cover
Contact Name
Diana Kartika
Contact Email
hikarijurnalubh@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
hikarijurnalubh@gmail.com
Editorial Address
Jl. Bagindo Aziz Chan Jl. By Pass, Aie Pacah, Kec. Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat 25586
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan
Published by Universitas Bung Hatta
ISSN : -     EISSN : 28092007     DOI : -
Core Subject : Humanities,
Hikari Jurnal Bahasa dan Kebudayaan, it is a scientific journal that publishes the results of research and thought in two languages, namely Indonesian and English and in a special issue in Japanese. Hikari Journal is published twice a year in June and November. This journal is published by Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Bung Hatta in Padang, West Sumatra, Indonesia. In cooperation with universities that have fields of Language and Culture, each text sent will go through a review process by reviewers. The publication of the article is based on the reviewers assessment and editorial team
Articles 34 Documents
EUFEMISME BAHASA JEPANG DALAM FILM KARIGURASHI NO ARIETTY Yuniarsih; Kusuma Hapsari, Eky; Nabih, Faris
Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan Vol. 3 No. 1 (2023): Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi dari bentuk eufemisme yang terdapat dalam film Karigurashi no Arietty. Permasalahan yang dibahas dalam karya ilmiah ini adalah bagaimana fungsi dari bentuk eufemisme yang terdapat dalam film Karigurashi no Arietty. Penelitian ini akan dianalisis berdasarkan teori dari Nani Sunarni dan Jonjon Johana yang dikutip dari jurnal yang berjudul “Eufemisme dalam Bahasa Jepang” dan fungsi eufemisme menurut Maruyama dalam bukunya yang berjudul “Kyaria Appu Kokugo Hyougen Hou”. Didalam penelitian ini dibatasi 3 bentuk eufemisme yaitu, eufemisme kalimat tak langsung, eufemisme pertanyaan bentuk negative dan eufemisme penggantian kosakata. Penulisan makalah ini menggunakan metode kualitatif dengan mengambil data dari film Karigurashi no Arietty. Dari 3 bentuk eufemisme yang terdapat pada data yang sudah ditemukan, yaitu pertanyaan bentuk negatif, kalimat tak langsung dan perubahan kosakata. Pada bentuk eufemisme pertanyaan bentuk negatif, terdapat ungkapan dantei, ungkapan irai, dan ungkapan kanyuu. Pada bentuk eufemisme kalimat tak langsung, terdapat ungkapan merei dan ungkapan irai. Dan pada bentuk eufemisme perubahan kosakata ditemukan ungkapan kinshi. Bahasa Jepang memiliki banyak variasi berdasarkan konteks dan hubungan antara pembicara. Eufemisme digunakan untuk menghindari kesalahpahaman atau konflik dalam komunikasi sehari-hari. Meneliti eufemisme membantu kita memahami bagaimana bahasa digunakan untuk menjaga hubungan sosial yang harmonis.
SHOURYAKUGO (PENYINGKATAN) DALAM MANGA TOKYO REVENGERS KARYA KEN WAKUI Putriyani, Yolanda; Syahrial; Kartika, Diana; Immery, Tienn
Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan Vol. 3 No. 1 (2023): Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembentukan kata dapat terjadi karena adanya pergeseran makna, hilangnya suatu kata, penyingkatan kata atau istilah baru. Hal ini, menyebabkan terjadinya miskomunikasi dengan lawan bicara, karena belum tentu semua lawan bicara mengetahui arti ataupun menggunakan kata baru tersebut. Hasil pembentukan kata dalam bahasa Jepang ada 4 jenis pembentukan kata yaitu haseigo, fukugougo/goseigo, shouryakugo/karikomi, toujigo. Penelitian ini membahas tentang shouryakugo (penyingkatan) menggunakan manga. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk dan jenis shouryakugo (penyingkatan) dalam manga Tokyo Revengers. Selanjutnya peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif, dianalisis secara distribusional (metode agih) dan metode analisis interaktif dengan klasifikasi menggunakan teori A. E. Backhouse yang mengidentifikasi dua jenis shouryakugo yaitu sistem tunggal dan sistem ganda. Data dikumpulkan menggunakan teknik simak catat dan dikelompokkan berdasarkan teori A. E. Backhouse. Data yang ditemukan dalam manga Tokyo revengers sebanyak 49 data, jenis shouryakugo sistem tunggal sebanyak 40 data dan jenis shouryakugo sistem ganda sebanyak 9 data, dengan masing-masing data berdasarkan bentuknya yaitu: 1) bentuk ???? (gotou shouryaku) 12 data, 2) bentuk ???? (gochuu shouryaku) sebanyak 3 data, 3) bentuk???? (gobi shouryaku) sebanyak 25 data, 4) bentuk shouryakugo menghilangkan sebagian suku kata dari deretan kata sebanyak 6 data, 5) bentuk shouryakugo menghilangkan selain satu kata sebanyak 3 data. Hasil dari penelitian ini adalah bentuk shouryakugo (penyingkatan) dalam bahasa Jepang pada jenis sistem Tunggal, bisa terjadi penyingkatan di awal kata maupun di akhir kata dalam satu kata asal yang sama. Pada jenis sistem Ganda ditemukan gabungan dua kata dari kelas kata yang berbeda, dan ditemukan shouryakugo (penyingkatan) gabungan dari bahasa Jepang asli (wago) dan bahasa asing (gairaigo).
KONSEP HONNE DAN TATEMAE DALAM DRAMA KOI WA TSUZUKU YO DOKO MADE MO KARYA MAKI ENJOJI Mulyani, Revita; Irma; Kania Izmayanti, Dewi; Kartika, Diana; Amril, Oslan
Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan Vol. 3 No. 1 (2023): Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep honne dan tatemae yaitu honne (perasaan yang sebenarnya), tatemae (perasaan tidak sebenarnya) salah satu budaya komunikasi dalam kehidupan masyarakat Jepang. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan konsep honne dan tatemae dalam drama Koi wa tsuzuku yo doko made mo eps 1-10. Metode yang digunakan kualitatif deskriptif. Data yang ditemukan sebanyak 14 data. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah konsep honne dan tatemae memiliki sinonim kata atau persamaan dengan tepa selira (tenggang rasa), basa-basi dan kepura-puraan. Dan diketahui bahwa dalam berkomunikasi masyarakat Jepang senantiasa menjaga perasaan lawan bicaranya dengan memperhatikan sikap dan kata-kata yang ingin diucapkan saat komunikasi.
KONSEP DIRI TOKOH LGBT DALAM FILM ATHLETE: ORE GA KARE NI OBOETA HIBI widianingtias, kristina
Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan Vol. 3 No. 1 (2023): Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

LGBT adalah singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Penggunaan istilah ini disematkan pada inividuyang memiliki kecenderungan seksual kepada sesama jenis. Seringkali orang-orang LGBT mengalami diskriminasi sertaperlakuan tidak adil dari lingkungan sekitar yang membuatkaum LGBT kesulitan untuk mengembangkan konsep dirinya. Film Athlete: Ore Ga Kare Ni Oboreta Hibi merupakan salah satu film yang mengangkat tema LGBT denganmenggambarkan bagaimana kehidupan yang dijalani oleh seorang homoseksual di tengah masyarakat heteroseksual. Menampilkan adegan serta dialog relistik yang mengajakpenonton untuk merasakan serta melihat permasalahanbagaiamana rasanya menjadi seorang LGBT. Pada penelitianini, penulis mengunakan teori sosiologi dari Charles Horton Cooley untuk menganalisis film Athlete: Ore Ga Kare Ni Oboreta Hibi. Melalui teorinya yang dinamakan Looking Glass Self teori, Cooley mengatakan bahwa seseorangmembangun konsep dirinya berdasarkan hasil dari interaksidengan lingkungannya. Ada baiknya, sebagai bagian darimasyarakat, kita sedikit memberi ruang dengar untuk orang-orang LGBT tanpa harus memberi label serta penilaiannegatif secara langsung agar kehidupan masyarakat yang dibangun tetap tertata dalam keadilan.
PEMAHAMAN PENGGUNAAN ADVERBIA TAKUSAN DAN IPPAI OLEH MAHASISWA SASTRA JEPANG SEMESTER 4 DAN 6 UNIVERSITAS BUNG HATTA Agusti Muchtar, Riri; Kartika, Diana; Syahrial, Syahrial; Kania Izmayanti, Dewi
Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan Vol. 3 No. 1 (2023): Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa merupakan suatu alat yang digunakan untuk berkomunikasi antar manusia agar bisa berinteraksi dan menyalurkan isi pikiran kepada orang lain. Perkembangan zaman saat ini, sudah banyak bahasa yang bisa dipelajari selain bahasa ibu sendiri, salah satunya bahasa asing yaitu bahasa Jepang. Pembelajaran Bahasa Jepang saat ini semakin meningkat, karena bahasa Jepang memiliki makna yang lebih luas dari bahasa Indonesia, seperti kosa kata, partikel, dan kata yang bersinonim (ruigigo).Namun ata-rata pelajar dari Indonesia mendapatkan kesulitan memahami kata bersinonim karena memiliki maknayang hampir sama, atau makna yang banyak seperti Adverbia/Fukushi, sehingga sering muncul kesalahan dalampenggunaan bahasa Jepang. Oleh karena itu, peneliti mengangkat permasalahan mengenai Adverbia/Fukushi dengan menitik beratkan pada Takusan dan Ippai. Tujuan penlitian ini adalah tingkat pemahaman dalam penggunaan Takusan dan Ippai sebagai sinonim oleh mahasiswa sastra Jepang Universitas Bung Hatta tingkat 2 dan 3. Hasil penelitian menunjukan bahwa mahasiswa sastra Jepang Universitas Bung Hatta telah mengetahui, mengerti, dan paham dalam pengaplikasian Fukushi Bahasa Jepang terutama terkait Fukushi Takusan dan Ippai yang dibuktikan dengan jawaban responden dan soal rumpang pada sebaran quesioner.
BENTUK DAN MAKNA ONOMATOPE DALAM KOMIK ONE PIECE VOLUME 105 KARYA EIICHIRO ODA Fahmi Suhendra, Arif; Syahrial; Kartika, Diana; Izmayanti , Dewi Kania
Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan Vol. 3 No. 2 (2024): Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Onomatopoeia are words that represent sounds or sounds from living creatures, objects, and explain activities or situations that are occurring. Onomatopoeia is often used in literary works such as comics. Comics contain images that appear to speak or move, requiring imitation of sounds and actions to create sound effects and emotions. The aim of this research is to discuss the form and meaning of onomatopoeia in the One Piece comic volume 105 by Eiichiro Oda, which uses Akimoto's theory to analyze the form of full repetition, Oota's theory for the form of repetition of sound changes, and Akutsu's theory for the form of added affixes. Then the type of meaning uses Akimoto's theory. In this research, there are 4 onomatopoeia, namely (1) onomatopoeia giongo (imitation of the sound of inanimate objects), (2) giseigo (imitation of sounds from living things), (3) giyougo (imitation of sounds of states or behavior), and (4) gijougo (imitation of the sound of a mood or feeling). Meanwhile, there are 10 types of meaning, namely, (1) shizengenshou, (2) mono ga dasu oto, (3) doubutsu no nakigoe, (4) hito no koe/oto, (5) mono no ugoki, (6) mono no youtai/seishitsu, (7) hito no dousa, (8) hito no kenkou joutai, (9) hito no yousu/shinjou, and (10) hito no shintaiteki tokuchou. This research method is a descriptive study used to explain the form and meaning of onomatopoeia in the One Piece comic by Eiichiro Oda. In collecting data, the author used the note-taking technique, meanwhile to analyze the data, the author used the technique of selecting determining elements.
BENTUK DAN MAKNA MAJAS HIPERBOLA DALAM LIRIK LAGU PADA MINI ALBUM MAKEINU NI ANKOURU WA IRANAI KARYA YORUSHIKA Nur Prihandika, Dwi; Syahrial; Kartika, Diana; Immerry, Tienn
Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan Vol. 3 No. 2 (2024): Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hyperbole is a figure of speech that describes or narrates an event by exaggerating it. This figure of speech aims to present the event more dramatically, attractively, beautifully, and similar way. The type of meaning in this research uses shifting meaning, that is the symptoms of expansion, narrowing, connotation, synesthesia, and association of a word meaning that is still alive in one field of meaning. This research discusses hyperbolic figures of speech and shifting meaning contained in the song lyrics sung by Yorushika from the mini album Makeinu ni Ankouru wa Iranai using Claridge and Parera’s theory. Claridge's theory is a hyperbolic figure of speech which is divided into 7 forms, while Parera's theory is a shifting meaning. This research identifies 7 forms of hyperbole, namely, Single-word Hyperbole, Phrasal Hyperbole, Clausal Hyperbole, Numerical Hyperbole, The Role of The Superlative, Comparison, Repetition. This research method is descriptive research used to describe hyperbole and meaning in Yorushika song lyrics, the data collection technique used is the simak catat technique, and to analyze the data the author uses the basic technique of agih method (BUL).This research found a total 29 data, where Single-word Hyperbole (one word hyperbole) was more frequently found with 13 pieces of data, in the word class there were verbs and the most frequently found shifting meaning was the connotation meaning.
INTERJEKSI PERASAAN TERKEJUT KANDOUSHI ODOROKI DALAM ANIME HORIMIYA Haura Aramora, Salsabila; Kartika, Diana; Syahrial; Izmayanti, Dewi Kania
Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan Vol. 3 No. 2 (2024): Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandoushi adalah salah satu kelas kata yang termasuk jiritsugo(kata yang dapat berdiri sendiri dan memiliki makna). Odorokiadalah jenis kandoushi yang digunakan untuk mengungkapkan keterkejutan terhadap suatu konteks situasi kepada lawan bicara. Kajian pada penelitian ini mengenai penggunaan kandoushiodoroki dalam Anime Horimiya dengan tinjauan pragmatik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Efek keterkejutan yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori keterkejutan dikemukakan Nita Kotoba Tsukaiwake Jiten (1991), dan dianalisis menggunakan teori efek keterkejutan setiap ungkapan kandoushi odoroki yang dilihat dalam segi konteks. mengelompokkan ungkapan kandoushi odoroki kepada 5 efek keterkejutan sesuai konteks situasi keterkejutan meliputi : odoroku, bikkuri suru, tamageru, kyougaku suru, dan kyoutan suru.
REPRESENTATION OF JAPANESE CULTURE IN THE FILM NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGO (A SEMIOTIC STUDY) MILENIA SEVTIANI; Izmayanti, Dewi Kania; Irma; Amril, Oslan
Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan Vol. 3 No. 2 (2024): Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Japan has succeeded in maintaining its culture from traditional to modern culture. Thanks to its success, Japan has been highly regarded by other countries. The large number of enthusiasts outside Japan who watch anime films proves that Japanese culture is not only popular in Japan but also outside Japan. One example is the film "Nihonjin No Shiranai Nihonggo," which depicts the love of people outside Japan for Japanese culture. Zen, which represents the art of tranquility, is widely present in Japanese culture. This is the basis for this research, which aims to describe Japanese culture depicted in the film "Nihonjin No Shiranai Nihonggo." The researcher uses Roland Barthes' theory to describe Japanese culture in this film. According to the theory presented by Roland Barthes, meaning is divided into three types: denotation, connotation, and myth. To dissect these meanings, the author uses the literature review method with the note-taking technique. From the 12 episodes, 8 Japanese cultures were found: Furoshiki in episode 2, Hanafuda and Kendou in episode 3, Shouryuuma and kanji in episode 5, Natto in episode 7, the tea-drinking etiquette in episode 8, and omikuji fortune-telling in episode 10. Therefore, we can conclude that Japanese culture can be seen through films and interpreted in terms of connotation, denotation, and myth. Keywords: Nihonjin No Shiranai Nihonggo, Film, Denotative Meaning, Connotative Meaning, Mythical Meaning. Abstrak Jepang sukses menjadi negara yang mempertahankan kebudayaannya dari budaya tradisonal hingga budaya modern. Berkat keberhasilannya tersebut Jepang menjadi sangat disorot oleh negara lain. Banyaknya peminat masyarakat diluar Jepang yang menonton film anime membuktikan bahwa budaya Jepang tidak hanya populer di Jepang namun juga diluar Jepang. Salah satunya adalah Film Nihonjin No Shiranai Nihonggo yang menggambarkan kecintaan masyarakat diluar jepang terhadap budaya Jepang. Zen yang menggambarkan ilmu sebuah ketenangan banyak terkandung di dalam unsur budaya Jepang. Hal inilah yang mendasari penelitian ini dilakukan yaitu untuk mendiskripsikan budaya Jepang yang tergambar dalam film Nihonjin No Shiranai Nihonggo. Peneliti menggunakan teori Roland Barthes untuk menggambarkan budaya jepang yang terkandung di dalam film ini. Menurut teori yang disampaikan oleh Roland Barthes dikatakan bahwa makna terbagi menjadi 3 jenis yaitu makna denotasi, makna konotasi dan juga mitos. Untuk membedah makna tersebut penulis menggunakan metode kajian pustaka dengan teknik simak catat. Dari 12 episode ditemukan 8 budaya jepang yaitu Furoshiki di episode 2, Hanafuda dan Kendou di episode 3, Shouryuuumma dan kanji di episode 5,Natto di episode 7, tata cara minum the episode 8, ramalan omikuji di episode 10. Maka dapat kita simpulkan bahwa budaya Jepang dapat kita bisa melihatnya melalui film dan bisa memaknainya secara konotasi, denotasi, dan juga mitos. Kata Kunci : Nihonjin No Shiranai Nihonggo, Film, Makna Denotasi, Makna Konotasi, Makna Mitos.
Analisis Makna Dalam “A Faint New World” Karya Envy i Ketut Adi Putra Bonitu; Ni Wayan Meidariani
Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan Vol. 4 No. 1 (2024): Hikari: Jurnal Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Envy adalah band rock asal Jepang yang terbentuk di Tokyo pada tahun 1992. Pada 2020 mereka merilis album yang berjudul The Fallen Crimson. Dalam album tersebut terdapat lagu yang berjudul A Faint New World. Lagu tersebut tersebut dipilih karena lirik dalam lagu ini memiliki makna yang mendalam. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menemukan makna-makna yang terkandung dalam lagu ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori semiotika Michael Riffaterre sebagai kajiannya. Hasil dari tulisan ini menunjukan bahwa lagu A Faint New World karya Envy memiliki makna tentang perjalanan emosional yang penuh dengan penyesalan, kehilangan, dan pencarian makna. Di tengah-tengah kesulitan dan kehancuran, ada harapan untuk menemukan kedamaian dan koneksi yang lebih dalam. Lagu ini juga menyampaikan pesan tentang perjuangan manusia untuk menemukan makna dan kedamaian di tengah-tengah kesulitan hidup, dengan menggunakan simbolisme dan metafora yang mendalam.

Page 3 of 4 | Total Record : 34