cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 824 Documents
Analisis Pemberian Serbuk Jahe Merah, Kunyit, dan Temulawak Dengan Metode Insilico dan Invivo pada Ayam Broiler Herawati .; Renanda Nur Al Jabbar; Yudit Oktanella
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.76111

Abstract

This study aimed to eveluate effect of combination powder of red ginger (Zingiber officinale var. Rubrum), turmeric (Curcuma domestica), and temulawak (Curcuma xanthorrhiza) on the calculation of normal Liberkhun crypts by insilico and invivo methods. Molecular docking conducted in the pocket site of Interferon Lambda Receptor (IFN-λR) to modulate anti-inflammatory activity in chicken caecum. The study used 20 day old chickens (DOC) which were randomly grouped into 5 groups: negative control without treatment (P0) and powder addition group {0,5% (P1); 1%(P2); 1.5%(P3); 2%(P4)}. All chickens were reared for 35 days then chickens were euthanized using halal slaughter method and caecum organs were collected  for histopathological observations. all active substances red ginger (gingerol, shogaol); turmeric (curcumin,tetrahydrocurcumin); and temulawak (demethoxycurcumin, bisdemethoxycurcumin) can bind to IFN-λR. Curcumin (-6.0 kcal/mol) have highest affinity values. Invivo treatment showed significant effect (p<0.05) on normal calculation of Liberkhun crypts due to tissue damage. Tukey's test confirmed that negative group was significantly different from P2, P3, and P4 with an average (4.35 ± 1.09b; 5.6 ± 1.54c; and 5.7 ± 1.78c). This research suggests that the addition of combination powder by 1,5% can potentially used for anti-inflamatory agent that confirmed by insilico method.
Characterization of Newcastle Disease Virus Isolated from Peacocks in Palembang City, South Sumatra Liza Angeliya; Akbar Agus Anshori Mussama; Syarifah Alawiyah; Tri Guntoro; Eko Agus Srihanto; Yuli Purwandari Kristianingrum; Widya Asmara; Michael Haryadi Wibowo
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.76226

Abstract

Introduction: Newcastle Disease (ND) is an infectious disease in various types of poultry caused by the Newcastle Disease Virus (NDV). Cases of ND in Indonesia have been reported in commercial and backyard chickens, pigeons, ducks and geese, even in eagles and peacocks. Peacock is a wild bird protected by Indonesia's Government Regulation No. 7 of 1999. This study aims to identify, isolate and characterize the NDV molecularly in cases diagnosed as ND in peacocks. Method: Samples were obtained from organs (lungs and spleen) of peacocks which showed neurological symptoms, diarrhoea and then died. Real-time RT-PCR ND was used to identify the cause of death of the peacock. Virus isolation and observation of embryonic changes and death were carried out on embryonic chicken eggs. Sequencing was carried out to characterize the F and HN entire genes of the NDV. The nucleotide sequences were analyzed using MEGA-X software, including amino acid prediction, analysis of genetic variation at the amino acid level, homology and construction of the phylogenic tree. Result: The results of the sample identification were positive for the Newcastle disease virus. Observations of chicken embryos are stunted, have few feathers, are haemorrhagic, and die in less than 60 hours. Virus isolation was obtained with a titer of 26. Molecular analysis showed that the RRQKRF cleavage site pattern in the F gene had homology of 95.8-97.6% and was in the same branching area as the previous ND virus in Indonesia. There were no amino acid mutations at the antigenic site, glycolysis and neutralization epitopes in the HN gene. Conclusion: The virus isolated from the peacock is a velogenic strain of NDV, subgenotype VII.2 and has a close genetic range to the NDV that has been previously reported in commercial and domestic poultry. This result shows that ND is also a threat to protected wild birds.
Proses Penyembelihan dan Waktu Mati Sempurna Sapi Bali sebagai Hewan Kurban di Kabupaten Manokwari Priyo Sambodo; Isti Widayati; Dwi Nurhayati; Alnita Baaka; Purwaningsih .; John A Palulungan; Rizki Arizona; Noviyanti .; Noveling Inriani; Elfira K Suawa; Sientje D Rumetor; Muhammad J Wajo
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.76415

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek kesejahteraan hewan berdasarkan tata cara pemisahan dan handling sapi ketika akan disembelih, berapa lama waktu maksimal sapi Bali yang disembelih mati sempurna dan indikator kematian apa yang paling lama hilang setelah sapi disembelih. Penelitian ini dilakukan pada 57 ekor sapi Bali yang disembelih di 5 masjid di Kabupaten Manokwari yang menyelenggarakan penyembelihan hewan kurban. Pengamatan tata cara pemisahan dan handling sapi dilakukan dengan observasi. Waktu henti darah memancar dihitung sejak awal darah memancar sampai tidak lagi memancar. Indikator kematian lain (refleks pupil, refleks kornea, pernafasan ritmik, tonus rahang, tonus lidah, refleks ekor, refleks anus, dan refleks tracak) dihitung setelah waktu henti darah memancar diperoleh. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Data henti darah memancar dihitung rerata dan simpangan bakunya, sedangkan indikator lain disajikan dengan range tiap menit dalam tabel. Pemisahan antara lokasi penempatan dengan penyembelihan dan penggunaan kandang jepit modifikasi untuk handling telah dilakukan disebagian besar lokasi pengamatan. Waktu henti darah memancar pada penelitian ini adalah 2,93 menit. Refleks kornea dan tonus lidah merupakan indikator tercepat yang hilang, yaitu 4-5 menit setelah darah berhenti memancar, kemudian berturut-turut diikuti dengan pernafasan ritmik dan tonus rahang, yaitu masing-masing 5-6 menit serta refleks ekor dan refleks tracak, yaitu 6-7 menit. Refleks anus merupakan indikator terlama yang hilang, yaitu 7-8 menit setelah darah berhenti memancar. Kesimpulan: sebagain besar masjid telah memperhatikan kesejahteraan hewan berdasarkan lokasi dan tata cara penyembelihan. Sapi Bali sebagai hewan kurban di Kabupaten Manokwari mengalami mati sempurna pada menit ke 13,93 dan indikator kematian terakhir yang hilang adalah refleks anus.
Pemanfaatan Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera lamk) untuk Penyembuhan Luka Tikus Ovariektomi yang Diberi Diet Tinggi Lemak Sucia Fadillah; Dhirgo Aji; Devita Anggraeni
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.77161

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian salep ekstrak etanol daun kelor 20% (EEDK 20%) pada penyembuhan luka berdasarkan gambaran histopatologi yang meliputi jumlah leukosit pada jaringan luka dan ketebalan epitel. Enam belas ekor tikus Sprague-Dawley betina, umur 3-4 bulan dengan berat 150-200 g, dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan (A,B,C dan D) secara acak. Seluruh tikus diovariektomi dan diberi perlakuan pakan selama 8 minggu. Kelompok A dan C diberi pakan normal, sedangkan kelompok B dan D diberi pakan tinggi lemak. Setelah 8 minggu, dilakukan pengambilan darah untuk analisis kadar lemak (kolesterol dan trigliserida) dan pembuatan luka di area punggung dengan biopsy punch (8 mm). Perawatan dilakukan dengan pemberian salep selama 7 hari dan injeksi antibiotik. Kelompok A dan B diberi salep basis, sedangkan C dan D diberi salep EEDK 20%. Hari ke-7 dilakukan pengambilan jaringan kulit untuk analisis histopatologi dengan pengecatan Hematoksilin Eosin. Kadar lemak darah (kolesterol dan trigliserida) dianalisis secara statistik dengan one way ANOVA, sedangkan jumlah leukosit di jaringan dan ketebalan epitel dianalisis dengan two way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah leukosit di jaringan dipengaruhi oleh jenis salep (P<0.05), sedangkan ketebalan epitel dipengaruhi oleh jenis salep dan pakan (P<0,05). Salep EEDK 20% dapat menurunkan jumlah leukosit di jaringan, meningkatkan ketebalan epitel dan memiliki gambaran histopatologi kulit yang baik.  Dapat disimpulkan bahwa pemberian salep EEDK 20% dapat meningkatkan proses penyembuhan luka tikus yang diovariektomi dan diberi pakan tinggi lemak.  Kata kunci : daun kelor; luka; penyembuhan; salep EEDK 20%; tinggi lemak
The Role of Dairy Farmers in Surveillance and Control Program of Brucellosis in Bogor Regency Heris Kustiningsih; Etih Sudarnika; Amiruddin Saleh; Chaerul Basri; Mirnawati Sudarwanto
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.77617

Abstract

Brucellosis is an infectious and zoonotic disease that causes a negative impact on the health and economy of people in almost all countries. The prevalence of brucellosis in several regions in Indonesia is still quite high. The purpose of this study was to analyze the role of farmers in the brucellosis control and surveillance program in Bogor Regency. The study was conducted through a survey of 151 farmers in Bogor Regency from May to July 2022. A total of 68.9% of respondents are aged 25-50 years with an education level of 69.8% are low educated (Elementary School, Junior High School) and not in school . The experience of raising more than five years (58.2%) with the number of dairy cattle ownership is less than five heads, namely 41.7%. The brucellosis prevention practices that need to be improved are related to the use of disinfectants when cleaning the cage, livestock group management practices (separating pregnant cows from other cows, separating cows with suspected brucellosis from other healthy cows, separating newly purchased cows for two weeks before being merged with cows). long in the cage). The practice of brucellosis control that needs to be improved is proper handling of the placenta and cows infected with brucellosis properly. Surveillance practices that need to be improved are the practice of recording and reporting cases of miscarriage in the final trimester. After identifying farmer practices, it is very important to plan interventions in the form of training with a curriculum that refers to the level of farmer practice that is still lacking. It is hoped that by conducting training interventions for farmers, the level of knowledge of farmers will increase and the level of practice of farmers will also increase.
Karakteristik Calving Interval pada Sapi Jawa-Brebes di Kabupaten Brebes Jawa Tengah Indonesia Agung Budiyanto; Slamet Hartanto; Imawan Daru Prasetya; Ismu Subroto; Zulfianto Hadratus Asy&#039;ari; Erent Sahat Timotius Sihombing; Yaflet Elifelet Mabel; Annisa Sonia Orintamara; Muhammad Wildan Nasir
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.77833

Abstract

Sapi Jabres sebagai sumber daya genetik ternak lokal Indonesia harus dilindungi dan dilestarikan. Namun, kajian karakteristik kinerja reproduksi terutama calving interval pada sapi Jabres pada berbagai umur masih terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui calving interval sapi Jabres di kabupaten Brebes. Metode yang digunakan adalah survei dengan purposive sampling. Data diolah secara statistik menggunakan analisis deskriptif. Data disajikan dengan nilai rata-rata ± standar deviasi. Sampel data diambil dari catatan penampilan reproduksi dari 90 ekor sapi Jabres. Hasil analisis pada penelitian ini menunjukkan bahwa calving interval sapi Jawa Brebes di desa Pangerasan Kecamatan Bantarkawung Kabupaten Brebes pada umur 3-5 tahun sebesar 399,2±8,5 hari, umur 6-8 tahun sebesar 416,1±11,0 hari, dan umur lebih dari 9 tahun sebesar 408,0±12,6 hari. Kesimpulan penelitian ini adalah calving interval pada sapi Jabres pada semua umur cukup baik tetapi belum ideal. 
Konstruksi Plasmid pET-15b dengan Gen tat Virus Penyakit Jembrana Asmarani Kusumawati; Lalu Unsunnidhal; Agung Budiyanto; Erif Maha Nugraha Setyawan; Sri Gustari
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.79217

Abstract

Virus Penyakit Jembrana adalah virus yang menyebabkan jembrana pada sapi bali. Vaksin protein rekombinan dibuat dengan memasukkan DNA atau gen yang mengkode protein imunogenik ke dalam vektor ekspresi prokariotik sehingga dapat mengekspresikan protein rekombinan yang akan dijadikan vaksin. Salah satu gen struktural virus penyakit jembrana adalah gen tat yang mengekspresikan protein tat yang digunakan sebagai vaksin protein rekombinan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkloning pET15b dengan gen tat. Konfirmasi gen pET-15b pada bakteri transforman dilakukan dengan koloni PCR, kemudian dilakukan isolasi plasmid dan dilaksanakan konfirmasi menggunakan metode PCR dengan primer untuk deteksi gen tat dan primer sekuensing untuk vektor pET15b. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri transforman sudah berisikan DNA rekombinan pET15b-tat yang terkonfirmasi melalui koloni PCR dengan band sebesar 179 bp, kemudian dikonfirmasi lanjut melalui PCR pada hasil isolasi plasmid dari bakteri transforman yang didapatkan band sebesar 179 bp untuk primer deteksi gen tat dan 514 bp untuk primer sekuensing pada vektor pET15b, 179 bp dan 514 bp sesuai dengan target amplikasi untuk primer deteksi dan primer sekuensing yang digunakan.
Safety Test for Ethanolic Neem Leaf (Azadirachta indica A. Juss.) Extract on Male Mice (Mus musculus L) Renal Structure Ayu Dwi Lestari; Agung Janika Sitasiwi; Sri Isdadiyanto
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.46758

Abstract

Neem leaves (Azadirachta indica A. Juss.) are often used as traditional medicine because they contain bioactive compounds such as azadirachtin, nimbidin and nimbolides. Consumption of traditional medicines for long periods can cause side effect on kidney. This study aims to find out the histological structure of glomerular and proximal tubular in the male mice (Mus musculus L.)  kidneys after exposure to the ethanolic of neem leaves extract. Completely Randomized Design (CRD) consists of 2 treatment groups with 15 replications was used in this study. The first group is K (only treated with aquadest) and P group (treated by ethanolic neem leaves extrcat at the dosage 14 mg/ kg body weight). The treatment were given orally with a volume of 0.2 mL for 21 days. Feeding and drinking were carried out ad-libitum. At the 22 days, kidney was isolated, weighted and made for histological processed with 5 μm in thickness using paraffin method with Hematoxylin and Eosin staining. The variables observed in this study were kidney weight, water consumption, glomerular diameter, thick of Bowman capsule, diameter of proximal tubule and lumen diameter. Data were analyzed using the t test with a confidence level of 95%. The results of the analysis showed that the treatment has no significant effect (p> 0.05) to kidney weight, water consumption, glomerular diameter, thick of Bowman capsule, diameter of proximal tubules and lumen diameter. The study showed that the use of ethanolic neem leaves extract for 21 days still safe to be use as a traditional medicine.
Kejadian Fascioliasis pada Sapi Perah di Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan Alek Arisona; Soedarmanto Indarjulianto; Catur Sugiyanto; Ambar Pertiwiningrum; Joko Prastowo; Yanuartono .; Alfarisa Nururrozi; Margaretha Arnita Wuri; Teguh Ari Prabowo
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.70602

Abstract

Fascioliasis adalah penyakit cacing hati yang dapat menyerang sapi dan sangat merugikan, karena dapat menurunkan produktivitas. Peternakan sapi perah di Tegalombo, Pacitan merupakan peternakan rakyat yang pengelolaannya banyak melibatkan perempuan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi fascioliasis pada sapi perah di kecamatan Tegalombo, kabupaten Pacitan. Sebanyak 50 ekor sapi perah digunakan sebagai sampel di dalam penelitian ini. Semua sapi diperiksa secara fisik, diambil fesesnya dan diperiksa adanya telur cacing Fasciola sp. Hasil pemeriksaan fisik sapi secara klinis menunjukkan bahwa semua sapi pada penelitian ini menunjukkan kondisi umum normal, nafsu makan baik, serta tidak ada abnormalitas yang signifikan pada semua bagian tubuh, sehingga dinyatakan sehat secara fisik. Hasil pemeriksaan sampel feses didapatkan adanya telur cacing Fasciola sp. pada 2 dari 50 ekor sapi (4%), sedangkan 48 ekor sapi lainnya (96 %) tidak ditemukan telur cacing. Kesimpulan dari peneltian ini adalah kejadian fascioliasis pada sapi perah di Tegalombo, kabupaten Pacitan rendah. Pemeriksaan secara periodik terhadap kemungkinan fascioliasis perlu dilakukan, sebagai langkah penanggulangan fascioliasis di daerah tersebut.
Dermatosis pada Ruminansia akibat Defisiensi Vitamin C: Ulasan Singkat Yanuartono Yanuartono; Soedarmanto Indarjulianto; Alfarisa Nururrozi; Dhasia Ramandani; Hary Purnamaningsih
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.71186

Abstract

Vitamin C bersifat esensial untuk mamalia, termasuk manusia, primata, dan marmut, meskipun mamalia lain, seperti ruminansia, babi, kuda, anjing, dan kucing, dapat mensintesis vitamin C dari glukosa di hati. Ruminansia pada dasarnya bergantung pada sintesis endogen karena vitamin C asal pakan sebagian besar dirusak semuanya oleh mikroorganisme rumen. Dengan demikian, ruminansia lebih bergantung vitamin C endogen untuk mencukupi kebutuhan tubuhnya guna memenuhi persyaratan fisiologis dibandingkan dengan hewan lain. Meskipun demikian, ruminansia muda lebih rentan terhadap defisiensi vitamin C karena  biasanya hanya memperoleh diet dengan kandungan vitamin C yang rendah.  Produksi vitamin C endogen pada ruminansia muda dapat mencapai tingkat maksimal setelah umur 16 minggu. Konsentrasi vitamin C pada ruminansia muda yang rendah tersebut  berpotensi menimbulkan dermatosis pada ruminansia muda. Tulisan ini bertujuan untuk mengulas secara singkatnya defisiensi vitamin C yang terkait dengan dermatosis pada ruminansia.

Filter by Year

1995 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 3 (2025): Desember Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue