cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
flourishing.journal@um.ac.id
Phone
+62341-552115
Journal Mail Official
flourishing.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jln. Semarang 5 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Flourishing Journal
ISSN : -     EISSN : 27979865     DOI : -
Core Subject : Social,
Flourishing Journal is an open-access and peer-reviewed journal dedicated to publishing research articles in the field of psychology. Flourishing Journal accepts research articles that have the potential to make a significant contribution to the exploration and development of psychology and behavioral sciences. Articles submitted to this journal must display a well-thought-out study design, appropriate data analysis, and interpretation.
Articles 202 Documents
Literature Review: Eksplorasi Perbedaan Ideologi Peran Gender di Berbagai Lingkup Kehidupan dalam Perspektif Lintas Budaya Safira Calfina Izzumi; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i32024p93-102

Abstract

Gender adalah ekspektasi peran sosial terbentuk akibat pengalaman dan budaya yang berkembang. Ekspektasi peran gender sangat beragam sesuai dengan budaya yang berkembang di wilayah setempat. Perilaku gender ini tidak terlepas dari konteks sosiokultural, yakni menyesuaikan dengan tempat individu tinggal dan berkembang. Tujuan studi literatur ini untuk mengetahui adanya perbedaan ideologi peran gender dari perspektif lintas budaya. Temuan dari studi literatur ini dapat diimplikasikan dalam manfaat praktis, kebijakan, dan penelitian selanjutnya. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah studi literatur melalui database online journal yaitu Google Scholar. Perbedaan ideologi peran gender terlibat dalam berbagai aspek seperti niat kewirausahaan, ekonomi, pendidikan, aktivitas agrikultural, self-esteem, dan aktivitas yang dilakukan saat waktu luang. Peran gender dapat kaku dan fleksibel tergantung keadaan. Norma terhadap gender seringkali berbeda dalam lintas generasi, bidang ilmu dalam perkuliahan, kelompok etnik dan kultural, dan wilayah geografis. Di berbagai negara, perbedaan gender akan tetap melekat pada masyarakat akibat keyakinan mengenai peran gender yang sudah tertanam. Namun di sisi lain, perkembangan kesetaraan gender mulai terlihat dengan berkurangnya dominasi laki-laki serta perempuan yang semakin menunjukkan eksistensinya. AbstrakGender is a social role expectations are formed due to experience and developing culture. Gender role expectations vary greatly according to the culture that develops in the local area. Gender behavior cannot be separated from the sociocultural context, namely adapting to where the individual lives and develops. The method used in this article is a literature study through an online journal database, namely Google Scholar. This literature study aims to determine differences in gender role ideology from a cross-cultural perspective. The findings from this literature study can have implications for practical benefits, policies, and further research. Differences in gender role ideologies involve various aspects such as entrepreneurial intentions, economics, education, agricultural activities, self-esteem, and activities carried out in free time. Gender roles can be rigid and flexible depending on circumstances. Norms regarding gender often differ across generations, fields of study, ethnic and cultural groups, and geographic regions. In various countries, gender differences will remain embedded in society due to ingrained beliefs about gender roles. On the other hand, developments in gender equality are starting to be seen with the reduction of male dominance and women increasingly showing their existence.
My Idol My Savior: Kajian Literatur Kesepian dan Celebrity Worship pada Remaja penggemar K-Pop Shahnaz Sarah Darmawan; Rakhmaditya Dewi Noorizki
Flourishing Journal Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i32024p103-110

Abstract

The growing and widespread Korean culture has positive and negative effects on its followers. Korean pop music, also known as K-pop, is a popular Korean product among many generations, particularly teenagers. Teenage K-Pop fans admire K-Pop celebrities as an escape from loneliness. This admiration, however, can become excessive, leading to celebrity worship. The goal of this study is to delve deeper into the role of loneliness in adolescent K-Pop fans' celebrity worship. The method used in this research is a literature review of studies related to celebrity worship behavior and loneliness in adolescents, which are collected through scientific literature such as articles and other references. Data from previous studies will be combined, selected, sorted, and compared to the collected data. The findings show that loneliness and celebrity worship have a relationship between loneliness and celebrity worship in adolescents, particularly teenage K-Pop fans. Adolescent mental health can suffer as a result of excessive celebrity worship. AbstrakBudaya Korea yang semakin berkembang dan tersebar luas membawa berbagai dampak positif dan negatif bagi para penggemarnya. Musik pop korea atau K-Pop merupakan salah satu produk Korea yang saat ini digemari berbagai generasi, terutama remaja. Remaja penggemar K-Pop mengagumi selebriti K-Pop sebagai pelarian dari rasa kesepian. Namun, rasa kagum tersebut cenderung berlebihan hingga menimbulkan celebrity worship. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengeksplorasi lebih dalam peran kesepian terhadap celebrity worship pada remaja penggemar K- Pop. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan meninjau studi-studi yang berkaitan dengan perilaku celebrity worship dan kesepian pada remaja, yang dikumpulkan melalui literatur ilmiah seperti artikel dan referensi lainnya. Data yang telah didapatkan akan dianalisis dengan penggabungan, pemilihan, pemilahan, dan perbandingan data hasil penelitian terdahulu. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kesepian dan celebrity worship pada remaja terlebih remaja penggemar K-Pop. Tingkat celebrity worship pada level tinggi dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental remaja.
Gambaran Job crafting pada Mahasiswa yang Memiliki Peran Ganda Madinatul I. Hidayah; Marco Kemalleka; Salsabila A. P. Nastiti; Dewi Fatmasari Edy
Flourishing Journal Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i32024p127-139

Abstract

College students as individuals who are in the early adulthood phase, have a lot of desire to explore themselves through a series of learning processes in lectures and also organizational activities. Student involvement in organizational activities means students have multiple roles. Students playing multiple roles is a phenomenon that is most often encountered in the campus environment. In living life as a student and organizer, of course there are many challenges and work that must be faced and resolved. Sometimes this dual role can also have various impacts on students. Therefore, by looking at the roles and responsibilities of each role, the researcher wants to reveal in descriptive form a picture of job crafting among students with multiple roles. Data collection method using semi-structured interviews. The criteria for interviewees are students who join organizations as a second role. This research involved three sources to be interviewed. The analysis technique used uses thematic analysis techniques to identify themes in the data. The result is that students have 4 aspects of job crafting, namely: increasing structural job resources, increasing challenging job demands, increasing social job resources, decreasing hindering job demands. Each aspect has a more detailed sub-theme. AbstrakMahasiswa sebagai individu yang berada pada tahap fase dewasa awal, memiliki banyak keinginan untuk mengeksplorasi diri melalui serangkaian proses pembelajaran yang ada di perkuliahan dan juga kegiatan organisasi. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan organisasi membuat mahasiswa memiliki peran ganda. Mahasiswa berperan ganda merupakan fenomena yang paling sering dijumpai dalam lingkungan kampus. Dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa dan organisator tentunya banyak tantangan dan pekerjaan yang harus dihadapi dan diselesaikan. Terkadang peran ganda ini juga dapat menimbulkan berbagai dampak pada mahasiswa. Oleh karena itu dengan melihat peran dan tanggung jawabnya masing-masing peran, peneliti ingin mengungkap dalam bentuk deskriptif gambaran job crafting pada mahasiswa berperan ganda. Metode pengambilan data dengan wawancara semi terstruktur. Kriteria narasumber adalah mahasiswa yang mengikuti organisasi sebagai peran kedua. Penelitian ini melibatkan tiga narasumber untuk diwawancarai. Teknik analisis yang digunakan menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi tema dalam data. Hasilnya adalah mahasiswa memiliki 4 aspek dalam job crafting, yaitu: increasing structural job resources, increasing challenging job demands, increasing social job resources, decreasing hindering job demands. Setiap aspek tersebut memiliki sub tema yang lebih merinci.
Hubungan Antara Self Image dengan Perilaku Konsumtif pada Mahasiswa Perantau Norhidayah; Aryudho Widyatno
Flourishing Journal Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i42024p170-182

Abstract

This research aims to determine the relationship between self-image and consumer behavior among migrant students who are studying in the city of Malang. The research approach used is a quantitative approach with product-moment correlation analysis. The instrument in this study used a self-image scale based on Brown's theory with 27 items, while to measure consumer behavior, an instrument based on Lina & Rosyid was prepared with 24 items. The subjects in this study used a purposive sampling technique with 96 students. The results of the research show that there is a negative relationship between self-image and consumer behavior among South Kalimantan students. The correlation coefficient value obtained was -0.661 with a significance of 0.0001 (sig < 0.05) so there was a negative relationship between self-image and consumer behavior among South Kalimantan students in the city of Malang with the correlation level in the strong category. This shows that the higher the self-image, the lower the consumer behavior. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self image dengan perilaku konsumtif pada mahasiswa perantau yang sedang menempuh pendidikan di kota malang. Adapun pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis correlation product moment. Instrumen pada penelitian ini menggunakan skala self image yang disusun berdasarkan teori Brown dengan jumlah 27 item, sedangkan untuk mengukur perilaku konsumtif disusun instrumen yang didasarkan pada Lina & Rosyid dengan jumlah 24 item. Subjek dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah 96 mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan dengan arah negatif antara self image dengan perilaku konsumtif pada mahasiswa Kalimantan Selatan. Nilai koefisien korelasi yang didapatkan sebesar -0,661 dengan signifikansi 0,0001 (sig < 0,05), sehingga terdapat hubungan dengan arah negatif antara self image dengan perilaku konsumtif pada mahasiswa Kalimantan Selatan di kota Malang dengan tingkat korelasi termasuk kategori kuat. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self image maka semakin rendah perilaku konsumtif.
Dampak Video Pendek Terhadap Perkembangan Kognitif dan Bahasa pada Masa Early Childhood Andini Eka Putri; Fraditya Lexcy Aurilio; Muhammad Sifa Alayubi; Raissa Dwifandra Putri
Flourishing Journal Vol. 4 No. 5 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i52024p232-244

Abstract

Short videos are increasingly popular throughout the world because they can be accessed easily and consumed by various groups, one of which is young children. Early childhood is the developmental period from 0 to 6 years old, which is the golden age for cognitive and language growth. The aim of this research is to determine the impact of short videos on the cognitive and language development of early childhood. This research uses a qualitative approach with a literature review method, by describing the positive and negative impacts of short videos. The results found that the positive impact of short videos on children's cognitive development is that children can develop their creativity, train their memory, develop their curiosity, increase attention and concentration, improve their writing skills, process words, and for language development children will acquire new vocabulary from short content. the video. The negative impact of short videos on children's cognitive development is that children's brain health will be disrupted due to negative viewing in the form of pornography and violence. Meanwhile, the negative impact on language development can result in children acquiring new, negative vocabulary. AbstrakVideo pendek semakin populer diseluruh dunia karena dapat diakses dengan mudah dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan, salah satunya merupakan anak usia dini. Anak usia dini adalah masa perkembangan dari usia 0 hingga 6 tahun, yang mana merupakan masa keemasan bagi pertumbuhan kognitif dan bahasa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dampak dari video pendek terhadap perkembangan kognitif dan bahasa anak usia dini. Pada penelitian ini menggunakkan pendekatan kualitatif dengan metode literatur review, dengan mendeskripsikan dampak positif dan negatif dari video pendek. Hasil yang ditemukan bahwa dampak positif dari video pendek terhadap perkembangan kognitif anak yaitu anak bisa mengembangkan kreativitasnya, melatih daya ingat, mengembangkan keingintahuannya, meningkatkan perhatian dan konsentrasi, meningkatkan kemampuan menulis, mengolah kata, dan untuk perkembangan bahasa anak akan memperoleh kosakata baru dari konten short video tersebut. Pada dampak negatif video pendek terhadap perkembangan kognitif anak berupa kesehatan otak anak akan terganggu diakibatkan tontonan yang negatif berupa pornografi dan kekerasan. Sedangkan dampak negatif terhadap perkembangan bahasa bisa membuat anak mendapat kosakata baru yang negatif.
Dampak Penggunaan Screen Media dalam Perkembangan Bahasa dan Kognitif Masa Early Childhood: Kajian Literatur Aqila Permata Amara Danish; Peta Lima Ladina; Reza Adam Arrahman; Raissa Dwifandra Putri
Flourishing Journal Vol. 4 No. 6 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i62024p255-265

Abstract

In today's rapidly evolving era, social media usage has become commonplace, even for young children who already starting to use gadgets and engage with various media. This can significantly impact their development, especially during their golden age when they are highly receptive to stimuli that can influence their growth. This research explores the impact of screen media usage on language and cognitive development in early childhood. The approach involves a literature review of reputable journals in the field. The findings indicate that excessive screen media consumption can harm children's language and cognitive development. Overexposure can disrupt social interactions, hinder vocabulary and grammar development, and negatively impact focus and concentration abilities. However, other studies highlight the benefits of moderate and guided screen media usage for children's development. High-quality educational content can aid in learning new languages, grasping new concepts, and enhancing cognitive skills. Therefore, parents must regulate and monitor their children's screen media usage. They should ensure that children engage with screen media within reasonable time limits, consume age-appropriate and educational content, and maintain adequate social interactions. AbstrakDi era yang berkembang pesat seperti sekarang ini, penggunaan media sosial sudah menjadi hal yang lumrah. Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan anak, karena bahkan anak usia dini pun sudah mulai menggunakan gadget dan terlibat dengan berbagai media. Terlebih di masa tersebut, anak sedang di berada di fase golden age, yang sudah dapat menangkap stimulus utk perkembangannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dampak penggunaan screen media dalam perkembangan bahasa dan kognitif pada masa early childhood. Pendekatan yang diambil adalah melalui telaah literatur yang mencakup jurnal-jurnal terpercaya dalam bidang tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa pemakaian media layar secara berlebihan dapat merugikan perkembangan bahasa dan kognisi anak. Pemaparan yang terlalu lama dapat mengganggu interaksi sosial, menghambat perkembangan kosakata dan tata bahasa, serta mempengaruhi kemampuan fokus dan konsentrasi. Namun, ada juga penelitian yang menyoroti manfaat penggunaan media layar secara moderat dan terarah bagi perkembangan anak. Konten edukatif yang berkualitas dapat membantu mereka dalam mempelajari bahasa baru, memahami konsep-konsep baru, dan meningkatkan keterampilan kognitif. Karenanya, penting bagi orang tua untuk mengatur dan mengawasi penggunaan media layar oleh anak-anak mereka. Mereka perlu memastikan bahwa anak-anak menggunakan media layar dalam batas waktu yang wajar, dengan konten yang bermutu, dan mendapatkan interaksi sosial yang memadai.
Pengaruh Self-Efficacy terhadap Fear of Failure pada Mahasiswa Tingkat Akhir di Universitas Negeri Malang Najmil ‘Ulumiyah; Retno Sulistiyaningsih
Flourishing Journal Vol. 4 No. 7 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i72024p315-325

Abstract

Fear of failure is a common experience among final-year students. This condition can be attributed to low self-efficacy, or an individual's belief in their own ability. The purpose of this study was to determine the influence of self-efficacy on fear of failure among final-year students at Universitas Negeri Malang. The researcher employed a quantitative method using a correlational design. The participants in this study were 130 final-year students at Universitas Negeri Malang. The instruments used in this study were: (1) A self-efficacy scale, constructed based on Bandura's theory (1997), consisting of 15 items with a reliability of 0.857. (2) The Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI) to measure students' fear of failure. This scale was adapted by Martin and Yunanto (2023) and modified by the researcher, consisting of 22 items with a reliability of 0.920. Data analysis was conducted using simple linear regression. The results showed that self-efficacy contributed 41% to fear of failure, with a negative direction of influence (ρ < 0.000). AbstrakFear of failure (ketakutan akan kegagalan) merupakan kondisi yang cenderung dialami oleh tiap mahasiswa tingkat akhir.. Hal ini dapat diakibatkan karena rendahnya kepercayaan diri individu terhadap kemampuannya (self-efficacy). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh self-efficacy terhadap fear of failure pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas Negeri Malang. Peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa tingkat akhir di Universitas Negeri Malang sejumlah 130 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: (1) Skala self-efficacy, menggunakan metode konstruk dengan mengembangkan teori dari Bandura (1997) yang terdiri dari 15 item dengan reliabilitas 0,857. (2) Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI) untuk mengukur fear of failure mahasiswa. Skala ini telah diadaptasi oleh Martin dan Yunanto (2023) dan dimodifikasi oleh peneliti, yang terdiri dari 22 item dengan reliabilitas 0,920. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis regresi sederhana, dengan hasil bahwa self-efficacy memberikan kontribusi sebesar 41% terhadap fear of failure dengan arah pengaruh negatif (ρ < 0,000).
Pengaruh Resiliensi terhadap Penyesuaian Diri Siswa di SMA Katolik St. Albertus Malang Angelicus Ricardus F. Wara Sabon; Ika Andrini Farida
Flourishing Journal Vol. 4 No. 7 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i72024p326-338

Abstract

Self-adjustment is an important thing for high school students, especially students who come from outside Java. However, many students have not been able to adjust due to various inhibiting factors they experience. This study aims to determine how much influence resilience has on adjustment in students of Catholic High School. St. Albertus Malang who come from outside Java. This study uses a quantitative method with the research population being active students of Catholic High School. St. Albertus Malang with a stratified random sampling technique, and the sample are tenth grade students who come from outside Java and obtaining 109 respondents. The data analysis technique uses simple linear regression analysis. The results of the data analysis show that the correlation between resilience and adjustment in students who come from outside Java at Catholic High School. St. Albertus Malang is 0.816 (p>0.05) so it can be concluded that the hypothesis in this study is rejected, where resilience does not affect adjustment in students of Catholic High School. St. Albertus Malang who come from outside Java. AbstrakPenyesuaian diri merupakan sebuah hal penting bagi para siswa SMA, khususnya siswa yang berasal dari luar pulau Jawa. Namun banyak siswa yang belum bisa menyesuaikan diri karena berbagai faktor penghambat yang dialaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh resiliensi terhadap penyesuaian diri pada siswa SMA Katolik St. Albertus Malang yang berasal dari luar pulau Jawa. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan populasi penelitiannya merupakan siswa aktif SMA Katolik St. Albertus Malang yang berasal dari luar pulau Jawa dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling, yaitu siswa kelas X (sepuluh) yang berasal dari luar pulau Jawa dan memperoleh responden sebanyak 109 siswa. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi linear sederhana. Hasil analisis data menunjukan bahwa tidak ada korelasi antara resiliensi dengan penyesuaian diri pada siswa yang berasal dari luar pulau Jawa di SMA Katolik St. Albertus Malang, dengan nilai signifikansi 0.816 (p>0.05), hipotesis penelitian ditolak. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa resiliensi tidak mempengaruhi penyesuaian diri pada siswa SMA Katolik St. Albertus Malang yang berasal dari luar pulau Jawa.
Memahami Pengasuhan Digital: Faktor Pendukung, dan Tantangan bagi Orang Tua Ulfa Masfufah; Naila Naswa Salsabila
Flourishing Journal Vol. 4 No. 8 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i82024p339-346

Abstract

The use of digital technology, especially smartphones, continues to increase from year to year, from children to teenagers and adults. The use of digital technology for children must be accompanied by parents. Parental assistance in this case is called digital parenting. This article aims to provide an overview of digital parenting for children and adolescents through the integration of empirical findings from previous articles. The second objective is to find factors that play a role in parental digital parenting. The method used is a narrative literature review. The data used in this research were seven articles from 17 articles that were collected. The results show that digital parenting is influenced by various factors, namely: parental self-efficacy, technology access, internet access, demographic factors, socio-economic conditions and parenting style. The existence of programs such as eParenting also plays a role in digital parenting. Most parents understand both the risks and benefits of digital technology, and there are efforts by parents to reduce these negative impacts. AbstrakPenggunaan teknologi digital khususnya smartphone terus meningkat dari tahun ke tahun, dari mulai anak-anak hingga remaja dan juga dewasa. Penggunaan teknologi digital bagi anak haruslah dengan pendampingan orang tua. Pendampingan orang tua dalam hal ini disebut pengasuhan digital. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran pengasuhan digital pada anak-anak dan remaja melalui integrasi temuan empiris dari artikel terdahulu. Tujuan kedua yaitu mencari faktor yang berperan dalam pengasuhan digital orangtua. Metode yang digunakan adalah narrative literature review. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tujuh artikel dari 17 artikel yang berhasil dihimpun. Hasilnya menunjukkan bahwa pengasuhan digital orang tua dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu: efikasi diri orang tua, akses teknologi, akses internet, faktor demografis, kondisi sosial ekonomi dan gaya pengasuhan. Adanya program seperti eParenting juga berperan dalam pengasuhan digital. Sebagian besar orang tua telah memahami baik resiko maupun manfaat teknologi digital, dan ada upaya-upaya dari orang tua untuk mengurangi dampak negatif tersebut.
Adaptasi Instrumen Academic Expectation Stress Inventory-9 (AESI-9) pada Siswa SMA Andika Novia Putri Rachmawati; Charaka Bintang Nararya; Wisnu Samodra; Femmi Nurmalitasari
Flourishing Journal Vol. 4 No. 8 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i82024p347-357

Abstract

Research on Academic Expectations Stress Inventory-9 (AESI-9) is important because it has an essential role as a risk factor for stress due to parents' academic expectations for their children. However, the measuring instrument in the Indonesian version has not been found. The purpose of this study was to adapt the Academic Expectations Stress Inventory-9 (AESI-9) instrument into the Indonesian version. This study was conducted online using a Google Form link intended for high school students in Indonesia (N=40; 21 male subjects and 19 female subjects) aged 16-19 years. The results of the validity test showed that all AESI-9 adaptation instruments were appropriate because they had an Aiken's V assessment >0.6. The results of the reliability test based on the Cronbach's Alpha value were 0.871. This instrument can be considered reliable and categorized as strong because the value exceeds 0.6 which is the reliability standard. The discriminatory power of the instruments in this study met the standard, which was above 0.3. The statistical results show that the high category has a value of 14, the medium category has a value of 12, the low category has a value of 11, and the very low category has a value of 3. AbstrakPenelitian mengenai Academic Expectations Stress Inventory-9 (AESI-9) ini penting karena memiliki peran yang esensial sebagai faktor risiko stres akibat ekspektasi akademik orang tua terhadap anaknya. Akan tetapi, alat ukur dalam versi Bahasa Indonesia masih belum ditemukan. Tujuan penelitian ini untuk mengadaptasi instrumen Academic Expectations Stress Inventory-9 (AESI-9) ke dalam versi Bahasa Indonesia. Penelitian ini dilakukan secara online menggunakan link Google Form yang ditujukan untuk siswa dan siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indonesia (N=40; 21 subjek laki-laki dan 19 subjek perempuan) yang berusia antara 16-19 tahun. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa seluruh instrumen adaptasi AESI-9 sesuai karena memiliki penilaian Aiken’s V >0,6. Hasil uji reliabilitas yang didasarkan dari nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,871. Instrumen ini dapat dianggap reliabel dan dikategorikan kuat karena nilai tersebut melebihi 0,6 yang merupakan standar reliabilitas. Daya beda instrumen pada penelitian ini memenuhi standar yaitu di atas 0,3. Hasil statistik menunjukkan bahwa kategori tinggi memiliki nilai 14, kategori sedang bernilai 12, kategori rendah bernilai 11, dan kategori sangat rendah senilai 3.