cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
flourishing.journal@um.ac.id
Phone
+62341-552115
Journal Mail Official
flourishing.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jln. Semarang 5 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Flourishing Journal
ISSN : -     EISSN : 27979865     DOI : -
Core Subject : Social,
Flourishing Journal is an open-access and peer-reviewed journal dedicated to publishing research articles in the field of psychology. Flourishing Journal accepts research articles that have the potential to make a significant contribution to the exploration and development of psychology and behavioral sciences. Articles submitted to this journal must display a well-thought-out study design, appropriate data analysis, and interpretation.
Articles 302 Documents
Pengembangan Aktualisasi Diri: Kajian Pustaka tentang Faktor Penghambat dan Strategi Pendukung Fahmida Azzahra; Nur Amin Barokah Asfari
Flourishing Journal Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i22024p84-92

Abstract

According to Maslow, every person has five basic needs, one of which is the need for self-actualization, which occupies the highest position in the level of needs. This article aims to determine the importance of self-actualization and the factors that influence self-actualization through a literature review method. The literature was selected based on research articles published in journals over the last five years, which were then analyzed based on aspects of the five levels of human needs according to Abraham Maslow. The analysis results show that the driving factors for self-actualization are motivation, failure, belief or mindset, courage, social relationships, and self-acceptance. There are two inhibiting factors, namely internal factors, which include not knowing one's potential, feelings of doubt and fear, and looking too simply at life, while external factors include community culture, environmental factors, and bullying. Self-actualization can be achieved through strategies such as knowing yourself, building self-confidence and self-compassion, building a growth mindset, maintaining mental health (psychological well-being), being oriented toward others (client-centered), as well as carrying out various positive activities. AbstrakMenurut Maslow, setiap orang memiliki lima kebutuhan dasar, Salah satunya kebutuhan aktualisasi diri, yang menduduki posisi tertinggi dalam tingkatan kebutuhan. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya aktualisasi diri beserta faktor-faktor yang memengaruhi aktualisasi diri melalui metode literature review. Pustaka dipilih berdasarkan artikel penelitian yang diterbitkan pada jurnal selama lima tahun terakhir, yang kemudian dianalisis berdasarkan aspek lima tingkat kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor pendorong aktualisasi diri adalah motivasi, kegagalan, keyakinan atau mindset, keberanian, hubungan sosial, dan penerimaan diri. Faktor penghambatnya terdapat dua yaitu faktor internal, yang meliputi ketidak-tahuan akan potensi yang dimilikinya, perasaan ragu dan takut, serta terlalu memandang sederhana kehidupan, sedangkan faktor eksternal meliputi budaya masyarakat, faktor lingkungan, dan bullying. Aktualisasi diri dapat dicapai melalui strategi seperti mengenali diri sendiri, membangun kepercayaan diri, mencintai diri (self-compassion), membangun pola pikir yang berkembang (growth mindset), menjaga kesehatan mental (psychological well-being), berorientasi pada orang lain (client centered), serta melakukan berbagai kegiatan positif.
Pengaruh Pola Asuh terhadap Kematangan Emosi Remaja Hayus, Zuhaimi Santari; Iswinarti
Flourishing Journal Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i42024p163-169

Abstract

Emotional maturity is the tendency to understand and deal with emotions. Emotional maturity determines an individual's ability to deal with complex situations. Emotional changes are often seen in the teenage phase. Adolescence is a transition period from childhood to independent adulthood characterized by physical, psychological, social, and emotional changes. Healthy changes can only be achieved if parents choose the right parenting style to raise their children. The mental construct that shows the standard approach in the treatment chosen by parents in raising children is the parenting style. Adolescents develop and become emotionally stable when parents communicate respectfully and pay attention before reacting, provide consistent, realistic rules and expectations, and offer opportunities that encourage independence. This article explores the types of parenting styles parents use and their influence on development in the adolescent phase. The results of the literature review show that there is a significant correlation between emotional maturity and parenting style. Parenting patterns and family environment also help teenagers become more resilient in facing challenges. AbstrakKematangan emosional adalah kecenderungan untuk memahami dan mengatasi emosi. Tingkat kematangan emosional menentukan kemampuan individu untuk menghadapi situasi kompleks. Perubahan emosional sering terlihat pada fase remaja. Remaja adalah periode transisi dari masa kanak-kanak menjadi dewasa mandiri ditandai dengan perubahan fisik, psikologis, sosial, dan emosional. Perubahan yang sehat hanya dapat dicapai jika orang tua memilih gaya pengasuhan yang tepat untuk mengasuh anak-anak mereka. Konstruksi mental yang menunjukkan pendekatan standar berupa perlakuan yang dipilih orang tua dalam mengasuh anak disebut gaya pengasuhan. Remaja berkembang dan menjadi stabil secara emosional ketika orang tua berkomunikasi dengan penuh hormat dan memberikan perhatian sebelum bereaksi, memberikan aturan dan harapan yang konsisten, realistis dan menawarkan kesempatan yang mendorong kemandirian. Artikel ini mengeksplorasi jenis gaya pengasuhan yang digunakan orang tua dan pengaruhnya terhadap perkembangan pada fase remaja. Hasil tinjauan literatur menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara kematangan emosi dan gaya pengasuhan. Pola asuh dan lingkungan keluarga juga membantu remaja menjadi lebih tangguh dalam menghadapi tantangan.
Literature Review: Eksplorasi Perbedaan Ideologi Peran Gender di Berbagai Lingkup Kehidupan dalam Perspektif Lintas Budaya Safira Calfina Izzumi; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i32024p93-102

Abstract

Gender adalah ekspektasi peran sosial terbentuk akibat pengalaman dan budaya yang berkembang. Ekspektasi peran gender sangat beragam sesuai dengan budaya yang berkembang di wilayah setempat. Perilaku gender ini tidak terlepas dari konteks sosiokultural, yakni menyesuaikan dengan tempat individu tinggal dan berkembang. Tujuan studi literatur ini untuk mengetahui adanya perbedaan ideologi peran gender dari perspektif lintas budaya. Temuan dari studi literatur ini dapat diimplikasikan dalam manfaat praktis, kebijakan, dan penelitian selanjutnya. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah studi literatur melalui database online journal yaitu Google Scholar. Perbedaan ideologi peran gender terlibat dalam berbagai aspek seperti niat kewirausahaan, ekonomi, pendidikan, aktivitas agrikultural, self-esteem, dan aktivitas yang dilakukan saat waktu luang. Peran gender dapat kaku dan fleksibel tergantung keadaan. Norma terhadap gender seringkali berbeda dalam lintas generasi, bidang ilmu dalam perkuliahan, kelompok etnik dan kultural, dan wilayah geografis. Di berbagai negara, perbedaan gender akan tetap melekat pada masyarakat akibat keyakinan mengenai peran gender yang sudah tertanam. Namun di sisi lain, perkembangan kesetaraan gender mulai terlihat dengan berkurangnya dominasi laki-laki serta perempuan yang semakin menunjukkan eksistensinya. AbstrakGender is a social role expectations are formed due to experience and developing culture. Gender role expectations vary greatly according to the culture that develops in the local area. Gender behavior cannot be separated from the sociocultural context, namely adapting to where the individual lives and develops. The method used in this article is a literature study through an online journal database, namely Google Scholar. This literature study aims to determine differences in gender role ideology from a cross-cultural perspective. The findings from this literature study can have implications for practical benefits, policies, and further research. Differences in gender role ideologies involve various aspects such as entrepreneurial intentions, economics, education, agricultural activities, self-esteem, and activities carried out in free time. Gender roles can be rigid and flexible depending on circumstances. Norms regarding gender often differ across generations, fields of study, ethnic and cultural groups, and geographic regions. In various countries, gender differences will remain embedded in society due to ingrained beliefs about gender roles. On the other hand, developments in gender equality are starting to be seen with the reduction of male dominance and women increasingly showing their existence.
My Idol My Savior: Kajian Literatur Kesepian dan Celebrity Worship pada Remaja penggemar K-Pop Shahnaz Sarah Darmawan; Rakhmaditya Dewi Noorizki
Flourishing Journal Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i32024p103-110

Abstract

The growing and widespread Korean culture has positive and negative effects on its followers. Korean pop music, also known as K-pop, is a popular Korean product among many generations, particularly teenagers. Teenage K-Pop fans admire K-Pop celebrities as an escape from loneliness. This admiration, however, can become excessive, leading to celebrity worship. The goal of this study is to delve deeper into the role of loneliness in adolescent K-Pop fans' celebrity worship. The method used in this research is a literature review of studies related to celebrity worship behavior and loneliness in adolescents, which are collected through scientific literature such as articles and other references. Data from previous studies will be combined, selected, sorted, and compared to the collected data. The findings show that loneliness and celebrity worship have a relationship between loneliness and celebrity worship in adolescents, particularly teenage K-Pop fans. Adolescent mental health can suffer as a result of excessive celebrity worship. AbstrakBudaya Korea yang semakin berkembang dan tersebar luas membawa berbagai dampak positif dan negatif bagi para penggemarnya. Musik pop korea atau K-Pop merupakan salah satu produk Korea yang saat ini digemari berbagai generasi, terutama remaja. Remaja penggemar K-Pop mengagumi selebriti K-Pop sebagai pelarian dari rasa kesepian. Namun, rasa kagum tersebut cenderung berlebihan hingga menimbulkan celebrity worship. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengeksplorasi lebih dalam peran kesepian terhadap celebrity worship pada remaja penggemar K- Pop. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan meninjau studi-studi yang berkaitan dengan perilaku celebrity worship dan kesepian pada remaja, yang dikumpulkan melalui literatur ilmiah seperti artikel dan referensi lainnya. Data yang telah didapatkan akan dianalisis dengan penggabungan, pemilihan, pemilahan, dan perbandingan data hasil penelitian terdahulu. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kesepian dan celebrity worship pada remaja terlebih remaja penggemar K-Pop. Tingkat celebrity worship pada level tinggi dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental remaja.
Gambaran Job crafting pada Mahasiswa yang Memiliki Peran Ganda Madinatul I. Hidayah; Marco Kemalleka; Salsabila A. P. Nastiti; Dewi Fatmasari Edy
Flourishing Journal Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i32024p127-139

Abstract

College students as individuals who are in the early adulthood phase, have a lot of desire to explore themselves through a series of learning processes in lectures and also organizational activities. Student involvement in organizational activities means students have multiple roles. Students playing multiple roles is a phenomenon that is most often encountered in the campus environment. In living life as a student and organizer, of course there are many challenges and work that must be faced and resolved. Sometimes this dual role can also have various impacts on students. Therefore, by looking at the roles and responsibilities of each role, the researcher wants to reveal in descriptive form a picture of job crafting among students with multiple roles. Data collection method using semi-structured interviews. The criteria for interviewees are students who join organizations as a second role. This research involved three sources to be interviewed. The analysis technique used uses thematic analysis techniques to identify themes in the data. The result is that students have 4 aspects of job crafting, namely: increasing structural job resources, increasing challenging job demands, increasing social job resources, decreasing hindering job demands. Each aspect has a more detailed sub-theme. AbstrakMahasiswa sebagai individu yang berada pada tahap fase dewasa awal, memiliki banyak keinginan untuk mengeksplorasi diri melalui serangkaian proses pembelajaran yang ada di perkuliahan dan juga kegiatan organisasi. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan organisasi membuat mahasiswa memiliki peran ganda. Mahasiswa berperan ganda merupakan fenomena yang paling sering dijumpai dalam lingkungan kampus. Dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa dan organisator tentunya banyak tantangan dan pekerjaan yang harus dihadapi dan diselesaikan. Terkadang peran ganda ini juga dapat menimbulkan berbagai dampak pada mahasiswa. Oleh karena itu dengan melihat peran dan tanggung jawabnya masing-masing peran, peneliti ingin mengungkap dalam bentuk deskriptif gambaran job crafting pada mahasiswa berperan ganda. Metode pengambilan data dengan wawancara semi terstruktur. Kriteria narasumber adalah mahasiswa yang mengikuti organisasi sebagai peran kedua. Penelitian ini melibatkan tiga narasumber untuk diwawancarai. Teknik analisis yang digunakan menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi tema dalam data. Hasilnya adalah mahasiswa memiliki 4 aspek dalam job crafting, yaitu: increasing structural job resources, increasing challenging job demands, increasing social job resources, decreasing hindering job demands. Setiap aspek tersebut memiliki sub tema yang lebih merinci.
Hubungan Antara Self Image dengan Perilaku Konsumtif pada Mahasiswa Perantau Norhidayah; Aryudho Widyatno
Flourishing Journal Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i42024p170-182

Abstract

This research aims to determine the relationship between self-image and consumer behavior among migrant students who are studying in the city of Malang. The research approach used is a quantitative approach with product-moment correlation analysis. The instrument in this study used a self-image scale based on Brown's theory with 27 items, while to measure consumer behavior, an instrument based on Lina & Rosyid was prepared with 24 items. The subjects in this study used a purposive sampling technique with 96 students. The results of the research show that there is a negative relationship between self-image and consumer behavior among South Kalimantan students. The correlation coefficient value obtained was -0.661 with a significance of 0.0001 (sig < 0.05) so there was a negative relationship between self-image and consumer behavior among South Kalimantan students in the city of Malang with the correlation level in the strong category. This shows that the higher the self-image, the lower the consumer behavior. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self image dengan perilaku konsumtif pada mahasiswa perantau yang sedang menempuh pendidikan di kota malang. Adapun pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis correlation product moment. Instrumen pada penelitian ini menggunakan skala self image yang disusun berdasarkan teori Brown dengan jumlah 27 item, sedangkan untuk mengukur perilaku konsumtif disusun instrumen yang didasarkan pada Lina & Rosyid dengan jumlah 24 item. Subjek dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah 96 mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan dengan arah negatif antara self image dengan perilaku konsumtif pada mahasiswa Kalimantan Selatan. Nilai koefisien korelasi yang didapatkan sebesar -0,661 dengan signifikansi 0,0001 (sig < 0,05), sehingga terdapat hubungan dengan arah negatif antara self image dengan perilaku konsumtif pada mahasiswa Kalimantan Selatan di kota Malang dengan tingkat korelasi termasuk kategori kuat. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self image maka semakin rendah perilaku konsumtif.
Dampak Video Pendek Terhadap Perkembangan Kognitif dan Bahasa pada Masa Early Childhood Andini Eka Putri; Fraditya Lexcy Aurilio; Muhammad Sifa Alayubi; Raissa Dwifandra Putri
Flourishing Journal Vol. 4 No. 5 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i52024p232-244

Abstract

Short videos are increasingly popular throughout the world because they can be accessed easily and consumed by various groups, one of which is young children. Early childhood is the developmental period from 0 to 6 years old, which is the golden age for cognitive and language growth. The aim of this research is to determine the impact of short videos on the cognitive and language development of early childhood. This research uses a qualitative approach with a literature review method, by describing the positive and negative impacts of short videos. The results found that the positive impact of short videos on children's cognitive development is that children can develop their creativity, train their memory, develop their curiosity, increase attention and concentration, improve their writing skills, process words, and for language development children will acquire new vocabulary from short content. the video. The negative impact of short videos on children's cognitive development is that children's brain health will be disrupted due to negative viewing in the form of pornography and violence. Meanwhile, the negative impact on language development can result in children acquiring new, negative vocabulary. AbstrakVideo pendek semakin populer diseluruh dunia karena dapat diakses dengan mudah dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan, salah satunya merupakan anak usia dini. Anak usia dini adalah masa perkembangan dari usia 0 hingga 6 tahun, yang mana merupakan masa keemasan bagi pertumbuhan kognitif dan bahasa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dampak dari video pendek terhadap perkembangan kognitif dan bahasa anak usia dini. Pada penelitian ini menggunakkan pendekatan kualitatif dengan metode literatur review, dengan mendeskripsikan dampak positif dan negatif dari video pendek. Hasil yang ditemukan bahwa dampak positif dari video pendek terhadap perkembangan kognitif anak yaitu anak bisa mengembangkan kreativitasnya, melatih daya ingat, mengembangkan keingintahuannya, meningkatkan perhatian dan konsentrasi, meningkatkan kemampuan menulis, mengolah kata, dan untuk perkembangan bahasa anak akan memperoleh kosakata baru dari konten short video tersebut. Pada dampak negatif video pendek terhadap perkembangan kognitif anak berupa kesehatan otak anak akan terganggu diakibatkan tontonan yang negatif berupa pornografi dan kekerasan. Sedangkan dampak negatif terhadap perkembangan bahasa bisa membuat anak mendapat kosakata baru yang negatif.
Dampak Penggunaan Screen Media dalam Perkembangan Bahasa dan Kognitif Masa Early Childhood: Kajian Literatur Aqila Permata Amara Danish; Peta Lima Ladina; Reza Adam Arrahman; Raissa Dwifandra Putri
Flourishing Journal Vol. 4 No. 6 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i62024p255-265

Abstract

In today's rapidly evolving era, social media usage has become commonplace, even for young children who already starting to use gadgets and engage with various media. This can significantly impact their development, especially during their golden age when they are highly receptive to stimuli that can influence their growth. This research explores the impact of screen media usage on language and cognitive development in early childhood. The approach involves a literature review of reputable journals in the field. The findings indicate that excessive screen media consumption can harm children's language and cognitive development. Overexposure can disrupt social interactions, hinder vocabulary and grammar development, and negatively impact focus and concentration abilities. However, other studies highlight the benefits of moderate and guided screen media usage for children's development. High-quality educational content can aid in learning new languages, grasping new concepts, and enhancing cognitive skills. Therefore, parents must regulate and monitor their children's screen media usage. They should ensure that children engage with screen media within reasonable time limits, consume age-appropriate and educational content, and maintain adequate social interactions. AbstrakDi era yang berkembang pesat seperti sekarang ini, penggunaan media sosial sudah menjadi hal yang lumrah. Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan anak, karena bahkan anak usia dini pun sudah mulai menggunakan gadget dan terlibat dengan berbagai media. Terlebih di masa tersebut, anak sedang di berada di fase golden age, yang sudah dapat menangkap stimulus utk perkembangannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dampak penggunaan screen media dalam perkembangan bahasa dan kognitif pada masa early childhood. Pendekatan yang diambil adalah melalui telaah literatur yang mencakup jurnal-jurnal terpercaya dalam bidang tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa pemakaian media layar secara berlebihan dapat merugikan perkembangan bahasa dan kognisi anak. Pemaparan yang terlalu lama dapat mengganggu interaksi sosial, menghambat perkembangan kosakata dan tata bahasa, serta mempengaruhi kemampuan fokus dan konsentrasi. Namun, ada juga penelitian yang menyoroti manfaat penggunaan media layar secara moderat dan terarah bagi perkembangan anak. Konten edukatif yang berkualitas dapat membantu mereka dalam mempelajari bahasa baru, memahami konsep-konsep baru, dan meningkatkan keterampilan kognitif. Karenanya, penting bagi orang tua untuk mengatur dan mengawasi penggunaan media layar oleh anak-anak mereka. Mereka perlu memastikan bahwa anak-anak menggunakan media layar dalam batas waktu yang wajar, dengan konten yang bermutu, dan mendapatkan interaksi sosial yang memadai.
Pengaruh Self-Efficacy terhadap Fear of Failure pada Mahasiswa Tingkat Akhir di Universitas Negeri Malang Najmil ‘Ulumiyah; Retno Sulistiyaningsih
Flourishing Journal Vol. 4 No. 7 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i72024p315-325

Abstract

Fear of failure is a common experience among final-year students. This condition can be attributed to low self-efficacy, or an individual's belief in their own ability. The purpose of this study was to determine the influence of self-efficacy on fear of failure among final-year students at Universitas Negeri Malang. The researcher employed a quantitative method using a correlational design. The participants in this study were 130 final-year students at Universitas Negeri Malang. The instruments used in this study were: (1) A self-efficacy scale, constructed based on Bandura's theory (1997), consisting of 15 items with a reliability of 0.857. (2) The Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI) to measure students' fear of failure. This scale was adapted by Martin and Yunanto (2023) and modified by the researcher, consisting of 22 items with a reliability of 0.920. Data analysis was conducted using simple linear regression. The results showed that self-efficacy contributed 41% to fear of failure, with a negative direction of influence (ρ < 0.000). AbstrakFear of failure (ketakutan akan kegagalan) merupakan kondisi yang cenderung dialami oleh tiap mahasiswa tingkat akhir.. Hal ini dapat diakibatkan karena rendahnya kepercayaan diri individu terhadap kemampuannya (self-efficacy). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh self-efficacy terhadap fear of failure pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas Negeri Malang. Peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa tingkat akhir di Universitas Negeri Malang sejumlah 130 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: (1) Skala self-efficacy, menggunakan metode konstruk dengan mengembangkan teori dari Bandura (1997) yang terdiri dari 15 item dengan reliabilitas 0,857. (2) Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI) untuk mengukur fear of failure mahasiswa. Skala ini telah diadaptasi oleh Martin dan Yunanto (2023) dan dimodifikasi oleh peneliti, yang terdiri dari 22 item dengan reliabilitas 0,920. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis regresi sederhana, dengan hasil bahwa self-efficacy memberikan kontribusi sebesar 41% terhadap fear of failure dengan arah pengaruh negatif (ρ < 0,000).
Pengaruh Resiliensi terhadap Penyesuaian Diri Siswa di SMA Katolik St. Albertus Malang Angelicus Ricardus F. Wara Sabon; Ika Andrini Farida
Flourishing Journal Vol. 4 No. 7 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i72024p326-338

Abstract

Self-adjustment is an important thing for high school students, especially students who come from outside Java. However, many students have not been able to adjust due to various inhibiting factors they experience. This study aims to determine how much influence resilience has on adjustment in students of Catholic High School. St. Albertus Malang who come from outside Java. This study uses a quantitative method with the research population being active students of Catholic High School. St. Albertus Malang with a stratified random sampling technique, and the sample are tenth grade students who come from outside Java and obtaining 109 respondents. The data analysis technique uses simple linear regression analysis. The results of the data analysis show that the correlation between resilience and adjustment in students who come from outside Java at Catholic High School. St. Albertus Malang is 0.816 (p>0.05) so it can be concluded that the hypothesis in this study is rejected, where resilience does not affect adjustment in students of Catholic High School. St. Albertus Malang who come from outside Java. AbstrakPenyesuaian diri merupakan sebuah hal penting bagi para siswa SMA, khususnya siswa yang berasal dari luar pulau Jawa. Namun banyak siswa yang belum bisa menyesuaikan diri karena berbagai faktor penghambat yang dialaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh resiliensi terhadap penyesuaian diri pada siswa SMA Katolik St. Albertus Malang yang berasal dari luar pulau Jawa. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan populasi penelitiannya merupakan siswa aktif SMA Katolik St. Albertus Malang yang berasal dari luar pulau Jawa dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling, yaitu siswa kelas X (sepuluh) yang berasal dari luar pulau Jawa dan memperoleh responden sebanyak 109 siswa. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi linear sederhana. Hasil analisis data menunjukan bahwa tidak ada korelasi antara resiliensi dengan penyesuaian diri pada siswa yang berasal dari luar pulau Jawa di SMA Katolik St. Albertus Malang, dengan nilai signifikansi 0.816 (p>0.05), hipotesis penelitian ditolak. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa resiliensi tidak mempengaruhi penyesuaian diri pada siswa SMA Katolik St. Albertus Malang yang berasal dari luar pulau Jawa.