cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 396 Documents
Edukasi penyimpanan obat yang benar untuk meningkatkan keamanan penggunaan obat di masyarakat Putri Rovita Sari; Ika Sutra Perwirahayu Aji Saputri; Vivi Rosalina; Rosi Hayyu Anjani
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3800

Abstract

Background: Storing medicines in conditions that do not meet temperature requirements can compromise their stability, quality, and effectiveness, thereby increasing the risk of therapeutic failure and adverse effects. However, public knowledge regarding temperature-appropriate medicine storage remains limited. Purpose: To improve public understanding of proper medicine storage practices as a means to enhance medication safety. Method: This community service activity was conducted on May 28, 2026, from 09:00 to 10:00 WIB in Krajan Hamlet, Kedungputri Village, Ngawi Regency. The organizing team consisted of lecturers and students from STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun. Forty residents of Krajan Hamlet, Kedungputri Village, Ngawi Regency, participated in the activity. The initiative aimed to educate the community on the importance of storing medicines correctly according to required temperatures. Information was conveyed through lectures, discussions, and question-and-answer sessions. Knowledge levels were assessed using questionnaires administered before (pre-test) and after (post-test) the educational session. Evaluation involved comparing pre-test and post-test scores, with findings presented descriptively to outline the community's understanding of proper medicine storage procedures and their benefits. Results: The results showed that the mean age of respondents was 36.8 years, with the majority (n=27; 67.5%) falling within the 31–40 age range. All knowledge indicators improved following the educational intervention. The number of respondents demonstrating a "good" level of knowledge increased proportionally from 12 (30.0%) prior to the activity to 36 (90.0%) afterward. The most significant improvements were observed in the understanding that not all medications require refrigeration, the importance of reading storage information on packaging, and the recognition that different medications have specific temperature requirements. Conclusion: The community outreach activity regarding proper temperature-based medication storage successfully enhanced public knowledge and understanding of the importance of heeding storage temperature information on medication packaging. The greatest gains were seen in the understanding that not all medicines need to be refrigerated and the importance of reading storage instructions before storing medications. Suggestion: It is recommended that educational activities regarding medication storage be expanded to a wider audience, involving healthcare facilities and village authorities. This would maximize the benefits of medication use and protect the public from adverse effects caused by using medications rendered unsuitable due to improper storage. Keywords: Health education; Medication; Medication storage; Public health Pendahuluan: Penyimpanan obat yang tidak sesuai dengan persyaratan suhu dapat menyebabkan penurunan stabilitas, mutu, dan efektivitas obat sehingga meningkatkan risiko kegagalan terapi maupun efek yang tidak diinginkan. Namun, pengetahuan masyarakat mengenai penyimpanan obat berdasarkan suhu masih terbatas. Tujuan: Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penyimpanan obat yang benar sebagai upaya meningkatkan keamanan penggunaan obat. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada 28 Mei 2026 pukul 09.00-10.00 WIB di Dusun Krajan Desa Kedungputri Kabupaten Ngawi. Tim kegiatan pengabdian ini adalah Dosen dan mahasiswa STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun. Kegiatan diikuti 40 responden yang merupakan warga masyarakat yang berdomisili di Dusun Krajan Desa Kedungputri Kabupaten Ngawi. Sasaran dalam kegiatan ini adalah memberikan edukasi mengenai pentingnya menyimpan obat dengan benar sesuai dengan suhu penyimpanan. Penyuluhan disampaikan melalui ceramah, diskusi dan tanya jawab. Instrumen dalam penilaian tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi dilakukan melalui pengkajian skor kuesioner antara pretest dan posttest dan disampaikan secara deskriptif mengenai pemahaman masyarakat tentang tata cara penyimpanan obat dengan benar dan manfaatnya. Hasil: Menunjukkan bahwa rata-rata usia responden adalah 36.8 tahun dan sebagian besar responden berada di rentang usia 31-40 tahun yaitu sebanyak 27 responden (67.5%). Seluruh indikator pengetahuan mengalami peningkatan setelah pelaksanaan edukasi. Tingkat pengetahuan responden dalam kategori baik mengalami peningkatan secara proporsional menjadi sebanyak 36 responden (90.0%) dari sebanyak 12 responden (30.0%) sebelum kegiatan edukasi. Peningkatan terbesar terjadi pada pemahaman bahwa tidak semua obat harus disimpan di dalam lemari pendingin, pentingnya membaca informasi penyimpanan pada kemasan obat, serta pemahaman bahwa setiap obat memiliki persyaratan suhu penyimpanan yang berbeda. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat mengenai edukasi penyimpanan obat yang benar berdasarkan suhu penyimpanan berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya memperhatikan informasi suhu penyimpanan yang tertera pada kemasan obat. Peningkatan terbesar terjadi pada pemahaman bahwa tidak semua obat harus disimpan di dalam kulkas serta pentingnya membaca petunjuk penyimpanan sebelum menyimpan obat. Saran: Diharapkan untuk kegiatan edukasi mengenai penyimpanan obat dapat dilanjutkan kepada kalangan lebih luas dan melibatkan fasilitas pelayanan kesehatan dan pemerintah desa sehingga manfaat dari penggunaan obat akan lebih efektif dan masyarakat akan terhindar dari dampak buruk akibat menggunakan obat yang tidak layak karena kesalahan dalam penyimpanan.
Pemberian motivasi tentang deteksi dini hipertensi melalui edukasi dan skrining kesehatan Hernia Novianti; Sri Wahyuni; Novita Novita
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3801

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease that poses a global health challenge, with a steadily rising prevalence particularly in developing nations like Indonesia. Often termed the "silent killer," the condition frequently presents without obvious symptoms yet can lead to severe complications such as heart disease and stroke. Purpose: To enhance public knowledge regarding hypertension and encourage early detection through educational sessions and screening activities at the Integrated Guidance Post. Method: The activity took place on May 1, 2026, from 08:30 to 11:30 WIB in Gampong Baro, Kota Juang, Bireuen, involving 30 local residents. Program outcomes were analyzed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Evaluation involved statistical analysis of the pretest and posttest data to assess the effectiveness of the poster-based educational intervention in improving public knowledge on hypertension prevention. Descriptive analysis was conducted to determine the extent to which visual-based education strengthened participants' understanding of risk factors, early symptoms, and healthy lifestyle measures for preventing hypertension. Results: The findings showed that the mean age of respondents was 53.2 years, with the largest proportion (36.8%) falling within the 56–65 age group. The majority of respondents were female (90.0%) and married (66.7%). The mean knowledge score increased from 7.60 points in the pretest to 9.0 points in the posttest, yielding a statistically significant result (p-value < 0.000). Conclusion: The education and screening activities successfully improved participants' knowledge regarding the early detection of hypertension, as evidenced by the increased proportion of participants falling into the "good knowledge" category following the intervention. A participatory educational approach combining brief lectures, discussions, visual aids, and direct blood pressure measurements proved effective in raising awareness and identifying previously undiagnosed cases of hypertension. Suggestion: It is recommended that the education and screening program be implemented regularly and integrated with local primary healthcare services. This should involve training community health volunteers or Integrated Service Post staff to ensure continuous screening, enhancing the use of contextually relevant visual materials, and conducting long-term evaluations to ensure that increased knowledge translates into behavioral changes and a reduction in hypertension incidence. Further research utilizing a more representative sample and a controlled study design is also needed to strengthen the evidence regarding the program's effectiveness. Keywords: Early detection; Health education; Health screening; Hypertension; Integrated guidance post Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Penyakit ini sering disebut sebagai "silent killer" karena gejalanya yang tidak selalu terlihat namun dapat menyebabkan komplikasi serius seperti penyakit jantung dan stroke. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hipertensi dan mendorong deteksi dini melalui kegiatan edukasi dan skrining di Posbindu. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 01 Mei 2026, dimulai pukul 08.30 WIB hingga 11.30 WIB di Gampong Baro, Kota Juang, Bireuen. Kegiatan ini melibatkan 30 responden yang merupakan warga masyarakat Gampong Baro. Analisa pencapaian program kegiatan menggunakan pendekatan one group pretest and posttest dengan instrumen kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi dilakukan dengan analisa statistik data pretest dan posttest untuk mengukur efektivitas kegiatan penyuluhan menggunakan media poster dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan hipertensi. Analisis deskriptif dilakukan untuk melihat sejauh mana penyuluhan berbasis visual mampu memperkuat pemahaman peserta terhadap faktor risiko, gejala awal, dan langkah-langkah gaya hidup sehat yang dapat diterapkan untuk mencegah terjadinya hipertensi. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata responden adalah 53.2 tahun dan sebagian besar responden berada di kelompok usia 56-65 tahun yaitu sebesar 36.8%. Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan sebesar 90.0%, dan sebagian besar responden memiliki status telah menikah sebesar 66.7%. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 7.60 poin pada pretest menjadi 9.0 poin pada posttest dan secara statistik mendapatkan p-value<0.000. Simpulan: Kegiatan edukasi dan skrining berhasil meningkatkan pengetahuan peserta mengenai deteksi dini hipertensi, terlihat dari peningkatan proporsi peserta pada kategori pengetahuan baik setelah intervensi. Penyuluhan dengan pendekatan partisipatif yang mengombinasikan ceramah singkat, diskusi, media visual, dan pengukuran tekanan darah langsung terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran serta mendeteksi kasus hipertensi yang sebelumnya tidak terdiagnosis. Saran: Diharapkan program edukasi dan skrining dilaksanakan secara rutin dan terintegrasi dengan layanan kesehatan primer setempat, melibatkan pelatihan kader atau petugas posyandu untuk skrining berkelanjutan, memperkuat penggunaan materi visual yang kontekstual, serta melakukan evaluasi jangka panjang untuk memastikan peningkatan pengetahuan berujung pada perubahan perilaku dan penurunan insiden hipertensi; penelitian lanjutan dengan sampel lebih representatif dan desain kontrol juga diperlukan untuk memperkuat bukti efektivitas.
Pemberdayaan ibu dengan edukasi literasi digital sebagai strategi mediasi orangtua dalam mengontrol penggunaan gadget pada anak usia sekolah Sarini Sarini; Dewi Rubi Fitriyani; Dayana Noprida; Komalasari Komalasari
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3806

Abstract

Background: The rapid advancement of digital technology has made gadgets an integral part of the lives of primary school-aged children. While gadgets offer educational benefits, uncontrolled use can potentially lead to negative impacts on children's physical, psychological, social, and behavioral well-being. Mothers, as primary caregivers, play a crucial role in supervising and mediating their children's gadget usage. Purpose: To enhance mothers' digital literacy regarding the supervision of children's gadget use through an e-module-based parental mediation strategy. Method: The activity was conducted on July 5, 2026, at the Puri Calisya Indah Housing Complex (Block C3, RT 43, Cibalado Hamlet, Gintungkerta, Klari, Karawang). The target audience consisted of mothers with primary school-aged children (6–12 years old), with a total of 25 participants. The primary educational materials used were a digital literacy e-module and leaflets. Pre-test and post-test data were analyzed descriptively by comparing the average scores before and after the intervention. The increase in scores served as an indicator of the community service activity's success in improving participants' knowledge and understanding regarding the supervision of children's gadget use. Results: The findings indicate that prior to the educational activity, 32.0% of respondents fell into the "good" knowledge category, 24.0% into "fair," and 44.0% into "poor." Following the activity, there was a proportional shift, with 80.0% falling into the "good" category, 16.0% into "fair," and 4.0% into "poor." Additionally, the respondents' average knowledge score rose from 74 points at the pre-test stage to 89 points at the post-test stage. Conclusion: Community service activities involving outreach and digital literacy education successfully improved mothers' knowledge regarding the supervision of children's gadget usage. Empowering mothers through digital literacy covering topics such as digital parenting, safe screen time limits, parental mediation strategies, and the use of the Google Family Link app to monitor and restrict gadget usage duration serves as a vital strategy and a positive program for fostering a healthy family environment that supports children's growth and development. Keywords: Community service; Digital literacy; Gadgets; Parental mediation; School-age children Pendahuluan: Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat telah menjadikan gadget sebagai bagian dari kehidupan anak usia sekolah dasar. Meskipun gadget dapat memberikan manfaat edukatif, penggunaan yang tidak terkontrol berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan fisik, psikologis, sosial, dan perilaku anak. Ibu sebagai pengasuh utama memiliki peran penting dalam melakukan pengawasan dan mediasi penggunaan gadget. Tujuan: Untuk meningkatkan literasi digital ibu melalui strategi mediasi orang tua berbasis e-modul dalam pengawasan penggunaan gadget pada anak. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada 5 Juli 2026 di Perum Puri Calisya Indah Blok C3 RT 43 Dukuh Cibalado Gintungkerta Klari Karawang. Sasaran kegiatan adalah ibu rumah tangga yang memiliki anak usia sekolah dasar (6–12 tahun). Jumlah peserta yang berpartisipasi sebanyak 25 orang. Media utama yang digunakan dalam kegiatan ini adalah e-modul edukasi literasi digital dan leaflet. Data hasil pretest dan posttest dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan rata-rata skor sebelum dan sesudah intervensi. Peningkatan skor digunakan sebagai indikator keberhasilan kegiatan pengabdian dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta mengenai pengawasan penggunaan gadget pada anak. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum kegiatan edukasi adalah sebesar 32.0% kategori baik, sebesar 24.0% kategori cukup, dan sebesar 44.0% kategori kurang, sedangkan setelah kegiatan edukasi mengalami peningkatan secara proporsional menjadi sebesar 80.0% kategori baik, sebesar 16.0% kategori cukup, dan sebesar 4.0% kategori kurang. Sedangkan rata-rata skor pengetahuan responden mengalami peningkatan dari 74 poin pada saat pretest menjadi 89 poin pada posttest. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat melalui penyuluhan dan edukasi literasi digital berhasil meningkatkan pengetahuan ibu dalam pengawasan penggunaan gadget pada anak. Pemberdayaan ibu melalui literasi digital yang meliputi pola asuh digital, batas aman screen time, strategi mediasi orang tua dan aplikasi google family link untuk mengawasi dan membatasi durasi penggunaan gadget pada anak dapat menjadi strategi penting dan program positif dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sehat dan mendukung tumbuh kembang anak.
Distribusi derajat hipertensi pada peserta program pengelolaan penyakit kronis (prolanis): analisis karakteristik demografi Hadi Kurniawan; Mario Sandro; Arfan Sahroni
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3918

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease that stands as a leading cause of morbidity and mortality worldwide. In Indonesia, a significant gap persists between the prevalence of hypertension based on blood pressure measurements and diagnoses made by healthcare professionals, indicating that many cases remain undetected. Blood pressure screening conducted through the Chronic Disease Management Program (Prolanis) serves as a crucial initiative for enhancing early detection while providing health education to at-risk population groups. Purpose: To describe the demographic characteristics of Prolanis participants and the results of blood pressure screenings, serving as a basis for delivering health education regarding hypertension. Method: This initiative took the form of a community service activity utilizing a descriptive approach aimed at outlining participant demographics and screening results to inform hypertension-related health education. The activity was conducted in May 2025 at Saras Medika Clinic, Pringsewu Regency, Lampung Province. The target audience consisted of all participants in the Chronic Disease Management Program (Prolanis) attending activities at Saras Medika Clinic. Thirty-five participants present during the event served as respondents. Observed parameters included demographic characteristics specifically age, occupation, education level, and place of residence as well as blood pressure measurement results. Demographic data and screening results were analyzed descriptively using frequency distributions and percentages, then presented in tabular form to provide an overview of participant characteristics and the distribution of blood pressure status among Prolanis participants. Results: The study showed that the mean age of respondents was 55.6 years, with the majority (n=16; 45.7%) aged 60 years or older. Most respondents had a primary school education (n=17; 48.5%) and worked as farmers (n=14; 40.0%); all resided in rural areas (100.0%). Blood pressure measurements indicated that the majority of respondents fell into the stage I hypertension category (n=15; 42.9%). Conclusion: Blood pressure screening and health education activities conducted through the Chronic Disease Management Program successfully characterized the blood pressure profiles of participants based on their demographics. A significant proportion of participants fell into the hypertension category specifically stage I highlighting a continued need for early detection, regular blood pressure monitoring, and health education. Therefore, the sustained implementation of Chronic Disease Management Program must be strengthened to support hypertension control at the primary healthcare level. Suggestion: Given that the majority of those with hypertension were aged 45 years or older, had a primary education, and lived in rural areas, Prolanis-based screening and education activities should be conducted routinely and targeted specifically at this demographic to improve hypertension control and prevent complications. Keywords: Chronic disease management program; Community characteristics; Early detection; Hypertension Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Di Indonesia, masih terdapat kesenjangan yang cukup besar antara prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah dan diagnosis tenaga kesehatan, yang menunjukkan bahwa banyak kasus hipertensi belum terdeteksi. Pelaksanaan skrining tekanan darah melalui program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) menjadi salah satu upaya penting untuk meningkatkan deteksi dini sekaligus memberikan edukasi kesehatan kepada kelompok masyarakat berisiko. Tujuan: Mendeskripsikan karakteristik demografi peserta Prolanis dan hasil skrining tekanan darah sebagai dasar pelaksanaan edukasi kesehatan mengenai hipertensi. Metode: Kegiatan ini merupakan pengabdian kepada masyarakat dengan pendekatan deskriptif yang bertujuan menggambarkan karakteristik demografi peserta serta hasil skrining tekanan darah sebagai dasar pelaksanaan edukasi kesehatan mengenai hipertensi. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Mei 2025 di Klinik Saras Medika, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Sasaran kegiatan adalah seluruh peserta program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) yang mengikuti kegiatan di Klinik Saras Medika. Sebanyak 35 peserta yang hadir pada saat pelaksanaan kegiatan dijadikan sebagai responden. Parameter yang diamati meliputi karakteristik demografi peserta yaitu usia, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, dan wilayah tempat tinggal, serta hasil pengukuran tekanan darah. Data karakteristik demografi dan hasil skrining tekanan darah dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase, kemudian disajikan dalam bentuk tabel untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik peserta dan distribusi status tekanan darah pada peserta Prolanis. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata responden adalah 55.6 tahun dan mayoritas berada di usia ≥60 tahun yaitu sebanyak 16 responden (45.7%). Sebagian besar tingkat pendidikan responden adalah Sekolah Dasar yaitu sebanyak 17 responden (48.5%), untuk status pekerjaan responden adalah sebagian besar sebagai petani yaitu sebanyak 14 responden (40.0%), untuk wilayah tempat tinggal responden adalah seluruhnya di pedesaan (100.0%), dan sedangkan untuk hasil pemeriksaan tekanan darah menunjukkan sebagian besar responden dalam kategori hipertensi tahap-I yaitu sebanyak 15 responden (42.9%). Simpulan: Kegiatan skrining tekanan darah dan edukasi kesehatan melalui program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) berhasil menggambarkan profil tekanan darah berdasarkan karakteristik peserta. Sebagian besar peserta termasuk dalam kategori hipertensi, terutama hipertensi tahap-I, yang menunjukkan masih tingginya kebutuhan terhadap deteksi dini, pemantauan tekanan darah secara berkala, dan edukasi kesehatan. Oleh karena itu, pelaksanaan Prolanis secara berkelanjutan perlu terus diperkuat sebagai upaya mendukung pengendalian hipertensi di tingkat pelayanan kesehatan primer. Saran: Mengingat sebagian besar penderita hipertensi merupakan kelompok usia ≥45 tahun, berpendidikan dasar, dan tinggal di wilayah pedesaan, kegiatan skrining tekanan darah dan edukasi berbasis Prolanis perlu dilakukan secara rutin dan terarah pada kelompok tersebut untuk meningkatkan pengendalian hipertensi dan mencegah komplikasi.
Optimalisasi manuver valsalva untuk mengurangi nyeri telinga akibat perubahan tekanan udara Fitri Anggraeni; Luluk Eka Meylawati; Suroso Suroso; Ridho Fidrajaya
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.3935

Abstract

Background: Rapid changes in air pressure can create a pressure imbalance between the middle ear cavity and the external environment, often resulting in ear pain, a sensation of fullness, ringing in the ears (tinnitus), temporary hearing impairment, and other forms of discomfort. This condition, known as ear barotrauma, occurs due to environmental pressure changes such as during aircraft takeoff or landing, diving activities, or while inside pressurized environments like hyperbaric chambers. The Valsalva maneuver is a method used to alleviate this issue; it involves closing the nose and mouth and attempting to exhale, thereby increasing air pressure within the nasal cavity and Eustachian tubes. Purpose: To optimize the Valsalva maneuver technique as a non-invasive intervention for reducing ear pain caused by air pressure changes in patients undergoing hyperbaric chamber therapy. Method: This activity consisted of interactive education and practical training conducted at the Hyperbaric Unit of Dr. Mintohardjo Naval Hospital (RSAL). The target audience comprised patients at high risk of developing ear pain (ear barotrauma) due to air pressure fluctuations during hyperbaric therapy. Twenty-eight patients participated in the activity. Respondents' knowledge and understanding were assessed using a "one-group pretest-posttest" design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Practical proficiency was evaluated through observation of the respondents performing the Valsalva maneuver during a simulation. Evaluation involved comparing pretest and posttest results to measure knowledge gains and observing the practical skills demonstrated during the maneuver. The data were analyzed descriptively to assess the success of the education and training regarding the Valsalva maneuver in patients prone to ear pain. Results: The study showed that the mean age of participants was 52.9 years, with the majority (11 participants or 39.3%) falling within the 45–59 age range. Most participants were male (17 participants or 60.7%). Pre-test and post-test results indicated an improvement in category distribution, rising from 8 individuals (28.6%) to 23 individuals (82.1%) an increase of 53.5%. Conclusion: Community service activities comprising education via standing banners, demonstrations, and hands-on practice were highly effective in enhancing the knowledge and understanding of patients undergoing hyperbaric therapy regarding the application of the Valsalva maneuver. Improved proficiency in performing the maneuver also reduced anxiety associated with confined spaces (claustrophobia), prevented panic caused by ear pain or ringing resulting from pressure changes, and fostered the confidence needed for the procedure to proceed smoothly and without injury. Suggestion: It is recommended that RSAL dr. Mintohardjo specifically the hyperbaric unit provide standing banners and offer ongoing education to support the dissemination of health information regarding the Valsalva maneuver to the wider community. Keywords: Air pressure changes; Ear barotrauma; Hyperbaric therapy; Valsalva maneuver Pendahuluan: Perubahan tekanan udara yang terjadi secara cepat dapat menimbulkan tekanan tidak seimbang antara rongga telinga tengah dan lingkungan luar, sehingga sering menyebabkan nyeri telinga, rasa penuh, berdengung, gangguan pendengaran sementara dan ketidaknyamanan lainnya. Kondisi ini dikenal sebagai barotrauma telinga yang terjadi karena ada perubahan lingkungan seperti saat pesawat lepas landas atau mendarat, aktivitas menyelam dan juga saat berada di dalam ruang bertekanan seperti hyperbaric chamber. Manuver valsalva merupakan salah satu metode untuk mengurangi masalah tersebut dengan menutup hidung dan mulut lalu mencoba menghembuskan napas sehingga tekanan udara di rongga hidung dan tuba eustachius meningkat. Tujuan: Mengoptimalkan teknik manuver valsalva sebagai intervensi non-invasif untuk mengurangi nyeri telinga akibat perubahan tekanan udara pada pasien yang menjalani terapi di ruang hyperbaric chamber. Metode: Kegiatan ini merupakan edukasi interaktif dengan intervensi pelatihan yang dilaksanakan di Ruang Hyperbarik RSAL dr. Mintohardjo. Sasaran kegiatan ini adalah pasien yang memiliki risiko tinggi terjadinya nyeri telinga (ear barotrauma) akibat perubahan tekanan udara selama proses terapi hiperbarik. Kegiatan ini melibatkan 28 pasien untuk menjadi partisipan. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Untuk tingkat kemampuan responden di evaluasi berdasarkan observasi dari simulasi ketika melakukan praktik manuver valsalva. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil pretest dan posttest untuk melihat peningkatan pengetahuan dan pengamatan dari keterampilan praktik menerapkan manuver valsalva. Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk menilai keberhasilan kegiatan edukasi dan pelatihan manuver valsalva pada pasien dengan terjadinya nyeri telinga. Hasil:  Menunjukkan bahwa usia rata-rata partisipan adalah 52.9 tahun dan mayoritas berada direntang usia 45-59 tahun yaitu sebanyak 11 partisipan (39.3%). Sebagian besar partisipan berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 17 partisipan (60.7%). Dengan hasil pretest dan posttest menunjukkan adanya perubahan distribusi kategori menjadi lebih baik dari 8 orang (28.6%) menjadi 23 orang (82.1%), atau mengalami peningkatan sebesar 53.5%. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi menggunakan media standing banner, demonstrasi, dan praktik langsung sangat efektif meningkatkan pengetahuan serta pemahaman pasien yang sedang menjalani terapi hiperbarik dalam menerapkan manuver valsalva. Peningkatan kemampuan pasien dalam menerapkan manuver valsalva juga mengurangi rasa cemas pasien di ruang sempit (klaustrofobia), mencegah kepanikan saat telinga terasa sakit atau berdengung akibat perubahan tekanan, serta membangun rasa percaya diri agar prosedur berjalan lancar tanpa cedera.  Saran: Diharapkan kepada RSAL dr. Mintohardjo khususnya di ruang hiperbarik untuk menyediakan standing banner dan memberikan edukasi keberlanjutan sebagai upaya mendukung penyebaran informasi kesehatan tentang manuver valsalva agar dapat diterima kepada masyarakat yang lebih luas.
Penyuluhan terapi pijat wajah untuk mengatasi gerakan tutup mulut pada balita Marice Marice; Therecia Wijayati; Youlenta Ernesonta; Intan Intan; Elsa Elsa; Cristianingsih Sri Paninggih
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3972

Abstract

Background: The behavior of keeping the mouth closed (refusing food) in toddlers is an issue that can affect feeding, communication, and the development of oromotor function. One non-pharmacological intervention involves educating parents on facial massage techniques to stimulate facial muscles and help improve oral movement function. Purpose: To enhance parents' knowledge and skills in performing facial massage to help address the issue of toddlers keeping their mouths closed (refusing food). Method: This activity was conducted on February 24, 2026, at the Pal III Community Health Center (Puskesmas) in Sungai Jawi Urban Village, Pontianak City District, West Kalimantan. The study involved 77 mothers of toddlers as respondents. The initiative aimed to empower mothers through education on complementary care specifically facial massage to address this refusal behavior. Respondents' knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, with questionnaires administered before and after the educational session. Skill levels were evaluated through observation of practical simulations using anatomical models (phantoms). Evaluation involved analyzing the aggregated questionnaire data and descriptively reporting the results regarding the achievement and improvement of respondents' knowledge concerning the benefits of facial massage for this issue. Results: The study showed that the mean age of respondents was 32.3 years, with the majority (50.6%) falling within the 20–29 age range. Evaluation results indicated an increase in participants' knowledge regarding the benefits of facial massage for toddlers experiencing "refusal to eat" behavior (characterized by the child closing their mouth tightly); knowledge levels rose from 27.3% prior to the educational activity to 79.2% afterward. Participants were also able to correctly demonstrate the facial massage techniques following the demonstration and guided practice sessions. Conclusion: The educational program on facial massage to address refusal-to-eat behavior in toddlers was successfully implemented and received a positive response from participants; it effectively raised awareness regarding the causes of this behavior and its impact on the nutritional balance required for optimal toddler growth and development. Combining educational leaflets with anatomical models (phantoms) proved to be an effective strategy for conveying information and teaching participants how to perform facial massage safely and correctly. Suggestion: It is recommended that healthcare professionals conduct periodic educational sessions on facial massage for toddlers and involve community health volunteers. This approach ensures the continuity of information and knowledge sharing, thereby supporting family health and fostering optimal growth and development in toddlers. Keywords: Facial massage; Health education; Refusal to eat; Therapy; Toddlers Pendahuluan: Gerakan tutup mulut pada balita merupakan salah satu permasalahan yang dapat memengaruhi proses makan, komunikasi, dan perkembangan fungsi oromotor. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan adalah penyuluhan kepada orang tua mengenai teknik pijat wajah sebagai stimulasi otot-otot wajah untuk membantu meningkatkan fungsi gerakan mulut. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam melakukan pijat wajah wajah guna membantu mengatasi gerakan tutup mulut pada balita. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 24 Februari 2026 di Puskesmas Pal III Kelurahan Sungai Jawi, Kecamatan Pontianak Kota, Kalimantan Barat. Melibatkan 77 ibu yang memiliki balita untuk menjadi responden. Sasaran kegiatan ini adalah pemberdayaan ibu melalui edukasi asuhan komplementer pijat wajah balita dalam mengatasi GTM pada balita. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Untuk tingkat kemampuan responden di evaluasi berdasarkan observasi dari simulasi ketika melakukan praktik pemijatan wajah dengan menggunakan phantom. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan mengkaji hasil akumulasi kuesioner dan disampaikan secara deskriptif terkait pencapaian dan peningkatan pengetahuan responden tentang manfaat pemijatan wajah terhadap GTM pada balita. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata responden adalah 32.3 tahun dan mayoritas berada direntang usia 20-29 tahun yaitu sebesar 50.6%. Berdasarkan hasil evaluasi menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan peserta tentang manfaat pijat wajah pada balita dapat menurunkan GTM mengalami peningkatan dari sebelum kegiatan edukasi sebesar 27.3% menjadi sebesar 79.2% setelah kegiatan edukasi. Peserta juga mampu mempraktikkan teknik pijat wajah sesuai prosedur dengan baik dan benar setelah mengikuti demonstrasi dan pendampingan. Simpulan: Kegiatan penyuluhan pijat wajah untuk mengatasi gerakan tutup mulut (GTM) pada balita telah terlaksana dengan baik dan mendapat respons positif dari para peserta secara efektif menumbuhkan kesadaran dalam mengantisipasi penyebab GTM dan dampaknya terkait keseimbangan gizi untuk tumbuh kembang balita. Perpaduan media edukasi antara leaflet dan phantom sebagai alat peraga merupakan strategi efektif dalam penyampaian informasi dan ketrampilan peserta dalam melakukan pijat wajah secara benar dan aman. Saran: Diharapkan untuk tenaga kesehatan dapat melakukan kegiatan edukasi pijat wajah balita secara berkala dan melibatkan kader sehingga informasi dan nilai pengetahuan dapat berkembang berkelanjutan sebagai upaya dukungan terhadap kesehatan keluarga dengan balita yang memiliki tumbuh kembang optimal.  

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue