cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 824 Documents
Histological Analysis of Intestinum Tenue Rabbit Atherosclerosis Model Vista Budiariati; Ariana .; Teguh Budipitojo
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.81748

Abstract

Atherosclerosis is a vascular disease that occurs as a result of a progressive inflammatory response in blood vessels. The method of inducing atherosclerosis with the rabbit animal model can be done by modifying the high-fat diet which can lead to hypercholesterolemia within a few days to the inducement of atheromatic lesions. This study was conducted to analyze the histology of the small intestine in a group of rabbits fed with standard diet and atherosclerosis model of rabbits fed with atherogenic diet. The results of morphometry analysis in the small intestine showed that the duodenal submucosa in group B was wider than group A, while the length of jejunal villi in group B was shorter than group A. Changes in the intestine were also followed by changes in the cell population. The number of goblet cells in the duodenum was less in group B compared to group A, but the number of goblet cells in the jejunum was actually more in group B than in group A. Further research is needed to determine the mechanism that causes this change so that it can support modeling of atherosclerosis in rabbits according to the pathophysiology and pathogenesis of diseases that occur in humans.
Profil Hematologi Tikus Putih (Rattus norvegicus) yang Diberi Salep Simplisia Daun Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) Setelah Dipapar Sinar Ultraviolet Wayan Gede Ananta Brahmananda; I Gusti Ngurah Sudisma; Anak Agung Sagung Kendran; I Wayan Sudira
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.82701

Abstract

Sinar ultraviolet (UV) dapat merusak kulit dan mempengaruhi darah sehingga dibutuhkan antioksidan yang terkandung dalam daun kembang sepatu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh antioksidan pada salep simplisia daun kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) terhadap profil hematologi tikus putih (Rattus norvegicus) setelah paparan UV. Rancangan penelitian menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan sampel 30 ekor tikus putih galur wistar berjenis kelamin betina (100-150 gram) dibagi menjadi 6 perlakuan yang setiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus, yaitu (P0) sampel kontrol negatif tanpa diberi salep dan paparan UV, (P1) sampel kontrol positif tanpa diberi salep dan hanya dipapar UV, dan (P2, P3, P4, dan P5) sampel dengan pemberian salep simplisia daun kembang sepatu masing-masing dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, dan 40% secara topikal pada punggung yang sudah dicukur terlebih dahulu seluas 16 cm2 , kemudian dipapar UV. Spesimen darah diambil satu hari setelah perlakuan melalui vena orbitalis, selanjutnya dilakukan uji hematologi lengkap untuk mengetahui jumlah eritrosit (RBC), nilai hematokrit (HCT), kadar hemoglobin (Hb), dan jumlah leukosit (WBC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian salep simplisia daun kembang sepatu dapat mempertahankan jumlah RBC, nilai HCT, kadar Hb, dan jumlah WBC pada tikus kelompok perlakuan (P2, P3, P4, dan P5) dengan konsentrasi simplisia daun kembang sepatu (10%, 20%, 30%, dan 40%) menunjukkan hasil yang tidak berbeda signifikan (P>0,05) terhadap tikus perlakuan kontrol negatif (P0). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan, pemberian salep simplisia daun kembang sepatu pada tikus putih setelah dipapar UV dapat mempertahankan jumlah RBC, nilai HCT, kadar Hb, dan jumlah WBC.
Resistansi Penisilin terhadap Escherichia coli pada Susu Segar yang berasal dari Koperasi Ternak Sapi Cianjur Utara (KPSCU), Jawa Barat Dwida Agustina Suherman; Etih Sudarnika; Trioso Purnawarman
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.83050

Abstract

Resistansi antibiotik atau sering disebut sebagai pandemi senyap, merupakan satu diantara penyebab masalah kesehatan global yang harus diwaspadai. Susu segar merupakan media pembawa yang mudah terkontaminasi bakteri, salah satunya ialah bakteri E. coli. Antibiotik yang sering dipakai dalam pengobatan terhadap sapi adalah penisilin yaitu antibiotik golongan betalatam yang memiliki kemampuan membunuh bakteri dengan mencegah pembentukan protein dinding sel. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi keberadaan dan prevalensi E. coli pada susu segar, serta menguji resistansinya terhadap antibiotik penisilin. Sebanyak 75 sampel susu kandang dipilih secara acak, berasal dari 6 kelompok ternak sapi perah dan dikumpulkan oleh masing-masing petugas lapang. Uji identifikasi keberadaan E. coli mengacu kepada Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 01-2897-2008 tentang metode pengujian cemaran mikroba pada susu, daging dan telur. Isolat bakteri yang teridentfikasi E. coli dilaukan pengujian resistansi terhadap antibiotik penisilin menggunakan metode Kirby-Bauer disk diffusion dengan penentuan standar berdasarkan Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). Wawancara terstruktur dilakukan kepada 75 peternak yang diambil sampel susu kandang. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa bakteri E. coli yang terdeteksi pada sampel susu kandang sebanyak 24/75 isolat (32%). Hasil uji resistansi menunjukkan bahwa sebanyak 23/24 isolat E. coli (96%) resistan terhadap antibiotik penisilin. Kesimpulan dari penelitian ini E. coli yang berhasil diisolasi dari susu kandang di wilayah KPSCU telah resistan terhadap antibiotik penisilin, sehingga dibutuhkan penerapan praktik higiene sanitasi, pengawasan penggunaan antibiotik, peningkatan pengetahuan peternak dan petugas kesehatan hewan terkait penggunaan antibiotik di lapangan. 
Purifikasi dan Karakterisasi Imunoglobulin Yolk (IgY) terhadap Jembrana dari Telur Ayam sebagai Dasar Pengembangan Imunisasi Pasif Kusuma, Firdaus Lingga; Wibowo, Michael Hariyadi; Wahyuni, AETH
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 2 (2024): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.66613

Abstract

AbstrakPenyakit Jembrana adalah penyakit yang menyerang Sapi Bali (Bos javanicus) dengan penularan dan kematian yang tinggi. Penyakit ini disebabkan oleh  Jembrana Disease Virus (JDV) dari famili retroviridae. Pengendalian penyakit Jembrana di Indonesia menggunakan vaksin inaktif yang dibuat dari jaringan limfa sapi terinfeksi JDV sehingga produksinya sangat terbatas. Immunisasi pasif menggunakan antibodi terbukti mampu memberikan perlindungan terhadap berbagai infeksi. Ayam merupakan penghasil antibodi immunoglobulin yolk yang sangat baik. Tujuan penelitian ini adalah melakukan purifikasi dan karakterisasi IgY terhadap Jembrana untuk pengembangan imunisasi pasif. Sebanyak 15 ekor ayam white leghorn umur 24 minggu dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok 1 disuntik dengan 1ml vaksin Jembrana, kelompok 2 disuntik dengan seed virus Jembrana, dan kelompok ke 3 adalah kontrol. Penyuntikan antigen Jembrana dilakukan dua kali dengan interval dua minggu. Telur mulai dikoleksi setelah satu minggu penyuntikan antigen pertama sampai minggu ke lima. Uji antibodi Jembrana dilakukan dengan metode Agarose Gel Precipitaion Test (AGPT). Purifikasi IgY dilakukan dengan pengendapan NaCl, sedangkan untuk melihat karakter IgY Jembrana menggunakan SDS PAGE. Pengendapan NaCl mampu menghasilkan IgY dengan mudah dan biaya yang murah. Pengujian AGPT menunjukkan bahwa IgY muncul pada kelompok ayam yang disuntik dengan vaksin Jembrana, dan tidak muncul pada kelompok yang disuntik dengan seed Jembrana. Pengujian SDS PAGE menunjukkan adanya pita protein dengan berat molekul 67 kDa yang merupakan rantai berat, 46 kDa yang merupakan fragmen Fab, dan 24 kDa yang merupakan rantai ringan.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Kulit Buah Jeruk Baby (Citrus sinensis L. Osbeck) Selama 28 hari terhadap Kadar SGOT dan SGPT Sofia, Vivi; Widyaningsih, Wahyu; Yuliani, Sapto; Bachri, Moch Saiful
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 2 (2024): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.71513

Abstract

One of the plants used as natural medicine is baby orange (Citrus sinensis L. Osbeck). Baby oranges contain hesperidin, hesperetin, narirutin and nobiletin compounds. The purpose of this study was to determine the effect of giving ethanol extract of baby orange peel for 28 days on liver function as seen from the increase in SGOT and SGPT levels. This research is a pure experimental study with a completely randomized design (CRD) with a unidirectional pattern, namely the method used to observe the relationship of independent variables (including: normal control, negative control, ethanol extract of baby orange peel (EEKBJB) doses of 50, 100, 200 and 400 mg/kg BW) with the dependent variable (SGOT and SGPT levels). The test animals used in this study were 30 male Wistar rats which were divided into 6 treatment groups which were treated for 28 consecutive days. On day 29, blood samples were taken from the orbital sinus of the eye and the levels of SGOT and SGPT were measured. There was a significant difference in the levels of SGOT and SGPT as indicated by the results of the One Way ANOVA test (p<0.05). The results of the Post Hoc-Tukey test for SGOT levels showed a significant difference between the control group and the 50 mg/kg BW dose group, while the 100, 200 and 400 mg/kg BW doses did not show a significant difference. The results of the Post Hoc-Tukey, s-HSD test for SGPT levels did not show a significant difference between the control group and the 50, 100, 200 and 400 mg/kg BW dose groups. Significant differences were shown by doses of 50 and 400 mg/kg BW. Giving EEKBJB for 28 days did not cause toxic effects on liver function, seen from the absence of an increase in SGOT and SGPT levels.
Pemberian Ekstrak Daun Singkong pada Burung Puyuh yang Mengalami Cekaman Panas Santoso, Koekoeh; Maria, Joanita; Ika Mayasari, Ni Luh Putu; Jumadin, La
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 1 (2024): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.73585

Abstract

Fenomena iklim tropis, ekuinoks, dan pemanasan global di Indonesia dapat menyebabkan masalah cekaman panas pada peternakan unggas termasuk puyuh. Dampaknya adalah penurunan performa dan produksi puyuh, oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mengatasi masalah heat stress. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan potensi ekstrak daun singkong untuk mengatasi cekaman panas pada puyuh dewasa anas. Penelitian dilakukan dengan menggunakan 16 ekor puyuh yang dibagi menjadi 4 kelompok, terdiri dari 4 ekor puyuh sebagai kontrol yang diberi perlakuan suhu 35 °C, dan masing-masing 4 ekor puyuh lainnya diberi perlakuan suhu 35 °C dan diberi ekstrak daun singkong dengan dosis yang berbeda-beda sebesar 5,292 mg/168g, 10,584 mg/168 g, dan 21,168 mg/168 g berat badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun singkong yang mengandung flavonoid dan klorofil terbukti dapat menurunkan kadar malondialdehida (MDA) pada puyuh yang mengalami cekaman panas. Kualitas telur juga meningkat berdasarkan parameter tinggi albumin, tinggi kuning telur, dan tebal cangkang, namun kadarnya tidak signifikan. Parameter total leukosit, rasio heterofil per limfosit, dan diferensial leukosit tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Ekstrak daun singkong juga belum terbukti mampu menurunkan total protein pada puyuh yang mengalami cekaman panas. Hasil vaksinasi ND inaktif yang dilakukan satu kali menunjukkan titer antibodi yang rendah pada semua kelompok.
Korelasi Konsentrasi Testosteron Darah terhadap Kualitas Semen Segar Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) dengan Fenotip Berbeda Magfira Magfira; Ni Wayan Kurniani Karja; R. Iis Arifiantini; Tike Sartika
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 3 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.73914

Abstract

Ayam KUB adalah ayam hasil seleksi dari Balai Penelitian Ternak Ciawi yang memiliki perbedaan fenotip seperti bentuk jengger dan warna bulu. Perbedaan fenotip berpengaruh terhadap konsentrasi testosteron sehingga memengaruhi kualitas semen segar ayam KUB. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh fenotip terhadap kualitas semen segar dan testosteron serta korelasinya. Sebanyak 20 ekor ayam KUB umur 1,5 tahun terbagi atas 4 kelompok perlakuan fenotip masing-masing 5 ekor yaitu jengger tunggal bulu penutup merah (JTBM), jenggger tunggal bulu penutup putih (JTBP), jengger pea bulu penutup merah (JPBM), dan jengger pea bulu penutup putih (JPBP). Peubah yang diamati adalah volume, warna, pH dan konsistensi, gerakkan massa, motilitas, viabilitas, abnormalitas dan konsentrasi ejakulat, konsentrasi testosteron dan panjang taji. Hasil penelitian menunjukkan pejantan dengan fenotip JPBM memiliki volume ejakulat paling tinggi dan JTBM adalah yang paling rendah (P<0.05). Pejantan berjengger tunggal memiliki pH lebih tinggi dibandingkan pejantan berjengger pea. Pejantan JTBM juga memiliki motilitas dan konsentrasi ejakulat paling rendah dibandingkan dengan fenotipe lainnya dan untuk peubah warna semen, gerakan massa, viabilitas dan abnormalitas tidak berbeda pada semua fenotip. Panjang taji kiri pejantan JTBP lebih pendek dibandingkan ketiga pejantan lainnya (P<0.05). Ukuran taji berkorelasi positif dengan konsentrasi testosteron dengan kisaran nilai r = 0.33-0.56. Konsentrasi testosteron berkorelasi postif dengan warna (r=0.76), konsentrasi ejakulat (r= 0.44), konsistensi semen (r=0.75) dan motilitas spermatozoa (r= 0.46). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pejantan JTBM memiliki kualitas semen segar kurang baik dibandingkan dengan ketiga kelompok pejantan lainnya. Ukuran taji bisa digunakan untuk memprediksi konsentrasi testosteron pada ayam jantan. 
Respon Klinis dan Fisiologis Tikus Putih (Rattus Norvegicus) yang Diberikan Ekstrak Bunga Kecubung (Datura Metel L.) sebagai Anestesi I Gusti Ngurah Sudisma; I Gede Soma; I Wayan Sudira; Ni Made Rastiti
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 3 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.74314

Abstract

Tanaman kecubung (Datura metel L.) mengandung senyawa kimia alkaloid, saponin, flavonoida, dan fenol yang berpotensi sebagai bahan anestesi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan klinis dan fisiologis tikus putih yang diberikan ekstrak bunga kecubung sebagai bahan anestesi. Sebanyak 25 ekor tikus putih jantan dengan berat 150 – 200 gram secara acak dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan. Kelompok P0 sebagai kontrol diberikan ketamine HCL dosis 80 mg/kgBB secara intramuscular pada musculus semitendinosus. Kelompok P1, P2, P3, dan P4 diberikan ekstrak bunga kecubung secara berurutan dengan dosis 100, 300, 500, 700 mg/kgBB secara oral menggunakan sonde lambung. Hasil penelitian pada respon klinis menunjukkan pada P0 - P4 tidak terdapat efek mual, muntah, urinasi, dan defekasi. Pada respon fisiologis, rata-rata suhu tubuh P0 - P4 bertahan stabil dari awal menit ke-0 sampai menit ke-120 dengan rentang suhu 36.6OC - 39.1OC, tetapi suhu tubuh menunjukkan kecendrungan terjadi penekanan suhu pada perlakuan pemberian ekstrak bunga kecubung. Rata-rata frekuensi denyut jantung pada P0 - P4 masih berada dalam batas normal dengan rentang frekuensi denyut jantung 252 x/menit - 301 x/menit. Rata-rata frekuensi nafas pada P0 - P4 menunjukkan bahwa kecendrungan terjadi penekanan frekuensi nafas pada perlakuan pemberian ekstrak bunga kecubung dengan rentang 101 x/menit – 158 x/menit. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak bunga kecubung dengan dosis 100-700 mg/kgBB tidak menimbulkan perubahan klinis dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap perubahan fisiologis. Penggunaan ekstrak bunga kecubung sebagai bahan anestesi masih tergolong aman terhadap respon klinis dan fisiologis hewan karena masih berada dalam kisaran normal.
Infestasi Ektoparasit pada Pasien Kucing yang Memiliki Masalah Kulit di Klinik Hewan Lilipoet Yogyakarta Gunawan, Lily; Indarjulianto, Soedarmanto; Yanuartono, Yanuartono; Nurcahyo, R Wisnu; Prastowo, Joko
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 2 (2024): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.75941

Abstract

Ektoparasit merupakan problem yang sering diderita kucing, termasuk di Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infestasi ektoparasit pada kucing dan jenisnya di wilayah Klinik Hewan Lilipoet Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan menggunakan 173 pasien kucing penderita dermatitis. Data yang diambil adalah umur, jenis kelamin dan diagnosis berdasarkan pemeriksaan kulit. Sampel ektoparasit diambil dari kucing dengan metode combing. Ektoparasit diidentifikasi secara mikroskopik dari sampel kulit. Hasil penelitian menunjukkan 120 dari 173 (69,3%) kucing yang diperiksa ditemukan ektoparasit. Spesies ektoparasit tersebut terdiri dari: Otodectes cynotis (30%), Ctenocephalides felis felis (25,8%), Notoedres cati (25%), Lynxacarus radovskyi (15,8%), Felicola subrostratus (2,5%), dan Rhipicephalus sanguineus (0,8%). Sebanyak 16 dari 120 (13,3%) pasien kucing menderita infestasi beberapa ektoparasit. Jumlah ektoparasit yang ditemukan pada kucing umur 1-12 bulan sebanyak 86/120 (71,6%), umur12-24 bulan sebanyak 13/120 (10,8%), dan pada umur lebih dari 24 bulan sebanyak 21/120 (17,5%). Ektoparasit ditemukan pada kucing jantan sebanyak 69/120(57,5%) dan pada betina 51/120 (42,5%). Disimpulkan bahwa prevalensi infestasi ektoparasit pada kucing penderita dermatitis di klinik Lilipoet Yogyakarta adalah 69,3%. Infestasi ektoparasit banyak ditemukan pada kucing berumur dibawah 1 tahun dan lebih sering ditemukan pada kucing jantan daripada betina.
The Prevalence of Dairy Goat’s Subclinical Mastitis Related to Udder Morphology and Farming Management Practices Khasanah, Himmatul; Yulianto, Roni; Widodo, Nur; Widianingrum, Desy Cahya; Rusdiana, Riza Yuli
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 2 (2024): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.76090

Abstract

This study aimed to analyze the prevalence of subclinical mastitis (SCM) and the correlation between CMT positive score, udder morphology and management practice in dairy goats in several regencies in East Java. The SCM identification was tested using the California Mastitis Test (CMT) method. The obtained data were analyzed qualitatively and quantitatively, and the correlation was determined using Kendall’s tau_b coefficient correlation method. The results showed the prevalence of SCM in Blitar, Lumajang, and Jember amounted to 19,35%, 0,86%, and 25%, respectively. The control management of observed dairy farms was relatively similar such as the milking frequency, feeding management, health control, and cage type. Milk production was moderately correlated with CMT (tb =-0.417) and low correlation with the udder shape (tb =1.51), side udder cross-section (tb =-0,293), teat angle of separation between teat (tb =0,204), and degree of udder separation (tb =0,128). The CMT also has low correlation with the BCS (tb =0,146), udder symmetry (tb =0,126), sided udder cross-section (tb =0,153). Then CMT also has a moderate correlation with housing type (tb =-0,380) and milking frequency (tb =0.365). In conclusion, the prevalence of SCM was relatively low to moderate and its correlation with udder morphology were low to moderate. 

Filter by Year

1995 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 3 (2025): Desember Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue