cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 796 Documents
Studi Motilitas dan Daya Hidup Spermatozoa Kambing Boer Pada Pengencer Iris-Sitrat-Fruktosa= Motility and Viability Test of Boer Goat Spermatozoa at Tris-Citrat-Fruktosa Extenders. Tatan Kostaman; I Ketut Suatama
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1907.587 KB) | DOI: 10.22146/jsv.352

Abstract

Penelitian untuk mengetahui motilitas dan daya hidup spermatozoa kambing Boer pada pengencer trissitrat-fruktosa telah dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Reproduksi, Balai Penelitian Temak, Ciawi-Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah masih terjadi penurunan kualitas Spermatozoa kambing Boer pada penyimpanan suhu ruangan, karena seperti diketahui semen kambing mudah mengalami kerusakan yang mengakibatkan penurunan kualitas semen, terutama motilitas dan daya hidup spermatozoa. Dua ekor kambing BOW jantan digunakan sebagai sumber semen. Penampungan semen dilakukan sekali dalam seminggu dengan menggunakan vagina buatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase motilitas antara ejakulat 1 dan 2 yang diamati setelah 3 jam pengenceran berbeda nyata (69 vs 67,1%; P0,05). Sementara itu, untuk spermatozoa hidup yang diamati pada 3 dan 6 jam setelah pengenceran tidak berbeda nyata (P>0,05) antara ejakulat 1 dan 2, tetapi tingkat penurunan untuk persentase motilitas dan spermatozoa hidup pada ejakulat 2 memberikan rataan tingkat penurunan yang lebih rendah dibandingkan dengan ejakulat 1 (2,1 vs 4% untuk motilitas dan 0,6 vs 1,8% untuk spermatozoa hidup). Disimpulkan bahwa pengencer Iris-sitrat-fruktosa dapat mempertahankan kualitas semen kambing Boer.
Kajian Imunohistokimia Perkembangan Bentuk Neuron Atekolaminergik Pada Area Postrema Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)= Morphological Development of Catecholaminergic Neurons in the Area Postrema of Long-tailed.. Tri Wahyu Pangestiningsih; Koeswinarning Sigit; Dondin Sajuthi; Nurhidayat .
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2980.906 KB) | DOI: 10.22146/jsv.354

Abstract

rea postrema merupakan sepasang penonjolan ke dorsal pada bagian kaudal medula oblongata yang berbatasan dengan ventrikel IV. Area ini berperan sebagai chemoreceptor trigger zone (CTZ) pada proses muntah yang juga melibatkan neuron katekolaminergik (neuron KA). Pada kemoterapi penderita kanker, fungsi AP sebagai CTZ diupayakan untuk ditekan agar tidal( ada refleks muntah pada pasien. Dalam rangka lebih memahami neuron KA tersebut, dalam penelitian ini dilakukan pengamatan perkembangan bentuk neuron KA di area postrema (AP) monyet ekor panjang (MEP) mulai fetus (F) umur 40 sampai anak (P) umur 105 hari secara imunohistokimia menggunakan antibodi terhadap enzim tirosin hidroksilase (TH). Hasil penelitian memperlihatkan neuron KA di medula oblongata belwn terlihat pada F40, dan bare dijumpai pada F55 di daerah bakal AP, bentuk bulat dengan inti besar dengan sitoplasma sedikit yang merupakan ciri perkembangan awal bentuk neuron. Prosesus sitoplasma yang pendek pada mulai ditemukan pada F85, dan neuron KA di AP berubah menjadi bipolar pada F100 yang merupakan tanda perkembangan menengah bentuk neuron. Dengan bertambahnya umur, prosesus sitoplasma neuron KA bipolar bertambah panjang yang merupakan ciri tingkat perkembangan bentuk akhir dan ditemukan dominan di AP pada P105. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa neuron KA di AP pada MEP berada dalam stadium perkembangan bentuk awal dan menengah selama masa prenatal, dan stadium perkembangan lanjut menuju ke perkembangan akhir terjadi pada masa postnatal.
aman Imunohistokimia Perkembangan Bentuk Neuron Atekolaminergik Pada Area Postrema Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)= Morphological Development of Catecholaminergic Neurons in the Area Postrema of Long-tailed .. Tri Wahyu Pangestiningsih; Koeswinarning Sigit; Dondin Sajuthi; Nurhidayat .; Douglas M. Bowden
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2980.906 KB) | DOI: 10.22146/jsv.355

Abstract

Area postrema merupakan sepasang penonjolan ke dorsal pada bagian kaudal medula oblongata yang berbatasan dengan ventrikel IV. Area ini berperan sebagai chemoreceptor trigger zone (CTZ) pada proses muntah yang juga melibatkan neuron katekolaminergik (neuron KA). Pada kemoterapi penderita kanker, fungsi AP sebagai CTZ diupayakan untuk ditekan agar tidal( ada refleks muntah pada pasien. Dalam rangka lebih memahami neuron KA tersebut, dalam penelitian ini dilakukan pengamatan perkembangan bentuk neuron KA di area postrema (AP) monyet ekor panjang (MEP) mulai fetus (F) umur 40 sampai anak (P) umur 105 hari secara imunohistokimia menggunakan antibodi terhadap enzim tirosin hidroksilase (TH). Hasil penelitian memperlihatkan neuron KA di medula oblongata belwn terlihat pada F40, dan bare dijumpai pada F55 di daerah bakal AP, bentuk bulat dengan inti besar dengan sitoplasma sedikit yang merupakan ciri perkembangan awal bentuk neuron. Prosesus sitoplasma yang pendek pada mulai ditemukan pada F85, dan neuron KA di AP berubah menjadi bipolar pada F100 yang merupakan tanda perkembangan menengah bentuk neuron. Dengan bertambahnya umur, prosesus sitoplasma neuron KA bipolar bertambah panjang yang merupakan ciri tingkat perkembangan bentuk akhir dan ditemukan dominan di AP pada P105. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa neuron KA di AP pada MEP berada dalam stadium perkembangan bentuk awal dan menengah selama masa prenatal, dan stadium perkembangan lanjut menuju ke perkembangan akhir terjadi pada masa postnatal.
Effect of Green Fluorescent Protein (GFP) on the Development of Canine Intergeneric Embryo= Pengaruh Green Fluorescent Protein (GFP) Pada Perkembangan Anjing Dari Embryo Intergeneris. Yuda Heru Fibrianto
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2326.859 KB) | DOI: 10.22146/jsv.356

Abstract

The present study investigated the effect of green fluorescent protein on the development of canine intergeneric clone embryo with bovine oocyte recipient. Cumulus oocyte complexes (COCs) were collected from slaughterhouse and matured in TCM-199 supplemented with 10% (v/v) fetal bovine serum (FBS) (Life Technologies), 0.005 U/m1 bovine FSH (Antrin®, Denka Kanagawa, Japan) and 1 pg/m1 estradiol (Sigma-Aldrich) at 39 °C in a humidified atmosphere of 5% CO2 in air and donor cell tranfected with enhanced green fluorescent protein. In this experiment GFP have no negative effect in fusion or embryo development but the expression rate were decreased in 2 cell stage and then the expression gradually decreased with progression of embryo development.
Pengaruh Penyemprotan Air Panas, Asam Asetat Dan Asam La Ktat Terhadap Perkembangan Jumlah Mikroba Pada Karkas Kambing Anwar Rosyidi; Doodi Yudhabuntara; Setyawan Budiharta
Jurnal Sain Veteriner Vol 23, No 1 (2005): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1166.824 KB) | DOI: 10.22146/jsv.357

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui sejauh mana efektivitas air panas, asam asetat dan asam laktat dalam menghambat perkembangan mikroba pada karkas kambing. Paha kambing diperoleh dari rumah pemotongan hewan Ngampilan Yogyakarta. Masing-masing kelompok diberi perlakuan sebagai berikut : kelompok I tanpa penyemprotan (kontrol), kelompok II disemprot dengan asam asetat 1,8 %, kelompok III disemprot dengan dengan asam laktat 1,5 % (v/v), kelompok IV disemprot dengan air panas 80 °C diikuti asam laktat 1,5 % (v/v) dan kelompok V disemprot dengan asam asetat 1,8 % (vlv) diikuti dengan asam laktat 1,5 % (vlv). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan jumlah total koliform pada kelompok kontrol lebih tinggi dibandingkan pada keempat kelompok perlakuan.. Perkembangan jumlah total koliform lebih tinggi pada kelompok asam laktat 1,5 %, kelompok asam asetat 1,8 % dibandingkan dengan kelompok kombinasi asam asetat 1,8 % dan asam laktat 1,5 % (P
Efektivitas Pemberian Vaksin Koksidia Melalui Air Minum Dan Pakan Dwi Priyowidodo
Jurnal Sain Veteriner Vol 23, No 1 (2005): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2134.824 KB) | DOI: 10.22146/jsv.358

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan vaksin koksidia yang diberikan melalui air minum dan semprot pakan terhadap infeksi tantangan E. tenella. Sebanyak 60 ekor anak ayam pedaging umur satu hari dipakai sebagai hewan percobaan. Ayam dibagi menjadi 3 kelompok secara acak, tiap kelompok terdiri dari 20 ekor. Pada umur 5 hari, kelompok II divaksin dengan Coccivac-D® yang diberikan melalui semprot pakan, kelompok III divaksin dengan Immucox® diberikan lewat air minumda kelompok I (kontrol) tidak divaksin. Duapuluh satu hari sesudah perlakuan, ayam dari kelompok I,II,dan III ditantang dengan 3.000 oosista E. tenella. Lima hari sesudah infeksi, 10 ekor ayam dari masing-masing kelompok dinekropsi untuk melihat derajat perlukaan sekum. Hari ke-7 sampai ke-11 setelah infeksi, tinja ayam diperiksa dengan metode McMaster untuk menghitung jumlah oosista per gram tinja. Data derajat perlukaan sekum dianalisis dengan metode Rank test, sedangkan data jumlah eliminasi oosista dianalisis dengan metode Split plot (Gill, 1978). Kesimpulan penelitian menunjukkan pemberian vaksin Coccivac-D® melalui semprot pakan lebih baik juka dibandingkan dengan pemberian Immucox® melalui air minum..
The Administration Of Mixture Vibrio Parahaemolytieus And Vibrio Alginolyticus Bacterin and Their Components to Enhance the Survival Hari Suprapto
Jurnal Sain Veteriner Vol 23, No 1 (2005): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1457.202 KB) | DOI: 10.22146/jsv.359

Abstract

The vibriosis in hatchery and farm easily recognized by the luminous the bacteria present in the water and shrimp itself. The Vibrio sp. used in this experiment were isolated from shrimp and rearing water and the LD50 of V.parahaemolyticus is 10 2'6 and V alginolyticus is 102.5 CFU/fish. The best results obtained from 10 mg/ml mixed of both V.parahaemolyticus and V alginolyticus. The protection of OMP vaccinated fishes was relatively low, the reason could be the OMP contained the low antigenic substance. The SR of fish vaccinated FKC and ICC is 65-70 percent 70-75 percent. Even though it was not proved that FKC and ICC contents more antigenic substance, the FKC and ICC have the higher protein than OMP in measurement of protein and electrophoresis.
Gambaran Darah Kucing Yang Diinfeksi Mycobacterium tuberculosis Ida Tjahajati; Widya Asmara; Bambang Hariono
Jurnal Sain Veteriner Vol 23, No 1 (2005): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6517.249 KB) | DOI: 10.22146/jsv.360

Abstract

elah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui gambaran darah kucing yang diinfeksi dengan M.tuberculosis. Penelitian menggunakan 20 ekor kucing sehat (jantan, umur 1-2 tahun, berat badan 1-2 kg) dibagi dalam 4 kelompok secara acak, masing-masing kelompok 5 ekor. Kelompok I adalah kelompok yang diinfeksi secara per oral (PO) M.tuberculosis dengan dosis 1x105 cfu, kelompok II diinfeksi secara intraperitoneal (IP), kelompok III diinfeksi secara intramuskular (IM), dan kelompok IV sebagai kelompok kontrol tidak diinfeksi. Setelah dilakukan infeksi, secara periodik 5 ml darah diambil untuk dilakukan pemeriksaan darah rutin, yaitu pada minggu ke0, 1, 2, 4, 12, dan 24 setelah infeksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran lekosit kucing yang diinfeksi M.tuberculosis pada awal infeksi mengalami lekositosis dengan neutrofilia, kemudian gambaran bergeser ke monositosis pada petengahan (minggu ke-12) sampai akhir penelitian (minggu ke-24). Iumlah eritrosit, nilai PCV, kadar Hb dan TPP masih dalam batas kisaran normal namun ada kecenderungan term menurun pada akhir penelitian.
Uji Sensitivitas Isolat Escherichia Coli Patogen pad Ayam terhadap Beberapa Jenis Antibiotik MM.Firdiana Krisnaningsih; Widya Asmara; M. Haryadi Wibowo
Jurnal Sain Veteriner Vol 23, No 1 (2005): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2823.285 KB) | DOI: 10.22146/jsv.361

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan sifat resistensi Escherichia coli yang berasal dari kasus kolibasilosis pada ayam terhadap beberapa jenis antibiotik. Bahan penelitian berupa lima isolat E. coli patogen pada ayam koleksi laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada. Kelima isolat tersebut bereaksi positif pada media congo red. Uji sensitivitas dilakukan dengan metode Bauer-Kirby terhadap ampicillin, amoxycillin, strepyomycin, doxycycline, erythromycin, lincomycin dan danofloxacin pada media Mueller Hinton Agar (MHA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100% isolat Escherichia coli resisten terhadap lincomycin dan danofloxacin, 80% terhadap ampicillin dan amoxycillin, 60% untuk streptomycin, 40% untuk doxycycline dan 20% untuk erythromycin. Sifat Multiple-drug resistance (MDR), ditemukan pada isolat I dan V terhadap ampicillin, amoxycillin, streptomycin dan doxycycline. Resistensi silang antara ampicillin dan amoxycillin ditemukan pada isolat I,111, IV dan V, antara streptomycin dan doxycycline pada isolat I dan V, antara erythromycin dan lincomycin pada isolat I.
Studi Serologis Dengan Uji Hambatan Hemaglutinasi Terhadap Angsa Surya Amanu; Oktavianus Kale Rohi
Jurnal Sain Veteriner Vol 23, No 1 (2005): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.776 KB) | DOI: 10.22146/jsv.362

Abstract

elah dilakukan penelitian uji hambatan hemaglutinasi (HH) pada sera angsa untuk mengetahui adanya reaktor terhadap Newcastle disease (ND) di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada yang bertujuan untuk memberikan informasi adanya reaktor terhadap ND pada angsa. Sebanyak 118 sampel sera angsa di daerah Istimewa Yogyakarta berasal dan Kabupaten Sleman 45 sampel, Kabupaten Kulonprogo 17 sampel, Kabupaten Bantul 28 sampel dan Kodya Yogyakarta 28 sampel, yang diuji HH dengan metode pelat mikro (Beard, 1980). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dan sebanyak 118 sampel sera angsa yang diperiksa, yang memberikan reaksi pesitif pada uji HH atau sebagai reaktor sebanyak 88 sampel (74,57 %).

Page 8 of 80 | Total Record : 796


Filter by Year

1995 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue