cover
Contact Name
Ikhwannur Adha
Contact Email
ikhwannur.adha@upnyk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jigpangea@upnyk.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teknik Geologi Jl. Padjajaran, Sleman, Yogyakarta, Indonesia. 55283
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Geologi pangea
ISSN : 2356024X     EISSN : 2987100X     DOI : https://doi.org/10.31315
Jurnal Ilmiah Geologi Pangea (JIG Pangea) is an Indonesian scientific journal published by the Geological Engineering Department, Faculty of Mineral and Technology, UPN "Veteran" Yogyakarta. The journal receives Indonesian or English articles. Those articles are selected and reviewed by our professional editors and peer reviewers. The published article in JIG Pangea covers all geoscience and technology fields including Geology, Geophysics, Petroleum, Mining, and Geography. The subject covers a variety of topics including : geodynamics, sedimentology and stratigraphy, volcanology, engineering geology, environmental geology, hydrogeology, geo-hazard and mitigation, mineral resources, energy resources, medical geology, geo-archaeology, applied geophysics and geodesy.
Articles 219 Documents
GEOLOGI DAN ELEMEN ARSITEKTURAL SATUAN BATUPASIR KABUH DI PILANGSARI, KECAMATAN GESI, KABUPATEN SRAGEN, PROVINSI JAWA TENGAH Matheus Vito Krisnanto
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 6, No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v6i2.5276

Abstract

Sari – Secara geografis daerah penelitian terletak pada koordinat koordinat UTM X= 496500-501500, dan Y=9191000-9186000. Secara administratif daerah penelitian masuk ke dalam wilayah Kecamatan Gesi, KabupatenSragen, Provinsi Jawa Tengah. Metode penelitian dilakukan dengan pemetaan geologi dan analisa studiomaupun laboratorium, untuk mendapatkan informasi umum geologi berupa keadaan geomorfologi, polapengaliran, struktur geologi dan stratigrafinya. Geomorfologi pada daerah penelitian terbagi menjadi 7 satuanbentuk lahan antara lain satuan bentuk lahan perbukitan homoklin, lereng homoklin, lembah homoklin, tubuhsungai, gosong sungai, bukit sisa, dataran denudasi. Sedangkan pola pengaliran yang berkembang yaitu,dendritik, subdendritik, paralel, dan subparalel. Secara stratigrafi dibagi menjadi 6 satuan batuan dari tua kemuda yaitu satuan napal Kalibeng, satuan breksi Banyak, satuan batugamping Klitik, satuan batulempungkarbonatanPucangan, dan satuan batupasir Kabuh serta endapan aluvial. Struktur geologi yang berkembangdimulai pada Kala Pliosen hingga Plistosen dengan antiklin menunjam Tanggan berarah barat-timur, kemudiandiikuti dengan sesar naik Tanggan, dan diakhiri sesar mendatar kanan Jatitengah berarah baratlaut-tenggara,sesar mendatar kiri Tanggan berarah timurlaut-baratdaya, dan kekar. Satuan batupasir Kabuh yang tersusun oleh batupasir, tuf, konglomerat, dan batulempung terendapkan padalingkungan darat dan memiliki struktur sedimen khas pada litologi batupasir berupa silangsiur, yang dapatmemberikan informasi vektor dari arah arus purba, sehingga dapat memberikan gambaran untuk mengetahuibentukkan sungai berkelok. Kumpulan titik lokasi pengamatan, analisa profil dan deskripsi litologi memberigambaran tentang kumpulan litofasies yang kemudian membentuk elemen arsitektural yang berkembangdiantaranya channel, lateral accretion, overbank fines, crevasse-splay, dan gravel bar.Kata-kata kunci : Satuan batupasir Kabuh, litofasies, dan elemen arsitektural
GEOLOGI DAN ANALISIS KESTABILAN LERENG DINDING BARAT DAERAH BATU HIJAU, KECAMATAN SEKONGKANG, KABUPATEN SUMBAWA BARAT, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Lua Nafsiah Hafizah
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 6, No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v6i2.5271

Abstract

Sari - Sistem penambangan dengan metode tambang terbuka meliputi kegiatan pembongkaran lapisan penutupmenjadi lereng-lereng bertingkat. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan gaya pada lereng dan perubahankekuatan massa batuan. Perubahan gaya yang terjadi menyebabkan kesetimbangan lereng terganggu dan adanyapelepasan beban dalam bentuk longsoran. Lokasi pemetaan geologi di lakukan di pit Batu Hijau dan analisisgeologi teknik dilakukan di lereng barat yang terbagi menjadi 10 segmen. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui geologi daerah penelitian, potensi longsor dan nilai faktor keamanan pada dinding lereng baratdaerah penelitian. Metode yang digunakan yaitu pemetaan geologi, line mapping, analisis petrografi, analisisstruktur geologi, analisis kinematik berdasarkan data orientasi kekar dan sesar, dan metode kesetimbanganbatas. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, satuan batuan daerah penelitian dibagi menjadi SatuanAndesit Batu Hijau, Satuan Diorit Batu Hijau, dan Satuan Tonalit Batu Hijau. Dari hasil himpunan mineral yangditemui, daerah penelitian terbagi menjadi 4 zona alterasi yaitu alterasi Magnetit ± Biotit, Kuarsa + Serisit ±Pirit, Klorit + Epidot, dan Kaolinit ± Klorit. Berdasarkan analisis kinematik, di identifikasi kemungkinan longsoran berupa longsoran bidang dan longsoran baji di segmen seluruh segmen. Hasil Perhitungankesetimbangan batas dan permodelan slide memperlihatkan nilai faktor keamanan rata-rata yang didapat sebesar1.39 atau memiliki faktor keamanan yang stabil (Bowles, 1991).Kata kunci : Geologi, Kestabilan Lereng, Analisis Kinematik, Faktor Keamanan
SEKTORISASI POTENSI RESERVOIR HIDROKARBON PADA MODEL GEOLOGI UNTUK PENENTUAN LOKASI SUMUR PENGEMBANGAN Tria Arumni; Intan Paramita Haty; Muchammad Ocky Bayu Nugroho
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i1.9515

Abstract

Blok “S”, Lapangan “A”, Cekungan Natuna Barat terletak di lepas pantai Laut Natuna Utara, Provinsi Kepulauan Riau, yang berjarak sekitar 486 kilometer di Timur Laut Singapura. Pada Blok “S” Lapangan “A” baru terdapat 3 sumur produksi yang memproduksikan minyak dan gas dari reservoir Formasi Lama sejak Maret 2006. Menurut Hakim, dkk (2008), Formasi Lama merupakan reservoir play yang potensial untuk dieksplorasi dan dikembangkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan lokasi sumur pengembangan danmeningkatkan produksi minyak di Blok “S” Lapangan “A”. Reservoir hidrokarbon pada Formasi Lama, Blok “S”, Lapangan “A” diinterpretasikan berumur Eosen Akhir-Oligosen, bersamaan dengan periode syn-rift. Litologi yang berkembang pada Formasi Lama dicirikan oleh perselingan batupasir, shale dan batulanau.Penentuan lokasi sumur pengembangan menggunakan metode sektorisasi model geologi reservoir berdasarkan parameter indeks potensi reservoir, yang dihasilkan dari perkalian nilai reservoir quality index (RQI), net to gross ratio (NTG), dan movable oil saturation (Som). Berdasarkan hasil sektorisasi, pada Formasi Lama, Blok “S”, Lapangan “A”, ditentukan 7 sumur pengembangan yang menargetkan zona minyak, dengan hasil pemodelan reservoir dinamik menunjukkan penenambahan perolehan minyak di Blok “S” Lapangan “A” sebesar 7.89 Juta Stock Tank Barrels (MMSTB).Kata Kunci : sumur pengembangan, indeks potensi reservoir, sektorisasi model geologi.
Analisis Deformasi Gunung Agung Berdasarkan Data Citra SAR Sentinel-1A dan Metode D-InSAR Lysa Dora Ayu Nugraini; Dika Ayu Safitri
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 1sp (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Edisi Spesial
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i1sp.9407

Abstract

Abstrak – Gunung Agung merupakan salah satu gunung berapi aktif di Indonesia yang terletak di Kabupaten Karangasem Provinsi Bali, yang pada tanggal 21 November 2017 silam telah meletus dan mengakibatkan ribuan orang mengungsi. Monitoring aktivitas fisik gunung berapi penting untuk dilakukan guna memahami proses dan perilaku gunung berapi. Salah satu aktivitas fisik gunung berapi yang dapat secara berkala diamati adalah deformasi permukaan sebagai salah satu parameter ada tidaknya peningkatan aktivitas magma di bawah permukaan gunung itu sendiri. Penelitian ini memanfaatkan teknologi penginderaan jauh sensor aktif dalam rangka menganalisis deformasi permukaan yang terjadi di Gunung Agung sesaat sebelum meletus menggunakan citra Sentinel-1A dan metode D-InSAR. Hasil pengolahan data menunjukkan adanya deformasi yang terjadi di Gunung Agung sebelum terjadi letusan. Nilai deformasi bervariasi, dimana uplift terjadi pada wilayah puncak Gunung Agung dan wilayah Budakeling yang terletak disebelah tenggara dengan besar nilai uplift pada kedua titik sampel ini adalah 4 hingga 5 cm. Sedangkan rata-rata kejadian subsidence terjadi diwilayah Sukadana yang berada di utara dan berjarak 10 km dari puncak Gunung Agung dengan nilai penurunan tanah sebesar 4-5 cm. Kata Kunci: Deformasi, Gunung Agung, Sentinel-1A, D-InSAR. Abstract – Mount Agung is one of the active volcanoes in Indonesia located in Karangasem Regency, Bali Province, which erupted on November 21, 2017, displacing thousands of people. Monitoring the physical activity of volcanoes is essential to understand the process and behavior of volcanoes. One of the physical activities of the volcano that can be regularly observed is surface deformation as one of the parameters of whether or not there is an increase in magma activity under the mountain's surface. This research utilizes active sensor remote sensing technology to analyze the surface deformation on Mount Agung shortly before the eruption using Sentinel-1A images and the D-InSAR method. The data processing results show the deformation that occurred on Mount Agung before the eruption. The deformation value varies, where uplift occurs in the peak area of Mount Agung and the Budakeling area located to the southeast. The uplift value at these two sample points is 4 to 5 cm. At the same time, the average subsidence occurred in the Sukadana area located in the north and 10 km away from the peak of Mount Agung, with a subsidence value of 4-5 cm. Keywords: Deformation, Mount Agung, Sentinel-1A, D-InSAR.
PALEOEKOLOGI DAN PALEOIKLIM DAERAH TANJUNG JABUNG BARAT, JAMBI Sapto Kis Daryono; Carolus Prasetyadi; Sutanto Sutanto; Eko Teguh Paripurno
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i2.9510

Abstract

Lintasan Oligosen-Miosen yang tersingkap di Lintasan Stratigrafi Lubuk Lawas dan Lubuk Bernai di Bukit Tigapuluh, Subcekungan Jambi, Indonesia, mengarsipkan sisa-sisa vegetasi khatulistiwa pada saat pemanasan global yang ekstrem dan mendekati permulaan tumbukan mikrokontinen Jawa Timur-Eurasia, diteliti dengan menggunakan pemetaan permukaan, stratigrafi dan palinologi.  ingkungan pengendapan berubah dari waktu ke waktu, melewati dari cekungan tektonik yang sempit dan bersisi curam, selama Oligosen Awal hingga Akhir, diikuti oleh suatu cekungan lakustrin hingga palustrin dengan pengaruh lautan, sebagai akibat dari pergerakan distensif E-W antara Sesar Jambi dan Sesar Sunda di Oligosen Akhir hingga Miosen Tengah.Variasi fosil polen penentu ekologi dan iklim masa lalu berkembang Palynomorph Marine, Palynomorph Continentaldengan sublingkungan Mangrove-Backmangrove, Peat Swamp, Freshwater Swamp, Freshwater Algae, Riparian dan Montane. Terjadinya serbuk sari angiosperma yang sangat beragam secara taksonomi di ketiga zona palinologi membuktikan flora tropis daratan dan dekat pantai yang sangat kaya di bawah rezim curah hujan musiman yang kuat. Iklim tetap hangat dan menjadi semakin lembab menjelang akhir Miosen.Kata Kunci : Oligosen, Miosen, Paleoekologi, Paleoiklim, Tanjung Jabung Barat, Jambi
PERUBAHAN KETINGGIAN MUKA AIR LAUT DAN IKLIM PURBA BERDASARKAN ANALISIS MIKROPALEONTOLOGI PADA SATUAN BATUGAMPING FORMASI JAYAPURA DAERAH JAYAPURA DAN SEKITARNYA KOTA JAYAPURA PROVINSI PAPUA Angelina Majesty Randa; Conrad Danisworo; Achmad Subandrio
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v8i1.9608

Abstract

Daerah Jayapura memiliki jenis batuan yang sangat kompleks, salah satunya yaitu batuan sedimen dengan komposisi kimia karbonat yang cakupan wilayahnya cukup luas. Penelitian lebih berfokus pada satuan batugamping Formasi Jayapura (Qpj). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perubahan ketinggian muka air laut, dan lingkungan pengendapan serta iklim purba yang terjadi saat pembentukan satuan batugamping yang berumur Kuarter (Plio – Plistosen). Penelitian dilakukan dengan metode pemetaan (mapping), pengukuran stratigrafi detail (measured section), analisis petrografi dan mikropaleontologi. Selanjutnya dilakukan pengamatan pada fosil foraminifera untuk menentukan umur dan lingkungan pengendapannya. Penentuan perubahan muka air laut dan lingkungan pengendapan ini menggunakan identifikasi foraminifera bentonik pada 5 sampel batuan. Hasil identifikasi dari foraminifera bentonik menunjukkan selama pembentukan satuan batugamping Kuarter terjadi beberapa kali perubahan muka air laut dan lingkungan pengendapan, dimulai pada saat pembentukan berada pada Neritik Tepi (0 – 100 meter) hingga pengendapan berakhir pada lingkungan pengendapan Neritik Luar (100 – 200 meter). Dilakukan pula identifikasi fosil foraminifera planktonik dan nannoplankton, untuk menentukan umur tiaptiap lapisan batuan. Hasil identifikasi foraminifera planktonik dan nannoplankton menunjukkan umur satuan batuan berada pada Pliosen–Plistosen (N.19–N.23). Foraminifera planktonik ini juga digunakan sebagai indikator suhu pada saat pembentukan batuan. Hasil interpretasi diketahui bahwa pada saat pengendapan satuan batugamping Kuarter ini terjadi beberapa kali perubahan suhu mulai dari hangat hingga dingin sedang, maka dapat pula diketahui iklim purba pada saat pembentukan satuan batugamping Kuarter terjadi perubahan iklim dari iklim tropis sampai iklim transisi.Kata-kata Kunci : Perubahan muka air laut, lingkungan pengendapan, suhu, iklim, dan foraminifera.
KARAKTERISTIK REKAHAN DAN ANALISIS CRITICALLYSTRESSED FRACTURE PADA FRACTURED RESERVOIR FORMASI JATIBARANG LAPANGAN “TRR”, CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA Taufan Rizki Rahardjo; Muhammad Syaifudin; Jatmika Setiawan
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i1.9572

Abstract

Cekungan Jawa Barat Utara terkenal sebagai cekungan penghasil hidrokarbon yang cukup besar di Indonesia. Salah satu reservoir yang produktif yaitu reservoir batuan vulkanik Formasi Jatibarang. Pada batuan vulkanik, hidrokarbon dapat tersimpan dalam rekahan yang bertindak sebagai porositas sekunder dan menjadikannya fractured reservoir. Menurut Barton, Zoback dkk (1995), rekahan yang konduktif secara hidrolik adalah rekahan yang critically-stressed terhadap kondisi tegasan saat ini disebut juga sebagai criticallystressed fracture. Rekahan yang konduktif secara hidrolik bertindak sebagai jalur hidrokarbon bergerak sehingga dapat meningkatkan permeabilitas batuan vulkanik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui orientasi critically-stressed fracture dan dampaknya terhadap tingkat produksi pada tiga sumur objek penelitian, yaitu TRR-1, TRR-2, dan TRR-3. Untuk mengetahui orientasi critically-stressed fracture, diperlukan integrasi data orientasi rekahan dan besaran tegasan yang bekerja saat ini dalam bentuk model geomekanika 1D, yang terdiri dari tekanan pori, tegasan vertikal (Sv), tegasan horizontal minimum (Shmin), dan tegasan horizontal maksimum (Shmaks). Orientasi rekahan didapatkan berdasarkan interpretasi log FMI dan didapatkan arah umum utara-selatan, timur laut-barat daya, dan utara barat laut – selatan tenggara. Untuk membangun model geomekanika 1D menggunakan data wireline log yang dihitung dengan persamaan empiris dan laporan internal pengeboran. Dari analisis yang dilakukan pada ketiga sumur, didapatkan rezim tegasan daerah ini berupa rezim sesar normal (Sv>Shmaks>Shmin). Hasil analisis menunjukkan sumur TRR-1 memiliki intensitas critically-stressed fracture sebesar 0,64 rekahan/meter dengan orientasi N350°E-N360°E (utara), Sumur TRR-2 memiliki intensitas 0,11 rekahan/meter dengan orientasi N30°E-N40°E (timur laut), dan sumur TRR-3 memiliki intensitas sebesar 0,61 rekahan/meter dengan orientasi N170°E-N180°E (selatan) serta kemiringan dominan menunjukkan nilai yang sama sebesar 70°-80° di ketiga sumur. Sumur TRR-1 dan TRR-3 memiliki tingkat produksi 924 BOPD dan 1.176 BOPD sedangkan sumur TRR-2 sebesar 188 BOPD, hal ini menunjukkan bahwa critically-stressed fracture mengontrol kehadiran hidrokarbon dan dapat mempengaruhi tingkat produksi.Kata Kunci : Formasi Jatibarang, Fractured reservoir, Critically-stressed fracture
Perbandingan Analisis Distribusi Ukuran Butir Menggunakan Metode Momen dan Metode Grafis pada Sedimen Sungai Progo dan Sungai Bogowonto Desi Kumala Isnani; Muchamad Ocky Bayu Nugroho; Yodi Rizkianto; Riyan Ranggas Yuditama; Akbar Ryan; Agam Maulana
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 1sp (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Edisi Spesial
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i1sp.9416

Abstract

Abstrak – Analisis distribusi ukuran butir sedimen dapat dilakukan secara statistik menggunakan metode momen dan metode grafis. Analisis ukuran butir pada sedimen Sungai Progo dan Sungai Bogowonto dilakukan untuk mendapatkan parameter berupa ukuran butir rata-rata, sortasi, skewness, dan kurtosis. Aplikasi dua metode berbeda memungkinkan munculnya hasil nilai numerik maupun terminologi deskriptif yang berbeda untuk setiap parameter ukuran butir.  Sampel sedimen Sungai Progo mayoritas menunjukkan distribusi ukuran butir unimodal, sedangkan sedimen Sungai Bogowonto didominasi oleh distribusi bimodal. Parameter ukuran butir dari sampel Sedimen Sungai Progo lebih banyak memiliki kesamaan secara terminologi deskriptif dari dua metode yang digunakan dibandingkan dengan sedimen dari Sungai Bogowonto. Parameter ukuran butir rata-rata dan sortasi tidak terlalu dipengaruhi oleh distribusi ukuran butir, sehingga terminologi deskriptif yang dihasilkan dari analisis distribusi ukuran butir cenderung memiliki kesamaan antara metode momen dan metode grafis. Parameter skewness, diikuti parameter kurtosis merupakan parameter yang paling terpengaruh oleh distribusi ukuran butir, ditunjukkan oleh perbedaan hasil parameter ukuran butir sedimen Sungai Progo dan Sungai Bogowonto. Kata Kunci: Distribusi ukuran butir, Metode Momen, Metode Grafis, Sungai Progo, Sungai Bogowonto. Abstract – Grain size distribution analysis of sediments can be done statistically using the moment and graphical methods. Grain size analysis in the Progo and Bogowonto Rivers sediments was carried out to obtain parameters such as average grain size, sorting, skewness, and kurtosis. Applying two different methods allows the emergence of different numerical values and descriptive terminology for each grain size parameter. Most of the Progo River sediment samples showed a unimodal grain size distribution, while a bimodal distribution dominated the Bogowonto River sediments. The grain size parameters of the Progo River sediment samples have more in common regarding the descriptive terminology of the two methods than the sediments from the Bogowonto River. The parameters of the average grain size and sorting are not significantly affected by the grain size distribution, so the descriptive terminology resulting from the grain size distribution analysis tends to have similarities between the moment and the graphical methods. The skewness parameter, followed by the kurtosis parameter, is the parameter most affected by the grain size distribution, shown by the difference in the results of the grain size parameter of the Progo River and Bogowonto River sediments.  Keywords: Grain size distribution Moment method, Graphical method, Progo River, Bogowonto River.
PALEOENVIRONMENT ENDAPAN PALEOGEN, DAERAH TANJABBAR, JAMBI Sapto Kis Daryono; Carolus Prasetyadi; Eko Teguh Paripurno
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i1.9528

Abstract

Lintasan Oligosen-Miosen yang tersingkap di Lintasan Stratigrafi Lubuk Lawas dan Lubuk Bernai di Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), Subcekungan Jambi, Indonesia, mengarsipkan sisa-sisa vegetasi khatulistiwa pada saat pemanasan global yang ekstrem dan permulaan tumbukan mikrokontinen Jawa Timur-Eurasia, diteliti dengan menggunakan pemetaan permukaan dan palinologi. Satuan batuan diendapkan selama satu fase sedimentasi, yaitu fase endapan kontinental, yang terdiri dari konglomerat, batupasir kerikilan dan batupasir yang mengisi cekungan diikuti oleh endapan transgresif yang terkait dengan pendalaman lingkungan cekungan. Tiga zona palinologi Meyeripollis naharkotensis (Oligosen), Florschuetzia trilobata (Miosen Awal) dan Florschuetzia levipoli (Miosen Tengah) diidentifikasi secara stratigrafi berdasarkan kelimpahan taksa polen ini di atas yang lain. Perlapisan batuan merupakan endapan dari Oligosen Awal hingga Miosen Tengah dari bawah ke arah atas. Lingkungan pengendapan berubah dari waktu ke waktu, melewati dari cekungan tektonik yang sempit dan bersisi curam, selama Oligosen Awal hingga Akhir, diikuti oleh suatu cekungan lakustrin hinggapalustrin dengan pengaruh lautan, sebagai akibat dari pergerakan distensif E-W antara Sesar Jambi dan Sesar Sunda di Oligosen Akhir hingga Miosen Tengah. Terjadinya serbuk sari angiosperma yang sangat beragam secara taksonomi di ketiga palinozone membuktikan flora tropis daratan dan dekat pantai yang sangat kaya di bawah rezim curah hujan musiman yang kuat. Iklim tetap hangat dan menjadi semakin lembab menjelang akhir Miosen. Sifat lingkungan tersebut terkait dengan dinamika pembukaan pembukaan cekungan.Kata kunci : Oligosen-Miosen, Lingkungan Pengendapan, Tanjabbar, Jambi
Kajian Kelestarian Sumberdaya Lahan Berbasis Analisa Kemampuan Lahan di DAS Serang Maulana Yudinugroho; Ratih Winastuti; Fauzan Aidinul Hakim; Ahmad Hasrul; Faisal Ardian; Mahendra Kumarajati
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 1sp (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Edisi Spesial
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i1sp.9408

Abstract

Abstrak – Kondisi pertumbuhan jumlah penduduk yang tinggi tidak hanya berpengaruh terhadap kebutuhan air atau pangan, melainkan dapat menyebabkan meningkatnya konversi lahan sebagai pemenuh kebutuhan hidup manusia. Adanya konversi kawasan lindung menjadi kawasan pertanian atau pemukiman mampu meningkatkan potensi kerusakan lingkungan.Tingkat kerusakan lingkungan memang tidak dapat dihindari atau tidak dapat di kontrol secara bersamaan, namun mampu dikurangi melalui perencanaan penggunaan lahan, pembangunan, serta manajemen yang baik. DAS Serang sebagai satu dari empat DAS kritis di Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjadi bagian dari 108 DAS kritis di Indonesia perlu dilakukan kajian terkait sumberdaya lahan sebagai pendukung terciptanya perencanaan penggunaanlahan yang berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan dengantujuan menganalisis kelas kemampuan lahan untuk mengetahui tingkat ketimpangan penggunaan lahan pada wilayah DAS Serang. Penenentuan kemampuan lahan menggunakan satuan bentuklahan sebagai unit analisis dengan membandingkan metode  weight factor matching dan subjective factor matching. Metode tersebut merupakan bagian dari teknik pembandingan (matching) yang dilakukan dengan cara mencocokan dan membandingkan karakteristik lahan dan kriteria kelas kemampuan lahan.Hasil yang didapatkanmeliputi 14 bentuklahan dan 11 unit lahan yang analisis dengan kelas kemampuan I hingga VIII yang disajikan dalam peta dan gambaran spasial ketimpangan penggunaan lahan pada DAS Serang. Berdasarkan hasil kajian, tingkat ketimpangan lahan pada DAS Serang berdasarkan penggunaan lahan aktual dan kondisi kemampuan lahan diperoleh bahwa 56% lahan tidak sesuai dan 44% sesuai dari kondisi semestinya. Kata Kunci: Kemampuan Lahan, Daerah Aliran Sungai, Penggunaan Lahan Abstract – The high population growth not only affects the need for water or food but can lead to increased land conversion to meet the needs of human life. The conversion of protected areas into rural or residential areas can increase the potential for environmental damage. Environmental damage cannot be avoided or controlled simultaneously but can be reduced through land use planning, development and management. The Serang Watershed, one of the four critical watersheds in the Special Region of Yogyakarta, which is part of the 108 critical watersheds in Indonesia, needs to conduct a study related to land resources to support the creation of sustainable land use planning. This research was conducted to analyze land capability classes to determine the level of land use inequality in the Serang watershed area. Land capability determination uses the landform unit as the unit of analysis by comparing the weight factor matching and subjective factor matching methods. This method is part of a matching technique by matching and comparing land characteristics and land capability class criteria. The results obtained include 14 landforms and 11 land units analyzed with capability classes I to VIII, which are presented on a map and a spatial picture of inequality land use in the Serang watershed. Based on the results of the study, the level of land inequality in the Serang watershed based on actual land use and land capability conditions found that 56% of the land was not suitable and 44% was suitable from the proper conditions. Keywords: : Land Use, Land Capability, Watershed, Suistanable.