merupakan strategi penting dalam pencegahan dan penanggulangan anemia pada remaja. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan remaja mengenai anemia serta tata laksana pemberian tablet tambah darah melalui kegiatan edukasi kesehatan. Metode: Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di Kelurahan Debongkulon pada hari Senin tanggal 15 Juni 2026 dengan sebanyak 20 remaja sebagai responden. Sasaran kegiatan adalah menitikberatkan pada pemberdayaan remaja melalui edukasi dan skrining kesehatan. Prosedur kegiatan mengedepankan dialog interaktif dan partisipasi aktif kelompok untuk meningkatkan literasi kesehatan terkait pencegahan anemia. Seluruh data hasil observasi lapangan disusun secara deskriptif sebagai bentuk evaluasi komprehensif atas pelaksanaan program. Hasil: Menunjukkan sebagian besar responden memiliki kadar Hb dalam kategori normal (75.0%), indek masa tubuh responden sebagian besar berada pada kategori normal (50.0%) dan untuk aspek pengetahuan, mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori baik (70.0%). Mendapatkan peningkatan pengetahuan meliputi pengertian tentang anemia, memahami tanda dan gejala kejadian anemia, risiko dan dampak negatif dari anemia serta pemahaman tentang upaya pencegahan terjadinya anemia. Simpulan: Edukasi kesehatan mengenai anemia dan tata laksana pemberian Fe efektif meningkatkan pengetahuan remaja dan dapat menjadi salah satu strategi promotif-preventif dalam upaya pencegahan anemia pada kelompok usia remaja. Saran: Diharapkan pihak sekolah perlu melaksanakan edukasi anemia secara berkala dan dukungan dari orang tua serta petugas kesehatan perlu melakukan monitoring rutin terhadap konsumsi TTD pada remaja secara teratur.
Edukasi kesehatan berbasis influencer media sosial untuk meningkatkan perilaku pencegahan infeksi saluran reproduksi pada remaja Meriem Meisyaroh Syamson; Nasrayanti Nurdin; Cakrawardi Syawal; Faridah Faridah; Handayani Handayani
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3613

Abstract

Background: Reproductive tract infections (RTIs) are a health issue among adolescents that warrants attention due to their potential long-term impact on reproductive health. Limited knowledge, a lack of access to accurate information, and the strong influence of social media on adolescent behavior serve as key reasons for conducting this community service activity. Purpose: To improve adolescents' knowledge and preventive behaviors regarding reproductive tract infections through health education facilitated by social media influencers. Method: This community service activity employed a participatory, social media-based educational approach and was conducted at SMP 1 Watang Pulu, Sidenreng Rappang Regency, on May 18, 2026. The activity involved 50 female students as participants and two local influencers as facilitators. The goal was to foster an understanding of RTI prevention, particularly among adolescents who are highly engaged with digital and social media. Evaluation was carried out through simple Q&A sessions, observation of participant engagement during discussions, and feedback regarding the presented material and social media content. Descriptive evaluation results were used to assess the extent to which the educational activity improved adolescents' knowledge regarding RTI prevention. Results: The results demonstrated an improved understanding among adolescents regarding the importance of maintaining reproductive health, as well as heightened awareness of the need to adopt behaviors that prevent reproductive tract infections. Improvements in knowledge covered the definition of reproductive tract infections, risk factors, warning signs and symptoms, and the consequences of the excessive use of reproductive hygiene products. Participants also demonstrated awareness regarding the adoption of clean and healthy living practices related to reproductive health. Conclusion: Educational activities combining direct outreach, interactive discussions, and digital campaigns involving influencers proved effective in enhancing adolescents' knowledge of reproductive health. Delivering information through an adaptive and engaging approach leveraging local social media influencers fostered awareness among the adolescent community regarding the adoption of behaviors to prevent reproductive tract infections (RTIs) in their daily lives. The involvement of local social media influencers serves as a highly relevant health promotion strategy for shaping community character and encouraging healthy lifestyles. Suggestion: Adolescent reproductive health education initiatives should be conducted regularly and sustainably by fostering strong synergy among schools, families, communities, and healthcare professionals. Local social media influencers participating in health promotion programs should receive health-related briefings to ensure that the digital content they produce is not only well-received by the public but also aligns with ethical standards and health principles. Keywords: Adolescents; Influencers; Preventive behaviour; Reproductive tract infections; Social media Pendahuluan: Infeksi saluran reproduksi merupakan salah satu masalah kesehatan remaja yang perlu mendapat perhatian karena dapat berdampak pada kesehatan reproduksi jangka panjang. Rendahnya pengetahuan, kurangnya akses informasi yang benar, serta kuatnya pengaruh media sosial terhadap perilaku remaja menjadi alasan penting dilakukannya kegiatan pengabdian masyarakat ini. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan infeksi saluran reproduksi pada remaja melalui edukasi kesehatan berbasis influencer media sosial. Metode: Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan edukasi partisipatif berbasis media sosial yang dilaksanakan di sekolah SMP 1 Watang Pulu Kabupaten Sidenreng Rappang pada tanggal 18 Mei 2026. Melibatkan 50 siswi untuk menjadi partisipan dan 2 orang influencer lokal untuk menjadi fasilitator kegiatan. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pemahaman tentang pencegahan infeksi saluran reproduksi khususnya pada remaja yang memiliki kedekatan tinggi dengan media digital atau media sosial. Evaluasi dilakukan melalui tanya jawab sederhana, observasi keaktifan peserta saat diskusi, serta tanggapan peserta terhadap materi dan konten media sosial yang disampaikan. Hasil evaluasi deskriptif digunakan untuk melihat sejauh mana kegiatan edukasi mampu meningkatkan pengetahuan remaja mengenai pencegahan infeksi saluran reproduksi. Hasil: Menunjukkan adanya peningkatan pemahaman remaja mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta meningkatnya kesadaran untuk menerapkan perilaku pencegahan infeksi saluran reproduksi. Peningkatan aspek pengetahuan meliputi pengertian infeksi saluran reproduksi, faktor risiko terjadinya infeksi saluran reproduksi, tanda dan gejala yang perlu diwaspadai, dan dampak dari penggunaan produk pembersih organ reproduksi secara berlebihan. Menunjukkan kesadaran tentang penerapan perilaku hidup bersih dan sehat terkait kesehatan reproduksi. Simpulan: Kegiatan edukasi menggabungkan penyuluhan langsung, diskusi interaktif, dan kampanye digital melalui keterlibatan influencer terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi bagi remaja. Penyampaian informasi melalui pendekatan yang adaptif dan menarik melalui influencer media sosial lokal menumbuhkan kesadaran komunitas remaja untuk menerapkan perilaku pencegahan infeksi saluran reproduksi (ISR) dalam kehidupan sehari-hari. Keterlibatan influencer media sosial lokal menjadi strategi promosi kesehatan yang sangat relevan dalam membangun karakter masyarakat dalam menerapkan pola hidup sehat. Saran: Kegiatan edukasi kesehatan reproduksi remaja sebaiknya dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan dengan membangun sinergi yang kuat antara pihak sekolah, keluarga, komunitas, serta tenaga kesehatan. Influencer media sosial lokal yang dilibatkan dalam program promosi kesehatan perlu diberikan pembekalan tentang kesehatan agar konten digital yang diproduksi semakin mudah untuk diterima masyarakat tetap sesuai etika dan prinsip kesehatan.
Edukasi kesehatan dan skrining urinalisis sebagai upaya deteksi dini gangguan ginjal dan saluran kemih pada lansia dan perempuan usia dewasa Erlinda Widyastuti; Amalia Ajrina; Anita Kurniati; Ni Nyoman Purwani; Taufiqurrahman Sidqi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3634

Abstract

Background: Chronic kidney disease and urinary tract disorders are prevalent health issues among the elderly. Limited public awareness regarding risk factors and the importance of early detection often results in new cases being identified only at advanced stages. Therefore, promotive and preventive efforts through health education and community-based screening are essential. Purpose: To increase public knowledge regarding the prevention of kidney and urinary tract disorders through early detection via urinalysis. Method: This community service activity was conducted in November 2025 with the Al Mahbub Study Group (Pandugo) in Penjaringan Sari Village, Rungkut District, Surabaya, involving 29 local residents as respondents. The activity comprised urinalysis testing, health education, and interactive discussions with a Clinical Pathology specialist. Urinalysis was performed using 10-parameter test strips covering pH, specific gravity, erythrocytes, leukocytes, bilirubin, urobilinogen, glucose, protein, nitrite, and ketones. Results: All 29 respondents, aged 37–74 years, completed the activity. Urinalysis screening data showed that the majority of respondents (55.2%) had a urine pH of 6. Most respondents tested negative for leukocytes (65.5%), erythrocytes (89.7%), protein (93.1%), glucose (96.6%), and urobilinogen (96.6%), while all respondents fell within the normal range for urine specific gravity. Additionally, all respondents tested negative for bilirubin, nitrite, and ketones. Conclusion: A simple urinalysis screening activity combined with health education can identify community members requiring further examination while raising awareness about the importance of early detection of kidney and urinary tract disorders. Urinalysis serves as an effective early detection tool for identifying at-risk individuals, providing comprehensive health insights to prevent comorbidities and facilitating referrals for further medical evaluation. Suggestion: Periodic screening and health support are needed for community members who show abnormal urinalysis results. Collaboration among educational institutions, healthcare professionals, and the community must be strengthened to support efforts in preventing kidney and urinary tract diseases within the community. Keywords: Early detection; Elderly; Health education; Health screening; Kidney disorders; Urinalysis Pendahuluan: Penyakit ginjal kronik dan gangguan saluran kemih merupakan masalah kesehatan yang banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko dan pentingnya deteksi dini menyebabkan banyak kasus baru teridentifikasi pada stadium lanjut. Oleh karena itu diperlukan upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan serta skrining sederhana di masyarakat. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan gangguan ginjal dan saluran kemih dengan deteksi dini melalui pemeriksaan urinalisis. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada November 2025 di Kelompok Pengajian Al Mahbub (Pandugo), Kelurahan Penjaringan Sari, Kecamatan Rungkut, Surabaya. Melibatkan 29 warga masyarakat untuk menjadi responden. Kegiatan dilakukan dengan pemeriksaan urinalisis, penyuluhan kesehatan dan diskusi interaktif dengan dokter spesialis Patologi Klinik. Pemeriksaan urinalisis menggunakan strip tes 10 parameter yang mencakup pH, berat jenis, eritrosit, leukosit, bilirubin, urobilinogen, glukosa, protein, nitrit, dan keton. Hasil: Seluruh responden mengikuti kegiatan hingga selesai. Kegiatan diikuti oleh sebanyak 29 responden dengan rentang usia 37-74 tahun. Sedangkan untuk data skrining urinalisis menunjukkan bahwa mayoritas nilai pH responden adalah 6 yaitu sebesar 55.2%, sebagian besar kandungan leukosit responden adalah negatif yaitu sebesar 65.5%, mayoritas kandungan eritrosit responden adalah negatif yaitu sebesar 89.7%, sebagian besar kandungan protein responden adalah negatif yaitu sebesar 93.1%, mayoritas kandungan glukosa responden adalah negatif yaitu sebesar 96.6%, sebagian besar kandungan urobilinogen adalah negatif yaitu sebesar 96.6%, dan untuk berat jenis urine responden seluruhnya dalam kategori normal. Sedangkan untuk kandungan bilirubin, kandungan nitrit dan kandungan keton pada urine responden, seluruhnya dalam kategori negatif. Simpulan: Kegiatan skrining urinalisis sederhana yang dipadukan dengan edukasi kesehatan mampu mengidentifikasi kelompok masyarakat yang memerlukan pemeriksaan lanjutan sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya deteksi dini gangguan ginjal dan saluran kemih. Pemeriksaan urinalisis dapat menjadi alat deteksi awal yang efektif untuk mengidentifikasi individu berisiko sehingga dapat memberikan gambaran dan informasi tentang kesehatan yang komprehensif guna mencegah munculnya penyakit penyerta serta menjadi rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Saran: Perlu dilakukan kegiatan skrining secara berkala serta pendampingan kesehatan bagi masyarakat yang menunjukkan hasil urinalisis abnormal. Kolaborasi antara institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dan masyarakat perlu terus ditingkatkan untuk mendukung upaya pencegahan penyakit ginjal dan saluran kemih di komunitas.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue