cover
Contact Name
Ikhwannur Adha
Contact Email
ikhwannur.adha@upnyk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jigpangea@upnyk.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teknik Geologi Jl. Padjajaran, Sleman, Yogyakarta, Indonesia. 55283
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Geologi pangea
ISSN : 2356024X     EISSN : 2987100X     DOI : https://doi.org/10.31315
Jurnal Ilmiah Geologi Pangea (JIG Pangea) is an Indonesian scientific journal published by the Geological Engineering Department, Faculty of Mineral and Technology, UPN "Veteran" Yogyakarta. The journal receives Indonesian or English articles. Those articles are selected and reviewed by our professional editors and peer reviewers. The published article in JIG Pangea covers all geoscience and technology fields including Geology, Geophysics, Petroleum, Mining, and Geography. The subject covers a variety of topics including : geodynamics, sedimentology and stratigraphy, volcanology, engineering geology, environmental geology, hydrogeology, geo-hazard and mitigation, mineral resources, energy resources, medical geology, geo-archaeology, applied geophysics and geodesy.
Articles 219 Documents
GEOLOGI DAN KARAKTERISTIK BATUAN DASAR TERHADAP ENDAPAN NIKEL LATERIT DI DAERAH WATUPARI, KECAMATAN ROUTA, KABUPATEN KONAWE, PROVINSI SULAWESI TENGGARA Devon Sena Thorffata; Sutarto Sutarto; Joko Soesilo
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i1.9574

Abstract

Daerah penelitian terletak di dalam wilayah eksplorasi PT Sulawesi Cahaya Mineral yang secara administratif terletak di daerah Watupari, Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara yang merupakan salah satu daerah dengan potensi endapan nikel laterit yang cukup baik. Geomorfologi pada daerah penelitian terbagi menjadi dua bentuk asal yaitu bentuk asal denudasionaldan bentuk asal fluvial. Bentuk asal denudasional terbagi lagi menjadi empat bentuklahan yaitu Perbukitan Denudasional (D1), Lereng Denudasional (D2), Morfologi Bergelombang (D3), dan Bukit Terisolir (D4). Bentuk asal fluvial terbagi menjadi dua bentuklahan yaitu Tubuh Sungai (F1) dan Rawa (F2). Stratigrafi daerah penelitian terbagi dari yang paling tua ke yang paling muda yaitu Satuan Peridotit Routa yang berumur Kapur, Satuan Dunit yang berumur Kapur, Satuan Konglomerat Routa yang berumur Miosen-Pliosen, dan Endapan Aluvial yang berumur Resen. Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian berupa kekar dan sesar. Struktur kekar berupa kekar berpasangan (shear joint) yang memiliki arah tenggara – barat laut dan timur – barat. Struktur sesar berupa kekar gerus dan kekar tarik (shear fracture dan gash fracture) yang memiliki arah umum SF N207˚E/76˚ dan GF N240˚E/56˚ dengan pergerakan sesar normal left slip fault, arah umum SF N332˚E/80˚ dan GF N284˚E/60˚ dengan pergerakan sesar left slip fault, dan arah umum SF N107˚E/49˚ dan GF N181˚E/80˚ dengan pergerakan normal left slip fault. Batuan dasar adalah salah satu faktor yang menentukan kadar nikel pada endapan nikel laterit karena merupakan sumber dari kandungan nikel sebelum mengalami pengkayaan. Penelitian studi ini mencakup pemetaan geologi untuk mengetahui sebaran satuan batuan dan pengolahan data sekunder berupa geokimia titik bor yang kemudian dikorelasikan. Berdasarkan penelitian, dapat disimpulkan bahwa Satuan Dunit Routa merupakan satuan yang menghasilkan endapan nikel laterit dengan kadar yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa batuan dasar memiliki pengaruh penting dalam terbentuknya endapan nikel laterit. Selain itu, faktor-faktor lain seperti topografi juga memiliki pengaruh penting terhadap endapan nikel laterit.Kata Kunci : Nikel laterit, batuan dasar, geokimia, harzburgit, lherzolit, wehrlit
PALEOENVIRONMENT ENDAPAN PALEOGEN, DAERAH SUNGAI KETALO- MALAKO, JAMBI Sapto Kis Daryono; Carolus Prasetyadi; Sutanto Sutanto; Eko Teguh Paripurno
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i1.9533

Abstract

Lintasan Oligosen-Miosen yang tersingkap di Lintasan Stratigrafi Sungai Ketalo dan Malako di Jambi Barat, Subcekungan Jambi, Indonesia, mengarsipkan sisa-sisa vegetasi khatulistiwa pada saat pemanasan global yang ekstrem dan permulaan tumbukan mikrokontinen Jawa Timur-Eurasia, diteliti dengan menggunakan pemetaan permukaan dan palinologi. Satuan batuan diendapkan selama satu fase sedimentasi, yaitu fase endapan kontinental, yang terdiri dari konglomerat, batupasir kerikilan dan batupasir yang mengisi cekungandiikuti oleh endapan transgresif yang terkait dengan pendalaman lingkungan cekungan. Tiga zona palinologi Meyeripollis naharkotensis (Oligosen), Florschuetzia trilobata (Miosen Awal) dan Florschuetzia levipoli (Miosen Tengah) diidentifikasi secara stratigrafi berdasarkan kelimpahan taksa polen ini di atas yang lain. Perlapisan batuan merupakan endapan dari Oligosen Awal hingga Miosen Tengah dari bawah ke arah atas. Lingkungan pengendapan berubah dari waktu ke waktu, melewati dari cekungan tektonik yang sempit dan bersisi curam, selama Oligosen Awal hingga Akhir, diikuti oleh suatu cekungan lakustrin hinggapalustrin dengan pengaruh lautan, sebagai akibat dari pergerakan distensif E-W antara Sesar Jambi dan Sesar Sunda di Oligosen Akhir hingga Miosen Tengah.Kata Kunci : Oligosen-Miosen, Lingkungan Pengendapan, Sungai Ketalo-Malako, Jambi
Model Struktur Geologi Zona Kratakau, Implikasi terhadap Perkembangan Sedimentasi Zona Krakatau Alfathony Krisnabudhi; Agus Men Riyanto; Maaruf Mukti; Muhammad Gazali Rachman
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 1sp (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Edisi Spesial
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i1sp.9410

Abstract

ABSTRAKKrakatau merupakan salah satu zona paling aktif secara struktur geologi dan vulkanisme di area Indonesia bagian barat. Keberadaan struktur geologi yang terdapat pada zona ini diinterpretasikan memiliki peran dalam perkembangan  kegunungapian khususnya pada kompleks Krakatau. Studi ini dilakukan dengan mengintegrasikan hasil re-interpretasi data bawah permukaan berupa seismik 2D dan hasil analisis momen tensor serta data permukaan berdasarkan multibeam satu arc per detik. Integrasi tersebut dilakukan guna mengetahui model struktur geologi baik secara kinematik dan dinamikanya serta implikasinya terhadap perkembangan stratigrafi area Krakatau. Interpretasi style structure memperlihatkan bahwa area Krakatau didominasi oleh sistem extensional dimana sesar normal planar mendominasi dan membentuk geometri graben Krakatau. Geometri graben memiliki arah yang pararel utara-selatan dengan keberadaan sesar normal planar dari West Krakatau Fault (WKF) dimana keberadaan kelompok sesar tersebut diinterpretasikan juga memiliki peranan penting dalam mengontrol intrusi serta sedimentasi pada zona Krakatau. Terdapat empat unit stratigrafi pada zona Krakatau yang terbagi menjadi dua sistem sedimentasi; 1) pre-extensional dan 2) syn-extensional sistem. Unit 1 merupakan unit yang terendapkan pada umur Oligosen akhir-Miosen awal dimana unit 1 terendapkan sebelum sistem extensional bekerja sehingga unit ini dikategorikan sebagai sedimen pre-extensional. Unit 2 hingga unit 4 terendapkan pada umur Miosen tengah hingga Pleistosen, keberadaan unit 2 hingga 4 memiliki ketebalan yang bervariasi, pada area graben Krakatau unit 2-4 sangat tebal sementara pada area Krakatau ridge ketebalan unit 2 hingga 4 terlihat lebih rendah dibandingkan Krakatau graben. Berdasarkan hal tersebut unit 2 hingga unit 4 dikategorikan sebagai sedimen syn-extensional. Keberadaan sedimen syn-extensional sangat berhubungan erat dengan masifnya pembentukan cekungan pull-apart Semangko dimana inisiasi pembentukan cekungan tersebut dimulai pada kurun waktu Miosen tengah. Keberadaan struktur extensional pada graben Krakatau juga diduga menjadi agen munculnya intrusi dyke, intrusi yang terjadi diinterpretasikan terjadi pada kurun waktu Pleistosen sehingga sedimen unit 1 hingga unit 4 bagian bawah terpotong oleh intrusi. Kata Kunci: Krakatau, extensional, graben, sedimentasi, stratigrafi ABSTRACTKrakatau is one of the most active zones in terms of geological structure and volcanism in the western part of Indonesia. The existence of geological structures found in this zone is interpreted as having a role in the development of volcanoes, especially in the Krakatau complex. This study was carried out by integrating the results of the re-interpretation of subsurface data in the form of 2D seismic and moment tensor analysis results and surface data based on multibeam one arc per second. The integration was carried out to determine the kinematic and dynamic structural model and its implications for the stratigraphic development of the Krakatau area. The interpretation of the style structure shows that the Krakatau area is dominated by an extensional system where the normal planar fault dominates and forms the Krakatau graben geometry. The graben geometry has an N-S parallel direction with the existence of the normal planar fault of the West Krakatau Fault (WKF), where the existence of this fault group is also interpreted to have an essential role in controlling intrusion and sedimentation in the Krakatau zone. There are four stratigraphic units in the Krakatau zone which are divided into two sedimentation systems; 1) pre-extensional and 2) syn-extensional system. Unit 1 is a unit that was deposited in the late Oligocene-early Miocene, where unit 1 was deposited before the extensional system worked. Hence unit is categorized as pre-extensional sediment. Units 2 to 4 were deposited in the middle Miocene to Pleistocene, where units 2 to 4 have varying thicknesses within the Krakatau graben area units 2-4 are very thick, while in the Krakatau ridge area, the thickness of units 2 to 4 looks lower than the Krakatau graben. Based on this, units 2 to 4 are categorized as syn-extensional sediments. The existence of syn-extensional sediments is closely related to the massive formation of the Semangko trantensional system, where the initiation of the formation of the basin began in the middle Miocene period. The existence of extensional structures in the Krakatau graben is also thought to be the agent for dyke intrusions. The intrusions are interpreted to have occurred during the Pleistocene period, so the intrusions intruded lower sediment units 1 to 4. Key Words: Krakatau, extensional, graben, sedimentation, stratigraphy
GEOLOGI DAN KONTROL BATUAN INDUK TERHADAP KUALITAS ENDAPAN BAUKSIT DI KECAMATAN SANDAI, KABUPATEN KETAPANG, KALIMANTAN BARAT Elkana Amelia F; Sutarto Sutarto; Joko Soesilo
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i2.9513

Abstract

Daerah penelitian secara administratif berada di daerah Dadali, Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat yang merupakan salah satu daerah yang mempunyai sumber daya dan cadangan bauksit yang besar yang umumnya belum dieksploitasi secara optimal (Husaini dkk, 2009, dalam Amalia dkk, 2013). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui geologi dan kontrol batuan induk terhadap kualitas endapan laterit bauksit pada daerah penelitian sehingga dapat mengetahui persebaran endapan bauksit yang berkualitas. Metode penelitian yang digunakan berupa pemetaan geologi yang didukung dengan analisis petrografis untuk mengetahui sifat optis mineral sehingga didapatkan penamaan batuan secara detil, XRF (X-Ray Fluorosence) untuk mengetahui kandungan kimia unsur dan nilai kadar bauksit, serta wet analysis untuk mengetahui kadar RSiO2. Daerah penelitian termasuk kedalam Formasi Granit Sukadana yang terdiri dari litologi batuan beku monzodiorit kuarsa, batuan beku granit dan batuan beku granodiorit. Geomorfologi daerah penelitian terbagi atas 3 bentuk asal yaitu bentuk asal denudasional, bentuk asal fluvial, dan bentuk asal antropogenik. Pola pengaliran daerah penelitian terdiri dari pola pengaliran subdendritik. Stratigrafi yang ditemukan pada daerah telitian dari tua ke muda yaitu intrusi monzodiorit kuarsa Sukadana, intrusi granit Sukadana dan intrusi granodiorit Sukadana yang memiliki umur Kapur Akhir serta satuan endapan aluvial berumur Holosen. Daerah penelitian yang terdiri dari batuan induk monzodiorit kuarsa dan batuan induk granit. Berdasarkan karakteristik endapan bauksit dibagi menjadi 2 tipe yaitu endapan bauksit monzodiorit kuarsa dan endapan bauksit granit. Kandungan geokimia pada endapan bauksit monzodiorit kuarsa memiliki unsur Al2O3 yang lebih tinggi dibandingkan endapan bauksit granit, sedangkan pada endapan bauksit granit memiliki kandungan SiO2 yang lebih tinggi dibanding endapan bauksit monzodiorit kuarsa. Berdasarkan perbedaan karakteristik dan kandungan geokimia endapan bauksit monzodiorit kuarsa memiliki kualitas yang lebih bagus dibandingkan endapan bauksit granit.Kata Kunci : batuan induk, bauksit, laterit, sandai
GEOLOGI DAN PENGEMBANGAN POTENSI GEOWISATA PADA DAERAH CILONGOK DAN SEKITARNYA, KECAMATAN BATURADEN, KABUPATEN BANYUMAS, PROVINSI JAWA TENGAH Ivan Sadewo; Jatmika Setiawan; Puji Pratiknyo
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v8i1.9612

Abstract

Perkembangan pariwisata dalam bidang geologi atau geowisata merupakan wisata yang bisa dikembangkan dengan tujuan sebagai sarana pariwisata, pembelajaran, pengkajian untuk oenelitian, serta peningkatan ekonomi masyarakat dan daerah. Terdapat banyak objek wisata di Indonesia yang bisa digunakan sebagai objek wisata geologi, salah satunya yang terdapat di daerah Cilongok, Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Didaerah tersebut terdapat beberapa objek wisata yang sangat mungkin dikembangkan untuk menjadi geowisata. Penelitian dengan judul “Geologi dan Pengembangan Potensi Geowisata Pada Daerah Cilongok Dan Sekitarnya, Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah”, memiliki rumusan masalah bagaimana kondisi geologi daerah telitian dan potensi perkembangan geowisatanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana objek wisata yangterdapat didaerah telitian, bisa dikenal secara luas oleh wisatawandomestic maupun mancanegara dengan pendekatan ilmu geologi. Penelitian ini menggunakan metode analisis SWOT. Adapun data-data yang dipergunakan adalah hasil yang dikumpulkan berupa analisis-analisis tentang Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (peluang), dan Threat (ancaman) yang dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya. Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik terutama dalam bidang geologi dan kepariwisataan. Berdasarkan analisa yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa objek wisata yang terdapat didaerah telitian masih harus dikembangkan lagi, baik dalam segi infrastruktur, promosi, sumber daya manusia serta lembaga yang mengelola. Dengan penelitian yang dilakukan, objek-objek geowisata yang ada dapat ditinjau ulang dan dikembangkan lagi agar bisa digunakan sebagai sarana pembelajaran dalam ilmu geologi dan bidang pariwisata.Kata-kata Kunci : Geologi, Geowisata, analisis swot
Tinjauan Literatur Sistematis dan Analisis Bibliometrik Penelitian Kerentanan Airtanah di Indonesia (2013-2021) Adam Raka Ekasara; Nuha Amiratul Afifah; Riska Aprilia Triyadi; Thema Arrisaldi; Daniel Radityo; Hasan Tri Atmojo
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 1sp (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Edisi Spesial
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i1sp.9404

Abstract

Abstrak - Kebutuhan masyarakat terkait dengan airtanah semakin meningkat. Penilaian kerentanan airtanah menjadi salah satu cara untuk melindungi sumber daya airtanah agar tidak tercemar. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan tinjauan literatur sistematis dan analisis bibliometrik untuk penelitian kerentanan airtanah di Indonesia menggunakan basis data Scopus. Parameter yang dianalisis berupa jumlah terbitan, sumber jurnal/prosiding, kata kunci dan jumlah kutipan. Dari hasil pencarian didapatkan 26 artikel dari 74 penulis pada rentang 2013-2021. Kata kunci populer yang muncul pada penelitian diantaranya groundwater pollution, groundwater vulnerability, groundwater resources, aquifers, dan groundwater. Pengolahan data dan visualisasi menggunakan aplikasi Bibliometrix dan VOSviewer. Dari hasil analisis disusun peta tematik yang menggambarkan 4 kuadran berdasarkan tingkat kepadatan dan tingkat sentralitas. Peta tematik ini diharapkan bisa menjadi acuan untuk penelitian kerentanan airtanah di Indonesia.  Kata kunci: airtanah, analisis bibliometrik, Bibliometrix VOSviewerAbstract - The needs of the community related to groundwater are increasing. Assessing groundwater vulnerability is one way to protect groundwater resources from being polluted. This study aims to review systematic literature and bibliometric analysis for groundwater vulnerability research in Indonesia using the Scopus database. The parameters were analyzed through several publications, journals/proceedings, keywords and total citations. The search results found 26 articles from 74 authors in the range 2013-2021. Popular keywords that emerged in research include groundwater pollution, groundwater vulnerability, groundwater resources, aquifers, and groundwater. Data processing and visualization using the bibliometric and VOSviewer applications. The results of the analysis compiled a thematic map that describes 4 quadrants based on density and centrality levels. This thematic map is expected to be a reference for groundwater vulnerability research in Indonesia.Keywords: groundwater, bibliometric analysis, Bibliometrix VOSviewer
GEOLOGI DAN STUDI PROVENAN BATUPASIR FORMASI JATEN, DAERAH PANDEAN DAN SEKITARNYA, KECAMATAN DONGKO, KABUPATEN TRENGGALEK, PROVINSI JAWA TIMUR Ellan Mukti Prabowo; Sugeng Widada; Ediyanto Ediyanto
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i2.9504

Abstract

Daerah penelitian secara administratif berada di daerah Pandean dan sekitarnya, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur. X: 557250 mE – 562250 mE dan Y: 9089000 mN – 9094000 mN. Luas daerah penelitian 5 km2. Metode penelitian yang digunakan yaitu akuisi, analisis, dan sintesis. Pola pengaliran di daerah penelitian yaitu subtrellis, subparallel. Bentuk lahan di daerah penelitian yaitu lereng structural (S1), perbukitan struktural (S2), lembah structural (S3), tubuh sungai (F1). Stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda yaitu Satuan breksi-vulkanik – Mandalika berumur Oligosen akhir – Miosen awal,Satuan batugamping – Campurdarat Miosen awal (N4-N8), Satuan batupasir – Jaten Miosen awal (N8), dan endapan Aluvial. Struktur geologi yang berkembang left slip fault. Studi mengenai provenance dilakukan dengan mengambil sample batuan pada. Satuan batupasir – Jaten yang kemudian dilakukan analisis petrografi. Hasil plot diagram QFL dan QmFLt pada sample batupasir Satuan Batupasir Jaten pada daerah telitian menunjukan menunjukan bahwa sumber batupasir pada Satuan Batupasir Jaten termasuk ke lingkungan Volcanic Island Arc dengan sublingkungan Dissected Arc. Hasil plot diagram QpLvLs dan QmPK Model tektonik kedudukan batuan asal Satuan Batupasir Jaten berasal dari zona Arc Orogen Sources dengan tingkat maturity batupasir sedang. Hasil plot paleoclimate menggunakan diagram QFL Paleoclimate pada daerah telitian diketahui bahwa sebagian besar sumber batuan asal berasal dari iklim semi-arid atau semi-kering.Kata Kunci : Batupasir, Jaten, Geologi, Trenggalek, Provenance
PENYEBARAN TOTAL ORGANIC CARBON (TOC) DAN BRITTLENESS INDEX (BI) MENGGUNAKAN SEISMIK INVERSI UNTUK PENENTUAN SWEET SPOT SHALE GAS FORMASI SANGKAREWANG, CEKUNGAN OMBILIN, SUMATRA BARAT Azeza Ega Maestra; Jarot Setyowiyoto; Djoko Wintolo; Litto Habrianta
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v8i1.9605

Abstract

TOC (Total Organic Carbon) dan BI (Brittleness Index) termasuk parameter utama yang perlu diketahui dalam analisis shale gas. Identifikasi penyebaran TOC dan BI akan memberikan informasi area sweet spot shale gas dalam menentukan pengembangan lapangan. Formasi Sangkarewang merupakan formasi yang didominasi oleh shale yang dikenal menjadi batuan induk di Cekungan Ombilin. Oleh karena itu, formasi ini berpotensi menjadi reservoar shale gas. Metode deltalogR dilakukan untuk membuat log TOC dengan kalibrasi dari data sampel. Pembuatan log BI atau BA (Brittleness Average) menggunakan metode dari Grieser dan Bray (2007) yaitu dengan parameter poisson’s ratio dan young modulus. Penyebaran TOC dan BI akan dihubungkan dengan Acoustic Impedance (AI) hasil seismik inversi. Penelitian ini menggunakan data 2 sumur dan seismik 3D. Crossplot dilakukan dengan menggabungkan 2 sumur dan dilakukan filter untuk mendapatkan trend TOC dan AI. Terdapat hubungan yang berbanding terbalik antara TOC dan AI dengan persamaan TOC = -1,30181.10-4*AI)+6,30307. Persamaan tersebut digunakan untuk mengkonversi cube AI menjadi cube TOC. Hasil crossplot BI dan AI didapatkan korelasi yang baikdengan koefisien korelasi 0.88. Persamaan BI = 6,03524.10-5*(AI) – 1,39422 digunakan untuk mengubah cube AI menjadi cube BI. Hasil penyebaran TOC menunjukkan semakin tinggi TOC berada pada area dalaman (N-NE) sedangkan BI semakin tinggi pada bagian S-SE. Sweet spot ditunjukkan dengan nilai rata-rata TOC 2-2,34 wt% dan BI >0,48 (brittle) yang berada diantara sumur Sinamar-1 dan South Sinamar-2.Kata Kunci : TOC, BI, AI, shale gas, sweet spot, Formasi Sangkarewang
GEOLOGI DAN STUDI PETROLOGI BATUAN GUNUNG API DAERAH GIRITENGAH DAN SEKITARNYA KECAMATAN BOROBUDUR, KABUPATEN MAGELANG, PROVINSI JAWA TENGAH Muhamad Rinaldi; Agus Harjanto; Firdaus Maskuri
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i1.9542

Abstract

Daerah peenelitian secara administratif terletak di daerah Giritengah, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Secara geografis terletak pada koordinat (X : 407040 – 412076 dan Y: 9152883 – 9157897, UTM 49s) dengan luasan daerah penelitian tersebut yaitu 5 km2. Penelitian Tugas Akhir ini bertujuan untuk mempelajari tatanan geologi meliputi geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, sejarah geologi dan persebaran batuan gunung api di daerah penelitian. Analisis petrografi dilakukan untuk mengetahui komposisi penyusun batuan dan tekstur batuan secara mikroskopis. Analisis mikropaleontologi dilakukan untuk menentukan umur batuan. Analisis struktur dilakukan untuk mengetahui arah tegasan yang berkembang di daerah penelitian. Berdasarkan informasi geomorfologi terdapat bentuklahan perbukitan struktural (S1), lereng struktural (S2) dan dataranaluvial (F1). Sedangkan untuk pola pengaliran yang berkembang di daerah penelitian yaitu pola aliran subdendritik dan subpararel. Daerah penelitian dipengaruhi peristiwa tektonik, yang ditandai dengan peristiwa pengkekaran dan penyesaran. Daerah penelitian tersusun atas beberapa satuan batuan, diantaranya dari tua ke muda: Satuan breksi kaligesing, satuan lava andesit kaligesing dan intrusi andesit kaligesing yang merupakan produk dari kegiatan vulkanisme gunung api tersier yang diendapkan pada lingkungan darat. Satuan batugamping jonggrangan, dan batupasir karbonatan Jonggrangan berumur Miosen Tengah (N12-N13). Berdasarkan pengamatan petrografis, diketahui bahwa batuan gunung api daerah penelitian menunjukkan tekstur politasitik yang menunjukan suatu aliran lava pada saat pembentukan batuan. Selain itu, ditemukan tekstur porfiritik kuat yang merupakan karakteristik batuan gunung api kalk-alkali busur kepulauan(Ewart,1982).Kata Kunci : Geologi, Gunung Api, Petrologi
Studi Hidrogeokimia Air Tanah di Daerah Kebumen Bagian Barat, Indonesia Setia Pambudi; Budi Sulistijo; Dwi Fitri Yudiantoro; Intan Paramita Haty
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 1sp (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Edisi Spesial
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i1sp.9411

Abstract

Abstrak - Studi penilaian hidrogeokimia air tanah telah dilakukan di Kebumen bagian barat yang dicirikan dengan fitur karstnya berdasarkan parameter fisikokimia (pH, konduktivitas elektrik, zat padat terlarut, kesadahan, Ca2+, Mg2+, Fe3+, Mn2+, K+, Na+, Li+, and NH4+, HCO3-, Cl-, SO42-, NO2-, and NO3-). Data sampel air diambil dari 25 sumber air tanah dangkal berupa mata air, goa basah dan sumur. Data fisikokimianya mengindikasikan hanya ada kontaminasi alami maupun dari manusia yang sangat rendah. Dari diagram Piper ditunjukkan bahwa fasies air tanah yang berada di daerah ini adalah kalsium-magnesium bikarbonat yang mengindikasikan efek litologi karbonatan yang sangat kuat ke air tanah. Diagram Durov menunjukkan bahwa air tanah di daerah studi hanya mengalami pertukaran ion yang sangat rendah yang mengindikasikan kemurnian air tanah ini dari dampak kontaminasi alami maupun dampak antropogenik.Kata kunci: hidrogeokimia, air tanah, karst, Kebumen Abstract - A groundwater hydrogeochemistry assessment study has been conducted in western Kebumen, characterized by its karstic features based on physicochemical parameters (pH, electric conductivity, total dissolved solids, hardness, Ca2+, Mg2+, Fe3+, Mn2+, K+, Na+, Li+, and NH4+, HCO3-, Cl-, SO42-, NO2-, and NO3-). Water samples were taken from 25 shallow groundwater sources such as springs, wet caves, and wells. The physicochemical data indicates very low natural and/or human contamination. The Piper diagram shows that the groundwater facies in this area is calcium-magnesium bicarbonate, indicating a very strong effect of carbonate lithology on groundwater. The Durov diagram shows that the groundwater in the study area only undergoes very low ion exchange, indicating the purity of this groundwater from natural contamination or anthropogenic impacts.Keywords: hydrogeochemistry, groundwater, karst, Kebumen