cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 282 Documents
MANIFESTASI KULIT AKIBAT ROKOK ELEKTRIK
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 50 No 3 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i3.342

Abstract

E-cigarettes also known as electronic nicotine delivery systems (ENDS) are device for delivering nicotine and other liquids by using heat energy from battery power using heat energy from battery power by converting liquids into aerosol. E-cigarettes were create as a safer option than conventional tobacco products, meanwhile e-cigarettes still contain toxic and carcinogenic ingredients than conventional cigarettes. E-cigarettes were created as a safer option than alternative tobacco products, although aerosols from e-cigarettes still contain more toxic and carcinogenic ingredients than conventional cigarettes. Harmful effects of using electricity have been reported on the respiratory, cardiovascular and skin systems. Skin disorders caused by e-cigarettes include contact dermatitis, burns, acne, boils, bumps, blisters and disorders of the oral mucosa
HERPES ZOSTER PADA PASIEN ARTRITIS REUMATOID YANG MENDAPAT TERAPI METOTREKSAT: SEBUAH LAPORAN KASUS
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 50 No 3 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i3.386

Abstract

Background: Herpes zoster (HZ) is an acute infection caused by varicella zoster (VZV) reactivation that manifests clinically as groupings of vesicles and eruptions on a reddish skin base, along with unilateral radicular pain that is often localized to one dermatome. Case Ilustration: A 50-year-old woman arrived complaining of uncomfortable wet bumps on her left back. The patient has received consistent care at the Internal Medicine Polyclinic for the past 7 years despite having a prior history of rheumatoid arthritis. In the left posterior thoracic area, there was evidence of a dermatological condition. Groups of vesicles filled with clear fluid were observed there, along with skin that was unilaterally distributed and erythematous, zoosteriform, and plaque-based. Diagnosed with herpes zoster in the patient. Acyclovir, gabapentin, and paracetamol were administered orally. Mupirocin 2% cream and a wet compress with NaCl solution were used as topical treatments. Rheumatoid arthritis (methotrexate and sulfasalazine) treatment was stopped during HZ treatment. Skin blemishes had improved after receiving treatment for two weeks. Conclusion: After a prior varicella assault, the latent endogenous varicella zoster virus (VZV) in ganglionic neurons reactivates to cause herpes zoster. Herpes zoster risk will grow in immune-compromised states.
DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA OCHRONOSIS EKSOGEN
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 50 No 3 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i3.416

Abstract

Exogenous ochronosis (EO) is a skin pigmentation disorder caused by the long-term use of topical skin lightening agents, especially hydroquinone. Cases of EO are rare. The etiopathogenesis of EO is still unknown. Clinical manifestations of EO are asymptomatic gray-brown or blue-black macules with a predilection for sun-exposed areas and no systemic involvement. The clinical manifestations of EO often resemble other dermal hyperpigmentation, so an adequate history and physical examination is necessary to avoid misdiagnosis. Histopathological examination is the gold standard for the diagnosis of EO. Management of EO is still a challenge in dermatology because EO is difficult to treat with variable and often unsatisfactory therapeutic results. Exogenous ochronosis management can be divided into non-pharmacological, pharmacological, laser and non-laser procedural, and combinations. Keywords: Exogenous ochronosis, EO, diagnosis, treatment
HUBUNGAN KADAR UREUM DAN KREATININ TERHADAP TINGKAT KEPARAHAN PSORIASIS VULGARIS
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 50 No 3 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i3.434

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Psoriasis vulgaris merupakan inflamasi kulit kronis residif yang diperantarai oleh sistem imun dan berhubungan dengan beberapa komorbiditas seperti aterosklerosis, penyakit kardiovaskular, gangguan fungsi ginjal, sindrom metabolik, dan diabetes melitus. Terdapat hubungan antara respon imun Th-17 pada gangguan fungsi ginjal terutama pasien dengan riwayat infeksi ginjal dengan psoriasis vulgaris. Tujuan: Mengetahui hubungan kadar ureum dan kreatinin terhadap tingkat keparahan psoriasis vulgaris. Metode: Penelitian analitik observasional dengan rancangan penelitian cross-sectional yang dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta dari bulan Maret-Mei 2022. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik incidental sampling dengan subjek penelitian diambil dari pasien psoriasis vulgaris yang berkunjung ke Poli Kulit-Kelamin sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil: Subjek penelitian mendapatkan hasil usia pasien rata-rata 46.95±15.85 tahun dengan median 46.00 (16.00- 70.00) tahun. Rerata kadar ureum dan kreatinin masing-masing adalah 20.30±7.83 dan 0.79±0.21. Kadar kreatinin memiliki hubungan yang bermakna terhadap skor PASI (r=0.53; p=0.016) dan DLQI (r=0.57; p=0.009), kadar ureum tidak memiliki hubungan yang signifikan baik dengan skor PASI maupun DLQI (r=0.114; p=0.663 dan r=0.037; p=0.876). Kesimpulan: Kadar kreatinin memiliki hubungan yang bermakna terhadap tingkat keparahan psoriasis berdasarkan skor PASI dan DLQI. Kata kunci: DLQI, kreatinin, PASI, psoriasis, ureum
RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT DAN RASIO TROMBOSIT LIMFOSIT DENGAN DERAJAT KEPARAHAN PSORIASIS TIPE PLAK
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 50 No 3 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i3.441

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Psoriasis merupakan gangguan inflamasi sistemik kronis dan rekuren yang mempengaruhi 2-3% populasi. Patogenesis psoriasis melibatkan neutrofil, limfosit, trombosit, sitokin dan kemokin. Penentuan derajat keparahan psoriasis tipe plak yang sering digunakan adalah Psoriasis Area Severity Index (PASI) memiliki kelemahan yaitu subyektivitas antar pemeriksa. Rasio neutrofil limfosit (N/L) dan rasio trombosit limfosit (T/L) adalah penanda sederhana respon inflamasi sistemik yang mudah diukur dan murah sebagai bagian dari pemeriksaan darah rutin dan umum digunakan dalam penyakit inflamasi kronis. Tujuan: mengetahui perbedaan dan hubungan antara rasio N/L dan rasio T/L dengan derajat keparahan psoriasis tipe plak berdasarkan PASI. Metode: Penelitian menggunakan rancangan potong lintang dengan subyek telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis komparatif dan korelatif digunakan untuk menilai perbedaan dan hubungan kedua rasio dengan skor PASI. Hasil: Jumlah subyek penelitian 48 orang dibagi menjadi 3 kelompok psoriasis (derajat ringan, sedang dan berat). Terdapat perbedaan antara rasio N/L dan rasio T/L dengan derajat keparahan psoriasis tipe plak (p<0,05). Terdapat hubungan antara rasio N/L dan rasio T/L dengan derajat keparahan psoriasis tipe plak berdasarkan PASI (p<0,05 dan r: 0,550, r: 0,314). Kesimpulan: terdapat perbedaan dan hubungan antara rasio N/L dan rasio T/L dengan derajat keparahan psoriasis tipe plak berdasarkan PASI. Kata Kunci: rasio neutrofil limfosit, rasio trombosit limfosit, psoriasis tipe plak, psoriasis area severity index (PASI)
GAMBARAN KLINIS KARSINOMA SEL BASAL DI POLI TUMOR DAN BEDAH KULIT RSUP DR. HASAN SADIKIN TAHUN 2014-2017 Eva Krishna Sutedja; Nurmalicha Wulandini; Wulan Mayasari
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 49 No 3 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i3.143

Abstract

Karsinoma sel basal (KSB) memiliki karakteristik pertumbuhan yang lambat, jarang metastasis, dan gambaran klinis yang beragam. Hal tersebut sering menyebabkan kesalahan interpretasi sehingga terjadi keterlambatan diagnosis yang menyebabkan destruksi pada jaringan sekitarnya. Oleh karena itu, penting untuk memahami gambaran klinis KSB sebagai pendekatan dalam deteksi dan diagnosis dini KSB. Penelitian ini menggunakan studi desain deskriptif retrospektif dengan metode total sampling, dari rekam medis pasien yang didiagnosis KSB berdasarkan gambaran klinis dan histopatologi di Poli Tumor dan Bedah Kulit, Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP Dr. Hasan Sadikin pada tahun 2014-2018. Jumlah sampel sebanyak 34 orang yang memenuhi kriteria inklusi, 50% pasien KSB berusia 40-64 tahun dan 59% adalah wanita. Sebanyak 41,2% bekerja di luar ruangan. Keluhan gatal terdapat pada 44,1% sampel, interval antara munculnya lesi dan pemberian terapi 1-5 tahun sebanyak 70,6%. Predileksi lesi di pipi sebanyak 50%, berupa lesi soliter 91,2%, memiliki bentuk tidak teratur 76,5%, lesi berbatas tegas sebanyak 94,1%, ukuran lesi 1-2 cm sebanyak 47,1%, dan morfologi lesi berupa plak hiperpigmentasi terdapat pada 44,1% sampel.
KERATOAKANTOMA : DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA Nevristia Pratama; Ketut Kwartantaya Winaya; Nandya Dwi Zella
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 49 No 3 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i3.191

Abstract

Keratoakantoma merupakan tumor kulit berasal dari folikel rambut dan dapat juga terjadi pada area tidak berambut, dengan memiliki pertumbuhan cepat dan regresi spontan. Insiden KA lebih sering terjadi pada populasi kulit putih dan cenderung lebih tinggi pada laki-laki. Etiologi terjadinya KA dikaitkan oleh beberapa faktor, faktor paparan ultraviolet merupakan faktor risiko utama terjadinya KA. Dalam mediagnosa KA didasarkan 3 prinsip, antara lain adanya manifestasi klinis khas dari tumor crateriform, pertumbuhan cepat dengan perjalanan trifasik dan pemeriksaan histopatologi. Secara garis besar KA memiliki beberapa varian klinis, yakni KA soliter dan KA multiple. Gambaran klinis dan histopatologis dari KA juga bervariasi, sesuai dengan tahapan yang terjadi yaitu tahap proliferasi, tahap berkembang sempurna, dan tahap regresi, sedangkan untuk gambaran dermoskopi dari KA ditandai dengan massa keratin tidak berstruktur berwarna putih-kekuningan di bagian tengah, dan dikelilingi oleh pembuluh darah dengan berbagai bentuk dan lingkaran putih (whitish halo). Pada sebgaian besar kasus KA terjadi regresi spontan sehingga pada beberapa kasus dapat dilakukan strategi berupa pemantauan/watchful-waiting. Keratoakantoma seringkali sulit dibedakan dengan KSS, sehingga baku emas untuk tatalaksana KA dengan bedah eksisi dan dilanjutkan untuk pemeriksaan specimen serta terdapat beberapa terapi alternatif lain yang dapat dilakukan untuk KA.
DAMPAK PRE-EXPROSURE PROPHYLAXIS ANTIRETROVIRAL ORAL TERHADAP INFEKSI MENULAR SEKSUAL Noer Kamila; Yudo Irawan; Hanny Nilasari
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 49 No 2 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i2.244

Abstract

World Health Organization menganjurkan penggunaan Pre-exposure prophylaxis (PrEP) pada pasien HIV negatif sejak tahun 2015. Terapi PrEP menggunakan obat antiretroviral (ARV) diberikan pada kelompok yang memiliki risiko tinggi dengan dosis tunggal harian atau dosis intermiten. Rekomendasi WHO penggunaan PrEP secara spesifik harus menggunakan Tenofovir tunggal atau dapat dikombinasikan dengan obat ARV lainnya. Pada beberapa penelitian efektivitas PrEP mampu menurunkan insiden kasus baru HIV hingga 92%. Terdapat potensi yang perlu diperhatikan mengenai pemberian PrEP, yaitu peningkatan perilaku seksual yang tidak aman, peningkatan insiden infeksi menular seksual (IMS), potensi resistensi virus, dan kecenderungan untuk melakukan hubungan aktifitas seksual berisiko lebih sering. Hal tersebut ditunjang oleh beberapa studi yang melaporkan peningkatan insiden IMS setelah era PrEP pada kelompok berisiko dan penurunan penggunaan kondom pada kelompok PrEP. Peningkatan kasus terjadi hampir di seluruh penyakit IMS yang disebabkan oleh bakteri sedangkan untuk penyakit IMS yang disebabkan oleh virus relatif menetap. Pemberian PrEP harus disertai dengan konseling dan pemeriksaan kesehatan berkala khususnya terkait infeksi menular seksual. Tinjauan pustaka ini disusun untuk memahami dampak pemberian PrEP terhadap angka kejadian IMS. Kata kunci: IMS, perilaku seksual, Preexposure prophylaxis (PrEP)
MANIFESTASI KULIT PADA INFEKSI VIRUS NEW EMERGING DAN RE-EMERGING DI INDONESIA Mufqi Handaru Priyanto; Triana Agustin; Eliza Miranda; Sandra Widaty; Sri Linuwih Menaldi
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 3 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i3.247

Abstract

Virus merupakan patogen infeksius yang dapat menyebabkan berbagai penyakit life-threatening, dan memiliki kemampuan untuk berevolusi seiring dengan evolusi manusia sebagai pejamu. Virus new-emerging, memiliki patogenitas yang lebih tinggi karena belum terbentuk imunitas alamiah pada pejamu. Selain itu, berbagai virus re-emergingjuga menjadi ancaman tersendiri karena kemampuannya yang tinggi untuk berevolusi, sehingga keberadaan virus emergingini menyebabkan outbreak, epidemi, dan pandemik global. Indonesia dengan letak geografis yang strategis dan habitat fauna yang beragam, berpotensi besar bagi transmisi zoonosis dan tempat berkembang yang ideal bagi vektor pada penyakit virus. Beberapa infeksi virus new emergingcontohnya virus swine fludan SARS-CoV-2, serta virus re-emergingmisalnya virus chikungunya dan measles yang dilaporkan di Indonesia, tidak hanya memberikan gejala klinis yang biasa, namun dapat disertai dengan manifestasi pada kulit. Beberapa manifestasi pada kulit tersebut juga dapat menjadi penanda khas terhadap jenis inveksi virus yang berperan sebagai patogen. Identifikasi terhadap lesi kulit pada penyakit-penyakit akibat infeksi virus penting untuk dilakukan, dan memiliki peran untuk mengarahkan pada kemungkinan diagnosis dan tata laksana yang tepat.
PIODERMA FASIALE: DERMATOSIS AKIBAT INFEKSI ATAU AKIBAT ETIOLOGI LAIN? SUATU KASUS JARANG Priyanto, Mufqi Handaru; Miranda, Eliza; Sirait, Sondang Pandjaitan; Menaldi, Sri Linuwih SW
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 1 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i1.261

Abstract

Pioderma fasiale merupakan kondisi kelainan kulit yang jarang terjadi. Kelainan ini secara klasik ditandai dengan munculnya erupsi inflamatori berupa papul, pustul, nodul, bahkan kista pada wajah, terutama mengenai perempuan usia 15-46 tahun. Kondisi tersebut saat ini disebut sebagai rosasea fulminan, suatu varian rosasea yang berat dengan etiologi yang belum diketahui jelas sampai sekarang. Diduga terdapat hubungan antara pioderma fasiale dengan faktor imunologi, hormonal, dan vaskular. Dilaporkan satu kasus yang sepengetahuan penulis belum pernah dilaporkan di Indonesia. Perempuan usia 15 tahun dalam terapi lupus eritematosus sistemik, datang dengan erupsi pustul multipel di atas plak eritematosa disertai beberapa telangiektasis pada wajah. Kondisi ini awalnya dipikirkan sebagai suatu pioderma yang membaik dengan antibiotik sistemik  amoksisilin/asam klavulanat, namun mengalami rekurensi. Kultur dari pustul tidak didapatkan pertumbuhan isolat bakteri, dan biopsi jaringan menunjukkan sebukan sel polimorfonuklear di sekitar pembuluh darah, jaringan interstitial, dan folikel rambut. Pasien kemudian diterapi dengan kombinasi asam retinoat dan eritromisin topikal yang memberikan respons sangat baik dalam 3 minggu sejak dimulainya terapi.