cover
Contact Name
Sri Astutik
Contact Email
rio.unitomo@gmail.com
Phone
+628123137066
Journal Mail Official
rio.unitomo@gmail.com
Editorial Address
Jl. Semolowaru no 84, Surabaya 60283 Jawa Timur, Indonesia Telp: (031) 592 5970 Fax: (031) 593 8935
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Lex Journal : Kajian Hukum dan Keadilan
ISSN : 25812033     EISSN : 25809113     DOI : https://doi.org/10.25139/lex.v6i2
Core Subject : Social,
Lex Journal is a scientific journal published by the Faculty of Law, Dr. Soetomo University which will be published regularly every six months. In July and December containing articles in the form of articles, studies, and research results. This journal is published as a forum to provide space for law and justice observers in their contribution to the development of law. Editors accept independent writings which can be in the form of articles, studies, and research results related to the field of law and justice, in Indonesian and English according to the writing style.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 139 Documents
The Dynamics of Checks and Balances in the New Administration: Safeguarding the Integrity of the Judiciary in Achieving Substantive Justice Dwi Kartini; Depi Angga Alpiana; Yovan Iristian
Lex Journal: Kajian Hukum & Keadilan Vol 10 No 2 (2026): June
Publisher : Faculty of Law, University of Dr. Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/lex.v10i2.12036

Abstract

This research examines the critical tension between executive expansion and judicial independence within the context of the 2024 general elections and the emergence of new administrations globally and in Indonesia. Utilizing a normative-legal and comparative approach, the study analyzes the phenomenon of "autocratic legalism," where legal instruments are strategically repurposed to consolidate political power, thereby threatening the traditional framework of checks and balances. The findings indicate a significant global regression in democratic standards, with a 67% "fatality rate" for autocratizing democracies and a measurable decline in judicial constraints on executive power in 61% of nations. In Indonesia, the 2024 transition highlighted structural vulnerabilities in the Constitutional Court, particularly regarding ethical dilemmas and the "judicial capture" of candidate eligibility requirements. The article further explores the paradigm shift from proceduralism to substantive justice, arguing that the realization of equitable outcomes requires judges to adopt a "Justice as Fairness" approach, rooted in natural law and human rights, to balance the inherent power asymmetry between the state and its citizens. The study concludes that safeguarding judicial integrity requires institutional reforms including transparent appointment mechanisms, budgetary autonomy, and a progressive interpretive framework that transcends formalistic legal positivism.
A Comparative Analysis of Government Systems: A Theoretical Study of Presidential, Parliamentary, and Indonesia’s Sui Generis Constitutional Dialectic Systems Ogi Pracoyo; Reza Anggara Bahar; Yovan Iristian
Lex Journal: Kajian Hukum & Keadilan Vol 10 No 2 (2026): June
Publisher : Faculty of Law, University of Dr. Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/lex.v10i2.12058

Abstract

This research examines the complex dynamics of global governance models through a comparative lens, focusing on the fundamental dichotomy between presidential and parliamentary systems and the unique constitutional evolution of Indonesia. The primary objective is to analyze the structural efficacy, accountability mechanisms, and stability profiles of these systems in the context of contemporary democratic challenges such as the rise of populism and institutional erosion. Utilizing a normative juridical and comparative qualitative methodology, the study synthesizes constitutional provisions, recent Scopus-indexed literature (2020-2025), and landmark judicial decisions to provide an expert-level evaluation of institutional design. The findings reveal that while parliamentary systems excel in representativeness and collective responsibility through executive-legislative fusion, they often struggle with coalition instability. Conversely, presidential systems offer executive stability through fixed tenure but face risks of polarization, gridlock, and power concentration. Indonesia's system is identified as a "sui generis" model—a product of constitutional dialectics that attempts to purify the presidential executive while operating within a hyper-pluralistic multi-party environment. The research highlights the pivotal role of the Indonesian Constitutional Court in shifting the national priority from "governability" to "representativeness" through Decision No. 62/PUU-XXII/2024. The study concludes that the effectiveness of a government system is inherently tied to its cultural and historical context, requiring continuous institutional engineering to balance executive power with democratic inclusivity.
Perlindungan Hukum terhadap Anak sebagai Korban Tindak Pidana Kekerasan Seksual Riki Wahyu Alfian; Ana Rahmatyar; Saparudin Efendi
Lex Journal: Kajian Hukum & Keadilan Vol 10 No 2 (2026): June
Publisher : Faculty of Law, University of Dr. Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/lex.v10i2.12130

Abstract

Anak adalah amanah sekaligus karunia dari Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki harkat, martabat, dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Namun, kekerasan seksual terhadap anak menjadi fenomena yang sangat memprihatinkan yang tidak hanya merusak fisik tetapi juga menghancurkan psikis generasi penerus bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam mengenai perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban kekerasan seksual berdasarkan perspektif Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Selain itu, penelitian ini mengkaji pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana penjara dan pelatihan kerja dalam Putusan Nomor 51/SK.Pid.Sus-Anak/2023/PN Mtr. Metode penelitian yang diterapkan adalah yuridis normatif dengan pendekatan kasus dan pendekatan perundang-undangan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa meskipun regulasi telah menyediakan kerangka perlindungan yang mencakup rehabilitasi, pendampingan hukum, dan kerahasiaan identitas, implementasinya dalam putusan tersebut masih menunjukkan dominasi orientasi pada penghukuman pelaku. Perlindungan terhadap anak korban perlu diperkuat melalui integrasi mekanisme restitusi yang lebih proaktif dan dukungan psikososial yang berkelanjutan guna menjamin masa depan korban.
The Principle of Justice Based on Pancasila in the Application of the Dismissal Process in Indonesian Civil Procedure Law Febrian Rizki Pratama; Asrul Imam; Nizar Ali
Lex Journal: Kajian Hukum & Keadilan Vol 10 No 2 (2026): June
Publisher : Faculty of Law, University of Dr. Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/lex.v10i2.11481

Abstract

This article examines the principle of justice based on Pancasila as the philosophical foundation for the application of the dismissal process in Indonesian civil procedure law. The research method employed is normative legal research. The discussion traces the development of the concept of justice from various schools of Western, Eastern, and Islamic philosophy, as well as Indonesian legal thought, culminating in Pancasila-based justice as the national legal ideal. In civil procedure law, the dismissal process is understood as an initial mechanism to maintain a balance between access to justice for plaintiffs and the protection of defendants’ rights from lawsuits that do not meet legal requirements. Its application must reflect humanistic values, equality before the law, and social justice, so that the dismissal process functions not only as an instrument of judicial efficiency but also as a means of realizing Pancasila justice.
Implementasi Doktrin Undue Influence (Penyalahgunaan Keadaan) untuk Mewujudkan Keadilan dalam Perjanjian Kerja Sama Dwi Hartanti; Agus Pramono; Ridho Sa’dillah
Lex Journal: Kajian Hukum & Keadilan Vol 10 No 2 (2026): June
Publisher : Faculty of Law, University of Dr. Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/lex.v10i2.11832

Abstract

Penelitian ini mengkaji implementasi doktrin penyalahgunaan keadaan (undue influence atau misbruik van omstandigheden) dalam sistem hukum perjanjian di Indonesia untuk mewujudkan keadilan kontraktual substantif. Di tengah dinamika ekonomi modern dan ekosistem digital, asas kebebasan berkontrak sering kali menjadi sarana eksploitasi ketika terdapat ketimpangan posisi tawar yang signifikan antara para pihak. Dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif melalui pendekatan perbandingan hukum (comparative approach), penelitian ini mengintegrasikan yurisprudensi dari sistem Common Law (Inggris dan Kanada) serta kodifikasi hukum Belanda modern untuk merumuskan indikator objektif bagi hakim di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa doktrin penyalahgunaan keadaan telah diakui oleh Mahkamah Agung sebagai "cacat kehendak keempat" yang melengkapi konsep klasik paksaan, penipuan, dan kekhilafan dalam Pasal 1321 KUHPerdata. Penyalahgunaan ini mencakup keunggulan ekonomis (economische overwicht) dan keunggulan kejiwaan (geestelijke overwicht). Analisis terhadap sengketa bisnis kontemporer, termasuk dalam sektor startup dan ekonomi digital, mengungkapkan perlunya penerapan asas proporsionalitas dan itikad baik untuk mengoreksi klausul kontrak yang eksploitatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kodifikasi formal doktrin ini ke dalam hukum nasional sangat mendesak demi menjamin kepastian hukum dan perlindungan terhadap pihak yang lemah dalam transaksi yang semakin kompleks.
Re-evaluasi Klausul Eksonerasi dalam Perjanjian Baku: Menakar Keadilan bagi Konsumen di Era Ekonomi Digital Yanshintya Pamela Berliana Putri; Agus Pramono; Any Farida
Lex Journal: Kajian Hukum & Keadilan Vol 10 No 2 (2026): June
Publisher : Faculty of Law, University of Dr. Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/lex.v10i2.11837

Abstract

Perkembangan pesat ekonomi digital telah mengubah paradigma transaksi dari negosiasi individual menjadi standarisasi masif dalam bentuk perjanjian baku. Fenomena ini menghadirkan tantangan hukum berupa pencantuman klausul eksonerasi yang secara sepihak membatasi atau menghapuskan tanggung jawab pelaku usaha. Tulisan ini bertujuan untuk melakukan re-evaluasi terhadap klausul eksonerasi dalam ekosistem digital dengan menakar aspek keadilan bagi konsumen melalui perspektif hukum perbandingan dan teori keadilan. Permasalahan utama yang dikaji adalah ketimpangan posisi tawar yang diperparah oleh mekanisme click-wrap dan browse-wrap serta rendahnya efektivitas regulasi ex-post dalam melindungi hak konsumen. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis-normatif dengan pendekatan perbandingan hukum (Indonesia, Inggris, Uni Eropa, Australia, dan Amerika Serikat) serta pendekatan konseptual. Hasil analisis dibagi ke dalam dua pembahasan utama: (1) Konstruksi yuridis klausul eksonerasi dalam ekosistem digital dan perbandingannya secara global; serta (2) Dekonstruksi keadilan berdasarkan teori Justice as Fairness John Rawls dan urgensi reformasi regulasi menuju pengawasan administratif preventif. Tulisan ini menyimpulkan bahwa mekanisme perlindungan konsumen di Indonesia memerlukan transformasi dari pengawasan reaktif menuju sistem pengawasan administratif ex-ante, adopsi sistem blacklist/greylist, serta penguatan kewenangan lembaga otoritas untuk melakukan uji kewajaran (reasonableness test) terhadap kontrak standar sebelum dipublikasikan.
Eksistensi Dissenting Opinion dalam Putusan Perdata: Cerminan Dinamika Keadilan di Meja Hijau Suhartini; Sri Yuni Hastuti; Agus Pramono
Lex Journal: Kajian Hukum & Keadilan Vol 10 No 2 (2026): June
Publisher : Faculty of Law, University of Dr. Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/lex.v10i2.11839

Abstract

Artikel ini menganalisis secara mendalam eksistensi dissenting opinion atau pendapat berbeda dalam ranah hukum perdata sebagai instrumen vital yang merefleksikan dinamika pencarian keadilan di institusi peradilan. Secara historis, sistem hukum Indonesia yang berakar pada tradisi civil law mengedepankan prinsip kerahasiaan musyawarah dan kesatuan suara untuk menjaga wibawa pengadilan. Namun, adopsi dissenting opinion melalui Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menandai pergeseran paradigma menuju transparansi dan akuntabilitas yudisial. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dan komparatif, tulisan ini mengeksplorasi dua dimensi utama: pertama, evolusi filosofis dan komparasi internasional institusi dissenting opinion dalam sistem hukum dunia; kedua, implementasi serta implikasi praktis pendapat berbeda dalam memperkaya pertimbangan hukum dan mencapai keadilan substantif dalam perkara perdata di Indonesia, termasuk dalam sengketa kepailitan dan perbuatan melawan hukum. Analisis menunjukkan bahwa dissenting opinion berfungsi sebagai "roh penunggu hukum" (the brooding spirit of the law) yang tidak hanya menjamin kemandirian hakim secara individu, tetapi juga menjadi katalisator bagi evolusi hukum dan yurisprudensi di masa depan. Meskipun terdapat tantangan terhadap kepastian hukum, keberadaan pendapat berbeda justru memperkuat legitimasi peradilan dengan menunjukkan bahwa setiap argumentasi hukum telah diuji secara dialektis.
Redefinisi Himpunan "Keonaran" di Ruang Siber: Analisis Pasca Putusan MK No. 115/PUU-XXII/2024 dan Kodifikasi KUHP 2026 Haryanto; Mohamad Tohari; Agus Pramono
Lex Journal: Kajian Hukum & Keadilan Vol 10 No 2 (2026): June
Publisher : Faculty of Law, University of Dr. Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/lex.v10i2.11844

Abstract

Tulisan ini menganalisis pergeseran paradigma hukum pidana Indonesia dalam meregulasi penyebaran informasi di ruang siber, khususnya terkait terminologi "keonaran" yang selama berdekade-dekade menjadi instrumen kontrol sosial melalui UU Nomor 1 Tahun 1946. Fokus utama kajian ini adalah implikasi konstitusional dari Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 115/PUU-XXII/2024 yang memvalidasi penghapusan pasal-pasal berita bohong yang dianggap multitafsir, serta bagaimana kodifikasi dalam KUHP Baru (UU Nomor 1 Tahun 2023) dan revisi kedua UU ITE (UU Nomor 1 Tahun 2024) mereformulasi ancaman terhadap ketertiban umum menjadi "kerusuhan" yang bersifat materiil. Dengan menggunakan perspektif hukum komparatif, analisis ini memperkaya diskusi dengan literatur asing mengenai regulasi bahaya daring di Inggris, Uni Eropa, dan Amerika Serikat. Hasil analisis menunjukkan bahwa redefinisi ini merupakan langkah krusial dalam melindungi kebebasan berekspresi dari praktik kriminalisasi kritik (SLAPP) sekaligus menuntut kesiapan penegak hukum dalam membuktikan kausalitas antara aktivitas siber dan dampak fisik nyata di masyarakat.
Konstruksi Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Pengembang Kecerdasan Buatan (AI) terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Dokumen Elektronik Singgih Wijanarko; Lailasari Ekaningsih; Any Farida
Lex Journal: Kajian Hukum & Keadilan Vol 10 No 2 (2026): June
Publisher : Faculty of Law, University of Dr. Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/lex.v10i2.11847

Abstract

Perkembangan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mentransformasi lanskap hukum pidana siber, khususnya terkait tindak pidana pemalsuan dokumen elektronik. Kompleksitas otonomi AI menciptakan tantangan dalam atribusi pertanggungjawaban pidana yang selama ini berpusat pada manusia (anthropocentric). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi pertanggungjawaban pidana korporasi pengembang AI terhadap manipulasi data elektronik berdasarkan Pasal 35 UU ITE dan KUHP 2023. Menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan konseptual dan perundang-undangan, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana doktrin identifikasi dan pertanggungjawaban pengganti (vicarious liability) dapat diterapkan pada entitas korporasi yang mengoperasikan sistem AI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun AI belum diakui sebagai subjek hukum mandiri, korporasi pengembang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana atas dasar kegagalan mitigasi risiko atau kesengajaan dalam desain sistem yang memfasilitasi pemalsuan. Rekonstruksi hukum diperlukan untuk mempertegas posisi AI sebagai agen elektronik yang tindakannya merepresentasikan kehendak korporasi. Kesimpulannya, penguatan regulasi dan audit algoritma menjadi instrumen krusial dalam menjamin kepastian hukum dan keadilan bagi korban kejahatan berbasis AI.
Risiko 'Double Victimisation' pada Korban Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik (KSBE) dalam Penegakan Hukum Deepfake Pornografi Riko Setiawan; Mohamad Tohari; Idul Hanzah Alid
Lex Journal: Kajian Hukum & Keadilan Vol 10 No 2 (2026): June
Publisher : Faculty of Law, University of Dr. Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/lex.v10i2.11849

Abstract

Perkembangan pesat kecerdasan buatan telah memperkenalkan bentuk kejahatan siber yang canggih, terutama pornografi deepfake, yang menimbulkan ancaman berat terhadap martabat dan privasi individu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi hukum pornografi deepfake sebagai Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik (KSBE) berdasarkan hukum Indonesia dan mengevaluasi risiko viktimisasi ganda yang dihadapi korban selama proses penegakan hukum. Dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual dan perundang-undangan, studi ini mengkaji sinergi antara UU No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, UU No. 1 Tahun 2024 (Perubahan UU ITE), dan UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi. Temuan menunjukkan bahwa meskipun regulasi yang ada memberikan kerangka kerja yang luas, "kekosongan hukum" yang signifikan masih bertahan terkait actus reus spesifik yang digerakkan oleh AI, yang menyebabkan tantangan dalam forensik digital dan otentikasi bukti. Selain itu, sistem peradilan pidana Indonesia tetap didominasi oleh paradigma berorientasi pelaku, yang sering kali mereduksi korban menjadi sekadar saksi pasif. Ketidakseimbangan struktural ini, ditambah dengan stigma masyarakat dan praktik investigasi yang tidak sensitif gender, memperburuk risiko viktimisasi sekunder. Studi ini menyimpulkan bahwa reformasi hukum yang komprehensif harus mengintegrasikan pelatihan sensitif gender bagi penegak hukum, menyederhanakan hambatan prosedural untuk "Right to be Forgotten", dan menggeser paradigma menuju sistem peradilan yang berpusat pada korban untuk memitigasi trauma psikologis yang berkepanjangan.