cover
Contact Name
Wiman Rizkidarajat
Contact Email
wiman.rizkidarajat@unsoed.ac.id
Phone
+628122794432
Journal Mail Official
jisunsoed@gmail.com
Editorial Address
Laboratorium Jurusan Sosiologi FISIP Unsoed, Jl. Prof. dr. H.R. Boenyamin 993, Grendeng, Purwokerto Utara, Banyumas, Jawa Tengah 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Interaksi Sosiologi
ISSN : 14127229     EISSN : 14127229     DOI : https://doi.org/10.2504/jis.v1i2.8258
Core Subject :
Jurnal Interaksi Sosiologi (JIS) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Sosiologi FISIP UNSOED. Terbit sejak tahun 2002. Tulisan yang dipublikasikan di JIS merupakan hasil penelitian, gagasan konseptual, dan hasil diskusi pada bidang ilmu sosial, khususnya Sosiologi, dan bidang ilmu sosial lainnya yang relevan. Terbit dua kali dalam setahun, April dan September
Arjuna Subject : -
Articles 61 Documents
Analisis Konflik dan Resolusinya pada Perpecahan Etnis Porodisa di Kota Salatiga Bawoel, Silvani Agnes; Esra Kudubun, Elly; Roberth Siahainenia, Royke
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 4 No 2 (2025): Jurnal Interaksi Volume 4 Nomor 2 2025
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v4i2.14194

Abstract

This study analyzes the conflict and resolution processes that occurred in the ethnic division of Porodisa in Salatiga City, leading to the establishment of a new organization called PERSADA. This conflict was triggered by controversies surrounding changes to the organization’s identity, such as the alteration of the name, logo, and Articles of Association (AD/ART) without involving all members. Although Porodisa initially served as a gathering place for students from Talaud, dissatisfaction arising from unilateral decisions led to division. Utilizing a qualitative method based on interviews, observations, and documentation, the analysis is conducted through Johan Galtung's Conflict Triangle Theory, which provides insight into the interactions between attitudes, behaviors, and contradictions and can help formulate more effective conflict resolution strategies. The findings indicate that, despite Porodisa and PERSADA now operating as separate entities, there is a strong desire from both sides to rebuild harmonious relationships. The conflict resolution process is recommended through open dialogue and mediation by neutral third parties, reflecting Galtung's peacemaking approach to create an inclusive and constructive environment. Emphasizing transparent communication and the participation of all members in decision-making, this research underscores that the sustainability and harmony within the organization are significantly dependent on involvement and sensitivity to shared needs. This is expected to strengthen solidarity and ensure the group’s longevity in the future.
Konstruksi Sosial Remaja Perempuan tentang Kelompok Lelaki Melambai amartha, tasya zevila
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 4 No 2 (2025): Jurnal Interaksi Volume 4 Nomor 2 2025
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v4i2.14317

Abstract

Waving men, who are often underestimated for their behavior that is perceived as not conforming to traditional norms of masculinity, both in dress and manner of interaction, are now increasingly seen in social settings. This phenomenon reflects a shift in the way masculinity is perceived, where softer and less stereotypical expressions are beginning to be accepted by some, especially among adolescent girls. This study aims to analyze adolescent girls' views on the waving men group as well as the reasons behind their comfort in befriending these individuals. Using a qualitative phenomenological approach, data was obtained through in-depth interviews with several female teenagers with an age range of 17-19 years. The results showed that the objective reality that emerged was a change in acceptance of gender expressions that did not conform to conventional masculinity norms. Meanwhile, in subjective reality, adolescent girls who are the subjects of this study have different experiences and views of waving men, which are influenced by social interactions and their understanding of gender differences. Also, adolescent girls' acceptance of the waving men group occurs through a social construction process consisting of three stages. First, externalization, where social interactions portray waving men as friendly and caring individuals. Second, objectivation, which is seen from the recognition of characteristics such as empathy and emotional sensitivity after direct interaction with them. Third, internalization, in the form of acceptance of a more flexible concept of gender, so that the waving men group is seen as supportive and fun friends. This research confirms the important role of the social environment in shaping adolescent girls' gender perceptions, as well as providing new insights regarding the acceptance of gender diversity in society. Keywords : Waving Men Group, Gender, Social Construction
Pola Penanganan Gelandangan Psikotik di Balai PRS PMKS Sidoarjo Qurrotu'ain, Zalfa
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 4 No 2 (2025): Jurnal Interaksi Volume 4 Nomor 2 2025
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v4i2.14737

Abstract

Artikel ini membahas pola penanganan gelandangan psikotik di Balai PRS PMKS Sidoarjo dari perspektif sosiologis, dengan fokus pada pendekatan rehabilitasi sosial. Artikel ini membahas pola penanganan gelandangan psikotik di Balai PRS PMKS Sidoarjo dari perspektif sosiologis, dengan fokus pada pendekatan rehabilitasi sosial. Penelitian ini menganalisis bagaimana lembaga tersebut merancang program rehabilitasi untuk individu dengan gangguan psikotik yang hidup di jalanan, serta dampaknya dalam memulihkan fungsi sosial mereka di masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi efektivitas program dalam menciptakan harmoni sosial dan memberdayakan individu agar kembali berperan dalam struktur masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Kerangka analisis teori sosiologi struktural-fungsional oleh Talcott Parsons digunakan untuk menjelaskan bagaimana program rehabilitasi di Balai PRS PMKS berfungsi sebagai mekanisme pemulihan keseimbangan sosial. Teori ini menyoroti pentingnya setiap elemen masyarakat, termasuk lembaga sosial, dalam menjaga stabilitas sistem sosial secara keseluruhan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pola penanganan di Balai PRS PMKS Sidoarjo meliputi stabilisasi medis, terapi psikososial, dan pemberdayaan ekonomi. Ketiga tahapan tersebut saling melengkapi dalam memulihkan fungsi individu sebagai bagian dari masyarakat. Efektivitas program terlihat dari kemampuan pasien yang berhasil reintegrasi sosial, meskipun dihadapkan pada kendala seperti stigma sosial dan keterbatasan fasilitas. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan kelembagaan sosial dan perubahan pola pikir masyarakat untuk menciptakan harmoni sosial yang inklusif.
Peran Modal Sosial Dalam Eksistensi Kedai Kopi di Salatiga (Studi Kasus: Kedai Kopi Juwalan Kupi 729 Salatiga) Ohee, Yaroso Jefri
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 4 No 2 (2025): Jurnal Interaksi Volume 4 Nomor 2 2025
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v4i2.14836

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang peran modal sosial dalam eksistensi kedai Juwalan Kupi 729 di kota Salatiga. Dimana kedai kopi di Kota Salatiga sudah sangat menjamur sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran modal sosial dalam perspektif Robert Putnam dalam mendukung eksistensi kedai Juwalan Kupi di tengah maraknya kedai-kedai kopi di Salatiga. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang mengandalkan wawancara mendalam, observasi langsung aktivitas di kedai, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kedai Juwalan Kupi memanfaatkan modal sosial berupa kepercayaan, jaringan dan norma sebagai strategi untuk membangun hubungan sosial yang kuat antara karyawan dan pelanggan. Kepercayaan antara pemilik, karyawan, dan pelanggan berperan penting dalam menciptakan suasana nyaman dan loyalitas pelanggan. Jaringan sosial yang terbentuk di Kedai Juwalan Kupi baik melalui interaksi sosial antara karyawan dan pelanggan maupun interaksi melalui media sosial membantu menciptakan suasanan yang akrab dan menjadi daya tarik tersendiri. Norma-norma yang yang diterapkan seperti keterbukaan, flesibilitas jadwal kerja, dan kebersihan mendukung terciptanya lingkungan kerja yang nyaman dan professional.penelitian ini menunjukan bagaimana modal sosial berperan penting pada eksistensi kedai kopi, tetapi juga menguatkan fungsi kedai sebagai ruang sosial yang inklusif. Kata Kunci: Modal Sosial, Kepercayaan, Jaringan, Norma
“ONO NIHA”: INKLUSIVITAS MASYARAKAT NIAS DI SALATIGA Halawa, Novanita
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Interaksi Sosiologi Volume 5 Nomor 1 2025
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v5i1.16706

Abstract

Penelitian ini membahas pemaknaan konsep “Ono Niha” sebagai filosofi identitas orang Nias yang merantau ke Kota Salatiga, khususnya dalam komunitas Ikaoni. “Ono Niha”, yang secara harfiah berarti anak manusia atau keturunan manusia, dimaknai tidak hanya sebagai penanda etnis, tetapi sebagai nilai kemanusiaan universal yang mendorong sikap inklusif, solidaritas, dan kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat multikultural. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsep tersebut dikonstruksi, dimaknai, dan dipraktikkan oleh orang Nias di perantauan dalam membangun hubungan sosial lintas budaya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan paradigma konstruktivisme, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap anggota komunitas Ikaoni di Salatiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Nias menginternalisasi nilai “Ono Niha” melalui proses interaksi sosial yang memungkinkan mereka menyesuaikan identitas budaya dengan konteks lokal tanpa kehilangan jati diri. Proses adaptasi ini mencerminkan sikap terbuka, toleran, serta kemampuan negosiasi budaya yang tinggi. Konsep “Ono Niha” terbukti berperan sebagai landasan moral dan sosial yang memperkuat integrasi sosial serta menciptakan ruang inklusif bagi keberagaman. Temuan ini diharapkan dapat memperkaya kajian tentang nilai-nilai peran budaya lokal dalam membangun harmoni sosial, serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan kebijakan multikulturalisme di Indonesia. Kata kunci: Ono Niha, Inklusivitas, Komunitas Ikaoni, Nias, Salatiga, Multikulturalisme
Analisis Deskripstif Persepsi Dan Perilaku Masyarakat Kelurahan Manggarai Terhadap Sampah Waqqiatus Sa’adah, iis; Purbaningrum, Nawang; Fadlulloh, Husein; Mahdi, Muhammad; Mannan, Abdul
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Interaksi Sosiologi Volume 5 Nomor 1 2025
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v5i1.14970

Abstract

Artikel ini menggambarkan persepsi dan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah, dengan fokus pada faktor-faktor yang memengaruhi kesadaran dan partisipasi warga dalam menjaga kebersihan lingkungan. Penelitian ini dilakukan di RT/RW 10/04 Kelurahan Manggarai, Jakarta Selatan, yang berada di bantaran Sungai Ciliwung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif untuk mendapatkan gambaran secara mendalam mengenai perilaku dan kesadaran masyarakat terhadap sampah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi masyarakat terkait dampak buruk sampah terhadap lingkungan serta perilaku mereka dalam membuang, mengelola, dan mendaur ulang sampah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah masih kurang, yang ditunjukkan dengan praktik membuang sampah ke sungai dan minimnya partisipasi dalam program pengelolaan sampah berbasis komunitas. Faktor yang memengaruhi perilaku ini meliputi kurangnya fasilitas pengelolaan sampah, lemahnya sosialisasi dari pemerintah, serta kebiasaan yang sulit diubah. Namun, terdapat potensi untuk meningkatkan kesadaran melalui pendekatan berbasis komunitas dan penggunaan media digital untuk edukasi dan kampanye lingkungan. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam merancang strategi yang lebih efektif untuk meningkatkan kesadaran dan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah.
Peran Aktor dalam Pelestarian Tradisi Caos Dhahar Kampung Ledoksari di Kelurahan Purwokinanti Persepektif Habitus Aritonang, Ulima Amanda; Hadiwijoyo, Suryo Suryosakti; Kudubun, Elly Esra
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Interaksi Sosiologi Volume 5 Nomor 1 2025
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v5i1.17688

Abstract

Tradisi Caos Dhahar meruapakan salah satu warisan budaya di Kampung Jagalan Ledoksari Kelurahan Purwokinanti Kemantren Pakualaman. Peran aktor dalam tradisi Caos Dhahar menjadi sangat penting dalam pelestarian tradisi di tengah perkembangan globalilasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran aktor dalam pelestarian Caos Dhahar dengan menggunakan persepektif Habitus Pierre Bourdieu. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui observasi,wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelestarian tradisi tidak terlepas dari interaksi anatar aktor yang berada dalam satu arena. Setiap aktor membawa modal simbolik, sosial, dan kultural yang membentuk habitus masyarakat Ledoksari. Habitus masyarakat yang telah tertanam secara turun-temurun dalam menjaga tradisi, meskipun dihadapkan pada tantangan modernisasi dan pergeseran. Dengan demikian, pelestarian tradisi Caos Dhahar memperlihatkan antara habitus, modal, dan arena yang memungkinkan tradisi ini tetap bertahan sekaligus bertransformasi sesuai konteks sosial yang berkembang.
POLA INTERAKSI INDIVIDU DAN KELOMPOK DALAM PEMBENTUKAN SOLIDARITAS KOLEKTIF PADA FILM LASKAR PELANGI Susilowati, Anggi Yus; Sya'baniah, Aulia Nur
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Interaksi Sosiologi Volume 5 Nomor 1 2025
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v5i1.18418

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menginterpretasikan pola interaksi individu dan kelompok dalam film Laskar Pelangi sebagai mekanisme kunci pembentukan solidaritas kolektif. Menggunakan desain kualitatif dengan jenis Analisis Isi Kualitatif, penelitian ini berfokus pada penafsiran makna sosial mendalam dari interaksi verbal dan non-verbal antara karakter utama (Laskar Pelangi) dan kelompok mereka, dipandu oleh kerangka teoritis Interaksionisme Simbolik. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga pola interaksi simbolik utama yang menggerakkan transformasi solidaritas. Pertama, Pola Negosiasi Makna, di mana kelompok secara kolektif menolak makna negatif kemiskinan (simbol sekolah reyot dan ancaman penutupan) dan mengonversinya menjadi simbol perjuangan dan harapan. Kedua, Pola Pertukaran Simbolis Berdasarkan Kompetensi Unik, yang mendorong Solidaritas Organik melalui alokasi status berbasis meritokrasi (Lintang sebagai simbol kecerdasan dan Mahr sebagai simbol imajinasi), menciptakan saling ketergantungan fungsional. Ketiga, Pola Ritual Interaksi dan Penciptaan Simbol Identitas (seperti penamaan "Laskar Pelangi"), yang membangkitkan collective effervescence dan memperkuat ikatan moral mereka. Puncak solidaritas ditunjukkan melalui pengorbanan simbolis Lintang, yang diinternalisasi sebagai mitos pendiri yang memelihara komitmen kolektif. Kesimpulannya, solidaritas Laskar Pelangi adalah produk konstruksi simbolis dan dinamis, bukan sekadar hasil kesamaan nasib. Interaksi simbolik mikro ini berhasil menciptakan The Generalized Other dan Looking-Glass Self yang positif, mengubah kohesi berbasis kebutuhan menjadi komitmen moral tak terpatahkan dan menjadikan solidaritas kolektif mereka sebagai modal kultural efektif untuk melawan hegemoni struktur.
PENGARUH PENGGUNAAN KONTEN SOSIAL-POLITIK PADA MEDIA SOSIAL TERHADAP PARTISIPASI POLITIK MAHASISWA FISIP UNSOED ANGKATAN 2024 Zabrina, Atha Aulia; Narasraya, Diandra Yowan; Sultan, Mahardika Aurora; Putri, Jovita Amanda; Shofiana, Shabrina; Azizah Meila Kartika, Nur; Fadlil Dwi Atmoko, Faozan; Dewi, Ratna
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Interaksi Sosiologi Volume 5 Nomor 1 2025
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v5i1.18745

Abstract

Artikel ini menganalisis pengaruh penggunaan konten sosial-politik terhadap partisipasi politik mahasiswa FISIP Unsoed angkatan 2024. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan survei eksplanatif untuk melihat pengaruh antara intensitas akses konten sosial-politik dan tingkat partisipasi politik mahasiswa. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, regresi linear sederhana, serta uji t untuk menguji signifikansi pengaruh antarvariabel. Jumlah sampel yang digunakan 273 mahasiswa untuk mewakili lima jurusan di FISIP Unsoed. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa paling banyak mengakses konten informatif seperti berita dan kebijakan politik, sementara konten edukasi dan advokasi jarang diakses. Bentuk partisipasi politik yang paling dominan dilakukan mahasiswa adalah membagikan pamflet politik dan yang paling rendah adalah membuat konten politik sendiri serta sebagian kecil hanya memberikan komentar pada konten politik di media sosial. Hasil analisis regresi menunjukkan adanya pengaruh signifikan, di mana meningkatnya intensitas interaksi dengan konten sosial-politik turut meningkatkan partisipasi politik mahasiswa baik secara daring maupun luring.
Gerakan Sosial Organisasi Mahasiswa sebagai Agen Perubahan Sosial: Studi Komparatif GMNI, PMKRI, dan LMND Kupang Dasi, Esmeralda; Radja, Melyani; E. Lado Djo, Jansen; Mogu, Dina Madi; Jehamat, Lasarus; M. Evarista Gero, Helga; Sabariman, Hoiril
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Interaksi Sosiologi Volume 5 Nomor 1 2025
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v5i1.18781

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran organisasi mahasiswa dalam mendorong perubahan sosial di Kota Kupang melalui studi komparatif terhadap tiga organisasi, yakni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Dalam kerangka tersebut, mahasiswa diposisikan sebagai agent of change, yaitu subjek sosial yang memiliki kesadaran kritis dan tanggung jawab moral untuk menginisiasi serta menggerakkan transformasi menuju tatanan masyarakat yang lebih adil, demokratis, dan berpihak pada kepentingan rakyat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif-komparatif melalui studi literatur, wawancara mendalam, dan observasi terhadap berbagai aktivitas organisasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa GMNI berlandaskan pada ideologi Marhaenisme dengan fokus pada perjuangan politik kerakyatan; PMKRI menekankan nilai-nilai humanisme dan ajaran sosial Gereja Katolik; sedangkan LMND mengusung prinsip demokrasi radikal dan keadilan sosial. Meskipun terdapat perbedaan ideologi dan strategi gerakan, ketiga organisasi tersebut memiliki kontribusi yang signifikan dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat kecil serta berperan sebagai agen perubahan sosial di Provinsi Nusa Tenggara Timur.