cover
Contact Name
Ira Cinta Lestari
Contact Email
jurnal.ibnusina@fk.uisu.ac.id
Phone
+628196029417
Journal Mail Official
jurnal.ibnusina@fk.uisu.ac.id
Editorial Address
Jalan STM No. 77, Medan Johor, Medan, Sumatera Utara, Indonesia 20146
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara
ISSN : 14119986     EISSN : 26142996     DOI : https://doi.org/10.30743/ibnusina
Core Subject : Humanities, Health,
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan-Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara merupakan jurnal yang memiliki cakupan keilmuan dalam bidang kedokteran, kesehatan masyarakat, dan ilmu perilaku dan terbit 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan Januari dan Juli. Terbitan pertama adalah bulan Januari 2020. Naskah yang masuk akan diterima oleh editor untuk kemudian kan dilakukan pemeriksaan kemiripan naskah dengan aplikasi Plagiarism Checker. Proses review dilakukan dengan menggunakan peer review. Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan menerima naskah dengan topik bidang kedokteran, kesehatan masyarakat, ilmu perilaku, dan topik lainnya yang relevan.
Articles 258 Documents
EKSPRESI IMUNOHISTOKIMIA PZIP7 PADA INVASIVE BREAST CARCINOMA UNTUK MERAMALKAN AGRESIVITAS TUMOR DAN RESISTENSI KEMOTERAPI: IMMUNOHISTOCHEMICAL EXPRESSION OF PZIP7 IN INVASIVE BREAST CARCINOMA TO PREDICT TUMOR AGGRESSIVENESS AND CHEMOTHERAPY RESISTANCE Winda Hasibuan; Betty; Lidya Imelda Laksmi; Jessy Chrestella; Devi Nafilah Yuzar
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 25 No. 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v25i2.1220

Abstract

Invasive breast carcinoma (IBC) bersifat herediter dan paparan estrogen jangka panjang adalah faktor risikonya. Subtipe molekuler IBC dibagi menjadi luminal A, luminal B, HER2-positif, dan triple negatif breast cancer (TNBC). Subtipe molekuler adalah dasar bagi pemberian targeting dan personalized therapy. Resistensi dapat muncul dalam terapi kanker payudara. Untuk menilai resistensi sel-sel kanker payudara setelah pemberian terapi, American Joint Committee on Cancer (AJCC) ke-8 merekomendasikan penggunaan metode Residual Cancer Burden (RCB). Zink berfungsi untuk menstabilkan struktur global p53, selain itu gangguan pada homeostasis zink yang diperantarai oleh transporter terbukti menyebabkan proliferasi sel-sel kanker. Salah satu transporter yang berperan dalam meningkatkan konsentrasi zink di sitoplasma adalah ZIP7. pZIP7 adalah ZIP7 yang telah teraktivasi dan terfosforilasi. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan cross sectional dimulai bulan Juni 2025 sampai Februari 2026 (n=64) pada sediaan histopatologi dengan pulasan hematoxylin-eosin (HE), sediaan imunohistokimia subtipe molekuler IBC dan telah mendapatkan kemoterapi neoadjuvant. Pada penelitian ini IBC paling banyak dijumpai pada kelompok usia 40-49 tahun, subtipe histopatologi IBC NST, subtipe molekuler tipe luminal, dan Nottingham grading system grade 2, ypT3 dan ypN0. RCB class terbanyak adalah class II. Ekspresi imunohistokimia pZIP7 paling banyak dijumpai pada ekspresi imunohistokimia positif di sitoplasma sel-sel tumor dan tidak didapatkan hubungan yang signifikan antara ekspresi pZIP7 dan RCB (p-value: 0.371). Kesimpulan: Ekspresi imunohistokimia pZIP7 belum dapat meramalkan agresivitas dan resistensi terhadap kemoterapi neoadjuvan.
MATERNAL ANTHROPOMETRY AND GROWTH OUTCOMES IN INFANTS AGED < 6 MONTHS: A CROSS-SECTIONAL STUDY: ANTROPOMETRI IBU DAN HASIL PERTUMBUHAN BAYI USIA < 6 BULAN: STUDI LINTAS SEKSI Meutia Wardhanie Ganie; Dina Keumala Sari; Sarma Nursani Lumbanraja; Zaimah Z Tala; Winra Pratita
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 25 No. 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v25i2.1223

Abstract

Maternal nutrition status during lactation plays an important role in supporting infant growth in early life through its influence on the quality and composition of breastmilk. However, evidence regarding tha association between maternal anthropometry and infant growth outcomes remains inconsistent across different populations. This study aimed to examine the association between maternal nutritional status and growth outcomes among infants aged <6 months. A cross-sectional analytic study was conducted among 56 mother-infant pairs in Medan,Indonesia, between September and November 2025. Maternal nutritional status was assessed using body mass index (BMI), while infant growth was evaluated using World Health Organization anthropometric indicators, including weight-for-age, length-for-age, weight-for-length, and BMI-for-age. Statistical analysis was performed using Spearman correlation. Significant positive correlation were observed between maternal nutritional status and infant weight-for-age (r=0.301; P=0.024), length-for-age (r=0.322; p= 0.0015), weight-for-lentgh (r=0.319; p=0.017), BMI-for-age (r=0.319; p=0.0017). Conclusion: Maternal nutritional status was significantly associated with infant growth indicators during the first six months of life. These findings highlight the importanace of maintaining optimal maternal nutrition during lactation to support healthy infant growth.
THE RELATIONSHIP BETWEEN THE SHOCK INDEX AND EARLY CLINICAL OUTCOMES IN PATIENTS WITH SEPSIS IN THE EMERGENCY DEPARTMENT: HUBUNGAN ANTARA SHOCK INDEX DAN LUARAN KLINIS AWAL PADA PASIEN SEPSIS DI INSTALASI GAWAT DARURAT Melvin Andrean; Jennifer Rose; Rifky Budi Triyanto
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 26 No. 1 (2027): Januari 2027
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v26i1.1230

Abstract

Sepsis remains a major cause of morbidity and mortality worldwide, with early clinical deterioration frequently occurring within the first hours of emergency department (ED) presentation. This retrospective cohort study evaluated the association between admission shock index and early clinical outcomes in 200 adult ED patients with sepsis, operationally defined as qSOFA ≥2 with suspected infection, presenting between January and December 2025. Admission shock index was calculated from triage vital signs and analyzed as a continuous variable scaled per 0.1-unit increase. Early outcomes within 24 hours included mortality, vasopressor requirement, and ICU/HCU admission. Bivariate and multivariable logistic regression and ROC curve analyses were performed. The mean admission shock index was 0.92 ± 0.27. Higher shock index was independently associated with increased mortality (AOR 1.41, 95% CI 1.24–1.61; p=0.001) and vasopressor requirement (AOR 1.38, 95% CI 1.21–1.58; p=0.001). The shock index demonstrated acceptable discriminatory ability for mortality (AUC=0.721) and vasopressor requirement (AUC=0.718), with an optimal cut-off of SI ≥0.95. No significant association was found with ICU/HCU admission (p=0.222). Admission shock index may serve as a simple bedside indicator for early risk stratification in ED sepsis patients.
PERAN ORFORGLIPRON DALAM TATALAKSANA PASIEN DENGAN OBESITAS: THE ROLE OF ORFORGLIPRON IN THE MANAGEMENT OF PATIENTS WITH OBESITY Sugianto Mukmin; Amanda Trixie Hardigaloeh; Dira Wahyuni Siregar; Ermawati MH Siregar; Agustiawan
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 25 No. 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v25i2.1231

Abstract

Obesitas merupakan penyakit kronis multifaktorial yang ditandai oleh akumulasi lemak berlebih yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiometabolik. Terapi yang tersedia saat ini masih memiliki keterbatasan, baik dari sisi efektivitas jangka panjang maupun kepatuhan pasien. Orforglipron merupakan agonis reseptor GLP-1 oral non-peptida yang dikembangkan sebagai alternatif terapi obesitas yang lebih praktis. Tinjauan ini bertujuan untuk mengevaluasi peran orforglipron dalam tatalaksana obesitas berdasarkan bukti ilmiah terkini. Metode yang digunakan berupa penelusuran literatur dari uji klinis fase 2 dan fase 3 yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orforglipron mampu menurunkan berat badan secara signifikan, dengan rerata penurunan sekitar 7,8–12,4% pada studi fase 3 dan hingga 14,7% pada dosis tertinggi studi fase 2. Selain itu, terapi ini juga memperbaiki parameter metabolik seperti kadar glukosa darah, HbA1c, dan lingkar pinggang. Mekanisme kerja orforglipron melibatkan aktivasi reseptor GLP-1 yang meningkatkan sekresi insulin, memperlambat pengosongan lambung, dan menekan nafsu makan. Efek samping yang paling sering dilaporkan berupa gangguan gastrointestinal dan umumnya dapat ditoleransi. Secara klinis, orforglipron menunjukkan potensi sebagai terapi oral yang efektif dan praktis untuk membantu penurunan berat badan pada pasien obesitas maupun overweight dengan komorbid metabolik. Namun, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan keamanan jangka panjang dan posisi optimalnya dalam algoritma terapi obesitas.
ANALISIS ELEKTROKARDIOGRAFI SERIAL PADA KASUS WELLENS SYNDROME TIPE B: SERIAL ELECTROCARDIOGRAPHIC ANALYSIS IN A CASE OF TYPE B WELLENS SYNDROME Agustiawan; Juwanto
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 25 No. 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v25i2.1232

Abstract

Wellens syndrome merupakan pola elektrokardiografi khas yang mengindikasikan adanya stenosis kritis pada arteri left anterior descending (LAD) dan berisiko tinggi berkembang menjadi infark miokard anterior luas. Kondisi ini sering tidak disertai elevasi segmen ST sehingga dapat terlewatkan dalam praktik klinis. Publikasi kasus Wellens syndrome masih relatif jarang dilaporkan di Indonesia, padahal pengenalan dini terhadap pola elektrokardiografi khas ini sangat penting untuk mencegah keterlambatan diagnosis dan terjadinya kerusakan miokard yang lebih luas. Kami melaporkan seorang laki-laki usia 59 tahun dengan keluhan nyeri dada kiri yang memberat, menjalar ke punggung, dan disertai keringat dingin. Pasien memiliki faktor risiko berupa merokok berat, diabetes melitus tidak terkontrol, dan aktivitas fisik rendah. Pemeriksaan elektrokardiografi serial menunjukkan inversi gelombang T pada lead anteroseptal khas untuk Wellens syndrome tipe B. Peningkatan troponin membuat diagnosis NSTEMI dengan Wellens syndrome ditegakkan. Pasien mendapatkan terapi optimal sesuai pedoman berupa antiplatelet ganda, antikoagulan, statin, beta blocker, dan nitrat dengan perbaikan klinis. Kasus ini menegaskan pentingnya pengenalan dini Wellens syndrome melalui interpretasi EKG yang cermat untuk mencegah terjadinya infark miokard anterior luas melalui intervensi yang tepat waktu.
CHRONIC INFLAMMATORY DEMYELINATING POLYRADICULONEUROPATHY PADA SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS DENGAN ANA-IF NEGATIF : CHRONIC INFLAMMATORY DEMYELINATING POLYRADICULONEUROPATHY IN SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS WITH NEGATIVE ANA-IF Anggia Fitria Agustin; Deshinta Putri Mulya
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 26 No. 1 (2027): Januari 2027
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v26i1.1255

Abstract

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun sistemik yang dapat melibatkan berbagai organ, termasuk sistem saraf perifer. Salah satu manifestasi neurologis yang jarang ditemukan adalah Chronic Inflammatory Demyelinating Polyradiculoneuropathy (CIDP), yang dapat muncul sebelum, bersamaan, atau setelah diagnosis SLE ditegakkan. Seorang wanita berusia 45 tahun datang dengan keluhan kesemutan progresif pada kedua tangan dan kaki sejak tiga bulan, disertai kelemahan anggota gerak yang memberat sehingga mengganggu kemampuan berjalan dan memegang barang. Pemeriksaan fisik menunjukkan kelemahan motorik pada keempat ekstremitas, penurunan refleks fisiologis, stocking hipoestesia, ulkus oral, serta ruam kemerahan pada kedua tangan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan trombositopenia, hematuria, peningkatan parameter inflamasi, serta kadar komplemen C3 dan C4 yang menurun. Hasil pemeriksaan ANA immunofluorescence (ANA IF) dan anti-double stranded DNA (anti-dsDNA) didapatkan negatif. Diagnosis SLE pada pasien ini ditegakkan berdasarkan kombinasi manifestasi klinis dan temuan laboratorium meskipun hasil ANA IF dan anti-dsDNA negatif. Kasus ini menunjukkan bahwa CIDP dapat menjadi manifestasi neurologis yang jarang pada SLE. Pengenalan dini keterlibatan saraf perifer sangat penting untuk menunjang diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat sehingga dapat memperbaiki prognosis pasien.
HIPERGLIKEMIA DAN EARLY NEUROLOGICAL DETERIORATION SETELAH TROMBOLISIS PADA STROKE ISKEMIK AKUT: LAPORAN KASUS: HYPERGLYCEMIA AND EARLY NEUROLOGIC DETERIORATION AFTER THROMBOLYSIS IN ACUTE ISCHEMIC STROKE: A CASE REPORT Novia Aiko; Agustiawan; Nurul Izzaty Rery
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 26 No. 1 (2027): Januari 2027
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v26i1.1316

Abstract

Early neurological deterioration (END) merupakan komplikasi yang dapat terjadi setelah intravenous recombinant tissue plasminogen activator (IV-rtPA) pada stroke iskemik akut dan berhubungan dengan luaran klinis yang buruk. Hiperglikemia diketahui berperan dalam memperburuk cedera iskemik dan diduga meningkatkan risiko END, meskipun mekanismenya belum sepenuhnya dipahami. Seorang perempuan berusia 49 tahun datang dengan hemiparesis dekstra dan disartria yang timbul mendadak. Pemeriksaan awal menggunakan National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS) menunjukkan skor 8. Pasien memenuhi kriteria terapi IV-rtPA dan mengalami perbaikan neurologis awal dengan penurunan NIHSS menjadi 3 satu jam setelah trombolisis, kemudian menjadi 1 pada evaluasi 24 jam. Namun, pada hari kelima perawatan terjadi END dengan peningkatan NIHSS menjadi 10 disertai hiperglikemia persisten (HbA1c 8,7% dan glukosa darah tidak terkontrol selama perawatan). Evaluasi klinis dan penunjang tidak menunjukkan bukti perdarahan intrakranial maupun penyebab lain yang jelas terhadap perburukan neurologis. Kasus ini menunjukkan bahwa hiperglikemia persisten dapat berkontribusi terhadap terjadinya END setelah terapi IV-rtPA pada stroke iskemik akut. Pemantauan dan pengendalian glukosa darah secara ketat selama fase akut merupakan bagian penting dari tata laksana pasien untuk mengoptimalkan luaran neurologis.
CLINICOHISTOPATHOLOGICAL CHARACTERISTICS OF PROSTATE LESIONS AT RUMAH SAKIT PENDIDIKAN PROF. DR. CHAIRUDDIN PANUSUNAN LUBIS MEDAN, 2023-2024: KARAKTERISTIK KLINIKOHISTOPATOLOGI LESI PROSTAT DI RUMAH SAKIT PENDIDIKAN PROF. DR. CHAIRUDDIN PANUSUNAN LUBIS MEDAN, 2023–2024 Lidya Imelda Laksmi; Causa Trisna Mariedina; Betty; Joko S Lukitoa; Arie Widiansyah Hasibuan
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 26 No. 1 (2027): Januari 2027
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v26i1.1355

Abstract

Prostatic enlargement is a global health problem among older men, caused by non-neoplastic or neoplastic lesions and commonly presenting as lower urinary tract symptoms. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) is the leading non-neoplastic etiology, whereas Acinar Prostatic Carcinoma (APC) is the most common malignant neoplasm. High-Grade Prostatic Intraepithelial Neoplasia (HGPIN), a precursor lesion, and Atypical Small Acinar Proliferation (ASAP), a suspicious atypical acinar proliferation, are critical differential diagnoses and pitfalls influencing management and prognosis. Using total sampling, this retrospective cross-sectional study characterized clinicohistopathological features of prostatic lesions in patients undergoing prostate core needle biopsy and/or transurethral resection of the prostate at Rumah Sakit Pendidikan Prof. dr. Chairuddin Panusunan Lubis Medan, from January 2023 to June 2024. Histopathological evaluation used hematoxylin and eosin staining. Forty-three specimens were analyzed descriptively: 33 (76.74%) were BPH and 10 (23.26%) were APC; neither ASAP nor HGPIN was identified. Benign and malignant lesions occurred most frequently among patients aged 60–69 years; the youngest were aged 50–59 years. Ultrasonographic diagnoses agreed with histopathology in 83.33% of BPH cases and 66.67% of APC cases. BPH specimens predominantly showed papillary infolding and cystic atrophy, corpora amylacea as the principal intraluminal secretion, and squamous metaplasia as a distinctive finding. APC specimens predominantly showed tufting, cribriform, and micropapillary architectures; blue mucin and crystalloids as intraluminal secretions; and signet-ring cell morphology as a distinctive finding. Benign lesions showed papillary infolding and cystic atrophy, with intraluminal corpora amylacea. Malignant lesions showed tufting, cribriform and micropapillary patterns, with intraluminal blue mucin and crystalloids.