cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 282 Documents
PERAN SUPLEMENTASI VITAMIN D PADA TATA LAKSANA SARKOIDOSIS KUTIS Mutiara Ramadhiani; Yudo Irawan; Shannaz Nadia Yusharyahya; Lili Legiawati
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 1 (2023): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i4.311

Abstract

Sarkoidosis merupakan kelainan inflamasi multisistem yang ditandai dengan terbentuknya granuloma dan terjadi pada berbagai organ, terutama paru dan kulit. Granuloma berisi sel imun berupa makrofag yang juga berperan dalam metabolisme vitamin D. Makrofag pada granuloma sarkoidosis terbukti mampu memproduksi 1,25-dihidroksi vitamin D (kalsitriol) di luar ginjal yang berasal dari prekusor 25-hidroksi vitamin D (calcifediol). Selain itu, metabolisme 1,25-dihidroksi vitamin D di makrofag tidak memiliki mekanisme umpan balik yang efektif dalam menjaga keseimbangan kadar vitamin D di tubuh. Penurunan ini dapat mengganggu keseimbangan kadar kalsium pada pasien sarkoidosis. Pemberian suplementasi vitamin D dianggap sebagai terapi adjuvan dalam tata laksana sarkoidosis, namun diketahui dapat menyebabkan hiperkalsemia. Perubahan kadar vitamin D pada sarkoidosis tidak selalu menjadi indikasi pemberian suplementasi vitamin D, diperlukan pemeriksaan laboratorium yang tepat sebelum memberikan suplementasi vitamin D guna mengurangi risiko terjadinya hiperkalsemia pada sarkoidosis. Pemberian suplementasi vitamin D dalam dosis rendah diperbolekan bagi pasien sarkoidosis yang tidak disertai kondisi hiperkalsemia, namun perlu dilakukan pemeriksaan kadar vitamin D dan kalsium secara rutin.
TERAPI PSORIASIS DI MASA PANDEMI COVID-19 Siti Efrida Fiqnasyani; Arie Kusumawardani
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 2 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i2.315

Abstract

Psoriasis is a chronic residive inflammatory skin disease caused by an autoimmune process. The worldwide prevalence of psoriasis ranges from 2-3% with the prevalence in Asia tends to be low, which is less than 0.5%. Psoriasis consists of erythematous scaly plaques and occurs most commonly on the elbows, knees, scalp, and lower back. Because of the reported frequent recurrences, psoriasis requires maintenance therapy in the form of systemic therapy such as retinoids, methotrexate, alefacept, and efalizumab. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) is a respiratory infection caused by severe acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2) and is highly contagious. The COVID-19 pandemic has a negative impact on psoriasis management and healthcare delivery. Infection of COVID-19 and its related medications can also affect the clinical severity and exacerbation in patient with psoriasis. Inadequate management of COVID-19 can trigger a cytokine storm and cause acute respiratory distress syndrome (ARDS), sepsis, and other complications. COVID-19 patients who experience a cytokine storm with elevated IL-6 and IL-17 may potentially experience psoriasis exacerbations. Biological therapy for psoriasis during pandemic should be carefully considered according to the individual patient’s condition.
HUBUNGAN MELASMA DENGAN WARNA KULIT, PORI, DAN KERUT Irma Bernadette Sihotang , SpKK(K); Yusnita Rahman; Roro Inge Ade Krisanti; Wismandari Wisnu
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 49 No 2 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i2.332

Abstract

Melasma merupakan kelainan hiperpigmentasi didapat, umumnya terdapat pada wajah. Manifestasi klinis dari melasma dapat dinilai menggunakan Modified Melasma Area and Severity Index (mMASI). Penentuan lesi melasma juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat ukur Janus II facial analysis system. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara mMASI dengan warna kulit, pori, dan kerut pada wajah dengan menggunakan Janus II facial analysis system. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain potong lintang pada subjek berusia 20-50 tahun, dengan lesi melasma pada daerah wajah. Pengukuran derajat keparahan menggunakan skor mMASI dan Janus II facial analysis system. Hubungan antara melasma berdasarkan mMASI dengan warna kulit, pori, dan kerut wajah dinilai dengan korelasi bivariat. Pada penelitian ini, mMASI memiliki korelasi yang lemah terhadap pori (r=0,377) dan kerut (r=0,323) dan keduanya signifikan secara statistik (p=0,008 dan p=0,025 secara berurutan). mMASI memiliki korelasi yang sangat lemah terhadap warna kulit dan tidak signifikan secara statistik (r=0,045, p=0,761) Penilaian melasma dengan skor mMASI memiliki korelasi bermakna terhadap pori dan kerut. Walaupun korelasi lemah, namun hal ini menunjukkan signifikan secara statistik
PENDEKATAN DIAGNOSTIK LUPUS VULGARIS PADA RUMAH SAKITPERIFER Felicia Emiliana Hoshea; Evangelina Lumban Gaol
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 49 No 2 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i2.333

Abstract

Indonesia termasuk dalam lima negara dengan insiden kasus tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia. Sebesar 1-2% dari kasus TB merupakan TB kutis. Lupus vulgaris (LV) merupakan salah satu bentuk infeksi TB kutis pausibasiler yang bersifat kronis dan progresif. Gambaran klinis LV dapat menyerupai berbagai kelainan kulit lainnya, seperti lupus eritematosus diskoid dan sarkoidosis. Pada laporan kasus ini, seorang perempuan, 59 tahun, mengalami keluhan bercak kemerahan yang tidak nyeri pada wajah sejak 6 bulan sebelum datang ke rumah sakit. Pasien memiliki riwayat TB paru dan telah menyelesaikan pengobatan tiga bulan sebelum munculnya bercak. Pada pemeriksaan, ditemukan lesi plak atrofik eritematosa berbatas tegas yang dikelilingi nodulus eritema multipel. Pemeriksaan histopatologis mendukung diagnosis LV. Terapi dengan obat anti tuberkulosis (OAT) menghasilkan perbaikan pada lesi. Mengingat LV memiliki kemiripan dengan berbagai entitas penyakit lainnya, diagnosis dini yang cermat pada pasien diperlukan agar pengobatan yang adekuat dapat segera terlaksana. Pemeriksaan histopatologis merupakan pemeriksaan yang relatif mudah dilakukan pada area perifer, dan sangat berperan dalam diagnosis TB kutis.
KOMORBIDITAS PADA AKNE Andira Hardjodipuro Hardjodipuro; Rinadewi Astriningrum; Irma Bernadette; Lili Legiawati; Sandra Widaty
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 49 No 2 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i2.334

Abstract

Akne vulgaris (AV) merupakan salah satu penyakit kulit yang paling sering ditemui, terutama pada remaja dan dewasa muda. Patogenesis terjadinya AV setidaknya diperankan oleh empat faktor penting, yaitu hiperproliferasi lapisan epidermis pada folikel, peningkatan produksi sebum, proses peradangan, dan kolonisasi Cutibacterium acnes. Proses tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor genetik, hormonal, psikologis, gaya hidup, dan lingkungan. Lesi AV bersifat polimorfik dan memiliki derajat keparahan yang beragam. Lesi tersebut diketahui memberikan dampak terhadap kualitas hidup penderitanya. Berbagai studi terkini melaporkan bahwa terdapat berbagai komorbiditas yang dapat memberikan beban tambahan atau memperburuk kondisi AV. Komorbiditas didefinisikan sebagai penyakit yang terjadi secara simultan. Berbeda dengan sindrom yang memiliki arti sekumpulan gejala yang terjadi serentak atau sekumpulan tanda yang menandakan suatu penyakit tertentu. Komorbiditas akne yang telah banyak diinvestigasi antara lain resistensi insulin, hipovitaminosis D, 1 hipervitaminosis B12, gangguan gastrointestinal, gangguan psikologis, disfungsi kelenjar tiroid, dislipidemia, defisiensi seng, dan hipovitaminosis A dan E.
CHRONIC BULLOUS DISEASE OF CHILDHOOD: TINJAUAN KLINIS, HISTOPATOLOGI, DAN DIRECT IMMUNOFLOURESCENCE PADA PENEGAKAN DIAGNOSIS Nita Damayanti Sulistianingrum; Yulia Eka Irmawati; Sunardi Radiono; Yohanes Widodo; Ery Kus Dwianingsih
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 49 No 3 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i3.335

Abstract

Chronic bullous disease of childhood (CBDC) adalah penyakit autoimun bulosa yang jarang, non herediter, dan biasa muncul pada dekade pertama kehidupan. Gambaran klinis berupa bula tegang berisi cairan jernih atau hemoragik yang membentuk cluster of jewels, rosette atau string of pearls. Fitur histopatologi berupa celah subepidermal dengan neutrofil atau eosinofil di sepanjang membran basalis. Pemeriksaan direct immunofluoroscence (DIF) didapatkan deposisi linear homogen immunoglobulin (Ig) A pada area membran basalis. Deposit tambahan imunoreaktan lain, tersering IgG dan bisa juga komplemen ketiga (C3), juga ditemukan pada sebagian kecil pasien CBDC. Tujuan penulisan laporan ini adalah meningkatkan pemahaman klinisi tentang penegakan diagnosis CBDC secara klinis serta variasi temuan histopatologi dan DIF. Seorang anak perempuan usia 4 tahun 9 bulan mengalami lepuh pada kulit disertai rasa gatal, namun tanpa keluhan sistemik sejak 2 bulan lalu. Status dermatovenereologis tampak bula dinding tegang multipel berkelompok dengan pola rosette. Pemeriksaan histopatologi tampak celah subepidermal dengan sedikit sebukan 1 sel polimorfonuklear. Pemeriksaan DIF pada kulit peri-lesi terdapat deposisi IgG, IgA dan C3 pada membran basalis dengan pola linier. Diagnosis CBDC ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan histopatologi berupa gambaran celah subepidermal serta imunopatologi DIF berupa deposisi linier IgG, IgA dan C3 pada membran basalis.
MALFORMASI VENA VERUKOSA: PERKEMBANGAN DIAGNOSIS DAN TATA LAKSANA Dina Evyana; Larisa Paramitha Wibawa; Yudo Irawan
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 49 No 2 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i2.336

Abstract

Verrucous venous malformation (VVM), formerly known as verrucous hemangioma, is a rare, congenital, non-hereditary vascular malformation. The initial clinical manifestations of VVM include bluish patches that become erythematous to purplish, then enlarge slowly to become verrucous and hyperkeratotic papules, plaques, or nodules. Its etiopathogenesis remain unknown. It used to be one of unclassified vascular anomalies due to its clinical feature consistent with malformations, but shows positive results on immunohistochemical for tumors. The identification of somatic mutations in the mitogen-activated protein kinase 3 (MAP3K3) gene has classified it into venous malformation group. Clinically this lesion often resembles other diseases that may lead to misdiagnosis. Investigations such as dermoscopy, radiology, histopathology, and immunohistochemical are continually updated as new cases are found. Superficial ablative procedures often result in recurrence of the lesions. There is potential for targeted therapy using sirolimus but surgical excision remain preferred choice. Early diagnosis and prompt treatment are important due to the risk of recurrence.
PIODERMA GANGRENOSUM MULTIPEL DAN BERULANG Alida Widiawaty; Farah Asyuri Yasmin; Ilhami Romus
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 49 No 2 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i2.337

Abstract

Pyoderma gangrenosum is a rare, non-infectious inflammatory skin disease. Diagnosis and treatment are challenging since there are no specific diagnostic criteria or gold standard therapy. The case of a 73 years old man, consulted by surgery department with painful and rapidly progressive necrotic ulcer on his left lower limb and right arm. The initial diagnosis was bacterial ulcer, he underwent debridement and received antibiotics. In the few days, his wound had worsened with enhanced in size and extremely painful. Histological examination showed a dense dermal infiltrate of neutrophil (predominant), lymphocyte, and plasma cell; conformable to pyoderma gangrenosum. Injection of methylprednisolone 31.25 mg / day and mometasone furoate cream 0.1% was given. Clinical improvement was noted in 2 weeks after therapy. Two years later, he developed typical necrotic ulcer on right limb. Pyoderma gangrenosum must be considered in any patient with painful and rapidly progressive ulcer that do not respond to broad-spectrum antibiotics. The histological findings can rule out the other causes of cutaneous ulcer. Suppression of inflammatory process is the main goal in therapy. The delay in identify, inappropriate treatment, and recurrence of the disease remain an issue.
PERKEMBANGAN TERKINI MANIFESTASI KLINIS FRAMBUSIA Natasha, Joanne; Menaldi, Sri Linuwih SW; Irawan, Yudo; Novianto, Endi
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 2 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i2.338

Abstract

Yaws, a neglected tropical disease, is still become the health problem in several countries. World Health Organization has proposed 2030 goals for yaws eradication after the previous target has not been achieved. Indonesia is still one of the largest contributors to yaws cases in Southeast Asia. The variety of lesions and the development of atypical clinical features make the yaws diagnose as a challenge. WHO guideline is used as a reference to determine the clinical manifestations, divided into early stage (infectious) lesions to advanced (non-infectious) yaws lesions. Yaws clinical features should be mastered by health workers in Indonesia, considering that the establishment of suspected cases begin with a clinical examination then confirmed by serological test. Several recent clinical surveillance had not reported early-stage lesions as the most common clinical finding, but rather had scars which was previously removed from the modified WHO guidelines. Missed diagnosis causes continually transmission.
KEGAGALAN TERAPI PADA KUSTA TIPE LEPROMATOSA DAN FAKTOR YANG MEMENGARUHINYA: SEBUAH LAPORAN KA Joanne Natasha; Sri Linuwih Menaldi; Melani Marissa; Rizka Farah Hilma
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 49 No 2 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i2.339

Abstract

Children is a group that is nine times more likely to contract leprosy. The finding of new cases of leprosy in children is a strong indicator that indicates the disease transmission is still ongoing. World Health Organization (WHO) in 2019 reported 14,981 out of 202,185 (7.4%) new cases of children. Cases of resistance to multidrug therapy (MDT) can be primary or secondary. It is important to detect drug resistance earlier considering children’s quality of life would be affected by leprosy complication. A 14 years old girl from Lebak Regency, Rangkasbitung, Banten was diagnosed as lepromatous type (LL) leprosy and a second grade disability on the 5th finger of her left hand. Unimproved clinical and increasing the morphological index (IM) on the 9th month of treatment from 0.16% to 1%, leading the patient experience the drug resistance. The polymerase chain reaction (PCR) examination did not show any mutation in the RpoB gene. Inadequate and irregular MDT consumption have the potential to cause secondary resistance and the risk of becoming primary resistance later. It is not easy to determine drug resistance in endemic areas. Morphological index monitoring should be closely watched before treatment is complete thus the modified therapy can be given earlier.